[Chaptered]

Title : Mr. Simple and Mr. Perfect

Chapter : 5 / ?

By : Gatsuaki Yuuji

Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke

Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.

Genre : Humor, Shonen Ai

BGM : Piggy Dolls - Know Her


Malam hari di kamar 19C.

CeKLeeeeK

Pintu kamar mandi terbuka dan tertutup kembali, menandakan Sasuke baru saja selesai mandi.

Hidungnya tiba-tiba mengendus bau aneh yang tidak disukainya. Ternyata Naruto sedang menyantap ramen cup sambil bermain game online.

"Apa yang kau lakukan, Dobe!",

"Aku sedang online, Suke", jawab Naruto yang fokus pada layar laptop.

"Apa yang kau lakukan, Dobe!", Sasuke mengulang kembali pertanyaannya, kali ini penuh dengan penekanan. Itu menandakan bahwa Sasuke butuh jawaban lain.

"Aku sedang makan, Suke! Apa kau tidak lihat?", dengus Naruto yang konsentrasinya mulai terganggu.

Sasuke berjalan cepat, kemudian menggebrak meja tempat Naruto meletakkan laptopnya.

BRaaaaK

Gebrakan itu nyaris membuat Naruto menumpahkan ramen cupnya.

"Teme!", Naruto tidak terima dibuat kaget oleh Sasuke.

"Aku tidak suka baunya! Makan di luar!", perintah Sasuke sambil menutup mulutnya dengan handuk.

"Tunggu sebentar, Suke! Tinggal 1 suapan lagi!",

Naruto berniat memakan ramennya, tapi Sasuke malah menyeret kursi yang masih didudukinya beserta dirinya ke luar kamar.

"Makan di luar!", perintah Sasuke sebelum menutup pintu dengan kuat.

Naruto mematung menatap pintu kamar. Dia seperti seekor kucing yang didepak majikan karena mencuri ikan.

Sementara itu, Sasuke menyemprot pengharum ruangan untuk menghilangkan bau ramen. Sasuke juga mengepel lantai yang terkena tumpahan kuah ramen saat dia menyeret Naruto tadi.

"Ck! Dobe itu!", dengus Sasuke yang membersihkan tumpahan kuah ramen di meja dan laptop.

"Kamar bukan tempat untuk makan!", teriak Sasuke kesal melihat ulah Naruto yang selalu mengotori kamar.

"Miaw~", Naruto yang ragu memasuki kamar setelah mendengar teriakan Sasuke, hanya bisa menggaruk-garuk pintu sambil mengeong seperti kucing. Naruto menyadari kesalahannya, dia lupa bahwa Sasuke melarangnya untuk makan di kamar, karena itu akan mengotori kamar dan mengundang semut atau binatang kecil lainnya.


Akhir pekanpun telah tiba. Naruto bersiap untuk pergi bersenang-senang bersama Aburame Shino -teman lamanya. Kiba dan Shikamaru juga diajaknya. Naruto juga mengajak Sasuke, tapi sayangnya Sasuke sudah ada janji dengan sang kakak.

"Aku tidak suka jaket itu", Sasuke memandang sinis jaket kusam yang dikenakan Naruto. Jaket itu berwarna orange yang mulai memudar dan juga ada beberapa lubang di ketiak dan punggung. Sasuke sangat sangat tidak suka melihat jaket yang tidak sempurna itu.

"Aku sangat suka jaket ini", Naruto malah memeluk erat tubuhnya yang terbalut jaket.

"A-ku ti-dak su-ka!", ulang Sasuke penuh penekanan.

"A-ku sa-ngat su-ka!", balas Naruto.

"Lepaskan sekarang!",

"Ti-dak!",

Sasuke berjalan mendekati Naruto, menarik paksa jaket itu. Naruto mempertahankan jaket kesayangannya agar tidak direbut oleh Sasuke.

