.
.
Chapter Title : Confession
.
.
Warning : Chapter ini ada bed scene. Ratingnya NC-21. Jadi bagi chingu yang tidak berkenan dengan bed scene yaoi and dibawah umur 21 dmohon dscroll kebawah aja sampai adegannya aman dibaca.
.
Awas! Jangan bandel!
.
.
Setelah puas berpelukan di balkon, mereka masuk dan bersiap untuk tidur. Jaejoong selangkah menuju ranjang ketika Yunho menarik pinggangnya dan memegang wajah Jaejoong dengan kedua tangannya.
"My sweet, beautiful Jaejoongie..." Bisik Yunho.
Kemudian Yunho mencium Jaejoong penuh gairah. Tangannya ia merengkuh pinggang Jaejoong agar merapat. Jaejoong membalas ciuman Yunho dengan gairah yang sama sambil melingkarkan tangannya disekeliling leher Yunho.
"Mmmmphh..." Jaejoong mengerang di mulut Yunho. Bibir Yunho melumatnya dengan keras. Tetapi tetap menghindari bagian yang terluka. Jaejoong membuka mulutnya untuk Yunho dan tidak disia-siakan oleh lidah Yunho yang langsung menari-nari didalam sana. Tubuh Jaejoong bergetar dipelukan Yunho kala lidahnya menggoda bagian sensitif mulut Jaejoong.
Karena gairah yang telah menguasai keduanya. Tangan merekapun secara refleks bergerak membuka pakaian didepannya. Disela ciuman mereka yang panas tangan Jaejoong dengan tergesa-gesa melepasi satu persatu kancing kemeja Yunho. Dan tangan Yunho melepas sweatshirt Jaejong.
"Cantik, indah." Ucap Yunho kala melihat tubuh Jaejoong yang kini sudah polos.
Wajah Jaejoong memerah. Ia lalu menyembunyikannya di ceruk leher Yunho. Walaupun mereka sudah sering melakukan hubungan badan, Jaejoong tak akan pernah bisa untuk tidak malu apabila Yunho memuji tubuhnya. Yunho tersenyum, ia tak menyia-nyiakan leher putih yang ada didepannya. Mulut Yunho dengan terampil bekerja seperti vacum cleaner disana.
"Aku selalu suka aromamu, baby. Kau manis" Bisik Yunho tepat ditelingan Jaejoong lalu memberi jilatan basah disana. Jaejoong mengerang tak tertahankan. Pinggul Jaejoong bergerak-gerak gelisah.
"Ohh Yunnieh...pleasee..."
Erangan dan gerakan tubuh Jaejoong membuat Yunho semakin mengeras dibawah sana. Yunho tak akan bisa dihentikan sekarang. Gairah dan nafsu telah menguasai dirinya.
Jaejoong berjengit ketika Yunho mendorongnya sampai rata ke atas tempat tidur sembari menciumnya dalam-dalam. Protesannya teredam ke dasar tenggorokan karena lidah Yunho mengalihkan semuanya.
Jaejoong mengerang, tersengal-sengal ketika Yunho melepaskan ciumannya dan kini beralih ke lehernya lagi. Menghisap Jakun, rahang dan menjalar ke dadanya.
"Oouchh... Yunnie..." Tubuh Jaejoong melengkung ketika lidah Yunho telah sampai di nipplenya. Lidah itu bergerak menari-nari disana, menggoda Jaejoong lebih Jauh. Tubuh Jaejoong bergerak-gerak gelisah. Tangan Jaejoong meremas rambut Yunho dan membenamkan wajah Yunho lebih dalam mengisyaratkan agar Yunho menghisap nipplenya lebih dalam.
Yunho mengkabulkannya. Mulut Yunho kini menghisap nipple Jaejoong dengan keras. Layaknya ia mengiginkan sesuatu keluar dari sana. Jaejoong mengerang tanpa ampun. Yunho memainkan nipplenya, menghisap-hisap satu dengan lainnya bergantian dengan tangannya yang meraba, memijat dan mencubit benda kecil yang kini menegang itu.
Setelah puas dengan nipple Jaejoong. Yunho kini kembali mencium bibirnya. Jaejoong menyambutnya dengan antusias. Tangan Yunho meraba setiap lekuk tubuh Jaejoong. Membuat tubuh Jaejoong menggeliat. Begitu tangannya mencapai junior Jaejoong yang menegang, ia memberikan belaian lembut disana. Mengusap-usap kepala junior Jaejoong dengan menggoda. Jaejoong tak tertahankan, ia mengerang lagi. Ah, erangan Jaejoong adalah musik yang paling indah di kepala Yunho.
"Yunniehhhh...ahhh..."
"Kau menyukainya baby?" Tanya Yunho menggoda.
Jaejoong hanya mengangguk lemah.
"Aku akan memberikanya lebih." Yunho menyeringai nakal lalu menunduk dan meraup Junior Jaejoong dengan mulutnya. Jaejoong berteriak kencang ketika Yunho menghisap juniornya dengan kuat.
"Arghh... God! Yunhoo..."
Jaejoong pasrah Yunho mendominasinya. Pinggulnya bergerak, berusaha untuk masuk lebih dalam kedalam mulut Yunho dengan gerakan yang membabi-buta. Yunho tak keberatan sama sekali. Ia tau Jaejoong sangat menyukai mulutnya yang membungkus juniornya. Yunho menghisapnya naik-turun sambil mengetatkan bibirnya membuat Jaejoong bergerak dan berteriak semakin menggila.
"Ssshhhtooopp... Yunniehhhh... Stop! aku tak mau keluar sekarang." Pinta Jaejoong karena ia merasa akan keluar, ia kini menarik kepala Yunho dari Juniornya.
Yunho mendongak. "Kenapa baby? Keluarkan saja."
Jaejoong menggeleng. "Anih, aku ingin keluar bersamamu..."
Yunho tersenyum, kemudian menyeringai. "Permintaan terkabulkan."
Yunho mengangkat salah satu kaki Jaejoong dan memposisikan dirinya. Ia memijat hole pink Jaejoong yang merupakan surganya itu. Lalu mata Yunho mencari-cari sesuatu di meja nakas. Ia mencari lube, agar Jaejoong tidak terlalu sakit.
"Langsung saja Yunnieh, palli, aku sudah tidak tahan." Pinta Jaejoong.
Yunho yang ingin mengambil lube mengurungkan niatnya. "Jinja? Nanti kau kesakitan baby."
