SNOWFLAKES
Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Do kyungsoo
Pairing : Hunhan [Main], Chanbaek, Kaisoo
Genre : Romance, Fluff, Drama, Humor(?)
Length : Chaptered
Rate : T-M
Disclaimer : cerita ini adalah hunhan story, jadi bener-bener terfokus pada kisah luhan dan sehun. Untuk pair yang lain hanya sebagai slight. Mungkin chanbaek dan kaisoo akan masuk namun tak sebanyak hunhan yang akan diceritakan
FF ini murni buatan author tanpa ada unsur plagiat atau meniru dari ff lain, jika ada yang sama atau mirip, mungkin kita jodoh .
Dont be a silent readers guys, hargain kerja keras author menulis^^
.
.
HUNHAN STORY
.
GS
.
TYPOS EVERYWHERE
.
NO PLAGIAT
.
NO BASH
.
REVIEW JUSEYO^^
.
.
"ayo katakan" pinta sehun memaksa
"april" jawab luhan singkat
"tahun lahirmu?" tanyanya lagi
"kau ini seorang sensus penduduk atau ingin mengganti pin sih?" omel luhan
"aniyo, ayolah katakan" ujar sehun meminta
"1990" jawab luhan datar
"20 april 1990? Chakkaman, april? Woah, kau memiliki bulan lahir yang sama denganku" pekik sehun
"terserah, cepat ganti pinnya. Kita sudah hampir satu jam berdiri disini" gerutu luhan
"chakkaman, aku ingin membentuk pin antara tanggal lahirmu denganku" jawab sehun
Luhan hanya memutar kedua bola matanya malas. Setelah beberapa menit sehun menyusun pinnya. Ia membuka pintunya dan mempersilahkan luhan untuk masuk
Luhan melangkahkan kakinya memasuki apartemen mewah itu. Kemudian matanya membulat saat melihat isi apartemen sehun
"ASTAGA OH SEHUN!" pekik luhan saat melihat isi apartemen sehun
"mwo?" tanya sehun
"daebak! Berapa uang yang kau keluarkan untuk apartemen mewah ini?" tanya luhan takjub
"molla" kata sehun singkat
Yang benar saja. Apartemen ini memang cukup mewah, interior yang ada di dalamnya cukup canggih. Luhan benar-benar menjamin jika harga apartemen ini ribuan won. Kemudian ia tersadar bahwa sehun merupakan artis besar, jelas saja jika ia bisa membeli apartemen mewah ini dalam sekejap.
"aku sudah mengganti passwordnya, hanya kau yang tau. Dan yang mengetahui letak apartemenku" kata sehun tiba-tiba
"aku tak tahu password apartemenmu sehun-ah" ujar luhan membenarkan
"tapi kau tau dari mana asal password apartemenku" kata sehun memaksa
"ah, terserah" gerutu luhan yang kemudian mengalah
"kau jangan katakan letak apartemen ini pada siapapun. Belum ada orang yang mengetahui letak apartemen ini" ujar sehun
"jinjja? Bagaimana dengan anggota grup mu?" tanya luhan
"mereka belum tahu letaknya, tapi mereka tahu jika aku membeli sebuah apartemen baru" ujar sehun yang kemudian menuju ke lemari es
"mengapa kau malah mengajakku kemari jika kau tak ingin siapapun ingin mengetahui letak apartemenmu?" tanya luhan
"kau bukan fansku dan juga bukan anggota memberku. Aku mempercayakan padamu" ujar sehun tanpa alasan dan kemudian menyodorkan minuman untuk luhan
"gomawo" kata luhan saat menerima minuman yang sehun berikan
"aku tak punya pakaian wanita disini. Hanya ada beberapa pakaianku. Aku belum memindahkan barangku seutuhnya, kau mau menggunakannya?" tanya sehun
"aku menggunakan ini saja" kata luhan
"kau tak lihat bajumu sangat kusut?" tanya sehun
Luhan kemudian menatap bajunya yang tampak begitu jelek. Kaos putih yang ia padukan dengan kemeja denim yang tak dikancingkan dan hotpatns nya memang terlihat begitu kusut. Bahkan jika ia melihat bentuk sepatu sneakersnya sudah tidak layak dikatakan sepatu lagi. Luhan kemudian memandang sehun dengan tatapan memelas
"mandilah, dan pakai pakaianku dulu. Aku akan mencoba mencari pakaian untukmu di lobby apartemen" kata sehun sambil mengusak pelan rambut luhan sebelum ia pergi meninggalkan luhan
Ketika sehun penutup pintunya, luhan tersenyum. Ia merasakan kehangatan dari perhatian yang sehun berikan untuknya. Bahkan ia senang diperlakukan seperti itu. Padahal dari dulu luhan sangat mebenci siapapun yang mengaturnya dan memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi sangat berbeda ketika sehun yang melakukannya, bahkan ia ingin terus diperlakukan seperti itu oleh sehun.
