PYAR!
Semua orang terkejut dan segera menuju asal suara yang berasal dari arah dapur. Dengan segera mereka berlari menghampiri tempat kejadian perkara yang dimana pelakunya adalah tidak lain dan tidak bukan Hansol dan Seungkwan yang tengah mengerjakan tugas mereka untuk membersihkan sisa-sisa sarapan para member.
"Kenapa kau tidak hati-hati sekali sih?" seru Hansol pada Seungkwan yang tangannya gemetar karena baru saja memecahkan piring yang baru Hansol cuci dan tanpa sengaja mengluncur begitu saja dari tangan Seungkwan.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja! Tanganku licin~" alasan Seungkwan. Hansol mendengus.
"Licin? Tapi, aku yang mencucinya kenapa tanganmu yang licin?" tanya Hansol nada bicaranya sudah berubah meninggi.
"Ada apa ini?" tanya Seungcheol yang juga datang bersama member yang lain. Ia menatap Hansol dan Seungkwan bergantian.
"Maaf hyung, aku tidak sengaja memecahkan piring ini. Sungguh, aku tidak sengaja!" sesal Seungkwan. Jeonghan yang sudah berada di samping Seungkwan segera mengelus punggung adik manisnya itu yang sudah berurai air mata.
Hansol yang kesal melihat air mata Seungkwan yang keluar segera melempar serbet ke arah meja makan.
"Cengeng!" sinis Hansol dan berlalu meninggalkan semua member yang ada di dapur bersama Seungkwan.
"Hiks!" Seungkwan kembali terisak dan Jeonghan segera menariknya ke dalam dekapannya.
"Sudahlah tidak apa-apa!" Jeonghan menenangkan Seungkwan.
"Aku—akan membereskan pecahan piringnya!" ujar Minghao memecahkan keheningan dianatara mereka dan segera mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca.
"Apa yang terjadi sampai Hansol terlihat seperti itu? Apa kalian baru saja bertengkar? Oh, ayolah bukankah ini masalah sepele?" tanya Mingyu heran yang diangguki oleh semua member.
"Ada apa Kwan-ie?" tanya Wonwoo lembut. Seungkwan diam dalam dekapan Jeonghan ia menarik diri dan menyeka air matanya.
"Tidak—tidak ada apa-apa!" Seungkwan pergi meninggalkan mereka dan melangkah menuju kamarnya. "Mereka sudah punya banyak masalah tidak mungkin aku menceritakannya dan menambah masalah mereka!" batin Seungkwan seraya berjalan menuju kamarnya.
"Pasti ada yang tidak beres diantara mereka!" gumam Jun.
"Ya ampun, ada apa lagi ini?" lanjut Suengcheol memijat pelipisnya lelah. Jeonghan ikut melangkahkan kakinya meninggalkan adik-adiknya tanpa berkata apa-apa juga diikuti Soonyoung yang entah kenapa terlihat tidak bersemangat sama sekali.
"Jihoon-ie apa kau akan ke studio hari ini?" tanya Seungcheol. Jihoon mengangguk.
"Ya hyung, aku bosan di dorm. Aku ingin ketenangan!" jawab Jihoon juga ikut meninggalkan Seungcheol dan orang-orang yang masih memilih untuk berdiam diri di dapur mereka.
Minghao kembali bersama sapunya dan dengan cekatan langsung membersihkan pecahan kaca itu yang juga dibantu oleh Wonwoo.
"Aw!" pekik Wonwoo tiba-tiba yang membuat semua atensi para member tertuju kearahnya. Jisoo yang paling dekat dengannya langsung menghampirinya dan meraih tangan Wonwoo yang tak sengaja terkena pecahan kaca sehingga membuat jari tangannya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Dengan cekatan dan hati-hati Jisoo menyesap darah di jari Wonwoo dengan bibirnya yang membuat semua member menatapnya tak percaya termasuk Mingyu yang entah kenapa hatinya terasa terbakar saat itu juga.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jisoo perhatian seraya menagambil sebuah sapu tangan kecil yang selalu ia bawa di kantung celananya dan mengikatnya dengan telaten di jari tangan Wonwoo. Jisoo menusap surai Wonwoo lembut.
"Kau harus hati-hati Wonu-ya! Jangan sampai terluka, okey? Sudah! Biarkan hyung yang melanjutkannya!" lanjut Jisoo yang hanya dibalas tatapan diam dan terkejut dari Wonwoo.
"Ti-tidak hyung, aku tidak apa-apa!" ujar Wonwoo salah tingkah.