Jaejoong menggeleng. "Aku sudah terbiasa dengan juniormu." Lalu memandang junior Yunho yang terlihat keras dan tegang. Jaejoong menelan ludah melihatnya.
"Baiklah, tahan ne." Dengan perlahan Yunho memasukkan juniornya ke hole sempit itu. Hole itu membuka seiring dengan tekanan junior Yunho seakan menerima penghuninya yang akan datang berkunjung. Jaejoong mengerang dan meremas sprei dengan kuat.
"Baby, gwenchana?" Tanya Yunho, ia masih berusaha memasuki hole Jaejoong. Walaupun sudah biasa melakukannya, Yunho masih saja kesusahan memasuki hole itu.
Jaejoong mengangguk sambil menggigit bibirnya. "Yun, kau semakin membesar."
Yunho terkekeh. "Semua karenamu, baby."
"Aarghhh!" Jaejoong mengerang ketika Yunho menyentakkan dirinya sehingga kini seluruh juniornya terbenam di hole Jaejoong.
Yunho lalu mencium Jaejoong lagi sambil membiarkan hole Jaejoong beradaptasi dengan juniornya.
"Yuhnnn... palli..." Rengek Jaejoong dengan tidak sabaran disela ciumannya.
Yunho tersenyum dan mengangguk. Lalu ia menghentakkan juniornya dan tepat mengenai prostat Jaejoong. Membuat jaejoong berkunang-kunang kenikmatan. Kepala Jaejoong menggeleng kekiri dan kanan melampiaskan rasa nikmat yang tak terkira.
"Arrrgghhh... baby." Yunho juga mengerang kenikmatan karena hole Jaejoong yang selalu sempit menghimpit juniornya ketat.
"Faster Yunnh... faster..." Pinta Jaejoong.
"Jangan salahkan aku kalau kau tidak bisa berjalan setelah ini. Aku sangat merindukanmu." Yunho menunduk dan meraup bibir Jaejoong. Pinggulnya ia hentak-hentakkan dengan membabi buta. Kulit mereka yang bergesekan membuat mereka semakin panas.
Yunho menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan lebih dalam. Tempat tidur mereka bergerak hebat. Suara desahan dan erangan mereka melingkupi satu ruang kamar itu.
"Yunnieehhh...oh Yunnieh...Yunn..." Desahan Jaejoong yang selalu menyebut nama Yunho.
"Yunnieh... aku tidak tahan lagi..."
Mendengar itu Yunho meraih junior Jaejoong dan mengurutnya dengan gerakan cepat. Jaejoong menggila, ia ingin keluar.
"Keluarkan baby, desahkan namaku." Bisik Yunho di telinganya.
Yunho menghentakkan Juniornya lebih cepat dan tepat pada prostat Jaejoong. Mulutnya kini menghisap-hisap nipple Jaejoong.
Mendapatkan rangsangan disemua titik sensitifnya, Jaejoong tak tahan lagi untuk menahan orgasmenya.
"YUNHOO... ARGHHH..." Teriak Jaejoong sambil melengkungkan badannya. Cairannya keluar membasahi tangan Yunho dan perutnya.
Yunhopun sepertinya tak tahan lagi. Orgasme Jaejoong selalu membuat holenya semakin menghimpit Junior Yunho. Setelah menghantarkan Jaejoong menuju surganya, ia melepas juniornya dari hole jaejoong. Lalu mengurutnya didepan perut Jaejoong.
Jaejoong menepis tangan Yunho dan mengambil alih mengurut junior Yunho. Jari lentik Jaejoong mempengaruhi Yunho lebih banyak. Sehingga ia tak tahan lagi untuk keluar.
"Oh, baby Joongie... Ahhh.."
Yunho lalu roboh menindih Jaejoong. Nafasnya tersengal-sengal di ceruk leher Jaejoong. Setelah bisa menguasai dirinya iapun bangkit dari atas tubuh Jaejoong dan berguling kesamping. Tak lupa meraih pinggang Jaejoong membawanya kedalam pelukannya.
"Mianhe baby, aku tidak melakukannya dengan lembut tadi." Ucap Yunho. "Aku sangat-sangat merindukanmu, aku bahkan hampir tidak bisa menghentikannya."
Jaejoong tersenyum. "Gwenchana. Akupun begitu. Aku menginginkanmu sebanyak kau menginginkanku." Ucap Jaejoong sambil membelai pipi Yunho.
"Kita harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama untuk mengganti waktu yang terlewatkan sia-sia."
Jaejoong mendesah. "Itu kebodohanku, Yunnie. Aku selalu berfikiran buruk tentangmu. Aku mempercayai reputasimu lebih dari aku mempercayai dirimu. God! Padahal aku mengetahui sisi baikmu lebih banyak dari orang lain ketahui." Sesal Jaejoong.
"Shhh..." Yunho menempelkan telunjuknya di bibir Jaejoong. "Aku tau. Tak apa-apa. Yang penting kita sekarang bersama."
Jaejoong menghela nafas dalam. "Eumm... karena kita sekarang berada dalam topik 'reputasimu'. Aku ingin bertanya, hanya untuk memastikan semuanya jelas dan kudengar dari dirimu sendiri."
"Okay, apa itu?"
"Seseorang berkata kau pergi clubbing dengan yeoja Go Ahra?"
Yunho seketika tertawa. "Hahaha, aniya... Waktu itu aku hangout dengan teman-temanku di Mirotic. Rupanya yeoja itu ada disana dan ia mengenal salah satu temanku. Tetapi tidak baby. Sama sekali tidak benar. Aku tidak berdansa dengannya. Aku tidak flirting dengannya. Aku bahkan tidak melakukan percakapan dengannya lebih dari tiga kalimat." Jelas Yunho.
"Ta...tapi kau berbicara dengannya di telepon tadi pagi." Ucap Jaejoong sambil cemberut.
Yunho memutar matanya. "Entah bagaimana ia tau nomor ponselku. Mungkin temanku yang mengenalnya memberikan nomorku." Yunho memandang Jaejoong beberapa saat kemudian berkata. "Apabila kau mendengarku dengan jelas tadi, aku bahkan menanyakannya nuguseo? Itu berarti aku tidak tau siapa yang menelepon karena nomornya tidak terdaftar dalam ponselku. Ia hanya menanyai kabarku dan bla-bla-bla. Yeoja itu juga bertanya dimana aku sekarang. Aku menjawab aku sedang berada di lift dengan kekasihku. Tapi tampaknya kau terburu-buru keluar lift dan aku tidak yakin kau mendengarku." Yunho tersenyum manis. "Percayalah padaku baby, aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengan yeoja atau namja lain sejak aku bertemu denganmu di Mirotic. Bahkan minggu-minggu lalu saat kita berjauhan."
