.
.
Chapter Title : Incandescent
.
.
Setelah sarapan, Jaejoong teringat seberapa besar ia menghindari Hyun Joong dan Karam ia akan tetap berhadapan dengan mereka. Karena ia membutuhkan pakaiannya. Ia tidak mungkin menghabiskan uangnya untuk membeli pakaian baru terus-menerus. Memang Yunho bilang akan menanggungnya. Tetapi tidak, ia tidak akan membiarkan Yunho menghabiskan uangnya sia-sia.
"Aku akan membayar kamarmu sampai nanti siang. Aku tidak ingin Hyun Joong berfikir kau berhutang dengannya ketika kau pergi. Kau akan tinggal denganku setelah ini." Ucap Yunho.
"Aku akan membayarmu kembali nanti."
Yunho memutar matanya. "Ayolah, baby. Sangat tidak masalah bagiku. Hanya sebuah kamar." Ucap Yunho lalu mengecup bibir Jaejoong.
Yunho pergi ke bagian reception untuk membayar dan Jaejoong pergi kekamar yang ditempatinya dengan Karam. Selain mengambil barang-barangnya, Jaejoong berencana untuk mengantakan sesuatu kepada Karam.
Ketika Jaejoong memasuki kamar itu, Karam tidak ada. Ia lalu memulai memasukkan barang-barangnya kedalam tas. Tetapi setelah beberapa menit, ia mendengar pintu terbuka. Dan Karam datang dengan Hyun Joong.
Jaejoong melemparkan tatapan dingin kepada mereka berdua.
"Kau akan pergi?" Tanya Karam memecah keheningan.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Ani. Yunho membayar kamar ini sampai jam dua belas siang. Apabila kalian masih ingin tinggal, kalian bisa menyewanya kembali." Jawab Jaejoong dengan tenang.
"Namja itu siapa, Jae?" Tanya Hyun Joong datar.
"Bukan urusanmu! Tuntut dia apabila kau ingin. Aku akan menjadi saksinya dan berkata ia melakukukan semua itu karena kau memukulku dengan keras terlebih dahulu." Ucap Jaejoong emosi.
"Sebelumnya mianhe Jae. Waktu itu aku mabuk. Aku tidak bermaksud memukulmu."
"Jadi maksudmu, fakta kau mabuk membenarkanmu untuk memukul seseorang seenaknya, huh?" Ucap Jaejoong sinis.
Jaejoong mengamati Hyun Joong. Keadaan namja yang pernah menjadi kekasihnya ini sebenarnya parah. Hidungnya patah dan kedua matanya membiru. Ia terlihat seperti korban penganyiayaan. Tetapi entah mengapa Jaejoong tidak merasa kasihan dengannya.
"Oh, jadi selama ini memang ada namja lain yang bersembunyi di balik bayang-bayang hubungan kalian?" Tanya Karam dengan nada menyindir.
Benar-benar bitch! Bagaimana bisa bitch satu ini berkata seperti itu? Apa ia tidak mengingat apa yang ia lakukan dengan Hyun Joong? Apa sekecilpun ia tidak merasa bersalah? God! Bagaimana bisa aku berakhir dengan keluarga ini? Geram Jaejoong dalam hati.
Jaejoong mengambil nafas dalam untuk menenangkan dirinya. Ia lalu berjalan menuju pintu keluar sebelum tangannya sampai ke rambut karam dan menjambaknya.
Ingin Jaejoong keluar kamar itu secepatnya. Namun, ia memang harus menghadapi Karam kali ini. Ia tidak ingin harga dirinya diinjak-injak.
"Apa kau tidak melihat dirimu sendiri, huh?" Ucap Jaejoong menunjuk Karam. "Sadarkan dia, Hyun Joong. Katakan padanya posisinya seperti apa ketika kita masih menjadi sepasang kekasih."
Hyun Joong memejamkan matanya dan hanya diam.
Jaejoong tersenyum sarkatis. "Sebenarnya tidak perlu untuk berselingkuh untuk menyadari hubungan kita ini memang tidak ada harapan. Kita memang tidak mempunyai apa-apa selama ini. Tapi kau tau Hyun Joong? Kemarin sebelum aku putus denganmu. Aku masih berfikir untuk menjaga hubungan baik denganmu. Setidaknya kita bisa menjadi teman. Tapi aku pikir itu tak akan terjadi sekarang."
