Crying Without Words by Reisuke Celestine
Chapter 2 of ?
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
.
Cast: AkaKuro, slight NijiAka, Sibling!MayuKuro, NijiMayu
.
Warn: AU, Oreshi yang sedikit bercampur dengan Bokushi (?), sho-ai, miss-typo yang ngajakin main petak umpet, plot-rush, klise, sedikit humor (maybe), OOC, dll. (silakan cari setiap kesalahan yang saya buat. ^^")
.
Fanfic pertama saya di fandom ini. Enjoy~ ^^
.
.
Terkadang Kise sedikit merutuki dirinya yang sering sekali keceplosan mengatakan beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu diucapkan. Tapi itu hanya refleks. Seringkali mulutnya—kadang juga sekalian tubuhnya—bereaksi lebih cepat dari pada kerja otaknya. Bukan maksud mengatai dirinya sendiri bodoh, hanya saja ia memang merasa seperti itu. Tapi itu hanya kadang sih. Toh reaksi kebanyakan orang juga hanya merasa kesal padanya—yang jadi dimanfaatkan untuk membullynya.
Tapi kali ini—hanya untuk kali ini saja, ia benar-benar merutuki kebiasaan refleksnya yang satu itu.
Harusnya ia tidak perlu mengatakan apapun. Refleks manusia kebanyakan, ketika dikatakan jangan, malah cenderung mengabaikan karena rasa penasaran yang timbul gara-gara dilarang tanpa disebutkan alasan jelasnya.
"Kurokocchi?"
Grek.
"Aku mau kembali ke kelas. Kise-kun mau ikut atau masih ingin di sini?"
Tetsuya berdiri, menatap lurus ke arah Kise yang memilih untuk tidak membalas tatapan itu tepat di mata. Rasanya seperti bulu kuduk meremang seketika. Biasanya yang sukses membuatnya seperti ini adalah Akashi—itu pun karena memang dasarnya sifat remaja bersurai merah itu seperti seorang diktator.
Oh, well, mungkin memang benar apa kata orang-orang, sekalinya orang yang tidak pernah marah itu marah, rasanya benar-benar menakutkan.
"Err, kurasa aku masih ingin diam di sini—" mungkin, setidaknya sampai bel masuk berbunyi.
"Baiklah."
.
.
"Sudah kan, Nijimura-san? Kau mau memelukku begini sampai kapan?"
Seijuurou jujur saja merasa jengah—dengan pemuda bersurai hitam yang tengah memeluknya ataupun dengan tatapan beberapa orang siswa yang kebetulan lewat atau berada di dekatnya. Mungkin kalau ia tidak ingat siapa orang yang memeluknya ini, sudah dari tadi ada gunting melayang tepat ke arah dahinya.
"Sudah apanya. Sampai dia mau menjawab panggilan dariku, aku tidak mau melepaskan pelukan ini."
Perempatan siku muncul secara imajiner di kepala si surai merah. Dari beberapa orang yang bisa melawan aura intimidasi miliknya hanya Shuuzou satu-satunya orang yang paling menyebalkan. Hampir selalu bersikap seenaknya, mentang-mentang lebih tua darinya.
"Bagaimana kalau kukatakan pada kekasihmu itu kalau kau sembarangan memeluk siswa lain di sekolah ini? Kebetulan tadi pagi aku baru saja punya nomor ponselnya. Mungkin dari yang awalnya tidak mau bicara lagi denganmu, malah jadi tidak mau lagi bertemu denganmu."
Mengabaikan ancaman itu—sebenarnya ia hanya berusaha mengabaikannya sih, ia sedikit merenggangkan pelukannya dan menatap remaja yang lebih pendek darinya itu. "Dia menghubungimu? Apa yang dikatakannya? Lagipula kenapa dia malah menghubungimu bukannya aku!?"
Seijuurou memejamkan kedua matanya, berusaha menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu untuk melampiaskan rasa kesalnya. Memang menyebalkan, memiliki saudara sepupu yang hobi sekali melakukan skinship padanya kalau dia sedang diabaikan sang kekasih.
.
.
Waktu bergulir begitu lama bagi Tetsuya. Waktu berjam-jam hingga pulang sekolah, bahkan terasa seperti bertahun-tahun. Terlalu banyak melamun di kelas dan bahkan hampir tidak melakukan apapun kecuali duduk di bangkunya sambil menatap lurus ke depan, sesekali mengalihkan pandangan ke luar jendela kelas atau membuat coretan-coretan absurd di buku catatannya. Beruntung, mungkin karena hawa keberadaannya yang tipis, guru yang mengajar di kelasnya bahkan tidak menyadari dengan segala tingkah absurd yang tumben sekali dilakukannya.
Tetsuya masih duduk diam di bangkunya, sementara siswa lain di kelas satu persatu mulai beranjak pergi. Rasanya malas, bahkan untuk sekedar mengangkat bokongnya dari kursi—seolah ia direkatkan permanen dengan benda itu.