Jaejoong mengangguk mantap. "Aku percaya padamu, Yunnie."
Yunho menambahkan lagi. "Bagaimana bisa aku berbicara dengan yeoja atau namja yang ingin berbasa-basi untuk mendekatiku. Sedangkan pikiranku kala itu dipenuhi dengan pagi dimana kau menemukan Jung Jessica menginap di apartemenku."
Jaejoong terkekeh. "Jinja? Apakah reaksiku waktu itu sangat buruk?"
Yunho menyeringai. "Sangat! Aku tak percaya kau cemburu sampai seperti itu."
Jaejoong memukul pelan pundak Yunho. Lalu berusaha keluar dari pelukan Yunho. "Aniya! Aku tidak cemburu!" Sangkal Jaejoong.
Yunho tertawa, ia tak mengijinkan Jaejoong lepas dari pelukannya. Kini malah mempererat pelukannya. "Cemburumu sangat parah." Bisik Yunho. "Tapi aku menyukainya. Kau bisa merasakan rasa cemburu yang kurasakan ketika ada seseorang yang mendekatimu. Bahkan aku ingin memukuli tembok setiap kali aku mengingat Hyun Joong sebagai kekasihmu."
Jaejoong balas tertawa. "Hahaha, Okay Yunnie. Mungkin aku cemburu. Tapi hanya sedikit." Akunya. "Maksudku, ketika aku melihat Jessica aku sangat terpana. Aku seorang namja... ia sangat cantik, bahkan akupun bisa tergoda karenanya. Apalagi kau. Dan pikiran tentang, kau lebih memilih yeoja daripada namja mempengaruhiku lebih banyak. Aku namja, tidak bisa dibandingkan dengan yeoja Yunnie."
"Faktanya aku lebih memilihmu daripada siapapun." Ucap Yunho tegas.
Jaejoong mengecup bibir Yunho dan tersenyum. "Gomawo telah memilihku."
Yunho membalasnya dengan tersenyum, namun sesaat kemudian ia tersentak. "Chakaman, kau bilang tadi kau bisa saja tergoda dengan Jessica?" Tanya Yunho sambil menyipitkan matanya.
"Karena sepupumu itu cantik. Siapa juga namja yang tidak terpesona karenanya." Jawab Jaejoong.
"Ah, darah seorang Jung memang berkualitas tinggi. Dan, andwe! Kau hanya boleh terpesona padaku baby."
"Ne, mataku hanya melihatmu, Yunnie." Bisik Jaejoong.
Yunho tersenyum ia lalu meraih bibir Jaejoong dan menciumnya dalam. Mereka berciuman sampai kelelahan dan terlelap dalam mimpi.
...
Mereka kembali bercinta ketika bangun dipagi harinya. Jaejoong tersenyum penuh kepuasan. Ia bisa merasakan surga kembali dengan Yunho. Ia bahagia.
Kemudian Jaejoong mengingat bahwa hari telah berganti. Waktunya ia menghadapi masalah. Ia harus menghadapi Junsu dan Changmin, Hyun Joong dan Karam.
Jaejoong menghela nafas dalam dan Jantungnya berdegub dengan kencang.
Yunho yang masih berada di atas tubuh Jaejoong bisa merasakannya. Iapun berguling kesamping dan mengamati wajah Jaejoong yang terlihat cemas.
"Baby, gwenchana?" Tanya Yunho lembut.
Jaejoong menghadap kesamping untuk menatap Yunho. "Aku hanya berfikir... waktunya menghadapi masalah. Dan dapatkah aku menyelesaikannya dengan tidak berakhir buruk?"
Yunho tersenyum penuh penyesalan. "Kau tahu, aku akan selalu berada disisimu."
Jaejoong mengangguk. Yunho lalu memajukan wajahnya dan mencium Jaejoong.
"Kajja kita bersiap dan turun untuk sarapan." Ajak Jaejoong.
"Arraseo. Tapi berjanjilah padaku setelah semua clear kita kembali lagi ke kamar ini dan bercinta lagi. Aku masih sangat merindukanmu baby-ah." Ucap Yunho menggoda. Tangannya dengan nakal menggerayangi pinggang Jaejoong.
"Aishhh..." Jaejoong mendorong tubuh Yunho menjauh. "Jung pervert! bagaimana bisa kau berkata seperti itu, kita baru selesai bercinta lima belas menit yang lalu." Omel Jaejoong.
Yunho terkekeh. "Aku tak bersamamu lebih dari seminggu, baby. Itu menyiksaku! Apa kau pikir mudah bagiku untuk mengabaikanmu saat aku melihatmu di Trend? Kau sangat lucu ketika merajuk padaku kau tau, melihatku lalu pura-pura melihat kearah lain untuk menghindari kontak mata denganku."
"Yak! Aku tidak merajuk!" Protes Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya.
Yunho langsung mengambil bibir pout itu dengan mulutnya, mereka berciuman sampai ke dalam kamar mandi. Mereka mandi dengan benar. Jaejoong menolak setiap kali tangan Yunho menggerayanginya tanda meminta ini itu. Ia tak ingin melewatkan sarapannya. Ia sangat lapar, bercinta dengan Yunho menguras seluruh tenaganya.
Jaejoong memakai pakaian yang sudah dipesan Yunho tadi malam. Semuanya sudah dry clean dan Jaejoong bersyukur karena Yunho mengerti dirinya. Ukuran yang Yunho pesanpun pas dengan badannya. Setelah siap mereka turun menuju restoran hotel untuk sarapan. Disepanjang Jalan Yunho selalu menggenggam tangannya dan kadang mencium jari-jari tangannya. Jaejoong melihat orang-orang menatap mereka dengan pandangan iri.
Ketika memasuki restoran, Jaejoong melihat Junsu dan Changmin sedang menikmati sarapannya. Jaejoong mengambil nafas dalam sebelum menghampiri sahabatnya.
"Anneong." Jaejoong menyapa Junsu dan Changmin dengan penuh senyum dan keramahan.
"Anneong Junsu, Changmin." Sapa Yunho dengan ramah juga.
