[Chaptered]
Title : Mr. Simple and Mr. Perfect
Chapter : 3 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Humor, Shonen Ai
BGM : Piggy Dolls - Know Her
Sasuke adalah satu-satunya murid yang mengendarai ninebot elite ke sekolah. Murid-murid yang berjalan kaki, menatap sambil berbisik-bisik ketika Sasuke dengan angkuh melewati mereka.
"Apa sekolah ini melarang muridnya untuk berkendaraan?", tanya Sasuke pada Juugo yang berjalan cepat di sampingnya.
"Mmmm~ Sebenarnya... iya", jelas Juugo ragu-ragu.
"Mengapa kau tidak bilang padaku?",
"Tapi aturan itu tidak berlaku untuk Sasuke-sama",
Sasuke menghentikan ninebot elitenya, berputar arah.
"Mau kemana, Sasuke-sama?",
"Manda mau istirahat",
Juugo bermaksud mengikuti Sasuke, tapi dengan penuh penekanan Sasuke menyuruhnya ke sekolah. Juugo yang tahu bahwa Sasuke sedang memendam amarah, hanya bisa menurut saja. Berdoa semoga Sasuke tidak telat.
Sasuke kembali ke asrama untuk menyimpan Manda. Di sana dia bertemu dengan Naruto yang sedang terburu-buru, seragam dan rambutnya terlihat berantakan. Sepertinya Naruto tidak sempat mandi.
"Cepat, Suke! Kita telat!", Naruto menarik tangan Sasuke, mengajaknya berlari.
Sasuke tidak suka ditarik, dengan kasarnya dia menepis tangan Naruto.
"Aku tidak terbiasa berlari", ucap Sasuke membenarkan gaya rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari tadi. Setelah rapi, dia berjalan santai dan angkuh.
"Kau bukan pengantin, tidak perlu berjalan selambat itu!",
Sasuke menghiraukannya, tetap berjalan santai sambil memasuki tangannya ke dalam saku celana.
"Berjalan seperti itu akan membuatmu telat, Suke~", raung Naruto yang ingin mencakar tanah melihat cara berjalan Sasuke.
Untuk kesekian kalinya, Sasuke menghiraukan ucapan Naruto. Dia tidak terbiasa berlari, jika dipaksakan, mungkin dia akan pingsan karena kelelahan. Dia tidak ingin pingsan, karena saat pingsan nanti pasti banyak tangan usil yang menyentuhnya. Dia tidak suka disentuh orang asing. Imajinasi sang tuan muda ini terlalu lebay, bukan?
"Jika aku berhasil sampai ke gerbang duluan, kau harus mentraktirku ramen!", tantang Naruto agar Sasuke termotivasi untuk berjalan lebih cepat.
"Memangnya siapa kau?",
"Aku Uzumaki Naruto, si genius yang suka dengan tantangan!",
Sasuke tersenyum miring mendengar ucapan Naruto.
"3, 2, 1!", aba-aba Naruto mengambil kuda-kuda, "Go!",
Sasuke menghiraukan Naruto yang sudah melesat pergi. Untuk apa dia harus berlari, kalau masih bisa berjalan?
Naruto menunggu Sasuke di gerbang yang sebentar lagi akan ditutup.
"Jangan-jangan dia pingsan di tengah jalan! Atau... diculik om pedo? Atau jangan-jangan... diterkam binatang buas?", pikiran Naruto mulai parno.
Karena mencemaskan Sasuke, Naruto berlari menyusul Sasuke yang tertinggal di belakang.
Di seperempat jalan, Naruto menemukan Sasuke yang sedang berjalan sangat santai.
"Ada apa?", tanya Sasuke dengan polosnya, dia tidak tahu bahwa Naruto mencemaskannya.
