.

.

Chapter : Call Me Baby ~(‾▿‾)~

.

Udah pada ga sabar to ◠‿◠

Read slowly, okay ˘˛˘

.

Jaejoong membiarkan dirinya menangis ketika Changmin membuka pintu untuknya. Perasaannya kini campur aduk antara marah, malu dan sakit hati. Itu semua disebabkan oleh Hyun Joong, Karam dan Yunho.

Dia sama sekali tidak merasa patah hati dengan perbuatan Hyun Joong. Ia hanya merasa dikhianati. Tak masalah apabila Hyun Joong yang menghianatinya. Tetapi Karam, dosaengnya sendiri. Menusuknya dari belakang, selalu merebut apa yang ia punya.

Hal ini mengingatkan Jaejoong ketika mereka masih kecil. Barang sekecil apapun, semurah apapun yang ia punya dan merasa bahagia karenanya Karam selalu merebutnya. Dan ya, eommanya tentu selalu membela Karam.

"Menjijikkan!" Komentar Changmin seketika setelah mendengar cerita Jaejoong. "Dosaengmu benar-benar bitch, hyung."

Jaejoong terdiam, ia masih menangis terisak di pundak Junsu.

"Tapi sisi positifnya kau bisa putus dengan Hyun Joong tanpa bersusah payah. Kau selalu khawatir bagaimana kau memutuskannya. Dan beruntungnya, dia sendiri yang membuatnya menjadi lebih mudah. Tapi adikmu benar-benar jahat, aku setuju dengan Minnie. Ia bitch, bagaimana bisa ia melakukan semua itu padamu Joongie?"

Jaejoong menggeleng lemah, ia masih kehilangan pikirannya. Ia tak ingin kembali kekamarnya. Sekarang ia merasa tidak mempunyai apapun selain pekerjaan, Junsu dan Changmin. Pikirannya kini dipenuhi dengan Yunho, dan gambaran Karam yang berada di atas tubuh Hyun Joong.

"Aku tidak tau Su-ie... Aku tidak tau harus merasa bahagia dan sedih karena ini. Aku tidak masalah apabila Hyun Joong mengkhianatiku. Tetapi Karam, Ya Tuhan... Aku juga tidak menyangka, mengapa ia selalu menginginkan apa yang aku miliki?." Ucap Jaejoong frustasi.

"Kau harus menggunakan ini untuk mengancamnya, hyung!" Saran Changmin.

Jaejoong tertawa dalam kesakitannya. "Hahaha, Tak perduli apa yang aku lakukan. Karam akan selalu mendapatkan cinta dan kepercayaan eomma. Akan sia-sia melakukannya."

"Jadi, apa mereka mengatakan sesuatu?" Tanya Junsu.

"Ani, mereka hanya berdiri seperti patung bodoh." Jawab Jaejoong. "Kupikir mereka masih shock. Aku berdiri disana cukup lama, melihat mereka menindih satu sama lain... Ohh..Tuhan! Itu sangat menjijikan."

Junsu tertawa. "Ania Joongie. Karena kau masih virgin kau pikir kegiatan sex menjijikkan. Nanti, setelah kau menemui seseorang yang tepat kau akan merasakan sex itu menyenangkan."

Jaejoong tau itu. Melakukan sex dengan Yunho ia seakan merasakan surga. Tetapi melihat adegan sex Hyun Joong dengan Karam, Jaejoong seolah-olah menelan muntahannya sendiri.

"Aku tidak habis pikir juga apa yang Hyun Joong inginkan. Maksudku, lihatlah dirimu, hyung. Kau namja menawan. Wajahmu cantik walaupun kau namja. Kau juga baik, mandiri dan pintar. Kau melakukan banyak hal dalam hidupmu. Kau bukan namja gampangan yang mudah memberikan nomor telepon pada seseorang yang merayumu. Kau berpendirian kuat. Bisa kubilang kau namja uke berkualitas. Lalu apa lagi yang Hyun Joong cari? Adikmu Karam bahkan tidak mempunyai setengah pesona yang kau punyai. Ia bodoh atau apa, aku tak mengerti." Ucap Changmin.

"Sudahlah Minnie, ingat aku sudah putus dengannya. Aku sama sekali tidak ingin mendengar apa alasannya melakukan itu dengan Karam ataupun yang lain." Balas Jaejoong.

"Yang jelas ia bodoh." Sambung Junsu.

"Baiklah... Kalau begitu bagaimana kalau kita turun dan menikmati pantai hyung-deul?"

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Aku ingin tidur sejenak. Pikiranku lelah Minnie. Aku berharap setelah bangun nanti aku tidak mengingat apa yang terjadi di kamar itu."