Junsu dan Changmin hanya melirik mereka dan mengangguk kecil. Lalu kembali menyibukkan diri dengan makanan didepannya.
Jaejoong mendesah. Yunho menatap Jaejoong dengan cemas. Matanya seperti berkata apakah Jaejoong mengharapkan ia berada disampingnya saat ia menjelaskan semua kepada sahabatnya?
"Gwenchana Yun, aku akan baik-baik saja." Ucap Jaejoong lirih.
"Oke, kalau begitu aku akan menemui teman-temanku dulu. Aku akan kembali secepatnya."
Jaejoong mengangguk. Yunho menarik tangan Jaejoong yang masih digenggamnya sehingga tubuh Jaejoong mendekat lalu ia memberikan kecupan singkat pada bibir cherry Jaejoong.
"Sampai nanti teman-teman." Ucap Yunho pada Junsu dan Changmin sebelum pergi.
Jaejoong duduk di kursi kosong yang ada di meja itu. Junsu dan Changmin hanya melirik Jaejoong, mereka masih diam. Baru kali ini Jaejoong menghadapi suasana yang begitu canggung dan dingin dengan sahabatnya.
Jaejoong menghela nafas dalam kemudian memberanikan diri berkata. "Baiklah Su-ie, Min-nie kalian berhak marah padaku." Jaejoong berhenti sejenak. "Pertama-tama yang aku ingin katakan adalah mianhe. Maafkan aku. aku tau tak benar apa yang aku lakukan. Aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian. Tapi aku bingung untuk memulai. Apabila kalian ingin bertanya padaku, aku akan menjawabnya dengan penuh kejujuran."
Junsu dan Changmin saling berpandangan sejenak. Lalu Changmin menghentikan makannya dan menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat tangannya. "Pertama, hyung. Apakah kau masih virgin seperti yang kita tau selama ini?"
Jaejoong menatap kedua sahabatnya sambil menggigit bibir lalu menggelengkan kepalanya.
"Ah, sudah kuduga." Gumam Changmin.
"Dengan siapa kau melakukannya?" Tanya Junsu dengan tajam.
Jaejoong menghela nafas dalam. "Yunho."
"Apa kau juga pernah tidur dengan Hyun Joong?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah. Kalian tau aku tidak pernah melakukannya."
"Oh, mianhe! Kita tak pernah tau! Karena yang kita tau Hyun Joong adalah kekasihmu." Ucap Junsu sarkastik.
"Kau bukan tipe namja yang suka berselingkuh, hyung. Maka dari itu kita tidak pernah mengira." Sambung Changmin.
Jaejoong tidak membalas perkataan sahabatnya. Ia tidak ingin kedua sahabatnya tambah marah padanya. Maka ia hanya diam menerima kemarahan mereka. Ia memang layak menerimanya.
"Kau memutuskan Hyun Joong karena Yunho? Apa aku benar?" Tanya Junsu dengan nada menuduh.
Jaejoong langsung menggelengkan kepalanya. "Ania. Aku putus dengan Hyun Joong karena aku tidak mencintainya. Aku telah menyadarinya lama. Bahkan aku tidak tau apa aku jatuh cinta kepadanya ketika pertama aku menerimanya sebagai kekasihku. Atau dalam hati aku berpura-pura mencintainya karena untuk menyenangkan eomma."
"Lalu bagaimana bisa kau berakhir dengan berhubungan dengan Jung Yunho?" Tanya Junsu frustasi. "Joongie-ah, bahkan kita bersama-sama bekerja di Trend. Kita selalu bersama ketika menghabiskan waktu diluar. Ketika kita pergi ke Mirotic dan Yunho berada disana, kau bahkan berada lima meter darinya. Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Ia bahkan tidak terlihat baru kemarin bertemu denganmu, hyung. Dan ia memanggilmu baby." Sambung Changmin. "Dan yang lebih menggelikan lagi, ia tau namaku. Dia bahkan tidak pernah bertemu denganku. Lebih lagi Jung Yunho mengetahui tentang Hyun Joong."
"Tidakkah hyung melihat ekspresi Jung Yunho ketika memukuli Hyun Joong? Sangat menakutkan! Ia terlihat panik ketika melihatmu terluka! Apabila ia hanya orang asing yang dengan senang hati membantu kita, ia tidak akan bereaksi seperti itu! Ia pasti sangat mengenalmu, hyung." Analis Changmin.
Jaejoong mengangguk. "Aku sangat mengenalnya. Su-ie, kau pernah berkata tentang seseorang yang pernah Yunho antarkan pulang dari Mirotic?"
Junsu mengangguk.
"Itu aku." Akui Jaejoong. "Aku pergi sendiri ke pembukaan Mirotic waktu itu. Aku minum karena aku sangat frustasi dengan Hyun Joong dan eomma. Lalu Yunho menghampiriku, ia memperkenalkan dirinya, membelikanku minuman, menemaniku berdansa ... dan semuanya berjalan sampai akhirnya aku berakhir pulang dengannya."
"Mirotic dibuka hampir empat bulan yang lalu, Joongie!" Ucap Junsu.
Jaejoong mengangguk bersalah. "Ne."
"Jadi kau telah bersamanya lebih dari empat bulan sekarang!?" Pekik Junsu penuh dengan keterkejutan.
"Ah, kaca mata hitam yang ada di kamarmu, hyung. Itu sama dengan yang Yunho pakai. Apakah itu Jung Yunho yang bermalam di apartemenmu? Bukan Hyun Joong?"
Jaejoong mengangguk. "Aku pergi ke Mirotic dengan penuh perasaan frustasi terhadap Hyun Joong dan eomma. Aku merasa apa yang kulakukan selalu salah di mata mereka. Tidak perduli apa yang kulakukan, mereka tidak bisa melihatku dengan sudut pandang lain. Jadi aku memutuskan untuk keluar jalur. Aku berdandan cukup sexy dengan pakaian yang Heechul hyung berikan malam itu. Aku minum dan aku tidak perduli sendirian. Kemudian Yunho menghampiriku, membelikanku minuman dan meperkenalkan dirinya. Aku berpura-pura tidak mengetahui siapa dia. Tapi ia menyebutkan namaku dan mengatakan aku siapa. Akku sangat terkejut karena ia tau beberapa hal tentangku. Ia bahkan mengatakan jam berapa biasa aku mematikan lampu di malam hari."