"mwoya? Kenapa dia baik kepadaku? Lalu, mengapa jatung ini berdetak kencang?" tanya luhan yang kemudian mengacak-acak rambutnya
"molla molla, nan jinjja molla" kata luhan frustasi
"andwe, luhan kau tak boleh mencintainya. Dia tak mungkin mencintaimu. Dia memiliki banyak artis cantik yang lebih cantik darimu. Kau hanya seongok sampah dimatanya. Ayo luhan sadar! Jangan bermimpi terlalu tinggi sebelum kau jatuh terlalu sakit!" kata luhan meyakinkan dirinya
Ia kemudan memutuskan untuk mandi karena badannya terasa sangat lengket. Luhan meningalkan semua perasaan aneh yang ada pada dirinya. Ia juga ingin segera merendam dirinya karena ia merasa tubuhnya terbakar saat memikirkan sehun.
..
Sehun berjalan menuju lobby apartemen yang tak melupakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya, kali ini sehun tak mengenakan kacamata karena hari sudah gelap. Ia mencoba mencari toko baju disana. Sehun pernah mendengar bahwa apartemen ini memiliki fasilitas yang komplit seperti taman golf, kolam renang departement store dan masih banyak lagi
Setelah ia sampai di lobby, ia melihat sebuah toko baju yang tak jauh dari lift yang ia gunakan. Ia kemudian menuju kesana dan mencari-cari pakaian yang cocok untuk luhan
"ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan toko tersebut
"aku butuh pakaian wanita dewasa namun tubuhnya masih seperti remaja" ujar sehun jujur
"ah, sebentar saya ambilkan bajunya tuan" kata pelayan toko tersebut
Beberapa menit kemudian pelayan tersebut mengambil beberapa baju wanita. Tapi ukurannya cukup besar. Sehun yakin, jika luhan tak akan muat mengenakan ini
"apa tak ada yang lebih kecil dari ini?" tanya sehun
"maaf tuan, hari ini stock kami terlambat jadi hanya ada ini" kata pelayan itu meminta maaf
Sehun mendesah kecewa. Bagaimana bisa apartemen yang memiliki fasilitas lengkap tak memiliki stock pakaian yang bagus. Tapi kemudian ia tersadar jika departemen store ini bukan benar-benar milik apartemen ini, mereka hanya bekerja sama dengan depertemnt store ini. mereka jelas megutamakan fasilitas utama. Tapi tetap saja, sehun sebal karena tak ada ukuran yang cocok untuk luhan
Kemudian ia melihat sebuah baju yang tergantung di sisi kanan toko baju tersebut. Sehun pun menghampiri baju tersebut karena ia merasa tertarik dengan baju tersebut
"anda menginginkannya?" tanya pelayan itu mengikuti sehun "ini stock terbaru kami dan ini satu-satunya, ini merupakan design terbaik dari toko kami" kata pelayan itu
"maksudmu?" tanya sehun
"baju ini merupakan baju limited tuan. Hanya ada satu dan kami menjualnya disini. Kami merancangnya bersama dengan para perancang dilondon" jelasnya
"lalu apa maksud dari inisial ini?" tanya sehun menunjuk inisal huruf dibaju tersebut
"L dibaju pria ini bermakna Love London, dan S yang dibaju wanita ini bermaksa Sarang Seoul. Kedua berarti cinta, perancang kami ingin menunjukkan mereka bekerja sama bersama dengan negara yang berbeda, tuan." jelasnya lagi
"aku mengambilnya" jawab sehun cepat
"baik tuan, tunggu sebentar kami akan membungkusnya" ujarnya
'S untuk sarang? L untuk Love? Atau S untuk Seol dan L untuk London? Persetan dengan arti itu! Yang ada S untuk Sehun, L untuk Luhan' batin sehun terkekeh
"ini tuan" ucap pelayan saat sehun membayar bajunya