"Lepaskan jaket itu, Dobe!",

"Tidak! Ini jaket kesayanganku! Menyingkir dariku, teme!",

"Lepaskan dulu, lalu aku akan menyingkir jauh darimu!",

"Mau kau apakan jaketku?",

"Tentu saja mau kubuang! Itu jaket terjelek yang pernah kulihat! Tidak layak pakai!",

"Teme! Kau gila! Jaket itu pem...",

Belum sempat Naruto selesai berbicara, Sasuke mencengkram kuat rahang Naruto. Kedua oniks matanya menatap tajam.

"Kau bilang aku gila?", desis Sasuke.

Naruto menepis kuat cengkraman Sasuke, kemudian berbalik mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Sasuke. Sikap Sasuke kali ini, benar-benar membuat Naruto marah. Sasuke tega mengatakan jaket pemberian mendiang sang neneknya itu jelek dan tidak layak pakai.

"Ya! Kau gila, Suke!", teriak Naruto di wajah Sasuke.

"Jaga ucapanmu, Dobe!", Sasuke berniat mencengkram rahang Naruto, tapi gerakan tangan Sasuke terbaca. Naruto menarik kuat tangan kanan Sasuke dan memelintirnya ke punggung Sasuke.

"Ugh!", Sasuke meringis kesakitan, dia mencoba untuk melepaskan kuncian Naruto. Tapi tenaga Naruto lebih kuat, sehingga Sasuke hanya bisa melempar tatapan tajam, "Kau berani melawanku, Dobe?",

"Tentu saja! Kau pikir aku takut, hanya karena kau anak menteri? Hah! Dasar anak menteri yang menyebalkan!",

Ucapan Naruto benar-benar membuat Sasuke marah. Sasuke mengerahkan seluruh kekuatannya, membenturkan keningnya ke hidung Naruto, tidak peduli keningnya berdenyut nyeri.

Naruto meringis kesakitan sambil memegang hidungnya. Sasuke berhasil lepas dari kuncian Naruto. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas ucapan Naruto yang menyakiti hatinya, Sasuke menarik lengan Naruto, mengangkat dan membanting tubuh Naruto ke lantai.

"Och!", Naruto tidak menyangka Sasuke sekuat ini.

Baru saja dia merasakan nyeri di punggungnya, tiba-tiba sebuah tangan mencengkram kuat rahangnya. Naruto dapat merasakan kuku-kuku Sasuke menancap kuat di kulitnya.

"Aku memang anak menteri, tidak perlu kau pertegas!", desis Sasuke.

Kilatan kemarahan sepasang oniks yang berbeda dari yang dilihat Naruto setiap hari. Naruto sangat tidak suka melihat mata Sasuke yang seperti itu. Mata yang memancarkan kemarahan sekaligus kekecewaan.

Sasuke melepaskan cengkramannya dari rahang Naruto. Dia melepaskan kemejanya yang lecek dan menggantinya dengan kemeja yang rapi. Kemeja yang lecek itu, dilemparnya dengan kesal ke keranjang yang berisi pakaian kotor.

Naruto hanya terdiam menyandarkan diri di kaki meja. Lebih memilih untuk menatap lantai ketimbang bertatapan dengan Sasuke.

Setelah merapikan diri, Sasuke pergi meninggalkan Naruto tanpa berkata apa-apa.

Tanpa diduga, Kiba dan Shikamaru mendengar keributan yang terjadi di kamar 19C.

"Kalian berkelahi?", tanya Kiba kepo.

Naruto berdiri merapikan penampilannya. Meskipun diseruduk dan dibanting Sasuke, tubuh Naruto sudah tidak sakit lagi. Naruto memiliki tubuh yang tahan banting.

"Dia sungguh menyebalkan!", dengus Naruto.

"Semua anak laki-laki akan berkata seperti itu", ucap Kiba yang merasa bahwa Uchiha Sasuke itu memang menyebalkan. Bagaimana tidak, setiap hari yang dibicarakan oleh anak perempuan di kelasnya hanya si Mr. Perfect itu.

"Apa dia teman sekolahmu dulu?", tanya Shikamaru.

"Tidak. Aku baru mengenalnya saat di asrama ini",

Shikamaru mengangguk sambil memperhatikan lingkungan sekitar yang tampak begitu bersih dan teratur. Jika saja kamarnya serapi ini, dia bisa bebas tidur dimanapun.

