.
.
Chapter Title : Fakta
.
.
"Gwenchana?" Tanya namja yang memeluk Jaejoong.
Jaejoong mengangguk perlahan sambil berusaha berdiri sendiri. Tangannya meraba pipi bekas tamparan eomannya yang kini tampak memerah. Ia meringis perih. Junsu dan Changmin kini sudah berada di sampingnya untuk mengecek keadaan Jaejoong.
"Hyung... gwenchana?" Tanya Changmin cemas.
Jaejoong menanggapinya dengan tersenyum lemah. Lalu Junsu juga ikut meraba pipi Jaejoong yang memerah karena khawatir.
"Ugh.. appoh..." Keluh Jaejoong.
Kedua sahabat itu seketika melontarkan tatapan membunuh kepada eomma Jaejoong.
"Kau sudah keterlaluan kepada Jaejoong hyung, nyonya KIM!" Geram Changmin Marah. Namun hanya ditanggapi wajah sinis eomma Jaejoong.
Sama halnya dengan namja yang baru saja menolong Jaejoong. Ia menatap orangtua Jaejoong tajam membunuh. Aura gelap khas orang berkuasa yang ditimbulkannya membuat semua orang disana berdiri membeku.
"KAU!" Namja itu menunjuk eomma Jaejoong. "SEKALI LAGI KAU MENYENTUH JAEJOONG, AKAN KUPASTIKAN KAU MASUK PENJARA! DAN KUPASTIKAN JUGA KAU TIDAK BISA LAGI MENJALANKAN PROFESIMU SEBAGAI DOKTER!." Teriak namja itu murka.
Eomma Jaejoong hanya menyeringai remeh dan berbisik pada Karam "Apa dia kekasih kayanya yang pernah kau sebut itu?"
Karam menggelengkan kepalanya. "Ania. Dia namja yang berbeda." Jawabnya. Lalu ia tersenyum sinis sambil bergumam. "Dasar Pelacur."
Tetapi tak beruntungnya Karam. Namja itu dengan jelas mendengar umpatan Karam.
"KIM KARAM!" Teriak Namja itu dengan suara menggelegar membuat seisi ruangan kembali diam.
"Kim Jaejoong hanya mempunyai dua namjachingu selama hidupnya. Apa itu definisimu tentang pelacur, huh? Menggelikan." Namja itu tersenyum remeh. "Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri. Kehilangan virginitasmu diusia 13 tahun dengan tetanggamu sendiri. Lalu tidur dengan seluruh tim sepak bola di high school. Termasuk pelatih yang sudah menikah. Pergi ke club malam setiap weekend di Jepang dan berakhir dengan orang asing di pagi harinya. Tidur dengan para dosen di universitas untuk mendepatkan nilai tinggi. Dan tidur dengan siapapun namja yang bisa menjamin kau hidup mewah."
Jaejoong melihat kearah Karam yang kini wajahnya memucat.
"Sadar diri! Betapa murahnya dirimu itu! Aku bahkan merasa jijik padamu, Kim Karam." Ucap Namja itu tanpa perasaan. "Apa eommamu tau kau pernah menjalani perawatan penyakit kelamin?" Ia melihat eomma Jaejoong yang hanya diam membeku. "Ahh... arra, mana mungkin eommamu tau. Walaupun eommamu, Dr Kim Sora seorang dokter specialis kelamin hebat. Mana mungkin kau berobat padanya. Baginya kau adalah anak polos tanpa dosa. Kau tidak akan menghancurkan reputasimu sendiri."
Mata Karam kini telah dipenuhi oleh air mata. Wajahnya pucat seperti tidak ada darah sama sekali. Dan semua orang diruangan itu shook mendengar apa yang dikatakan namja itu.
"KAU NAMJA BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU MENGATAI ANAKKU SEPERTI ITU!" Teriak Eomma Jaejoong murka.
"HUH? BERANI SEKALI ANDA MELAYANGKAN TANGAN ANDA PADA KIM JAEJOONG!" Balas Namja itu tak kalah murka. "Dan apa yang saya katakan itu FAKTA! Itu semua terjadi pada anak kesayanganmu nyonya KIM SORA!"
