.
.
Yuhuuuu... selamat pagi di hari Senin di tahun yang baruuu...
Selamat memulai kenyataan hidup dari libur weekend yang panjang...
Cici persembahkan kelanjutan ATWR, semoga nda membuat chingu baper pagi-pagi ne...
Okeh, cek it out...
.
.
Chapter Title : Obligation
.
.
"Aku lihat kau sangat bersemangat akhir-akhir ini Jaejoong. Auramu sangat bagus. Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kita?" Tanya Hyoyeon yang merupakan salah satu teman sekantor Jaejoong.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Ania. Aku hanya merasa jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Itu saja."
Pada saat yang bersamaan, Yunho muncul di koridor. Rupanya ia baru saja keluar dari ruangan Kim Heechul.
Yunho berhenti disamping Jaejoong berdiri. Jaejoong menatapnya sejenak lalu berdiri dengan diam. Ia tidak tau harus bagaimana bersikap sekarang ini karena teman-teman sekantor ada dihadapannya. Teman-teman yang merupakan fans Jung Yunho pastinya.
Jaejoong cukup terkejut tatkala Yunho merengkuh pinggangnya. Yunho kemudian menaikkan dagu Jaejoong agar menatapnya.
"Aku akan menjemputmu nanti. Oke?" Tanya Yunho.
Jaejoong mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Kemudian Yunho menunduk dan memberikan kecupan singkat di bibir cherry Jaejoong. Yunho tersenyum melihat reaksi Jaejoong yang hanya berdiri kaku. Lalu Yunho melihat orang-orang sekantor yang kini berkerumun dengan muka O.
"Semoga hari kalian menyenangkan." Ucap Yunho sambil melambai lalu berbalik pergi.
Ketika Yunho menghilang dari pandangan, semua yeoja dan namja uke yang berdiri disana masih shock dengan mulut terbuka dan mata melebar. Kecuali Kim Junsu.
"What the hell!" Umpat Hyoyeon.
"What the fuck!"
"Omona!"
"Ohmaigay." Umpat salah satu namja uke.
Berbagai umpatan terkejut keluar dari mulut teman sekantor Jaejoong.
"Okey. Sekarang jelas. Kau adalah namja misterius itu, bukan?" Seohyun sang resepsionist bertanya.
"Namja misterius?" Tanya Jaejoong balik.
"Ya. Ketika Kangin salah satu asisten baru mengajak Yunho pergi clubbing dan ia mengenalkan Yunho pada beberapa yeoja disana. Yunho berkata 'mianhe, aku sudah mempunyai namjachingu'."
Jaejoong tersenyum dalam hati. Ternyata Yunho sudah menganggapnya kekasih dari dulu.
"Itulah mengapa kau terlihat seperti bunga yang sedang mekar, Jae. Kau menjalin cinta dengan sex God!" Goda Hyoyeon.
"Hyoyeon-ah!" Wajah Jaejoong kini memerah sempurna.
"Wahhh... sangat menarik." Ucap Seohyun. "Aku tidak menyangka namja itu bisa diajak berkomitmen."
"Kita hanya berpacaran Seohyun-ah. Bukannya akan menikah." Ucap Jaejoong.
"Apabila kalian pergi dengan mereka berdua. Kalian akan merasakan bagaimana hubungan mereka lebih intim daripada pasangan suami-istri. Mereka hanya menatap satu sama lain. Kalian hanya akan menjadi pajangan disana." Sambar Junsu tiba-tiba.
"Dan bagaimana bisa kau tidak memberitahu kami tentang ini, Junsu." Selidik Hyoyeon.
"Karena aku juga tidak tau sampai weekend kemarin, mereka berdua mengakuinya dihadapanku. Aku juga sangat terkejut. Dan kalian tidak akan percaya kalau hubungan mereka sudah berjalan selama empat bulan." Cerocos Junsu yang langsung dihadiahi death glare Jaejoong.
Seohyun langsung tertawa. "Hahaha aku jadi meragukan kemampuanmu menulis kolom gosip Junsu. Bagaimana bisa hal sebesar ini terlewatkan. Kalian adalah sahabat."
Junsu mendengus. "Huft, mereka pintar bersembunyi. Aku bahkan tidak pernah tau tanda-tanda mereka bersama."
