[Chaptered]

Title : Mr. Simple and Mr. Perfect

Chapter : 4 / ?

By : Gatsuaki Yuuji

Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke

Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.

Genre : Humor, Shonen Ai

BGM : Piggy Dolls - Know Her


"Airnya sudah siap, Suke!", ucap Naruto yang baru saja menampung air hangat dan menaburkan beberapa bunga aroma terapi di bathtube untuk sang raja -Sasuke mandi.

"Hn", angguk Sasuke menyudahi membaca novel.

"Setidaknya ucapkan 'terima kasih'", cibir Naruto. Selama Naruto membantu Sasuke, belum pernah terdengar kata 'terima kasih' keluar dari mulut Sasuke.

"Kau mengharapkannya, Dobe?",

"Kau harus mengucapkan 'terima kasih' setelah menerima bantuan dari orang lain",

"Kau bukan orang lain, mengapa harus mengucapkan itu?",

Naruto tertegun mendengar ucapan Sasuke yang ada benarnya juga.

"Lalu? Kau anggap aku apa?", tanya Naruto malu-malu. Dia tahu bahwa Sasuke akan menjawab 'sahabat'. Atau mungkin bisa lebih dari itu.

"Babu", satu kata yang sangat menusuk terlontar dari mulut Sasuke.

"Teme!", Naruto ingin menjambak rambut pantat ayam Sasuke, tapi terhenti ketika melihat Sasuke tersenyum. Walaupun itu senyum mengejek, Naruto tetap menyukai senyum itu.

"Aku tidak mungkin menganggapmu babu -walaupun kau berpotensi",

Sasuke mengambil handuk kecil dan mengalungkannya ke leher Naruto.

"Kugosok punggungmu", ditariknya Naruto ke kamar mandi.

Naruto baru menyadari bahwa Sasuke lebih suka melakukan sesuatu untuk membalas bantuan yang diterimanya, daripada harus mengucapkan 'terima kasih'. Memang sih terkesan tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Kata 'terima kasih' sungguh sulit dilontarkan oleh seorang Uchiha.


Di kamar mandi.

Sasuke menggosok punggung Naruto dengan kuat sehingga tidak ada daki-daki yang menempel. Sasuke juga menyuruh Naruto menggunakan sabun dan shampoonya. Sasuke tidak suka aroma sabun dan shampoo yang dipakai Naruto. Dia tidak suka kamarnya beraroma lain, selain aromanya sendiri.

Setelah menggosok punggung Naruto, Sasuke melepas handuk kecil yang melilit di pinggangnya. Menampakkan bokongnya yang sexy, tapi sayang masih tertutup celana dalam berwarna biru gelap.

GLuuuuK

Naruto meneguk air liurnya melihat pemandangan indah itu. Secepatnya dia menyiram wajahnya dengan shower, mengenyahkan pikiran mesumnya untuk menepuk bokong sexy Sasuke.

Sasuke mulai masuk dan berendam di bathtube. Dia menyuruh Naruto untuk menyampoi rambutnya, mengoleskan cream rambut, lalu memijat-mijat kepala dan pundaknya, istilahnya creambath.

Tentu saja Naruto menuruti perintah Sasuke. Hitung-hitung sebagai balasan karena Sasuke telah menggosok punggungnya.

"Ahh~nnnh~ Nice Dobe~ nnnnh~", desah Sasuke menikmati pijatan Naruto di kepalanya.

Melihat dan menyentuh kulit Sasuke yang putih dan mulus, membuat Naruto mati-matian menahan nafsunya untuk tidak menggigit Sasuke. Ditambah lagi dengan desahan setan yang keluar dari mulut Sasuke. Benar-benar cobaan yang berat.

"Jangan mendesah seperti itu, Suke!", teriak Naruto dalam hati. Sasuke benar-benar menggodanya.

"Ce, ceritakan tentang keluargamu", Naruto harus membuat Sasuke berbicara agar berhenti mendesah.

"Kau tidak kenal keluarga Uchiha?", pertanyaan itu terdengar sombong, setidaknya desahan setan itu berhenti.

