[Chaptered]
Title : Mr. Simple and Mr. Perfect
Chapter : 7 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Humor, Shonen Ai
BGM : Piggy Dolls - Know Her
"Apa yang...", saat Sasuke menyerobot masuk, dia membatu melihat pemandangan di hadapannya.
Naruto sedang duduk di closet duduk sambil mimijat 'adik'nya.
"WUAAA!", Naruto terjungkang melihat Sasuke memergoki aktivitasnya, "Sa...Sasuke...",
"Ka, kau...sedang apa?", wajah Sasuke mendadak memerah, dia tidak sengaja melihat 'adik' Naruto yang besar, panjang dan berdiri tegak.
"A, aku...", Naruto menutupi 'adik'nya yang becek, "A, aku, aku..sedang...ngeden... Pe, perutku mulas, ta, tapi tidak bisa keluar...ehehehe...",
"O, begitu...", Sasuke langsung menutup pintu kamar mandi, membiarkan Naruto ngeden di dalam.
Sasuke mengipasi wajahnya dengan telapak tangan, mendadak suhu di kamarnya memanas. Dia juga merasa malu telah melihat 'adik' Naruto.
"Karena sembelit, 'anu'nya sampai seperti itu?", Sasuke menggeleng saat ingatan tentang bentuk 'adik' Naruto tadi muncul lagi.
Karena kejadian tengah malam itu, Naruto sangat malu untuk bertatap muka dengan Sasuke. Naruto tidak tahu bahwa Sasuke tidak mempermasalahkan itu. Sasuke memang menganggap Naruto sedang sembelit. Sekedar informasi, Sasuke itu masih polos dan belum pernah menonton film porno ataupun merasakan mimpi basah.
"Kau mau kemana, Dobe?", tanya Sasuke melihat Dobe sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur.
"Aku ada urusan!",
"Kau harus membantuku mem...",
"Ino-chan atau Sakura-chan akan membantumu dengan suka rela!", sela Naruto langsung pergi.
"Kubantu ya, Sasuke-kun~", Sakura dan Ino berebut membawa buku PR yang bertumpuk di meja guru. Seharusnya itu tugas Sasuke dan Naruto, tapi Naruto kabur dari tanggung jawabnya.
Langit sudah senja, Naruto belum juga pulang. Sasuke menghubungi ponsel Naruto, ingin mengatakan bahwa waktunya untuk mandi. Naruto harus menyiapkan air untuknya. Tapi ponsel Naruto tidak aktiv.
"Dia kenapa? Apa dia masih sembelit?",
Akhirnya Sasuke memutuskan ke kamar Juugo untuk meminta obat sembelit.
"Obat sembelit?",
"Hn! Dobe sedang sembelit",
Juugo sedikit cemburu melihat Sasuke begitu perhatian pada Naruto. Tapi, di lain sisi, Juugo juga senang karena Sasuke bisa berteman baik dengan teman sekamarnya itu.
"Saya tidak punya obat sembelit, tapi saya akan membelinya",
Karena bosan di asrama, Sasuke ikut bersama Juugo ke apotek. Seperti biasa, Sasuke mengendarai Manda, sedangkan Juugo berjalan kaki.
Di apotek terdekat.
"Apa obat ini juga bisa mengobati 'anu' yang membesar?", tanya Sasuke menunjuk obat sembelit yang ditawarkan apoteker.
"Anu?", Juugo dan apoteker wanita bingung dengan pertanyaan Sasuke.
"Alat vital pria", jawab Sasuke seadanya.
Apoteker wanita itu menahan diri untuk tidak memarahi Sasuke karena telah berbicara mesum. Sedangkan Juugo berusaha untuk tidak melirik ke bagian 'adik' Sasuke.
"Dobe sembelit hingga 'anu'nya membesar", jelas Sasuke yang tidak ingin Juugo berpikir bahwa 'adik'nya yang bermasalah.
"Tuan, tolong jangan berbicara mesum di hadapan wanita", tegur apoteker itu.
Tidak terima teguran, Sasuke memberikan perlawanan.
"Aku tidak sedang berbicara mesum. Aku hanya menjelaskan sakit yang diderita temanku. Tengah malam, temanku terlihat tersiksa karena sembelit, aku melihat 'anu'nya membesar dan berdiri tegak",
"Ma, maaf!", Juugo membungkuk malu sambil membawa Sasuke keluar sebentar.