Jaejoong sedang tiduran di ranjang ketika ia menerima sebuah pesan.

.

Yoochun:

Anneong, aku hanya mengecek. Apakah semua berjalan dengan lancar?

.

Jaejoong membalas.

.

To Yoochun:

Ne, semua lancar. Aku telah memutuskannya. Ia mempermudah semuanya karena aku memergokinya tidur dengan adikku.

.

Yoochun:

Wow, jadi ia selingkuh dengan adikkmu? Aku prihatin kau mempunyai adik seperti itu. Lalu bagaimana kabarnya kekasih tak resmimu?

.

Jaejoong mendesah sedih sebelum membalas.

.

To Yoochun:

:(

Aku dan dia masih belum baikan. Aku belum melakukan apa-apa. Tetapi aku takut semuanya akan menjadi lebih buruk.

.

Yoochun:

Jangan pesimis seperti itu. Lakukan dengan perlahan. Selesaikan masalahmu satu demi satu. Aku yakin di akhir nanti kau akan mendapatkan kebahagiaan.

.

To Yoochun.

Aku juga berharap berakhir seperti itu. Chunnie-yah gomawoyo :)

.

Jaejoong tersenyum membaca pesan Yoochun. Ia tidak tau bagaimana Yoochun bisa jadi orang kepercayaannya. Yoochun sangat mudah diajak berbicara. Ia juga sering memberinya nasehat yang membangun dirinya agar lebih baik.

Jaejoong bangun tiga jam kemudian. Ia menemukan Junsu dan Changmin yang sedang bersantai di balkon. Ia merasa bersalah pada sahabatnya, karena ia pasti merusak liburannya.

"Mianhe, jeongmal mianhe Su-ie, Minnie aku menyeret kalian dalam masalahku." Ucap Jaejoong tulus.

Junsu memeluk Jaejoong. "Ania Joongie. Kita adalah sahabat. Aku dan Minnie akan selalu disampingmu kapanpun kau butuhkan."

"Ne, hyung kau tak usah khawatir." Sambung Changmin.

Jaejoong tersenyum. "Bagiku kalian adalah keluargaku. Gomawo."

Mereka bertigapun berpelukan ^_^

"Okay, bagaimana kalau sekarang kita turun kepantai. Aku ingin melihat sunset hyung-deul." Ajak Changmin.

Jaejoong mengangguk setuju. Ia bertanya-tanya apakah orangtuanya sudah tiba. Tetapi ia belum siap melihat mereka.

Dan pemikiran untuk melihat sunset sambil bermain air dengan sahabatnya membuatnya senang. Ia berharap dapat melupakan sejenak masalahnya.

...

Jaejoong meminjam pakaian Junsu karena pakaiaannya ada di kamarnya. Dan ia sangat malas untuk pergi kekamarnya. Junsu meminjamkan kaos lengan pendek berbahan tipis bewarna biru. Dan juga celana jeans pendek diatas lutut. Jaejoong sebenarnya protes dengan kaos yang Junsu pinjamkan karena terlalu tipis. Tetapi Junsu berdalih mereka berada di pantai, cuaca panas bahkan seharusnya mereka memakai singlet saja. Changmin acuh dengan perdebatan dua namja uke didepannya.

Tetapi kemudian ponsel Jaejoong berbunyi. Appanya menelepon.

"Yeoboseo, Appa." Sapa Jaejoong ramah.

"Joongie, Appa menghubungimu karena ingin memberitahu kalau kami tidak bisa ikut berlibur bersama kalian. Eommamu tiba-tiba harus melakukan operasi mendadak. Kami tidak bisa mengabaikannya. Orangtua Hyun Joongpun memutuskan untuk tidak datang. Jadi kalian bersenang-senanglah tanpa kami."

"Arraseo, appa." Jawab Jaejoong. Karam sudah menikmati kesenangannya sendiri.

"Jaga diri kalian, oke." Pesan appa Jaejoong

"Ne"

Jaejoong menatap Junsu dan Changmin. "Satu masalah telah pergi. Orangtuaku dan Hyun Joong tidak jadi datang."

"Kau beruntung Joongie. Setidaknya kau tak perlu berpura-pura bersikap manis kepada Hyun Joong dan Karam dihadapan orang tuamu."

Mereka turun dan pergi ke restoran hotel untuk makan malam. Jaejoong memilih duduk membelakangi keramaian karena ia tak ingin melihat Karam dan Hyun Joong apabila mereka turun untuk makan malam juga.

Beruntungnya mereka tidak menampakkan diri. Jaejoong senang ia dapat menikmati makan malamnya sampai kenyang dengan damai.