"Kalian berkelahi karena masalah apa?", tanya Kiba yang selalu ingin tahu.

"Sasuke tidak suka jaketku", jawab Naruto berekspresi seperti seorang bocah mengadu pada orang tuanya.

Kiba dan Shikamaru langsung menglihkan perhatian mereka menuju jaket yang dikenakan Naruto.

"Untuk kriteria si Mr. Perfect, jaketmu terbilang dekil dan jelek", pendapat Shikamaru diikuti anggukan dari Kiba.

"Ini jaket kesayanganku, pemberian mendiang nenekku", lirih Naruto.

Shikamaru dan Kiba merasa bersalah telah menghina jaket Naruto. Segera mereka meminta maaf. Naruto tercengir memaklumi ketidaktahuan kedua teman barunya itu.


"Ck! Dasar Dobe!", Sasuke memijat-mijat keningnya yang masih berdenyut. Sasuke berjalan meninggalkan asrama, saking cepatnya dia berjalan, tanpa sadar dia menubruk seseorang.

"Seorang Uchiha tidak pernah menunduk saat berjalan", ucap sosok yang ditubruk Sasuke.

"Nii-sama", panggil Sasuke menyadari sosok itu adalah sang kakak yang bernama Uchiha Itachi.

"Kau terluka?", Itachi melihat kening Sasuke yang memerah.

"Hanya terbentur",

Itachi mengusap-usap kening Sasuke sambil merapalkan mantra, "Sakit, sakit, terbanglah! Fiuw~",

Sasuke hanya mendengus karena Itachi masih memperlakukannya seperti balita.

"Saat adik tercintaku ini sakit, aku juga bisa merasakannya",

"Nii-sama, aku sudah besar. Jadi, semua rasa sakit yang kualami adalah milikku sendiri",

"Duh, duh, duh! Adikku ini sudah besar!", Itachi mencubit gemas pipi Sasuke.

"Meskipun kau sudah beranjak dewasa dan menua sekalipun, aku akan selalu ada untukmu", Itachi merangkul pundak Sasuke, "Ayo, kita shopping!",

"Nii-sama, bagaimana kau bisa masuk? Bukankah selain penghuni asrama, orang asing dilarang masuk?",

"Ah, itu...",

Tanpa menunggu jawaban Itachi, Sasuke sudah mendapat jawaban sendiri. Itachi pasti menyogok penjaga asrama.

"Lain kali, tunggu aku di gerbang utama saja. Aku bisa berjalan dengan Manda",


Setelah bertemu dan puas bermain di billiard center, Naruto, Kiba, Shikamaru, Shino dan Rock Lee -teman sekelas Shino- pergi mengisi perut di food court terdekat. Sambil menyantap makan siang, mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal. Dimulai dari game yang sedang mereka mainkan, lalu mengeluh tentang orang tua yang bawel, dilanjutkan dengan gosip sekolah, hingga tersinggung sebuah nama Uchiha Sasuke.

"Serius? Kau sekamar dengan anak itu?", tanya Rock Lee, pemuda berambut hitam jamur dengan alis mata yang super tebal. Shino mengajak Rock Lee, karena Rock Lee seorang gamer juga.

"Hn", angguk Naruto, merasa malas untuk membahas tentang Sasuke.

"Kau harus hati-hati dengan anak itu. Anak menteri itu sangat menyebalkan. Jika kau menyakitinya, maka masa depanmu akan dibuat hancur oleh keluarganya", pesan Rock Lee yang membuat kening keempat temannya mengernyit.

Uchiha Sasuke adalah lulusan terbaik dari SMP Kurokin. Rock Lee juga berasal dari SMP Kurokin. Meskipun tidak pernah sekelas dengan Sasuke, tapi Rock Lee tahu seperti apa Uchiha Sasuke itu?

Rock Leepun mulai bercerita.

