.

.

Chapter Title : Truth or Reality

.

Warning : Contain of so sweet chapter and little bit bed scene ^^

.

Jaejoong merasa waktu seakan berjalan lambat selama dua hari ini. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu Yunho kembali. Yunho menelepon sedikitnya tiga kali sehari. Jaejoong berusaha untuk bersikap normal. Seakan tidak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin Yunho berfikir ada sesuatu yang terjadi padanya. Karena ia tau, Yunho akan langsung terbang ke Seoul apabila menemukan kejanggalan pada dirinya.

Akhirnya pada Senin malam, bel apartemen Jaejoong berbunyi.

"Annyeong" Jaejoong menyambut Yunho dengan wajah ceria.

Yunho menatap Jaejoong lama. Tidak mengeluarkan satu katapun. Sampai Jaejoong mengernyitkan dahinya bingung. Namun kemudian Yunho merengkuh pinggang ramping Jaejoong, membawa mendekati dirinya. Selanjutnya Yunho menumbukkan bibirnya pada bibir Jaejoong. Menciumnya dengan penuh kerinduan.

"Euummhh... Yunho." Bisik Jaejoong disela ciumannya.

"Bogoshipo." Ucap Yunho sambil menaikkan kedua kaki Jaejoong pada pinggangnya dan membawanya masuk. Mereka masih berciuman sampai Yunho menurunkan Jajoong.

Jaejoong menatap Yunho. Ia bisa melihat kelelahan dimatanya. "Nado bogoshipo." Balas Jaejoong.

Yunho tersenyum padanya. Tetapi Jaejoong mengenal Yunho dengan baik sekarang. Ia melihat mata Yunho tidak menari-nari seperti biasanya. Malah ia merasa Yunho terpaksa untuk tersenyum. Jaejoong tau ada sesuatu yang telah terjadi.

"Gwenchana?" Tanya Jaejoong.

Yunho mengangguk. "Ne." Jawabnya singkat.

"Yunnie..." Jaejoong memulai.

Yunho membungkan Jaejoong dengan ciumannya. Jaejoong mendesah dalam hati. Tapi kemudian ia membalas ciuman Yunho. Kini mereka berciuman dengan sangat bergairah. Tampak jelas Yunho tidak ingin berbicara sekarang. Ia hanya ingin dirinya. Jaejoong bisa merasakan itu.

Tak sampai semenit, mereka kini sudah berada di ranjang, terengah-engah. Seperti biasa, mereka memuaskan gelombang gairah yang datang dengan bercinta.

"Oh God! Jaejoong..." Bisik Yunho sambil menyatukan dirinnya. Yunho lebih liar dari biasanya. Efek percintaan penuh kerinduan. Jaejoong memahami itu, ia membalas Yunho dengan gairah yang sama. Ia mencintai namja ini dan ingin memberikan yang terbaik.

Ketika Jaejoong mencapai puncaknya, ia meneriakkan nama Yunho dengan kenikmatan. Jaejoong menatap Yunho dengan terengah-engah. Yunho menghentikan sejenak agar Jaejoong menikmati klimaksnya.

"Ready baby... giliran aku." Ucap Yunho lalu mencium bibir Jaejoong.

Jaejoong mengerang sambil mencengkeram lengan Yunho ketika mereka menyatukan diri kembali. Menyelami gairah yang tak kunjung terpuaskan. Namun, ketika Yunho terlihat akan mencapai puncaknya Jaejoong teringat sesuatu. Mereka terlalu hanyut akan kerinduan dan melupakan sesuatu yang penting. Yunho tidak memakai pengaman tadi.

"Yunnie... jangan..." Jaejoong menahan dada Yunho. "Ja... jangan keluarkan didalam." Ucap Jaejoong sambil menatap Yunho.

Jaejoong menelan ludah ketika melihat Yunho menatapnya dengan tajam tetapi penuh dengan hasrat kebutuhan. Jaejoong bahkan hampir tidak mengenalinya.

Yunho lalu mengambil bibir Jaejoong dengan kasar, menciumnya dengan penuh gairah. Jaejoong membalas ciuman Yunho sambil memeluk lehernya.