"Wahh Joongie, kau single. Sekarang adalah kesempatan bagus untuk mencari seseorang." Goda Junsu.

"Ania, Jangan menggodaku Su-ie. Aku baru putus beberapa jam yang lalu." Dan yang paling penting aku tak perlu mencari karena aku telah mempunyai seseorang yang kucari.

Setelah makan malam mereka pergi ke pinggir pantai. Changmin membawa beberapa beer. Mereka duduk di pinggir pantai menikmati suara ombak dan angin laut.

"Oke Joongie... Tak perduli sakit yang kau rasakan mari kita bicarakan. Minumlah, dan keluarkan semua rasa sesakmu." Junsu menyodorkan sebotol beer pada Jaejoong.

Jaejoong menelan satu tegukan dan ia rasakan alkohol beer ini sangat kuat. Tapi ia tak perduli.

"Apa kau berfikir untuk memaafkan Karam?" Tanya Junsu.

Jaejoong mengangkat bahunya. "Aku tidak mengharapkan apapun dari Karam. Ia bahkan tidak sedikitpun mempunyai kasih sayang untukku. Tetapi aku juga tak mengharapkan ia tidur dengan kekasihku. Maksudku walaupun aku tak mencintainya, Karam tau kalau aku dan Hyun Joong menjalin sebuah hubungan. Apabila ia mempunyai perasaan menghormati kakaknya, Ia tidak seharusnya melakukan itu. Atau yang paling baik seharusnya ia bisa menunggu sampai aku putus dengan Hyun Joong. Kalian tau itu sangat menjijikkan!" Jawab Jaejoong.

"Apa kau pernah berfikir untuk melihat seseorang selain Hyu Joong?"

Jaejoong menatap kedua sahabatnya. Akhirnya kesempatan untuk berkata jujur kepada sahabatnya telah tiba. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengatakan kepada sahabatnya secara jelas apa yang selama ini ia simpan setelah ia memutuskan Hyun Joong. Baiklah ini saatnya!

Jaejoong mengangguk. "Ya tentu saja. Hubungan asmaraku dengan Hyun Joong bisa dikatakan mengecewakan. Dan aku... Juga membutuhkan seseorang yang dapat menghidupkan api dalam diriku."

"Jadi kau berfikir untuk tidur dengan orang lain selama masih berhubungan dengan Hyun Joong?" Tanya Changmin.

Jaejoong menghela nafas dalam. "Ne, aku memikirkannya dan aku melakukannya." Aku Jaejoong.

Junsu dan Changmin melotokan matanya. "MWO?" Teriaknya bersamaan.

"Jadi, Joongie kau sudah..."

"Ne aku sudah melakukan itu Su-ie." Potong Jaejoong. "Aku memutuskan untuk melepaskan kepolosanku padanya. Namja, yah namja yang aku temui di Mirotic waktu itu." Ucap Jaejoong hati-hati.

"Dengarkan aku. Kadang-kadang aku juga tak percaya apa yang telah aku lakukan. Saat itu pertama kali aku pergi ke Mirotic karena tugas dari Heechul hyung. Keadaanku sangat tidak baik karena aku bertengkar dengan eomma. Lalu aku memutuskan untuk menghancurkan semua image yang kubangun untuk menyenangkan eomma. Aku berdandan kala itu. Aku memakai pakaian cukup sexy yang diberikan oleh Heechul hyung. Aku pergi ke bar layaknya seseorang yang mencari jati diri. Lalu aku bertemu seseorang, dan itu seperti mimpi. Aku..."

Jaejoong terdiam karena sahabatnya seperti tak memperhatikannya. Mereka malah menatap lurus kebelakang Jaejoong. Ia menaikkan alisnya lalu berputar dan menemukan Hyun Joong berdiri dibelakangnya.

Jaejoong langsung berdiri menghadapnya. "Apa yang kau inginkan?" Tanya Jaejoong sinis.

"Darling... Kita butuh bicara." Jawab Hyun Joong.

"Ani. Semua jelas. Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan tadi."

"Jae... aku bisa menjelaskannya!"

"Kita sudah berakhir Joong-ah. Disamping apa yang kau lakukan dengan Karam, hubungan kita tidak ada harapan. Aku tak merasa kau sebagai kekasihku. Bahkan sebagai temanpun tidak. Apa yang kau harapkan dari hubungan seperti ini? Apa yang kau lakukan dengan Karam menambah buruk semuanya. Bahkan aku sulit berfikir hal yang baik tentangmu." Jelas Jaejoong.