"Mereka bilang, kau anak menteri",

"Lalu? Kau takut berurusan dengan anak menteri ini?",

Aura hitam Sasuke mulai menguap. Dia tidak suka disebut sebagai anak menteri, walaupun kenyataannya memang seperti itu. Dia adalah anak bungsu dari Uchiha Fugaku, menteri pertahanan.

"Jujur, auramu sama menyeramkan dengan ibuku. Di rumah ada ibuku yang selalu marah-marah. Di asrama, ada kau yang menggantikan ibuku. Teman-temanku bilang, aku sungguh sial. Keluar dari kandang singa, malah masuk ke kandang buaya...ehehheehe...",

Kejujuran Naruto sangat menyinggung Sasuke. Sasuke berbalik dan mencengkram kuat rahang Naruto.

"Jadi maksudmu aku buaya?",

"I, itu hanya istilah, Suke...",

Sasuke masih belum melepaskan cengkramannya, tatapannya masih tajam menatap Naruto. Seperti ingin mencopot rahang Naruto lalu melemparnya ke tong sampah.

Naruto tersenyum kaku, mencoba untuk merangkai beberapa kalimat yang tidak menyinggung Sasuke. Tapi nihil. Dia tipe orang yang berbicara apa adanya.

Sambil berpikir, Naruto mengusap cairan cream yang mengalir dari rambut -nyaris mengenain kelopak mata Sasuke.

"Bo, boleh kupijat bahumu?", tanya Naruto berharap Sasuke melepaskan cengkramannya.

"Hn", akhirnya Sasuke melepaskan cengkramannya dan berbalik memunggungi Naruto.

"Kalau kau takut sekamar denganku, lebih baik kau pindah", ucap Sasuke datar.

"Ogah!", tolak Naruto keras, "Aku tidak takut padamu, seharusnya kaulah yang takut padaku!",

"Maksudmu?",

"Karena aku adalah kyuubi, siluman rubah berekor 9!", jawab Naruto dengan penuh percaya diri.

Sasuke berbalik menatap Naruto dengan tatapan 'situ waras?'

"Aku bisa menghisap darahmu sampai kering",

Rolling eyes.

"Lalu kucongkel jantungmu! ZaaP! Kumakan mentah-mentah!",

"Sepertinya kau butuh piknik, Dobe!",


Sebelum tidur, Sasuke menyemproti wajahnya dengan spray mahal, berguna untuk perawatan wajah di malam hari. Sasuke enggan menyemproti wajah Naruto karena itu percuma. Wajah Naruto tidak akan seputih wajahnya.

"Kau seperti ibuku -pesolek", ucap Naruto mengamati rutinitas Sasuke sebelum tidur. Memegang botol-botol cream berbagai warna dan ukuran yang tersimpan di dalam tas make up milik Sasuke. Naruto tahu bahwa sebotol cream itu harganya sangat mahal dan tidak dijual di Jepang.

"Dari siapa kau belajar berso...", Naruto meralat ucapannya ketika Sasuke meliriknya tajam, "Emm~ Maksudku, siapa yang mengajarimu perawatan wajah?",

"Kakakku",

"Kau punya kakak?",

"Hn",

"Kakakmu pasti cantik sepertimu",

Sasuke kembali mencengkram rahang Naruto. Sepertinya ucapan Naruto menyinggungnya. Naruto merutuk dalam hati, dia begitu mudah ceplas-ceplos.

"Aku tidak cantik. Aku tampan. Mengerti?", desis Sasuke.

"Me, mengerti", Naruto cemas pada rahangnya, ini sudah kesekian kalinya Sasuke mencengkram rahangnya ketika Naruto salah ucap. Dan rahang Naruto selalu menjadi sasarannya.

"Kau tampan, Suke. Tidak salah jika para siswi menyebutmu Mr. Perfect", bujuk Naruto.

Sasuke melepaskan cengkramannya. Mengemasi 'make up'nya dan memasukkannya ke dalam lemari.

"Satu lagi", Sasuke berbalik menatap Naruto, "Kakakku itu laki-laki",

"O, laki-laki ya... Pasti seTAMPAN dirimu",

"Hn. Tapi aku tetap yang paling tampan",

Selain menyemproti wajah, Sasuke juga selalu meminum obat tidur untuk mengatasi insomnia yang dideritanya.

