.
.
Update dalam rangka melepas Changminie wamil hueee...(╥﹏╥)...
.
Chapter : In Your Arm
.
.
Setelah mereka memuaskan diri melepas rindu dengan bercinta, Jaejoong berbaring di sofa dengan kepala menyandar pada bahu Yunho. Sedangkan Yunho dari belakang memeluk perutnya erat. Jaejoong bisa merasakan hembusan nafas hangat Yunho di lehernya. Jaejoong tersenyum puas. Ia tau masalah yang harus dihadapinya masih banyak. Sahabatnya pasti sangat marah kepadanya sekarang. Eommanya pasti juga akan marah kepadanya setelah tau ia putus dengan Hyun Joong. Hubungannya dengan Karampun lebih buruk dari sebelumnya. Tetapi mengapa ia bisa tersenyum sekarang? Rasanya seperti semuanya akan berjalan baik-baik saja. Dan ia tau mengapa. Ia kembali ke pelukan Yunho. Tak ada yang lebih membahagiakan dari itu. Yunho berkata ia tergila-gila kepadanya. Dan Kini Yunho adalah kekasih resminya.
"Kekasihku..." Gumam Jaejoong lirih sambil membelai rambut Yunho.
Yunho mendengar gumaman Jaejoong tersenyum lalu mencium dahi Jaejoong lalu kembali memeluknya erat.
"Ne, kau milikku baby... hanya milikku." Klaim Yunho posesif.
Jaejoong memutar tubuhnya. Sehingga mereka kini bertatapan.
"Bagaimana kau tau aku membutuhkan pertolongan, Yunnie?" Tanya Jaejoong.
"Waktu itu aku berada di bar dekat pantai. Dan aku... emmm aku mengamatimu. Aku melihat Hyun Joong datang padamu. Aku tidak tau kalau kalian bertengkar, sampai aku melihatnya mencengkeram erat lenganmu dan menggeretmu paksa. Dan kau memukulnya. Itu yang membuatku berlari padamu. Tetapi rupanya aku terlambat. Ia memukulmu lebih dulu." Jawab Yunho penuh penyesalan. Ia lalu membelai pipi Jaejoong yang terlihat membiru.
"Gomawo!" Ucap Jaejoong tulus. "Gomawo karena kau berada disini! Entah urusan apa yang kaulakukan, aku berterimakasih kau berada di resort ini."
"Aku berada disini karena kau ada disini." Aku Yunho malu-malu.
"Maksud Yunnie?"
Yunho menghela nafas dalam. "Aku bertabrakan dengan Junsu pagi tadi di Trend. Aku bertanya padanya mengapa ia tergesa-gesa. Ia menjawab kalian akan pergi kemari. Dan beruntungnya aku, Junsu sangat antusias menceritakannya. Bahkan ia menyebutkan hotel tempat kalian menginap dan dengan siapa kalian akan pergi berlibur." Yunho terdiam sejenak. "Aku tak tau... aku hanya..." Yunho mendesah berat. "Aku hanya ingin melihatmu dengan namjachingu dan sahabatmu. Aku ingin melihat apakah kau bahagia. Jika iya... aku dapat meyakinkan diriku sendiri bahwa kau tidak membutuhkanku lagi. Jadi aku dapat melepaskan dirimu dari pikiranku selama ini."
Jaejoong menggelengkan kepalanya kuat. "Ani...aniaa..." Ia membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Yunho. Lalu ia mendongak menatap Yunho dengan mata berkaca-kaca. "Aku sangat tidak bahagia, Yunnie. Aku...menyedihkan! Kau... kau bersikap seolah-olah tidak mengenalku. Seperti aku tidak berarti bagimu. Kau sangat dingin." Ucap Jaejoong dengan air mata membasahi pipinya. "Dan ya, aku tau aku pantas menerimanya. Karena setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini, apa yang kau katakan padaku... aku masih saja tidak mempercayaimu. Aku tidak percaya kau tidak akan menyakitiku."