Wajah Hyun Joong langsung berubah merah. Ia menghela nafas dalam. Lalu tiba-tiba ia mencekal lengan atas Jaejoong dengan Kasar dan membawa Jaejoong mendekatinya.

"Lepaskan, Hyun Joong!" Pekik Jaejoong sambil menghentakkan Tangannya. Cengkraman Hyun Joong sangat kuat. Ia merasa sakit pada lengannya.

"Kita tidak pernah melakukan hubungan intim itu sebabnya hubungan kita menjadi seperti ini!" Ucap Hyun Joong dengan emosi. "Tetapi semua bisa diperbaiki Jae, aku merencanakan liburan ini, aku ingin berbicara denganmu tentang ini. Aku ingin menikmati liburan ini sebagai pasangan kekasih yang sebenarnya."

"Dan kau sudah berhasil menikmatinya dengan Karam, ania?" Sindir Jaejoong "Tidak ada gunanya lagi semua itu. Tidak ada yang bisa diperbaiki!"

"Hanya kau yang aku cintai, Jaejoong! Karam hanyalah... Kesalahan! Dia... Dia selalu disana saat aku merindukanmu. Aku tersiksa berjauhan denganmu. Hanya kau yang aku inginkan! Apa yang aku lakukan dengan Karam hanya sex semata. Dan aku berjanji hal itu tak akan terjadi lagi!" Ucap Hyun Joong sedikit memohon.

Jaejoog menggelengkan kepalanya. "Tetapi aku tidak mencintaimu, Hyun Joong. Tidak ada yang terjadi antara kita selama ini. Tidak masalah kau selingkuh ataupun tidak dibelakangku. Aku dari awal memang ingin putus deganmu."

Hyun Joong menghela nafas dalam dan menatap Jaejoong penuh dengan amarah. Kemudian tanpa peringatan ia menyeret Jaejoong untuk mengikutinya. Ia mencengkeran sangat kuat lengan Jaejoong kali ini. Membuat Jaejoong meringis sakit.

"Lepaskan aku Hyun Joong, akhh...sakit!" Teriak Jaejoong.

Hyun Joong tidak perduli ia tetap menyeret Jaejoong.

"LEPAS!"

Karena Jaejoong juga namja, dengan sekuat tenaga ia menghentakkan tangannya dari cengkraman Hyun Joong. Iapun terlepas, Jaejoong melihat lengan kirinya membiru karena cengkraman kuat Hyun Joong.

Hyun Joong kini meraih dagu Jaejoong dan mendekatkan wajahnya. "Dengankan aku! Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kecuali aku sendiri yang ingin melepasmu. Mengerti!" Geram Hyun Joong.

Jaejoong membelalakkan matanya ketika wajah Hyun Joong semakin mendekat. Ia bisa mencium aroma beer. Hyun Joong dalam keadaan mabuk! Jaejoong panik karena Hyun Joong ingin mencium bibirnya. Cengkraman didagunya semakin erat.

Bug

Jaejoong mengerahkan seluruh tenaganya dan ia melayangkan tinjunya tepat pada rahang Hyun Joong. Membuat namja itu jatuh terjengkang kebelakang.

"Kau bitch!" Maki Hyun Joong. Dan sebelum Jaejoong menyadari apa yang terjadi, ia merasakan rasa sakit pada rahang dan pipinya. Hyun Joong balas memukulnya dengan sangat keras sampai ia jatuh ke tanah.

Changmin yang melihat itu langsung maju untuk membalas Hyun Joong. Tapi dengan cepat Hyun Joong memelintir tangan Changmin kebelakang dan menjatuhkannya.

Jaejoong mendengar teriakan Junsu.

Jaejoong mencoba untuk bangkit. Ia menatap Hyun Joong dengan nanar. Sebenarnya ia sangat takut dengan Hyun Joong yang penuh dengan amarah sekarang. Tetapi ia harus menghadapinya.

Ketika Jaejoong sudah dapat berdiri ia malah terkejut dengan pemandangan didepannya. Hyun Joong terjatuh di tanah tak berdaya dan ia dipukuli membabi-buta oleh seseorang. Ada tiga orang disana, kedua orang lainnya malah sibuk menghentikan orang yang memukuli Hyun Joong.

"Yayaya... Hentikan Yunho. Kau bisa membunuhnya. Lihatlah dia sudah tidak berdaya." Ucap salah satu orang yang menahan.

Yunnie...

Butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya Jaejoong menyadari orang yang memukuli Hyun Joong adalah Yunho. Ia memaki Hyun Joong sambil memukulinya keras. Wajahnya memerah karena marah, ia tidak pernah melihat Yunho seperti itu. Penuh dengan amarah membunuh. Ketika ia puas menukuli Hyun joong, temannya menahannya beberapa lama memastikan ia tidak kembali melakukan aksinya. Hyun Joong terduduk di tanah, merintih kesakitan sambil memegangi rahangnya. Ia seperti kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa ada orang asing yang memukulnya?

Yunho mengambil kaca mata hitamnya yang terjatuh.

"Kau bajingan! Apa yang kau lakukan.. Apa masalahmu? Urusi masalahmu sendiri!" Teriak Hyun Joong pada Yunho.

Yunho tak menanggapi. Ia berbalik untuk melihat Jaejoong. Pandangannya berubah sendu. Jaejoong yakin Yunho dapat melihat ketakutan di wajahnya. Karena wajah Jaejoong kini memucat.

Yunho berjalan mendekati Jaejoong.

"Yunnie..." Ucap Jaejoong lirih.

Yunho tak mengatakan apapun. Ia malah merengkuh pinggang Jaejoong agar mendekat. Ia menengadahkan wajah Jaejoong untuk melihat luka yang Hyun Joong buat. Hyun Joong memukulnya keras pada bagian bawah wajahnya sehingga sudut bibir Jaejoong sedikit robek dan mengeluarkan darah. Pipinya juga terlihat membiru.

"Oh, baby..." Yunho berucap dengan sangat lembut. Jaejoong seketika ingin menangis mendengar suara Yunho yang penuh dengan kekhawatiran. Dan juga Yunho yang memanggilnya 'baby' lagi.

Yunho menunduk dan menyentuhkan bibirnya dengan bibir Jaejoong pada bagian yang berdarah. Jaejoong menyadari Yunho menghisap darah yang keluar dari bibirnya. Ia melakukannya dengan hati-hati dan lembut. Sehingga Jaejoong tidak merasa sakit.

"Apa yang kau lakukan, bajingan!" Teriak Hyun Joong setelah ia dapat berdiri lagi dan tentunya ia marah melihat apa yang barusan Yunho lakukan.

Yunho melepaskan bibirnya dan ia menoleh kearah Hyun Joong. Ia menggeram murka.

"Kau brengsek!" Yunho melangkah cepat menghampiri Hyun Joong. "Ini balasan karena kau telah melukai Jaejoongku."

BUG

Yunho melayangkan satu pukulan keras pada wajah Hyun Joong dan sekali lagi ia jatuh tersungkur ke tanah.

"Yunho-yah... Hentikan!" Teriak salah satu sahabat Yunho.

Jaejoong langsung lari menghampiri Yunho dan mencekal tangannya. "Yunnie... Sudah... Hentikkan, jeball." Mohon Jaejoong. Yunho menatap Jaejoong sejenak, melihat wajahnya yang memelas ia lalu mengangguk.

Yunho lalu membawa Jaejoong menjauh dari Hyun Joong yang sibuk meringis kesakitan. Yunho menyadari Jaejoong masih bergetar karena ketakutan. Iapun menghentikan langkahnya lalu menatap kedalam mata Jaejoong. Ia melihat air menggenang di mata doesnya.

Hiks

Akhirnya satu isakan lolos, tidak bisa Jaejoong tahan lagi.

Air mata kini mengalir deras membasahi pipinya.

Yunho langsung merengkuh Jaejoong kedalam pelukannya. Memberi tahu Jaejoong kalau semuanya baik-baik saja dan ia aman bersamanya.

"Mianhe, mianhe...baby, mianhe, karena aku tidak cepat datang padamu." Ucap Yunho sambil menciumi puncak kepala Jaejoong. "Apabila aku datang lebih cepat, aku tidak akan membiarkannya menyakitimu."

Jaejoong menggeleng kuat dipelukan Yunho. Tapi ia tidak berkata apa-apa ia malah menangis semakin keras. Ia yakin T-shirt bagian dada Yunho sekarang ini basah karea air matanya. Jaejoong tak tau ia menangis karena apa. Apakah karena lega? Apakah karena rasa takut? Atau karena ia sangat bahagia bisa berada di pelukan Yunho lagi?

Jaejoong merasakan Yunho mencium keningnya. Ia lalu memejamkan matanya dan berdoa bila ini bukanlah mimpi. Yunho disini, dan Ia memeluknya lagi.

"Yunho-yah..." Salah satu teman Yunho memanggilnya. "Bisa kita bicara sebentar?"

Yunho mengangguk, lalu ia melepas pelukan Jaejoong dengan perlahan. Ia menghapus air mata Jaejoong.

"Uljima." Ucapnya lirih. "Tunggu beberapa menit, aku akan kembali lagi." Lalu sekali lagi mencium kening Jaejoong.