"Apa harus minum obat?", tanya Naruto mencoba untuk mendekatkan diri lagi.

"Apa kau ingin melihatku tidak bisa tidur sepanjang malam?",

Naruto menggeleng cepat. Dia kasihan melihat Sasuke yang tidak bisa tidur semalaman, ditambah lagi harus bangun lebih pagi untuk berjalan kaki ke sekolah. Jika Sasuke sampai jatuh sakit karena kurang istirahat, dia akan berurusan dengan Juugo.

"Turunkan kasurku!", perintah Sasuke.

Naruto langsung menurunkan kasurnya dan Sasuke, lalu menatanya di lantai yang telah di pel bersih oleh Sasuke. Sasuke langsung berbaring dan menarik selimut.

"Kau sudah mengunci pintu?", Sasuke selalu mengulang pertanyaan yang sama sebelum tidur.

"Sudah",

"Oyasuminasai", ucap Sasuke memejamkan matanya.

"Oyasumi, Suke!", Naruto mematikan lampu, lalu ikut berbaring di kasur di samping Sasuke.

Meskipun lampu telah dimatikan, kamar tidak terlihat begitu gelap, karena lampu di teras masih menyala. Memanfaatkan cahaya itulah, Naruto dapat melihat sekitar.

Rutinitas Naruto sebelum tidur adalah memandangi wajah Sasuke.

"Si Mr. Perfect ini benar-benar cantik", guman Naruto terkesima melihat wajah tidur Sasuke seperti Snow White.


Di kelas.

Karena Sasuke tidak suka dengan hal-hal yang berantakan, maka Sasuke membuat beberapa peraturan kelas.

"Meja diatur sejajar dan tidak melebihi garis ubin. Dilarang mengotori lantai. Dilarang membuang sampah selain di tong sampah. Jaga kerapian dan kebersihan kelas. Jika ada yang melanggar peraturan ini, akan dikenakan denda 200yen!", Sasuke menjelaskan sebagian isi selebaran yang dibagikan ke teman-teman sekelasnya.

Naruto yang berdiri di samping Sasuke, hanya mengangguk-angguk sambil membaca peraturan itu.

Para siswi tidak serius mendengar penjelasan Sasuke, mereka malah terpesona mendengar setiap kata yang keluar dari bibir sexy Sasuke. Sedangkan beberapa siswa mendecak tidak setuju dengan peraturan Sasuke.

"Come on, peraturan macam apa ini?", seorangan siswa berambut perak bernama Sakon memprotes.

"Kita bukan anak TK lagi", sambung Ukon, adik kembar Sakon.

Pendapat si kembar dihiraukan Sasuke.

"Jika ada yang melanggar", Sasuke melirik Sakura dan Ino bergantian, "Yamanaka-san dan Haruno-san, sebagai bendahara, tolong pungut uang denda bagi yang melanggar aturan ini",

"Siap, Sasuke-sama!", hormat Ino, sedangkan Sakura hanya tersenyum jaim. Padahal inner Sakura sudah seperti Rambo yang mengokang bazooka.

Taptaptaptap

Jiroubo dan Kidomaru -teman segank si kembar- sengaja menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Sepatu kotor yang mereka kenakan, membuat jejak sepatu dan serpihan tanah di lantai.

"Lantainya kotor, ketua!", lapor Jiroubo dengan wajah tanpa dosa.

Tangan Sasuke mulai bergetar, menahan diri untuk tidak melempar Jiroubo dan Kidomaru keluar jendela.

"Mejamu miring, kak!", ucap Ukon sengaja menarik meja Sakon melebihi garis ubin dan tidak sejara dengan meja lainnya.

"Terima kasih, dik!", Sakon tersenyum, "Ah! Mejamu juga miring", Sakon mendorong maju meja Ukon. Sehingga tampak 2 meja yang keluar garis ubin.

Melihat tingkah si kembar, Jiroubo dan Kidomaru juga tidak mau kalah. Mereka mendorong asal meja mereka.

