.
Warning : Chapterny bikin baper, Kalimatny njelimet ^-^
Baca pelan-pelan lebih diutamakan...
.
Chapter Title : Parallel World
.
.
Siang hari berikutnya ketika Jaejoong pulang dari kantor, ia menemukan Yunho duduk di bangku yang ada di balkon. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres lagi pada diri Yunho. Dapat ia lihat Yunho terlihat sedang terhanyut dalam pikirannya. Seakan memikirkan sesuatu yang sangat berat. Dan ia sangat terkejut lagi melihat punggung Yunho yang bergetar. Ia menyadari Yunho sedang menangis dalam diamnya.
Jaejoong melihatnya dan ia bisa merasakan kesakitan Yunho. Rasa sakit yang selalu Yunho sembunyikan karena tidak ingin Jaejoong melihatnya. Dan kini hati Jaejoong seperti hancur berkeping-keping melihatnya.
Sekarang Jaejoong sadar, betapa egois dirinya terhadap Yunho. Ia telah membiarkan Yunho memilih sesuatu yang sangat sulit. Itu semua karena dirinya yang tidak menginginkan Yunho pergi. Semua akan lebih mudah apabila ia melepaskan Yunho dari awal.
Yunho memang memilihnya. Tetapi tampak jelas semua tidak sama seperti sebelumnya. Yunhonya tidak seperti dulu. Seperti kehilangan setengah dirinya. Kebahagiaannya seakan tidak lengkap lagi.
Tanpa sadar, air mata jaejoong jatuh membasahi pipinya. Ia menghapusnya dengan punggung tangan lalu menghampiri Yunho. Ia berlutut didepan Yunho yang sedang menunduk. Mengambil tangan Yunho dan menggenggamnya.
Jaejoong melihat kedalam mata Yunho yang kini memerah karena menangis.
"Yunnie..." Ucap Jaejoong lirih.
Yunho menyentuh pipi Jaejoong dan menatapnya. "Eommaku masuk rumah sakit, baby." Ucapnya.
"Apa?" Jaejoong terkejut.
"Eomma kecelakaan kemarin. Ia mulai minum beberapa hari ini. Dimulai sejak hari dimana appa menyuruhku untuk keluar dari rumah." Jelas Yunho dengan suara bergetar. "Eomma menjadi depresi. Saat menyetir tiba-tiba ia menabrak sebatang pohon besar. Eommaku tidak setangguh dirimu, Jae. Ia hanya namja kaya yang tidak pernah menghadapi cobaan hidup yang berat. Cobaan terberat baginya adalah ketika harabojiku meninggal dunia. Dan kini... mungkin karena aku meninggalkannya. Ia menjadi seperti ini."
Jaejoong mengangguk. "Yun.. sekarang, kau perlu pulang ke rumah." Ucap Jaejoong yang tidak tau bagaimana bisa ia mendapat kekuatan berkata seperti itu.
Yunho menatap Jaejoong lama lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak Jae! Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Yunho..." Bisik Jaejoong lembut.
"Dengarkan aku. Orangtuamu mencintaimu. Dia sudah berada disisimu sejak kau lahir. Merawatmu dan membesarkanmu." Jaejoong mengambil nafas dalam. "Kau tidak bisa pergi begitu saja dari mereka hanya untuk seseorang yang baru kau kenal beberapa bulan saja. Jika mereka memaksamu untuk menikah dengan seseorang yang tak kau cintai, maka buatlah mereka mengerti. Buatlah mereka mengerti mengapa kau kau tak ingin. Mengapa kau tak bisa. Tidak benar pergi meninggalkan mereka begitu saja... hanya karena kau bisa hidup mandiri dan tidak membutuhkan mereka lagi. Yun... mereka selalu ada untukmu dari semenjak kau kecil, dari kau yang tidak cukup kuat untuk menjalani hidup didunia ini. Sekarang saatnya kau membayar kembali mereka."
"Meskipun mereka memintaku untuk menyerah akan kebahagiaanku sendiri, Jae?"
Jaejoong mengangguk lemah. "Ne, meskipun itu menyakitkan." Ucap Jaejoong dengan suara bergetar.
Jaejoong memandang Yunho. Air mata jatuh bercucuran dipipinya.