Junsu menaikkan alisnya. "Bagaimana bisa ia mengetahui itu?"
Jaejoong menghela nafas. "Kalian tau tetangga yang tinggal disebelah apartemenku... namja yang kalian lihat dan kagumi bentuk badannya? Ia adalah Yunho."
"Omona!"
"Oh My God!"
Pekik Junsu dan Changmin bersamaan. Mereka tentu sangat terkejut mendengar fakta ini.
Mereka terdiam beberapa saat sebelum Junsu memecah keheningan. "Jadi, kau memberikannya kepolosanmu yang selama ini kau jaga untuk Hyun Joong?"
"Aku tidak pernah menjaganya untuk Hyun Joong. Aku menjaganya untuk diberikan kepada seseorang yang tepat." Jelas Jaejoong.
Changmin menaikkan alisnya. "Dan itu seorang Jung Yunho? Seorang playboy sejati dan didambakan seluruh yeoja dan namja uke se-Seoul? Apa kau kehilangan pikiranmu, hyung?"
"Kau bukan namja bodoh Joongie." Junsu menambahi.
Jaejoong mengerang frustasi. "Bukan seperti itu, Jung Yunho membuatku merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya."
"Tentu ia bisa membuatmu seperti itu, hyung. Makanya ia disebut sebagai playboy." Ucap Changmin.
"Tidak bisakah kalian mendengarku dulu?" Jaejoong akhirnya meninggikan suaranya, membuat kedua sahabatnya terdiam.
Jaejoong menghela nafas dalam. "Ketika aku memutuskan keluar jalur malam itu. Aku ingin menjadi diriku sendiri! dan Yunho datang, aku merasakan sesuatu yang lain yang tak bisa aku kontrol... Aku sama sekali lupa bahwa aku masih virgin. Sampai... Yunho berada dalam diriku."
Jaejoong menatap kedua sahabatnya. Mereka memilih diam, Jaejoongpun memutuskan untuk melanjutkan penjelasannya.
"Aku ingin merasa bersalah, berdosa karena melakukannya dengan Yunho. Tapi aku sama sekali tidak merasakannya. Aku malah merasa sekali dalam seumur hidupku aku melakukan sesuatu yang tepat. Aku melakukan sesuatu yang membuat diriku bahagia... tanpa memperdulikan orang lain pikirkan tentangku. Tetapi aku juga tak berniat untuk melakukannya lagi."
"Jadi, semua itu hanya untuk one night stand?" Tanya Junsu.
Jaejoong mengangguk. "Ne, semuanya berawal dari one night thing. Tapi Pagi harinya, dia muncul di apartemenku. Dan lagi hari berikutnya dan berikutnya sampai kita mengenal satu sama lain. Aku tau apa yang kulakukan dengan Jung Yunho ini salah. Aku tau suatu saat ia akan meninggalkanku seperti yang biasa ia lakukan pada teman kencannya yang lain. Aku berencana untuk berhenti berhubungan dengannya. Tetapi ia keras kepala, dengan gigihnya ia tetap mengejarku. Sampai aku jatuh semakin dalam terhadap pesonanya."
Jaejoong menatap kedua sahabatnya. "Kalian perlu tau, Jung Yunho yang sebenarnya sama sekali berbeda dengan Jung Yunho yang kita tau dan pikirkan selama ini. Ia namja yang penuh perhatian dan manis. Ia banyak memberiku kekuatan. Ia selalu menyemangatiku. Membawa diriku menjadi lebih percaya diri. Membawa diriku lebih menghargai diriku sendiri. Ia melakukan apa yang tidak pernah Hyun Joong lakukan. Ia menghabiskan setiap malam diapartemenku. Tidak terlihat sama sekali perlakuannya ingin menjauhiku."
"Lalu mengapa kau tidak mengatakan kepada kami?" Tanya Junsu.
Jaejoong terdiam. Ia tidak tau kata yang tepa untuk menjelaskannya.
"Apa Yunho tidak ingin hubungan kalian diketahui publik? Ah, pasti ia ingin menjaga reputasinya kan?" Tebak Changmin.
Jaejoong menggeleng. "Tidak. Aku yang menginginkannya. Aku yang tak menginginkan apa yang kita jalani diketahui publik. Hal ini sangat mengganggunya. Dulu, saat kalian datang ke apartemenku kami sedikit bertengkar. Yunho tidak ingin menyembunyikan dirinya lagi. Ia lelah bersembunyi dibelakang kalian. Ia merasa tersinggung setiap kali aku merasa hubungan ini tak akan bertahan lama."
"Aku juga mencoba memberitahu kalian. Tetapi kalian menertawaiku, kalian bilang itu adalah lelucon terlucu yang pernah aku buat. Dan ketika kalian berkata tentang persahabatan yang berakhir kala itu. Aku langsung takut kehilangan kalian. Aku hanya tidak tau apa yang kulakukan. Aku juga tak menyangka kita menjalani hubungan ini cukup lama. Hyun Joong mungkin memang kekasih resmiku. Tetapi Yunho adalah kekasih yang sebenarnya bagiku. Ia adalah satu-satunya orang yang menjadi sandaranku setiap malam. Tempatku berkeluh kesah untuk meluapkan semua rasa frustasiku." Jelas Jaejoong.
"Yunho mengatakan di video tentang kencan yang paling berkesan untuknya, dan itu adalah melihat kembang api di langit malam Hokaiddo?" Tanya Changmin.
Jaejoong mengangguk pelan. "Ne, weekend pada saat aku mengatakan kepada kalian aku pulang ke chungnam. Yunho tiba-tiba membawaku ke Hokaiddo. Ia ingin berkencan denganku tanpa terganggu pikiran kita akan dikenali."
"OMONA! Joongie!" Junsu berusaha menormalkan nafasnya. "Berapa banyak kebohongan yang telah kau katakan kepada kita? Aku dan Changmin adalah sahabatmu!"
Jaejoong menunduk. "Aku tau. Mianhe. Jeongmal mianhe" Ucap Jaejoong sendu.
"Hari dimana hyung tiba-tiba pergi ke apartemenku. Itu bukan karena kau bertengkar dengan Hyun Joong kan?" Tanya Changmin.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Malam itu Karam dan Hyun Joong mengunjungiku, dan Karam menginap di apartemenku. Pagi harinya, aku langsung pergi ke apartemen Yunho. Dan aku menemukan seorang yeoja disana. Dia memakai jubah mandi Yunho. Aku langsung berfikir Yunho bermain dibelakangku."