"Tidak! Kau bersihkan saja lukamu!" Jisoo tetap kukuh dan Wonwoo mencoba untuk mengelak tapi ia sudah terlanjur kalah dari awal hanya karena tatapan lembut dari Jisoo.
Mingyu yang melihat interaksi Wonwoo dan Jisoo, entah kenapa membuat kekesalannya berkali-kali lipat ditambah tatapan Jisoo yang semakin dalam saat menatap Wonwoo belum lagi sikap gugup Wonwoo akibat dari sikap Jisoo yang sangat perhatian padanya. Mingyu berbalik badan dan segera meninggalkan dapur dorm Seventeen.
"Yak, Wonu-ya apa yang dikatakan Jisoo itu benar, lebih baik kau bersihkan saja lukamu itu!" titah Seungcheol.
"Ya, hyung! Kau terluka, aku bisa melanjutkannya!" kali ini Minghao yang angkat bicara dan Wonwoo hanya bisa mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu! Kau juga jangan sampai terluka Minghao-ya!" balas Wonwoo dan Minghao hanya membalasnya dengan anggukan. Wonwoo beranjak dan pergi menuju kamar mandi bersamaan dengan Jihoon yang tiba-tiba muncul.
"Hyung, aku pergi ke studio dulu, ya~" pamit Jihoon datar yang hanya diangguki oleh mereka semua.
"Apa kau akan pulang malam?" tanya Seungcheol.
"Sampai aku merasa bosan disana maka aku baru akan pulang!" jawab Jihoon dan pergi begitu saja. Seokmin, Jun, dan Chan kemudian menatap Seungcheol tak mengerti.
"Ada apa? Kenapa kalian bertiga menatapku seperti itu?" tanya Seungcheol menantang.
"Tidak! Hanya saja, itu hyung! Ponselmu~" ujar Seokmin hati-hati. Seungcheol menunduk dan melihat ponsel yang dipegangnya sedari tadi yang tanpa henti berkelap-kelip pada layarnya. Seungcheol mendengus.
"Hm, lakukan saja sesuatu yang bermanfaat selama kalian ada waktu luang!" himbau Seungcheol dan berlalu meninggalkan mereka. Seokmin, Jun dan Chan mendekati Minghao dan Jisoo yang hampir selesai membersihkan pecahan piring itu.
"Apa menurut kalian akan ada pertengkaran lagi?" bisik Seokmin.
"Hm, entahlah!" ujar Minghao tak mau ambil pusing.
"Memangnya kalian tahu kenapa Hansol dan Seungkwan bisa bersikap seperti tadi?" tanya Jun.
"Aku mendengarnya hyung!" ujar Chan. "Mereka berseteru sama seperti saat Jihoon hyung dan Soonyoung hyung berbeda pendapat dan berakhir dengan pertengkaran!"
"Ah, benarkah? Tapi, kenapa?" tanya Seokmin penasaran. "Kau sekamar dengan Hansol bukan?"
"Ya, aku memang sekamar dengan Hansol hyung, tapi jika mereka bertengkar di kamar Seungkwan hyung bagaimana? Mana aku tahu!" jelas Chan.
"Wah, kau memang maknae yang pintar! Hao-ya, bukankah kau sekamar dengan Seungkwan?" tanya Seokmin beralih pada Minghao.
"Aku tidak tahu apa-apa!" jawab Minghao cepat.
"Lalu, ada apa dengan mereka?" tanya Jun.
"Sudahlah! Hentikan gosip kalian yang tidak penting itu!" lerai Jisoo beranjak berdiri setelah mengumpulkan pecahan piring menjadi satu dan bersiap untuk membuangnya.
"Kau tahu kenapa hyung?" tanya Seokmin. Jisoo tersenyum tampan.
"Kalian tahu, tidak ada yang tidak Jisoo ketahui jika itu mengenai semua member!" Jisoo memuji dirinya sendiri dan melangkah meninggalkan mereka.
"Apa menurut kalian Jisoo hyung berkata benar?" tanya Seokmin.
"Sejauh ini bukankah memang benar? Dia satu-satunya orang yang tidak pernah terkena masalah tapi justru dia yang selalu menjadi penengahnya, bukan?" tanya Jun
"Hm, tidak ada yang tidak diketahui oleh Jisoo hyung!" balas Chan ikut menirukan gaya bicara Jisoo.
.
.
.
