.
.
Annyoonghaseyouu aq update ni chingu ^O^
Selamat membaca...
.
Chapter title : Worth Keeping
.
.
Setelah malam itu, hari-hari selanjutnya Jaejoong jalani dengan penuh kebahagiaan. Yunho kembali seperti semula, menjadi namja yang periang. Mereka tidak lagi membahas tentang perjodohan itu. Jaejoong mempercayai apa yang Yunho katakan bahwa pilihannya adalah dirinya dan Yunho akan selalu berjuang untuk hubungan mereka.
Mereka selalu bersama setiap hari. Setelah selesai bekerja, Jaejoong akan pulang ke apartemen Yunho. Ia hanya pergi ke apartemennya untuk mengecek panggilan telepon dan mengambil beberapa pakaian. Setiap malam mereka tidur bersama. Semua yang mereka jalani sudah seperti pasangan suami istri.
Suatu malam, mereka duduk bersama di sofa yang Yunho letakkan di balkon. Bersantai sambil menikmati pemandangan malam kota Seoul. Jaejoong duduk dengan nyaman diantara kedua kaki Yunho sambil menyandarkan tubuhnya di dada Yunho. Lengan kekar Yunho melingkar disekeliling tubuh Jaejoong untuk memberikannya kehangatan.
"Yunnie, apa kau mencintaiku?" Tanya Jaejoong dengan pelan.
"Dengan sepenuh hatiku, baby." Jawab Yunho sambil mengeratkan pelukannya.
"Jinjja?" Jaejoong berbalik untuk menatap Yunho dan tersenyum ceria.
Yunho balas tersenyum. "Neomu saranghae, baby Jaejoongie." Bisik Yunho lalu mengecup dahi, hidung dan bibir Jaejoong.
"Apabila kita tidak bersama... eumm... apabila kita tidak saling mengenal. Apakah sekarang ini kau sudah menikah dengannya?" Tanya Jaejoong.
Yunho mendesah. "Mollaseo." Jawab Yunho malas. "Tetapi sepertinya mereka tidak akan memabawaku ke jenjang pernikahan secepat itu. Seperti yang terjadi pada eomma dan appa... mereka berdua berkenalan terlebih dahulu. Haraboji memberikan waktu kepada mereka untuk mengenal lebih jauh. Atau dengan kata lain mereka diberi kesempatan untuk saling jatuh cinta. Dan apabila semua itu tidak terjadi, maka setidaknya mereka bisa menjadi teman ketika menikah nanti." Yunho terdiam sejenak. Kemudian ia menambahkan. "Mereka memberikan waktu selama setahun sebelum pernikahan itu terjadi. Dan apa yang terjadi pada eomma dan appa? Mereka menikah hanya dalam waktu enam bulan saja."
"Enam bulan? Mengapa secepat itu?" Jaejoong penasaran.
Yunho tersenyum. "Karena appaku sudah tidak sabar untuk menikahi namja yang dicintainya. Ia melamar eomma setelah enam bulan mereka berkenalan. Dan eomma menerimanya. Begitulah takdir mereka dan sekarang mereka kira apa yang terjadi pada mereka akan berhasil juga padaku."
Jaejoong berbalik dan kembali menyandar pada dada Yunho. "Kau mempunyai waktu satu tahun untuk membuat calon istrimu jatuh cinta padamu?" Jaejoong merasakan dadanya seperti diremas ketika mengatakannya.
"Ne, dan apabila kita tidak saling mencintai setidaknya kita akan menjadi teman. Jadi pernikahan itu tidak akan berjalan buruk."
Jaejoong mendesah. "Dia pasti akan jatuh cinta kepadamu, Yun."
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?"
Jaejoong menatap Yunho dengan mata berkaca-kaca. "Karena kau adalah Jung Yunho." Ucapnya murung. Jaejoong sebenarnya bangga dengan Yunho dan statusnya. Tetapi dilain sisi ia tau, status akan menjadi faktor kehancuran hubungan mereka. "Atau kalau ia tidak memandang statusmu, ia akan jatuh cinta karena kau adalah namja dengan kepribadian baik. Apalagi disini..." Jaejoong menunduk dan menyentuh dada Yunho. "Apabila orang lain mengenal sisi terdalam dirimu dan hatimu yang luar biasa itu. Mereka akan jatuh cinta tanpa syarat kepadamu, Yun."