Yunho menghapus air mata Jaejoong. "Aku sudah berusaha menjelaskan semuanya padamu, baby. Namanya adalah Jung Jessica. Dia adalah sepupu Yonghwa. Tidakkah aku mengatakan padamu sepupuku akan datang berkunjung? Ah, pasti kau mengira Yonghwa mempunyai kembaran identik?"
Jaejoong mengangguk malu-malu.
"Aku mencoba menjelaskan padamu lewat voicemail, pesan. Kau pasti menghapus semua tanpa mendengar dan membacanya..." Yunho menghela nafas dalam. "Pada waktu itu aku jadi berfikir, mungkin kau memang ingin mengakhiri apa yang telah kita jalani."
Jaejoong menatap Yunho dengan penuh rasa bersalah. Ia tak tau apa yang harus ia katakan pada Yunho sehingga Yunho tau ia sangat merasa bersalah. Jaejoong lalu memajukan wajahnya, meraih bibir Yunho. Menciumnya lembut penuh ketulusan. Yunho balas menciumnya. Jaejoong dapat merasakan Yunho tersenyum disela-sela ciumannya.
"God! Aku rindu menciummu, baby." Ucap Yunho setelah mengakhiri ciummannya.
"Mianhe Yunnie... aku sangat pabbo!"
Yunho mencium kening Jaejoong. "Aku juga minta maaf baby. Seharusnya malam itu aku menceritakan padamu kalau sepupu Yonghwa...
"Ania, kau tidak harus menceritakan semuanya padaku. Kau tidak harus mengatakan padaku semua yang kau lakukan." Potong Jaejoong.
"Tetapi aku ingin." Ucap Yunho. "Aku sangat antusias ingin menunjukkan padamu mobil baruku. Aku membuat plat nomor mobilku dengan tulisan..."
"Yunjae?" Potong Jaejoong.
Yunho mengangguk. "Aku ingin melihat bagaimana reaksimu tentang itu. Aku tau kau akan marah padaku karena kau ingin hubungan ini tetap rahasia. Dan itu adalah hal kecil yang aku lakukan untuk menunjukkan kepada publik kalau kita...bersama"
Jaejoong tersenyum. "Ketika Su-ie menceritakaannya, aku berfikir plat nomor itu mengacu pada yeoja yang aku temukan di apartemenmu."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Ania...itu berarti kamu dan aku, baby. Yun-jae, kependekan dari Yunho dan Jaejoong." Jelas Yunho.
Jaejoong sangat terharu. Ternyata itu adalah gabungan nama Yunho dan namanya. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Yunho lagi. Melumat bibir Yunho dengan perasaan meluap-luap. Ketika Yunho membalas dan memperdalam ciumannya, Jaejoong merasakan sengatan di bibirnya.
"Ouch!" Jaejoong merintih kecil. Ia melupakan luka yang Hyun Joong buat dibibirnya. Rasa sakitnya terasa sekarang. Padahal waktu ia dan Yunho bercinta tadi, ia tak merasakan sakit. Walaupun Yunho menciumnya dengan ganas dan keras.
"Mianhe baby, aku lupa. Appo?" Tanya Yunho cemas.
Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Tunggu disini aku akan mengobatimu. Bagaimana bisa kita tadi bercinta sedangkan kau dalam keadaan terluka seperti ini." Omel Yunho lalu beranjak menuju lemari es. Mengambil es batu untuk mengompres lebam di pipi dan bibir Jaejoong.
Yunho membungkus es batu dengan handuk kecil. Ia lalu mendudukkan Jaejoong ke pangkuannya dan mengompres pipi dan bibir Jaejoong yang lebam. Yunho melakukannya dengan pelan. Tetapi tetap saja Jaejoong meringis karena perih yang dirasakannya.
"Bajingan itu...Apabila ia menyakitimu lagi. Akan kubalas ia berkali-kali lipat!" Geram Yunho.