"Ada 3 siswa yang pernah berteman dengan anak itu. Entah kesalahan apa yang dilakukan ketiga siswa itu, hingga membuat anak itu marah dan memukul mereka. Terjadilah perkelahian yang menghebohkan. Berkat kekuasaan keluarga Uchiha, ketiga siswa itu dikeluarkan dan diblacklist, sehingga tidak ada satupun sekolah yang mau menerima mereka",

Kiba dan Shikamaru tidak menyangka, power Uchiha sekuat itu. Sedangkan Naruto penasaran tentang alasan Sasuke memukul ketiga temannya itu.

"Dia suka mempermasalahkan hal yang kecil. Dia suka melakukan sesuatu dengan sangat detail. Pokoknya di mata kami, dia aneh. Karena insiden itu, tidak ada yang mau berteman dengannya, kecuali beberapa siswi penjilat yang genit dan tidak tahu malu. Mereka terlalu berharap untuk bisa menjadi pacar anak itu",

Naruto menahan diri untuk tidak memotong cerita Rock Lee.

"Uchiha itu sangat sangat menyebalkan. Dia sombong, tidak beradab, sok berkuasa, suka mencari perhatian. Wajar saja, dia kan anak menteri",

SReeeT

Naruto berdiri sehingga kursinya bergeser kuat. Tatapannya menatap tajam ke arah Rock Lee.

"Sasuke memang menyebalkan. Dia memang anak menteri. Tidak perlu dipertegas!", desis Naruto yang mengutip kalimat yang pernah diucapkan Sasuke. Naruto seolah-olah sedang berada di posisi Sasuke.

Shino ikut berdiri untuk memijt-mijat pundak Naruto.

"Santai saja, bro", bisik Shino menenangkan Naruto. Shino tidak ingin terjadi perkelahian antara Naruto dan Rock Lee.

Naruto tidak bisa santai, karena cerita Rock Lee terlalu menyudutkan Sasuke.

"Maaf jika ucapanku menyinggungmu", Rock Lee menunduk hormat pada Naruto, "Tapi, yang kuceritakan ini adalah fakta yang telah terjadi",

"Kurasa, kata 'tidak beradab' itu tidak cocok untuknya", Shikamaru mengeluarkan pendapatnya, dia merasa ucapan Rock Lee terlalu berlebihan.

"Hn!", angguk Kiba sependapat dengan Shikamaru, "Aku belum pernah melihat si Mr. Perfect itu melakukan hal yang seronok dan memalukan",

"Kalian belum terlalu mengenalnya", pembelaan Rock Lee tidak ingin disangka pembual, "Come on! Aku hanya menyampaikan apa yang kudengar",

"Apa kau pernah berteman dengannya?", tanya Naruto menimpali.

"Tidak ingin. Berteman dengannya terlalu beresiko", Rock Lee menjawab apa adanya. Itu membuat Naruto geram. Tapi Naruto berusaha untuk tidak marah. Bagaimanapun juga Rock Lee adalah temannya sekarang.

"Cobalah berteman dengannya, dia tidak seperti yang kau dengar", hanya kalimat itu yang terucap oleh Naruto.

Kalimat itu bukan hanya ditujukan untuk Rock Lee, tapi untuk dirinya juga. Naruto tahu bahwa Sasuke memang menyebalkan, egois, cuek, dan bossy. Tapi Naruto juga tahu bahwa Sasuke begitu memperhatikannya -gemar mengkritik. Sasuke tidak pernah membencinya, meskipun Naruto sering membuatnya marah. Sasuke dengan kesempurnannya, keunikannya dan ketampanannya, tidak seharusnya Naruto memusuhi makhluk langka seperti Sasuke.

"Aku ingin berteman dengan anak itu. Next time, ajak anak itu ya!", pinta Shino merasa tertarik dengan anak yang mereka bicarakan itu.

"Hn! Pada pertemuan berikutnya, aku akan mengajaknya", janji Naruto pada Shino.


"Ck! Dobe memang menyebalkan!",

"Pulang nanti aku harus bagaimana menghadapi Dobe?",

"Bagaimana kalau Dobe membenciku?",

"Aku tidak salah. Dobelah yang salah. Jaket dekilnya membuatku risih. Seharusnya dia menuruti perintahku, tapi dia malah melawanku",

"Dobe pasti salah makan, sehingga dia berani melawanku",

"Puding jeruk. Dobe suka itu",

"Nii-sama, aku mau beli puding dulu", Sasuke langsung masuk ke toko puding yang dilewatinya.