Yunho menatap Jaejoong tajam. "Tetapi Jung Yunho tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya, kepada siapapun!." Ucapnya mantap. "Hatinya sudah menjadi milik orang lain. Dan tidak akan ada yang dapat mengisi masa lalu dan masa depan seorang Jung Yunho selain orang yang sekarang memiliki hatiku." Yunho berhenti untuk mengambil nafas. Kemudian menambahkan. "Aku ingin kau mengingat itu, Kim Jaejoong." Lalu Yunho mencium bibir Jaejoong dengan penuh dan menggebu.
...
Kamis malam, seperti biasa Jaejoong pulang ke apartemen Yunho setelah bekerja. Ia menemukan Yunho sedang menerima telepon di balkon.
"Tidak!" Ucap Yunho dengan penuh penekanan. "Kau tidak bisa seperi itu padaku, appa!"
Jaejoong berhenti di ruang tamu dan mendengarkan Yunho berbicara. Yunho menghadap balkon sehingga ia tidak menyadari Jaejoong datang.
"Mengapa kau sangat tidak adil padaku?" Ucapnya dengan nada tinggi. "Kau mencintai eomma! Kau menikah dengan belahan jiwamu. Setiap pagi kau akan terbangun dengan orang yang kau anggap dunia disampingmu! Aku menemukan seseorang yang kuanggap duniaku. Aku serius appa. Aku tidak sedang bermain-main lagi kali ini. Appa... Aku mencintainya! Aku sangat mencintai kekasihku! Aku ingin menikahinya. Dan kau... " Yunho berhenti untuk mengambil nafas. "Arraseo! kau boleh tidak menganggapku lagi, mencoretku dari keluarga, itu terserah! Aku tidak akan pernah berubah pikiran dengan pilihanku!"
Yunho terdiam setelahnya, ia mendengar apa yang dikatakan appanya. Jaejoong melihat genggaman tangan Yunho pada ponselnya mengerat. Kemudian ia mendesah frustasi.
"Aku bisa menghidupi diriku sendiri! Seperti yang kau tau selama ini aku hidup mandiri dan menghasilkan uang dengan usahaku. Aku sama sekali tidak membutuhkan uangmu! Kekasihku orang yang sederhana. Dia tidak butuh hidup mewah seperti kehidupanmu. Dan aku sangat yakin aku sanggup memberikannya kehidupan yang nyaman dengan uangku sendiri."
Yunho terdiam lagi. Setelah beberapa menit, Jaejoong mendengar ia berkata,
"Oke! Aku akan pindah minggu ini!" Kemudian Yunho memutus sambungan teleponnya. Ia mengambil nafas dalam dan memukuli pagar balkon berulang kali.
Jaejoong menutup matanya sejenak. Ia merasakan kesakitan Yunho. Ia memilihnya, Yunho berjuang untuknya. Tetapi semua itu dengan perngorbanan yang sangat mahal. Keluarganya. Jaejoong tau, keluarga adalah segalanya untuk Yunho. Sebelum ia datang.
Jaejoong menghampiri Yunho dan memeluknya dari belakang. Ia menempelkan pipinya pada punggung Yunho.
Yunho mengambil nafas dalam lagi untuk meredakan emosinya. Ia lalu mengambil satu tangan Jaejoong dan menciumnya.
"Sekarang... aku sudah tidak diakui lagi oleh orang tuaku." Ucapnya lirih syarat dengan kesedihan dan kekecewaan.
Yunho membalikkan badannya untuk menatap Jaejoong. Air mata tidak berhenti mengalir di pipi Jaejoong. "Tidak Yun... seharusnya tidak seperti ini. Kau bisa memperbaiki..."
"Satu-satunya jalan untuk memperbaiki hubungan dengan orangtuaku adalah meninggalkanmu, baby. Dan itu sama sekali bukan pilihanku." Potong Yunho cepat.
"Tapi Yun... itu keluargamu."
"Dan kau adalah kehidupanku, Jaejoong." Ucapnya sambil menghapus air mata Jaejoong.
Kemudian Yunho menunduk dan mencium bibir Jaejoong dengan penuh.
Setelah beberapa detik, Jaejoong menarik dirinya "Yunho... apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" Tanya Jaejoong sambil menatap mata Yunho.