Jaejoong mengangguk. Yunho lalu menghampiri teman-temannya.

Junsu dan Changmin menghampiri Jaejoong dengan ekspresi bingung dan penuh dengan pertanyaan. Jaejoong paham, mereka pasti bingung, terkejut setengah mati akan apa yang baru saja mereka lihat. Lima belas menit yang lalu, Jaejoong berencana untuk menjelaskan semuanya secara perlahan. Dengan jelas dan gamblang. Tetapi sekarang... Setelah kejadian ini... Menatap kedua sahabatnya saja ia tidak berani.

Jaejoong melihat kearah Hyun Joong yang terduduk di pasir sambil meringis kesakitan. Dan secara ajaib Karam muncul disana. Jaejoong kembali melihat kearah kedua sahabatnya yang menatapnya mengintimidasi.

Jaejoong masih belum bisa berkata-kata. Ia tau, apapun yang akan ia katakan tidak akan membuat sahabatnya tidak kesal pada dirinya, atau yang paling buruk malah membencinya.

Akhirnya Junsu yang pertama memecah keheningan. "Baby? Jung Yunho memanggilmu baby, huh?" Ucap Junsu dengan nada tidak percaya.

Jaejoong membuka mulutnya ingin menjelaskan, tetapi tetap tidak ada satu katapun yang keluar.

"Ada apa ini hyung? Aku tidak mengerti! aku tidak terkejut Jung Yunho menolongmu dari mantanmu yang gila itu. Tapi... Bagaimana bisa ia memelukmu? Menciummu? Dan memanggilmu baby, dengan sangat akrab. Seakan ia biasa memanggilmu seperti itu. Tidak masuk akal!" Celoteh Changmin.

"Ah, dan kau benar Joongie, sangat tepat. Matanya berwarna hazel. Aku mengingatnya, dulu kaubilang itu hanya tebakanmu kan? Tapi kurasa itu karena kau telah melihatnya secara langsung. Sedangkan kami tidak bisa melihatnya karena ia selalu memakai kaca mata hitam." Sambung Junsu sambil menggelengkan kepalanya.

"Hyung, apa seseorang yang Jung Yunho maksud dalam video adalah dirimu? Seseorang yang telah membuatnya terlibat perasaan mendalam? Itu dirimu hyung?"

Hiks...

Jaejoong terisak. Air mata kembali mengalir keluar membasahi pipinya. Kemudian ia mengangguk pelan.

"OMONA!" Pekik Junsu sambil menutupi mulutnya.

Changmin melemparkan tangannya keudara. "Wow! Aku tak percaya ini!"

"Hikss,,,, Minnie, Su-ie... Hiks... A...aku sudah memberitahumu sebelumnya..." Ucap Jaejoong terisak. Ia lalu mengambil nafas dalam. "Tetapi kalian menertawakanku, mengatakan itu adalah lelucon terbaik yang pernah kubuat."

"Maka kau harus memukul kami! Mengatakan bahwa kau bicara serius!" Ucap Junsu dengan frustasi.

"Aku akan menjelaskan semua kepada kalian tadi... Tetapi, Hyun Joong tiba-tiba datang" Ucap Jaejoong dengan suara pelan. "Aku ingin mengakui semuanya dari awal. Tetapi aku tak bisa melakukannya sekarang. Tidak setelah apa yang baru saja terjadi. Aku harap kalian mengerti, dan memberiku waktu." Mohon Jaejoong pada sahabatnya.

Junsu dan Changmin tidak berkata apapun. Mereka melihat seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakang Jaejoong. Yunho muncul lagi dan langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Jaejoong. Menariknya mendekat.

"Anneong Junsu, Changmin." Sapa Yunho ramah. Akhirnya Yunho bisa bertemu dengan sahabat Jaejoong. Tetapi Jaejoong tidak pernah membayangkan mereka akan bertemu dalam keadaan seperti ini.

Junsu dan Changmin mengangguk pada Yunho, tetapi tetap memberikan Jaejoong tatapan dingin dan tajam.

Yunho menatap Jaejoong. "Kita sebaiknya kembali ke hotel baby. Badanmu sangat dingin aku tidak mau kau sakit." Ucap Yunho penuh kekhawatian.

Jaejoong mengangguk. Ia terharu dengan perhatian Yunho. Jaejoong kembali menatap sahabatnya. "Aku akan berbicara dengan kalian nanti. Mianhe... Jeongmal mianhe..."

Yunho lalu membawa Jaejoong menuju hotel dengan tangannya masih memeluk pinggang Jaejoong.