Sehun kemudian kembali menuju kamar apartemennya dengan segera. Disana ia telah menemukan luhan yang tengah duduk di sofa sambil menonton televisi. Ia melihat luhan yang tegah menggunakan baju biru kebesaran miliknya dan celana hitam miliknya
"kau mengunakannya?" tanya sehun saat memasuki apartemennya "kebesaran?" tanya nya lagi
"cukup kebesaran. Apalagi bajunya" kata luhan datar sambil terus menatap layar televisi
"aku membelikanmu kaos. Untukmu besok" kata sehun yang kemudian memberikan belanjaannya ke luhan
"apa ini?" tanya luhan saat membuka bajunya "S? L? Mwoya?" tanya luhan
"entahlah, pelayan mengatakan S untuk sarang dan L untuk Love dan S untuk Seoul dan L untuk London, ah tapi lebih baik S untuk Sehun dan L untuk Luhan" kata sehun kemudian duduk disebelah luhan
"kau membeli baju couple?" tanya luhan
"eoh, kenapa?" tanya sehun sambil duduk disebelah luhan
"baju couple hanya untuk mereka yang berpacaran. Kita tak berpacaran sehun-ah!" omel luhan
"yasudah, kalau begitu ayo kita berpacaran" kata sehun asal
"MWORAGO?!" pekik luhan kaget
"bagaimana? Ayo kita pacaran jika itu yang membuatmu mau memakai baju ini" kata sehun
"kau ini gila? segampang itu kau meminta kita berpacaran? Apa kau ini-mmpphh
Dengan gerakan cepat sehun membungkam bibir manis lhan yang sedari tadi mengomel dengan bibirnya. Luhan membulatkan matanya saat sehun dengan berani mencium bibirnya. Tapi apa daya ia tak mampu menolak pesona sehun. Sungguh luhan merasakan sesuatu yang aneh diperutnya. Otot ditubuh luhan melemah tiba-tiba.
Sehun dengan tindakan cukup beraninya mulai menyesap bibir luhan, ia juga mulai melumatnya saat ia menyadari luhan mulai memejamkan matanya dan menikmai permainan bibirnya itu. Luhan merasa aneh saat sehun menciumnya. Tidak! Ini ciuman pertamanya dan sehun terlalu cepat mengambilnya
"se-sehun... a-aku-mmpphh"
Sehun tak mengindahkan kalimat luhan, ia lebih tertarik untuk melumat bibir tipis milik luhan yang menurutnya cukup manis ketika ia sesap. Sungguh, sehun tak mampu menahannya lagi.
"sehun... ini terlalu cepat, aku-mphh"
Sehun kembali melumat bibir luhan. Kini sehun diluar kendali. Ia memaksa luhan untuk membukanya. Luhan yang cukup terbuai dengan permainan sehun hanya diam dan menuruti permintaan sehun. Bahkan sekarang tangannya telah melengkung dileher sehun dan sehun telah menindihnya diatas sofa. Entah sejak kapan luhan telah berada dibawah sehun dan dengan jarak sintim ini. luhan terlalu terbuai
Setelah beberapa saat sehun tersenyum sambil melepaskan tautan bibir mereka. Sehun menghapus jejak salivanya yang masih menempel dibibir luhan dengan ibu jarinya. Ia tersenyum dan kemudian mengecup pelan lagi bibir luhan.
"saranghae, aku mencintaimu" kata sehun
Sehun menatap luhan dalam ketika manik mata mereka bertemu. Tubuh luhan melemas saat matanya beradu dengan mata tegas milik sehun. Dan kini entah mengapa pipinya terasa terbakar saat matanya menangkap bibir tipis sehun yang barusaja menempel pada bibirnya secara tiba-tiba.
Sehatusnya ia marah saat ciuman pertamanya diambil secara tidak sopan oleh sehun, tapi pada kenyataannya luhan menerimanya dan bahkan ia merasa menginginkan lagi. Lagi? Sungguh, otak rasional luhan kini tak dapat bekerja dengan baik sekarang
Sehun kemudian mendudukkan luhan, membawa luhan kedalam pangkuannya dan memeluknya. Luhan malu dengan posisinya yang berada dipangkuan sehun dan tubuhnya berhadapan dengan sehun seperti ini, tapi lagi-lagi ia menyukai sensasi baru ini.