"Ayoolah Su-ie... kau kan sudah memaafkanku." Jaejoong merajuk. "Kau kan sudah tau yang sebenarnya. Jangan diungkit lagi ne." Pinta Jaejoong dengan puppy eyes andalannya.
Junsu mendesah lalu mengangguk lemah.
"Su-ie memang sahabat terbaikku." Jaejoong lalu memberikan pelukan pada Junsu. "Sebagai penebusanku bagaimana kalau aku traktir kau dan Changmin berlibur ke Chungnam. Sembari aku mengunjungi appa dan eomma. Aku akan mengunjungi mereka sebentar lalu setelahnya kita berlibur. Otte?"
Junsu mengangkat bahunya. "Terserah kau saja, asal kita tak mengeluarkan uang sama sekali."
Jaejoong mengangguk. "Aku janji akan mentraktir kalian apapun."
...
Porche Yunho sudah terparkir manis didepan gedung Trend ketika Jaejoong keluar dari kantornya.
Setelah masuk mobil, Jaejoong langsung mendaratkan kecupan manis dibibir Yunho.
"Bagaimana kerjamu hari ini, baby?" Tanya Yunho.
"Menyenangkan. Bagaimana denganmu?"
Yunho mengangkat bahunya. "Aku bertemu dengan beberapa akuntan dari kantor appa. Menghasilkan beberapa uang di perdagangan saham. Tapi aku sekarang akan bermain aman dengan uangku di perdagangan saham. Aku tidak akan mengambil resiko yang besar. Karena sekarang aku ingin memulai untuk berkonsentrasi pada perusahaan appa."
Jaejoong mengangguk. "Aku pikir itu pilihan yang baik untukmu, Yun."
Yunho tersenyum. "Prioritasku sekarang telah berubah. Aku rasa sudah cukup untukku bermain-main saja."
"Bagaimana bisa kau berfikir selama hanya bermain-main. Kau menghasilkan banyak uang dengan usahamu sendiri, Yun."
Yunho terkekeh. "Itu semua karenamu, baby. Kau menyadarkanku. Aku sangat berterimakasih padamu."
"Aku?"
Yunho mengangguk. "Kau ingat ketika kita berbicara di balkon, malam setelah kita kembali bersama?"
Jaejoong mengangguk.
"Kau mengatakan padaku kalau Younjo selama ini selalu mengawasiku, melindungiku. Ia akan selalu memastikan hidupku baik-baik saja dari atas sana. Aku berfikir, apabila Younjo masih hidup pastilah ia akan membantu appa . Ia pasti tidak ingin menyia-nyiakan apa yang diperjuangkan appa selama ini. Ia akan merasa berkewajiban dan terhormat untuk melanjutkan bisnis appa. Dan... karena aku yang diberi kesempatan untuk hidup, aku berkewajiban untuk menanggung semuanya. Aku berkewajiban melanjutkan apa yang appa perjuangkan untuk Younjo dan orangtuaku."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Jaejoong.
"Itulah mengapa aku berterimakasih padamu, baby. Untukmu yang menyadarkanku betapa beruntungnya diriku. Aku harus melakukan apa yang menjadi kewajibanku pada keluarga. Aku berhutang banyak pada appa dan eomma karena telah memberikanku kehidupan sampai saat ini. Aku juga berhutang pada Younjo untuk selalu membuat keluargaku bahagia. Aku ingin membuat ia bangga padaku."
Jaejoong memandang Yunho lembut. "Aku bahagia untukmu, Yunnie."
"Aku juga bahagia. Aku sangat beruntung memilikimu, baby." Yunho mengambil tangan Jaejoong dan menciumnya.
Jaejoong tersenyum. "Jadi, sekarang kemana kita akan pergi?"
Yunho terdiam beberapa detik. Lalu berkata. "Mianhe, malam ini aku hanya mengantarkanmu sampai depan gedung apartemen. Aku... aku akan pergi ke Busan setelah mengantarmu pulang."
"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Jaejoong.
Yunho menatap Jaejoong sesaat. "Ne, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Yunho datar.
Jaejoong menangkap ada nada kecemasan dari jawaban Yunho. Tetapi ia tidak ingin menekan Yunho. Dan karena dia adalah Jung Yunho, ia yakin Yunho bisa mencari solusi untuk masalahnya.