Jaejoong membelai pipi Yunho untuk menenangkan dirinya. "Gwenchana Yunnie, aku yakin ia tak akan menyentuhku lagi." Tetapi kemudian Jaejoong terkekeh melihat raut wajah khawatir campur marah Yunho. "Hehehe Yunnie sudahlah, tak perlu khawatir seperti itu. Aku juga namja. Lagian aku yang memukul Hyun Joong lebih dulu. Kau liatkan? Aku memukulnya sampai terjatuh. Tenagaku ini juga tidak bisa diremehkan."
"Ya, aku juga pernah merasakannya. Kau menamparku sangat kuat kala itu." Ucap Yunho.
Mata Jaejoong melebar, ia lupa pernah melukai Yunnienya secara fisik. Jaejoong segera mengusap bagian pipi Yunho yang terkena tamparannya. "Mi...mianhe... apa waktu itu sangat sakit?"
Yunho tersenyum lembut lalu membawa tangan Jaejoong yang menyentuh pipinya ke dadanya. "Disini sangat sakit waktu itu."
"Mianhe... Yunnie... aku menyakitimu. Kau bisa balas memukulku kalau kau mau." Ucap Jaejoong sendu sambil memeluk dan membenamkan wajahnya di leher Yunho.
"Bagaimana mungkin aku memukul babyku. Tidak akan pernah." Bisik Yunho lembut. "Baby, bagaimana kalau kita mandi?"
Jaejoong mendongak menatap Yunho. "Yunnie, aku harus kembali ke kamar Junsu dan Changmin. Aku memang berbagi kamar dengan Karam. Tapi saat ini aku tidak mau melihatnya."
Yunho menaikkan alisnya. "Siapa yang mengatakan kau akan kembali ke kamar Junsu dan Changmin? Kau akan menghabiskan malammu disini denganku." Ucap Yunho dengan nada tak menerima penolakan.
"Tapi Junsu dan Changmin pasti akan marah padaku."
"Apabila kau kembali kekamarmu sekarang apa akan membuat perbedaan? Mereka telah mengetahui kita bersama. Aku yakin mereka pasti berfikir kau akan menghabiskan malam denganku."
"Ani, mereka tidak akan berfikir seperti itu. Mereka masih mengira aku virgin Yunnie."
Yunho menyeringai. "Maka apabila kau menghabiskan malam denganku, mereka tidak akan berfikir kau masih virgin besok. Kau ingat bagaimana reputasiku kan?"
Jaejoong memukul dada Yunho pelan. "Yak, bagaimana bisa kau bangga dengan itu."
"Apa kau sudah makan malam, baby?" Tanya Yunho.
"Ne, tapi setelah semua kejadian ini... aku jadi lapar lagi." Jawab Jaejoong.
"Lapar lagi? Hmmmm..." Yunho lalu tersenyum nakal. "Lapar akan diriku atau lapar makanan baby Joongie?" Goda Yunho.
Jaejoong memukul dada Yunho sekali lagi. "Makanan! Otakmu sangat mesum ishh...!." Seru Jaejoong kesal.
Yunho lalu menghubungi room service untuk memesan makan malam. Kemudian ia tanpa peringatan menggendong Jaejoong ala bridal style ke kamar mandi.
"Yak...Yunnie, aku bisa berjalan sendiri!" Protes Jaejoong.
"Berpura-puralah kau tak bisa, jadi kekasih barumu ini bisa merasakan menjadi seorang hero untukmu." Yunho mengedipkan matanya menggoda.
"Kekasih baruku? Hmmm.. apa aku mengatakan Yunnie lulus audisi ya?" Ucap Jaejoong sambil memasang wajah polosnya.
Yunho menyeringai nakal. "Oh, tidakkah kau ingat tadi siapa yang membuatmu mendesah sambil meneriakkan namaku sampai tiga kali, heum? Tidakkah itu berarti aku sangat pantas untuk lolos audisi?"
Jaejoong menyembunyikan wajahnya yang memerah di leher Yunho. "Cukupp...Kajja kita mandi."