"sehun" panggil luhan
"hmm?" jawab sehun
"tidakkah ini salah?" tanya luhan yang kini masih menyembunyikan wajahnya diperpotongan leher sehun
Sehun menarik luhan untuk dapat menatap wajahnya. Tangan kekarnya menangkup wajah mungil luhan yang tengah bersemu merah yang ia yakini saat ini luhan merasakan tubuhnya cukup terbakar. Ia mengecup pelan bibir luhan sambil tersenyum dan memindahkan tangannya kepinggang luhan sebelum akhirnya ia berbicara
"apanya yang salah? Kau tak menerimaku?" tanya sehun
"ani... bukan begitu, maksudku tidakkah ini terlalu cepat?" tanya luhan
"sekarang aku tanya padamu, apa kau mencintaiku?" tanya sehun
Luhan tak mampu menjawab, matanya tak mampu menatap manik mata coklat tegas sehun yang sedang menatapnya intens ini
"Lu, tatap aku dan jawab pertanyaanku" pinta sehun sambil menarik dagu luhan untuk menatapnya
"entahlah, tapi aku bahagia saat bersamamu. Dan perasaanku menghangat ketika kau mengatakan hal yang romantis" jawab luhan jujur
"lalu apa lagi yang salah? Aku mencintaimu, kau mencintaiku"
"tapi ini terlalu cepat"
"bukankah itu malah pertanda bagus untuk kita?kita tak perlu mengulur waktu lebih lama lagi" jawab sehun
"tapi..."
"tak ada kata tapi, sekarang kau kekasihku. Mungkin aku tak romantis dalam memintamu menjadi kekasihku, tapi aku tak menerima penolakan" kata sehun keras kepala
"ah terserah! dasar keras kepala!" gerutu luhan
"dimana-mana kepala ya keras, tak ada kepala yang lembek" kata sehun santai
Luhan hanya menatap malas sehun. Ia kemudian turun dari pangkuan sehun dan kembali menatap televisi. Sehun cukup gemas dengan luhan yang kembali seperti luhan biasanya dengan sekejap. Ia kemudian menarik luhan kedalam pelukannya tanpa menerima penolakan dari luhan
"Lu" panggil sehun
"hmm" jawab luhan datar dan tetap fokus pada televisi
"aku lapar" kata sehun pelan
"lalu?" tanya luhan cuek
"masakan sesuatu untukku" pinta sehun manja
"bukankah kau tadi keluar? Mengapa kau tak sekalian membeli makanan?" gerutu luhan
"aku malas" jawab sehun datar "apa kau tak lapar?" tanyanya
"tidak" jawab luhan datar
"eyy, aku tau kau juga lapar" kata sehun menggoda luhan
"berhenti mengggodaku!" omel luhan
"ayolah lu, buatkan aku makan" pinta sehun
"apa kau selalu seperti ini? Sekalipun itu didorm?" tanya luhan sinis
"eoh, chanyeol hyung, suho hyung selalu memaksakkan makanan untukku" jawab sehun santai
"bagaimana jika saat ini kau sendiri?" tanya luhan lagi
"sayangnya aku tak sendiri, aku bersamamu" jawab sehun lagi
"lalu bagaimana jka kau benar-benar sendiri?"