Eomma Jaejoong menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya. "Kau itu sebenarnya siapa, eoh? Namja asing sok tau datang tak diundang, menyebar fitnah tak jelas seolah – olah kau bisa membeli keluargaku. "
Disisi lain, kini appa Jaejoong mendadak terlihat gelisah. Ia menatap namja itu dengan tidak tenang. Jaejoong sedikit merasa aneh melihatnya.
"Namaku Yoochun." Ucapnya. Lalu ia menatap Jaejoong. "PARK YOOCHUN" Ia mempertegas lagi, lalu beralih menatap tajam appa Jaejoong.
Appa Jaejoong terkejut, seperti tau nama itu mengandung sesuatu yang berbahaya. Wajahnya kini berubah menjadi merah karena cemas.
"Aku pewaris SKY PARK HOTELIERS. Dan ya, aku memang bisa membeli keluargamu." Ucap Yoochun sombong kepada eomma Jaejoong. Lalu ia beralih menatap Jaejoong dengan lembut. "Dan aku adalah dosaengmu, Jaejoong hyung."
Jaejoong mendelik terkejut. Ia menutupi mulutnya dengan tangan.
Dosaeng? Bagaimana bisa?
"Dosaeng?" gumam Jaejoong tak yakin.
Yoochun mengangguk mantap membenarkan.
"Ja..di..k...kau...ju..ga adik Karam?" Tanya Jaejoong terbata.
"Terimakasih Tuhan... TIDAK!" Jawab Yoochun. Kemudian ia menatap dalam appa Jaejoong. "Terkejut mengetahui siapa aku, Mr Kim?"
Appa Jaejoong hanya berdiri kaku dengan wajah pucat.
"Kau seharusnya memberitahu hyungku, siapa dirinya dari dulu." Yoochun menyeringai sinis. "Tetapi ternyata kau terlalu pengecut. Sekarang giliranku untuk memberitahu fakta yang sebenarnya." Yoochun menatap Jaejoong sendu.
"Fakta apa? Apa yang kau bicarakan Yoochun-ah" Tanya Jaejoong bingung.
"Jajeoongie... appa..." Appa Jaejoong menatap anaknya khawatir.
"Appamu sebenarnya bernama Park Jung So." Ucap Yoochun memulai. "Tapi ketika kau berumur 2 tahun, ia mengganti nama dan marganya menjadi Kim Leeteuk. Dengan bantuan Kim Sora pastinya... yeoja yang kau kira eommamu itu."
Jaejoong menatap appanya terkejut. Ia mencerna pernyataan Yoochun itu sejenak lalu berkata, "A..appa Benarkah itu? Wae?"
Kim Leeteuk kini sudah berlinang air mata. "Karena aku tidak ingin eomma kandungmu mengambilmu dariku chagi."
"Eomma kandung?" Jaejoong terkejut lagi. Lalu ia melihat kearah Yoochun.
"Eomma kita, hyung."
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti. "Bagaimana bisa? aku tidak mengerti..."
"Ceritanya panjang... eomma kita dulu dibesarkan di Seoul. Lalu ia bertemu dengan appamu. Menjalin hubungan, sehingga terciptalah dirimu, hyung. Tetapi waktu itu eomma tidak mengatakan kepada appamu siapa sebenarnya diadi China. Haraboji atau appa dari eomma kita mempunyai keturunan darah China dan disana ia adalah pemilik kerajaan perhotelan terbesar. Eomma kita adalah satu-satunya pewaris. Di China, haraboji menjodohkan eomma kita dengan anak dari partner bisnisnya... Park Kyuhyun. Ia adalah pemilik Sky Park Hoteliers, appaku." Ucap Yoochun. "Eomma dan appamu lalu berpisah setelah itu. Karena eomma kita tidak bisa menolak permintaan haraboji yang sedang berjuang melawan kankernya. Eomma kita tidak mengatakan kalau ia mempunyai keluarga di Seoul karena takut akan memperburuk keadaan haraboji. Tetapi ia mengatakan kepada appaku kalau ia mempunyaimu di Seoul, hyung. Dan appaku tetap menerimanya dan perjodohan itu berjalan hingga mereka akhirnya menikah. Eomma kita membuat perjanjian kepada appamu di Seoul untuk menjagamu sampai setelah ia menikah. Lalu ia akan membawamu ke China. Appamu waktu itu menyetujuinya, karena ia pikir kehidupanmu di China akan lebih terjamin. Eomma kita percaya kepada appamu. Tetapi... setelah eomma kembali ke Seoul untuk mengambilmu. Park Jung So menghilang tanpa jejak. Kaupun begitu, hyung."
