Semenjak kejadian dimana, Jeonghan mengatakan kepada semua orang jika ia sudah tidak ingin berurusan dengan pemuda yang bernama Choi Seungcheol lagi dan menyuruh mereka untuk bebas melakukan apa yang mereka inginkan dan tidak melarang mereka ataupun menyuruh mereka. Sejak saat itu, entah kenapa beberapa member ikut memihak salah satu diantara kedua orang tetua itu. Seperti saat ini, Seungkwan, Soonyoung, Minghao, dan Chan memihak pada Jeonghan. Sementara, Hansol, Jihoon, Jun, dan Seokmin memihak pada leader mereka, Choi Seungcheol. Apa ada yang kurang? Hm, tentu saja! Tak mungkin kita melupakan tiga pemuda yang selalu menjadi penengah mereka, siapa lagi jika bukan, Jisoo bersama kedua pasang kekasih Mingyu dan Wonwoo yang sekarang sedang duduk di meja makan dalam keadaan dorm yang sepi yang entah para penghuni pergi dan melancung kemana.

"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Wonwoo memecah keheningan selama beberapa menit setelah mereka memutuskan untuk duduk bersama di meja makan selama beberapa member yang sedang keluar atau sekedar untuk tidur siang.

"Kata Seungcheol kita mendapat libur selama musim salju!" Jisoo memberitahu.

"Benarkah?" tanya Wonwoo sumringah. "Wah, baguslah ini bisa sangat menyenangkan kita bisa latihan bersama, menyiapkan album baru seraya sekali-kali bermain-main bukan?" Wonwoo kembali berujar seketika kedua matanya yang tadinya menatap Jisoo kini beralih menatap Mingyu yang terlihat seperti menekuk wajah tampannya.

"Yak! Kim Mingyu, kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu?" tanya Wonwoo, Mingyu hanya melengos merajuk sementara Jisoo terkekeh melihat interaksi kedua pasang kekasih itu. "Kau marah padaku? Memangnya aku baru saja berbuat salah?" gumam Wonwoo polos. Mingyu semakin melengos memandang apa saja di sekitarnya asalkan tidak Wonwoo atau pun Jisoo. "Kim Mingyu~" Wonwoo memanggil dengan rengekan dan Mingyu tetap pada mode diamnya untuk mengacuhkan Jeon Wonwoo.

"Aku rasa dia sedang dalam masanya!" ejek Jisoo, Mingyu menatap tajam Jisoo dan amarahnya sudah berada di ambang batas.

"Yak! Apa hyung pikir aku ini seorang gadis?" seru Mingyu tajam.

"Haha! Kenapa kau tak menyahut panggilan Wonwoo?" Jisoo terkekeh dan kembali tertawa saat Mingyu justru semakin menatapnya dengan tatapan anehnya.

"Mingyu~kau kenapa?" tanya Wonwoo melembut dengan kedua mata yang ia buat membulat dengan ekspresi yang menggemaskan.

"Ya ampun~lihatlah betapa menggemaskannya kekasih itu Kim?" Jisoo sengaja memanas-manasi Mingyu. Mingyu menoleh sekilas malu-malu menatap wajah kekasihnya.

"Mingyu~" Wonwoo kembali merengek. Jisoo tertawa dan Mingyu menahan hasratnya untuk tidak memakan Wonwoo di depan Jisoo saat itu jaga (?), yak! Apa kau berani untuk melakukannya Kim Mingyu?

Jisoo tertawa keras seraya menepuk punggung Mingyu yang berada di sampingnya.

"Jika kau tetap diam dan tidak menyahut, aku berjanji akan merebut Wonwoo darimu Kim!" ancam Jisoo yang terdengar antara candaan dan serius. Mingyu membulatkan matanya.

"Ya, Jisoo hyung benar! Itu berarti kau tidak lagi mencintaiku! Baiklah, aku akan berpaling pada Jisoo hyung!" Wonwoo menyetujui dan Mingyu semakin kelabakan.

"Yak, hyung! Apa kalian berdua sudah gila? Wonu hyung~aku tak bisa hidup tanpamu!" rengek Mingyu mempoutkan bibirnya.

"Salah kau sendiri!" Wonwoo berpura-pura kesal.

"Hyung~maafkan aku!" sesal Mingyu. Wonwoo tersenyum dan mengusak surai hitam Mingyu yang duduk di depannya di samping Jisoo.

"Hey, hentikan! Masih ada orang disini!" Jisoo melepaskan tangan Wonwoo dari kepala Mingyu yang membuat Mingyu seketika langsung menatapnya tajam. "Jika kalian ingin berlovey-dovey sebaiknya tahu tempat jika tidak bagaimana jika aku juga minta ikut dimanjakan Wonu, hm? Kalian mau tanggung jawab?" Jisoo lagi-lagi mengancam.

"Yak! Hyung! Wonu hyung, hanya milikku! Dia! Hanya milik Kim Mingyu!" Mingyu berucap penekanan.