"Thanks, Suke! Kau membuatku telat di hari pertama",
"Hn. Sama-sama, Dobe",
"Teme! Jangan panggil aku, Dobe!",
"Dobe, Dobe, Dobe",
"Huh!",
Kerena telat, Naruto dan Sasuke terpaksa duduk di bangku kosong yang terletak di pojok kiri paling belakang karena semua bangku depan telah terisi. Mereka juga dihukum memungut sampah dari kelas ke kelas setelah pulang sekolah nanti.
"Mejamu tidak lurus", jelas Sasuke sambil membenarkan posisi meja seorang murid perempuan berambut pink. Meja itu diatur agar sejajar dengan meja yang lain -tepat di garis ubin.
"Te, terima kasih", ucap perempuan berambut pink itu yang tampak terkagum-kagum memandangi wajah Sasuke yang begitu dekat.
Setelah memastikan semua meja tertata lurus dan rapi, barulah Sasuke duduk di tempatnya.
"Dia sedang mencari perhatian para gadis. Dia genit, genit genit", Naruto mencoba berpikiran negatif untuk mengenyahkan pikiran positifnya bahwa Sasuke melakukan itu karena OCD.
Sesi perkenalan telah usai, tiba sesi pemilihan pengurus kelas. Hatake Kakashi, selaku wali kelas X-A, meminta siapapun yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua kelas.
Naruto dan Sasuke mengacungkan tangan kanannya dengan kompak.
"Mengapa kau mengacungkan tanganmu?", tanya Sasuke yang merasa Naruto mengikutinya.
"Aku ingin mencalonkan diri, tidak boleh?",
Mereka saling bertatapan sinis. Kakashi melihat aura listrik dari tatapan mereka. Sudah telat, malah bertengkar. Hadew~
"Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke, silakan ke depan!", perintah Kakashi yang langsung dituruti mereka, "Ada lagi yang ingin mencalonkan diri?",
Seorang siswi perambut pirang dengan poni lempar menutupi sebagian wajahnya, mengacungkan tangan. Siswi itu duduk bersebelahan dengan Sasuke.
"Yamanaka Ino ingin mencalonkan diri sebagai pendamping hidup Uchiha Sasuke!", serunya dengan lantang dan berapi-api, mendapat sorakan dari seisi kelas.
Sasuke mengibaskan poninya, dia sudah biasa mendengar gombalan seperti itu. Laki-laki maupun perempuan suka menggombalinya.
Kakashi menegur Ino untuk tidak berkhayal yang aneh-aneh. Ino malah mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke.
"Dasar genit!", dengus Sasuke.
"Setidaknya ucapkan 'terima kasih'", bisik Naruto yang tidak suka dengan sikap angkuh Sasuke.
Sasuke mengambil jarak, dia tidak ingin berdekatan dengan Naruto yang agak bau ini. Hidungnya mengatakan bahwa Naruto tidak mandi pagi.
"Ada lagi yang ingin mencalonkan diri?", tanya Kakashi menunggu calon yang lain. Karena tidak ada, Kakashi langsung meminta Naruto dan Sasuke untuk memberi sambutan.
"Aku Uzumaki Naruto. Aku si genius yang suka dengan tantangan. Aku senang bersahabat dengan siapapun. Kuharap kita bisa bekerja sama!", Naruto membungkuk hormat pada teman-temannya.
"Aku Uchiha Sasuke. Aku HARUS menjadi ketua kelas karena aku tidak ingin dipimpin oleh orang seperti dia", Sasuke menunjuk kasar wajah Naruto yang sedang tercengir lebar.
"Teme! Apa maksudmu!", Naruto mengenyahkan tangan Sasuke yang menunjuknya seperti kambing hitam.
"Kuharap kalian tidak salah pilih", kalimat penutup dari Sasuke membuat semua siswi terkagum-kagum dengan mata berlope-lope.
Setelah mendengar kata sambutan Naruto dan Sasuke, Kakashi mengadakan voting tertulis.
Uzumaki Naruto : 12 suara
Uchiha Sasuke : 14 suara
Netral : 6 suara.
Total murid 32.