Setelah Yunho puas dengan ciumannya, ia menyatukan dahinya dengan dahi Jaejoong. Mereka saling menatap dengan nafas tersengal. Kemudian Yunho berkata dengan suara serak. "Katakan... katakan kau mencintaiku, Kim Jaejoong."

Jaejoong terkejut, ia mengedip-kedipkan matanya tidak sadar apa yang Yunho katakan. Benarkah apa yang Jaejoong dengaar tadi? "A...apa yang kau katakan?" Tanyanya gugup.

"Katakan... katakan kepadaku bahwa kau mencintaiku." Ulang Yunho tegas. Ia lalu menarik nafas dalam sebelum menambahkan "Setidaknya kau merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan... karena aku mencintaimu."

Jaejoong merasakan jantungnya berdetak dengan cepat sampai ia kesulitan untuk bersuara. Perasaan lega yang amat sangat ia rasakan. Kemudian ia memberikan senyum manis kepada Yunho. "Yunho... kau sangat tau siapa aku."

Senyuman dan raut bahagia perhalan-lahan muncul pada wajah Yunho. "Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu, Jaejoong."

Jaejoong lalu menarik Yunho mendekat dan menciumnya dengan penuh gairah sebelum berkata "Saranghae Jung Yunho. Dengan sepenuh hatiku aku mencintaimu."

Yunho membalas ciuman Jaejoong. "Nado saranghae, Kim Jaejoong. Dengan sepenuh hatiku. Dengan segenap jiwaku. Dengan seluruh ragaku." Ucap Yunho. Dan setelah itu Yunho kembali menyentakkan dirinya. Menyatukan dirinya membuat Jaejoong kembali menjeritkan namanya. Membuat Jaejoong terhanyut dalam gairah cinta yang sekali lagi membawa dirinya menuju kepuncak kepuasan.

"Yunnhoo...Arghhhh!" Teriak Jaejoong sambil melengkungkan badannya karena kenikmatan yang ia rasakan.

Tak beberapa lama Yunho juga meneriakan namanya "Jaejoongie... saranghae!" Yunho memeluk Jaejoong dengan tubuhnya yang bergetar. Mengeluarkan semua kenikmatan didalam tubuh Jaejoong tanpa bisa dibendung lagi.

Setelah menuntaskan semuanya, Yunho masih memeluk Jaejoong. Ia membenamkan kepalanya di perpotongan leher Jaejoong. Menghirup aroma manis Jaejoong, merasakan setiap detak jantungnya dan mendengarkan setiap tarikan nafasnya. Sama dengan Jaejoong ia masih tidak sadar dari kepuasan tertinggi yang ia rasakan. Pertama kali mereka bercinta dengan mengetahui perasaan masing-masing.

Yunho bergerak, ia kembali mencium bibir Jaejoong, kemudian mengendus lehernya. Jaejoong setengah memejamkan mata merasakannya sambil membelai-belai rambut belakang Yunho. Percintaan yang mereka lakukan kali ini benar-benar intense. Dan Jaejoong tau ia telah memberikan dirinya seutuhnya kepada Yunho. Seluruh hati, jiwa dan raganya sekarang menjadi milik Yunho.

"Kau benar-benar cantik, baby." Bisik Yunho di telinga Jaejoong.

Jaejoong tersenyum. "Umm... ne." Jaejoong kini pasrah apabila Yunho menyebutnya cantik. "Kau juga sangat tampan, Yunnieku." Ucap Jaejoong sambil membelai rambut didahi Yunho. Tetapi kemudian ia teringat sesuatu, mereka tadi tidak menggunakan pengaman dan Yunho mengeluarkannya didalam.

"Yunnie! Kau tidak memakai pengaman tadi."

Yunho hanya menaikkan alisnya. Menatap Jaejoong dengan biasa saja. Jaejoong kira ia akan panik seperti dirinya. Tapi Yunho tidak. Mereka tadi benar-benar dikuasai nafsu dan gairah cinta. Sehingga wajar apabila mereka melupakan hal sepenting ini.