Yunho tertawa. Sesampainya di kamar mandi Yunho menurunkan Jaejoong di bawah shower. Yunho membantu Jaejoong melepas boxer dan kaos dalamnya. Jaejoong juga melakukan hal yang sama pada Yunho. Jaejoong menunduk malu Yunho memandangi tubuh telanjangnya dengan intens. Sementara Yunho tersenyum puas dengan hasil karyanya pada tubuh mulus Jaejoong. Bercak-bercak kecupan merah tersebar disepanjang tubuh Jaejoong terutama dadanya. Karena Yunho tidak tanggung-tanggung bercinta dengan Jaejoong tadi. Salah satu moment bercinta terpanas yang pernah mereka lakukan.
Yunho mengangkat dagu Jaejoong sambil mendorongnya selangkah kebelakang. Yunho menatap Jaejoong sambil tersenyum jail. Jaejoong mengangkat alisnya tidak mengerti. Tanpa aba-aba Yunho menyalakan shower, seketika air dingin mengguyur tubuh Jaejoong yang tepat dibawahnya. Jaejoong memekik terkejut. Yunho yang melihat reaksi Jaejoong tertawa lalu membawa Jaejoong kepelukannya.
Ketika Jaejoong mendongak menatap Yunho, ia menemukan sisi Yunho yang berbeda. Ia tertawa seperti anak kecil yang bahagia. Matanya menari-nari. Jaejoong menyadari ia melihat Yunho yang seperti ini ketika mereka berkencan di Hokaiddo. Jung Yunho yang... bebas dan bahagia.
"Waeyo?" Tanya Yunho karena Jaejoong menatapnya intens.
Jaejoong tersenyum. "Aku sungguh-sungguh merindukan Yunnie." Jaejoong memajukan wajahnya dan mencium lembut bibir Yunho.
"Jinja? Apa yang paling kau rindukan dariku?" Tanya Yunho.
Jaejoong tersenyum lagi. "Matamu."
"Mataku?"
Jaejoong mengangguk. "Kau selalu menyembunyikan matamu dibalik kaca mata hitammu. Ekspresi wajahmu sulit dibaca. Tetapi sering aku melihat matamu menari-nari tanda kau bahagia. Aku suka tatapan matamu yang serius tetapi juga hangat."
"Whoa, jinja? Kalau begitu kau orang pertama yang menyadarinya, baby." Ucap Yunho.
"Karena mungkin aku orang pertama yang melihat matamu sedekat ini." Jaejoong menatap kedalam mata Yunho.
"Ne, memang kau satu-satunya."
"Kau tau...aku sangat penasaran dengan warna matamu. Karena aku..." Jaejoong ingat tentang novel yang ia tulis sebelum bertemu Yunho. Ia tidak memikirkannya lagi sampai sekarang.
"Karena apa, baby?" Tanya Yunho.
Wajah Jaejoong memerah, ia menunduk malu.
Yunho menaikkan dagu Jaejoong agar menatapnya. "Tak usah malu. Katakan saja."
Jaejoong sangat malu untuk mengakuinya. Tetapi ia berjanji akan mempercayai Yunho. Maka ia harus menceritakan apapun...walaupun hanya hal kecil yang memalukan.
"Baiklah... kau adalah namja yang populer. Sahabatku berbicara tentangmu setiap waktu. Yah aku mengakui kalau kau tampan dan kaya. Tetapi aku tidak tertarik padamu. Aku tidak mengerti mengapa para yeoja dan namja uke sangat tergila-gila padamu. Dan kemudian... aku menemukanmu sebagai tetangga baruku. Sejak itu, aku penasaran padamu. Aku ingin melihat apa sih yang menarik darimu. Aku... aku mengamatimu sekali waktu. Ingin tau kau itu orang seperti apa."
Jaejoong cemas melihat reaksi Yunho. Ia pasti marah karena ia bertingkah layaknya stalker. Tetapi Yunho malah tersenyum.
"Lanjutkan." Pinta Yunho.