Tiba-tiba fikiran Jaejoong tertuju pada appa Yunho. Betapa miripnya Yunho dengan appanya. Appa Yunho menikah dengan seorang namja yang cantik dan juga kaya. Dan beruntungnya mereka jatuh cinta satu sama lain.
"Yun, kau sangat mirip dengan appamu." Ucap Jaejoong.
"Kau sudah pernah mengatakannya, baby. Dan ya, appaku juga sangat mirip dengan haraboji. Hehehe..." Balas Yunho sambil terkekeh. "Orang-orang berpendapat karena orangtua kami saling jatuh cinta dan menikah bukan karena uang, maka keturunan Jung sangat mirip dengan orangtuanya. Hahaha, tapi sejujurnya itu semua karena gen saja, baby."
"Urgh... maka kupikir orangtuaku tak saling mencintai. Karam mirip dengan eomma mempunyai rambut coklat tua. Dan aku mirip appa dengan rambu coklat kemerahan." Ucap Jaejoong.
"Aku suka efek kemerahan pada rambutmu, baby. Kau semakin exotic." Puji Yunho sambil mengedipkan matanya.
Jaejoong tertawa. "Hahaha, tapi eommaku pikir aku lebih terlihat seperti namja jalang dengan rambut kemerahan, Yun."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Ani, ania... kau terlihat semakin menawan, baby. Aku menyukainya."
"Aku senang Yunnie menyukainya. Aku tidak akan berlebihan mewarnai rambutku. Agar efek kemerahannya masih ada."
"Aku suka kau apa adanya, baby Joongie." Ucap Yunho sambil mengelus rambut Jaejoong.
Jaejoong tersenyum. "Mendengar cerita mengenai orangtuamu, aku kagum dengan mereka yang saling mencintai sampai saat ini. Kalau appa dan eommaku aku bisa bilang hubungan mereka datar-datar saja. Mereka tidak pernah menunjukkan kemesraan secara terang-terangan."
"Ne, aku bahkan sangat cemburu dengan cinta yang mereka miliki satu sama lain. Appaku tumbuh dan dibesarkan dengan bisnis oleh haraboji. Ia tidak banyak bersenang-senang dimasa mudanya. Ia menjadi namja yang selalu fokus, kuat dan penuh tanggung jawab. Tetapi ketika ia bertemu dengan eomma, ia menjadi diri yang berbeda. Lebih hidup dan bahagia."
"Siapa yang tidak begitu. Eommamu sungguh namja yang mempesona."
"Ne, dan ia juga pintar. Ketika mereka bertemu, eomma berumur 24 tahun sedangkan appa 27 tahun. Dan mereka menikah diumur itu juga."
"Jinnja? Wah, mereka masih begitu muda." Ucap Jaejoong kagum.
"Ne, dan itu membuatku percaya. Apabila kita menemukan orang yang kita cintai, soul mate kita, menikah mudapun tak masalah."
Jaejoong menatap Yunho, tak menyangka ia dapat berbicara seperti itu.
"Aku kagum padamu, Yunnie. Kau namja dengan prinsip yang kuat."
Yunho tersenyum. "Gomawo, baby."
Yunho memberikan ciuman yang dalam dan lama ketika mereka sampai didepan gedung apartemen. Seperti Yunho tidak rela berpisah dengan Jaejoong.
"Aku akan menemuimu dalam dua hari lagi, baby." Ucap Yunho. Kemudian ia mendesah. "Huft, aku pikir tak melihatmu adalah suatu masalah bagiku sekarang."
Jaejoong tersenyum. "Waeyo?"
"Molla, aku hanya tidak ingin meninggalkanmu begitu cepat. Maksudku... kita baru saja bersama secara resmi beberapa hari."
"Aku akan selalu menunggu dan merindukanmu, Yun." Ucap Jaejoong malu-malu. "Hanya dua hari, itu tidak lama. Selesaikan urusanmu lalu kembalilah padaku." Jaejoong lalu memberikan ciuman di bibir Yunho.
Yunho menyatukan dahi mereka. Menatap Jaejoong dalam. "Mungkin... eumm... minggu depan... kau bisa pergi ke Busan denganku."
Mata Jaejoong melebar. "Mwo?"
Yunho mendesah. "Akan... akan kupersiapkan orangtuaku terlebih dahulu. Maksudku, aku ingin menjelaskan kepada mereka secara perlahan. Mereka tidak pernah serius menanggapi skandal percintaanku selama ini. Aku juga tak pernah memperkenalkan siapapun dihadapan mereka. Dan aku pikir... ini adalah saat tepat memperkenalkanmu pada mereka."