Itachi memijit keningnya. Membaca pikiran Sasuke membuatnya pusing.

"Siapa Dobe itu?", guman Itachi penasaran pada sosok 'Dobe' yang bergentayangan di pikiran Sasuke.

Tak lama kemudian, Sasuke keluar dari toko tanpa membeli apapun.

"Kau tidak jadi beli?",

"Tidak jadi", jawab Sasuke singkat.

"Dobe jahat padaku, untuk apa aku harus memberinya puding?",

1 detik.

2 detik.

5 detik.

"Tapi, Dobe suka puding jeruk",

Akhirnya Sasuke masuk kembali ke toko untuk membeli puding jeruk. Itachi semakin dibuat penasaran dengan sosok Dobe yang berhasil menarik perhatian sang adik. Sosok Dobe itu pasti sama spesialnya dengan Juugo.


Di perjalanan pulang.

Naruto memikirkaan cara apa yang harus dilakukannya saat bertemu dengan Sasuke? Entah mengapa otak geniusnya tidak bisa berpikir cepat saat berhadapan dengan Sasuke?

"Sapa dia sambil tersenyum saat kau melihatnya", saran Shikamaru yang bisa menebak apa yang dipikirkan Naruto saat ini.

"Kau serius, Shika?", Kiba tidak sependapat dengan saran Shikamaru, "Dia sudah menghina jaket Naruto lho! Seharusnya dia meminta maaf pada Naruto",

Naruto menatap Shikamaru dan Kiba bergantian. Ucapan mereka nyaris sama dengan apa yang diperdebatkan di pikirannya. Naruto ingin berdamai dengan Sasuke, tapi dia ingin Sasuke yang meminta maaf padanya karena Sasukelah yang salah. Tapi Sasuke bukan tipe peminta maaf, jika Naruto tidak menyapa terlebih dahulu, maka hubungan mereka tidak akan membaik. Naruto enggan menyapanya, itu terkesan seperti Narutolah yang salah.

"Jelaskan padanya bahwa itu jaket kesayanganmu", Shikamaru menatap Naruto yang hanya diam sibuk menimang-nimang langkah apa yang akan diambilnya.

"Jangan menyapanya, sebelum dia menyapamu terlebih dahulu", tambah Kiba yang dihadiahi lirikan dari Shikamaru.

"Aku akan menjelaskan semuanya...", angguk Naruto mantap. Kiba mendengus karena saraannya tidak diterima Naruto.

"...setelah dia menyapaku terlebih dahulu", sambung Naruto yang membuat Kiba terkekeh senang melirik Shikamaru.


Sasuke masih sibuk memilih-milih coat yang akan dikenakannya pada pertemuan keluarga minggu depan. Itachi juga meminta Sasuke untuk memilihkan coat yang cocok untuknya.

"Sasuke, boleh kupinjam ponselmu? Ponselku lowbat", alasan Itachi agar bisa memeriksa ponsel Sasuke.

"Hn", Sasuke mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu memberikannya pada Itachi.

Itachi berpura-pura menekan nomor, lalu berjalan keluar butik agar Sasuke tidak melihat gerak-geriknya.

Itachi mulai memeriksa isi kontak di ponsel Sasuke. Di dalam kontak ada 2 group, yaitu Fam dan Friends. Itachi tidak perlu memeriksa group Fam, karena itu pasti berisi nama-nama keluarga. Yang menjadi perhatian Itachi adalah group Friends yang hanya berisi 1 nama saja, yaitu Dobe. Padahal Itachi mengira nama Juugo yang ada di sana. Ternyata, Sasuke memasukkan nama Juugo ke dalam group Fam.

"Huf~ Lagi-lagi Dobe", dengus Itachi merasa bosan karena hari ini dia banyak mendengar kata 'Dobe' dari sang adik.


Di kamar asrama 19C.

"Tadaima~", ucap Naruto tanpa sadar saat memasuki kamar. Dia lupa bahwa seharusnya dia tidak perlu mengucapkan 'tadaima' karena dia sedang menunggu Sasuke untuk menyapanya terlebih dahulu.