Jaejoong balas tersenyum. "Aku mulai menulis novel waktu itu. Dan...karakter tokoh utama yang aku buat adalah gambaran dirimu."
Yunho mengangkat alisnya. "Jinja? Tipe novel seperti apa itu?"
"Historical romance. Kau adalah pemberontak tampan. Bangsawan yang dibuang dari keluarganya karena banyak membangkang. Dan tentu saja playboy termasuk didalamnya." Jaejoong terkekeh.
"Dan pasangan sang pemberontak? Apakah seorang putri yang terbuang?" Tanya Yunho.
Jaejoong menatap Yunho lalu mengangguk malu-malu.
"Dan bagaimana kisah selanjutnya?"
Jaejoong mengangkat bahunya. "Aku belum menyelesaikannya."
"Wae?" Tanya Yunho.
"Karena aku bertemu denganmu. Aku bahkan tidak dapat menulis satu katapun."
"Bagaimana cerita itu akan berakhir?" Jaejoong senang Yunho banyak bertanya. Tandanya Yunho tertarik dengan novelnya.
"Aku belum memikirkannya. Tetapi aku harap akan berakhir bahagia selamanya." Jawab Jaejoong dengan tersenyum manis.
Yunho menatap Jaejoong sejenak. Sesuatu mengganggu pikiran Yunho. Jaejoong ingin bertanya tetapi Yunho dengan cepat membawa Jaejoong kepelukannya.
"Aku yakin semuanya akan berjalan dan berakhir seperti itu." Dan Yunho memeluk Jaejoong sangat erat. Sehingga ia bisa merasakan kehangatan dibawah guyuran air dingin shower.
Setelah mandi Yunho memberikan kecupan lembut dibibir Jaejoong lalu keluar.
Jaejoong masih sibuk mengeringkan tubuh dan rambutnya. Jaejoong mengenakan bathrobe ketika keluar dari kamar mandi.
Jaejoong melihat Yunho sedang menata makanan yang tadi dipesannya.
"Yunnie...aku harus kembali kekamar Kamar Karam untuk mengambil pakaian." Pinta Jaejoong.
"Andwe!" Tolak Yunho.
"Wae? Udara sangat dingin. Aku tidak bisa tidur hanya memakai jubah mandi."
Yunho menghampiri Jaejoong dan tersenyum menggoda. "Maka kau hanya perlu terus berada dipelukanku semalaman. Aku akan menghangatkanmu."
"Yuu...nnie" Wajah Jaejoong memerah.
Yunho terkekeh lalu ia membuka lemari dan mengambil pakaian untuk Jaejoong. "Tak masalah kan kalau memakai pakaianku malam ini? Aku sudah memesankan pakaian untukmu besok pagi."
Jaejoong mengangguk sambul tersenyum "Gomawo." Ucapnya pada Yunho lalu memakai sweetshirt dan celana training Yunho.
"Yunnie bajumu sangat besar, tubuhku seperti tenggelam." Protes Jaejoong sambil merengut.
"Tubuhmu saja yang sangat kecil" Yunho mencubit ujung hidung Jaejoong. "Tetapi tenang, baby Joongie selalu terlihat sexy dimataku."
Jaejoong terkekeh lalu menghadiahkan sebuah ciuman di bibir Yunho.
Yunho menatap Jaejoong. "Aku senang kau membuat cerita berdasarkan karakterku. Sejujurnya akupun penasaran denganmu. Aku selalu melihatmu setiap ada kesempatan. Aku tau kau bekerja di Trend. Kau terkesan sombong. Tetapi itu membuatku tertarik. Setiap kali kau berada di balkon, aku mengamatimu dan kau selalu melamun. Seperti kehilangan pikiranmu. Suatu hari aku melihatmu sedang berbicara lewat ponsel. Dan kau tidak berekspresi sama sekali. Dan setelah mengenalmu aku jadi tau, kau seperti itu karena berbicara dengan Hyun Joong atau eommamu."
Mata Jaejoong melebar. "Jadi, kau bisa merasakan rasa frustasiku dari jauh?"