BRaaaaK

Sasuke sudah kehilangan kesabaran.

"Jangan menguji kesabaranku!", desis Sasuke menatap tajam mereka berempat. Seketika suasana menjadi dingin mencekam.

"Me, mejamu tidak rapi, kak", Ukon menggeser meja Sakon agar tidak melebihi garis ubin. Sakon, Jiroubo dan Kidomaru juga merapikan meja masing-masing. Diikuti oleh murid-murid yang lain. Mereka tidak ingin membuat sang anak menteri marah.

Melihat yang lain sedang berberes, otak genius Naruto bergerak, dia langsung mengambil sapu dari lemari, bermaksud untuk membersihkan kotoran di lantai. Tapi gerakan Naruto kalah cepat dari Sasuke yang sudah memegang sapu dan mulai menyapu.

Melihat sang ketua kelas menyapu, membuat para siswi kembali terpesona. Sangat langka, jika laki-laki mau melakukan pekerjaan bersih-bersih. Patut dijadikan suami!


Jam istirahat.

Seperti biasa, Sasuke menghabiskan jam istirahat bersama Juugo -sang sahabat.

"Ini dessert baru buatan Ayame-san", Juugo menyodorkan sekotak kecil puding vanila bertabur buah strawberry, "Jika Sasuke-sama menyukainya, Ayame-san akan membuatnya lagi",

Karena puding itu hanya 1 porsi, sehingga Juugo hanya memperhatikan Sasuke mencicipi puding itu dan berharap Sasuke menyukainya.

"Mmm~ Terlalu manis. Aku tidak suka", Sasuke meletakkan sendoknya di meja, lalu menutup kotak berisi puding itu.

"Untukku saja!", entah bagaimana caranya, Naruto muncul tiba-tiba dari belakang tanpa diketahui oleh mereka.

Naruto tanpa segan mengambil sendok bekas Sasuke, membuka penutup kotak, lalu melahap puding itu. Sasuke memilih untuk pergi daripada melihat cara makan Naruto yang membuatnya risih.

"Uzumaki-san, kau membuat Sasuke-sama tidak menghabiskan jus tomatnya", Juugo memegang sekotak jus tomat bekas Sasuke yang isinya masih lebih dari setengah. Biasanya Sasuke akan menghabiskan jus tomat kesukaannya itu hingga tetes terakhir.

"Mungkin Sasuke sudah kenyang", ucap Naruto yang sudah menyantap habis puding itu.

Naruto cemberut melihat kotak bento yang telah kosong. Bisa-bisanya Sasuke makan berduaan di sini tanpa mengajaknya. Padahal dia sibuk mencari Sasuke untuk mengajaknya makan di kantin.

"Senpai, kau tidak berpacaran dengan Sasuke kan?", tanya Naruto penasaran dengan kedekatan Juugo dengan Sasuke.

Juugo malah tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pundak Naruto.

"Sasuke-sama sudah kuanggap sebagai adikku",

"Adik atau raja?", pikir Naruto yang merasa jawaban Juugo salah.

Naruto ingin bertanya banyak hal tentang Sasuke, tetapi Sasuke datang kembali untuk mengambil jus tomatnya yang tertinggal. Ingat, Sasuke tidak pernah rela jika tidak menghabiskan jus tomatnya hingga tetes terakhir.


Di kelas.

"Ne, Sasuke-kun! Club mana yang akan kau ikuti?", tanya Ino mendekati meja Sasuke.

"Apakah club basket?", sambung Sakura yang ikut menimpali pembicaraan. Inner Sakura berharap agar Sasuke memilih club basket, karena Sakura akan mendaftar ke club tersebut.

"Aku memilih club sepak bola!", malah Naruto yang menjawab.

Sakura tersenyum tipis, dalam hati dia merutuki Naruto yang selalu merebut pertanyaan untuk dijawab Sasuke.

"Jangan basket! Club renang saja!", bujuk Ino yang ingin melihat Sasuke memakai celana renang yang ketat.

"Tidak basket. Tidak renang", tolak Sasuke datar.

