.
Title : All The Wrong Reason
Author : Jerileekaye
Translate and Remake to FF : Cici ^o^
Genre : Romance, hurt, family, comfort
Main Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong (Yunjae)
Sub Cast : Kim Junsu. Shim Changmin, Park Yoochun, Hyun Joong, Karam etc
Rating : M
Lenght : Long Chaptered
Warning : Yaoi, maleXmale, alur lambat buanget
Disclaimer :
Cerita ini terinpirasi dari novel dengan judul yang sama karya Jerileekaye. Cerita ini aku buat versi Yunjae. Sebisa mungkin sesuai dengan keadaan fanfic yunjae sebagaimana mestinya. Aku juga membuat cerita ini yang notabene cerita "straight" menjadi "yaoi". Jadi tidak ada genderswitch, karena kalau dengan fanfic aku lebih suka "yaoi".
Alur cerita lambat, karena akan menerangkan segala sesuatunya secara mendetail. Ada adegan yang diperuntukkan bagi dewasa (NC-19). Cerita dikondisikan adanya toleransi penuh kepada sesama jenis menjalin kasih di Korea Selatan. (gay lumrah lah...) ada "seme" dan "uke" Hubungan "bi" sudah biasa terjadi. Karena ini hanya imajinasi n untuk hiburan semata. Jangan disangkut-sangkutkan ke kehidupan nyata. Nanti pusing sendiri ^o^
Apabila penasaran dengan alur ceritanya bisa membaca novel aslinya di Wattpad. Dan bila penasaran dengan versi yunjae dan yaoi diharap sabar menunggu. Bagi yang tidak berkenan dengan yang saya tulis, WAJIB JANGAN BACA! Simpel.
.
Chapter Title : Murka
.
.
Pagi itu, Jaejoong langsung pergi ke Apartemen Junsu. Ia menceritakan semua yang terjadi tentang hubungannya dengan Yunho. Bahwa ia melepaskan Yunho. Sekarang, ia tidak bersama dengan Yunho lagi.
"Omona! Putus! Apa kau gila, Joongie! Kau pasti sudah kehilangan akalmu!" Pekik Junsu terkejut karena mendengar berita ini.
"Aku harus melakukan ini, Su-ie." Ucap Jaejoong sedih. "Karena aku mencintainya."
"Kalau kau mencintainya, mengapa kau melepaskannya?!"
"Aku tidak ingin eommanya jatuh sakit lebih dari ini. Yunho bilang eommanya depresi ketika appanya menyuruhnya keluar dari rumah. Yunho adalah anak satu-satunya keluarga Jung. Aku tak bisa merebutnya begitu saja dari mereka." Jaejoong menghela nafas. "Dan juga aku tidak ingin Yunho merasakan penyesalan apabila nantinya terjadi sesuatu pada eomma atau appanya."
"Apa kau pikir Yunho akan bahagia, hidup tanpamu?"
Jaejoong mendesah. Ia tahu Yunho tidak bahagia dengan keputusannya untuk mundur. Tetapi orangtua Yunho lebih penting. Yunho harus menyelesaikan dulu masalahannya. Jadi yang bisa Jaejoong lakukan sekarang hanya melepaskan Yunho.
"Sekarang ini tidak ada yang bisa bahagia, Su-ie. Tapi mungkin suatu hari nanti akan ada jalan terang untuk kita." Ucap Jaejoong sedih. "Jika memang kita ditakdirkan untuk bahagia bersama, Dia pasti menemukan jalan untuk kembali kepadaku."
"Dan... dan kau hanya bisa menunggu sampai saatnya ia kembali kepadamu? Sampai berapa lama itu? Kau hanya menghabiskan waktumu untuk menunggunya? Begitu Joongie?" Cerocos Junsu tidak percaya.
Jaejoong mengangguk kalem. "Ne, aku masih muda Su-ie. Aku akan biarkan semua yang terjadi dalam hidupku mengalir seperti air. Mungkin satu atau dua tahun lagi aku akan tau semua yang kujalani sia-sia atau tidak. Jika... jika memang dia bahagia dengan orang itu... maka aku akan melepaskannya dan move on pastinya."
Junsu memutar kedua bola matanya. "Rencanamu sangat bodoh, Joongie."