"Oke!" Hyun Joong mengangkat kedua tangannya keudara tanda menyerah. "Siapa namja itu sebenarnya? Namja seperti apa yang kaupilih untuk menggantikanku? Apa ia dapat memenuhi harapan dan standar eommamu, huh?"
Jaejoong ingin tertawa. Dengan jelas Hyun Joong mengisyaratkan bahwa tidak ada yang lebih hebat darinya. "Ini bukan tentang uang dan jabatan, Hyun Joong. Tetapi tentang perhatian, rasa nyaman, kasih sayang dan cinta. Semua itu tak kutemukan dalam hubungan kita selama ini. Kau selalu saja mengutamakan pangkat dan derajat." Jaejoong terdiam lalu melirik Karam. "Kupikir kalian berdua sangat serasi dalam hal ini."
"Sudah lama aku ingin hubungan ini berakhir. Bukan karena aku menemukan kalian tidur bersama ataupun karena kehadiran Yunho." Lanjut Jaejoong.
Jaejoong kemudian menoleh pada Karam. "Kau tau, aku hanya sekali bisa membuat eomma bangga padaku. Dan itu menjadi kekasih Hyun Joong. Tetapi kau masih saja tak terima itu. Kau ingin selalu berada diatasku. Mengambil semua kebahagiaanku. Sekarang silahkan, kau bisa memiliki Hyun Joong. Kau tidak harus mencurinya dengan cara yang kotor. Apa pantas kelakuanmu itu pada hyungmu sendiri?"
Karam mendengus. "Kau akan mengatakan kepada eomma kan? Aku mencuri kekasihmu sehingga kau terlihat benar berakhir dengan namja yang terlihat seperti model bodoh itu. Aku tak akan membiarkanmu menjatuhkanku didepan eomma. Apabila hubunganmu dengan Hyun Joong berakhir, aku tak akan membiarkanmu mengatakan kalau itu semua karenaku!"
Jaejoong tertawa sarkatis. "Jangan khawatir. Aku bukan orang sepertimu. Aku bukan orang yang suka menjatuhkan reputasi orang lain. Tapi tunggu saja Karam. Suatu saat apa yang kau lakukan akan menerima balasannya."
Jaejoong berusaha menenangkan dirinya sejenak.
"Kau tau, aku bisa memaafkan Hyun Joong yang berselingkuh dibelakangku. Karena faktanya aku juga berselingkuh. Aku bersyukur tidak ada hal intim yang kusesali. Aku bisa menerima apabila Hyun Joong tidur dengan yeoja atau namja manapun. Tapi tidak dengan kau Karam" Jaejoong menggeram menahan amarah. "Dosaengku sendiri, yang sangat jelas mengetahui statusku yang masih bersamanya. Perbuatanmu sangat rendah Karam. Entah aku bisa memaafkanmu atau tidak."
Jaejoong mencengkeram erat tasnya. "Menggelikan kau tau, dulu eomma mendekatkanmu dengan Hyun Joong pertama kali dan kau sama sekali tidak tertarik. Setelah aku yang mendapatkannya, kau juga menginginkannya. Ckck..." Jaejoong berdecak lalu ia menatap Hyun Joong. "Kalau kau tidak bodoh menyadarinya, aku pikir Karam tertarik padamu hanya karena aku yang memilikimu. Aku heran bagaimana bisa kalian tetap bersama sekarang."
Keduanya membuang muka, tidak menatap Jaejoong. Mereka juga menolak menatap satu sama lain. Jaejoong tersenyum sinis, rupanya ia telah memukul titik lemah kedua orang ini.
"Jangan khawatir, aku sama sekali tidak akan mengatakan pada eomma tentang kalian. Akan kukataan aku muak dengan dokter disekelilingku. Aku menemukan seseorang yang seratus kali lebih baik dari yang bisa ia bayangankan."
"Oh, terakhir perlu kalian tau. Nama namja itu adalah Jung Yunho. Ya memang benar ia terlihat seperti model. Tapi ia sama sekali tidak bodoh. Yunho adalah lulusan Harvard, Wallstreet genius, dan nantinya ia akan menjadi CEO dari Jung Corp." Ucap Jaejoong dengan bangga. "Untukmu Karam... apabila kali ini kau merayu kekasihku seperti kau melakukannya dengan Hyun Joong. Aku bersumpah pada Tuhan. Aku akan membuatmu tidak bisa lagi memikat namja manapun disisa hidupmu! Dan sungguh disayangkan, orangtua kita tidak bekerja dibidang operasi plastik!" Kemudian Jaejoong berbalik, membuka pintu dan keluar. Ia menutup pintu dengan suara 'bang' yang sangat keras.