Jaejoong melihat reaksi appanya. Ia menangis sekarang dan menatap Jaejoong dengan rasa bersalah.
"Seumur hidupnya, eomma kita selalu berusaha untuk menemukanmu, hyung. Walaupun ia terlihat baik-baik saja. Tetapi sejatinya ia terluka. Kebahagiaannya tidak pernah sempurna karena ia merasa telah kehilanganmu." Ucap Yoochun. "Appaku juga berusaha keras untuk mencarimu. Mengerahkan banyak orang dan menyewa detektif. Tetapi hasilnya nihil. Karena yang mereka punya adalah fotomu sewaktu umur 2 tahun. Seumur hidupku juga sangat ingin bertemu denganmu, hyung. Haraboji juga, ia menerimamu dan memaafkan eomma kita. Yang ingin ia lihat sebelum ia meninggal adalah kau, hyung. Tetapi terlambat, ia sudah tiada sekaarang."
Kemudian Yoochun menatap appa Jaejoong. "Kau licik, mengganti namamu dan nama hyungku. Bahkan menghapus semua jejak eomma kandungnya. Membiarkan seumur hidup hyungku berfikir wanita jahat ini sebagai eommanya. Membiarkan seumur hidupnya merasa kecil dan tak pernah dicintai" Yoochun menunjuk kearah Kim Sora dengan pandangan jijik. Lalu menatap kembali appa Jaejoong "Kau itu appa seperti apa, huh? Apabila kau membiarkan hyungku tinggal dengan eomma kandungnya. Appaku akan tulus mencintainya seperti anak kandung. Ia akan hidup seperti layaknya pangeran. Bergelimang harta dan barang mewah. Karena ia berhak untuk itu. Sebagai pewaris salah satu perusahaan perhotelan terbesar. Kau menghalanginya memiliki semua itu! tetapi yang paling tak termaafkan adalah kau menjauhkan hyungku dari haknya menikmati cinta dari keluarga yang mencintainya!"
"A..appa...katakan semua.. itu tidak benar, hiks...!" Jaejoong menatap appanya dengan air mata berlinang.
Appa Jaejoong menutup matanya dan air mata mengalir jatuh melewati pipinya. "Aku hanya takut akan kehilanganmu, Jaejoongie..." Ucapnya. "Aku tau betapa kuatnya eommamu. Aku tau ia akan dengan mudah mengambilmu dariku. Dulu... aku hanya seorang dokter amatir. Bukan siapa-siapa. Aku tak punya kekuatan untuk mempertahankanmu. Terutama dari eommamu dan suami barunya."
Lalu appa Jaejoong menatap istrinya, Kim Sora. "Sora-yah bukannya kita telah membuat kesepakatan?" Tanyanya. "Aku akan menjadi appa dari anakmu dan kau akan menjadi eomma dari anakku. Tapi nyatanya apa? Kau tidak pernah mencintainya sama sekali."
"Bagaimana bisa aku mencintainya? Setiap kali aku melihat wajah anakmu... yang terlihat hanya namja itu, Lee Sungmin! Seorang yang kau cintai seumur hidupmu! Sebelumnya, aku adalah segalanya untukmu. Namun setelah kau bertemu dengan namja itu, kau meninggalkanku! Lalu setelah namja itu meninggalkanmu, kau kembali padaku! Aku menerimamu dan berfikir semua akan baik-baik saja seperti dulu. Tapi Tidak! Semua berbeda! Kau tidak mencintaiku seperti sebelumnya. Cintamu hanya untuknya! Aku tau dia meninggalkanmu, tetapi dia tetap tinggal dihatimu! Aku bisa merasakannya!" Jelas Kim Sora frustasi. "Jadi apa yang kau harapkan? Mencintai anakmu seperti aku mencintai anakku sendiri? Tidak! aku tidak bisa. Anakmu selalu mengingatkanku padamu yang menghianatiku demi namja itu. Dan rasa cintamu padanya hingga saat ini membuatku sulit untuk menerima anakmu!"
Jaejoong menatap Kim Sora yang selama ini ia ketahui sebagai eommanya. Ia sekarang telah mengetahuinya. Kenyataan dibalik sikap buruk eomma padanya. Karena memang: eomma tidak pernah mencintainya.