"Yun..."

"Ne, aku tau baby." Ucap Yunho santai kemudian mencium bibir Jaejoong lagi.

"Yunnie kau tau kan aku namja uke istimewa yang dianugrahi rahim dan bisa hamil." Jaejoong memang namja spesial, dan Yunho sangat tau itu. Maka dari awal, mereka bercinta dengan aman. Apabila Yunho tidak memakai pengaman, pasti ia akan mengeluarkannya di luar tubuh Jaejoong. Tetapi sekarang... mereka kebobolan.

Yunho mengecup bibir Jaejoong sekali lagi untuk menghilangkan kepanikan pada wajahnya. "Aku tau baby... aku sangat tau apa yang kulakukan."

"Yunn... tapi..."

Yunho mendesah. "Kau pikir aku peduli, baby?" Tanyanya. "Aku mencintaimu. Hanya itu yang aku pedulikan."

Jantung Jaejoong berdetak kencang lagi. Yunho sangat mencintainya. Ia tak akan ragu lagi. Kemudian ia meraih wajah Yunho mendekat. "Aku juga mencintai Yunnie." Ucap Jaejoong lalu mencium Yunho.

Yunho tersenyum. "Maka tak ada yang perlu dikhawatirkan, arra?"

Jaejoong mengangguk."Ne..."

Akhirnya, Yunho beranjak dari atas tubuh Jaejoong dan berguling kesamping. Yunho lalu menarik Jaejoong kedalam pelukannya. Seperti biasa Jaejoong mencari kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan Yunho. Ia menyandarkan kepalanya pada lengan kokoh Yunho.

Sejenak mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Yunho hanya diam sambil membelai lengan Jaejoong dan sesekali menciumi puncak kepalanya.

Jaejoong bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi di Busan. Apakah Yunho dapat meyakinkan orangtuanya untuk tidak melanjutkan perjodohan itu? Apakah Yunho berhasi? Apakah ia akhirnya bebas dari semua itu?

Jaejoong menghela nafas dalam. "Yun... apakah semua baik-baik saja, eumm... antara kau dan orangtuamu?"

Butuh beberapa saat sebelum Yunho menjawab pertanyaan Jaejoong. "Ne, seperti biasa. Tidak ada yang tidak bisa kuatasi."

Jaejoong mendongak menatap kedalam mata Yunho, dan menilainya. Lagi, mata Yunho tidak menari-nari seperti biasanya. Sesuatu terjadi pada diri Yunho. Sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan itu membuat Jaejoong khawatir.

Jaejoong sebenarnya ingin Yunho bercerita kepadanya lebih dulu tentang perjodohan itu. Tapi sepertinya memang Yunho perlu waktu yang tepat untuk bercerita kepadanya. Jaejoong tidak ingin berfikiran buruk pada Yunho. Ia kini percaya Yunho sepenuhnya.

"Eumm... kalau ada yang mengganggu pikiranmu. Kau bisa berbagi kepadaku, Yun." Ucap Jaejoong.

Yunho tersenyum menggoda. "Yang kupikirkan sekarang adalah namja dihadapanku yang menyatakan ia merasakan perasaan cinta yang sama seperti yang aku rasakan. Membuatku merasa seperti manusia sempurna, tak terkalahkan. Penguasa dunia!" Ucap Yunho berlebihan.

Wajah Jaejoong memerah. "Yunnie..." Ucapnya sambil mencubiti lengan Yunho karena kesal Yunho menanggapinya dengan bercanda.

Yunho terkekeh lalu menarik Jaejoong kedalam pelukannya. Memeluknya erat. "Tidak ada yang terjadi, baby. Semua baik-baik saja."

...

Hari berikutnya, Jaejoong mencoba untuk berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Tetapi ia masih tetap merasa gelisah. Seharusnya ia bahagia. Mengetahui Yunho mencintainya adalah kesempurnaan untuk Jaejoong. Tetapi bagaimanapun pikiran akan kehilangan Yunho juga mempengaruhinya besar. Ia tentu saja tidak melupakan bahwa Yunho masih seorang Jung Yunho. Dan nama itu... sudah terikat dengan orang lain.