"Hey, apa kau lupa aku juga memiliki orang tua, Kim?" tanya Wonwoo meralat. Mingyu mendengus.

"Disini hyung, di dorm ini!" Mingyu memberi alasan.

"Dasar bocah!" Jisoo berdecak.

"Asih, sudahlah kalian berdua ini! Kenapa malah jadi saling bersungut seperti ini, hm?" lerai Wonwoo.

"Jisoo hyung yang mulai!" Jisoo menoleh dan menatap tajam Mingyu.

"Yak, Kim! Kau lupa, siapa yang tidak menyahut panggilan Wonwoo hingga Wonu-mu ini sampai merengek?"

"Itu juga karemu hyung!" Mingyu kembali menyalahkan Jisoo. Jisoo semakin mentapnya tajam.

"Aku lagi?"

"Ya!" Mingyu menantang Jisoo. "Kau berlagak menjadi pahlawan Wonwoo mengisap jarinya yang terluka di depanku! Dan kau sok perhatian padanya dan itu di depanku!" Mingyu kembali berucap penuh penekanan. Wonwoo dan Jisoo saling berpandangan kemudian keduanya tertawa dengan keras.

"Aku paham sekarang~" ujar Wonwoo menggoda Mingyu. Jisoo terkekeh. "Kau cemburu bukan?"

"Tentu saj—apa? Aku tidak mungkin!" Mingyu mengelak dengan salah tingkah.

"Tidak usah seperti Seungcheol, kau menyesal jika tidak mengakuinya! Lagi pula, kebetulan aku yang terdekat saat itu, bukankah kau tahu Wonwoo adalah kesayanganku?" tanya Jisoo.

"Maka dari itu hyung, jangan terlalu sayang pada Wonwoo hyung!" ujar Mingyu polos.

"Eh!" pekik Wonwoo dan Jisoo bersamaan.

"Wonu hyung hanya milikku! Aku tahu kau menyayanginya sebatas kakak dan adik tapi—siapa yang tahu jika kau memendam perasaan diam-diam pada Wonu-ku?" Mingyu menatap Jisoo penuh tuntutan, Jisoo tersenyum tampan.

"Aku juga ingin seperti itu!" Jisoo menyeringai.

"HYUNG!" seru Mingyu tidak terima.

"Jika manusia diberi kesempatan untuk membunuh satu nyawa aku akan memilih untuk membunuhmu!" sinis Mingyu yang entah kenapa mendapat kekehan dan tawa ejekan dari Wonwoo dan Jisoo.

"Sudahlah! Kita jadi melupakan apa tujuan kita berkumpul disini!" lerai Wonwoo lagi.

"Ah ya! Aku hampir lupa!" Jisoo menepuk jidatnya.

"Ingat hyung, jangan terlalu dekat dengan Wonu-ku!" ingat Mingyu memberi batas pada Wonwoo dan Jisoo yang saling berhadapan. "Duduk saja di depanku hyung!" titah Mingyu posesif. Wonwoo tertawa seraya memindahkan tubuhnya duduk di hadapan Mingyu.

"Sudah puas?" tanya Wonwoo, Mingyu tersenyum puas.

"Hilang sudah pemandangan indahku!" sedih Jisoo.

"Makanya cepat cari penambat hati sana!" titah Mingyu. "Jangan Wonu-ku!"

"Ya ampun, kapan kita mulainya!" geram Wonwoo, membuat Mingyu terkekeh.

"Maafkan aku hyung!"

"Baiklah, kembali ke topik!" Jisoo berfikir sejenak. "Kita tidak bisa membiarkan mereka saling bersekutu seperti ini kan? Ini akan sangat berdampak pada grub kita!"

"Aku setuju hyung! Kita harus melakukan sesuatu!" lanjut Wonwoo ikut berfikir.

Hening, ketiga pemuda itu tengah memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi.

Mingyu menjentikkan jarinya tiba-tiba.

"Aku tahu!" pekiknya girang.

"Kau dapat ide?" tanya Jisoo.

"Bukan Kim Mingyu jika tidak mendapat ide yang cemerlang dan licik!" Mingyu menyeringai dan menatap Wonwoo dan Jisoo bergantian.

"Apa idemu?" tanya Wonwoo penasaran.

"Begini, bukankah akar dari permasalahan ini dari Seungcheol hyung dan Jeonghan hyung yang diikuti Doyoon hyung?" tanya Mingyu, kedua pemuda itu mengangguk bersamaan. "Aku tahu, member lain memiliki masalah pribadi mereka sendiri. Tapi, ini tidak akan menjadi besar jika yang tertua tidak menjadi masalah kecil menjadi masalah yang besar bukan?" lanjut Mingyu lagi.

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Wonwoo. Mingyu tersenyum licik.

"Akan lebih baik jika aku dan Wonu hyung juga ikut bertengkar—"

"Hancurlah sudah grub ini!" potong Jisoo menyerah.