Pikirannya penuh, kalau boleh jujur. Ini-itu seperti bertumpuk terus-menerus sementara kapasitas otaknya limited. Yang mengambil lebih dari separuh kapasitasnya adalah soal Seijuurou—sisanya menyangkut kakaknya—tepatnya, bagaimana caranya membuat sang kakak berhenti menotice apapun dari dirinya, baik yang dilakukannya secara sengaja ataupun tidak.
"Hhh…"
Ternyata memang melelahkan. Bukan fisik, tapi lebih kepada pikiran dan perasaannya. Akan lebih mudah kalau ia tidak merasakan apapun, dan ia bisa hanya menganggap Seijuurou seperti teman dekatnya, atau kalau mau lebih dekat lagi, seperti kakaknya—setidaknya kalau ia sedang kesal dan tidak ingin menganggap Chihiro sebagai kakaknya, ia punya penggantinya.
Tapi bahkan alur takdir berkata lain.
Semua arah yang dilaluinya seperti ditujukan hanya pada satu hal—kalau pada akhirnya, bagaimanapun cara mereka bertemu ataupun berkenalan, hanya akan berujung pada ia yang menyukai remaja bersurai merah itu.
Menyebalkan? Sangat.
Kalau yang disuka tidak punya kekasih, tidak masalah, walau itu tidak bisa dijadikan jaminan ia akan mengakui perasaannya pada yang bersangkutan. Setidaknya, ia bisa memelihara perasaan ini tanpa perlu harus merasakan patah hati—dalam waktu dekat. Tapi kenyataan yang tertangkap olehnya justru sebaliknya.
Seijuurou sudah memiliki kekasih.
Tetsuya menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan, bersandar pada mejanya. Suasana kelas sudah sepi sejak tadi, hanya dirinya yang tersisa di kelas ini.
"Apa yang harus kulakukan, Chihiro-nii?"
.
.
Chihiro menatap jam yang digantung tak jauh dari tempatnya berada, bergantian lalu menatap sang adik yang duduk di depannya. Si abu-abu jelas mengernyit heran, walau perubahan ekspresi itu kentara sekali tidak begitu terlihat di wajahnya yang memang sedatar papan triplek yang tadi dipukulnya untuk melampiaskan kekesalan pada kekasihnya. Tidak, Tetsuya sama sekali tidak tahu perihal dirinya yang sudah punya kekasih. Alasannya tidak memberitahunya, antara tidak ingin sang adik tertekan karena kakaknya sudah menyandang status in a relationship dengan seseorang sementara predikat single kelihatannya akan disandang si biru muda dalam waktu agak lama, atau juga karena ia tidak ingin Tetsuya menganggapnya shotacon karena memacari remaja yang lebih muda darinya (padahal usia mereka bahkan hanya terpaut satu tahun).
Sudah pulang terlambat, makan malam dengan ramen instan, sang adik malah tidak menotice dirinya dan malah mengaduk-aduk ramen miliknya dengan gerakan konstan. Teratur, tapi ia yakin isi di dalamnya bahkan lebih abstrak dari setiap gombalan yang dilancarkan sang kekasih padanya.
Ada yang aneh. Dan Chihiro adalah orang yang terlalu peka (hanya pada Tetsuya) untuk tidak menyadari penyebab dari tingkah aneh si adik sejak tadi pagi.
"Tetsuya, aku tahu kalau kau sedang jatuh cinta," dan kebetulannya aku tahu siapa yang disukai olehmu tadi pagi, "tapi aku tidak menyangka kalau kau ternyata langsung mengalami patah hati."
"Hah?"
Tetsuya mendongakkan kepalanya, iris biru langitnya mengerjap dua-tiga kali, menatap horror pada sang kakak yang malah memfokuskan penglihatan pada ramen miliknya.
"Tidak perlu disembunyikan, toh sekalipun orang bilang wajahmu lebih datar daripada tembok, ekspresi orang yang jatuh cinta dan patah hati itu sangat mudah untuk dilihat."
Kuroko menatap sang kakak, datar tapi kesal. Sudah mengucapkan kalimat yang tepat sasaran dan langsung jleb tepat ke dalam hatinya, malah sekaligus juga sekalian mengejeknya. Memangnya si abu-abu tidak sadar kalau wajahnya bahkan lebih datar dibandingkan dirinya.
Dobel jleb, rasanya.
Kelihatannya besok ia memang benar-benar harus meracuni sarapan kakaknya. Masa bodoh kalau ia tidak punya kakak lagi, toh ia bisa mencari orang lain untuk dijadikan kakaknya.
"Bagaimana kalau kau melupakannya saja?"
"Kau mengucapkannya seperti itu adalah hal yang jauh lebih mudah daripada sekedar bernafas, Chihiro-nii."
"Aku serius mengatakannya. Tapi…"
Chihiro menggantung kalimatnya, iris abunya kini menatap sang adik.
"Apa?"
"Tidak. Lupakan saja. Bukan hal yang penting juga."
Chihiro beranjak dari tempatnya, daripada memandangi tingkah absurd si adik yang sedang dalam mode galau. Toh ia juga sudah tahu apa yang membuat remaja tanggung itu bertingkah aneh dari tadi.