"Jadi kau sudah berbicara kepadanya, Joongie?" Tanya Junsu. Ia duduk di depan meja kerja Jaejoong. Menatap Jaejoong dengan rasa ingin tau.

"Ani. Aku sudah mencoba memancingnya untuk berbicara. Tetapi ia tetap diam. Ia hanya berkata tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Junsu menatap sendu kepada sahabatnya itu. Ia tak tau apa yang harus ia katakan sekarang.

"Tetapi ia akhirnya berkata bahwa ia mencintaiku."

"Omo!" Mata Junsu melebar terkejut. "Maka, memang tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Joongie!" Pekik Junsu antusias.

Jaejoong mendesah. "Aku tau. Tetapi saat aku melihat kedalam matanya. Ia seperti terganggu akan sesuatu dan ia tidak ingin membicarakannya kepadaku."

"Mungkin memang tidak semuanya berjalan sempurna dan ia masih berusaha berjuang untukmu. Yang terpenting sekadang adalah ia mencintaimu, Joongie. Itu yang perlu kau pegang. Ia pasti tetap memperjuangkanmu."

Jaejoong mengambil nafas dalam. "Aku tau. Dan aku harap ia menang."

...

Jaejoong memutuskan untuk memasak malam harinya. Ia ingin membuatkan sesuatu yang special untuk Yunho. Memberikan Yunho sesuatu yang menyenangkannya. Karena ia tau Yunho masih terbebani pikirannya. Walaupun hubungannya dan Yunho sekarang baik-baik saja. Jaejoong tau, pasti tidak begitu dengan hubungan Yunho dan orangtuanya sekarang. Eomma Yunho tampaknya tidak akan semudah itu melepaskan Yunho dari tanggung jawabnya. Yunho mencintai eommanya. Dan Jaejoong tau pasti sulit untuk Yunho melawan orangtuanya.

"Heumm... aku membaui sesuatu yang lezat." Ucap Yunho ketika ia masuk apartemen Jaejoong dan berjalan menemuinya di dapur.

"Hai Yunnie..." Sapa Jaejoong sambil tersenyum manis. "Kuharap kau cukup lapar untuk menghabiskan masakanku. Makan malam akan siap lima belas menit lagi."

Yunho berdiri dibelakang Jaejoong. Ia lalu melingkarkan tangannya disekeliling pinggang Jaejoong sambil menciumi pipi dan lehernya.

"Eunnghh... Yunnie jangan ganggu aku." Ucap Jaejoong sambil menggeliat menghindari ciuman Yunho yang menggelitik.

Yunho terkekeh lalu ia melihat masakan yang dibuat Jaejoong.

"Whoa... Kimchi Jjigae dan Bulgogi?"

"Ne."

"itu semua favoritku." Ucap Yunho antusias. Ia lalu mencium puncak kepala Jaejoong. "Saranghae, baby Joongie."

Jaejoong membalikkan badannya sambil tersenyum. Ia melingkarkan tanganya disekeliling leher Yunho dan menciumnya. "Nado saranghae." Balasnya. "Sekarang tunggulah di ruang tamu, jadi aku bisa menyelesaikan masakanku."

Jaejoong telah menyelesaikan masakannya dan mereka kini duduk dimeja makan untuk menikmati makan malamnya. Yunho merasakan masakan Jaejoong. Dan Jaejoong menunggu bagaimana reaksi Yunho.

"Wae?" Tanya Yunho karena Jaejoong menatap dirinya ketika makan.

"Bagaimana rasanya?"

Yunho mengangkat alisnya. "Seperti biasa baby. Masakanmu jinjja pasta! Apakah selama ini pujianku terhadap masakanmu kurang heum?"

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Ani. Kau malah terlalu berlebihan memuji masakanku. Tetapi kali ini aku takut kalau masakanku tidak enak."

"Masakanmu selalu pas dilidahku. Aku mencintai masakanmu sebesar aku mencintaimu." Ucap Yunho tulus.

"Tuh kan kau berlebihan. Tapi senang kau menyukainya." Ucap Jaejoong ceria.