"Mau bagaimana lagi Su-ie, aku masih sangat mencintainya...hiks..." Air mata Jaejoong akhirnya pecah, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku tidak mungkin bisa melupakannya begitu saja. Kurasa akupun tidak bisa mencintai orang lain seperti aku mencintai Yunho... hiks..hiks..."
Junsu merasa bersalah terlalu menekan Jaejoong. Iapun menenangkan sahabatnya itu dengan mengelus pundaknya. "Oke... Joongie, tenanglah... aku mengerti... Uljima ne..." Hibur Junsu.
Jaejoong mendongak menatap Junsu dengan berlinang air mata. "Aku tidak bisa egois Su-ie... Yunho bahkan menyuruhku untuk egois. Tetapi aku tidak bisa... hiks... Aku tidak bisa melihat ia dibuang oleh keluarganya. Aku terlalu mencintainya untuk melihat kesedihan di wajahnya apabila terjadi sesuatu pada keluarganya kelak. Kau mengerti aku kan Su-ie?"
Junsu mengangguk sambil menghapus air mata di wajah Jaejoong. "Ne, aku mengerti... uljima ne... sekarang tenangkan dirimu, ok." Ucap Junsu lembut.
Tiba-tiba ponsel Jaejoong bergetar. Jaejoong memandang ponselnya dengan jantung yang berdebar keras. Satu pesan dari Yunho.
From Yunnie :
Kau mengatakan tentang dunia paralell yang gila, huh? Tetapi kau melupakan satu hal. Kenyataan. Dan kenyataanya aku membenci keputusanmu ini. Tapi oke... aku akan mengambil kesempatan ini untuk meyakinkan orangtuaku agar melepaskanku. Atau mungkin merestui hubungan kita. Dan apabila semua usahaku berhasil. Bersiaplah menjawab pertanyaanku kemarin untuk yang sebenar-benarnya. Aku mencintaimu... sangat-sangat mencintaimu, my baby Kim Jaejoong. Pegang kata-kataku! Aku akan membawamu kepelukanku secepat mungkin.
Jaejoong langsung menangis setelah membaca pesan itu. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia merindukannya sekarang. Tapi ia tidak bisa kembali lagi. Yunho juga tidak cukup kuat untuk melepasnya. Apabila ia kembali mungkin Yunho akan mengikatnya dan tidak membiarkannya pergi. Ia disini yang harus menjadi kuat. Demi mereka berdua.
Jaejoong bertekad tidak akan membalas pesan dari Yunho. Mereka harus move on. Ia sudah melepaskan Yunho. Menghubungi Yunho sama saja kembali ke titik awal. Ia hanya bisa mencium layar ponselnya. Membayangkan Yunho balik menciumnya.
Tiba-tiba ponsel Jaejoong berdering membuatnya terkejut. Ia melihat layar ponselnya dengan cemas. Ternyata telepon dari eommanya.
Jaejoong mendesah berat. Lalu menjawabnya. "Yeoboseyo, eomma."
"Kau bilang ingin pulang menjelaskan semua yang terjadi di Jeju, huh? Dan apa? Sampai saat ini kau tak menampakkan batang hidungmu dimuka kami!" Sembur eomma Jaejoong dengan nada tinggi.
"Mi..mianhe eomma. Pekerjaanku sangat banyak minggu ini."
"Apa kau tak melihat kalender? Ini hari Sabtu! Apa kau juga bekerja di hari Sabtu?"
"Ani"
"Maka penuhi janjimu untuk menjelaskan semuanya pada kami!" Eomma Jaejoong langsung memutus sambungannya.
Jaejoong mengacak rambutnya frustasi. "Tuhan! Bunuh aku sekarang!"
"Monster eomma?" Tanya Junsu.
Jaejoong mengangguk lemas. "Eomma menginginkanku pulang dan menjelaskan apa yang terjadi di Jeju."
"Pulanglah. Kita akan pergi bersamamu. Aku akan menghubungi Changmin. Kau memang harus menjelaskan semuanya kepada mereka Joongie." Ucap Junsu.
"Su-ie... kau tak melihat keadaanku sekarang? A..a...aku baru saja putus dengan Yunho! Bagaimana bisa aku berhadapan dengan orangtuaku?"
Jaejoong mengusap wajahnya kasar. "Aku pasti akan menerima kesakitan lebih dari yang kurasakan sekarang."