"Mereka keluargamu, Yunh. Aku... aku akan memberikan segalanya untuk mendapatkan orangtua yang mencintaiku sama seperti orangtuamu mencintaimu."
Yunho mengacak rambutnya frustasi. "Jaejoong! Apabila aku kembali kepada mereka. Mungkin... mereka tidak akan mengijinkanku untuk kembali lagi padamu! Kau tau... ini pemerasan emosional."
"Tapi ia tetap eommamu. Kau pasti tidak ingin melihat eommamu seperti ini. Sakit karena pilihanmu."
Yunho memejamkan matanya. Mereka berdua jelas tau apa jawabannya.
Yunho membuka matanya dan menatap Jaejoong dalam. "Aku mencintaimu, Jaejoong."
Jaejoong tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Yunho." Balasnya.
"Kau tau, aku akan berjuang untukmu sampai akhir, kan?" Ucap Yunho.
Jaejoong mengangguk. "Aku tau. Tapi untuk kali ini... aku tidak menginginkanmu melakukan itu."
"Wae? Kau tidak ingin berjuang untukku?" Tanya Yunho dengan suara lemah.
"Aku terlalu mencintaimu untuk melakukan ini padamu, Yun. Aku terlalu mencintaimu untuk menjauhkanmu dari tempat dimana kau seharusnya berada... dari siapa dirimu sebenarnya. Mungkin takdir mengatakan aku memang bukan masa depanmu."
"Aku tidak percaya takdir, Jae!" Teriak Yunho.
"Tapi aku percaya. Aku rasa melawan takdir hanya membuat kita menyakiti orang-orang disekitar kita."
Yunho menangkup wajah Jaejoong dengan kedua tangannya.
"Aku tidak ingin melepaskanmu baby. Aku tidak ingin kembali pada mereka." Ucap Yunho dengan suara hancur. Air mata tidak berhenti mengalir dari matanya.
Air mata Jaejoong juga tumpah tidak bisa dibendung lagi. "Tapi kau harus melakukannya, Yunnie. Hiks... semua untuk kebaikan keluargamu."
"Oh, Jaejoongie... aku tidak bisa menerima takdir ini. Tidak bisa!"
Jaejoong menatap Yunho dan memberikan senyuman pahit. Ia mengambil nafas dalam dan mengumpulkan semua tenaga untuk mengatakan keputusan final yang ia yakin ini yang terbaik. "Aku benar-benar melepaskanmu, Yunho. Pergilah. Kau bebas untuk meraih takdirmu."
"Jebal... jangan lakukan ini." Ucap Yunho dengan nada kesakitannya. "Kau bilang kau mencintaiku."
"Aku mencintaimu maka aku melakukan ini. Karena aku tidak ingin kau terluka lagi. Aku tidak ingin kau mengalami kesulitan ini lagi. Aku tidak ingin kau kehilangan orangtuamu. Kau membuat pilihan yang sulit antara aku dan orangtumu. Sekarang... aku yang akan melakukannya untukmu, Yun." Jaejoong mengambil nafas dalam. "Kembalilah kepada mereka, Yunho. Aku tidak lagi mengklaim dirimu. Ini adalah keputusan yang tepat, Yun."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Jika memang tepat. Mengapa aku merasakan sebaliknya?"
Jaejoong meraih tangan Yunho dan menggenggamnya. "Yun... sudah saatnya kau mempercayai takdir. Kita tidak bisa egois lagi. Hanya akan menyakiti orang-orang disekitar kita."
"Jaejoong... aku rasa aku tidak akan pernah mencitai orang lain seperti aku mencintai dirimu sekarang."
Jaejoong tersenyum. "Aku akan selalu mencintaimu, Yunho." Bisiknya. Kalimat itu sekarang seakan menyakitkan untuk diucapkan. "Kau adalah seorang Jung. Kau tidak bisa menghapus itu. Tetapi jauh didalam dirimu, kau masihlah namja yang selalu aku cintai. Aku tau kau juga sama mencintaiku. Tapi kini saatnya kau meraih takdirmu Yun. Meskipun aku tidak dapat menjadi masa depanmu."