Setelah Jaejoong membereskan makan malam mereka, ia menemukan Yunho berdiri di balkon. Ia terlihat seperti kehilangan pikirannya. menatap langit gelap dengan pandangan kosong.

Jaejoong merasa hatinya seperti diremas. Ia tidak ingin melihat Yunho seperti itu. Ia tau beban berat yang Yunho pikul sekarang dan ia janji tidak akan pernah memaksakan kehendaknya pada Yunho. Jaejoong sangat memahami Yunho, mungkin alasan Yunho menyembunyikan semua itu darinya adalah karena Yunho takut ia akan pergi meninggalkanya. Tetapi ia juga ingin Yunho tau bahwa semua itu tidak apa-apa untuknya. Tidak akan mengurangi sedikitpun rasa cintanya pada Yunho. Dan sekarang saat yang tepat bagi Yunho untuk berbagi beban dengannya.

Jaejoong menghela nafas dalam sebelum berucap. "Kau tau, kau tidak perlu untuk berpura-pura kuat setiap waktu, Yun."

Yunho membalikkan badannya dan menatap Jaejoong sejenak.

"Baby..." Bisik Yunho lembut.

"Yun..." Jaejoong mengambil satu langkah mendekati Yunho. "Aku tau... aku tau apa yang mengganggumu."

Yunho balas menatap Jaejoong. "Tidak ada yang menggangguku." Ucapnya tegas.

Jaejoong menaikkan satu alisnya. "Bohong!" Ucap Jaejoong dengan lembut dan kemudian ia tersenyum sedih. "Aku tau kau telah bertunangan, Yunho."

Jaejoong tau Yunho terkejut dari matanya dan tubuhnya yang sedikit bergetar. Darah seakan berkurang cepat di wajah Yunho. Ia kini pucat pasi. Jaejoong melangkah mendekati Yunho dan meraih tangannya. Menggenggam jemari Yunho untuk menenangkannya.

"Yun... kau tidak harus menyembunyikannya dari aku." Jaejoong mencoba lagi dengan lebih lembut.

"Jaejoong! Aku tidak bertunangan dengan siapapun!"

"Aku tau kau sudah ditungkan dengan orang lain, Yunho! Berhentilah bersikap seolah semuanya baik-baik saja! Seperti tidak ada sesuatu yang terjadi! Aku tau kau mempunyai tunangan entah siapa. Dan kau takut untuk bercerita kepadaku!" Jaejoong sedikit meninggikan suaranya.

Yunho menutup kedua matanya sejenak. Menenangkan dirinya. Kemudian ia mengambil nafas dalam. "Sejauh aku mengenal diriku sendiri, Jae. Aku tidak sedang bertunangan dengan siapapun!"

"Yunnie... jebbal." Jaejoong mulai frustasi. "Bagaimana bisa kau menyangkalnya? Sedangkan aku tau semua yang terjadi padamu."

"AKU TIDAK SEDANG BERTUNANGAN DENGAN SIAPAPUN, KIM JAEJOONG! KARENA KALAU MEMANG AKU BERTUNANGAN, JARI INI..." Yunho mengabil tangan Jaejoong. "JARI INI AKAN MEMAKAI CINCIN BERLIAN YANG SAMA DENGAN YANG AKU KENAKAN." Ucap Yunho dengan emosi meluap. Ia kemudian berjalan menuju kursi balkon, meninggalkan Jaejoong yang berdiri kaku.

Jaejoong butuh beberapa saat untuk berfikir tentang apa yang Yunho katakan tadi. Memang ia agak takut, baru kali ini Yunho sekeras itu padanya. Tapi selanjutnya yang Jaejoong rasakan adalah jantungnya yang berdebar keras dan pikirannya yang berteriak gembira mengetahui jika Yunho sebagai orang yang bebas, ia akan meminta dirinya untuk menikah dengannya. Menjadi pendamping hidupnya.

Jaejoong menghampiri Yunho dan berlutut dihadapannya. Ia meraih tangan Yunho dan menggenggamnya.