"Baiklah hyung, aku akan kesana sekarang!" Seungcheol menutup sambungan teleponnya pada seseorang diseberang sana. Ia mendengus lelah. Kemudian, berbalik badan untuk pergi menuju kamarnya. Tepat saat ia baru melewati ruang tengah tak sengaja berpapasan dengan Jeonghan dan Jeonghan hanya melangkah begitu saja seolah hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
"Aku ada di depannya tapi, kenapa dia menganggapku tidak ada? Jeonghan~kenapa kau membuatku benar-benar merana sekarang?" batin Seungcheol prihatin ia menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya sementara Jeonghan yang sebenarnya merasakan kehadiran Seungcheol ikut menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan untuk menatap punggung tegap Seungcheol.
Jeonghan kembali berbalik dan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak pernah ingin berjauhan seperti ini, Cheol-ie~aku juga tidak bisa membela diriku di depanmu! Aku begitu rapuh tanpamu!" batin Jeonghan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda dan bersamaan dengan itu Seungcheol membalikkan badannya menatap punggung Jeonghan yang semakin menghilang di dalam dapur dorm mereka.
Seungcheol berjalan memasuki kamarnya untuk mengambil mantel dan bersiap untuk pergi.
"Hyung? Kau mau kemana?" tanya Mingyu yang muncul memasuki kamarnya tiba-tiba.
"Aku mau ke agensi sebentar ada yang harus aku bahas dengan manajer-nim!" jawab Seungcheol, Mingyu hanya mengangguk paham. "Sampaikan pada yang lain jika ada yang bertanya, ya?" Mingyu kembali mengangguk. "Kalau begitu, hyung pergi dulu Gyu-ya!"
"Yap, hyung! Hati-hati di jalan!" balas Mingyu yang hanya diangguki oleh Seungcheol.
.
.
.
"Benarkah hyung? Kau sedang tidak bercanda kan?" tanya Seungcheol girang bukan main saat ia sampai di kantor agensi dan berbincang pada manajer Seventeen.
"Tentu saja tidak! CEO hanya memberikan kalian liburan selama 3 bulan selama musim salju!" manajer kembali menjelaskan dan Seungcheol tertawa senang.
"Aku yakin semua member pasti—" Seungcheol menghentikan ucapannya tiba-tiba.
"Tidak mungkin tiba-tiba aku mengatakan jika anak-anank dalam keadaan tidak akur termasuk aku. Tidak-tidak! Ini masalah pribadi!"
"Ada apa? Tidak ada masalah di dorm bukan?" tanya sang manajer yang melihat perubahan sikap Seungcheol yang sangat ketara. Seungcheol menggeleng cepat.
"Tidak hyung! Aku hanya membayangkan kira-kira liburan apa yang akan kami lakukan nanti!"
"Apa dari kalian tidak ada yang ingin pulang ke rumah?" tanya manajer lagi. Seungcheol berfikir sejenak.
"Aku akan merundingkannya dengan member nanti!"
"Okey, jangan lupa untuk memberitahukanku keputusanmu dan member nanti!" Seungcheol mengangguk.
"Baiklah hyung! Aku pasti akan memberitahukanmu, jika tidak ada hal lain lagi, bolehkah aku pergi sekarang?" tanya Seungcheol.
"Ya tentu saja! Sampai jumpa, !" Seungcheol mengangguk dan membungkukkan badannya 90° kemudian pergi meninggalkan manajer Seventeen di ruangnnya.
"Hah! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi member nanti setelah aku memberitahukan hal ini pada mereka!" Seungcheol memperlambat langkahnya untuk kembali ke dorm Seventeen. Namun, entah apa yang membuatnya tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Seungcheol berfikir sejenak. "Bukankah Jihoon ada di studio hari ini? Hm, akan lebih baik aku kesana saja! Yap, aku yakin dia sedang tidur sekarang!" putus Seungcheol berbalik badan dan melangkah menuju studio dimana Jihoon berada.
Tok! Tok! Tok!
Seungcheol mengetuk pintu studio kemudian langsung membukanya. Ia menyembulkan kepala di celah pintu.
"Jihoon?" panggil Seungcheol lirih.
"Eung? Seungcheol hyung?" suara Jihoon memastikan.
"Boleh aku masuk?" tanya Seungcheol yang hanya dijawab anggukan oleh Jihoon. Seungcheol memasuki studio Jihoon dan menutup pintunya.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak hyung! Bahkan, aku sedang tidak punya inspirasi untuk menulis lirik sekarang!" Jihoon mengucek sebelah matanya pertanda bahwa ia baru saja bangun dari tidurnya. Seungcheol mendudukan dirinya di sofa dimana Jihoon duduk saat ini.