"Memang Joongie. Tapi Yunho juga berjuang menghadapi orangtuanya. Kau juga harus begitu. Hadapi semua, jangan menghindar. Jangan menumpuk masalah Joongie. Jelaskan semua tentang hubunganmu dan Hyun Joong dihadapan orangtuamu. Agar semuanya jelas." Nasehat Junsu.
Jaejoong mengangguk mengerti. Memang ia harus memperbaiki hidupnya sembari menunggu takdir yang akan Yunho berikan untuknya. Mungkin apabila Yunho kembali padanya, mereka sudah terbebas dari masalah. Terutama orangtua.
"Kalian akan pergi ke Chungnam bersamaku?" Tanya Jaejoong.
"Ne." Jawab Junsu sambil mengirim SMS ke Changmin. "Kau membutuhkan kami disampingmu. Kau tau Joongie, aku baru saja menajamkan kukuku di Salon. Mungkin berguna untuk mencakar-cakar wajah adikmu itu." Ucap Junsu sambil menyeringai memperlihatkan kukunya.
...
Jaejoong tidak perlu kembali ke apartemennya untuk mengambil pakaian. Changmin sudah membawakan pakaiannya yang tertinggal beberapa hari lalu sewaktu ia menginap di apartemennya karena bertengkar dengan Yunho. Dalam waktu satu setengah jam mereka sudah berada di Airport dan akan check in menuju Chungnam.
Didalam pesawat Jaejoong hanya melamun. Memandang indahnya awan putih dari jendela. Tak perduli ocehan Changmin mengenai putusnya ia dan Yunho. Yang ada dipikirannya sekarang tentu Yunho. Bahkan ia memutar kembali ingatannya saat pertama kali ia bertemu Yunho.
Apa aku sanggup melupakanmu Yunnie? Tidak...
Tanpa sadar air mata mengalir turun membasahi pipinya. Ia sangat ingin sekali menelepon Yunho. Tapi tak bisa... ia berjanji untuk mempermudah segalanya.
Sesampainya di Chungnam. Jaejoong berpisah dengan sahabatnya. Junsu dan Changmin mencari hotel terdekat dengan rumah Jaejoong. Sementara Jaejoong pulang menggunakan taxi.
Sudah beberapa bulan sejak ia pulang kerumahnya. Jaejoong menghentikan taxi disebuah rumah berlantai tiga dengan pagar cukup tinggi. Rumah orangtua Jaejoong termasuk rumah mewah dilingkungannya, karena kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai dokter profesional.
Wajah menyebalkan Kim Karam menyambut Jaejoong tatkala ia membuka pintu rumahnya.
"Oh, kau pulang." Sambut Karam dengan nada sinis. Lalu ia melihat ke belakang Jaejoong. Seperti mengecek sesuatu tetapi tak menemukan apa yang ia inginkan. "Jadi... kau kemari sendiri. Dimana pacar kayamu itu, huh? Menghilang? Cepat sekali..."
Jaejoong menghela nafas jengah. "Dia namja yang sibuk, Karam-ah..." Ucapnya sambil lalu, ia malas meladeni Karam.
Jaejoong masuk kedalam rumahnya dan ia mendengar keributan di ruang tamu.
"Aku tidak tau kalau ada pesta dirumah."
"Aku juga tidak tau kalau kau diundang di pesta ini." Timpal Karam dengan senyum meremehkan.
Ketika Jaejoong semakin mendekat ke ruang tamu. Ia melihat Hyun Joong dan orangtuanya berada disana.
Oh Shit!
Kemudian, ruangan itu tiba-tiba menjadi hening. Mereka melihat ke arah Jaejoong dengan pandangan terkejut. Hyun Joong melihat Jaejoong seperti melihat hantu. Sedangkan eomma melihatnya seperti ia adalah hama berbahaya.
"Anneonghaseyo..." Jaejoong menyapa mereka dengan ramah sambil membungkuk 90 derajat setelah berhasil menguasai diri.
Respon mereka semua hanya diam. Namun setelahnya, appa Jaejoong maju menghampiri dan memeluknya.
"Jaejoongie... bogoshipo." Ucap Appa Kim tulus. Tapi Jaejoong ingin menangis merasakan atsmofir ruangan ini yang tidak bersahabat. Ia merasa sama sekali tidak diinginkan berada disini. Sekarang ia menginginkan Yunho menemaninya disini. Agar ia merasa terlindungi. Tetapi tidak mungkin...