Suasana kamar yang sepi, menandakan bahwa Sasuke masih belum pulang. Sambil menunggu Sasuke pulang, Naruto mengambil handuk dan boxer, bersiap untuk mandi. Saat membuka lemarinya yang juga berisi pakaian Sasuke *pakaian Sasuke terlalu banyak, sehingga menguasai sebagian lemari Naruto*, Naruto selalu tersenyum melihat pakaiannya yang tertata rapi berdasarkan gradiasi warna. Meskipun itu pakaiannya, Sasuke selalu menatanya. Sasuke sangat tidak suka melihat warna pakaian yang berantakan.

Karena iseng -lebih tepatnya mencari perhatian, Naruto sengaja mengacak susunan warna pakaian menjadi tidak teratur. Dengan cara ini, Sasuke pasti mengomelinya, sehingga dia tidak perlu menunggu lama Sasuke untuk menyapanya terlebih dahulu. Naruto memang genius!

"Hn! Aku memang genius! Kekekeke...", Naruto terkekeh sendiri melihat keisengannya.


Setiap Sasuke bepergian keluar asrama, sepulangnya dia selalu menenteng kantung belanjaan. Selain coat baru, sang kakak juga membelikannya sebuah boneka beruang. Itachi beralasan bahwa boneka beruang putih itu cool -mirip dengannya. Sasuke yang tidak pernah menolak pemberian Itachi, menerimanya dengan tabah.

CeKLeeeeK

Sasuke memasuki kamar 19C.

Kantung belanjaannya terlepas ketika melihat pemandangan yang tidak disukainya. Sampah kaleng dan snack, pakaian kotor dan tissue bekas berceceran di lantai. Tumpahan cola dan jejak sepatupun ikut menghiasi lantai. Bau ramen yang menyengat. Ditambah dengan Naruto yang sedang menonton film dari laptopnya sambil menyomot kripik kentang.

KRuuz Kruzz

Bunyi kunyahan yang merisihkan telinga Sasuke.

"Hahahahaa...", ditambah dengan suara tawa Naruto yang menyebalkan.

Tanpa menoleh ke belakangpun, Naruto telah menyadari kepulangan Sasuke. Sebentar lagi Sasuke akan mengomelinya. Setelah Sasuke mengomelinya, Naruto akan menyapa Sasuke, kemudian hubungan mereka akan membaik seperti dulu. Iyey!

"Ahahahaaa...", tawa Naruto sekali lagi, menunggu Sasuke bergerak dan mengomelinya. Nyatanya, Sasuke hanya mematung mengamati pemandangan kotor di hadapannya, mengepal kuat kedua tangannya yang bergemetar. Hidungnya sudah banyak menghirup bau yang tidak disukainya.

Berantakan. Berkuman. Kotor. Bau. Sarang penyakit. Berantakan. Berkuman. Kotor. Bau. Sarang penyakit. Berantakan. Berkuman. Kotor. Bau. Sarang penyakit.

Kata-kata itu terus mengiang-ngiang di pikirannya. Butiran keringat bermunculan, kepalanya pusing, pandangannya mulai menggelap, tubuhnya seperti tertarik ke bawah.

BuuuuK

Si Mr. Perfectpun tumbang.

"Heh?!", Naruto tercengang melihat reaksi Sasuke. Dia tidak menyangka Sasuke akan pingsan karena melihat kamar yang kotor ini.

Naruto langsung menghampiri Sasuke yang tergeletak di depan pintu. Wajah Sasuke begitu pucat dan berkeringat.

"Reaksimu terlalu berlebihan", guman Naruto.


Terputus


Ceritanya memang lambat dan belum ada tanda percintaan Narusasu. Untuk membuat mereka jadian itu gak secepat nyeduh popmie, 5 menit jadi. Mereka harus dilema ini-itu, ibaratnya kayak cewek2 lagi shopping. #gaknyambung.

Ikuti aja chapter2 selanjutnya, sebisa mungkin ada memuat momen2 swit2 Narusasu.