Jaejoong tersenyum. Ia sangat bahagia tetapi disisi lain ia juga nervous. Ia harap orangtua Yunho menyukai dirinya. Ia tau dirinya bukanlah seorang yang kaya raya seperti eomma Yunho, tetapi ia tetap berharap orangtua Yunho dapat menerimanya. Karena ia benar-benar mencintai anaknya.
...
Ketika Jaejoong sampai di apartemen. Telepon apartemen berbunyi. Jaejoong sedikit berlari untuk mengangkatnya.
"Apa yang kau lakukan kepada Karam, Jae?" Sambar langsung eomma Jaejoong dari seberang telepon dengan marah. "Dan betapa rendahnya kau berselingkuh dibelakang Hyun Joong. Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi namja murahan, Jae! Bagaimana bisa kau mempermalukan kami seperti ini?!"
Sebelum Jaejoong membalas apa yang dikatakan eommanya. Ia mendengar suara klik, dan appanya bergabung untuk berbicara dengannya.
"Jaejoong-ah, appa harap kau mempunyai alasan bagus untuk menjelaskan semuanya kepada kita." Ucap appa Jaejoong.
"Ap...pa." Suara Jaejoong bergetar, ia menangis sekarang. Apa yang dikatakan eommanya tadi sungguh menusuk hatinya.
"Apabila kau tidak mencintai Hyun Joong lagi, maka kau harus jujur tentang perasaanmu padanya. Karam bercerita pada kami, kau membawa namjachingumu yang baru itu ke resort. Dan ia memukuli Hyun Joong sampai babak belur." Ucap Appa Jaejoong.
"Orangtua Hyun Joong sangat kecewa kepada keluarga kita, Jae! Mereka akan membawa masalah ini kejalur hukum. Menuntut bajingan yang memukuli Hyun Joong. Tetapi mereka tidak mengerti mengapa Hyun Joong menolaknya!" Sambung Eomma Jaejoong.
"Hyun Joong akan melamarmu waktu itu, Joongie. Itulah mengapa ia merencanakan liburan dengan seluruh keluarga."
Melamar? Hah, apa Hyun Joong sudah gila? Ia mungkin hanya bermimpi aku akan menerimanya. Batin Jaejoong.
"Tetapi Hyun Joong membatalkan semuanya. Katanya ia berubah pikiran." Ucap appa Jaejoong. "Lalu ia kembali ke Chungnam minggu kemarin dengan wajah penuh luka pukulan."
"Appa, itu bukan kesalahanku..."
"Siapa namja itu, Jae?" Tanya eomma. "Kau anak yang tak tau diuntung! Eomma sudah susah-susah mencarikan yang terbaik untukmu. Hyun Joong adalah pilihan terbaik untuk hidupmu. Dan bodohnya kau menyia-nyiakannya begitu saja."
"Chakkaman, yeobo. Biarkan Joongie menjelaskan semuanya."
"Appa... aku tidak mencintai Hyun Joong. Aku sudah menyadarinya lama. Dan sangat tidak baik apabila aku masih bersamanya. Aku tidak bahagia dengannya!" Jelas Jaejoong disela tangisannya.
"Dan kau memilih berhubungan dengan namja bajingan seperti namjachingumu sekarang, huh? Hidupmu akan sengsara. Dia hanya akan membuatmu hamil lalu meninggalkanmu begitu saja. Karena dia tidak punya apa-apa untuk menghidupimu!"
"Eomma!" Jaejoong meninggikan suaranya. "Yunho adalah namja baik-baik. Ia sepuluh kali lipat lebih baik dari Hyun Joong."
"Huh, bisa-bisanya kau bicara seperti itu. Apa kau mengenalnya baik? Paling ia namja tidak jelas seperti teman-temanmu dulu."
Jaejoong menutup matanya. Ia sangat marah sebenarnya eommanya mengatai Yunho seperti itu. Namun ia hanya bisa memendam amarahnya. Karena ia tidak bisa kasar kepada orangtuanya.