"Nado bogoshipo appa..." Jawab Jaejoong sambil tersenyum.
Jaejoong melepaskan pelukan appanya dan beralih untuk memberi salam kepada eommanya. Ia memeluk dan memberi kecupan di kedua pipinya.
Kemudian Jaejoong melihat kearah orangtua Hyun Joong dan membungkuk. "Anneonghaseyo Mr dan Mrs Kim." Sapa Jaejoong.
Orangtua Hyunjoong hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.
Karena tidak ingin berlama-lama berada di ruangan ini. Jaejoong meminta ijin kepada appanya untuk membersihkan diri di kamarnya.
Ketika ia membuka pintu kamarnya, Jaejoong terkejut. Hampir semua isi kamarnya menghilang digantikan oleh kardus-kardus yang bertumpuk dipojokan. Dikamar itu hanya ada ranjang tanpa sprei dan lemari. Jaejoong mendekati kardus-kardus itu dan membukanya. Ternyata semua barang-barang di kamarnya telah dipack di kardus itu.
Menghela nafas berat, Jaejoong bertanya-tanya siapa yang melakukan semua ini. Dan mengapa? Mungkin nanti setelah orangtua Hyun Joong pulang. Ia akan bertanya.
Selesai membersihkan diri Jaejoong bersiap untuk turun. Ia memberikan tatapan sedihnya untuk kamarnya yang kini hampir seperti gudang.
Sebelum mencapai ruang tamu Jaejoong tak sengaja mendengar percakapan eommanya dan eomma Hyun Joong. Ia lalu cepat-cepat bersembunyi dibalik tembok.
"Ah, Sora-yah... aku bersyukur akhirnya Hyun Joong sadar dan kini ia bersama Karam. Maksudku... aku tidak mengerti mengapa anakku dulu mau bersama dengan Jaejoong." Ucap eomma Hyun Joong.
"Sebenarnya dari awal aku menginginkan Hyun Joong dengan Karam. Aku tau Jaejoong hanya akan mempermalukanku seperti ini. Aku tidak mengira anak tidak tau diuntung itu selingkuh. Aku sangat malu kepadamu."
Jaejoong memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya erat. Perasaannya sakit mendengar eommanya sendiri membicarakan dirinya seperti itu.
"Aku sangat tak percaya Jaejoong bisa menyelingkuhi anakku." Ucap eomma Hyun Joong dengan sedikit emosi.
Jaejoong mendengar eommanya menghela nafas. "Aku juga tak mengira. Aku sudah membesarkannya seperti aku membesarkan Karam. Tapi... yah memang kau sendiri tau kan kalau gen lebih mendominasi. Dia sama sekali tidak mewarisi gen baik dari keluarga ini. Maka dari itu, sejak kecil ia bermasalah."
"Tapi kau sangat beruntung, Karam anak yang sangat baik. Anakku terlihat bahagia bersama Karam sekarang. Aku sangat bersyukur. Ugrh, aku tidak bisa membayangkan apabila Jaejoong yang menjadi menantuku. Tidur dengan namja lain dibalik punggung annakku. Menjijikkan!"
Jaejoong yang mendengarkannya tak kuasa meneteskan air mata. Walaupun ia namja, dibicarakan oleh eommanya seperti itu tentu menyakitkan hati. Mengapa eommanya seperti itu? Tidakkah mereka tau Karam dan Hyun Joong juga berselingkuh dibelakangnya?
"Aku yakin Karam akan menjadi istri yang baik bagi Hyun Joong dari pada Jaejoong. Hyun Joong dan Karam terlihat sangat serasi. Apabila dengan Jaejoong... ugrhh... aku tak tau cucu macam apa yang akan ia berikan padamu." Ucap eomma Jaejoong.
"Akupun begitu. Jika dengan Jaejoong... umm, aku akan tak yakin memandang wajah cucuku sendiri. Apa memang anak Hyun Joong atau bukan. Hahaha..." Ucap eomma Hyun Joong sambil tertawa. Jaejoong berharap eomma membelanya. Tetapi yang ada eommanya ikut tertawa.
Ini tidak benar! Ia bukan pelacur! Mengapa eomma Hyun Joong membicarakannya seperti itu? Apa yang eommanya dan Karam katakan padanya hingga ia berfikiran dirinya seperti itu?Teriak Jaejoong dalam hati.
