[Chaptered]
Title : Mr. Simple and Mr. Perfect
Chapter : 6 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Humor, Shonen Ai
BGM : Piggy Dolls - Know Her
"Bolanya ada di dalam", ucap seorang bocah tambun berumur 6 tahun sambil menunjuk sebuah bak sampah berukuran besar yang sama tinggi dengannya.
"Apa kau yakin, Uma-kun?", tanya seorang bocah yang juga berumur 6 tahun. Tubuhnya yang pendek membuatnya menjinjit-jinjit untuk melihat isi bak sampah, walaupun tidak sampai terlihat olehnya. Bak sampah itu terlihat seperti raksasa bagi tubuh mungilnya.
"Hn! Hiro membuangnya di sana", angguk bocah tambun yang dipanggil Uma-kun, "Sasu naiklah ke punggung Uma, lalu Sasu ambil bolanya",
"Tapi di sana bau", tolak bocah mungil yang bernama Sasu, lebih tepatnya bocah mungil itu adalah Uchiha Sasuke kecil.
"Ayolah, Juugo sedang menunggu kita", bujuk Uma yang tidak ingin berlama-lama di tempat bau ini.
Karena mereka ada janji bermain bola bersama Juugo, akhirnya Sasuke mau mengambil bola itu. Uma membungkuk, mempersilakan Sasuke menaiki punggungnya. Sasuke menutup hidungnya, aroma sampah begitu menyengat dan banyak binantang kecil yang bergerak-gerak. Sasuke harus secepatnya menemukan bola itu, sehingga dia bisa segera pergi dari tempat ini.
"Ah! Ketemu!", seru Sasuke berhasil melihat bola di balik tumpukan sampah. Posisi bola itu cukup jauh, hingga membuat Sasuke kesulitan untuk menggapainya.
Tiba-tiba, ada 4 orang bocah nakal datang menghampiri mereka, salah satunya bernama Hiro, sang ketua. 2 bocah mendorong Sasuke hingga tersungkur ke tumpukan sampah, lalu secepatnya menutup bak sampah tersebut. Sedangkan Hiro dan 1 bocah lagi menarik Uma agar tidak membantu Sasuke.
"Uma-kun! Buka! Sasu takut!", teriak Sasuke di kegelapan dan bau busuk yang menyengat.
Uma tidak bisa membantu, karena Hiro dan kawan-kawan mengancam akan memukulnya. Uma hanya bisa melarikan diri sambil menangis.
"Uma-kun!", Sasuke terus memanggil, menjerit-jerit dan menangis ketakutan. Tubuh dan pakaiannya basah, kotor dan bau. Kecoa, belatung, semut dan binatang kecil lainnya ikut mengrogotinya.
"Juugo! Tolong Sasu!", Sasuke terus menendang-nendang tumpukan sampah di sekitarnya. Semakit kuat dia menendang, semakin dalam dia tenggelam ke dalam sampah.
"Keluarkan Sasu dari sini!", Sasuke menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal digroti binatang kecil, "Pergi! Pergi!",
"Sasuke! Buka matamu! Sasuke!", terdengar teriakan Naruto memanggilnya.
"Pergi! Pergi! Pergi!", dengan mata terpejam kuat, Sasuke mengarahkan tinjunya ke sembarang arah.
"UCHIHA SASUKE SI ANAK MENTERI! BANGUN!",
Dalam ketakutan dan kegelapan, Sasuke bisa mendengar panggilan yang paling tidak disukainya.
"Hey, anak menteri! Buka matamu!",
Lagi, panggilan yang dibencinya terdengar begitu dekat, membuatnya sekuat tenaga membuka paksa kedua matanya.
"Kau sudah sadar, anak menteri?", tanya Naruto yang posisinya duduk menindih tubuh Sasuke. Dalam keadaan tidak sadar tadi, Sasuke terus memberontak, sehingga Naruto terpaksa mengunci kedua pergelangan tangannya dan juga menindihnya.
Saat Sasuke berhasil membuka mata, dia tidak dapat mengenali sosok Naruto yang memandangnya dengan raut cemas. Dadanya terasa sesak dan kesulitan bernafas. Bau busuk dalam mimpinya masih tercium sangat jelas.
Naruto langsung berpindah ke samping Sasuke, memeluk tubuh basah Sasuke dan menggenggam tangan Sasuke yang terkepal kuat.