Sasuke tidak suka basket, lebih tepatnya dia tidak suka bersentuhan dengan orang-orang yang bau keringat. Sasuke juga tidak suka renang, karena dia tidak bisa berenang.

"Bagaimana dengan club seni merangkai bunga?", datanglah seorang siswi bernama Hana memberikan brosur.

"Tidak", Sasuke menolak brosur yang disodorkan. Dia tidak suka bunga, karena yang suka bunga adalah perempuan.

Melihat cara penolakan Sasuke yang dingin, Naruto mengambil brosur yang disodorkan Hana sambil mengucapkan terima kasih.

"Kurasa merangkai bunga cocok untukmu, Suke", saran Naruto setelah membaca sekilas brosur itu. Hana tersenyum mendengar saran Naruto, sedangkan Sakura dan Ino melirik Naruto dengan tatapan 'Kampret lo, Nar!'.

Melihat tatapan Sakura dan Ino, Naruto langsung menambahkan.

"Basket juga bagus, karena kau tinggi. Mmm~ Renang juga OK karena kau suka warna biru. Air di kolam renang kan berwarna biru...ehehehe...",

"Tidak", Sasuke masih tetap pendirian.

"Bagaimana club musik dan paduan suara? Uchiha-san kan pintar bermain piano", seorang siswi yang lain ikut menawarkan.

"Tidak", Sasuke memang pintar bermain piano, tetapi dia sedang tidak ingin masuk ke club paduan suara karena pengalaman SMP dulu. Saat itu, dia mendaftar di club paduan suara karena ingin bermain piano. Tetapi tanpa diduganya, banyak siswi ikut mendaftar juga, sehingga club itu didominasi oleh siswi berisik yang mengidolakan dirinya. Karena tidak ingin mengganggu kegiatan, ketua club terpaksa mengeluarkan Sasuke dari club.

"Kau mau ikut club sepak bola bersamaku?", tanya Naruto.

"Tidak",

"Lalu apa, Suke? Karate? Judo? Atau ballet? Memasak? Menjahit? Salon?", tanya Naruto asal karena kesal pada jawaban 'tidak' dari Sasuke.

Sasuke menatap sinis Naruto, pertanyaannya itu sungguh tidak berbobot.

"Aku masuk club apa? Itu bukan urusan kalian", jawaban dingin Sasuke membuat semua para kepoers kecewa. Tetapi mereka tidak bisa membenci Sasuke, mereka tetap mengidolakan Sasuke yang cool terkesan misterius.

Sedangkan Naruto, menahan diri untuk tidak memiting leher Sasuke yang selalu bersikap tidak ramah pada perempuan.


Siang hari di asrama.

Merumpi bukan hanya dilakukan oleh para perempuan, tetapi bisa juga dilakukan oleh para laki-laki. Untuk mengisi kegiatan kosong karena kepergian Sasuke, Naruto berkunjung ke kamar tetangga. Dia berteman dengan siswa pecinta anjing bernama Inuzuka Kiba dan siswa pemalas bernama Nara Shikamaru. Baru beberapa hari bertegur sapa, mereka sudah tampak akrab. Tentu saja, karena mereka 'sejenis'.

"Aku punya beberapa ID. Tapi ID yang sering kugunakan adalah 'Kyuubi'", jelas Naruto saat mereka tengah membahas tentang game online.

"Uwo! Kyuubi? Yang peringkat 1 di server 7?",

"Iya, itu aku",

"Ck! Tidak kusangka kau si Kyuubi itu",

"Ehehehe...",

Naruto dan Kiba sama-sama menyukai dunia game, sedangkan Shikamaru lebih tertarik dengan dunia mimpi -tidur.

Kiba meminta Naruto menunjukkan cara tercepat menaikkan level skill character miliknya. Mereka bermain game online hingga langit berubah menjadi senja.


Saat mendapat panggilan telepon dari Sasuke, Naruto menyudahi permainannya. Naruto harus segera merapikan kamarnya. Naruto meminta Sasuke menghubungi ponselnya jika Sasuke sedang dalam perjalanan pulang menuju asrama. Sehingga Naruto punya waktu untuk berbenah.

