[Chaptered]
Title : Mr. Simple and Mr. Perfect
Chapter : 2 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Humor, Shonen Ai
BGM : Piggy Dolls - Know Her
Sorry update lama. Lagi sibuk2nya. Blm sempat balas review atu2.
٩(ˊωˋ*)و
Sebuah bangunan berlantai 4, yang merupakan asrama putra. Asrama putri terletak di gedung yang berbeda, jaraknya juga cukup jauh. Sehingga menyulitkan murid laki-laki yang ingin bertamu ataupun mengintip aktivitas murid perempuan.
Setelah mendapat kunci kamar asrama. Naruto segera mencari kamar yang akan ditinggalinya untuk 3 tahun ke depan. Kamar di lantai 3, nomor 20U.
"15C, 16C, 17C", Naruto memperhatikan nomor yang terpasang di masing-masing pintu. Mengernyit keheranan. Semua nomor pintu di lantai 3 ini berakhiran 'C'. Darimana datangnya huruf 'U' itu? Apa pengurus asrama tidak salah memberinya kunci?
Langkahnya terhenti tepat di pintu kamar 20U. Kamar itu benar-benar ada!
"Great! Setelah 18C, langsung 20U",
Tidak terlalu mempermasalahkan nomor kamar, Naruto langsung membuka kunci dan masuk ke kamar itu. Kamar berukuran 4x8, dengan dinding berwarna biru langit. Kamar mandi dalam terletak berdekatan dengan pintu masuk. Ada 2 buah lemari kayu terletak di seberang tempat tidur 2 tingkat. Juga ada 2 buah meja dan kursi terletak di depan jendela. Setiap kamar diisi oleh 2 murid.
Naruto berjalan mendekati jendela, membuka tirai dan daun jendela agar sinar matahari pagi dan angin masuk ke kamarnya. Kamar ini juga dilengkapi teras, Naruto berencana menanam sesuatu di sana untuk meramaikan.
"Hoaaam~", Naruto menguap lebar, dia mulai mengantuk karena semalaman bermain game online.
Naruto memilih tempat tidur bawah, karena dia tidak ingin terjatuh saat tertidur. Jatuh dari tempat tidur tingkat 2 itu, rasanya sakit. Tentu saja, dia pernah merasakannya lebih dari sekali.
Naruto menyimpan tas besarnya ke kolong tempat tidur. Dia malas untuk menyusun keluar barang-barangnya. Lagi pula, di dalam tasnya hanya ada pakaian, laptop dan beberapa bungkus ramen instan. Dia tidak perlu berat-berat membawa buku pelajaran, karena semuanya sudah terangkum di memorinya -maksudnya memori flashdish.
Merebahkan tubuh di atas tempat tidur, melepas asal sepatu ketsnya yang kotor, lalu jatuh tertidur dengan posisi terlentang siap disentuh.
Karena selain penghuni dan pengurus, orang lain dilarang memasuki asrama. Jadi, kedua bawahan Sasuke hanya bisa mengantar sebatas gerbang asrama.
"Lalu, siapa yang akan membawa koper-koperku?", tanya Sasuke pada security yang mencegah kedua bawahannya untuk masuk. Jika sang security menyuruhnya untuk membawa sendiri, lebih baik dia pulang dan tidur di rumah saja. Jujur. Bayangkan, jika tida ada bantuan Manda, dia pasti sudah tepar karena berjalan kaki sejauh 1KM dari gerbang utama ke asrama ini. Sekolah ini benar-benar luas.
"Ada saya, Sasuke-sama", sesosok remaja laki-laki berbadan besar datang menghampiri.
"Juugo!", Sasuke senang melihat sahabat masa kecilnya yang bernama Tora Juugo. Jika ini film Bollywood, mereka pasti akan berlari-lari mengitari pohon sambil bernyanyi dan menari bersama segerombolan warga.
"Saya akan membantu anda", Juugo telah menyiapkan keempat teman -bukan teman sebenarnya- untuk membantu mengangkat koper-koper Sasuke. Sasuke hanya bisa tersenyum sambil menaiki Manda. Dia sungguh beruntung.