"Bernafas, Suke! Bernafas pelan-pelan!", Naruto mengajari Sasuke cara bernafas ala ibu-ibu yang hendak melahirkan.
Setelah nafas Sasuke normal, Naruto kembali membaringkan tubuh Sasuke, mengusap keringat di wajahnya.
"Kau pasti bermimpi monster yang sangat menyeramkan", ucap Naruto sambil mengusap air mata di pipi Sasuke.
Sasuke menepis kuat tangan Naruto, lalu menyembunyikan wajahnya dengan bantal. Naruto mengambil sepasang piyama dari lemari Sasuke. Meminta Sasuke untuk mengganti kemejanya yang basah. Naruto juga mengeluarkan boneka beruang putih untuk dipeluk Sasuke.
"Kau pasti lapar. Aku akan beli makanan untukmu", tanpa persetujuan Sasuke, Naruto langsung pergi keluar. Naruto mengira, mungkin Sasuke butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri.
Karena kantin tidak buka di hari Minggu, maka Naruto pergi ke minimarket terdekat untuk membeli nasi kotak dan obat demam untuk jaga-jaga.
Sepanjang jalan, Naruto terus memikirkan Sasuke. Dia menyesal telah mengerjai Sasuke. Naruto bisa merasakan kengerian yang dialami Sasuke saat pingsan tadi. Sasuke pasti bermimpi tentang monster sampah raksasa yang mengamuk dan menyerangnya.
Naruto mengusap luka cakaran di dagunya, luka itu diperolehnya saat Sasuke mengigau tadi. Secara perlahan, luka itu mulai menghilang.
"Aku harus minta maaf padanya!", Naruto secepat kilat berlari pulang.
Sesampainya di kamar, Naruto tidak menemukan Sasuke di tempat tidur.
"Kau dimana, Suke?", Naruto mengintip keluar jendela, Sasuke tidak ada di balkon.
Naruto mencoba mencarinya di kamar mandi. Saat pintu kamar mandi dibuka, tercium aroma lavender dari dalam. Ternyata Sasuke sedang berendam di bathtube dengan busa melimpah. Kedua matanya terpejam, menikmati aroma relaksasi dari lilin yang menyala di sampingnya.
"Kau tidur, Suke?",
"Hampir", jawab Sasuke tanpa membuka matanya.
"A, aku membelikan nasi kotak untukmu", Naruto mendadak canggung melihat sikap Sasuke. Otak genius Naruto mulai menghayal yang aneh-aneh. Saat Sasuke membuka mata, mata Sasuke berubah menjadi merah, lalu memancarkan sinar laser yang membuatnya terbakar hingga menjadi butiran debu.
Membayangkan itu membuat Naruto merinding seketika.
"Apa kau takut padaku?",
"Ta, takut? A, aku tidak takut padamu! Aku ini Kyuubi... Ahahaha...", Naruto meletakkan kedua tangannya di pinggang, bergaya ala superhero.
Sasuke membuka kedua matanya, menatap Naruto. Naruto bernafas lega, karena mata Sasuke tetap hitam seperti biasa.
"Apa kau sudah puas?",
"Maksudmu?",
"Kau memanfaatkan kelemahanku untuk membalas kekesalanmu padaku. Kau memang genius, Uzumaki-san",
"Aku memang genius! Tapi aku tidak pernah berpikir selicik itu, Uchiha-san!",
"Lalu? Yang tadi itu apa?",
"Aku sengaja mengotori kamar. Aku hanya ingin kau menegurku, lalu...", Naruto memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Sasuke, "...lalu aku akan meminta maaf padamu",
Sasuke meniup dan menyimpan lilin aroma terapinya ke tempat yang kering. Menyudahi acara berendamnya, dia berdiri dan membersihkan tubuhnya dengan shower. Naruto langsung berbalik badan, ketika melihat seksinya punggung dan pantat Sasuke. Jantungnya berdebar kuat, menahan diri untuk tidak menerkam Sasuke.