"Tetapi itu adalah sepupunya kan?" Sambar Junsu.
Jaejoong mengangguk. "Ne, Yunho sudah berusaha menjelaskannya. Ia menelepon, mengirim pesan, bahkan menemuiku di Trend. Tetapi aku tidak peduli, aku tidak ingin mendengarkannya. Aku sangat bodoh masih saja terpengaruh dengan reputasi Yunho dibandingkan aku mengenalnya selama ini."
"Oh aku mengerti mengapa Yunho kala itu dengan senang hati menceritakan masalahnya kepadaku. Bahkan ia mau aku rekam. Itu semua karena ia tau kalau aku pasti menunjukkan rekaman video ini padamu Joongie. Dia cerdas, mencari cara lain menjelaskan kesalahpahaman malam itu padamu." Papar Junsu.
Jaejoong mengangguk. "Aku tau ia melakukannya untuk menjelaskan semua kepadaku. Yunho adalah tipe namja yang tidak mengumbar masalah pribadinya sembarangan Su-ie."
"Bagaimana dengan plat nomor mobil barunya yang bertuliskan 'Yunjae' apa ada arti dari itu, hyung?" Tanya Changmin.
"Aku baru tau dari Yunho tadi malam, Yunjae adalah singkatan dari nama kami. Yun dan Jae. Awalnya aku mengira tulisan itu mengacu pada yeoja yang aku temui pagi itu. Tetapi tidak, Yunho melakukan itu karena ingin menunjukkan sedikit kepada publik kalau kita bersama." Jawab Jaejoong.
Kedua sahabatnya hanya terdiam mematung mendengar penjelasan Jaejoong. Terlalu banyak pengakuan Jaejoong yang sulit diterima akal sehat mereka sepertinya.
Jaejoong mendesah. "Mianhe... kumohon maafkan aku Su-ie, Minnie. Aku hanya tidak mengira hubungan ini akan berjalan lama. Aku tidak mengira Yunho adalah namja yang serius. Selama ini kita tau ia tidak begitu. Tetapi sekarang... aku mengenalnya dengan baik. Selama empat bulan kita bersama, aku melihat dirinya mempunyai segala yang aku butuhnkan untukku bersandar. Ia adalah jawaban dari doaku pada Tuhan selama ini. Jika kalian mengenal Jung Yunho adalah namja brengsek, playboy dan sering mempermainkan perasaan orang. Jung Yunho yang aku kenal berbeda, ia akan bertekuk lutut kepada seseorang yang di... dicintainya."
"Dan apa kau jatuh cinta padanya Joongie?" Tanya Junsu.
Jaejoong mengambil nafas dalam dan mengangguk. "Sangat dalam"
"Apa ia juga mencintaimu, hyung?" Tanya Changmin.
Jaejoong mengangkat bahunnya. "Aku tau kita menginginkan satu sama lain. Aku tidak pernah memintanya untuk berada disisiku, selalu didekatku. Tapi entah bagaimana setiap malam aku selalu berakhir di pelukannya. Aku tau aku penting baginya. Ketika aku terpuruk, ia akan selalu ada untuk menolongku dan membuatku kembali. Tadi malam, ketika Hyun Joong memukulku, aku melihat kemurkaan diwajahnya. Bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak cepat datang. Aku tau ia peduli padaku. Dan ia berkata tergila-gila padaku. Walaupun ia tidak mengatakan kata 'cinta'. Untuk sekarang ini, semua yang ia lakukan cukup untuk membuatku mempercayainya."
Junsu dan Changmin menatap Jaejoong sejenak. Lalu mengangguk mengerti.
"Bagaimana bisa kau membiarkan kami mengoceh tentang yeoja Go Ahra, Joongie?" Tanya Junsu lagi.
Jaejoong terkekeh. "Sangat berat untukku mendengarnya. Bahkan aku berfikir saat itu aku ingin mengambil plester dan membungkan mulut kalian untuk berhenti membicarakannya. Aku menjaga ekspresiku tetap datar disaat aku ingin menangis."
"Tetapi apa yang aku katakan benar Joongie. Aku mempunyai teman dan ia melihat Jung Yunho pergi ke club dengan Go Ahra. Dan yeoja itu menggodanya, tetapi rupanya Yunho cukup sulit untuk dijeratnya." Ucap Junsu.
"Dan sekarang kita tau alasanya." Sambung Changmin. "Pertama kita menyangka Yunho tidak tertarik dengan suatu hubungan karena ia hanya seorang playboy yang tidak suka untuk diikat. Mungkin ia sudah ditunangkan atau apalah. Tetapi kini kita tau... mengapa ia menjaga dirinya tetap single. Ia menunggu seseorang yang tepat. Dan itu kau, hyung."
"Ia menginginkanku, aku tau. Aku hanya tidak tau untuk seberapa lama. Tapi aku tidak perduli. Sekali dalam hidupku, ada seseorang sebegitu putus asanya menginginkanku. Dan akupun menginginkannya."
"Jadi sekarang... kau dan Yunho?" Tanya Junsu akhirnya tentang kejelasan hubungan Jaejoong dan Yunho.
Jaejoong tersenyum. "Ia berkata tidak ingin menjadi kekasih tidak resmiku lagi. Sekarang ia adalah kekasihku. Namjachinguku." Ucap Jaejoong malu-malu. "Aku mencintainya Su-ie, Minnie. Aku tidak perduli apa yang akan eomma pikirkan nantinya. Aku tidak perduli apabila ia mengutuk hidupku. Sekali dalam hidupku aku berjuang untuk mendapatkan apa yang benar-benar aku inginkan... yang aku percayai."
Jaejoong menatap dalam kedua sahabatnya. "Aku benar-benar meminta maaf kepada kalian. Aku harap kalian bisa memaafkan semua yang aku lakukan."
Junsu dan Changmin saling berpandangan. Lalu kembali menatap Jaejoong.
"Ne Joongie, kurasa tidak semua kesalahanmu." Ucap Junsu. "Jika kita tidak selalu bergosip tentang Yunho dan tidak menertawakanmu saat kau ingin mengakui hubunganmu dengan Yunho waktu itu. Mungkin kau tidak akan berbohong kepada kami selama ini kan?"
Jaejoong mengangguk, air mata terlihat menggenang di pelupuk matanya.