"Eomma... aku selama ini benar-benar mencintaimu. Aku hanya mengharapkan... sedikit perhatianmu dari yang kauberikan pada Karam. Dan seumur hidupku aku bertanya-tanya mengapa kau tidak bisa mencintaiku dan Karam sama besarnya?" Air mata turun membasahi pipi Jaejoong. "Aku percaya, mungkin ada sesuatu dalam diriku yang salah. Atau sikapku yang salah membuat eomma sulit mencintaiku." Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Tapi ternyata tidak. Kau hanya cemburu dan melimpahkan semuanya padaku!"
Kim Sora menatap Jaejoong. Tetapi ia hanya diam.
"Keadaan ini sungguh menggelikan!" Jaejoong menhela nafas panjang sambil menghapus air mata dengan tangannya. Lalu ia menatap Yoochun. "Sudah berapa lama kau tau bahwa aku adalah hyungmu?"
"Belum lama ini, hyung." Jawab Yoochun. "Ketika kita pertama kali bertemu di bar. Aku sangat penasaran dengamu karena wajahmu sangat familiar. Kau sungguh mirip dengan seseorang yang kukenal. Itu sangat menggangguku dan membuatku penasaran. Dan tak lama aku mendapat jawabannya. Ternyata kau mirip dengan eommaku ketika ia masih muda. Kemudian aku mengatur pertemuan denganmu untuk memastikan semuanya. Aku ingin mengambil sampel DNA dirimu, hyung."
"Bagaimana kau melakukan itu?" Tanya Jaejoong.
Yoochun mendesah "Ketika kita makan malam di restoran hotelku. Setelah kita selesai, aku mengambil bekas gelasmu lalu dengan cepat mengirimnya ke laboratorium untuk diteliti."
"Dan?"
"Dan aku membandingkannya dengan DNAku. Hasilnya, kita mempunyai mitochondrial DNA yang sama. Artinya, kita mempunyai eomma yang sama. Percayalah padaku. Aku sudah mengeceknya selama tiga kali. Dan kau memang hyungku."
Yoochun beralih kepada appa Jaejoong. "Aku sungguh salut padamu yang menyembunyikan identitas hyungku dengan begitu rapi. Tapi Tuhan memang adil. Hyungku yang dari awal berdarah biru akan kembali kepada takdirnya. Tak memungkiri sebesar apapun caramu menghalanginya."
Jaejoong menatap appanya. Perasaannya campur aduk sampai ia tidak tau harus bagaimana terhadap appanya ini. Ia kecewa dengan apa yang telah appa lakukan padanya. Appanya terlalu mengontrol dirinya. Bahkan fakta besar dan penting seperti ini appanya tidak pernah mengatakan apapun padanya. Diusia Jaejoong yang bahkan sudah dewasa.
Dan Jaejoong marah dengan fakta appa memaksanya tinggal dengan wanita monster yang selalu merendahkan dan menghancurkan kepercayaann dirinnya. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk mengemis perhatian wanita itu. Dan apa yang didapat? Kini ia tau, wanita itu memang tidak pernah mencintainya sebagai anak. Bahkan ia membenci dirinya.
Kenapa appa tega melakukan semua itu? pikir Jaejoong sedih. Appanya telah mencuri tahun-tahun berharga dirinya yang bisa ia lalui dengan eomma dan adik yang mencintainya.
"Jaejoongie... mianhe chagi... mianhe... jeongmal mianhe..." Ucap appa Jaejoong sendu.
Jaejoong menggigit bibirnya menahan isakan. Tapi apa daya hatinya terlanjur sakit. Air mata keluar tak terbendung lagi. "Hiks... Appa... mengapa kau lakukan semua ini? Hiks... apabila kau menyayangiku setidaknya selama ini kau berdiri didepanku. Menjadi kesatria untukku dihadapan mereka." Jaejoong menunjuk Kim Sora dan Karam. "Eomma yang kuketahui memang tidak mempunyai alasan untuk mencintaiku. Hiks... tapi... kau punya appa... aku anakmu... kau seharusnya berjuang untukku selama ini pada saat eomma dan Karam membuat hidupku menderita. Seperti pada saat eomma membuatku merasa aku tiak becus melakukan sesuatu. Pada tahun-tahun dimana Karam selalu berbohong dan merebut apa yang kupunyai. Selama ini mereka menghancurkan kepercayaan diriku, appa...hiks... dan apa yang paling menyakitkan..." Jaejoong berhenti sejenak untuk menguasai dirinya dan menghapus air matanya.