Yunho mengangkat bahunya. "Aku tidak melihat kebahagiaan dalam dirimu. Itulah sebabnya aku sangat terkejut kala menemukanmu di Mirotic. Dan kau berubah drastis. Kau sangat Hot!"
"Malam itu adalah malam yang bersejarah bagiku. Semenjak malam itu aku merubah diriku dan berpikir dari sudut pandang yang berbeda." Jaejoong menatap kedalam mata Yunho. "Aku bersyukur bertemu denganmu malam itu. Gomawoyo Jung Yunho telah masuk kedalam hidupku." Ucap Jaejoong.
Yunho tersenyum. "Dan gomawoyo Kim Jaejoong kau mau memandangku dengan sudut pandang berbeda."
Merekapun menikmati makan malamnya. Setelah itu mereka duduk santai di balkon sambil berpelukan.
"Ceritakan padaku lagi apa yang terjadi dengan dosaengmu."
Jaejoong mendesah. "Aku ikut liburan ini memang dengan maksud ingin memutuskan Hyun Joong. Junsu dan Changmin mendukungku penuh. Mereka sampai ikut kemari karena mereka tau aku pasti membutuhkannya. Saran Junsu lebih cepat berbicara dengan Hyun Joong lebih baik. Aku putuskan setelah makan siang aku akan berbicara dengannya. Aku mencari Hyun Joong di kamarnya. Tetapi tidak ada. Lalu aku kembali ke kamarku dan Karam. Dan aku melihat mereka saling menindih."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Adikmu benar-benar keterlaluan. Apa kau yakin kau berbagi gen dengannya?"
Jaejoong mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tau apa kesalahan yang kulakukan padanya sehingga membuatnya sangat membenciku."
"Dan karakter Hyun Joong disini? God! Betapa bajingan dan pengecut dia?" Ucap Yunho emosi. "Aku bahkan tidak mengerti, apa yang kurang darimu? Kau sempurna sebagai dirimu sendiri."
"Ani. Dimata Hyun Joong aku hanya akan merendahkan keluarganya saja. Kakaknya menikah dengan pengacara terkenal. Dan selama menjadi kekasihnya aku berfikir ia tidak pernah bisa menerima fakta bahwa ia akan menikah dengan penulis amatiran."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa ia meminta orang menjadi seperti apa yang diinginkannya?"
"Yah, dia memang hanya mementingkan ego." Ucap Jaejoong.
Yunho mengambil nafas dalam. "Jika seseorang... mendapatkan kesempatan memilih dengan siapa ia akan menikah. Ia harus memilih dengan orang yang dicintainya. Menikah karena cinta. Hak seseorang untuk menentukan kebahagiaannya. Apa ia tidak menyadarinya? Tidak semua harus berasarkan uang dan derajat. Aku memilih menjadi miskin demi menikah dan hidup bersama orang yang kucintai."
Jaejoong tersenyum. "Orangtuamu pasti sangat jatuh cinta satu sama lain sehingga kau bisa berbicara seperti itu"
Yunho mengalihkan pandangannya dari Jaejoong. "Appaku adalah seorang Jung. Satu-satunya anak laki-laki dari kakek dan nenekku. Otomatis ia menjadi satu-satunya penerus perusahaan kakek. Dan ia menikah dengan eommaku, seorang yang selalu senang berada dirumah daripada diluar. yang selalu dibutuhkan appaku untuk berbagi cerita. Seorang yang membuat appaku merasa nyaman. Seorang yang bisa membuatnya bergairah."
"Wow, orangtuamu sangat bahagia satu sama lain."
Yunho tersenyum dan mengangguk. "Sangat, setiap hari mereka seperti pengantin baru. Appaku memuja eomma dari ujung rambut sampai ujung kaki."
"Eommamu... hmmm... dari kalangan apa Yunnie?" Tanya Jaejoong takut-takut.
"Eomma berasal dari keluarga yang bagus juga."
"Maksudmu?... kalangan atas? Keturunan keluarga kaya?"