Selama perjalanan, mereka hanya diam. Jaejoong merasa gugup. Berkali kali ia bertanya pada dirinya, apakah ini nyata? Apabila iya, Yunnienya memang sedang berjalan sambil memeluknya sekarang.

Ketika mereka memasuki lift, Jaejoong berkata. "Yun, aku tidak bisa kembali kekamarku. Aku sekamar dengan Karam dan aku tidak mau berhadapan dengannya sekarang. Aku..."

"Siapa bilang kau akan kembali kekamarmu. Aku tidak pernah mengatakan kau akan kembali kekamarmu." Potong Yunho dingin. "Kau dan aku juga perlu bicara. Aku tak menerima penolakan kali ini."

Jaejoong mengangguk sambil menggigit bibirnya. Yunho masih marah padanya. Sekarang mereka berdiri berjauhan didalam lift dengan canggung. Jaejoong berharap lift segera terbuka.

Yunho membawa Jaejoong ke kamar hotelnya. Ia menyewa suite room dengan ranjang yang besar dan balkon yang luas. Kamarnya dan Karam bahkan tidak lebih besar dari ruang tamu kamar ini.

Yunho menutup pintu. Jaejoong menatap Yunho dengan gugup. Yunho balas menatap Jaejoong.

"Go...go...gomawo." Ucap Jaejoong terbata karena ia benar-benar gugup. Yunho menatapnya tajam mengintimidasi.

"Untuk apa?" Tanyanya datar.

Jaejoong mengambil nafas dalam. "Karena kau sudah menyelamatkanku dari Hyun Joong."

"Aku tidak akan berhenti memukulnya apabila kau tak memintaku berhenti." Ucap Yunho dingin.

"Ania... Aku tidak mau kau terkena masalah. Bagaimana kalau Hyun Joong melaporkanmu ke polisi? Aku yakin tadi adalah pertama kalinya ia dipukuli seperti itu."

Yunho menggelengkan kepalanya. "Aku tak perduli. Dia seharusnya tidak menyentuhmu! Ia layak mendapatkannya."

Hiks...

Hiks...

Jaejoong menangis. Ia menatap Yunho dengan air mata berlinang. "Gomawo... Hiks..." Isak Jaejoong. "A...aku sangat bersyukur kau berada disini."

Yunho tidak bergerak. Ia hanya menatap Jaejoong, menilai Jaejoong. Menunggu apa yang akan Jaejoong katakan selanjutnya. Jaejoong bisa melihat kedalam mata Yunho betapa besar ia terluka karenanya. Ia telah melukainya dalam.

"Oh, Yunnie-ah...mianhee...hiks...jeongmal mianhe...hiks..." Isak Jaejoong frustasi. Ia menangis tak terbendung,

"Untuk apa Jaejoong!, UNTUK APA!" Yunho meninggikan suaranya.

"Mianhe...hiks, karena aku tak mendengarkanmu. Karena aku tak memberimu kesempatan untuk menjelaskan. Hiks... dan..." Jaejoong berhenti sejenak untuk mengontrol tangisannya.

Yunho menaikkan alisnya. "Dan?"

"Dan mianhe... Karea telah berbohong kepada sahabatku tentangmu. Karena telah membuatmu merasa kalau aku malu bersamamu."

Yunho masih tidak bereaksi. Jaejoong bertanya-tanya apa yang ada dipikirannya saat ini.

"lanjutkan" Pinta Yunho.

Jaejoong mendesah. "Karena aku tidak berjuang untukmu. Karena aku cepat menyerah. Karena aku tak mempercayaimu setelah apa yang kau tunjukkan padaku selama ini. Mianhe... Karena aku berfikir kau berselingkuh dibelakangku."

"Apa kau masih berfikir kau tidur dengan yeoja itu?" Tanya Yunho tajam.

Jaejoong menunduk. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Ania."

Yunho mengangkat dagu Jaejoong agar menatapnya. "Apa kau masih berfikir aku akan tidur dengan orang lain selain dirimu, Jaejoong?"

Jaejoong menggigit bibirnya. "Apa kau akan melakukannya?"

Yunho mengerang frustasi. Lalu ia merengkuh pinggang Jaejoong da membawanya kedalam pelukannya. "Kau benar-benar sulit dipercaya! Kau kadang membuatku gila, Jaejoong!" Yunho memeluknya erat. Lalu ia melepaskan pelukannya dan menatap Jaejoong. Kali ini tatapannya tidak dingin. "Aku tau kau menjalani kehidupan dengan orang-orang yang tidak pernah mengerti dirimu, orang-orang yang hanya melemahkan semangatmu. Membuat dirimu merasa apa yang sudah kau lakukan dan apa yang perjuangkan sia-sia belaka. Mereka salah, Jaejoong! Aku disini berdiri dihadapanmu mengatakan bahwa kau namja luar biasa. Kau cantik, tidak hanya diluar tetapi didalam dirimu. Aku benar-benar gila karena dirimu, Jaejoong. Dan jawabanku jelas, Tidak! Aku tidak akan tidur selain dengan dirimu. Aku tidak akan selingkuh dibelakangmu!"