"Kau habis tidur?" tanya Seungcheol. Jihoon tersenyum sekilas.
"Semalam aku tidak bisa tidur hyung! Seungkwan dan Hansol bertengkar semalam! Dan, itu sangat menggangguku!" Seungcheol membulatkan kedua matanya.
"Seungkwan dan Hansol semalam bertengkar?" ulang Seungcheol tak percaya, Jihoon hanya mengangguk sekenanya.
"Ya begitulah hyung, mereka bertengkar di kamar Hansol! Tengah malam!" Jihoon mulai bercerita pelan. "Itulah kenapa banyak member yang tidak tahu jika mereka berdua baru saja bertengkar ditambah lagi esok harinya jadwal mereka mencuci piring, tentu saja itu membuat Seungkwan canggung. Kau tahu bukan, seperti apa Seungkwan itu hyung?" Seungcheol hanya mengangguk.
"Kenapa mereka bertengkar? Apa hanya kau yang tahu?" tanya Seungcheol lagi. Jihoon menggeleng.
"Aku dan Jisoo hyung berhasil memisahkan mereka lebih tepatnya Jisoo hyung yang melakukannya. Aku hanya menjadi saksi karena memikirkan masalahku saja sudah membuatku pusing!" Jihoon menekuk wajahnya pertanda bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Kau ingat dimana saat ponsel Hansol jatuh dan LCD pada layarnya rusak, hyung?" tanya Jihoon dan Seungcheol kembali hanya mengangguk.
"Bukankah ponsel itu karena Seungkwan yang tidak sengaja menjatuhkannya?"
"Ya itulah hyung, mungkin karena itu membuat mood Hansol memburuk jika dengan Seungkwan! Aku tidak tahu ada apa dengan mereka tapi, mereka semua sedang dalam keadaan tidak baik! Oh-ya hyung! Ada apa kau kemari?" Jihoon mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan manajer-nim! Aku bosan di dorm dan aku fikir untuk menemui saja! Di dorm entah kenapa suasananya benar-benar terasa dingin!" Jihoon mengangguk. "Ah, aku lupa, bukankah sebentar lagi musim salju?" tanya Seungcheol dan Jihoon hanya mengangguk. "CEO memutuskan untuk memberikan kita libur selama 3 bulan lebih tepatnya sepanjang musim salju!"
"Benarkah? Kabar yang bagus!"
"Tentu saja, aku juga berh—" Seungcheol menghentikan ucapannya dan meraih ponselnya karena suara dering yang tiba-tiba saja keluar dari benda persegi itu. Seungcheol menggeser layar pada ponselnya untuk menjawab orang yang menghubunginya dari seberang.
"Ada apa, Wonu-ya?" tanya Seungcheol langsung.
"Hyung, bisakah kau pulang sekarang?" ujar suara seseorang dari seberang.
"Ada apa? Apa dorm baik-baik saja?"
"Tidak hyung, semuanya sedang tidak baik! Seungkwan dan Hansol bertengkar lagi! Pulanglah sekarang hyung, sekarang—secepatnya! Aku mohon!"
"Baiklah-baiklah! Hyung akan pulang sekarang!" pihak seberang langsung mematikan sambungannya secara sepihak.
"Ada apa hyung?" Tanya Jihoon ikut panik melihat perubahan ekspresi pada Seungcheol setelah seseorang di seberang sana menghubunginya. Seungcheol mendengus.
"Lebih baik, kita pulang sekarang Jihoon! Dorm sedang dalam keadaan kacau!" lirih Seungcheol murung.
"Tidak apa-apa hyung! Semoga, semua ini tidak berlangsung lebih lama!" ujar Jihoon mencoba untuk menenangkan hyungnya itu.
.
.
.
"Kenapa kau terus saja menyalahkanku?" seru Seungkwan kesabarannya mulai diujung tombak. Hansol berdecak.
"Lalu aku harus menyalahkan siapa? Chan? Minghao hyung? Seokmin hyung? Atau Soonyoung hyung? Ah, atau Jeonghan hyung? Bukankah kemarin kau mengatakan keadaan dorm ini tidak baik karena Jeonghan hyung dan Seungcheol hyung bukan?" seringai Hansol menatap tajam pada Seungkwan. Seungkwan mencoba untuk memberanikan diri membalas tatapan Hansol. Sementara, Jeonghan yang mendengar namanya disebut dengan nada bicarakan disalahkan ingin membela dirinya namun dengan cepat Jisoo yang berdiri di samping Jeonghan segera menahan tangan pemuda cantik itu. Jisoo menggeleng pelan mengisyaratkan bahwa lebih baik Jeonghan tidak ikut campur.