"Apa aku salah bicara, Juugo?",
"Ti, tidak",
"Lalu? Mengapa kau meminta maaf pada apoteker itu?",
"I, itu karena...", Juugo bingung mau menjelaskannya. Ucapan Sasuke memang terlalu jujur, tapi tidak sopan jika diucapkan di hadapan wanita. Juugo tidak ingin menegur Sasuke, walaupun Sasuke salah.
"Sasuke-sama, tolong tunggu di sini sebentar. Saya akan menanyakan obat yang pas untuk Uzumaki-san",
"Jangan lama-lama, aku tidak suka menunggu", wajah Sasuke terlihat jutek, dia sedang bad mood gara-gara apoteker itu.
"Baik, Sasuke-sama!",
Ini sudah malam, jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat, tapi Naruto belum pulang juga. Naruto tidak akan pulang, karena gerbang asrama telah ditutup 3 jam yang lalu.
Meskipun telah meminum obat tidurnya, Sasuke tidak kunjung tidur karena pikiran negatif terus menghantuinya. Gangguan kecemasannya kambuh lagi.
"Apa aku membuatnya marah?",
"Dobe menghindariku. Itu karena aku aneh",
"Dobe tahu kelemahanku! Dia pasti merencanakan sesuatu untuk membalasku!",
"Dobe akan memprovokasi yang lain agar memusuhiku!",
"Aku akan dimusuhi lagi seperti dulu! Itu semua gara-gara Dobe!",
Sasuke telah tenggelam dalam pikiran negatifnya. Dia tidak menyadari kepulangan Naruto.
"Sa, Sasuke!", Naruto terkejut melihat Sasuke terduduk bersandar di kaki meja sambil memeluk boneka beruang putih, "Kau belum tidur?",
Sasuke mendongak menatap Naruto. Walaupun lampu kamar tidak dinyalakan, Sasuke masih bisa melihat wajah bodoh itu. Cahaya lampu dari balkon membuat kamar tidak begitu gelap gulita.
"Apa yang kau rencanakan?",
"Maksudmu?",
"Apa yang kau rencanakan, Dobe!", ulang Sasuke dengan nada ketus.
"Aku tidak mengerti, apa maksudmu, Suke?", Naruto duduk menyamakan posisi Sasuke.
"Kau pasti merencanakan sesuatu untuk membalasku",
Otak genius Naruto tidak bisa menangkap maksud ucapan Sasuke. Mengapa Sasuke tiba-tiba berkata seperti itu? Apa karena seharian ini Naruto menghindarinya, sehingga Sasuke berpikiran yang aneh-aneh?
"Kau sehat, Suke?", tangan Naruto bermaksud menyentuh kening Sasuke, tapi Sasuke menepisnya dengan kasar.
Tatapan Sasuke begitu tajam, seolah-olah Naruto adalah musuhnya.
"Apa aku membuatmu marah, Suke?",
". . . . .",
"Come on, Suke! Beri tahu aku, dimana kesalahanku?",
"Mengapa kau menghindariku?",
"A, itu...", Naruto tidak mungkin menjawab bahwa dia malu, karena Sasuke melihatnya sedang 'ON'.
"Kau tahu kelemahanku. Kau pasti merencanakan sesuatu!",
Sekarang Naruto mengerti dengan tuduhan yang dilontarkan Sasuke. Sasuke takut Naruto memanfaatkan kelemahannya untuk membullynya. Mengapa Sasuke selalu berpikiran seperti itu?
"Meskipun kau menyebalkan, tapi aku sama sekali tidak ada niat untuk menjahatimu", Naruto tersenyum ramah, sebisa mungkin bersikap lunak pada saat Sasuke sedang marah. Tidak, Sasuke tidak sedang marah. Lebih tepatnya, Sasuke sedang cemas. Naruto ingat dengan cerita Rock Lee, bahwa Sasuke pernah dimusuhi sahabatnya. Mungkin saja Sasuke takut bahwa Naruto akan memusuhinya juga.
Naruto menggerak-gerakkan tangannya, memberi isyarat agar Sasuke mendekat. Sasuke tidak ingin mendekat, maka Narutolah yang mendekatinya. Naruto merangkak naik ke kasur dan duduk di samping kanan Sasuke.