"Oke. Yunnie memang tidak bertunangan... karena keinginanmu sendiri. Tetapi Yunnie memang sudah diatur untuk menikah dengan seseorang yang dipilihkan orangtua Yunnie. Apakah aku benar?" Jaejoong berucap selembut mungkin sambil menatap mata Yunho.

Yunho memeberikan Jaejoong tatapan yang tajam. Ia meremas tangan Jaejoong keras, seakan ketakutan. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"

"Tidak masalah dari mana aku mengetahuinya. Dan ya, aku tau itu sangat mengganggumu."

Yunho menggelengkan kepalanya frustasi. "Bukan hanya menggangguku, baby. Itu membunuhku." Ucap Yunho dengan suara seperti kesakitan.

Jaejoong tau itu. Tapi yang terpenting adalah pilihannya. Dan apa yang akan Yunho lakukan selanjutnya.

Jaejoong menghela nafas panjang. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Mr. Jung?" Tanya Jaejoong. "Karena yang bisa kulakukan hanya selalu berada disisimu, apabila pilihanmu adalah... aku."

Yunho mencium punggung tangan Jaejoong. Kemudian berkata. "Apa yang kau bicarakan, baby? Pilihanku selalu dirimu." Lalu Yunho menarik Jaejoong dan mendudukan Jaejoong dipangkuannya. Memeluk tubuh ramping Jaejoong.

Mereka terdiam sejenak. Jaejoong menyandarkan kepalanya di bahu Yunho. Sedangkan tangan mereka bertautan, saling meremas. Suasana yang sangat romantis apabila tidak ada masalah ini.

"Kau tidak tau betapa leganya aku ketika mendengar kau akan selalu berada disisiku?" Ucap Yunho memecah keheningan.

Jaejoong mendongak menatap Yunho. "Apakah itu yang mengganggumu?"

Yunho mengangguk. "Satu hal yang dapat membunuhku adalah rasa takut akan kehilanganmu apabila kau mengetahui semua ini."

"Aku mencintaimu, Yunho. Rasa cintaku cukup kuat untuk tidak meninggalkanmu begitu saja. Tapi bagaimana dengan orangtuamu?"

Yunho menghela nafas dalam. "Aku membuat pilihanku sendiri dan orangtuaku tidak senang dengan itu. Aku terlanjur mencintaimu terlalu dalam, aku tak ingin melanjutkan perjodohan yang bahkan aku belum pernah bertemu dengan orang yang dijodohkan denganku."

"Kau belum pernah calon tunanganmu?" Tanya Jaejoong tak percaya.

Yunho menggelengkan kepalanya. "Seumur hidupku aku hanya diberitahu kelak aku akan menikah dengan anak dari sahabat baik eomma. Keluarganya dan keluargaku menjalin hubungan yang sangat baik. Jadi mereka merencanakan hal itu."

Jaejoong menggigit bibirnya cemas, entah mengapa kini berbicara mengenai calon tunangan Yunho membuatnya takut.

Yunho yang melihat Jaejoong menggigit bibirnya langsung menghentikannya dengan ciuman yang lembut. "Apabila Joongie tidak nyaman dengan pembicaraan ini kita akhiri saja, oke?"

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Ani aku tak apa-apa." Jaejoong berusaha bersikap biasa. "Eumm.. berapa lama Yunnie tau kalau sudah dijodohkan?"

Yunho mendesah "Sejak aku kecil." Balasnya. "Aku berjanji kepada haraboji untuk melakukannya. Disamping itu, aku pikir sahabat eomma sangat cantik. Anaknya pasti tidak akan buruk. Dan aku belum peduli dengan perjodohan itu. Bahkan saat aku beranjak remaja dan dewasa aku tidak peduli karena aku juga tidak pernah merasakan jatuh cinta. Hal itu sama sekali tidak menggangguku. Aku dibesarkan dengan mengetahui perjodohan itu seakan hal itu adalah jalan hidupku. Aku juga berfikir, appa dan eomma juga menikah karena perjodohan. Dan mereka bisa saling mencintai. Maka kelak aku dan orang itu juga bisa saling jatuh cinta."