Dengan demikian Uchiha Sasuke dinyatakan sah sebagai ketua kelas X-A.
"Seharusnya, kau tidak perlu menyisipkan kata 'genius' dalam sambutanmu tadi", sindir Sasuke yang hanya ditanggapi juluran lidah dari Naruto.
Sindiran Sasuke memang menyebalkan, tapi Naruto tidak marah saat posisi ketua kelas jatuh ke tangan Sasuke. Dia tersenyum puas dengan apa yang dilakukannya. Dia sempat berpikir bahwa tidak ada yang memilihnya karena dia kalah keren dari Sasuke ditambah sambutan singkat Sasuke yang memprovokasi, tapi ternyata sebagian murid di kelas ini mau memilihnya.
Jam istirahat.
"Namaku Haruno Sakura", jelas perempuan berambut pink tadi, Sakura duduk tepat di depan Sasuke.
"Uchiha Sasuke", jawab Sasuke singkat, padat dan jelas.
"Aku Uzumaki Naruto!", Naruto memperkenalkan diri tanpa diminta, Sakura menanggapinya dengan tersenyum.
"Bolehkah aku memanggilmu 'Sasuke-kun'?
Sasuke melirik tajam, membuat Sakura keringat dingin.
"Dasar genit!",
Tubuh Sakura membatu mendengar kalimat yang menusuk itu.
"Teme!", Naruto memiting leher Sasuke dengan lengannya, "Bersikap sopanlah pada perempuan!",
Tidak suka didekap seerat itu, Sasuke menghentakkan kepalanya membentur dagu Naruto, sehingga pitingan Naruto terlepas. Sasuke dengan cueknya merapikan penampilannya, kemudian berjalan angkuh meninggalkan kelas.
Naruto berteriak memaki Sasuke, sedangkan Sakura terpesona melihat gaya Sasuke yang keren itu.
Uchiha Sasuke memang keren, meskipun ucapannya menyakitkan hati.
Di taman yang indah dan sejuk. Ada kolam kecil yang dihiasi ikan-ikan koin yang berwarna warni.
Di sana Juugo telah menunggu Sasuke. Di atas meja tampak kotak bento 4 susun berukuran sedang. Kotak bento itu dititipkan pada Juugo untuk diberikan kepada Uchiha Sasuke.
Juugo berlambai-lambai melihat kedatangan Sasuke. Sasuke tersenyum, lebih tepatnya tersenyum melihat kotak bento di atas meja. Dia rindu masakan koki di rumahnya. Selama 2 hari tinggal di asrama, Sasuke kesulitan untuk beradaptasi dengan makanan di kantin. Sasuke tidak suka melihat susunan lauk dan nasi yang ditumpuk menjadi satu di dalam kotak. Sasuke juga tidak terbiasa makan ditemani orang berisik seperti Naruto. Melihat itu semua, membuat nafsu makan Sasuke berkurang.
"Silakan, Sasuke-sama!", Juugo menarik kursi, mempersilakan Sasuke duduk. Sasuke langsung duduk tanpa berkata apa-apa. Juugo membantu Sasuke membuka kotak bento satu-persatu, menatanya dengan rapi.
Juugo berdiri di samping Sasuke, menunggui Sasuke makan.
"Juugo, duduk!", perintah Sasuke yang belum menyentuh makanannya.
Juugo bingung mau menurutinya atau tidak?
"Kita makan sama-sama", ajak Sasuke menunjukkan senyum manisnya, yang mampu menakhlukkan hati siapapun yang melihatnya.
"Ta, tapi... Sasuke-sama...",
"Jangan menolakku, Juugo", meskipun tersenyum, tapi nada bicaranya penuh penekanan. Juugo tahu bahwa Sasuke tidak suka penolakan, hanya bisa menututi keinginannya.
Mereka berdua makan dengan hening. Tidak ada pembicaraan kecil atau apapun, karena ada aturan di keluarga Uchiha yang melarang berbicara ketika makan.