"Aku takut pada ibuku, itu adalah kelemahanku", Naruto memang takut pada ibunya. Serius. Naruto memberitahu pada Sasuke kelemahannya, berharap agar Sasuke yakin bahwa Naruto bukan teman penusuk.
Kening Sasuke mengerut mendengar ucapan Naruto. Setahunya, rata-rata anak takut pada ayah mereka. Apa ibu Naruto itu galak? Apa Naruto membohonginya?
"Jika aku menyakitimu, kau bisa mengadu pada ibuku",
"Aku bukan tipe pengadu!",
"Tapi itu satu-satunya cara untuk membalasku",
Sasuke terdiam karena menyadari pikirannya yang terlalu negatif. Naruto adalah teman baiknya, mengapa dia begitu mencurigai Naruto akan menusuknya dari belakang?
"Ibuku sangat menyeramkan, jika sedang marah. Ekornya melilitiku dengan sangat kuat seperti lilitan anaconda. Lalu dengan ekornya membantingku seperti membanting adonan donat. BuuG BuuG BuuG!", Naruto keasyikan bercerita membuat Sasuke sweatdroop. Naruto memang suka berimajinasi.
"Hentikan bualanmu! Tidak ada ibu yang seperti itu!", Sasuke menendang Naruto agar menjauh dari kasurnya, "Meskipun ibumu galak, jangan pernah menjelek-jelekkan ibumu!",
Naruto tersenyum melihat sifat Sasuke sudah kembali normal. Dia harus lebih hati-hati menjaga perasaan Sasuke. Otak genius Naruto menyimpulkan, jangan pernah menghindari Sasuke tanpa alasan, karena Sasuke akan menuduhnya yang aneh-aneh.
"Maaf, aku bukan bermaksud menghindarimu. Aku hanya sembelit", Naruto terpaksa berbohong demi membersihkan image 'penusuk' di pikiran Sasuke.
"Ah!", Sasuke teringat dengan obat yang dibelinya tadi. Sasuke berdiri untuk mengambil sekantung obat dari laci meja, "Minumlah!",
Sasuke memberikan obat itu pada Naruto. Naruto tersenyum menerimanya.
"Kau memang terlihat seperti ibuku yang galak-galak sayang", guman Naruto melihat betapa tsunderenya Sasuke, sama seperti ibunya.
"Yang plastik biru untuk menyembuhkan sembelit dan yang plastik merah untuk 'anu'mu yang membesar",
"'Anu'ku yang membesar?",
Sasuke melirik ke bagian selangkangan Naruto. Pandangan Narutopun mengikuti arah lirikan Sasuke. Naruto langsung menutupi area lirikan itu, Sasuke dengan cepat berpaling ke arah lain.
"Sudah sembuh kah?", pikir Sasuke setelah melihat dan tidak menemukan tonjolan besar di sekelangkangan Naruto.
Membayangkan kembali 'adik' Naruto yang besar dan berdiri tegak, membuat wajah Sasuke memerah malu.
Meskipun kondisi penerangan kamar yang minim, Naruto bisa melihat semburat merah di wajah Sasuke. Naruto ingin bertanya, mengapa wajah Sasuke memerah? Tapi Sasuke langsung berbaring dan menarik selimut. Ini sudah nyaris tengah malam, saatnya tidur agar besok tidak kesiangan.
"Apa kau sudah mencuci kakimu?",
"Sudah, Suke!",
"Apa kau sudah mengunci pintu?",
"Sudah, Suke!",
Keesokan harinya di sekolah.
Setelah makan siang bersama Sasuke, Juugo langsung berpamitan. Memanfaatkan sisa jam istirahat, Juugo pergi mencari Naruto. Naruto sedang bermain sepak bola bersama Kiba dan lainnya. Seragam kemeja putih yang dikenakannya basah total karena keringat.
"Yo! Senpai!", sapa Naruto berlari mendekati Juugo, "Ada apa, senpai?",
"Apa Sasuke-sama pernah melihatmu onani?", tanya Juugo to the point.
"A...I, itu...", Naruto membatu mendengar pertanyaan blak-blakan Juugo. Otak geniusnya belum bisa memikirkan sebuah jawaban yang tidak membuat senpai berbadan besar ini marah.