"aku belum pernah sendirian" jawab sehun datar
"argh! Apa kau benar-benar tak bisa memasak?" tanya luhan
"aniyo, memasak bagiku sama dengan membakar dapur" kata sehun datar
Luhan membuang nafasnya sebal. Ia sedikit ngeri ketika mendengar sehun mengatakan jika ia memasak sama dengan membakar dapur. Ia kemudian mengalah dan beranjak menuju dapur. Ia mengalah untuk membuatkan sehun makanan
"yey! Kau memang yang terbaik" pekik sehun bahagia yang kemudian duduk di kursi meja makan yang berada disebelah dapur
"apa persediaan disini sudah ada? Bukankah kau baru membelinya kemarin?" tanya luhan yang kemudian menggunakan apron masak
"aku meminta petugas apartemen untuk memenuhi perlengkapannya kemarin" jawab sehun
Luhan hanya mengangguk. Ia kemudian membuka lemari es dan melihat isinya. Memang benar, disana telah penuh makanan dan kesediaan makanan untuk bberapa hari kedepan. Setelah melihat isi lemari es, luhan akhirnya menemukan menu masakan yang akan ia buat
"kau akan memasak apa?" tanya sehun saat luhan mulai sibuk dengan masakannya
"diamlah! Yang penting kau makan kan?" tanya luhan
"eoh, kau benar" ujar sehun menurut
Sehun kemudian diam dan hanya mengamati luhan dalam memasak. Luhan terlihat begitu mahir dalam memasak. Bagaimana ia tak mahir? Dia tinggal sendiri sejak berada di LA, sedangkan luhan tak begitu menyukai makanan luar. Itu membuatnya memasak untuk dirinya sendiri
Luhan yang merasa sedari tadi sehun mengamati pergerakannya mulai merasa tak nyaman. Ia kemduian menatap sehun yang sedang menatapnya juga
"apa yang kau lihat?" tanya luhan
"melihatmu" jawab sehun singkat
"mwo? kenapa kau melihatku?" tanya luhan
"kau cantik" kata sehun spontan dan pelan
"mworago?" tanya luhan yang kurang jelas mendengar kalimat sehun
"kau ternyata sangat cantik Lu, mengapa aku baru menyadarinya" ucap sehun merutuki kesalahannya
Blush!
Pipi luhan terasa terbakar. Sudah berapa kali pipinya menghangat karena kalimat sehun yang lepas kendali? Ah, sehun memang banyak merubah luhan rupanya.
"terserah" jawab luhan cuek untuk menghilangkan kegugupannya "ini, makanlah" kata luhan sambil menyodorkan masakan yang ia buat
Luhan melepas apronnya sebelum ia duduk disebelah sehun. Disana memang ada 2 kursi yang disediakan, jadi luhan duduk di kursi kosong tersebut. Ia menunggu sehun makan sambil mengisi perutnya, tak bisa luhan pungkiri jika ia juga merasakan lapar.
"katanya kau tak lapar" goda sehun
"diamlah! Dan makan makananmu" bentak luhan
"ih, galak sekali" kata sehun bergedik ngeri
"sepertinya enak" kata sehun memandang masakan luhan
"jika tak enak buang saja. Tak usah banya komentar. Masih untung aku memasakkannya untukmu" kata luhan sinis
"kau datang bulan ya? Sensitif sekali. Aku kan mengatakan sepertinya enak, bukan tak enak. Kita barusaja menjadi kekasih beberapa menit yang lalu, kenapa kita sudah bertengkar lagi" bela sehun yang ikut sebal karena luhan terus mengomel
Luhan memang tak masak masakan yang mewah karena hari sudah menjelang tengah malam. Dirinya pun cukup lelah untuk memasak masakan yang berat jadi ia hanya memasa omelet ditambah dengan beberapa sayuran.
Sehun tampak sedang menyantap masakan luhan dengan lahap. Luhan sendiri sampai tak percaya melihat sehun yang begitu lahap memakannya. Entah itu karena ia lapar atau memang masakaknya enak
"kau ini rakus atau kelaparan?" tanya luhan sambil menatap sehun heran
"aku lapar, dan masakanmu lumayan enak" kata sehun singkat dan kemudian melanjutkan makannya
Luhan hanya daim dan melanjutkan makannya. Setelah beberapa menit makan, mereka berdua kini telah selesai menyantap makanannya. Luhan pun mencuci piring yang ia gunakan dan sehun. Sehun hanya diam sambil menunggu luhan mencuci piringnya
"ayo tidur, sudah malam. Aku lelah" kata sehun tiba-tiba
"m-mwo? t-tidur bersama?" tanya luhan gugup
Sehun menyadari perubahan wajah luhan. Sekarang luhan tampak seperti seorang gadis yang akan diperkosa oleh ahjushi tua yang jelek. Sehun berusaha untuk tidak meledakkan tawanya untuk mencoba terus menggoda luhan. Hobi baru bagi sehun adalah menggoda luhan, karena menurutnya luhan cukup lucu ketika sedang digoda
"iya, bukankah kita sepasang kekasih sekarang?" tanya sehun santai
"ta-tapi, a-aku..."