Kemudian Jaejoong menghela nafas dalam dan melanjutkan "Kau hanya diam, berdiri disana dan melihat!"
Setelah Jaejoong mengatakan itu ia mengambil dompetnya dan berlari keluar. Tanpa menoleh lagi kebelakang.
Dengan blank Jaejoong melangkah di jalanan. Bahkan tidak menyadari diluar udara sangat dingin membuat badannya bergidik. Tetapi itu tak berlangsung lama karena kini Jaejoong merasakan Jaket kulit tersampir di punggungnya. Membuat tubuhnya sedikit menghangat.
Jaejoong mendongak dan mendapati
Dosaengnya...
"Mianhe hyung, kau harus mengetahui kebenaran dengan cara seperti ini." Ucap Yoochun lembut.
Jaejoong mengambil nafas dalam "Jadi malam dimana kita bertemu di bar hotelmu, kau sudah mengetahui bahwa aku adalah hyungmu?"
Yoochun mengangguk. "Aku bahkan berusaha keras menahan diriku untuk tidak memberitahumu, hyung." Ucapnya. "Hari itu adalah hari dimana hasi test DNA keluar dan aku sangat bahagia menemukan fakta bahwa kau hyungku. Tetapi aku tidak tau bagaimana cara memberitahumu tanpa menyakitimu, hyung."
Jaejoong memejamkan matanya. "Hatiku sakit sekarang."
"Aku tau, hyung. Tidak ada jalan lain menceritakan semua kebenaran ini tanpa menyakitimu. Jadi, tadi malam aku memutuskan untuk memberi tahumu. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku mencarimu, lalu aku tau kau berada di Chungnam. Aku berharap bisa membicarakan ini baik-baik dengan appamu dulu. Memberikan kesempatan kepadanya untuk menceritakan semua kebenaran ini padamu. Tetapi sesampainya disini, aku mendapatimu dalam keadaan kesakitan seperti ini. Ditahan di kantor polisi hanya karena menjambak rambut, huh? Menggelikan. Aku murka. Tidak ada yang bisa menyakiti hyungku! Lalu tanpa pertimbangan lain aku menceritakan semua itu dihadapan mereka. Mianhe, hyung..."
Jaejoong menggelengkan kepalanya dan menangis dipelukan Yoochun. "Ania... jangan minta maaf. Apa yang kau lakukan benar... hiks... apabila tidak, mungkin seumur hidupkupun aku tak akan tau siapa diriku ini..."
Yoochun lalu mengankat wajah Jaejoong dan menghapus air matanya. "Sekarang aku punya hyung. Ucapnya dengan bahagia. "Hyungku ternyata orang yang tegar dan hebat"
Jaejoong tersenyum tersipu. Seumur hidupnya ia tidak pernah dipuji oleh dosaengnya. Yang baru saja ia tau bahwa mereka hanyalah saudara tiri. Kini ia mempunyai dosaeng yang sebenar-benarnya. Yang tentu akan mencintainya... Jaejoong sekali lagi memeluk erat Yoochun dengan rasa bersyukur yang dalam.
"Kita akan pulang hyung." Ucap Yoochun. "Sekarang. Bukan besok atau lusa. Aku akan membawamu pulang. Pasti eomma kita sangat bahagia bisa bertemu denganmu. Seumur hidupnya ia terus menunggumu pulang. Ia sudah cukup menderita."
"Tidakkah kau pernah bilang, dia adalah Kyumin? Penulis terkenal itu?" Tanya Jaejoong.
Yoochun tersenyum. "Ne, hyung. Jadi sekarang kau tau dari mana bakat menulismu itu berasal."
Kebahagiaan tiba-tiba merasuki hati Jaejoong. Dia merasa seperti... pertanyaan yang ia tanyakan seumur hidupnya tentang dari mana bakat menulisnya berasal, kini terjawab dengan jelas.
Eommanya... eomma kandungnya yang seorang penulis terkenal.
Jaejoong pasti akan mencintai eommanya. Seseorang yang dulu pernah memeluknya dan menyanyikan lagu tidur untuknyya... Ia memang terlalu muda untuk mengingatnya... tetapi ia bisa merasakan kasih sayangnya.