Juugo mencengkram kerah seragam Naruto, membuat kaki Naruto menjinjit. Meskipun tubuh Naruto tergolong tinggi, tapi masih ada Juugo yang lebih tinggi darinya. Bisa dikatakan bahwa Juugo adalah murid bertubuh tertinggi dan terbongsor di sekolah ini. Tidak heran jika Juugo begitu ditakuti.
Murid-murid di sekitar melihat dan ada yang berbisik-bisik, mereka mengira Naruto membuat masalah pada Juugo. Menyadari sekitarnya, Juugo melepaskan cengkramannya. Lengan kekarnya merangkul leher Naruto.
"Apa kau melakukannya di hadapan Sasuke-sama?", bisik Juugo agar pembicaraan ini tidak terdengar orang lain.
"Ti, tidak...",
"Lalu, bagaimana Sasuke-sama tahu bahwa 'itu'mu membesar?",
"Sasuke memergokiku di kamar mandi",
"Kau tidak mengunci pintu?",
"A, aku lupa. Kupikir Sasuke tidak akan bangun karena sudah tengah malam",
Juugo mengencangkan rangkulannya. Dia marah karena Naruto begitu ceroboh.
"Jangan pernah melakukan 'itu' lagi, saat Sasuke-sama ada!", ancam Juugo.
"O, OK, senpai",
Juugo akhirnya melepaskan rangkulannya. Saat Juugo berbalik, dia melihat sosok Sasuke telah berdiri di belakangnya. Dada Sasuke kembang-kempis seperti habis berlari. Ya, Sasuke baru saja berlari, setelah mendengar kabar bahwa Naruto membuat Juugo marah.
"Jangan sakiti temanku, Juugo!",
Juugo melihat tatapan Sasuke yang begitu tajam, tatapan yang sama saat Sasuke melindunginya dari serangan musuhnya.
Juugo tersenyum melihat keberanian Sasuke, sedangkan hati Naruto berbunga-bunga karena Sasuke membelanya. Sasuke tidak tahu permasalahannya, jika Sasuke tahu, mungkin dia tidak akan membela Naruto.
"Apa yang kau lakukan, Dobe? Mengapa kau membuat Juugo marah?", tanya Sasuke penuh selidik. Bunga-bunga di hati Naruto mendadak hilang, karena Sasuke tidak sepenuhnya membela Naruto.
"Juugo-senpai melihatku membuang sampah di toilet", hanya itulah alasan yang terpikirkan di otak genius Naruto.
Kening Sasuke mengerut, menahan diri untuk tidak memarahi Naruto. Dia harus mengontrol emosinya. Ingat, Uchiha itu harus tenang dan anggun dalam bertindak.
"Uzumaki-san telah berjanji tidak akan mengulanginya lagi", sambung Juugo
"Hn!", angguk Naruto. Ya, dia janji tidak ceroboh lagi saat beronani nanti.
Masalah selesai, Sasuke melenggang pergi. Naruto tercengir bodoh saat berpamitan pada Juugo, berniat mengejar Sasuke. Tapi dengan cekatan, Juugo menarik kerah kemeja Naruto.
"Ganti seragammu dengan yang lebih bersih, Uzumaki-san",
Seragam yang dikenakan Naruto sangat basah dan pasti bau keringat. Sasuke tidak akan suka itu.
Konoha Highschool, ruang club yoga.
Dari sekian banyak club di sekolah, Sasuke lebih memilih club yoga, alasannya tentu saja karena suasana yang tenang dan relax.
Club ini hanya terdiri dari 1 guru pembimbing, 6 siswi dan 3 siswa. Biasanya club ini tidak ada anggota laki-laki, tapi tahun ini ada. Sungguh sebuah keajaiban.
Saat ini, mereka sedang melakukan meditasi yang telah berlangsung 20 menit yang lalu.
"Zzzz...", terdengar dengkuran halus yang berasal dari sebelah kanan Sasuke.
Dengan mata yang masih terpejam, kening Sasuke mulai berkerut mendengar suara yang mengusik ketenangan.
"Zzzz...", suara itu bagaikan lalat di telinga Sasuke.