"A, aku tidak tahu kau akan pingsan. Ku, kupikir kau akan memarahiku lalu mengambil sapu dan menyuruhku untuk membersihkan kamar, atau bahkan menendangku keluar dari kamar",
"Saat kau mengomeliku, aku punya kesempatan untuk berbicara denganmu, membujukmu agar kita bisa berbaikan. Lalu... Lalu aku akan mentraktirmu makan di kedai ramen, sebagai permintaan maafku",
Sasuke masih enggan berkomentar.
"Percayalah! Hanya itu yang terpikir di otak geniusku!",
Setelah selesai mandi dan meliliti pinggangnya dengan handuk, Sasuke tetap tidak berkata apapun. Sasuke melenggang pergi meninggalkan kamar mandi, bersikap seolah Naruto tidak ada.
"Kau tidak percaya padaku?", Naruto ikut keluar mengekori Sasuke.
Sasuke membuka lemari untuk mengambil piyamanya. Dia membatu melihat susunan pakaiannya dan juga Naruto tidak rapi. Menyadari kesilapannya, Naruto segera merapikannya.
"A, aku hanya iseng...ehehehe...",
Sasuke merapikan susunan pakaiannya tanpa mengomeli Naruto.
"Kau boleh memarahiku. Aku ikhlas lahir batin", Naruto lebih suka Sasuke memarahinya daripada diam menganggapnya tembok berjalan.
Selesai merapikan pakaian dan mengenakan piyama, Sasuke melanjutkan dengan mengolesi wajahnya dengan cream wajah dan meminum obat tidurnya.
Naruto melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 7 lewat, terlalu cepat untuk tidur.
"Kau mau tidur? Kau tidak ingin makan? Aku sudah membeli nasi kotak untumu",
Naruto membantu Sasuke menurunkan kasurnya. Sasuke langsung merebahkan diri di atas kasur sambil memeluk boneka pemberian Itachi. Bulu-bulu boneka yang halus dan lembut, membuat Sasuke nyaman memeluknya.
"Baiklah! Nasi kotakmu aku yang makan", Naruto duduk di lantai sambil mengeluarkan nasi kotak dari plastik, "Itadakimasu~",
SReeeeT
Sasuke langsung bangkit berdiri dan menyeret Naruto keluar dari kamar. Kemudian pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam.
Naruto tidak marah ataupun kesal, dia sedikit lega karena Sasuke mau meliriknya.
"Itadakimasu~", Naruto menyantap nasi kotaknya tanpa berpikir malam ini dia akan tidur dimana. Dia bisa tidur dimana saja. Di tempat Shikamaru dan Kiba juga bisa.
CeKLeeeK
Pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok Sasuke.
"Aku ingin sendirian malam ini. Tidurlah di pantry",
"Hn", angguk Naruto, tidak membantah sedikitpun.
"Di kulkas ada puding jeruk untukmu",
"Iyey! Terimakasih, Suke!", Naruto langsung berlari ke pantry sambil membawa nasi kotaknya.
"Kau tidak apa-apa sendirian di sana, Suke?", lirih Naruto mengintip dari pantry.
Naruto merasa hubungannya dengan Sasuke kian melonggar. Apa Sasuke sudah tidak ingin berteman dengannya lagi?
Jika tahu akan seperti ini, Naruto tidak mengerjai Sasuke.
Di sisi lain, Sasuke juga memikirkan hal yang sama, tapi pikiran Sasuke lebih negatif daripada yang dipikirkan otak genius Naruto.
"Dobe akan meninggalkanku karena aku menyebalkan. Dobe tahu kelemahanku. Dobe pasti akan membullyku juga. Dobe sama seperti mereka",
Jari-jari tangan Sasuke bergetar dan dingin. Kepalanya terasa sakit memikirkan itu.
"Aku Uzumaki Naruto, si genius yang suka dengan tantangan. Ayo kita berteman!",
Tiba-tiba di pikiran Sasuke, terlintas wajah Naruto yang tersenyum saat memperkenalkan diri padanya. Kesan pertama Sasuke saat itu adalah, Uzumaki Naruto adalah makhluk berisik, berwajah jelek yang mengaku genius dan juga sok akrab. Entah mengapa, Sasuke mau menerima Naruto sebagai temannya? Mungkin karena Naruto yang memang dasarnya mudah mengakrabkan diri.
"Dasar Dobe", Sasuke tersenyum sendiri mengingat kebersamaannya dengan Naruto.