Yunho mendesah. "Sangat yakin, baby. Jangan bertanya apapun lagi. Karena tadi appa menyuruhku untuk keluar dari rumah, yang bisa aku pikirkan sekarang hanyalah bercinta denganmu. Aku menginginkanmu."
Tanpa peringatan dan respon Jaejoong. Yunho mencium bibir Jaejoong dengan penuh hasrat. Ia melingkarkan kaki Jaejoong disekeliling pinggangnya dan membawanya ke kamar, merebahkan Jaejoong di ranjang sambil melepaskan pakaian masing-masing. Tidak beberapa lama yang terdengar di ruangan itu hanyalah mereka yang mendesahkan nama satu sama lain.
...
"Itu tidak adil bagi Yunho hyung!" Komentar Changmin ketika Jaejoong menceritakan apa yang telah terjadi kepada kedua sahabatnya.
"Apa dia baik-baik saja, Joongie?" Tanya Junsu.
Jaejoong mendesah. "Dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Dia tidak ingin aku merasa sedih dan khawatir lagi. Tapi... aku tau ia memendam kesakitannya." Ucap Jaejoong sedih.
"Dia benar-benar mencintaimu, hyung."
"Ne, Minnie. Aku sangat bersyukur Yunho mencintaiku sebegitu besar. Tapi tetap saja aku merasa ini tidak benar. A...apa aku terlalu egois?"
"Ani. Ini bukan tentang keegoisan, Joongie." Jawab Junsu. "ini tentang kejujuran perasaan. Kalian saling mencintai. Dan berfikirlah kau telah menyelamatkan Yunho dari penderitaan seumur hidup menikah dengan orang yang mungkin hanya memanfaatkan kekayaan Yunho." Komentar Junsu.
"Aku tau Su-ie... aku akan melakukan apa saja untuk membuat Yunho bahagia." Ucapnya. "Tapi... bagaimana bila calon tunangan Yunho itu memang yang terbaik untuknya... bagaimana bila ia memang takdir Yunho."
"Yunho hyung bukan tipe orang yang percaya akan takdir, hyung." Timpal Changmin. "Ia lebih ke tipe orang yang menulis jalan hidupnya sendiri. Pilihannya sendiri. Dan itu kau, Joongie hyung. Jadi... jangan buat Yunho hyung menyesali keputusannya." Saran Changmin.
Jaejoong mengangguk lalu mendesah. "Huft, aku tidak habis pikir. Di jaman modern seperti sekarang perjodohan masih saja ada."
"Itu memang budaya orang-orang kaya, Joongie."
"Dan tentunya itu alasan mengapa orang kaya akan bertambah kaya, hyung." Ucap Changmin. "Orang tua Yunho hanya memikirkan bagaimana cara menambah kekuatan kekayaannya."
"Aku bertanya-tanya bagaimana perasaanya." Gumam Jaejoong. "Orang yang akan dijodohkan dengan Yunho. Apa ia merasa bangga atau tertekan karena perjodohannya."
Junsu dan Changmin menatap Jaejoong yang sedikit melamun.
"Hellow Joongie... semua tau siapa Jung Yunho. Namja idaman se-Seoul, seorang pewaris Jung Corp. Dan kau mengenalnya lebih baik dari kita. Bagaimana bisa ia tidak tertarik dengan Yunho. Ia tentu saja menanti perjodohan itu terjadi" Ucap Junsu.
Jaejoong merengut mendengar ucapan Junsu. "Beruntungnya dia berasal dari keluarga kaya raya." Ucap Jaejoong sedih. "Mungkin memang aku tidak cocok menjadi Mrs. Jung."
"Tapi kau akan berada di status itu, hyung. Ingat, seorang Jung Yunho telah memilihmu dan memberikan cintanya kepadamu. Lagipula kau mendengar ia serius ingin hidup denganmu, kan?"
Ya, Jaejoong mendengar Yunho akan menikahinya kemarin waktu ia berbicara dengan appanya. Ia memang tidak menanyakan secara langsung. Tapi apabila Yunho sudah mengatakan hal itu kepada appanya dan membuat dirinya dikeluarkan dari keluarga. Ia yakin Yunho serius ingin menikah dan hidup bersamanya.