Jaejoong tersenyum disela tangisannya. Ia sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan Yunho. Ia tidak percaya Yunho mengatakan semua itu. Ia dengan jelas mendengar kalau Yunho tergila-gila padanya.

Hiks...Hiks...

Jaejoong hanya bisa menangis.

"Shhhh...uljima" Yunho menghapus air mata dipipi Jaejoong. "Jadi... Sekarang Hyun Joong hanyalah masa lalu?"

Jaejoong mengangguk mantap.

"Benarkan? Kau mengatakan putus padanya? Hubungan kalian berakhir?" Tanya Yunho masih tidak percaya.

"Ne." Jawab Jaejoong mantap. "Waktu itu aku ingin menemuinya untuk meminta putus. Tetapi kemudian aku menemukan ia berada diantara kaki Karam. Tanpa berlama-lama berbicara degannya aku langsung memutuskannya."

Yunho menaikkan satu alisnya tidak mengerti. "Diantara kaki Karam? Maksudmu... Ia tidur dengan adikmu?" Tanyanya tidak percaya.

Jaejoong mendesah. "Ne. Aku melihat mereka melakukan hubungan sex."

Yunho menyeringai. "Jadi sekarang posisi untuk menjadi 'kekasih resmimu' telah dibuka?" Tanyanya dengan mata menari-nari.

Jaejoong tersenyum malu-malu. Jantungnya berdegub kencang

"Ne"

"Apabila kau tak keberatan Mr. Kim. Bolehkah aku mendaftar?"

Jaejoong terkekeh. "Hihihi, kita liat nanti apakah Yunnie bisa lolos dari audisi."

Tiba-tiba Yunho menatap Jaejoong dengan intens dan nakal. Jaejoong menjadi gugup.

Lalu tanpa peringatan ia menarik Jaejoong bersamanya jatuh ke sofa. Tangan Yunho dengan nakal meremas butt Jaejoong.

"Yayaya... Bukan seperti ini yang kumaksud! Dasar beruang mesum!" Protes Jaejoong sambil berusaha lepas dari Yunho.

Tetapi Yunho malah membalikkan posisinya. Ia sekarang menindih Jaejoong yang tak berdaya. Mengintimidasi Jaejoong dengan tatapan menggoda.

"Tenang saja Mr. Kim. Aku tau audisi apa yang kau maksudkan."

Jaejoong sempat tersenyum sebelum Yunho menghilangkannya dengan tumbukan bibirnya. Mencium Jaejoong dengan dalam, penuh gairah dan kerinduan.

"Damn! aku sangat merindukanmu, baby." Ucap Yunho sambil beralih menciumi leher Jaejoong.

"Ahhh...Yunnie...neomu-neomu bogosipoyo...Emphhh..." Erang Jaejoong.

Dan mereka berakhir dengan percintaan panas dan liar di sofa. Memuaskan hasrat yang tidak dapat terbendung akibat rasa rindu yang mendalam.

.

.

To Be Continued or Tamat nii?

Hosh...

Gimana chapter ini? Sweet nda? ˘▽˘

Sbnarnya lbih seeru klo dtambah Nc-an. But, i can't :(. nda tau knapa, hehe... Pikiranku ttg Bed scene udah tertuang di awal chpter. Nda bisa bikin lagi heeuuuuu...pernah aku coba buat, ttp terasa membosakan. Aku hapus lagi deeh... Mian y buat hardcore reader yg mengharapkan Nc... tp liat aj nanti d chapter2 selanjutnya (#^o^#)

Chingu tenang saja Go Ahra ga akan jadi apa2 kog dsini. Cuma cameo nama. hihihi (~‾▿‾)~

Chapter ini panjang n banyak scene yang terjadi... Cici bakalan sedih klo chingu review kependekan lagi (╥﹏╥)

Makasi ya chingu reader atas masukannya, semangatnya, (* ̄m ̄)#terharu

Chingu kasih tanggapan yak... Review Juseyoo ^▽^

Aq mau nungguin Yundut perform tp msh ntar jam 6:15-7:00 KST ⌣́_⌣̀

.

Bye_Bye

ε(- ^_^ -)з