Naruto memiliki cara pandang yang berbeda dengan Sasuke, sehingga mereka selalu berdebat. Naruto selalu mengalah dan pendapat Sasuke selalu benar. Sasuke selalu memarahi Naruto, jika aturannya dilanggar. Sebisa mungkin Naruto menuruti keinginan Sasuke. Dengan mengikuti aturan Sasuke, Naruto bisa sedikit demi sedikit masuk ke dunia Sasuke, dunia si Mr. Perfect.
"Dobe tidak sama seperti mereka", guman Sasuke sambil memejamkan mata untuk menuju ke dunia mimpi, tapi pikiran negatif itu kembali mendatanginya.
Obat tidur yang diminumnya tadi, tidak akan mempan di saat Sasuke mengalami gangguan kecemasan seperti saat ini.
Keesokan pagi harinya.
Took Took
Naruto mengetuk pelan pintu kamarnya, berharap Sasuke membukakan pintu untuknya. Tapi, tidak ada tanggapan. Naruto menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengar suara-suara di dalam kamarnya.
Zzzz
Telinga saktinya menangkap dengkuran halus Sasuke.
"Masih tidur?",
Jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat. Tidak biasanya Sasuke bangun kesiangan. Meskipun hari libur, Sasuke selalu bangun pagi.
Naruto menyentuh knop pintu, memutarnya kemudian pintu itu terbuka dengan sendirinya. Mengintip untuk memastikan lingkungan sekitar aman, barulah dia masuk dan menutup pintu tanpa suara. Mencuci kakinya dengan perlahan-lahan, lalu berjalan dengan hati-hati dan tidak menimbulkan suara agar Sasuke tidak terbangun.
"Dilihat dari sudut manapun, kau tetap manis", guman Naruto tersenyum melihat Sasuke tidur sambil memeluk boneka beruang putih.
Naruto berbaring di lantai berdekatan dengan Sasuke, tangannya mengenggam tangan Sasuke yang halus dan lembut. Melihat Sasuke tidur begitu damai, membuat Naruto ingin tidur juga.
"Oyasumi, Suke~",
Naruto memejamkan mata, menyusul Sasuke ke dunia mimpi.
Saat Sasuke membuka mata, hal yang dirasakannya adalah sesuatu yang kasar mengenggam tangannya. Diapun menoleh ke kiri dan menemukan Naruto sedang tidur sambil memeluk boneka beruang pemberian Itachi.
"Dobe!", Sasuke menyentakkan tangannya hingga genggaman Naruto terlepas, lalu menarik paksa boneka beruang dari pelukan Naruto.
"Nggg? Ya?", Naruto masih belum tersadar sepenuhnya. Naruto merayap ke kasur Sasuke, lalu menarik selimut untuk dipeluk dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Bangun!", Sasuke menepuk kening Naruto dengan kuat, lalu menendang Naruto agar tidak menjajah kasurnya. Dia tidak suka barangnya disentuh tanpa izin.
"Teme!", Naruto mengusap-usap keningnya yang panas.
"Mengapa kau ada di sini? Bagaimana kau bisa masuk?",
"Pintunya tidak terkunci",
"Benarkah?", sambil menggendong boneka beruangnya, Sasuke berlari untuk memeriksa kondisi pintu. Pintu itu tidak rusak.
"Padahal aku sudah memastikan pintunya terkunci", pikir Sasuke keheranan.
"Hoaaam~", Naruto menguap selebar mungkin.
"Jangan menguap di hadapan orang! Itu tidak sopan!", tegur Sasuke.
Sasuke melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Ini pertama kalinya dia bangun kesiangan.
"Kau mau mandi, Suke?",
"Hn",
"Akan kusiapkan air untukmu!", Naruto secepatnya berlari ke kamar mandi, menunaikan kewajibannya.
"Dia sudah tidak marah lagi kah?", pikir Naruto dan Sasuke bersamaan, kemudian mereka tersenyum sendiri.
Karena Sasuke tidak menyukai jaket Naruto, maka Naruto menyembunyikannya di dalam lemari. Dia tidak ingin memicu pertengkaran lagi.
"Kau mau pergi, Suke?", tanya Naruto melihat Sasuke yang berpakaian rapi.
"Hn",
"Pergi bersama keluargamu lagi?",
"Aku lebih suka pasta daripada ramen", ucap Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto.