"Eomma, Yunho bukan seperti itu. Hampir semua orang di Seoul mengetahui siapa Yunho, eomma. Kau ingin tau mengapa Hyun Joong menolak untuk menuntut Yunho? Itu karena Hyun Joong tau ia tidak akan bisa menang dari Jung Yunho. Namjachinguku akan menyewa pengacara terbaik korea selatan untuk melawannya selain itu aku akan bersaksi untuk Yunho tentunya."
"Jung Yunho?" Sela appa Jaejoong tiba-tiba. "Itu nama namjachingumu, Joongie?"
Jaejoong mendesah. "Ne, appa."
"Jung Yunho? Anak tunggal dari Jung Siwon?"
Rasa bangga kini melingkupi hati Jaejoong. "Ne"
"Wae? Apa kau mengenal namja itu?" Tanya eomma Yunho pada suaminya.
"Apabila kau membaca koran bisnis dan majalah Forbes. Kau akan mengetahui siapa namja itu. Appanya Jung Siwon adalah CEO dari Jung Corp. Dan anaknya, yang disebutkan Joongie tadi adalah pewaris tunggal dari Jung Corp." Jelas appa Jaejoong. "My God! Jaejoong-ah namjachingumu adalah seorang billionaire."
"Mungkin yang kaujelaskan tadi adalah namja yang lain. Banyak sekali nama dengan marga Jung." Sangkal eomma Jaejoong.
"Kita membicarakan orang yang sama, eomma. Ne, kekasihku adalah penerus Jung Corp. Aku sama sekali tidak berbohong. Ia sangat terkenal di Seoul. Aku bahkan sudah pergi ke Jepang dengan Jet pribadinya, jadi benar apa yang appa bicarakan tentang Jung Yunho."
"Oh! Jadi itu memang rencanamu dari awal? Hyun Joong tidak cukup bagimu? Kau mendapatkan yang lebih kaya dan mengkhianatinya, hah?"
Jaejoong sudah tidak bisa membendung isakannya. "Hiks... hiks... eomma mengapa kau seperti ini padaku? Aku tidak bahagia dengan Hyun Joong, eomma. Aku sudah berusaha dengan hubungan ini, tapi aku tidak mendapatkan kebahagiaan. Kita tidak cocok. Tidakbisakah eomma bahagia untukku? Sekali saja. Aku mendapatkan namja yang sangat kucintai, namja yang bisa membuat diriku sempurna. Bukankah itu adalah pondasi dari sebuah hubungan? Walaupun aku tidak berhubungan dengan Yunhopun, aku akan tetap memutuskan Hyun Joong. Karena aku tidak mencintainya."
Eomma Jaejoong terdiam. Kemudian appa Jaejoong bicara. "Joongie... appa harap kau bisa secepatnya pulang ke Chungnam. Dan kita bisa bicara tentang ini."
Jaejoong mendesah. "Ne, appa. Saranghae."
Kemudian appa Jaejoong menutup sambungan teleponnya. Jaejoong terduduk di lantai ruang tamu. Kepalanya ia sandarkan pada sofa. Berfikir mengapa eommanya bersikap seperti itu padanya. Bagaimana bisa sikap manisnya hanya untuk satu anaknya saja dan bersikap pahit pada yang satunya? Apa kesalahannya sehingga eommanya bersikap seperti itu padanya?
Jaejoong mengapus air mata dari wajahnya. Lalu ia memakai jacketnya lagi. Ia tidak bisa sendiri dalam keadaan seperti ini. Ia butuh sahabatnya dan Yunho tentunya. Tapi Yunho pastinya sudah berada didalam pesawat dan ia tidak mau mengganggunya.
Ketika Jaejoong menunggu lift. Didepannya berdiri sepasang couple namja, kelihatannya juga sedang menunggu lift. Namja yang terlihat seperti seme, memiliki tubuh tinggi tegap dan ia memakai setelan jas mahal. Dan namja yang terlihat seperti uke, memiliki tubuh yang kecil dan lebih pendek dari pasangannya. Ia mengenakan mantel dari Burberry. Mereka terlihat kaya dan berkelas.
"Yeobo, aku tidak menyangka ia akan seperti ini." Namja uke itu berbicara. "Aku tau ia selalu memberontak. Tapi aku tak menyangka akan berlebihan seperti ini."
Jaejoong yang berada dibelakang mereka otomatis mendengar apa yang dikatakan namja itu.
Namja seme itu lalu meraih tangan pasangannya dan menggengamnya erat. Jaejoong berfikir itu sangat romantis.