"Perlakukan koper-koper itu seperti wajah kalian, jangan sampai ada lecet sedikitpun", bisik Juugo pada keempat 'temannya' itu. Mereka mengangguk cepat mendengar ancaman sang Leader. Jika terjadi sesuatu pada koper itu, wajah mulus mereka akan terancam.
Juugo adalah ketua asrama putra. Meskipun tubuhnya seperti raksasa dan berwajah sangar, tapi jika berhadapan dengan Sasuke, dia akan berubah menjadi Doraemon, yang selalu baik hati dan suka menolong Nobita.
"Jadi, maksudmu aku Nobita yang menyebalkan itu?", kening Sasuke mengerut mendengar deskripsi ini.
Ahahaha... Abaikan saja.
Setelah memarkirkan Manda di tempat yang aman. Barulah Juugo mengantar Sasuke ke kamarnya yang terletak di lantai 3, nomor 20U. Keempat koper milik Sasuke sudah sampai terlebih dahulu.
"Ini kamar anda, Sasuke-sama", ucap Juugo pada Sasuke yang sedang mengelus-elus keempat kopernya. Sebenarnya, Sasuke sedang memeriksa, apakah kopernya lecet atau tidak? Syukurlah, keempat koper itu masih mulus seperti baru.
"Jangan memanggilku seperti itu, Juugo!",
Juugo hanya membungkuk hormat. Juugo sangat mengagungkan Sasuke, tapi Sasuke tidak suka diagungkan oleh sahabatnya ini.
"Mengapa nomor kamarnya berbeda?", tanya Sasuke yang merasa terganggu dengan nomor kamar yang acak itu.
"Lantai 3 nomor 20U. Itu mengingatkan dengan tanggal lahir anda, 20+3=23. Lalu huruf U yang di belakang itu artinya Uchiha", jelas Juugo dengan bangga. Dia sengaja meminta pengurus asrama untuk mengganti nomor 19C menjadi 20U.
"Aku tidak suka dengan nomor kamar yang tidak berurutan. Itu... membuatku risih",
Juugo bisa melihat kedua tangan Sasuke bergetar. Juugo tidak menyangka bahwa Sasuke tidak suka dengan idenya itu. Seharusnya dia ingat bahwa Sasuke itu sangat perfeksionis -menjurus OCD. Jika melihat sesuatu yang tidak beraturan, maka Sasuke akan marah-marah atau langsung turun tangan membenahinya.
"A, akan segera saya ganti! Anda bisa melihat-lihat ke dalam dulu", Juugo harus bergegas sebelum Sasuke mencungkil paksa nomor kamar itu.
Sambil menunggu Juugo kembali, Sasuke langsung memasuki kamarnya yang tidak terkunci.
Sasuke tersenyum melihat warna kesukaannya tertempel di dinding. Seandainya Sasuke tahu bahwa warna dinding kamarnya berbeda dari kamar yang lain, mungkin dia tidak akan sesenang ini. Berdoalah supaya Sasuke tidak mampir ke kamar lain.
"GRooooG~ FiuuuH~ GRooooG~ FiuuuH~", suara dengkuran membuat telinga Sasuke gatal.
Belum sempat mencari asal suara, bola mata oniks milik Sasuke membola lebar ketika melihat jejak sepatu mengotori lantai berkeramik putih.
Tangan dan mulutnya bergetar, menahan diri untuk tidak memaki. Dalam benaknya terlintas untuk mencari sapu atau alat pengepel lantai daripada memaki. Lantai itu kotor. Lantai itu harus dibersihkan.
Tunggu! Bukan dia yang mengotorinya, mengapa dia harus membersihkannya? Dia bukan babu!
"OK! Abaikan saja, Sasuke!", perintahnya dalam hati.
Lirik. Abaikan. Lirik. Abaikan. Lirik.
Sekuat apapun dia mengalihkan pandangannya, tetapi pikirannya mengarahkan untuk melihat kotoran di lantai. Dia tidak bisa tinggal di kamar yang kotor ini!
"ARGH!", teriak Sasuke tidak bisa menahan diri. Secepat kilat dia berlari mencari sapu dan alat pel.