Beruntung Naruto memiliki otak yang genius, sehingga dia mengerti dengan maksud dari ucapan Sasuke barusan.
"Ayo makan pasta sama-sama!", ajak Naruto, "Kutraktir!",
"Kau punya uang?", Selama ini Sasuke mengira bahwa Naruto kere, karena Naruto selalu mengkonsumsi ramen, keripik kentang buy one get one dan menyomot makanannya.
"Meskipun aku tidak sekaya dirimu, tapi aku masih sanggup mentraktirmu",
"Hn",
Sambil menunggu Naruto mandi, Sasuke menghubungi supirnya untuk segera datang. Sasuke tidak pernah berpergian dengan transportasi umum. Dia lebih nyaman menggunakan supir pribadi.
"Aku sudah selesai, Suke!", Naruto keluar dari kamar mandi dengan handuk meliliti tubuh bagian bawahnya. Sasuke dapat mencium aroma kesukaannya saat Naruto berlari melewatinya.
"Apa kau benar-benar mandi atau sekedar basah-basahan?", Sasuke tidak yakin bahwa Naruto mandi secepat itu.
"Mandiku tidak selama kau, Suke", Naruto telah selesai berpakaian. Naruto selalu melakukan semua hal dengan cepat dan tuntas -walaupun sedikit berantakan.
Naruto tanpa sadar mengenakan jaketnya. Ingat, Naruto selalu mengenakan jaket itu saat bepergian. Sasuke terpaku melihat jaket itu lagi. Menyadari tatapan Sasuke, Naruto tersadar dari kesilapannya, segera dia melepas dan menyimpan jaketnya kembali.
"Ahahaha...", Naruto tertawa garing, padahal dia tidak sedang melucu. Berharap saja semoga Sasuke ikut tertawa.
"Aku tidak suk...", Sasuke tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia tahu ini akan memicu pertengkaran lagi.
Sasuke memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Naruto tahu bahwa Sasuke sedang menahan diri untuk tidak merebut jaketnya.
"I, itu jaket kesayanganku. Pemberian mendiang nenekku", Naruto berusaha menjelaskan agar Sasuke memakluminya.
"Jika itu benda kesayanganmu, mengapa kau tidak merawatnya dengan baik?",
"Aku sudah merawatnya dengan baik -dengan caraku sendiri",
Sasuke tahu bahwa caranya merawat benda kesayangan tidak sama dengan cara Naruto. Sebisa mungkin dia mencoba menerima alasan yang diberikan Naruto.
"Mengenakan jaket itu, aku bisa merasakan kehangatan mendiang nenekku",
"Tidak apa! Pakai saja!",
"Heh?!",
"Tidak apa! Pakai saja!", ulang Sasuke.
"Benarkah? Aku boleh memakainya?",
"Hn!",
"Iyey!",
Naruto segera mengeluarkan dan mengenakan jaketnya. Dia tersenyum lebar, merasa senang bahwa Sasuke tidak mempermasalahkan jaketnya. Sedangkan Sasuke hanya berbalik memunggungi Naruto. Dia tidak sanggup melihat jaket dekil yang dikenakan Naruto.
"Let's Go, Suke!", Naruto merangkul pundak Sasuke membimbingnya keluar kamar, "Hari ini, kutraktir kau makan pasta sepuasnya!",
Secara reflek, Sasuke mendorong tubuh Naruto hingga membentur pintu. Kemudian mengibas-ibas pundaknya, seolah-olah ada kutu di pakaiannya.
"Suke?",
Sasuke mundur selangkah, menjaga jarak dari Naruto.
"A, ahahaha...", Sasuke tiba-tiba tertawa garing, membuat Naruto keheranan.
Melihat wajah Naruto yang tidak dalam kondisi tertawa, Sasuke mulai berhenti tertawa.
"Kau masih sehat, Suke?",
Pertanyaan Naruto itu seharusnya membuat Sasuke marah, tapi Sasuke lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku tidak suka jaketmu", Sasuke mengutarakan perasaannya dengan hati-hati, dia tidak ingin membuat Naruto marah lagi.
"Baiklah. Aku tidak akan memakainya lagi", Naruto melepaskan jaketnya dan menyimpannya di lemari. Kemudian dia melemparkan senyum mempesonanya pada Sasuke.