Yunho menghela nafas dalam. Lalu ia mengangguk. "Ia mewarisi empat buah perusahaan keluarganya. Tetapi eomma sama sekali tidak tertarik menanganinya."
"Lalu bagaimana perusahaan itu?"
Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan serius. "Perusahaan itu menjadi bagian dari Jung Corp."
"Appamu mengakuisisinya?"
Yunho mengangguk. "Sebelum itu perusahaan appa adalah perusahaan terkuat. Setelah mengakuisisi perusahaan eomma perusahaan appa menjadi lebih besar dan tak tertandingi."
"Whoaa... betapa beruntungnya orangtuamu."
Yunho mendesah. "Aku sama sekali tidak percaya dengan keberuntungan. Kau menginginkannya. Kau harus berusaha untuk mendapatkannya."
Jaejoong mengangguk setuju. "Apabila orangtuamu saling mencintai. Mengapa kau tidak memiliki saudara lagi?" Tanya Jaejoong.
"Setelah Younjo meninggal. Eomma tidak bisa menerimanya dengan mudah. Perlu waktu lama untuk bangkit. Setelah beberapa tahun mereka selalu berusaha untuk itu... namun mereka tidak mendapatkannya."
Jaejoong meremas tangan Yunho. "Percayalah, kau akan menjadi kakak baik bagi adikmu karena kau adalah kakak yang baik bagi sepupu-sepupumu."
"Aku selalu bertanya-tanya seperti apa Younjo apabila ia masih hidup. Apakah sama keras kepala sepertiku? Apa ia akan menentang orangtuaku? Apa ia akan menyukai apa yang aku sukai? Apa ia akan memilih menjadi seorang pengusaha seperti aku nantinya, atau apa ia lebih memilih menjadi dokter, pengacara atau tentara?"
Jaejoong tersenyum. "Kau mempunyai kehidupan yang diberkati, yunnie. Kau tak tau betapa beruntungnya dirimu. Mungkin Younjo adalah guardian angelmu. Ia selalu mengawasimu. Karena kau yang diberi kesempatan hidup didunia ia akan memastikan hidupmu baik-baik saja. Yakinlah."
Yunho menatap dalam mata Jaejoong, dan ia menemukan air mata yang menggenang disana. Yunho mencium kedua punggung tangan Jaejoong dan mengangguk.
"Aku pikir kau akan menjadi kakak yang sangat baik bagi Younjo. Bukan sepertiku dan Karam. Hubungan kakak adik macam apa yang kujalani?" Jaejoong berhenti sejenak menghela nafas. "Hubungan kami benar-benar menyedihkan, sangat buruk! Orangtua kami tak melakukan apapun untuk itu. Kadang aku berfikir akar dari semuanya adalah karena eommaku. Ketika kita masih kecil, Karam selalu menginginkan apa yang aku punya. Tidak memandang apa yang kupunyai hanyalah barang murahan, tetapi apabila ia melihat aku bahagia dengan itu ia selalu mencoba mengambilnya dariku. Dan eommaku pasti selalu membela Karam." Jaejoong memandang Yunho. "Aku pikir Younjo akan selalu mencintaimu. Ia akan selalu ada untukmu. Ia akan selalu mengharapkan yang terbaik untukmu."
Seketika itu air mata Jaejoong tumpah tak terbendung. Ia menangis mengingat hubungannya dengan adik dan eommanya yang buruk. Yunho memeluk Jaejoong erat. Jaejoong menangis kencang didada Yunho sambil mencengkeram kaosnya erat. Yunho hanya mengecupi puncak kepalanya sambil membelai punggungnya. Yunho tidak mencoba menenangkannya, ia membiarkan Jaejoong menangis meluapkan apa yang dirasakannya. Pelukannya mengisyaratkan bahwa ia akan selalu ada untuk Jaejoong. Ia akan menjadi orang pertama yang menangkap Jaejoong apabila ia terjatuh.
.
.
To Be Continued ...
.
#WaitingForChangmin
( ˘ з˘ )