"No!" Ucap Yunho keras sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan berkata seperti itu! Kau adalah kehidupanku. Aku tidak akan berhenti mencintaimu!" Yunho meraup bibir Jaejoong dengan bibirnya. Menciumnya dengan penuh. Jaejoong menyambutnya, menikmati ciuman itu. Ia tau, mungkin mereka tidak mempunyai banyak ciuman untuk dilakukan.
"Tapi kau tetap tidak bisa mengingkari siapa kau sebenarnya. Dari mana kau berasal. Setidaknya... tanpa menyakiti seseorang yang kau cintai. Kau tidak menginginkan itu di masa depanmu kan? Apabila sesuatu yang buruk terjadi pada eommamu, apa kau bisa menanggung rasa bersalah itu seumur hidupmu?" Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak akan bisa. Semua itu akan merubahmu. Akan menghancurkanmu. Dan aku terlalu mencintaimu untuk membiarkanmu mengalami semua itu. Aku ingin kau bahagia, Yunho."
"Maka jangan melepasku." Ucap Yunho.
"Ani. Salah satu jalan untuk membuatmu bahagia adalah apabila kau bebas." Ucap Jaejoong lalu meraih wajah Yunho untuk menghapus air mata di pipinya. "Berikan calon istrimu itu kesempatan, Yunho. Mungkin... mungkin memang itu kebahagiaanmu, tetapi kau terus mengingkarinya. Mungkin dia dapat membuatmu bahagia lebih dari yang aku lakukan. Dan apabila ia tidak bisa, setidaknya kau mencoba. Itu akan membuat orangtuamu bahagia karena kau telah memberinya kesempatan. Jika perjodohanmu berhasil, maka bagus untukmu. Namun jika tidak, orangtuamu akan berterima kasih padamu karena kau lebih memilih mereka dari pada aku."
"Kau membuat pilihan yang akan menghancurkan kita, Jae!" Ucap Yunho marah.
"Yun... semua itu terbaik untukmu." Jaejoong menahan isakkanya. Semua yang ia katakan memang menyakitinya tetapi terbaik untuk Yunho.
"Dan bagaimana jika sampai akhir apa yang kau katakan itu tidak pernah berhasil?" Tanya Yunho.
Jaejoong tersenyum pada Yunho, lalu mencium bibirnya. "Maka kau kembalilah padaku, oke?"
Yunho memandang Jaejoong tanpa dengan raut wajah serius. "Apa kau akan menungguku?"
Jaejoong mengangguk mantap. "Pasti."
Yunho mendesah. "Kim Jaejoong, wae? Mengapa kau tidak keras kepala, egois dan bersikap posesif saja kepadaku? Mengapa kau tidak memintaku untuk selalu berada disisimu? Jika kau memintaku untuk membawamu pergi dari korea dan menikah sekarangpun aku akan kabulkan."
Jaejoong menangkup wajah Yunho dengan kedua tangannya. "Karena aku tidak ingin membuat semua ini sulit untukmu, Yun. Yang bisa kulakukan hanyalah membuat semua ini mudah. Sekarang kau mempunyai dua pilihan yang bisa kau lakukan. Dan keberadaanku hanya mempersulit keadaan."
"Tidak, Jaejoong! Tidak!" Yunho menggelengkan kepalanya. "Apa yang kau katakan hanya membuatku menyadari betapa aku sangat mencintaimu. Kau harus tau, hasil akhirnya jelas sembilan puluh sembilan persen aku akan kembali padamu."
"Kau bisa melakukan itu setelah kau mencoba pilihan itu, Yunho." Ucap Jaejoong.
Yunho mendengus kasar. Ia lalu mengambil tangan Jaejoong dan menciumnya lembut.
"Jaejoong... my baby..." Bisiknya. "Kau tau... aku sangat mencintaimu... Selamanya... dan selalu... hanya kau satu-satunya pemilik cintaku, hatiku, jiwa dan ragaku" Ucap Yunho sambil membawa tangan Jaejoong ke dadanya. Air mata Yunho mengalir membasahi pipinya.
Yunho membawa Jaejoong berdiri. Kemudian berkata. "Kali ini... bayangkan kita tidak memiliki masalah ini. Bayangkan orangtuaku memberiku kebebasan menentukan hidupku sendiri."
Jaejoong mengangguk menurut.