Jaejoong mengambil nafas dalam. Tubuhnya bergetar karena amarah. Ia sama sekali tidak tau ia bisa mengatakan semua itu. Tapi ia sangat lega bisa mengatakan semua isi hatinya kepada mereka. Sekali dalam hidupnya, ia bisa berdiri untuk dirinya sendiri. Membela dirinya dihadapan Hyun Joong dan Karam.
Ketika Jaejoong mendongak, ia menemukan mata musang Yunho menatapnya. Ia merasa nervous. Ia tadi mengatakan kepada mereka siapa Yunho sebenarnya. Seperti ia menyombongkan dirinya karena menjadi kekasih Jung Yunho. Pasti Yunho mendengarkan semuanya tadi.
Yunho memandangnya dengan serius. Jaejoong takut ia akan marah karena telah mensangkutpautkan Yunho dengan masalahnya.
"Pertama, aku sama sekali tidak tertarik dengan dosaengmu. Ia sama sekali tidak memiliki setengahpun dari pesonamu. Kedua, aku tidak bodoh seperti Hyun Joong. Ketiga, aku mungkin seorang playboy tetapi aku tidak akan pernah berselingkuh." Ucap Yunho dengan tenang.
Jaejoong manatap balik Yunho. "Oh, Yunnie mianhe..."
Yunho tersenyum lalu merengkuh Jaejoong kedalam pelukannya. "Mianhe untuk apa?"
"Karena aku melibatkanmu dalam percakapan tadi... karena aku mengatakan siapa kau sebenarnya..."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Gwenchana. Yang kudengar tadi, mereka seperti menyalahkanmu yang berselingkuh. Melepaskan fakta bahwa kau melihat mereka tidur bersama."
Jaejoong mengangguk. "Oh God Yun! Aku berusaha untuk tidak membenci mereka. Tetapi sekarang ini tidak bisa. Apalagi dengan Karam."
"Waktu akan menjawabnya, baby. Aku bangga padamu yang mampu berdiri untuk dirimu sendiri. Melawan balik mereka. Dan luar biasa mendengarmu mengklaim diriku didepan mereka seperti itu. Kau terdengar sangat sexy!"
Pipi Jaejoong memerah. Lalu Yunho memberika kecupan didahinya. "Kau lega kan?"
Jaejoong tersenyum sambil mengangguk. "Kajja kita kembali ke kamar." Ajak Yunho lalu menggandeng tangan Jaejoong menuju kamarnya.
Yunho mencium Jaejoong dengan menggebu sesaat pintu kamar itu tertutup. Dan seperti apa yang diinginkan Yunho, mereka bercinta lagi. -_-
...
Sore harinya ketika mereka turun. Di loby mereka bertemu teman Yunho. Park Sang Woo dan Kang Dong Ho. Yunho memperkenalkan Jaejoong kepada kedua temannya.
"Guys, ini adalah Kim Jaejoong." Ucap Yunho.
Mata kedua teman Yunho melebar. "Whoa, akhirnya kau membawa bidadarimu keluar. Aku selalu menanti bertemu dengan namja yang telah merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin." Ucap sangwoo dengan nada menggoda.
Ucapan Sangwoo membuat pipi Jaejoong memerah.
Yunho melemparkan tatapan membunuh kepada Sang Woo karena telah menggoda Jaejoong. Yunho mengisyaratkan temannya untuk berkenalan secara resmi.
Sang Woo memutar matanya. "Park Sang Woo imnida." Ucap Sang Woo sambil menjulurkan tangannya untuk menjabat Jaejoong.
"Kim Jaejoong Imnida." Jaejoong ingin menjulurkan tangannya untuk menyambut jabatan tangan Sang Woo tetapi Yunho menahannya.
"Tak usah berjabat."
"Aishh... posesif Jung always." Gerutu Sang Woo sambil menarik tangannya kembali.
Lalu Jaejoong menoleh kepada teman Yunho satunya yang terlihat kalem.
"Oh, Kang Dong Ho imnida, bangapseummnida" Ucapnya sambil membungkukkan badannya.
Jaejoong balas membungkuk. "Kim Jaejoong Imnida. Senang berjumpa kalian, teman-teman Yunho".