Jaejoong melingkarkan tangannya disekeliling leher Yunho dan membenamkan dirinya di perpotongan leher Yunho sambil mendengarkan ceritanya.

"Itulah mengapa aku tidak pernah berkomitmen dengan seseorang. Karena aku tau, aku tidak boleh terikat secara emosi. Mereka yang berkencan denganku, tidak ada yang aku anggap serius. Hanya untuk sementara. Karena kedepannya aku tetap menikah dengan anak sahabat eomma."

Jaejoong mengeratkan pelukannya. "Akupun pasti kau anggap sementara. Iya kan?"

"Sstt... dengar dulu, baby." Yunho menenangkan Jaejoong dengan mencium puncak kepalanya. "Lalu suatu hari aku melihatmu di Trend. Kau namja cantik dan membuatku terpesona. Fakta bahwa kau tidak memperdulikanku dibanding temanmu yang lain membuatku lebih pernasaran akan dirimu. Aku selalu memperhatikanmu, melihat kearahmu. Tetapi nampaknya kau sama sekali tidak tertarik. Lalu aku melihatmu pindah ke apartemen ini. Dan aku sangat antusias mengetahui kau adalah tetanggaku. Karena itu berarti aku akan lebih mudah mendapatkan perhatianmu."

Jaejoong mendongak. "Mungkin aku adalah sebuah tantangan, itulah mengapa kau tertarik padaku."

"Ne, mungkin iya awalnya. Tetapi lebih aku memperhatikanmu, aku semakin tertarik padamu. Kau terlihat memang seperti namja serius dan terkesan membosankan. Tetapi aku yakin, kau menyembunyikan sesuatu yang indah didalam dirimu. Dan malam itu, pada saat pembukaan Mirotic aku melihat dirimu yang lain. Dirimu yang indah. Maka aku memutuskan untuk mendekatimu. Kemudian aku lebih mengenalmu... aku semakin tertarik padamu. Kau mempunyai kepribadian unik, yang bisa membuat seseorang mudah terpikat padamu. Kau pintar, lucu dan kuat. Aku sangat tersanjung kau menunjukkan padaku sisi lain dirimu yang tidak pernah orang lain tau. Dan fakta bahwa kau menyerahkan kepolosanmu kepadaku, membuat diriku seperti namja spesial, Jaejoongie. Seperti aku mendapatkan hadiah yang sangat special."

"Rahasia kita membuat aku hidup diduniamu... bersembunyi dari semuanya. Setelah dua minggu jalan bersamamu, aku menyadari aku benar-bernar jatuh kedalam pesonamu sehingga bisa dikatakan bukan dalam level 'tertarik' aku melihat namja lain yang tertarik padamu, aku merasakan kecemburuan yang amat sangat besar. Aku tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Aku menjadi posesif terhadapmu. Aku menginginkanmu hanya untukku seorang dan saat itu aku tidak perduli lagi dengan perjodohanku. Karena aku tau, aku jatuh cinta kepadamu." Jelas Yunho sambil menatap mata Jaejoong intens.

Jaejoong terharu, ia sedikit mengeluarkan air matanya. Yunho dengan lembut menghapus air mata itu dari pipinya.

"Apa orangtuamu tau tentang semua itu?" Tanya Jaejoong.

"Ne." Jawab Yunho. "Saat aku pulang ke Busan kemarin, aku berkata pada orangtuaku, aku menolak perjodohan itu. Aku akan memilih pendampingku sendiri. Karena sekarang aku tau dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku."

"Bagaimana orangtuamu menanggapinya?"

Yunho mendesah. "Buruk." Ucapnya pelan. "Eommaku mengancam akan mencoretku dari keluarga."

"Yun..." Jaejoong memandang Yunho cemas.

Yunho tersenyum sedih. "Aku berharap eomma memahamiku suatu hari nanti. Dia tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Karena eomma belum pernah jatuh cinta sebelum bertemu appa. Dia menerima saja perjodohan itu. Dan kemudian mereka saling mengenal dan jatuh cinta. Jadi dalam beberapa bulan hubungan eomma dan appa bisa dikatakan bukan perjodohan bisnis lagi."