Tidak tahan dengan suara itu, Sasuke membuka matanya. Mencubit kuat pipi lalat pengganggu yang sedang tertidur pulas itu. Naruto -sang lalat pengganggu itu langsung terbangun dan menjerit kesakitan.
"Teme!", Naruto mengusap-usap bekas cubitan Sasuke. Teriakan Naruto membuat penghuni club tersentak dan menyudahi meditasi mereka.
"A, maaf...ehehehe...", Naruto tercengir bodoh saat semua mata meliriknya.
Karena ulah berisik Naruto, kegiatan club disudahi lebih awal.
"Hoaaam~", merasa kurang puas tidur, Naruto berbaring sejenak di lantai kayu yang hangat, sambil memeluk alas duduk yang terbuat dari busa.
"Seharusnya kau tidak usah ikut club ini!", dengus Sasuke yang merasa ketenangan club yoga ini lenyap saat Naruto datang.
"Aku penasaran dengan club yang kau ambil. Lagi pula, club ini begitu tenang, Suke~ Cocok untuk tidur. Hoaaam~",
Naruto beguling ke kanan, tidak sengaja menubruk sosok yang masih bermeditasi. Dari 9 anggota club, hanya sosok ini yang tidak terusik dengan kegaduhan yang dibuat Naruto.
Sosok ini adalah Nara Shikamaru.
Hari Minggu kali ini, terasa membosankan bagi Naruto. Karena Sasuke tidak ada. Sasuke pergi menginap di rumah keluarganya sejak Jumat sore. Jika tahu akan sebosan ini, mungkin Naruto akan merengek-rengek pada Sasuke agar Sasuke mau mengajaknya menginap bersama. Bayangkan, 2 malam tidur tanpa Sasuke, itu rasanya seperti apa? Bagi Naruto, rasanya seperti bayi yang tidak bisa tidur tanpa disusui ibu.
"Yo!", Kiba tiba-tiba sudah ada di kamar. Kiba memang suka menyelonong masuk tanpa izin. Salahkan Naruto yang selalu lupa mengunci pintu.
"Si Mr. Perfect belum pulang?", tanya Kiba melihat betapa berantakan kamar yang biasanya selalu bersih ini.
"Mungkin sore atau nanti malam",
"Seharusnya kau segera berbenah. Bagaimana jika dia mendadak pulang? Kau pasti akan tamat!",
"Sasuke akan mengabariku, jika dia mau pulang", Naruto mengambil ponselnya, memeriksa apakah ada pesan atau panggilan masuk dari Sasuke? Ternyata nihil.
"Kau tidak keluar untuk menikmati liburan yang tersisa beberapa jam lagi?",
"Malas",
"Shika pasti menulari kemalasannya padamu",
"Ehem! Aku dengar itu!", Shikamaru sudah berdiri di depan pintu kamar.
Sedari tadi, Shikamaru menunggu Kiba di kamarnya. Mereka ingin mengajak Naruto makan siang di luar. Tapi ternyata Kiba malah asyik menggosip.
"Kami ingin makan shabu-shabu, apa kau ikut?", ajak Shika.
TRiiiiNG
Sebuah ide cemerlang melintas di pikiran Naruto.
"Bagaimana kalau kita ke Icha Icha Paradise?", tawar Naruto.
"Icha Icha Paradise? Kau yakin?", tanya Kiba. Shikamaru dan Kiba tidak pernah makan di sana, karena mereka tahu harga makanannya sungguh mahal. Hanya sekedar duduk dan melihat menu, setelah melihat harga di menu, mereka langsung pergi dengan watados.
"Hn! Pastanya sungguh uenak!", iler Naruto nyaris menetes ketika membayangkan kembali makanan yang dimakannya itu.
"Uwow! Kau pernah ke sana?",
"Hn! Aku mentraktir Sasuke makan di sana! Sasuke suka pasta",
"Tidak kusangka ternyata kau holang kaya", Shikamaru menepuk-nepuk pundak Naruto. Tidak hanya Sasuke, Shikamaru dan Kiba juga menyangka bahwa Naruto itu kere.
Naruto menjelaskan bahwa dia memang tidak sekaya Sasuke, dia hanya beruntung mendapatan Lucky Seat. Kiba yang mendengar itu, ingin sekali ke sana. Siapa tahu bisa dapat Lucky Seat lagi? Kan lumayan!