Naruto mendengar suara teriakan mulai terbangun. Otak geniusnya berpikir sejenak tentang apa yang terjadi? Dia teringat bahwa dirinya sedang di sebuah bangunan, tiba-tiba bangunan itu berguncang.
"Gempa?", pikirnya yang tidak bisa membedakan mimpi dan realita. Segera dia mengenakan sepatu dan mengambil tasnya, lalu belari keluar kamar untuk menyelamatkan diri.
Lari tergesa-gesa tanpa rem. Di tikungan tangga, Naruto malah menabrak Sasuke yang sedang berlari menenteng sapu, ember dan alat pel.
GuuBRaaaaK
Tabrakanpun tidak bisa dihindari.
Tubuh Sasuke terhempas beserta alat kebersihan yang dibawanya. Sasuke tahu dia akan jatuh terguling-guling di tangga dengan tidak elite, hanya bisa pasrah memejamkan mata. Menunggu tubuhnya terbentur dan berputar-putar seperti mesin cuci. Rasanya pasti sakit.
Tapi, Naruto bergerak cepat meraih lengan Sasuke.
Hap.
Lengan Sasuke berhasil diraih. Naruto menarik tubuh Sasuke dan memeluk pinggangnya agar tidak jatuh tergelincir.
Sasuke merasa tubuhnya tertarik ke depan, dia mengira rohnya terlepar dari tubuhnya. Perlahan dia mengintip. Tampak sosok Naruto sedang tersenyum padanya.
"Kau tidak apa-apa?",
"Singkirkan wajah jelek ini dariku!", Sasuke mendorong wajah Naruto sejauh mungkin. Dia nyaris jatuh jika Naruto tidak memeluknya erat.
"Mengapa kau memelukku?", Sasuke risih dipeluk orang jelek seperti Naruto.
"Jika kulepas, kau akan jatuh", Naruto mengangkat kepalanya, menyuruh Sasuke untuk menoleh ke belakang.
Sasukepun menoleh ke belakang, dia baru sadar dengan posisi pijakannya di ujung anak tangga. Jika tidak ada lengan kekar yang memeluk pinggangnya, mungkin dia akan jatuh.
"Apa boleh kulepas?", tanya Naruto.
Sasuke membenarkan posisi berdirinya agar tidak jatuh. Setelah itu, dia meminta Naruto untuk menjauh darinya.
"Beginikah caramu berterimakasih padaku?", decak Naruto.
"Kau mau berapa?", tanya Sasuke to the point.
"Ck! Sombong sekali!", Naruto pergi menuruni tangga, menghiraukan Sasuke. Dia harus menyelamatkan diri.
Setelah berlari hingga ke pos sekuriti, Naruto baru tersadar bahwa tidak ada gempa saat ini. Dia menepuk kuat dahinya, betapa geniusnya dia.
Pintu kamar bernomor 20U telah berganti menjadi 19C. Juugo meminta maaf telah membuat Sasuke risih pada ulahnya itu. Sasuke memintanya untuk tidak menyalahgunakan wewenang.
"Baik, Sasuke-sama!", Juugo membungkuk hormat bak seorang buttler, "Saya akan membantu anda berberes",
"Tidak perlu, Juugo", tolak Sasuke datar, "Aku mau mengatur barang-barangku sendiri", Sasuke tidak suka orang lain mengatur barang-barangnya, karena saat mepet nanti, dia pasti akan kesulitan menemukannya. Jika dia yang menyusunnya sendiri, dia akan tahu pasti letaknya.
Juugo tidak bisa membantah, perintah Sasuke adalah mutlak. Jika dilanggar, Sasuke akan marah besar. Dia tidak ingin membuat sahabat yang diagungkannya ini marah.
Juugo pergi setelah berpamitan pada Sasuke. Di lorong, Juugo bertemu dengan Naruto.
"Uzumaki-san", panggil Juugo.
"Ya, senpai!",
"Nomor kamarmu 19C",
"Heh?! Bukankah 20U?",
"Sudah diganti",
"Hn! Baiklah!", beruntung Naruto belum menyusun barang-barangnya, dengan begitu dia tidak perlu berkemas lagi.
"Oiya, satu lagi", ucap Juugo sebelum Naruto pergi, "Tolong jaga kebersihan dan kerapian kamar",
"Baik, senpai!", Naruto mengacungkan jempolnya sambil tercengir lebar.