Jaejoong mengangguk. "Lalu bagaimana bisa kau yakin, tidak akan jatuh cinta kepada calon tunanganmu itu, Yunnie?"

"Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada yang lain sedangkan saat ini aku telah jatuh cinta terlalu dalam kepada seorang Kim Jaejoong?" Yunho balas bertanya.

Jaejoong langsung memajukan wajahnya dan meraih bibir Yunho. Menciumnya penuh perasaan cinta. Hatinya serasa berbunga-bunga namun tidak dipungkiri ia merasa sakit disaat berasamaan. Jaejoong sangat bahagia mendengar betapa Yunho mencintainya dan ia berjuang untuknya. Tetapi ia juga tau, Yunho mengorbankan keluarga untuk cinta mereka. Dan sebagian diri Jaejoong menginginkan Yunho untuk melakukannya.

"Sekarang apa yang akan kau lakukan, Yun?"

Yunho tersenyum tipis. "Yang aku tau, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, baby. Dan itu tidak akan terjadi. Walau berarti aku akan kehilangan segalanya."

"A..aapa kau siap untuk itu?" Tanya Jaejoong cemas.

"Apa Joongie akan tetap bersama Yunnie walaupun Yunnie sudah bukan siapa-siapa lagi? hanya orang biasa?"

"Kau sangat tau aku akan melakukannya. Joongie akan tetap berada disisi Yunnie walaupun Yunnie miskin sekalipun." Ucap Jaejoong sambil berlinang air mata.

"Kau membuatku lebih mencintaimu, baby." Yunho langsung meraup bibir Jaejoong. Menciumnya ganas, penuh dengan perasaan cinta. Jaejoong membalas ciuman Yunho dengan sama ganasnya.

Yunho menghentikan ciumannya sejenak karena mereka kekurangan nafas. Sambil terengah-engah Yunho berkata. "Kau berhasil membuatku sebagai namja paling bahagia dimuka bumi ini, baby." Lalu Yunho melanjutkan ciumannya. Mereka berciuman seakan tidak ada hari esok lagi. Wkwkwkwk...^^...

.

.

To be continued...

.


Anneyonghaseyouu...

Beuhh... aku ngeetik chapter ini sambil dengerin lagunya Rizky Febian 'kesempurnaan cinta' yosh ngena banget yorobunn...

Part yang sangat2 manis menurutku, full with Yunjae moment yangtuh bikin baper. Aq bahkan berkali-kali stop ngetik, langsung kututup layar laptopku karena nda sanggup ngetik Yunjae moment yang terlalu gile maniseee ini...

Apa inti dari chapter ini?

Yes! Yunjae love each other. Akhirnyaa mereka mengungkapkan perasaannya satu sama lain. #YunjaeIsReal ^^

Pertanyaan chingu yang selalu ditanyakan terjawab kan? Mengapa Jj ga hamil-hamil padahal mereka sering bercinta? Ya itu semua karena mereka main aman chingu, pake pengaman biar aman. He em... setuju?

Dan mengapa Yunjae chapter ini bercinta tidak pakai pengaman? Jawabannya apa hayoooo... cici serahkan pada chingu reader nyang kritis n pinter2^^ wkwkwkwk...

Di chapter ini kita tau, klo Yun2 sebenerny dari awal tertarik ma JJ. yg nyeSpy Yun dulu. hihihi...

Saat ini Yunho memilih Jaejoong. Seneng ga chingu?^^ tapi kedepanny akan jadi gimana nanti? Apa orangtua Yunho akan diam saja? Apa Yun benar2 dikeluarkan dari keluarganya? Ah mollayo... bingung ah...

Dah sgitu dulu...

Makasi semua yg udah dukung aq, dr yang review, fav n folo...

Calanghae...


Oh ya... chingu yg review chpter kmren Cici balas, tapi aq balesnya di kolom review . Karena klo aq bls d FF, ngebanyak-banyakin word. Smoga dibaca, krn baru kali ini aq sempetin bales review kalian^-^