"wae? Kau menolakku? Apa aku sehina itu untukmu Lu?" tanya sehun dengan raut wajah yang menyedihkan
"ani-aniyo, tidak begitu maksudku. Tapi kau dan aku sama-sama orang dewasa yang jika tidur bersama bisa..." luhan menggantungkan kalimatnya
"haha, Lu mengapa kau lucu sekali eoh. kau bisa tidur dikamarku, aku akan tidur disofa. Tempat tidur kamar tamunya belum ada sprei" jawab sehun sambil mengusak pelan rambut luhan dan kemudian berjalan menuju kamar utama
"kemarilah" panggil sehun dan luhan kemudian berjalan mendekati sehun
"tidurlah dengan baik malam ini, ne" kata sehun yang kemudian ia mengambil selimut dari lemari bajunya dan mengecup pelan kening luhan
Ketika ia hendak keluar dari kamar, luhan lebih dulu menggenggam tangannya. Sehun pun berhenti dan menatap luhan
"wae?" tanya sehun
"apa kau akan baik-baik saja jika kau tidur di sofa?" tanya luhan
"ada apa memangnya?" tanya sehun
"biarkan aku yang tidur disofa" kata luhan tak yakin
"memangnya tubuhmu lebih kuat daripadaku jika tidur disofa?" tanya sehun dan luhan hanya menggeleng
"lalu? Kau menyuruhku tidur dimana? Dilantai? Maaf nona lu, aku tak bisa tidur dilantai" ujar sehun
"aku yang akan tidur dilantai" kata luhan tak yakin dan sehun melihat ketidak yakinan dari wajah luhan
"semua tak akan membantu, yang ada besok kau akan sakit dan membuatku semakin susah" kata sehun "tidurlah, aku baik-baik saja" lanjutnya yang kemudian pergi meninggalkan luhan dikamarnya
Luhan cukup merasa tak enak dengan sehun. Ia kemudian beranjak menuju ranjang ang berukuran sangat besar itu, mungkin jika diukur itu 3 kali dari lebar tubuhnya. Ranjang ini benar-benar besar.
Beberapa menit luhan mencoba memejamkan matanya tapi tetap saja ia tak bisa. Ia masih memikirkan sehun, entah mengapa ia merasa sehun sedang tak baik-baik saja. Ia kemudian beranjak membuka pintunya untuk melihat sehun yang sedang tidur disofa
Benar dugaan luhan, sehun memang tak sedang baik-baik saja. Perlu diingatkan jika sehun tak bisa tidur disembarang tempat untuk tidur malamnya. Ia harus tidur di tempat yang bisa membuat tubuhnya lurus, bukan tertekuk seperti ini.
Luhan pun mendekati sehun. Ia kemudian mencoba membangunkan sehun yang luhan yakin jika sehun juga belum tertidur
"sehun-ah" panggil luhan
"hmm?" jawab sehun "kau belum tidur?" tanyanya sambil membuka matanya
"kau juga belum tidur" jawab luhan "kau mengapa belum tidur?" tanya luhan
"aku cukup sulit tidur malam jika tidak dikasur, jadi aku butuh penyesuaian yang agak lama" jawab sehun jujur "lalu kenapa kau belum tidur?" tanya sehun
"aku tak bisa, aku merasa tak enak denganmu" jawab luhan "aku juga sedikit takut tidur ditempat asing dan dengan ranjang besar seperti itu" lanjut luhan tertunduk malu
"perlu aku temani?" tanya sehun luhan pun membulatkan matanya seketika
"tenanglah, aku tak akan menyentuh tubuhmu. Aku menjaga privasimu. Aku cukup punya otak untuk tak memperkosamu" ujar sehun kemudian
Luhan tampak diam dan berfikir. Sejujurnya ia ingin sekali tidurnya ditemani. Sebuah kebiasaan luhan adalah, luhan tak bisa tidur tanpa guling sedangkan disana tampaknya tak ada guling yang tersedia. Ditambah lagi luhan tak bisa tidur ditempat yang baru, ia juga takut dengan ranjang yang cukup besar dan ia tiduri sendirian.