Tiba-tiba Jaejoong merasakan ada yang merengkuh pinggangnya dari belakang. Dengan cepat ia berbalik dan menemukan Hyun Joong ingin memeluknya. Jaejoong reflek langsung berusaha lepas dari Hyun Joong.
"Lepaskan aku!" Pinta Jaejoong dengan nada tajam
"Darling... mianhe... maafkan aku." Ucap Hyun Joong lirih. Jaejoong terkejut ketika ia memandang Hyun Joong. Ia menemukan laki-laki itu menangis.
Jaejoong tetap berontak dengan mendorong kuat dada Hyun Joong. Tetapi lelaki itu lebih kuat. Kini Jaejoong sudah dipeluknya dengan erat.
"Hyun Joong! LEPASKAN AKU!"
"Mianhe Jae... jeongmal mianhe..." Ucap Hyun Joong memelas. "Aku tau aku kalah saing dengan kekasih barumu itu. Tetapi... apabila kau memberiku kesempatan. Aku janji akan membuatmu bahagia lebih dari dirinya."
"Tidak Hyun Joong! Lepaskan aku... kau gila! Teriak Jaejoong sambil masih mencoba melepaskan diri.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Jaejoong mendengar suara dari belakang. Membuat ia dan Hyun Joong berdiri diam.
Jaejoong lalu melihat kebelakang Hyun Joong dan menemukan Karam menatap mereka marah. Jaejoong langsung mendorong Hyun Joong dengan sekuat tenaga. Dan iapun terlepas.
BUGH
Bunyi pukulan yang Jaejoong layangkan ke rahang Hyun Joong.
"Aku bilang lepaskan aku!" Teriak Jaejoong marah sambil menatap Hyun Joong tajam. "Kau ini kenapa HA?"
Tiba-tiba para orangtua datang menghampiri mereka karena mendengar keributan.
"Ada apa disini?" Eomma Jaejoong bertanya. Ia menatap Jaejoong untuk meminta jawaban.
"Hyun Joong... ia tadi..." Jaejoong akan memulai.
"Jaejoong mencoba untuk merayu Hyun Joong, eomma! Aku melihat Hyun Joong berusaha mendorong Jaejoong yang ingin menciumnya." Ucap Karam.
"MWO?" Jaejoong terkejut dengan apa yang Karam katakan.
Jaejoong menatap eommanya dan eomma Hyun Joong yang kini menatapnya dengan pandangan jijik.
"Eomma, kau percaya padanya?" Tanya Jaejoong sambil menunjuk Karam.
"Mengapa juga Karam harus berbohong?" Eomma Jaejoong bertanya balik. "Memang ada penjelasan lain?"
"Hyun Joong yang memaksaku!"
"Ayolah Jaejoong... kami semua tau siapa dirimu itu. Mengapa kau melakukan semua ini? Mana kekasih kayamu itu? Oh aku tau, pasti ia sibuk dengan yang lain jadi kau ingin mencuri kekasihku." Ucap Karam dengan nada sombong.
Jaejoong menatap tajam Karam dengan emosi memuncak. Selama bertahun-tahun ia bersabar dengan tingkah dosaeng kurang ajarnya itu. Karam selalu membuat hidupnya menyedihkan. Ia selalu bersabar. Tapi kini ia tidak bisa. Kemarahannya pada Karam sudah melewati batas. Entah reflek karena ia benar-benar marah. Jaejoong maju mendekati Karam. Ia lalu menjambak rambut Karam dengan kuat.
"Ahhhhhhhhh!" Karam mengerang kesakitan karena Jaejoong menarik rambutnya dengan kuat.
"AKU MUAK DENGAN SEMUA KEBOHONGANMU!" Teriak Jaejoong marah. "Aku tidak pernah menggangngumu. Menyakitimu. Tetapi kau terus saja berbohong tentangku! Mengapa kau tidak bercerita kepada mereka bagaimana aku menemukanmu dengan Hyun Joong di Jeju? Huh? Katakan pada mereka bagaimana kau berhubungan sex dengan Hyun Joong dibelakangku?! Bagaimana kalian berdua berselingkuh dibelakangku selama ini!"
Eomma Jaejoong terkejut. "Karam masih virgin."