Tak sabar Jaejoong ingin bertemu dengaan eomma kandungnya itu.
Yoochun lalau menggandeng Jaejoong berjalan menghampiri Junsu dan Changmin yang berdiri dengan ekspresi shook tidak jauh dari mereka.
"Joongie... jadi dia... do...saengmu?" Junsu membuka suara untuk bertanya.
"Ne Su-ie... perkenalkan dia Park Yoochun. Dosaengku." Jawab Jaejoong sambil menghapus air matanya. Lalu menyenggol Yoochun untuk berkenalan dengan Junsu. Karena dari tadi mereka berdua hanya berdiri mematung sambil bertatap-tatapan.
"Eh, Ne... Park Yoochun imnida." Yoochun mengulurkan tangannya pada Junsu untuk berjabat.
"A..aku.. Kim Jun..su... sahabat Joongie" Ucapnya gugup sambil membalas jabatan tangan Yoochun.
Jaejoong dan Changmin terkekeh melihat tingkah canggung keduanya.
"Su-ie kalau ketemu seme tampan suka gugup chunnie..." Goda Jaejoong. "Dan kebetulan sekali dosaengku ini tampan." Ucapnya sambil memeluk lenganYoochun.
"Yak! Joongie… kau ini apa-apaan eoh." Wajah Junsu memerah seketika. Yoochun tersenyum geli.
"Aku Shim Changmin, kita pernah bertemu sebelumnya waktu itu kau mengantar Joongie hyung yang sedang mabuk." Ucap Changmin sambil mengulurkan tangannya.
Yoochun membalas jawabatan tangan Changmin. "Ah, iya tentu aku masih mengingatmu. Park Yoochun imnida. Sepertinya kita seumuran."
Changmin mengangguk menyetujui.
"Ehmm… aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua karena sudah menjadi sahabat hyungku. Selalu menjaga dan berada disisinya." Ucap Yoochun tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, kedekatan kami bertiga sudah seperti saudara. Kami selalu mendukung satu-sama lain. Iya kan Su-ie hyung?"
Changmin menyenggol Junsu yang sepertinya tidak fokus.
"Eh, i…iya…iya, kami menganggap Joongie seperti saudara sendiri." Ucap Junsu yang ternyata masih gugup.
Jaejoong tersenyum. "Mereka berdua selalu menyayangiku Chunnie…Aku sangat beruntung ada mereka disisiku."
Yoochun mengangguk. "Oke setelah ini aku akan membawa hyungku pulang ke China."
Kemudian suasana menjadi hening karena pernyataan Yoochun.
"Apa kalian ingin ikut?" Lanjut Yoochun.
Mereka terdiam sejenak mencerna pertanyaan Yoochun itu. Tetapi kemudian Changmin bertanya. "Apa kau akan membayari semua akomodasi kami?"
"Ne, tiket pesawat, tempat tinggal, makan atau akomodasi lainnya kalian tidak usah khawatir. Selama kalian selalu menemani Hyungku." Jawab Yoochun.
Junsu dan Changmin saling memandang dengan terkejut. Mereka merasa tak percaya, seperti memenangkan undian besar. Ini sama saja dengan berlibur ke China secara gratis.
"Tentu kami mau. Yay liburan gratiss..."
...
To Be Continued...
Annyonghaseyuuu chingu ^O^
Gimana? Ceritany tx terduga kan? Pada jawab Yunho y...
Hmmm ternyata ntu Yoochun sang dosaeng, hihihi... n ternyata Jaejoong jg seorang pewaris...
Akhirny kedok Karam as bitch terbongkar. Hahaha... kasian sbnrny, authorny yg nistain karakterny total bener... :D
Aq terharu nih sll dtuggu update T_T, Pdhl ini Cuma remake-an hlo... n ini ff udah panjang... bgt. Ga pd bosen a?
Reader paham kan chapter ini? Aq dah berusaha translate dengan bahasa yang ga njlimet hlo T_T
Hmmmm... oke, kalau ada yang ga ngerti bisa tanya di kolom review. Kalau ada kesempatan q balas.
Pertanyaan unt chp selanjutnya. "SIAPA TUNANGAN JUNG YUNHO?"
AQ teu chingu reader pinter-pinter pasti tau lah siapa... ^0^
Makasi ya semuanya...sampai jumpaaa...
Calanghae ^^