Jaejoong mengangguk. "Aku percaya dengan Yunho. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah tetap berada disampingnya. Tapi aku akan tetap mendukung apapun keputusannya. Walaupun itu buruk bagiku." Ucap Jaejoong muram.
...
Hari-hari selanjutnya, terjadi perubahan pada diri Yunho. Ia menjadi lebih pendiam. Jaejoong berkali-kali mencoba untuk menghiburnya. Memang Yunho akan merespon dengan tersenyum dan tertawa bersamanya. Tapi Jaejoong bisa melihat dari sorot matanya, Yunho masih terluka karena orangtuanya. Dan itu membuat hatinya berkali-lipat lebih sakit.
Suatu malam, mereka berada di tempat tidur dengan saling berpelukan. Lengan Yunho mengunci tubuh Jaejoong erat. Hening, hanya suara detik jam melingkupi ruangan itu. Saat Jaejoong mendongak untuk menatap wajah Yunho. Ia menemukan namja itu melamun, menatap kosong satu arah.
"Yunnie, gwenchana?" Tanya Jaejoong sambil membelai pipi Yunho untuk mencari perhatiannya.
Yunho menunduk menatap Jaejoong dan tersenyum padanya. "Ne."
Jaejoong lalu membalikkan badanya untuk bertatapan dengan Yunho. Sehingga ia bisa menatap kedalam matanya.
"Yun... semua ini pasti berat untukmu. Mianhe..." Ucap Jaejoong lirih.
"Ania! Tidak perlu minta maaf. Kekasihku sama sekali tidak mempunyai salah apapun." Jawab Yunho tersenyum manis sambil membelai pipi Jaejoong.
"Tapi aku yang..."
"Sshh..." Yunho menempelkan jarinya dibibir Jaejoong. "Semua terjadi karena orangtuaku yang tidak berfikir luas dan terlalu memaksakan kehendaknya kepadaku. Sekarang dan seterusnya apabila aku harus memilih. Aku akan tetap memilihmu, baby."
Jaejoong tersenyum lalu mencium bibir Yunho lembut.
"Aku harap aku bisa meringankan rasa sakitmu, Yunnie. Aku tau kau sangat terluka. Aku tau ini sangat sulit bagimu."
Yunho mengeratkan pelukannya. "Hanya... tetaplah disisiku, Jaejoong. Kau adalah sumber kekuatanku. Apabila kau tidak disisiku sekarang, aku pikir aku tidak akan mampu menghadapi takdirku."
"Aku yakin waktu akan menyembuhkan semua luka, baby. Mungkin suatu hari, ketika mereka melihatku bahagia hidup dengan caraku sendiri. Hati mereka akan terbuka dan memaafkanku." Lanjut Yunho.
Jaejoong sangat berharap semua itu terjadi. Ia sebenarnya sangat tidak percaya Yunho menyerahkan semua yang ia punya untuk dirinya... untuk cinta mereka...
Jaejoong bahagia. Tetapi tidak dipungkiri, sebagian dirinya hancur. Tidak ada seorangpun yang bahagia memilih antara cinta dan keluarga. Tidak ada seorangpun yang bahagia berpisah dengan orangtua yang ia sayangi. Dan ia telah membuat Yunho mengalami semua itu.
Jaejoong menenggelamkan wajahnya didada Yunho ketika ia merasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia tidak ingin Yunho melihatnya menangis lagi. Ia ingin terlihat kuat untuk Yunho.
.
.
To Be Continued...
.
Mianhe baru bisa update kelanjutany ^^
Masih inget Fanfic ini kan? semoga masih, biar aq nulis kelanjutanny nda sia-sia...
Mianhe ya kalau chptr ini rasa 'yunjae'ny ga maksimal. soalny aq sejak terakhir update ga buka FFn sama sekali. Baca ff Yunjaepun nggak. Jadi kalau feelny hilang ya maklum...
Banyak yg tanya ini smpe chptr brp? yg jelas d novel asliny msh tersisa belasan chpter. Jadi ya segitu chingu^^
.
Gimana chpter ini chingu? Yunho udah diusir tuh sama appany^^
Apa hubungan mereka akan berjalan baik-baik saja?
Aq minta pendapatnya yaa ^-^
Chapter lanjutany dalam proses...
gidaryeo ne^-^