Naruto bingung dengan letak kamarnya terdahulu. Kamar bernomor 20U yang terletak di paling ujung, mendadak menghilang. Dan kamar 19C yang seharusnya tidak ada, malah tiba-tiba muncul.
Sambil berpikir menggunakan otak geniusnya, akhirnya misteri kamar itu terpecahkan. Letak kamar memang tetap, hanya nomornya saja yang berubah.
Naruto memasuki kamarnya dan menemukan sosok sombong yang ditolongnya tadi sedang mengeluarkan barang-barangnya dari koper.
"Kau!", teriak Naruto terkejut sambil menunjuk Sasuke.
"Apa tunjuk-tunjuk!", ketus Sasuke.
"Kau teman sekamarku?",
"Masalah?",
"Tidak!", Naruto tidak ingin mencari masalah dengan anak sombong itu. Lebih baik berteman daripada mencari musuh.
Tap Tap
Sasuke menoleh dan mendapati jejak sepatu saat Naruto melangkah mendekatinya. Kembali tangannya bergetar.
"Lepas sepatu kotormu itu, Dobe!", tegas Sasuke penuh penekanan.
"Hn?", otak genius Naruto belum sempat merespon, Sasuke dengan cepat menyodok Naruto dengan sapu, mendorong Naruto keluar kamar.
"Sepatumu mengotori lantai!", Sasuke melempar sapu dan alat pel pada Naruto, "Bersihkan!",
"Ck!", decak Naruto melihat gaya Sasuke marah yang seperti ibunya.
Naruto terpaksa membersihkan sepatu dan jejak kotor di lantai, dia ingat dengan pesan Juugo untuk menjaga kebersihan.
Naruto meletakkan tas dan sepatunya -yang sudah bersih di bawah ranjang. Duduk manis di atas tempat tidur, memperhatikan Sasuke menyusun buku-buku tebal di meja.
"Barang-barangmu banyak sekali?", Naruto dapat melihat 4 koper besar yang memenuhi ruangan, "Kau diusir atau pindah rumah?",
"Shut up, Dobe!", Sasuke tidak suka diusik saat sedang bekerja.
Naruto tidak bisa berlama-lama duduk manis di atas tempat tidur, dia berjalan pelan dan hati-hati, agar tidak menganggu Sasuke. Naruto membuka salah satu lemari pakaian.
"Whuo!", Naruto sedikit terkejut melihat deretan pakaian yang disusun rapi berdasarkan gradiasi warna, "Kau OCD?",
Sasuke berhenti menyusun, matanya menatap tajam.
"Apa maksudmu?",
"OCD, Obsessive Compulsive Disorder. Kau OCD?",
Sasuke mendekati Naruto, mencengkram rahang Naruto. Dia tidak suka mendengar pertanyaan yang seperti itu.
"OCD adalah kelainan psikologis. Kau pikir aku punya kelainan?",
Tinggi mereka sama, sehingga wajah Sasuke begitu dekat dan sejajar dengan wajah Naruto. Naruto bisa melihat kilatan kemarahan dari bola mata oniks itu.
"Ma, maaf.. Aku salah ucap", Naruto memutar otak geniusnya, memikirkan ucapan yang tidak menyinggung Sasuke, "Dibanding OCD, kau lebih terlihat seperti... perfeksionis. Ya, perfeksionis...ehehehe...",
Sasuke melepaskan cengkramannya, kemarahannya mulai luntur.
"Hn. Aku memang perfeksionis", angguk Sasuke dengan angkuh, kembali dia melanjutkan aktivitasnya.
Naruto bisa bernafas lega setelah lepas dari cengkraman Sasuke. Dagunya kebas. Cengkraman Sasuke memang yahud.
"Kuingatkan sekali lagi, bahwa aku tidak punya kelainan", pesan Sasuke yang terdengar seperti ancaman bagi Naruto.
GLuuuuP
Naruto menelan ludahnya sendiri. Teman sekamarnya ini memiliki aura menyeramkan seperti ibunya.
Terputus
Smoga karakter sasukenya nyebelin.
Review please 💋