Yang jadi masalahnya sebenarnya hanya satu, membantunya atau tidak?
.
.
Chihiro memandangi ponselnya. Sesekali jari-jarinya menekan beberapa tombol, berhenti sesaat, lalu meletakkan benda persegi itu di sampingnya sambil menghela nafas—urung melanjutkan apa yang tengah ia lakukan. Hal itu berulang, beberapa kali selama satu jam terakhir. Suara Tetsuya tidak terdengar sejak ia meninggalkan meja makan—err, maksudnya suara yang mengindikasikan bahwa ia tidak sendiri di rumah, karena anak itu bahkan irit bicara (yang sekalinya bicara kadang sering tanpa filter). Ia asumsikan mungkin anak itu sudah tidur atau diam di kamar sambil melanjutkan tingkah absurdnya dengan cara yang lain.
Pemuda bersurai abu-abu itu merebahkan tubuhnya sambil menatap layar ponsel. Sejak tadi ia berusaha menghubungi seseorang, walau yang bersangkutan selalu mengurungkan niatnya ketika jarinya hendak menyentuh tombol hijau.
Masalahnya hanya satu, ia sedang mogok bicara dengan orang yang hendak dihubunginya. Kan tidak lucu kalau hanya dalam waktu kurang dari sehari ia malah menghubungi orang menyebalkan itu.
"Aku tahu ini untuk Tetsuya. Tapi, tidak adakah cara lain selain menghubungi si monyong itu?"
Chihiro sekali lagi menatap ponselnya, memberikan deathglare seolah benda itu adalah sang kekasih yang menyebalkan.
"Shuuzou. Mati saja sana."
.
.
"Saranku sih, lebih baik katakan saja langsung."
Pagi yang cerah, dihabiskan hanya berdua. Rutinitas kelewat biasa yang bahkan sudah dihapal dengan baik oleh Chihiro.
"Apanya?"
Chihiro menopang dagu dengan sebelah tangan, iris gelapnya menatap lurus sang adik yang juga balik menatapnya.
"Apa otakmu sedang kena virus jadi bahkan untuk mencerna maksud perkataanku saja sampai tidak bisa?"
Duagh.
"Aww!"
Tetsuya melanjutkan sarapannya, mengalihkan perhatiannya dari si abu-abu dengan cara bicara menyebalkan seperti biasa, setelah sebelumnya menendang lutut sang kakak di bawah meja.
Chihiro mengelus lutut yang jadi korban. Tidak hanya telapak tangan sang adik saja ternyata yang punya tenaga berlebih, tapi kakinya juga. Ingatkan ia untuk tidak mengganggu si biru muda kalau jarak tempuh pada jalur kabur terlalu jauh.
"Ya sudah."
Si abu-abu mengeluarkan ponselnya, jarinya menekan beberapa tombol lalu ia mendekatkan benda persegi itu ke telinga. Nada sambung terdengar beberapa kali. Tetsuya tidak ingin ambil pusing dengan siapa sang kakak berbicara—toh itu bukan urusannya, jadi ia bergegas menyelesaikan sarapan pagi agar bisa pergi secepatnya.
"Akashi?"
Apa?
Tetsuya mendongakkan kepalanya, menatap horror sang kakak seolah ia sama menakutkannya dengan makhluk astral yang katanya punya wujud mengerikan.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya. Apa kau punya waktu sore nanti? Ada yang ingin dibicarakan oleh Tetsuya denganmu."
Haa—
"Dia terlalu malu untuk bilang langsung padamu. Jadi dia memintaku untuk menghubungimu. Itu saja."
Chihiro memutus panggilan, meletakkan ponsel miliknya di atas meja tapi mata menatap sang adik. Antara ingin menjelaskan maksudnya atau sekalian juga meledeknya.
"Chihiro-nii..."
Tetsuya menatap horor sang kakak, seperti melihat hantu. Tapi alih-alih berwujud seram, hantu yang ini bertampang menyebalkan. Seperti minta ditabok dan ditendang bersamaan. Maksudnya menghubungi orang itu apa coba? Lagipula dari mana juga kakaknya ini tahu kalau orang itu yang sedang dimaksud.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Daripada digantung kelamaan—padahal kau bukan jemuran—lebih baik katakan saja. Tenang, kalau kau ditolak. Hajar saja dengan Ignite Pass tepat di perutnya untuk pelampiasan lalu kabur. Kau kan invisible."
—sungguh, ada cara cepat untuk membunuh sang kakak tanpa ampun atau tidak? Seenaknya sekali.
Tetsuya rasanya ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok terdekat—kalau saja ia tidak ingat kalau kemampuan otaknya terlampau limited. Kalau sudah seperti ini, ia tidak akan punya muka untuk ke sekolah nanti.
Bagaimana ini?
.
.
To Be Continued
.
.
A/n Harusnya end di chapter 2, tapi saya baru sanggup bikin segini. Jadi end nya entah di chapter berapa. Lalu, maaf untuk update yang sangat lama. ^^"