"Kau tidak marah, kan?", Sasuke melirik Naruto.
"Kemarin aku sudah memarahimu",
"Kau juga mengataiku gila", cibir Sasuke.
"Maafkan aku. Saat itu, akulah yang gila",
"Hn", angguk Sasuke.
Naruto mendengus, mengapa Sasuke malah mengangguk?
"Setelah kejadian kemarin... ", Naruto mengulurkan tangan kanannya, "...kita masih berteman kan?",
Sasuke langsung menyambut tangan Naruto. Pertanyaan inilah yang Sasuke tunggu-tunggu keluar dari mulut Naruto.
"Tentu! Kau harus berteman denganku!",
Sasuke meremas kuat tangan Naruto. Naruto tidak menyangka bahwa Sasuke begitu antusias.
"Kau HARUS berteman denganku, Dobe!", ulang Sasuke yang terkesan memaksa -kenyataannya memang memaksa.
"Ten, tentu, Suke... Ehehehe...",
Walaupun Sasuke menyebalkan, tidak ada alasan bagi Naruto untuk memusuhinya.
"Apa tidak terlalu merepotkan, menyuruh supirmu untuk menjemput kita?", Naruto berjalan cepat menyusul Sasuke yang mengendarai Manda.
Naruto tidak mengerutu sedikitpun, dia terbiasa jalan cepat. Ingat, Naruto itu kuat dan tahan banting. Naruto rela melakukan apapun demi mempertahankan persabahatannya dengan Sasuke. Lagi pula, jarak dari asrama menuju gerbang utama sangatlah jauh. Bisa-bisa si Mr. Perfect ini pingsan. Jadi, Manda adalah solusi yang tepat dan cepat.
"Tugas supir adalah mengantar-jemput kemanapun aku pergi", jelas Sasuke sambil menambah kecepatan Manda. Disusul dengan Naruto yang juga menambah kecepatan langkahnya.
"Kita bisa naik bus. Lebih murah dan hemat",
"Tapi itu kotor, bau dan tidak aman", bantah Sasuke.
Naruto akhirnya menyerah. Lagi pula, sebuah limo telah terparkir di depan gerbang utama. Naruto yakin bahwa limo itu adalah jemputan Sasuke.
"Dengan supirku, kita tidak akan tersasar", Sasuke menepuk pundak Naruto, mendahuluinya.
Sasuke turun dari Manda, menyuruh supir untuk mengangkut Manda ke bagasi dengan hati-hati. Setelah itu, supir membukakan pintu untuk Sasuke dan Naruto.
Naruto terlihat norak, sangat norak. Ya, ini pengalaman pertamanya menaiki mobil panjang bernama limo.
Sasuke membawa Naruto ke Icha Icha Paradise, salah satu restoran Italia yang mewah dan berkelas di Jepang. Ini pertama kalinya Naruto menginjakkan kaki di sini. Arsitektur yang begitu wah, membuat Naruto merinding membayangkan harga makanan yang pasti juga lebih wah.
"Pasta di sini sangat enak", ucap Sasuke, "Kurasa kau belum pernah ke sini",
"Ahahaha...", Naruto tertawa garing saat melihat harga-harga yang tertera di buku menu. Bayangkan saja, satu porsi pasta di sini bisa seharga 3 mangkuk ramen di kedai langganannya.
Naruto tidak bisa menolak, karena dia sudah berjanji mentraktir Sasuke sebagai permintaan maafnya. Lagi pula, Naruto juga bisa memamerkan pengalamannya makan di sini kepada Kiba dan Shikamaru. Mereka berdua pasti belum pernah ke sini.
"Kau serius mentraktirku kan?", Sasuke melihat Naruto melototi buku menu dengan mulut menganga, seperti melihat hantu.
"Tentu saja, Suke! Aku masih punya cukup uang untuk mentraktirmu", Naruto menepuk kuat dadanya, "Karena aku seorang pria! Seorang pria harus menepati janji walaupun harus mempertaruhkan tabungannya!",
Sasuke hanya rolling eyes melihat kelakuan lebay Naruto.
Sasuke menikmati spaghettinya dengan anggun dan tenang. Sedangkan Naruto melahap apapun makanan yang tersaji di atas meja. Karena rasanya memang enak, maka makan saja sepuasnya, tidak perlu menghiraukan harga dari makanan yang dipesannya itu.