Suasana yang tenang seperti inilah, membuat nafsu makan Sasuke bertambah. Dia akan merindukan moment seperti ini.
Bel panjang telah berbunyi, pertanda kelas telas usai, saatnya pulang. Ada yang langsung pulang ke asrama, ada juga yang menunggu jemputan. Fasilitas asrama hanya diperuntukkan bagi murid yang berasal dari luar kota atau jarak rumah yang terlalu jauh dari sekolah.
"Aku lantai 1 dan 2, kau lantai 3 dan 4", Naruto membagi tugas pada Sasuke.
"Kalau aku belum selesai, kau harus membantuku",
"Kau harus menyelesaikannya sendiri!",
"Kau tidak mau membantuku?",
"Selesaikan hukumanmu!",
"Kuusahakan",
"Gah! Kau menyebalkan seperti Nobita!",
"Apa maksudmu?",
"Uchiha Nobita!", Naruto menjulurkan lidahnya, mengejek Sasuke. Sasuke tidak terima dengan ejekan itu, membalasnya dengan melempari Naruto dengan penghapus papan tulis. Naruto dengan gesit menghindar.
"Jangan menghindar, Dobe!",
"Teme! Kalau aku tidak menghindar, aku akan kena!",
Sasuke ingin melempari Naruto lagi, tapi tiba-tiba pandangannya melihat sebuah meja yang miring, keluar dari garis ubin.
"Ah! Meja itu tidak sejajar", Sasuke langsung turun tangan membenahinya.
Naruto memijit dahinya, bagaimana jika saat memungut sampah nanti, Sasuke melihat banyak meja yang tidak sejajar?
"Kau lantai 4 saja. Selebihnya aku yang bereskan", saran Naruto.
Naruto bekerja dengan gesit, dia tahu bahwa Sasuke bekerja terlalu perfeksionis. Dia harus membantu Sasuke agar hukuman ini cepat selesai dan dia bisa pulang ke asrama bermain game online.
Sasuke menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai 4. Konon lantai ini merupakan lantai paling angker, tapi Sasuke tidak peduli. Uchiha tidak takut pada hantu.
"Sasuke-sama", panggil Juugo yang nyaris membuat Sasuke menjerit terkejut. Beruntung Sasuke adalah Uchiha yang minim ekspresi. Saat terkejutpun, wajahnya tetap datar.
"Kau belum pulang?", tanya Sasuke basa-basi sambil menenangkan detak jantungnya.
"Ada sedikit urusan",
Sasuke dapat melihat dengan jelas, sebuah kantung plastik hitam berukuran besar tersembunyi di belakang Juugo.
"Apa yang kau lakukan, Juugo?",
Juugo terpaksa jujur pada Sasuke. Juugo membantu Sasuke memunguti sampah dari kelas ke kelas. Dia tidak tega melihat Sasuke dihukum.
Sasuke menimang-nimang atas bantuan Juugo. Ditolak -sayang, diterima -dia akan dikira memanfaatkan Juugo. Menimang dan menimang kembali, akhirnya dia memutuskan untuk menerima bantuan Juugo.
Juugo senang -sangat senang, Sasuke menerima bantuannya. Jika Sasuke menolaknya, Juugo akan menyesal telah membiarkan Sasuke masuk ke kelas-kelas yang tidak rapi itu.
Juugo tahu bahwa Sasuke sangat tidak suka melihat hal-hal yang berantakan, termasuk meja yang tidak sejajar. Dan kalian tahu kan, apa yang akan dilakukan Sasuke?
Sesampainya di asrama.
Naruto melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak dengan rapi.
"Cuci kakimu, Dobe!", Sasuke mengingatkan Naruto dengan kebiasaan barunya itu. Sebelum masuk, harus cuci kaki. Sasuke tidak suka lantainya kotor dan berkuman.
"Iya, nyonya~", Naruto menurutinya.