"Virgin huh? Hahahaha..." Jaejoong tertawa sarkatis. Lalu ia melepaskan jambakannya dan mendorong Karam ke sisi Hyun Joong. Raut wajah Karam kini berubah menjadi pucat pasi. Ia takut dengan Jaejoong.
Jaejoong menghela nafasnya lalu menghampiri Hyun Joong. "Kau juga. Ada apa denganmu, huh? Sebenarnya apa salahku padamu? Kau berselingkuh dengan dosaengku! Bahkan aku melihat kalian berhubungan sex. Ka... kau melakukan semua itu disaat kau menginginkan liburan untuk memperbaiki hubungan kita huh!? Dan ketika aku memutuskanmu, kau tidak terima. Lalu mabuk dan memukulku! Apa kau menceritakan semua itu pada mereka?" Jaejoong para orangtua yang sedang berdiri dengan kaku. "Kuberitahu Mr dan Mrs Kim. Anakmu mempunyai pertahanan emosi yang buruk. Ia memukulku setelah aku melihatnya tidur dengan Karam!"
"Benar itu Hyun Joong?" Appa Hyun Joong bertanya kepada anaknya. Ia sepertinya tidak percaya anaknya bertindak seperti itu.
Hyun Joong menunduk dan mengangguk pelan.
"OMO!" Eomma Hyun Joong terjejut.
"Aku bukan pelacur seperti yang kau pikirkan Mrs. Kim." Ucap Jaejoong pada eomma Hyun Joong. "Aku hanya tidak mencintai putramu. Aku ingin memutuskannya secara baik-baik. Agar kita nantinya masih bisa berteman. Tetapi apa masih mungkin berteman dengan mantan yang berselingkuh dengan dosaengnya sendiri?"
Eomma Hyun Joong menggelengkan kepalanya.
Jaejoong menghadap Hyun Joong sekali lagi. "Apa yang terjadi barusan adalah kau yang mencoba untuk memelukku. Aku memintamu untuk melepaskanku tetapi kau tak menghiraukanku! Sebenarnya apa maumu?" Tanya Jaejoong.
Hyun Joong menghela nafas dalam. "Sebuah kesempatan, Jae." Jawabnya. "Berikan aku kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya. Hubungan kita ini. Hanya kau yang aku inginkan, Jae. A... Aku melakukan kesalahan." Hyunjoong lalu berbalik menatap Karam. "Mianhe Karam-ah. Sudah berkali-kali kucoba untuk mencintaimu tetapi tidak bisa. Aku masih mencintai hyungmu."
Karam mundur satu langkah. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan Hyun Joong. Ia kira Hyun Joong akan memihaknya.
"Sekarang kau puas? Apa kau bahagia sudah membuat diriku terlihat menyedihkan?" Tanya Karam sambil berlinang air mata.
Sebelum Jaejoong menjawabnya. Ia mendengar suara bel berbunyi. Karena ia berdiri tidak jauh dari pintu, maka Jaejoong membukanya. Ia terkejut dengan dua orang polisi dihadapannya.
"Dia! namja itu! dia orangnya! Dia yang telah melakukan penganiayaan terhadap anakku! Tangkap dia pak polisi!" Eomma Jaejoong berteriak sambil menunjuk dirinya.
Jaejoong menatap eommanya dengan shock.
"Eo... !" Gumam Jaejoong dengan suara bergetar.
"KIM SORA!" Appa Jaejoong berteriak. "Kau tidak bisa melakukan semua ini!"
Semua orang diruangan itu terkejut. Bahkan orangtua Hyun Joong. Mereka hanya bisa diam.
"Sora-yah, Jaejoong anakmu. Bagaimana bisa kau melakukan ini kepadanya?" Tanya appa Jaejoong.
Eomma Jaejoong tersenyum sarkatis. "Huh? Anak? Aku tak mempunyai anak kasar seperti dia! Dia gila! Dia pantas masuk penjara! Atau mungkin dia pantas masuk pusat rehabilitasi mental untuk memperbaiki mentalnya!"
Jaejoong menggeleng tak kuasa mendengar kata-kata kejam eommanya. Ia tak menyangka... makian yang terlontar dari mulut eommanya saja sudah cukup membuatnya hancur. Lalu ini? Melaporkannya ke polisi? Hanya karena menarik rambut Karam? Bahkan Karam saja tidak terluka sedikitpun.