"Ini enak, Suke!", ucap Naruto dengan mulut belepotan pasta. Naruto lebih antusias makan ketimbang Sasuke. Naruto sudah menghabiskan 2 porsi fettuccine dan 3 potong pizza, sedangkan Sasuke seporsi spaghetti saja belum habis.
Sasuke mencoba tidak menghiraukan Naruto, walaupun Sebenarnya Sasuke ingin membalikkan meja, karena melihat cara makan Naruto yang barbar. Itu membuatnya risih.
"Worth it lah!", Naruto terus-terusan berbicara.
"Bisa tenang sedikit, Dobe?",
Naruto mematung sejenak, otak geniusnya baru menyadari bahwa Sasuke tidak suka diajak berbicara saat makan. Naruto segera mengubah gaya makannya menjadi seanggun Sasuke. Sesuap demi sesuap, mengunyah dengan pelan-pelan. Melihat perubahan gaya makan Naruto, membuat Sasuke tersenyum puas.
"Kau selalu manis saat tersenyum", ucap Naruto dalam hati setelah mencuri-curi pandang pada Sasuke.
Mereka makan dalam ketenangan. Suasana yang sangat disukai Sasuke, tapi terasa bosan bagi Naruto.
Seorang waitress datang membawakan bill yang diminta Naruto.
"HAH?!", Naruto melongo ketika melihat nominal yang tertera di bill, "A, apa anda tidak salah hitung?",
Waitress itu tersenyum ramah.
"Anda sungguh beruntung hari ini, karena anda duduk di Lucky Seat",
"Lucky Seat?", Naruto berdiri untuk memeriksa kursinya. Tidak ada bedanya dengan kursi di meja lainnya. Dimana letak Lucky Seat-nya?
"Pengunjung yang duduk di Lucky Seat, berhak mendapatkan diskon sebesar 90%. Selamat, tuan!",
"Benarkah?!", Naruto tampak tidak percaya setelah melihat total nominal yang tertera di bill, "Ka, kami makan sebanyak ini, tapi aku hanya membayar seharga seporsi ramen? Serius?!",
"Kami? Lho?! Bukankah yang paling banyak makan itu kau, Dobe!", dengus Sasuke dalam hati.
"Ini serius, tuan", jawab sang waitress.
"Uwo! Aku sungguh beruntung, Suke!", Naruto mengedip genit pada Sasuke. Sedangkan Sasuke memasang wajah datar. Tidak peduli dengan Lucky Seat atau semacamnya.
Sepanjang jalan, Naruto juga terus berbicara betapa beruntungnya dia hari ini. Dia tidak menyangka mendapat Lucky Seat.
"Ini juga Lucky Seat!", Naruto menepuk-nepuk jok mobil yang empuk dan berkulit lembut.
"Next time, aku akan mengajak Kiba dan Shikamaru! Ah! Jangan lupakan Shino!",
"Jangan lupa ajak aku juga!", ketus Sasuke yang merasa Naruto melupakannya. Naruto tersenyum jahil melihat Sasuke cemberut.
"Memangnya kau mau berkumpul bersama kami? Bukan kah kau tidak suka Kib...",
"Tanpa aku, kalian tidak bisa mendapatkan Lucky Seat!", sela Sasuke.
"Ow!", Naruto agak terkejut mendengar ucapan Sasuke yang begitu percaya diri, "Are you sure?",
"Pokoknya, ajak aku!",
"Kau pasti kuajak, Suke. Kau kan suka pasta", Naruto menepuk pundak Sasuke.
DrrrrT DrrrrrT
Ponsel Naruto bergetar di saku celananya, segera dia menjawab panggilan dari Shikamaru.
"Yo, Shika?",
"Kau dimana? Kami mencarimu",
"Aku di luar bersama Sasuke. Ada apa?",
"Kau sudah berbaikan dengannya?",
"Hn. Sudah...ehehehe...",
"O, baguslah. Kiba dan aku akan ke bioskop, kalian mau ikut?",
"Sebentar ya, aku tanya Sasuke dulu",
Naruto menjauhkan ponselnya. Pandangannya mengarah pada Sasuke.
"Kiba dan Shika mengajak kita ke bioskop, kau mau ikut?", tawar Naruto.