"Aku akan bertanya padamu. Dan kau harus menjawabnya dengan sejujur-jujurnya. Tidak ada alasan apapun. Hanya jawaban Ya atau tidak."
Jaejoong mengangguk lagi.
Yunho menatap intens mata Jaejoong. Lalu mengambil nafas dalam. "Kim Jaejoong... aku sangat mencintaimu. Dengan sepenuh hatiku. Aku tidak menginginkan orang lain selain dirimu dihidupku. Aku ingin hidup denganmu untuk selamanya. Aku ingin kau selalu berada disisiku. Aku ingin kau menjadi eomma dari anak-anakku." Yunho berhenti sejenak. "Kim Jaejoong... maukah kau menikah denganku?"
Jaejoong mengedipkan matanya terkejut. Apabila ini nyata ia akan menjadi orang paling bahagia di bumi ini. Pertanyaan Yunho hampir membuatnya memekik dan melompat kegirangan. Tetapi ia tau... semua itu mustahil terjadi saat ini. Menginat itu, hati Jaejoong seakan remuk berkeping-keping.
Jaejoong menatap Yunho dengan air mata berlinang. "Ya, Yunho. Aku mau."
Yunho tersenyum kepada Jaejoong. Tapi senyuman penuh syarat kesedihan. Karena mereka berdua tau, semua ini hanya bisa terjadi didalam mimpi sekarang.
Yunho memajukan wajahnya dan mencium Jaejoong dengan penuh perasaan cinta. Dan ciuman itu berkembang menjadi ciuman penuh gairah dan kebutuhan. Semua perasaan mereka tuangkan dalam ciuman itu. Yunho melingkarkan kaki Jaejoong ke pinggangnya dan membawanya ke ranjang.
Jaejoong terhanyut dalam diri Yunho dan sebaliknya. Yunho mencium setiap inci kulit Jaejoong. Menghirup sepuas-puasnya aroma Jaejoong. Tak lama ruangan itu dipenuhi dengan desahan dan erangan mereka. Mereka membiarkan gairah dan cinta menguasai diri mereka. Tidak peduli apapun. Tidak memikirkan apapun. Hanya mereka berdua. Mereka sangat menikmati moment bercinta kali ini... kerena mungkin... ini akan menjadi yang terakhir kalinya...
...
Jaejoong terbangun lebih awal pagi harinya. Ia menulis surat untuk Yunho. Hal yang paling menyakitkan yang pernah ia tulis. Ia terus berusaha menahan air matanya ketika menulis surat itu.
.
.
Yunnie,
Jika kita hidup di dunia ideal yang kita inginkan, pertama kali ketika aku membuka mata. Hal yang akan aku lakukan adalah mengambil ponsel, dan menelepon sahabat-sahabatku. Berteriak kepada mereka bahwa "Jung Yunho melamarku! Aku kini telah bertunangan!"
Kemudian aku akan pergi mandi, dan berharap kau mengikutiku. Setelah itu aku akan pergi ke toko buku untuk membeli setiap majalah pernikahan yang bisa kutemukan. Setelahnya aku akan pergi ke Starbucks dan membaca majalah itu satu persatu. Menandai dengan kertas kecil bewarna setiap hal-hal yang menarik kutemukan.
Tetapi sayangnya kita tidak hidup di dunia itu. Kita hidup di dunia paralell yang gila. Dan didunia ini, yang bisa kulalukan ketika ku membuka mata adalah memandangi wajah tampanmu... menghafalnya setiap inchi demi inchi. Lalu aku akan mencium bibirmu, menghirup aromamu, yang aku yakin tidak akan pernah bisa kulupakan. Kemudian aku akan mendekatkan bibirku ditelingamu dan berkata di dalam tidurmu bahwa "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan karena aku mencintaimu aku akan melepasmu. Dan jika kau menemukan keajaiban yang bisa membuat kita bersama... maka aku berjanji. Aku akan kembali padamu... dan tidak akan pernah melepasmu lagi."
Aku ingin kau tau. Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menghadapi semua ini. Karena kau mengajariku untuk mencintai diriku sendiri, kau mengajariku untuk menjadi menjadi namja yang kuat lebih dari diriku yang sebelumnya.