"A...a..appa...hiks..." Jaejoong menatap appanya seakan meminta perlindungan karena kedua polisi itu mulai memborgol kedua tangannya.
Jaejoong tau, appanya juga tak bisa diharapkan. Ia memang selalu membelanya. Tetapi ia tidak akan menang melawan eomma. Entah karena alasan apa ia seperti takut dengannya.
"Kim Sora! Hentikan ini!" Teriak appa Jaejoong pada istrinya. "Annakku tidak bisa dipenjara!"
"Anakku juga tidak bisa menerima penganiayaan dari namja gila ini! Dia lepas kontrol! Kasar! Dia tak bisa dibiarkan berkeliaran bebas!"
"CUKUP! KAU BERLEBIHAN!" Teriak appa Jaejoong dengan marah.
Air mata terus mengalir tanpa henti membasahi pipi Jaejoong. Yang ia inginkan sekarang adalah memeluk dirinya sendiri seperti bola di pojok ruangan. Ia menyadari sekarang. Eommanya bukan hanya tidak mencintainya. Tetapi ia sangat membencinya. Dan... ia tidak tau mengapa? Apa yang telah ia lakukan sehingga eomma membencinya seperti itu?
...
Jaejoong berada didalam sel sementara di kantor polisi selama beberapa jam sembari menunggu appa meyakinkan eomma untuk mencabut laporannya.
Ya Tuhan!Jaejoong berteriak dalam hati. Apa yang telah aku lakukan sehingga aku mendapatkan semua cobaan ini? Apa yang aku lakukan sehingga mempunyai eomma yang sangat kejam seperti itu?
Jaejoong tau sahabatnya diluar sana pasti sedang mencari cara untuk mengeluarkannya dari sini. Mungkin juga ikut meyakinkan eommanya untuk kembali ke akal sehatnya. Tetapi melihat betapa keras kepala eommanya... Mungkin hal itu mustahil.
Jaejoong duduk di kursi panjang. Ia melihat banyaknya coretan di kursi itu. Seperti coretan nama, umpatan dan kalimat jorok. Mungkin coretan itu dari beberapa remaja yang ditangkap dan menginap semalam di penjara sementara ini. Mungkin mereka telah melakukan kesalahan seperti kebut-kebutan, mabuk, membuat onar. Sungguh jauh dari kesalahan yang dibuat Jaejoong yang hanya menarik rambut adiknya.
Dan kini ia juga mendekam di tempat ini. Sungguh ironi.
Jaejoong tersenyum miris. Ia bertanya-tanya apa yang Yunho katakan apabila ia menceritakan semua kejadian ini.
Jaejoong yakin ia akan marah. Tetapi Yunho pasti akan lebih bangga terhadapnya apabila ia bisa melawan Karam. Tidak membiarkan Karam menindas dirinya lagi. Karam sudah cukup menindas dirinya dahulu. Dan kejadian tadi, Jaejoong merasa pertama kali Karam takut akan dirinya.
"Kim Jaejoong." Jaejoong mendengar suara polisi memanggilnya.
"Kau bebas. Seseorang telah menjaminmu." Ucap polisi itu. "Tetapi eommamu tetap tidak mencabut laporannya."
Sudah kuduga. Jaejoong tersenyum pahit. Tentu saja, ia telah menyakiti anak emasnya. Dan mempermalukannya didepan orang tua Hyun Joong. Ia tidak akan pernah melepaskannya.
Ketika Jaejoong keluar sel dan menuju ruang tunggu. Ia melihat semua orang masih disana. Orangtuanya, Hyun Joong dan orangtuanya dan tentu saja si korban Kim Karam. Oh ya ia juga melihat kedua sahabatnya berdiri sambil menatap tajam Karam.
Mereka semua terkejut melihat Jaejoong. Terutama eommanya.
"Apa yang ia lakukan disini? Mengapa ia bisa keluar?" Protes eomma Jaejoong kepada polisi disana.
"Sudah ada yang menjaminnya, nyonya jadi saudara Kim Jaejoong berhak keluar."
"T..tapi… siapa yang menjaminnya? Kami tidak melakukannya?"
Polisi itu memutar mata malas kepada ahjuma dihadapannya. "Ne, tapi memang sudah ada yang manjaminnya." Lalu polisi itu beralih kepada Jaejoong untuk memintanya menandatangani dokumen dan mengambil barang-barangnya berupa dompet dan ponsel.