Naruto juga mengajak Sasuke, dia sungguh rindu dengan si Mr. Perfect itu.
Di sisi lain.
Setelah mendapat panggilan dari Naruto yang mengajaknya makan pasta lagi, Sasuke menyanggupinya.
"Nii-sama! Aku ingin makan pasta sekarang!", Sasuke meminta Itachi untuk mengantarnya ke Icha Icha Paradise. Padahal mereka berencana untuk makan masakan Korea.
Apapun permintaan Sasuke, Itachi pasti akan mengabulkannya. Walaupun permintaan itu aneh-aneh.
Itachi tahu bahwa Sasuke mendadak ingin ke sana karena diajak sang Dobe. Sebentar lagi, Itachi akan tahu siapa sang Dobe yang selalu membuat adik kesayangannya ini tidak tenang?
Naruto, Shikamaru dan Kiba telah sampai di Icha Icha Paradise. Naruto melihat sekeliling, mencari sosok Sasuke. Shikamaru memejamkan mata, memusatkan konsentrasi untuk mencari Lucky Seat. Begitu pula dengan Kiba, mengendus-endus aroma Lucky Seat.
Mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Senyuman ramah masih setia merekat di wajah waitress yang menunggu mereka untuk memilih meja. Para pelayan di sini sungguh ramah, meskipun tingkah pengunjung yang menyebalkan. Sebagian besar pengunjung adalah orang kaya yang sombong dan sebagian kecil adalah rakyat jelata yang norak seperti Naruto, Shikamaru dan Kiba.
Selang beberapa menit, Sasuke dan Itachi datang. Dari meja receptionis, Sasuke bisa melihat sosok kuning mencolok yang sedang berdiri di tengah-tengah ruangan.
Sasuke langsung berjalan cepat menghampiri sosok kuning yang bersama kedua temannya. Sasuke lupa bahwa dia sedang bersama Itachi -sang kakak kesayangannya.
"Mengapa kalian tidak duduk?", tanya Sasuke.
"Hai, Suke!", sapa Naruto yang akhirnya bertemu kembali dengan Sasuke. Jika saja mereka perempuan, Naruto akan memberi cipika-cipiki pada Sasuke.
Shikamaru melihat para pelayan membungkuk hormat melihat kedatangan Sasuke. Dia mengira bahwa Sasuke adalah tamu agung di sini.
"Kami sedang mencari Lucky Seat", bisik Kiba.
"Biar aku carikan!", tawar Sasuke.
Sasuke menjulurkan telunjuk kanannya sambil merapalkan mantra penebak jitu, "Cap-cip-cup belalang kuncup. Dimanakah Lucky Seat berada?",
Pilihan Sasuke jatuh pada sebuah meja dekat dengan cashier.
"Let's go!", ajak Sasuke yang tidak sadar telah bertingkah OOC di hadapan umum.
"OK!", Naruto dengan jinak mengikuti Sasuke. Dia tidak mempedulikan sikap OOC Sasuke.
Shikamaru dan Kiba tidak menyangka bahwa si Mr. Perfect ini bisa bersikap konyol. Mungkin karena sekamar dengan Naruto, sehingga Sasuke tertular kekonyolan Naruto.
Setelah mereka berempat menempati meja. Sasuke baru teringat dengan Itachi, saat Naruto bertanya dengan siapa dia ke sini?
"Kau tidak lupa dengan kakak kesayanganmu ini, Sasuke?", tegur Itachi.
"Nii-sama!", Sasuke langsung berdiri dan menunduk, dia khilaf telah melupakan keberadaan Itachi.
Itachi tersenyum sambil menaikkan dagu Sasuke. Dia tidak suka Sasuke menunduk di hadapan teman-temannya.
"Apa mereka temanmu?", Itachi melirik ketiga teman Sasuke secara bergantian.
Ketiga teman Sasuke terlihat terkejut saat kedatangan Itachi. Bagaimana bisa sosok seperti Itachi yang menjadi kakak Sasuke?
"Hn! Mereka temanku", jawab Sasuke singkat.
Itachi tersenyum sebelum memperkenalkan diri.