Jangan berfikir kau menyakitiku karena kau akan meraih takdirmu. Jika takdir itu memang membuatmu bahagia denganya. Maka kau harus tau, aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini untukmu. Karena aku mencintaimu. Aku tidak bisa egois. Apapun yang membuatmu bahagia, aku juga akan bahagia.
Dan jika semua sudah kau lakukan dan tidak berjalan dengan baik. Maka kembalilah padaku. Dan jika kau bertanya lagi pertanyaan itu, jawabanku akan tetap sama. Aku berjanji akan mencoba yang terbaik untuk membuatmu menjadi suami paling bahagia didunia ini.
Aku tidak akan pernah berdoa untuk hal terburuk, Yunnie. Aku akan berdoa hanya untuk kebahagiaanmu.
Mr. Jung Yunho aku sangat mencintaimu... kau akan selalu berada dihatiku selamanya. Aku tidak akan pernah melupakanmu...
Saranghae,
.
Your baby, Jaejoongie...
.
...
Jaejoong meninggalkan apartemen Yunho dengan berat hati, namun disisi lain ia merasa apa yang dilakukannya itu sudah benar. Ia percaya satu-satunya cara untuk membuat diri mereka bahagia sekarang hanyalah apabila mereka berpisah dan Yunho berdamai dengan orangtuanya.
Jika suatu hari mereka bertemu lagi dan Yunho telah terbebas dari kewajibannya, tanpa ragu ia akan menerima Yunho kembali. Karena didalam hatinya, Jaejoong tau, ia tak akan pernah mencintai orang lain seperti ia mencintai Yunho.
Semua yang Jaejoong katakan pada Yunho memang berasal dari dalam hatinya. Memang berat dirasa Jaejoong melepaskan Yunho. Ia mengambil resiko yang amat besar. Mungkin saja Yunho tidak bisa meyakinkan orang tuanya dan tidak akan pernah kembali padanya. Mungkin saja Yunho memang berjodoh dengan calon tunangannya itu.
Apapun yang akan terjadi, Jaejoong akan menerimanya. Seperti yang ia katakan, jika Yunho bahagia ia akan bahagia...
.
.
Cie...cie... TBC.. T_T
.
Annyonghaseyuu... chingu-yaa...
Heeuuuu... akhirnyaa, Yunjae broke up... wkwkwkk...
Kalian pusing ga sama kalimatnya? Kalo aq sih pusing. Soalny banyak yg ga kumengerti kalimat inggrisny jadi nulisny ke bahasa indonesia susah. Maklum ya...
Yaa... sekali lagi jangan protes tentang karakter yaahh.. dr chpter ini JJ terlihat lemah. Ntar chpter slanjutny jg. Ya mau gmana lagi ini cuma remake chingu... karakter JJ y sama d novel. ga bisa ubah2 sembarangan nanti ceritany juga berubah. Aku buat apa adanya aja yaa...
Saranku, kalo baca FF ya sebisa mungkin jangan samakan karakter d FF sama didunia nyata... kalo aq ntar jadi stress sendiri. Wkwkwk...
.
.
Gimana tanggapannya chapter ini chingu? Sedih ga? kalau aq baca novelny sih baper. Wkwkwk...
Jaejoong berhati besar merelakan Yunho pergi... hikss...
Aku suka kalimat JJ yg ini deh " Karena aku mencintaimu. Aku tidak bisa egois. Apapun yang membuatmu bahagia, aku juga akan bahagia"
Pokokny JJ tuh mementingkan kebahagiaan Yunho. karena kebahagiaan Yunho adalah kebahagiaanny jg. Tapi mempertahankan Yunho sekarang pun ga bisa membuat Yunho bahagia. Karena masalah orang tua Yunho. Jd JJ minta Yun menyelesaikan dulu masalah orangtua termasuk perjodohanny. Apabila memang takdir Yunho adalah jodohny itu, JJ akan menerima dan bahagia untuk Yunho. Tapi kalau semua usaha Yunho tidak berhasil, Jj akan dengan senang hati menerima Yunho kembali.
.
Okey... Pendapatnya ya chingu...
Oh ya makasii semuany yg masih mendukung FF ini ^^, bnyk reader baru juga, seneng dehhh...
Calanghae ^O^