"Apa kau yang telah menjaminnya?" Tanya eomma Jaejoong kepada suaminya.
"Ania." Jawab appa Jaejoong. "Tapi kumohon kepadamu DIAMLAH! HENTIKAN SEMUA INI!" Bentak appa Jaejoong berani.
Eomma Jaejoong tidak menghiraukan, ia lalu berjalan mendekati Jaejoong. Melihat Jaejoong dengan pandangan menghina. "Beraninya kau menyakiti anakku seperti itu! Kau namja tak tau diuntung! Aku membesarkanmu! Mengijinkanmu tinggal dirumahku! Dan ini! INI BALASANMU KEPADAKU?"
Jaejoong benar-benar tidak mengenali lagi yeoja dihadapannya ini. Ia terlihat sangat marah. Seperti orang kerasukan. Tanpa peringatan, ia mengangkat tangannya dan menampar pipi Jaejoong dengan keras.
Jaejoong hanya diam. Ia bahkan tidak mencoba mempertahankan diri. Ia sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi. Terlalu hancur perasaannya. Terlalu bingung tentang keadaan ini.
PLAK
Eomma Jaejoong menamparnya sekali lagi membuat Jaejoong terhuyung kebelakang. Appanya lalu dengan cepat menahan eomannya yang bersiap akan menampar sekali lagi.
Jaejoong blank, shook, sama sekali tidak bisa berfikir saat itu. Sampai ia baru menyadari kalau dirinya sekarang sudah berada didalam pelukan seseorang. Memberi perlindungan dengan aman. Menjauhkannya dari eommanya yang masih mencoba menyakitinya.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU!" Eomma Jaejoong berteriak.
"KIM SORA! TENANGKAN DIRIMU!" Ucap appa Jaejoong dengan marah. Ia masih berusaha menenangkan istrinya yang terus saja memberontak.
Jaejoong mendongak melihat siapa yang telah memeluknya. Dan ia mendapati sepasang mata yang sangat familiar. Dan mata itu sekarang… sedang menyiratkan kemarahan mendalam. Ia murka…
.
'
To Be Continued…
Onionhaseyuuuu apa khabar chingu ^O^
.
Lama ga jumpa yaa... hohoho...
Ya aammppuunn udah lama banget ya aku ga update... MIANHE :(
Buanyak bgt alasan aq ga stop nulis kmren. Hehehe... tapi aq ga akan cerita k0g. :)
Dan yg buat aku semangat nglanjutin lagi tuh hanya karna beberapa hari kemarin aq ngeliat postingan ttd Jaejoong.
DEMI APA JJ nulis . HUeeeeeeeee... TTTT_TTTT
K freaking JUNG. Itu tandanya apa cobhaaaa T_T Gairah pershipperan q jadi kembali. HOHOHOH^^
Chingu ada yang tau JJ tu napa kog nulis gtu? ada tanda-tanda apakah?
Tp aku juga sedih JJ ga ikut GFF tahun ini ya :(
...
Oke kembali ke cerita. Novel ini sudah mencapai puncak konflik chingu...
JJ dinistakan ya dchapter ini. eommanya bener2 kejam. Karam bener2 nyebelin. hoho...
Umh... pasti nanti banyak yg tanya kpan Yunjae bersartunya? jawabanny masih lama. :D
Tergantung aq yang nglanjutin, lama apa ga... Hohohoho #peace;)
Yang paling gampang n ga bikin penasaran itu ya kalau kalian baca novel aslinya d wattpad^^ nanti bisa bayangin sndiri Yunjaeny gmana :)
...
Oh ya masih banyak kan yang suka sama FF YUNJAE? Soalnya yang aku liat dari beberapa hari kmren buka FFN.
FF Yunjae udah jarang bgt ada disini T_T kebanyakan penulis shipper idol2 baru T_T sedih deh...
Ok udah dulu cuap2 q.
Bagi chingu reader lama FF ini mianhe ya aku lama udpate ;)
Bagi yang baru baca. Selamat datang dan menikmati FF ini :)
Aku orangnya nyatai kog ga galak. wkwkwkw...
...
Pertanyaan unt chp depan. Hayooo siapa yang memeluk mak JJ?
Siapa yg tau?
Tulis d kolom review ya...
Apresiasinya ya chingu...
Kamsahamnida ^o^