"Chagiya... ayolah. Kita dapat menyelesaikan ini. Belum terlambat. Kau berfikir seperti ia akan menikah secepatnya saja."
"Tapi kali ini berbeda. Aku tau ia berhubungan dengan beberapa yeoja dan namja sebelumnya. Tetapi aku merasa kali ini berbeda. Aku rasa ia serius dengan yang satu ini. By the way dimana ia sekarang?"
"Ia mungkin sudah berada di bandara atau sudah terbang sekarang."
Kemudian lift berhenti di lantai mereka. Couple itu masuk terlebih dahulu lalu Jaejoong mengikuti. Jaejoong bisa melihat sekilas wajah pasangan itu. Namja seme terlihat sudah agak tua tetapi sangat tampan dan namja uke terlihat imut dengan wajah kecilnya. Entah bagaimana mereka sangat familiar dimata Jaejoong.
"Ini akan sangat memalukan, yeobo!" Ucap Namja uke itu dengan suara pelan. Tetapi Jaejoong tetap bisa mendengarnya.
"Minimi adalah sahabat lamaku. Dan orangtua kami adalah sahabat baik. Kau tau kan perjodohan ini sudah dibuat bahkan ketika Yunho masih bayi!"
"Aku tau." Ucap namja seme itu.
Deg
Deg,Deg,Deg...
Seketika jantung Jaejoong berdetak dengan kencang. Ia menyadari sekarang mengapa wajah kedua namja ini begitu familiar baginya. Ternyata, mereka adalah orangtua Yunho. Kaki Jaejoong bergetar dan lemas. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernafas.
"Dan ia tumbuh mengetahui tentang itu. Ia tidak pernah mengeluh tentang perjodohan itu. Kita selalu mengingatkannya setiap waktu. Kita membesarkan Yunho agar siap untuk perjodohannya. Itu adalah kewajibannya. Ia bahkan berjanji pada almarhum appa untuk menjalankan kewajiban itu." Ucap eomma Yunho.
"Kita tau dia akan melakukannya, chagiya." Sambung appa Yunho. "Anakku adalah namja yang selalu menepati ucapannya. Aku yakin ia akan tetap menepati janjinya padamu dan appa mertua. Aku yakin ia akan berfikir keluarganya lebih penting dari yang lainnya. Dia akan tetap menjalani perjodohan ini."
"Kita juga memilihkannya yang terbaik. Calon tunangan Yunho dari kalangan berada yang mempunyai kekuatan materi seperti kita."
"Dan jangan lupa gen kelas tinggi yang akan memberikan kita cucu yang lucu dan cantik." Canda appa yunho.
"Aku tidak akan memafkan apabila Yunho mengingkari semuanya, yeobo." Eomma Yunho mendesah frustasi. "Aku akan mencoretnya dari ahli waris apabila ia melakukannya."
"Aniaa... kibum-ah. Jangan terlalu stress memikirkannya." Appa Yunho merengkuh pinggang eomma Yunho dan memberikan kecupan menenangkan didahinya.
Seperti yang sering Yunho lakukan pada Jaejoong apabila ia sedang panik.
"Anakmu itu menambah kerutan diwajahku saja, Jung Siwon." Ucap eomma Jaejoong sebal.
"Hmmmt... tapi kau tetap terlihat muda dimataku, yeobo. Kau selalu sexy dan nakal." Goda appa siwon mesum.
Seperti yang selalu Yunho lakukan pada Jaejoong apabila ia menggodanya.
Kemudian lift terbuka. Dan pasangan suami istri itu keluar melewati Jaejoong yang sedang berdiri kaku. Setiap syaraf di tubuh Jaejoong berteriak. Setiap otot di tubuh Jaejoong bergetar. Darah mengalir turun dengan cepat dari wajah Jaejoong. Ia kini pucat pasi. Jantungnya berdetak kencang sampai ia kesulitan bernafas.
Kenyataan menghantamnya, mengambil alih tubuhnya sebelum mati lemas didalam lift.
Ia teringat beberapa kali Yunho terdiam dan terlihat sedih ketika ia membicarakan tentang orangtua dan kewajiban yang ditanggungnya. Dan ia tau sekarang, kewajiban apa yang orangtua Yunho berikan pada anaknya.