"baiklah, asal kau tak berlebihan" ujar luhan
"aku janji" kata sehun menunjukkan kelingkingnya
Luhan tang menanggapi jari sehun, ia kemudian lebih dulu memasuki kamarnya dan segera menuju ranjangnya untuk tidur. Sehun tersenyum ketika melihat ketakutan luhan, ia kemudian mengikuti langkah luhan pelan. Ia menutup pintu kamar luhan dan menyusul luhan dalam tidurnya.
"selamat malam, Lu" ujar sehun
"selamat malam, sehunie" jawab luhan
Mereka berdua diam tanpa kata, tapi keduanya masih membuka matanya lebar dan saling membelakangi. Hingga waktu terus berputar, akhirnya mereka saling memejamkan mata karena lelah
(**)
Hari silih berganti, dengan cepat kini sang surya kembali menampakkan cahayanya. Hari mulai beranjak siang, namun sehun dan luhan masih tetap memejamkan matanya. Sampai sebuah cahaya matahari dengan berani menerobos jendela apartemen sehun dan mengenai mata luhan dan sehun
Luhan dan sehun pun bergerak tak nyaman menyadari bahwa cahaya lantang menantang kemudian membuka matanya. Mereka berdua sama-sama mengerjapkan matanya tak percaya. Ya, saat ini sehun dan luhan telah bangun dengan posisi sehun memeluk luhan dan luhan mencari kenyamanan di dada sehun
Entah apa yang terjadi semalam, mereka beruda sama-sama tak yakin. Yang pasti semalam, baik luhan dan sehun sama-sama saling memeluk. Luhan yang tak bisa tidur tanpa guling dan sehun yang tiba-tiba memeluknya. Semua terjadi begitu saja
Sehun dan luhan sama-sama merasakan getaran aneh dalam dada mereka. Mereka hanya saling terdiam dan menatap. Kemudian beberapa saat kemudian mereka melepas pelukan mereka dan langsung bangkit dari tidur mereka.
"mian, aku... aku.." kata luhan tiba-tiba
"gwenchana sayang" ujar sehun santai dan mengusak pelan rambut luhan
"a...aniyo...kau lebih baik mandi...aku..akan menyiapkan sarapan lebih dulu" kata luhan tergugup yang kemudian berlari keluar kamar untuk menuju dapur
Sehun melihat kegugupan yang sangat terlihat dari luhan hanya tersenyum. Ia sedikit terkekeh dengan sifat luhan yang sangat lucu jika sedang gugup
"kau tak pandai berbohong, rusa kecil" kata sehun pelan sebelum memasuki kamar mandi
..
15 menit sehun berada dikamar mandi, ia kahirnya menyelesaikan mandinya. Ia kemudian mengenakan kaos couple yang ia beli kemarin. Setelah ia memakai kaos dan jensnya, ia menuju kedapur untuk menyantap sarapan yang luhan buat
"kau mandilah, dan gunakan kaos yang ku belikan kemarin. Aku akan mengantarmu pulang hari ini" kata sehun
"ah, geure" kata luhan singkat yang kemudian melepas apronnya dan menuju kekamar mandi yang ada didalam kamar tidur sehun
30 menit luhan berada dikamar mandi untuk mandi dan berdandan, akhirnya ia keluar dengan tatanan yang cukup rapi. Ia kemudian mendekati dapur dan dudu disebelah sehun yang masih menyantap sarapannya
"kau sudah sarapan?" tanya sehun
"sudah, kau mandi cukup lama jadi aku sarapan lebih dulu" kata luhan cuek
"kau harusnya sarapan bersama. Kau harus menungguku" gerutu sehun
"wae? Kenapa harus menunggumu?" kata luhan bingung
"aku pemilik apartemen ini, kau harusnya menunggu pemiliknya" kata sehun pura-pura marah
"geure, geure. Mian" kata luhan datar
"haha, aniyo. Aku hanya bercanda" kata sehun kemudian
Sehun kemudian melanjutkan makannya. Setelah beberapa menit, akhirnya sehun menyelesaikan sarapannya
"ayo, aku antar kau pulang" ujar sehun setelah menghabiskan makanannya
"jika kau ingat, yang kau bawa kemarin adalah mobilku. Jadi aku yang mengantarmu pulang" kata luhan membenarkan
"ah kau benar juga. Terserah lah, yang penting ayo berangkat" kata sehun
Sehun kemudian pergi kekamarnya. Sesaat kemudian ia tela berubah penampilannya. Kaos putih polos yang berisinisal huruf L didepannya kini ia padukan dengan kemeja denim dan jeansnya. Ia juga mengenakan topi, kacamata hitam dan masker. Namun maskernya belum ia kenakan dengan benar, ia menaruh maskernya didagunya.