"Aku Uchiha Itachi, kakak kesayangan Sasuke",
Sasuke merasa bahwa Itachi salah gaya. Segera Sasuke mengajari Itachi gaya berkenalan ala mereka, yaitu saling beradu kepalan tangan. Itachi tidak menyangka bahwa mereka mengajari hal yang aneh-aneh pada adiknya ini.
"Ayo, nii-sama! Perkenalkan dirimu lagi!",
Itachi terpaksa memperkenalkan diri dengan cara yang diajarkan Sasuke.
"Aku Uchiha Itachi", Itachi menjulurkan kepalan tangannya kepada Naruto, karena Naruto duduk di sebelah kiri Itachi.
"Yo, bro! Aku Uzumaki Naruto!", Naruto memang sok akrab.
"Yo, bro! Aku Inuzuka Kiba!", begitu pula dengan Kiba.
"Nara Shikamaru!", Shikamaru memang tidak pintar berbasa-basi.
Setelah berkenalan dengan saling beradu kepal, mereka duduk kembali.
"Kuharap ini memang Lucky Seat", Itachi menepuk kursi di sebelah kanannya -tempat Sasuke duduk.
"Hn. Semoga...", Sasuke mengusap-usap kursi yang didudukinya.
"Semoga nii-sama tidak marah", doa Sasuke dalam hati. Itachi tersenyum tipis mendengarkan doa itu.
Naruto, Kiba dan Shikamaru juga ikut mengusap-usap kursi masing-masing sambil merapalkan 'Lucky Seat' di dalam hati.
Suasana makan berlangsung ala pasar. Naruto, Kiba dan Shikamaru asyik mencicipi makanan yang mereka pesan. Mereka bertiga saling comot-mencomoti dan suap-menyuapi.
"Mmm! Yummy~",
"Enak kan, Kiba?",
"Uenak!",
"Hey, kalian! Cobain ini, ini juga enak",
"Shika, cobain ini deh! Suer enak!",
"Yang ini juga enak!",
"Iya, itu kesukaan Sasuke. Tapi aku lebih suka yang ini",
"Mereka temanku! Hn! Mereka temanku!", Sasuke menahan diri untuk tidak marah. Dia harus membiasakan diri menghadapi teman-temannya yang berisik ini.
"Ne, Sasuke! Buka mulutmu! Ini enak lho, tinggal 1!", Naruto menyodorkan sepotong udang berukuran besar yang kulitnya telah dikupas bersih oleh Naruto.
"Tidak! Untukmu saja!", tolak Sasuke. Naruto selalu menjilati jarinya yang tertempel saus pasta, dan dengan jari itu Naruto mengupas udang untuk Sasuke. Memang sih, niat Naruto terkesan seperti suami sayang istri, tapi itu terkesan sangat jorok di mata Sasuke.
"Kalian bertiga, bisa lebih tenang sedikit?", Itachi akhirnya buka suara setelah lama diam mengamati.
"Ada apa, bro?", tanya Kiba dengan watados.
Kiba dan Shikamaru masih belum mengetahui bahwa keluarga Uchiha tidak suka berbicara saat sedang makan.
"Ah! Maaf, Suke!", Naruto langsung mengubah gaya makannya, menjadi seanggun Sasuke.
"Apa kita terlihat barbar?", bisik Kiba.
"Hn. Sangat", angguk Naruto.
Kiba dan Shikamaru juga mengubah gaya makannya. Mereka mencontoh gaya makan keluarga Uchiha. Anggun, tenang dan tanpa ekspresi.
Mereka memang tidak mendapatkan Lucky Seat, tapi mereka tidak perlu mengeluarkan uang. Sebagai posisi yang tertua dan juga terkaya, Itachi yang mentraktir mereka. Hitung-hitung sebagai ramah-tamah, karena mereka mau berteman dengan Sasuke.
Itachi juga menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Itachi sampaikan pada mereka.
"Ne, Sasuke",
"Ya?", Sasuke menoleh pada Itachi yang sedang mengemudi.
"Tidur sebentar ya!", Itachi tersenyum sambil menyentuh kening Sasuke.
TuK
Sasuke langsung tertidur pulas.
Terputus
Silakan tinggalkan sesuatu di kolom review :D
Akhir kata :
Motor mogok, kehabisan minyak.
Banyak review, author semangat.
(ノ˚̯́ ∇˚̯̀)ノ✧