"Aku hanya bercanda waktu itu tentang hubungan persahabatan kita yang akan berakhir apabila kau tidak bercerita kalau kau tidur dengan Yunho ataupun bercakap-cakap dengan Yunho. Mianhe aku berlebihan waktu itu." Jelas Junsu.
"Kita memaafkanmu, hyung." Ucap Changmin akhirnya.
Jaejoong berdiri menghampiri kedua sahabatnya. "Gomawo...hiks... gomawo kalian telah memaafkanku hiks..." Ucap Jaejoong disertai dengan air mata.
Junsu dan Changmin berdiri dan memberikan Jaejoong pelukan. "Shhh... uljima Joongie." Ucap Junsu sambil menghapus air mata Jaejoong. "Apabila kau bahagia, kita ikut bahagia. Hanya jangan sampai kau terluka, arra? Maksudku, Yunho dikenal sebagai playboy dan tidak pernah sekalipun berkomitmen. Dan sekarang ia seakan menunjukkan pada dunia bahwa semua itu salah. Aku tau ia serius padamu saat aku melihat wajahnya yang penuh dengan kemurkaan tadi malam. Aku harap kau tetap bahagia dan ia tidak melukaimu Joongie." Ucap Junsu tulus.
"Aku akan menjadi orang pertama yang mematahkan lehernya apabila ia berani menyakitimu, hyung." Sambung Changmin menggebu.
Jaejoong terkekeh disela tangisannya. Ia sangat mencintai kedua sahabatnya. Mereka adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya. Beban berat seakan terangkat dari dadanya ketika mereka memaafkannya. Bahkan selalu mendukungnya. Jaejoong bersyukur mempunyai mereka disisinya.
"Ehemmm..." Seseorang berdehem dibelakang ketiga orang yang sedang sibuk berpelukan. "Aku mendengar ada yang menyusun rencana pembunuhan untukku?"
Mereka kemudian melepas pelukannya dan memandang kearah Yunho yang sedang berdiri sambil melipat tangannya.
"Apabila kau menyakiti hyungku, aku akan mematahkan tulang-tulangmu secepat kau bisa bekedip." Ancam Changmin berlebihan.
Yunho terkekeh. "Aku akan dengan senang hati menerimanya."
Changmin mencibir. Lalu mereka kembali duduk dikursi masing-masing. Yunho duduk disamping kursi Jaejoong sambil merapatkan tubuh Jaejoong dengan memeluk pinggangnya. Jaejoong menunduk malu, merasa asing memperlihatkan kemesraan didepan sahabatnya.
"Aku belum berkenalan denganmu secara resmi Changmin." Ucap Yunho sambil mengulurkan tangannya. "Jung Yunho imnida."
Changmin menyambut jabatan tangan Yunho. "Shim Changmin imnida, aku adalah maknae dari mereka berdua."
"Ya, kau maknae evil yang sukanya makan dan mengejek kami." Sembur Junsu.
Changmin mempoutkan bibirnya dan Jaejoong terkekeh.
Yunho tersenyum, rupanyasemua baik-baik saja. Batinnya.
"Aku lapar sekali, aku dan Joongie belum sarapan. Kalian sepertinya sudah selesai. Tak keberatan aku memesan makanan?" Tanya Yunho.
Junsu mengangguk. Tetapi Changmin tidak. "Pesankan aku juga, aku tidak menikmati sarapanku tadi."
"Ya ampun... kau baru saja menghabiskan berlapis-lapis pancake Minnie." Protes Junsu.
"Biarin. Mumpung Yunho hyung mau membayari makananku. Iya kan hyung?"
Yunho terkekeh. "Pesan semua yang kalian mau. Jangan sungkan."
"Yay." Teriak Changmin kegiarangan.
"Bahaya kau berkata seperti itu dengan Minnie, kau tidak tau perut Minnie itu lumbung makanan. Kau bisa bangkrut dibuatnya Yun." Ucap Jaejoong.
"Tidak masalah bagiku, baby." Ucap Yunho sambil mengecup dahi Jaejoong.
Mereka kemudian memesan makanan. Sembari menunggu pesanan datang mereka mengobrol. Suasana sama sekali tidak canggung. Walau Junsu ngefans berat dengan Yunho, ia dapat bersikap biasa. Menganggap Yunho bagian dari mereka.
"Yunho hyung terimakasih telah menolong Joongie hyung tadi malam. Aku ingin memukul bajingan itu, tetapi aku kalah cepat. Ia menjatuhkanku lebih dulu." Ucap Changmin muram.
Yunho tersenyum. "Terimakasih juga sudah berusaha menolong Jaejoongie semampu kalian."
Junsu dan Changmin mengangguk. "Jika namja brengsek itu tidak mabuk mungkin aku bisa menjatuhkannya." Ungkap Changmin.
"Faktanya namja itu mabuk memudahkan aku untuk memukulinya." Ucap Yunho santai.
Changmin menggelengkan kepalanya. "Ani... aku pernah membaca profil hyung dan kau mempunyai sabuk hitam hapkido. Itu luar biasa... kau sangat keren tadi malam." Puji Changmin.
Jaejoong menatap Yunho. "Benarkah itu Yun?"
Yunho mengangguk dan tersenyum. "Sebenarnya aku tidak suka berkelahi. Tapi si brengsek itu melukaimu dan ia pantas mendapatkannya. Disamping itu aku sudah menunggu saat dimana aku bisa memukulnya. Apabila Jaejoongie menangis karennya, rasa-rasanya aku ingin menghampirinya saat itu juga dan menghabisinya." Ungkap Yunho.
"Daebak! Yunho hyung, benar-benar tipe pencemburu berat." Pekik Changmin.
Yunho tersenyum menyeringai.
"Aku sedikit sebal dengan sifatnya yang satu itu." Ucap Jaejoong sambil merengut.
"Jangan sampai ia tau tentang Park Yoochun yang mengantarmu pulang saat kau mabuk hyung." Ucap Changmin santai tanpa sadar setelah ia mengatakan itu semua orang menatapnya horor.
"Awww! Apa sih hyuung!" Protes Changmin kesakitan karena kakinya diinjak Junsu.
Changmin melihat Junsu yang mendelik kepadanya. Lalu ia sadar dengan apa yang ia katakan. Ia menoleh melihat wajah Yunho yang kini menjadi tegang dan datar.
"Benarkan itu baby? Kau pulang dengannya dalam keadaan mabuk?" Tanya Yunho mengintimidasi.