Sehun juga keluar dengan hoodie berwarna abu-bau ditangannya, masker berwarna hitam, kacamata dan juga topi berwarna putih ditangannya
"kajja" ajak sehun
Luhan hanya diam terpaku menatap perubahan yang cukup mencolok dari sehun. Luhan akui jika sehun cukup tampan dengan penampilan seperti itu
"aku tau aku tampan, tapi tak perlu membeku seperti itu" kata sehun membuyarkan lamunan luhan
"cih, percaya diri sekali" elak luhan "bukahkah aku hanya perlu menurunkanmu didepan gedung dormmu? Kenapa kau berpenampilan seperti itu?" tanya luhan kemudian
"ku hanya perlu mengikuti perintahku hari ini saja. Aku tak menerima pemberontakan" kata sehun tegas. luhan hanya menuruti. Langkah mereka kemudian terhenti tepat beberapa meter dari pintu apartemen
"kau ada acara hari ini?" tanya sehun
"aniyo. Wae?"
"kau harus mengenakan ini semua" ujar sehun menunjukkan semua barang yang ia bawa
"wae?" bantah luhan
Sehun tak mendengarkan bantahan luhan. Ia langsung memakaikan topi yang ia balik di kepala luhan, memakaikan kacamata untuk luhan dan juga masker di wajah luhan. Jangan lupakan jika sehun juga membelitkan hoodienya dipinggang ramping luhan. Dan luhan hanya diam ketika sehun mengenakan semuanya ditubuhnya
"mengapa aku harus memakai ini?" tanya luhan saat sehun selesai mengikat hoodienya dipinggang luhan
"kau akan membutuhkannya. Kau menggunakan hotpats dan kaos putih kebesaran seperti ini. Setidaknya hoodie ini mempercantik tubuhmu. Mungkin juga akan membantu jika udara tiba-tiba panas atau dingin dan kau alargi terhadapnya" kata sehun tak masuk akal
"aku tak memiliki alergi seperti itu" jawab luhan sambil memutar bola matanya malas
"siapa tahu kan sayang?" kata sehun sambil menghendikkan bahunya yang kemudian menarik luhan keluar apartemen
Luhan berhenti seketika ketika ia mendengar sehun memanggilnya sayang. Tubuhnya menegang dengan panggilan baru itu. Ada perasaan menggelitik dan pipinya tiba-tiba terasa terbakar. Ia senang dengan panggilan itu, tapi ia juga malu dengan panggilan itu
"wae? Kau terkejut karena aku memanggilmu sayang? Kita pasangan kekasih Lu"
"ani, hanya saja aku merasa pipiku terbakar" ujar luhan polos
"aigooo, nae lulu neomu kyeopta" ujar sehun sambil mengusak rambut luhan gemas
"chakkaman, tapi mengapa aku juga harus memakai topi, masker dan kacamata seperti ini. Aku tampak seperti buronan" gerutu luhan yang kembali menyadari topik awal mereka
"kau akan membutuhkannya" balas sehun datar sambil berjalan menuju lift
"tapi membutuhkan untuk apa? Aku bukan artis sepertimu" kata luhan yang mengikuti sehun memasuki lift
"kau akan pulang kan?" tanya sehun dan luhan hanya mengangguk
"tapi sebelum kau pulang, aku akan mengajakmu berkencan" kata sehun sambil mengerlingkan matanya keluhan sebelum menekan tombol lift untuk kelantai dasar
.
.
.
.
.
.
TBC
Eaaaak syudah diupdateeee
Ada yang kecewa karena belom ada NC? Duh sabar yeessss mereka masih alim. Tapi tungguin aja kok, gak akan lama mereka akan nc *smirk
Kalo ada typo maapin yaaaah, maapin banget. Penyakitnya gak bisa ngilang ini. hiksss
Syudah diupdate yaaa, ditunggu reviewnya. Thanks to all review, faforite and follw. Lope lope diudara daah
DONT BE A SILENT READERS. REVIEW JUSEYO \(^_^)/