Kiba mengikuti Naruto menuju kamarnya. Kiba menyadari bahwa dinding kamar Naruto berbeda dari kamar yang lain.

"Kamarmu berbeda",

"Ya begitulah. Sepertinya ini kamar tambahan. Atau mungkin, penghuni sebelumnya mewarnainya sendiri",

Kiba tidak mempermasalahkannya. Toh mau warna apapun, dinding kamarnya tidak akan terlihat karena tertempel poster-poster AKB48.

"Aku tidak menyangka kau tipe yang rajin bersih-bersih", ucap Kiba takjub melihat Naruto telah selesai melipat pakaian yang tercecer di lemari dan sekarang lanjut menyapu lantai yang kotor karena remahan roti yang dimakannya tadi.

"Sasuke tidak suka berantakan", jawab Naruto.

"Sasuke? Uchiha Sasuke si Mr. Perfect itu?",

"Hn",

"Aku tidak menyangka kau sekamar dengan siswa paling populer di sekolah", Kiba berjalan mendekati meja yang berisi buku-buku tebal dan berat, "Kau suka membaca rupanya",

"Buku-buku itu milik Sasuke. Sebaiknya jangan dibaca, karena itu akan membuatmu pusing"

"Ow", Kiba malah merasa penasaran dan ingin membuktikan ucapan Naruto.

Kiba menarik salah satu buku tebal yang tersusun di meja, membuka isinya lalu membacanya, siapa tahu buku itu mengandung bacaan dewasa.

Kiba mulai oleng saat membaca beberapa kata yang tertera di buku. Semua buku tebal yang tersusun rapi di meja itu adalah novel berbahasa Inggris.

"Pusing, pusing. Barbie pusing...", Kiba menutup cepat buku itu.

"Sudah kukatakan, jangan membacanya", Naruto meletakkan kembali buku itu ke tempat semula, "Buku-buku itu, tidak cocok untuk kita",

Naruto memang genius. Dia lebih suka bermain game untuk mengasah kemampuan berpikir daripada membaca buku-buku tebal berbahasa Inggris. Karena itu akan membuang banyak waktunya.


CeKLeeeK

Pinta kamar terbuka.

"Okaeri, Suke!", sapa Naruto saat Sasuke memasuki kamar. Naruto seperti seorang suami pengangguran yang sedang menunggu kepulangan sang istri dari bekerja.

"Mengapa bengong? Ucapkan 'tadaima' donk!",

"Mengapa kau mengucapkan 'Okaeri'?", Sasuke agak heran atas sambutan Naruto.

"Karena ini 'rumah' kita",

"Hn", guman Sasuke sambil menggantung tas belanjaan di gagang pintu, lalu ke kamar mandi untuk mencuci kaki.

"Jika ini rumahku, seharusnya kau mengucapkan 'Okaeri, Sasuke-sama'. Seperti itulah yang harus kau ucapkan saat menyambut kepulanganku", Sasuke mengajari cara orang rumah menyambut kedatangannya pada Naruto.

"Gah!", decak Naruto. Jika tahu seperti ini, Naruto tidak akan menyambutnya.

"Kau suka puding, Dobe?", tanya Sasuke.

"Suka", jawab Naruto malas sambil mengerucutkan bibirnya.

"Di kulkas, ada puding jeruk untukmu",

"Untukku? Benarkah?",

"Hn",

"Iyey! Thanks Suke!", Naruto melompat senang, bermaksud untuk berlari ke pantry yang terletak di sebelah tangga.

Sebelum Naruto pergi, Sasuke memperingatinya agar tidak salah ambil. Karena di sana ada dua jenis puding. Puding jeruk untuk Naruto dan puding tomat untuk Sasuke.


Di pantry.

Naruto tersenyum melihat 1 lusin puding yang menggugah selera, tersusun rapi di kulkas. 6 cup puding jeruk dan 6 cup puding tomat.

"Jatahmu hanya yang berlebel jeruk!", pesan Sasuke masih segar diingatan Naruto.

"Ternyata dia suka tomat", guman Naruto sambil terkiki geli.


Terputus


Review please 💋