Sekedar informasi, Sasuke tidak suka tidur di tempat tidur tingkat atas, terlalu tinggi dan terlalu dekat dengan langit-langit, membuat Sasuke tidak bisa tidur. Menjelang ingin tidur, Sasuke menurunkan kasurnya ke lantai. Tidur di lantai lebih nyaman. Naruto yang tidak ingin jatuh saat tidur, ikut menurunkan kasurnya dan berbaring di sebelah Sasuke.
"Pijat kakiku, Dobe!", perintah Sasuke yang telah mencuci kaki dan mengganti seragamnya dengan kaos dan celana pendek.
Sasuke duduk santai, menunggu Naruto memijatnya.
"Apa yang kau tunggu?",
"Pijat sendiri!", tolak Naruto melempar tasnya ke atas tempat tidur. Dia bukan babu!
"Kau tidak mau memijat kakiku, Dobe?", tanya Sasuke.
"Ti-dak-ma-u",
"Kau yakin?", Naruto bisa melihat aura kehitaman menguap dari tubuh Sasuke.
Sasuke berdiri dari tempat duduknya. Naruto mundur selangkah.
"Kau yakin tidak mau melakukannya?", Sasuke berjalan pincang menghampiri Naruto. Melihat cara berjalan Sasuke, menyadarkan Naruto bahwa kaki Sasuke bermasalah.
"A, aku akan memijat kakimu",
Sasuke tersenyum puas melihat kepatuhan Naruto, kembali dia duduk santai di kursi. Naruto duduk di lantai, bersiap memijat kaki Sasuke.
"Pakai ini", Sasuke memberikan sebotol lotion pijat pada Naruto.
Naruto mengambil botol itu, membuka dan menuangkan sedikit lotion ke kaki mulus tanpa bulu milik Sasuke. Ada luka lecet di pergelangan kaki kirinya, dan juga lepuhan di kedua telapak kakinya. Tuan muda ini tidak bisa berjalan jauh, tapi sok kuat di hadapan orang lain. Sasuke tidak mengeluh kakinya sakit, dia juga tidak meminta Juugo untuk menggendongnya. Dia tidak ingin orang lain menilainya manja, walaupun sebenarnya dia ingin dimanja.
Sambil menikmati pijatan Naruto, Sasuke membersihkan wajahnya dengan kapas dan pembersih wajah. Dia tidak suka debu menempeli wajah tampannya. Dia juga memakai pelembab yang membuat wajahnya segar dan clink-clink.
Sebagai balas jasa, Sasuke membersihkan wajah Naruto. Sasuke melakukannya dengan halus. Naruto dapat melihat wajah Sasuke yang begitu dekat. Hembusan nafas dari hidung mancungnya, bibirnya yang sedikit terbuka, rahangnya, lehernya, dan...dadanya yang rata. Membuat jantung naruto berdebar-debar. Tenggorokannya mendadak kering. Dia ingin menerkam Sasuke.
"Meskipun pelembab ini mahal dan tidak ada efeknya untuk wajahmu, aku akan mengolesnya sedikit", Sasuke mengoleskan pelembab mahalnya ke wajah Naruto.
Sapuan dingin yang menyejukkan di wajah, menyadarkan Naruto dari nafsu liarnya.
"Nah! Kau terlihat seperti 17 tahun, Dobe!", ucap Sasuke setelah menghilangkan kotoran yang menempel di wajah Naruto.
"Aku masih 15 tahun, Suke!", protes Naruto yang tidak suka dengan 'pujian' Sasuke.
Sasuke tertawa kecil menanggapi protesan Naruto. Dia senang menjelek-jelekkan Naruto. Naruto memang terlihat marah, tapi di dalam lubuk hatinya, dia bahagia. Naruto sangat menyukai senyum dan tawa Sasuke. Dia ikhlas lahir batin diejek oleh Sasuke, karena dia tahu wajahnya tidak semanis Sasuke.
Ingat! Hanya Sasuke yang boleh mengejeknya.
Terputus
Smakin menyebalkan kah sasuke?
Review ya 💋