"Bisakah kau menilai dirimu sendiri sebelum bicara? Kau juga bersalah, apa kau ingat kau juga pernah merusak jam tangan kesayanganku yang diberikan oleh ibuku untukku, apa aku marah? Aku tahu ponselmu ada banyak kenanganmu bersama adikmu tapi apa aku berusaha untuk melarikan diri? Apa aku tidak akan bertanggung jawab?" tuntut Seungkwan suaranya melembut namun mulai bercucuran air mata membuat semua member yang ada disana diam membeku seketika.
"Aku tahu, kau marah! Karena kau sangat menyayangi adikmu tapi—aku juga sangat menyayangi ibuku, apa kau fikir aku juga tidak terluka?" tanya Seungkwan lagi, kemudian ia tersenyum miris seraya mengusapa air matanya.
"Lupakan! Kau tenang saja, tak perlu khawatir aku tetap akan bertanggung jawab Chwe Vernon Hansol!" Seungkwan berbalik badan meninggalkan ruang tengah dimana semua member berada termasuk tanpa mereka sadari keberadaan Jihoon dan Seungcheol yang entah datang sejak kapan.
Semua orang mendengus. Dan, tepat saat itu kedua mata Seungcheol tak sengaja bertemu dengan kedua mata Jeonghan yang menatapnya sinis. Seungcheol memincingkan kedua matanya. Ia juga mendengar saat Hansol menyalahkan dirinya atas semua kejadian di dorm ini. Seungcheol mendekati Jeonghan dan menarik tangannnya denga kasar.
"Ikut aku!" ajak Seungcheol dingin namun dengan segera Jeonghan menepis tangan Seungcheol. Seungcheol berbalik dan menatap Jeonghan tak percaya.
"Jika kau ingin bicara—bicaralah sekarang!" titah Jeonghan dingin. Seungcheol menatapnya garang.
"Kenapa kau senang sekali mengumbar pertengkaran kita di depan mereka?" tegas Seungcheol.
"Mengumbar? Kau yang memulainya, Choi Seungcheol!" Jeonghan menatap garang wajah Seungcheol yang berdiri tepat di depannya.
"Aku tidak akan memulai jika kau—"
"Aku?" potong Jeonghan. "Apa yang aku lakukan?" tanya Jeonghan dingin. "Tidak puaskah kau jika semua orang disini sudah menyalahkanku?"
"Ya, kau memang pantas untuk disalahkan!" Jeonghan mengepalkan kedua tangannya.
"Seungcheol hyung~" panggil Wonwoo tak percaya saat merasa bahwa ucapan Seungcheol sudah sedikit melampaui batas.
"Seungcheol, tidak kah kau tahu apa yang baru saja kau bicarakan?" tanya Jisoo tajam.
"Hyung, sudahlah hyung!" kini giliran Jihoon yang angkat bicara.
"Sudahlah, kalian tidak perlu ikut campur!" Seungcheol menatap tajam Jeonghan. Jeonghan yang sudah tidak dapat lagi menahan air matanya membalas tatapan Seungcheol.
"Aku tahu apa yang kau mau Choi Seungcheol yang terhormat. Aku katakan padamu untuk yang terakhir kalinya, jangan bicara padaku, jangan menanganggap jika kita saling mengenal, dan—jangan pernah menatapku diam-diam! Dan, kalian!" Jeonghan menatap semua member satu persatu dengan garang. "Tidak perlu bicara di belakangku, jika kalian merasa aku yang bersalah atau tidak menyukaiku langsung katakan saja padaku atau tidak sama sekali. Aku tidak meminta kalian untuk menjadi pembelaku atau pembelanya. Itu semua terserah kalian!"
TBC
Annyeong readerdeul, heum udah berapa lama yak aku gak update semoga lanjutannya memuaskan-nde...
Want to next?
See you in next chapter,
Spesial thanks to:
MeliaWon | saktwu | GameSMl | yujidoo | itsmevv | rinrin coups | pxv1314 | Han Jang Ssi | Qian989 | xttsejhg | PeaNdut | melanisaturlina
Makasih juga buat yang udah follow, dan favourite ff ini. Jangan lupa review ya, reader tersayang :*
Kamsamhamnida,
Bye bye
Kokoya Banana