"Aku tidak ikut", tolak Sasuke to the point. Sasuke tidak suka berpergian selain bersama dengan keluarganya.
"OK!", angguk Naruto.
Naruto mendekatkan ponsel di telinganya.
"Kami ikut! Sampai jumpa, Shika!", Naruto langsung memutuskan panggilan.
"Aku tidak ikut, Dobe!",
Naruto tidak menghiraukan penolakan Sasuke. Seenaknya meminta supir untuk mengantar mereka ke bioskop.
"Tidak baik menolak ajakan teman, Sasuke-sama", bujuk sang supir.
Sasuke terpaksa mengikuti ajakan Naruto. Jika tidak, mungkin sang supir akan mengadukannya pada ibunya. Ibu Sasuke berpesan agar Sasuke lebih terbuka dan bergaul dengan banyak teman. Lagi pula, Shikamaru dan Kiba adalah tetangganya juga.
Sesampainya di bioskop. Kiba dan Shikamaru sudah menunggu mereka. Memanfaatkan waktu tunggu, Kiba dan Shikamaru memperkenalkan diri pada Sasuke. Meskipun bertetangga, mereka belum pernah berkenalan secara formal, seperti handshake atau beradu kepal.
"Hai! Aku Inuzuka Kiba!", Kiba mengarahkan kepalan tangannya pada Sasuke, "Panggil saja Kiba!",
Saling beradu kepalan tangan adalah salah satu gaya perkenalan. Sasuke salah mengartikannya. Dia mengira Kiba ingin meninjunya. Dengan kasar Sasuke memelintir tangan Kiba ke belakang.
"Aku tidak begitu mengenalmu. Mengapa kau ingin meninjuku?", Sasuke sangat tidak suka ditantang seperti itu.
"Maksud Kiba bukan seperti itu, Suke", Naruto membujuk Sasuke untuk melepaskan tangan Kiba. Lalu membawa Sasuke menjauh dari Kiba dan Shikamaru.
Naruto menjelaskan pada Sasuke bahwa Kiba tidak bermaksud meninjunya. Kiba hanya ingin memperkenalkan diri dengan cara mereka. Naruto juga mengajari cara berkenalan ala Kiba dan Shikamaru, agar Sasuke tidak salah paham lagi.
Sasuke merasa aneh dengan gaya berkenalan seperti itu. Walaupun begitu, dia harus melakukannya.
"Aku Uchiha Sasuke!", Sasuke mengadukan kepalan tangannya ke kepalan tangan Kiba.
"Aku Shikamaru -Nara Shikamaru. Jika kau malas memanggil, kau boleh memanggilku 'Shika'", giliran Shikamaru menjulurkan kepalan tangannya.
"Aku bukan tipe pemalas, Shikamaru-san", Sasuke mengadukan kepalannya ke kepalan Shikamaru.
Dengan demikian, acara perkenalan telah selesai. Kesan Shikamaru dan Kiba terhadap Sasuke adalah Si Mr. Perfect ini memang menyebalkan.
Sasuke terbangun tengah malam karena bermimpi buruk. Dia bermimpi dimusuhi semua orang. Semua mata itu memandangnya dengan sinis, mencibirinya karena dia anak menteri yang aneh.
"Huf~", menghela nafas sambil menyeka keringat di keningnya. Pandangannya tidak mendapati sosok kuning di sampingnya.
"Ennnhhh~ aaah~", terdengar suara desahan dari arah kamar mandi. Sasuke tahu bahwa Naruto ada di dalam sana.
Sasuke penasaran dengan apa yang dilakukan Naruto? Mengapa tengah malam begini Naruto masih belum tidur?
"Dia pasti main game sambil ngemil di kamar mandi", pikir Sasuke.
Sasuke berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Ingin memarahi Naruto yang membuat suara berisik dan juga mengotori kamar mandi.
"Apa yang...", saat Sasuke menyerobot masuk, dia membatu melihat pemandangan di hadapannya.
Terputus
Hayo! Si Dobe sedang apa di kamar mandi?
BTW, Happy NS Day (ノ˚̯́ ∇˚̯̀)ノ✧
Silakan tinggalkan sesuatu di kolom review :D
Akhir kata :
Motor mogok, kehabisan minyak.
Banyak review, author semangat.
Serius.