"Bukan begitu maksudku hyung, dengar dulu!" Mingyu meminta perhatian. "Jika aku dan Wonu hyung bertengkar otomatis kita berdua juga akan sama seperti member lain bukan? Aku akan bersekutu dengan Seungcheol hyung sementara Wonu hyung dengan Jeonghan hyung! Kita mendamaikan mereka secara perlahan aku dan Wonu hyung akan berkomunikasi secara diam-diam bagaimana keadaan masing-masing dari mereka. Selagi kita berdua berusaha mendamaikan Seungcheol hyung dan Jeonghan hyung kita juga bisa mendamaikan member lain secara perlahan! Bagaimana?"

"Aku setuju saja!" Wonwoo mengangguk paham.

"Lalu, bagaimana denganku?" tanya Jisoo yang merasa Mingyu hanya membuat rencana untuk dirinya dan Wonwoo saja. Mingyu menyeringai dan entah kenapa dari seringai tipis yang tercipta dari bibir Mingyu membuat Jisoo berfirasat kurang baik.

"Nah, aku sudah memikirkannya hyung! Kau—" Mingyu menghentikan ucapannya dan menatap Jisoo penuh teka-teki. "Kau, bawa saja Doyoon hyung untuk menginap kemari!"

BRAK!

Tanpa sadar, Jisoo menggebrak meja setelah mendengar penuturan gila dari Mingyu dan membuat Wonwoo seketika berjengit.

"Kau gila? Aku bisa digantung hidup-hidup oleh semua orang yang ada disini? Kau benar-benar ingin aku mati ya?" tanya Jisoo tak habis pikir.

"Bukan begitu hyung! Kita juga kan harus meminta bantuan Doyoon hyung! Dan, itu tugasmu!" Mingyu mengerucutkan bibirnya tanpa dosa dan tanpa rasa bersalah. "Mereka sudah bertengkar akan sangat seru jika Doyoon hyung ada disini dan menyaksikannya dan membuat suasana semakin panas, bukankah itu menarik hyung?" tanya Mingyu menyeringai tipis.

"Apanya yang menarik kau membuat perang ketiga di dunia ini, kau tahu itu?" sungut Jisoo.

"Hyung, mengertilah! Ini rencana yang luar biasa, bukankah begitu Wonu hyung?" tanya Mingyu menatap Wonwoo yang tengah berfikir atas rencana Mingyu. Wonwoo mengangguk paham.

"Aku rasa, rencana Mingyu ini rencana yang bagus hyung! Doyoon hyung juga bisa membantu kita mendamaikan mereka semua bukan? Meskipun, berawal dari suasana yang panas nantinya tapi—itulah kesempatan kita agar Seungcheol hyung dan Jeonghan hyung saling mengakui perasaan mereka!"

"Nah, kau dengar bukan hyung? Ini rencana yang luar biasa!" Mingyu tertawa girang membuat Jisoo kalah telak.

"Baiklah! Aku akan mencoba bicara pada Doyoon!"

"Bagus!" pekik Mingyu girang.

TBC

Annyeong reader deul...

Ada yang kangen sama author kah? -_-ngarep amat lu thor, kkkk.

Maaf ya updatenya lama ini dikarenakan author yang baru liburan, pulang kampung ke kota kelahiran eh, ternyata gak betah dan pengen cepet2 pulang Jawa, -_-napa malah curhat thor? ;)kebawa:P

Semoga lanjutannya tidak mengecewakan yak. Oya, beberapa mungkin sempet bingung ini genre humor kan? Kenapa ada berantemnya thor? Humornya mana? Nah, ini kebanyakan pada tanya gitu aku jawab pemikiran author yang sebenarnya yak:

Begini, author pengen bawa cerita yang baru yang beda dari yang lain emang humor tapi di bumbui dikit ada konflik dan romancenya juga gak bakal lupa kok. Karena menurut aku, agak lucu ya gimana bayangi gemesnya couplenya sebong pas berantem malu2 kucing mau deket pas kangen? Nah toh, pasti reader lagi bayangin kan? Kkkk.

Chap 1 dan 2 emang aku khusus buat permasalahannya biar reader gak bingung gak mungkin kan tiba2 mereka kepecah jadi dua dan berantem tanpa ada masalah kan gak lucu, kkkk. Maka dari itu aku lihatin dulu permasalahannya dari pada buat flashback akan kelamaan, -_-bilang aja lu males thor... kkkk, tahu aja! Dan, chap 3 inilah penengahnya yang akan jadiin satu para sebong kita, rencana mereka nantinya. Tapi, tenang aja author tetep kasih sweet, sad moment mereka kok. Tetap pada genre dan sesuai jalan cerita.

Makasih banyak buat yang udah review, follow, dan fav ff ini juga para siders. Mian, updatenya lama, sekali lagi kkkk.

Spesial thanks to:

MeliaWon | saktwu | PeaNdut | hoshilhouette | Soonhoontrash | itsmevv | GameSMl | BumBumJin | victli9ht

Kamsamhamnida,

Bye bye

Kokoya Banana