Jaejoong gelagapan. Ia memberi death glare kepada Changmin yang menyebut nama Yoochun tadi. "Eummm...ne Yun. Waktu kita berdebat di kantor dan berakhir buruk, aku pergi minum. Secara kebetulan aku bertemu dengan Park Yoochun."
Yunho hanya menatap Jaejoong tajam. Ia tidak berkata apapun. Menunggu Jaejoong melanjutkan penjelasannya.
"Yunnie, Park Yoochun tidak tertarik kepadaku. Faktanya, ia malah memberiku nasihat tentang hubunganku denganmu. Ia membuatku menyadari apa yang aku pikirkan tentangmu itu salah. Ia menyuruhku untuk percaya padamu."
Yunho menaikkan alisnya. "Hmmm... menarik" Gumam Yunho malas. "Aku akan mengirim kartu ucapan terimakasihku untuknya kalau begitu."
"Yunho hyung sejak kapan kau berlatih hapkido?" Tanya Changmin mengubah topik pembicaraan karena suasana berubah menjadi dingin karenanya tadi.
"Sejak aku kecil. Aku diharuskan belajar hapkido untuk melindungi diri sendiri atau harabojiku akan menaruh beberapa bodyguard disekelilingku. Aku tidak ingin terlihat seperti pengecut."
"Yah sangat berguna juga kau berada disini. Kau tidak mengatakan kepadaku akan kemari ketika kita bertabrakan kemarin pagi." Sambung Junsu.
Yunho tersenyum tipis. "Aku tidak berencana untuk pergi kemari. Sampai kau memberitahuku kalian akan pergi kemari."
Junsu terkejut. "Jadi kau kemari karena informasiku?"
Yunho mengangguk. "Aku ingin melihat apa Jaejoongie bahagia dengan Hyun Joong. Apabila iya, aku harus bisa melepaskannya." Jelas Yunho.
"Yunnie..." Jaejoong membenamkan wajahnya dibahu Yunho karena malu. Yunho tersenyum sambil mengelus rambut Jaejoong.
"Aku selalu ingin bertemu dengan kalian. Tidakah Jaejoong mengatakannya?" Tanya Yunho pada Junsu dan Changmin.
Mereka dengan kompak mengangguk.
"Kita sangat terkejut, sungguh. Kita sama sekali tak mempunyai petunjuk tentang kehadiranmu disisi Joongie." Ucap Junsu.
"Dan Kalian memaafkannya dengan mudah?" Tanya Yunho dengan nada mengejek.
Yunho lalu merasakan cubitan dilengan atasnya.
"Appo... baby." Protes Yunho kepada Jaejoong.
"Tentu saja tidak, Joongie hyung juga akan mendapatkan hukuman dari kami karena berbohong terlalu lama." Ucap Changmin antusias.
Jaejoong mempoutkan bibirnya sebal.
Yunho terkekeh. "Aku senang semua yang aku dan Jaejoong sembunyikan telah terbuka sekarang. Sejujurnya, aku tidak ingin lagi memanjat pagar balkon untuk kembali ke apartemenku apabila kalian mendatangi apartemen Jaejoong pagi-pagi sekali."
Jaejoong seketika langsung tertawa. Mengingat setiap sahabatnya datang, Yunho harus dengan cepat menghilang dari kamarnya. Yunho memandang Jaejoong sambil tersenyum lalu memberi kecupan singkat dibibir Jaejoong.
"Dimana teman-temanmu Yun?" Tanya Junsu.
"Mereka di pantai. Sibuk mencari mangsa kupikir."
"Apa Joongie sudah bertemu dengan mereka?"
Yunho menggelengkan kepalanya. "Ani. Mereka juga hampir mati penasaran dengan seseorang yang telah membuatku melupakan clubbing dan teman-temanku. Tetapi Jaejoongie malu terlihat bersamaku dimuka umum."
Jaejoong mencubit perut Yunho. "Ania! Bukan begitu." Elak Jaejoong sambil merengut. Yunho tertawa melihat raut sebal Jaejoong.
Junsu dan Changmin tersenyum melihat Jaejoong yang kini bahagia. Dan Jaejoong membalas senyuman kedua sahabatnya. Ia merasa lebih mudah kedepannya untuk menghadapi sesuatu dengan ketiga orang yang selalu berada disisinya. Berjuang dengannya, sehingga ia tidak lagi merasa takut.
.
.
To be Continued...
.
Anneonghaseyoo...
Cici kembali dengan NC n word yang banyak nuiii…
Mianhe ya pada nungguin lama. AQ ikut2an wajib militer soalnya... hahahai...wajib militer versiku sendiri…
Pada kangen kah sama FF ini?
Klo kangen ya syukur, klo nda y ndapapa…hehe…
Update lama bukan karena disengaja, tapi memang keadaan yang membuat aku belum bisa nulis dng cepat. Yang terpenting chingu masih setia nungguin FF ini #hehePD.
Selama aku masih cinta dengan Yunjae dan cerita ini aku usahain banget selesaiin kog. Karena kedepannya masih panjang. Tapi chingu harus sabar menunggu. Karena jujur aku ga bisa update dengan cepat lagi sekarang.
.
Okey back to story...
Aku pusing sendiri nulis chp ini. Nc nya... aku mengerahkan seluruh pikiran yadong peryaoianku. Hahaha Apa masih kurang hot? Kalau iya, ya ampun pikiran yadong kalian lebih parah daripada aku. Wkwkwkwk...
Chapter yang chingu tunggu2, pengakuan Joongie ke sahabatnya. Bahagia bgt yah punya sahabat sepengertian itu, mudah banget maapin lagi. Gimana pendapat chingu?
Memang setelah konflik cerita novel ini kembali melambat. n chapter kedepannya banyak yg bikin baper... aku baca ulang kog y ngenes nasip Joongie nantinya yaa... hueeee ╥﹏╥
Klo chingu yang penasarannya tingkat akut bisa baca novel aslinya di wattpad. Gpp, sekalian belajar bahasa inggris... hehehe...
.
Yoooyooi chingu reader, aq udah kasih NC n chp yg panjang.
Reviewnyo yang panjang juga yaa...
...Gomawoo, gomawoo...
#WaitingforJaejoong
#WaitingforYunho
#WaitingforYoochun
#WaitingforChangmin
#WaitingforTVXQ
And
#WaitingforCici
~(‾⌣‾~)(~‾⌣‾)~