Hati Jaejoong seperti hancur berkeping-keping. Ia melangkah keluar lift seperti zombie. Air mata di pelupuk matanya mulai membuatnya tidak bisa melihat jelas. Ia tidak mendengar apapun, tidak melihat apapun. Tidak perduli sekitarnya. Hanya satu pemikiran yang mendominasi otaknya saat ini dan Jaejoong tidak dapat menhindari rasa sakit yang diakibatkannya.
Yunho sudah dijodohkan!
.
.
To Be Continued...
.
Bang...bang...bang... konflik inti baru dimulai chingu-yaa... yang kemarin2 tuh hanya warming-up. Alur cerita novel ini asyik kan? Dibuat jatuh cinta sedalam mungkin lalu dihancurkan seketika. nda hancur ding, hla wong masih saling mencintai... Wkwkwk...
Seperti Joongie dijatuhkan dari langit ketujuh langsung menghantam bumi. Duak!... Padahal baru menikmati make love in peace dengan appa bear beberapa minggu aja ya... unfair for Joongie, hueeeee...
Aku baca dr reviewan chingu belum ada tuh yang nebak Yunho akan ditunangin. Apabila kalian teliti baca akan ketauan lo dr awal konfliknya akan kemana, Yunho ditunangin ama siapa. N yah masalah keluarga kaya mesti jodoh-jodohin anaknya dengan keluarga kaya juga... cerita begini udah familiar banget, kan?Wkwkwkw...
Kalian hny berkonsntrasi ama penyelesaian hub Yunjae atas Hyun Joong-Karam. Junsu-Changmin. Dan Ortu Joongie. Pdhl klo dbaca dr awal kan keliatan janggalnya Yunho. Hohoho...
.
.
Let me know what your think, chingu-yaa^-^
Aku tau kalian tak akan menyangka jadi begini ceritanya...
.
.
Note:
Sebisa mungkin kalau kritik. Jangan kritik isi/alur ceritanya. Karena kalian tau kan ini Cuma remake. Bukan Cici authornya. Cici remake buat hiburan para pembaca FF. terutama YunjaeShipper.
Oh Btw
Our fandom CASSIOPEIA, dr kemaren sedang memperjuangkan warna merah fandom kita nie chingu. Coz ad boy group baru yang pake warna sama untuk fandomnya. Hmmmth, kita Cassiopeia tidak bisa terima kalau ad yang mengatakan itu hanya warna, jngn childish, lebay, nda penting diributkan dsb. Hell No! Warna merah adalah identitas Cassiopeia sejak tahun 2003. Warna itu sudah jadi legenda bersama TVXQ. Cassiopeia patut mempertahankannya.
Cerita sdikit, ini yang aq baca d twitter. Kemarin new boy grup itu tampil d salah satu acara musik. Dan para fansny pake lighstick warna merah gtu, otomatis warna merah mendominasi penonton kan. Terus ada yang tanya. Apa TVXQ tampil? kog ad Cassiopeia dsana? Tuh kan, kalau ada orang yang ga tau yang tampil tuh siapa, itu bisa bikin salah paham. Itu pointnya, merah adalah identitas Cassiopeia.
Cassiopeia bukannya menjadi haters boy group n fandom itu. Big No! Cassiopeia hanya ingin boy group itu mengganti warna lightstickny aja. Selain warna merah. Smoga agensinya mendengarkan apa yang diteriakkan Cassiopeia dr kemarin.
Kalau kalian pembaca ff ini mau memberi dukungan, bisa tandatangani petisi yang dbuat Cassiopeia. Ah, aq ga bisa kasi linkny karena ffn ga support link. Kalian cari d google ada petisi TVXQ, atau petition TVXQ. Kemarin pencapaian pertama 25.000 tanda tangan udah goal, yang ke2 35.000 juga udah goal, hla sekarang butuh 50.000 ttd. Ayoo-ayooo Cassie indonesia yg blm ttd, buruan ttd. Atau fandom lain kalau mau bantu Cassiopeia juga nda papa. Malah Cassie sangat berterima kasih karena udah dbantu :)
Yaah walaupun nantinya petisi ini ga akan didengar atau diabaikan ama agensi itu. Yang penting Cassiopeia sudah berusaha. Dan akan tetap terus berusaha dengan cara apapun.
Oke segitu aja, abaikan komentar bodoh yang nda penting , terus fight, keep Calm and
#RedIsTVXQ
.