"Aku tak tau kini mau menganggap Yunho teman atau tidak, karena ia telah menyembunyikan bidadari sencantik dirimu dari kami." Celetuk Sang Woo.
Wajah Jaejoong memerah lagi karena ucapan Sang Woo yang berlebihan atas dirinya.
Yunho menggeplak pelan kepala Sang Woo. "Aishh... kau ini, hentikan mulut manismu. Yang boleh memuji Jaejoong hanya aku. Mengerti!"
Sang Woo mengangkat bahunya malas, sedangkan Dong Ho dan Jaejoong terkekeh geli.
Yunho juga memperkenalkan Junsu dan Changmin kepada teman-temannya.
Mereka menghabiskan waktu bersama. Berenam mereka menikmati pantai. Mereka berenang, bermain air, bermain voli pantai sampai matahari tenggelam. Malamnya, mereka berpesta di bar dekat pantai.
Jaejoong sangat menikmati waktunya. Ia senang merasa bisa bebas memeluk Yunho sesuka hatinya tanpa khawatir lagi. Sepertinya Yunho juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak malu lagi menunjukkan kemesraan. Seperti dunia hanya milik berdua. Yunho dan Jaejoong selalu bersama. Bahkan ketika Jaejoong hendak pergi ke toilet. Yunho dengan senang hati menungguinya di luar toilet.
Malam harinya, Yunho dan Jaejoong bercinta lagi dengan lebih pelan dan penuh gairah. Seperti menikmati setiap detik yang mereka lalui bersama. -_-
...
Jaejoong menghabiskan hari demi hari dengan senyum di wajahnya. Ia berkata kepada Junsu agar tidak memberi tahu teman sekantornya tentang hubungannya dengan Yunho. Ia tidak ingin dicap sombong, pamer. Ia ingin apabila teman lainnya tau, mereka tau dengan sendirinya.
Jaejoong dan Yunho selalu menghabiskan malam bersama. Jaejoong selalu tidur di apartemen Yunho semenjak mereka kembali dari Jeju.
Setiap hari Yunho mengantar-jemput Jaejoong dari kantornya. Sebelum mereka pulang ke apartemen, Yunho kadang mengajaknya makan malam diluar, menikmati makanan di restoran, cafe dan yang Jaejoong sukai adalah makan tteokbokki di pinggir jalan. Yunho juga sesekali membawa Jaejoong ke bioskop. Dan malam ini adalah jum'at malam. Yunho membawa Jaejoong pergi ke Mirotic.
"Sekarang kita tiba di Mirotic bersama-sama, baby. Aku harap kali ini kau tidak keberatan apabila aku membelikanmu minuman, berdansa denganmu, menggodamu, menciummu dan mengantarkanmu pulang." Ucap Yunho dengan mengerling nakal mengingat malam pertama mereka bertemu di Mirotic.
Jaejoong terkekeh "Hihi Yunnie, aku malah akan menyukainya"
Seperti mengulang adegan malam pertama mereka di Mirotic. Jaejoong meneguk tujuh gelas tequila. Mereka berdansa dan pulang dengan motor Ducati Yunho.
Setelah masuk kedalam lift mereka saling berpandangan. Lalu Jaejoong terkekeh.
"Apa yang kita lakukan didalam lift waktu itu, Yun?" Tanya Jaejoong menggoda.
Yunho menyeringai. "Kiss" Jawabnya lalu merengkuh Jaejoong kedalam pelukan dan menciumnya dengan penuh gairah. Mereka sedikit berlari menuju apartemen, dan segera setelah pintu ditutup. Yunho merengkuh Jaejoong dan menciumnya lagi.
Setelah beberapa menit, mereka telah berada di ranjang dalam keadaan telanjang.
Jaejoong tersenyum pada Yunho. "Kali ini kau tak akan menyakitiku lagi kan?"
Yunho mengangguk. "Kau sudah tidak virgin lagi, baby. Aku janji, yang akan kau rasakan hanyalah kenikmatan." Ucap Yunho lirih menggoda.
Dan benar, Yunho menepati janjinya. Ketika mereka selesai, Jaejoong merasa sangat puas. Mereka memang mengulang kejadian malam itu, tapi Jaejoong bahagia karena kali ini ia bisa mempercayai dan mencintai Yunho. Jaejoong tidak akan pernah menyesali malam itu.
.
.
To Be Continued ...
Anneonghaseyoouu ^▽^
#Happy12thTVXQday
#12thTVXQJYJday
Always support and love our five boys :)
Calanghae ^o^
