"Tugas kali ini adalah tugas kelompok. Kalian akan berkelompok dengan teman sebangku kalian."

Yaya memijit pelipisnya, tanda pening. Pasalnya hal ini sangat tidak diinginkan oleh seorang Yaya. Siapa yang mau berkelompok dengan manusia seperti Air? Ia mengedarkan pandangannya dengan malas, mendapati beberapa murid yang tampak senang karena teman kelompok mereka adalah teman sebangku mereka, ada juga yang mengeluh sepertinya, yaitu Ying.

"Dan tugasnya harus dikumpulkan besok."

Ucapan Bu Zila selanjutnya sukses membuat rahang Yaya jatuh ke bawah. Jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat saking shocknya. Banyak murid yang menggerutu dan protes, namun Bu Zila tampak acuh tak acuh. Yaya heran, kenapa guru zaman sekarang sadis sekali kepada muridnya. Kalau tugasnya sedikit dan mudah, tak masalah Yaya akan mengumpulkannya besok. Kalau banyak dan sulit, Yaya lebih baik berhenti sekolah saja daripada terus kepikiran tentang tugas sekolah.

Air mendengus kasar saat Bu Zila berjalan keluar kelas karena jam pelajarannya di kelas tersebut sudah habis. Yaya menopang dagunya dengan malas, dengan mata memandangi pemandangan air mancur di taman belakang sekolahnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan tugas itu. Toh, ia pasrah jika nilanya jelek, asalkan ia tidak berurusan dengan AIR.

"Kerja kelompoknya di rumahku saja."

Ia menoleh padanya dengan tatapan tidak terima. "Tidak, tidak bisa! Kau tidak boleh membuat keputusan secara langsung seperti ini! Lagipula aku tidak tahu dimana rumah-"

"Aku tahu kau tahu rumahku, Meisya. Kau kemarin sengaja mengikutiku kan? Ayo ngaku! Dasar penguntit!"

Mulut sang gadis menganga lebar. Lalu kemudian ekspresinya menunjukkan kemurkaan serta kekesalan yang luar biasa. "Hei, aku bahkan tidak tahu kalau mobil yang ku ikuti adalah milikmu! Dan aku mengikuti mobilmu karena mobilmu pernah membuat baju seragamku kotor, tahu!" semprot Yaya dengan lancar.

Sebelah alis tersebut terangkat, sama sekali tidak mengerti dengan semprotan Yaya yang tertuju padanya. "Memangnya apa yang aku perbuat padamu?" tanyanya dengan tampang watados. Yaya menahan diri untuk tidak menaboknya.

"Waktu itu mobilmu menginjak genangan lumpur yang akhirnya terciprat ke arahku! Berapa IQ otakmu, hah?! Kenapa kau masih tanya hal ini?! Seharusnya kau langsung mengerti!"

Air memutar bola matanya, sebenarnya agak tersinggung ketika Yaya mempertanyakan IQ otaknya. Hei, dia termasuk murid terpintar di sekolahnya, hanya saja tidak banyak orang yang tahu hal ini. Dan jujur saja, ia sangat kaget bahwa ia pernah membuat seragam sekolah Yaya menjadi kotor. "Iya iya, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu hal itu."

Yaya mendengus sebal, menggembungkan pipinya dan bersedekap. "Hanya itu yang kau katakan?"

"Memangnya apa yang harus aku lakukan?"

Gadis itu menatapnya tajam disertai dengan senyuman miring, yang entah kenapa begitu menyebalkan bagi Air. "Temani aku shopping."

Spontan, Air mendelik mendengarnya. "APA?!" serunya shock.

Yaya menutup kedua telinganya selama beberapa saat karena seruan Air yang mampu membuat gendang telinganya kesal. Tatapannya tidak berubah sejak tadi, masih kesal sekaligus geram akibat insiden beberapa waktu yang lalu. Air menutup mulutnya ketika perhatian seisi kelas tertuju padanya. Untungnya Bu Zila sudah keluar. Air merutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya mendadak OOC.

Air menatap Yaya dengan sabar. "Aku harus menemanimu shopping?" tanyanya lagi, masih tidak percaya dan berharap bahwa ia hanya salah dengar.

Yaya mengangguk mantap. "Yapz! Kau harus menemaniku shopping lusa. Kau tidak boleh membantahnya lagi. Sepulang sekolah, kau langsung mengantarku ke mall. Oh iya, satu lagi!" Air menaikkan sebelah alisnya, menunggu lanjutan Yaya. Gadis itu tersenyum devil. "Dan kau harus membayar semua barang yang aku beli," balasnya sambil tersenyum sangat lebar serta manis.

Air mengumpat dalam hati, bisa-bisanya gadis di hadapannya ini ingin sekali menghabiskan isi dompetnya dalam satu hari sekaligus. Siapapun tahu kalau Yaya adalah gadis yang sangat memperhatikan fashion. Dan sudah pasti, pilihannya adalah yang paling mahal dan berkualitas. Dan pada akhirnya, ia hanya mendecak kasar. "Iya, terserah kau saja."

Gadis itu tersenyum puas, namun juga kaget karena Air langsung menerimanya begitu saja, tanpa ada kata-kata protes seperti biasanya. Sampai-sampai Yaya membayangkan bagaimana penolakan Air terhadap rencana kejamnya. Dan entah kenapa Yaya malah ingin beradu mulut dengan Air soal ini.

Ia hanya menatap Air bingung saat Air mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Air mengangkat benda tersebut, membuat mata Yaya tak berkedip menatapnya. "Benda ini milikmu kan?"

Tangan sang gadis langsung mengambilnya. "Huahhh... squishyku!" jerit Yaya girang lalu menatapnya lekat-lekat sekaligus berbinar-binar. Ia menengok tasnya yang ternyata gantungan kuncinya tidak tergantung disana. Yaya pun yakin bahwa gantungan kunci yang dipegangnya adalah miliknya. "Kenapa squishyku ada padamu?" tanya Yaya heran sambil meremas-remas gantungan kunci yang disebut squishy itu.

"Kau kemarin menjatuhkannya di depan rumahku."

Yaya hanya manggut-manggut lalu terus meremas-remas squishynya yang berbentuk kepala boneka kecil berwarna putih sambil tersenyum lebar. Pasalnya Yaya sangat menggemari squishy.

Air menatap Yaya dengan aneh. "Kenapa kau bertingkah seperti orang gila? Memangnya ada apa dengan squishy itu?"

Yaya melayangkan tatapan merendahkan ke arahnya. "Kau tidak tahu betapa berharganya squishy ini? Ini adalah hadiah ulang tahunku dari Taufan. Dan aku yakin kalau harganya mencapai ratusan ribu karena ini real, bukan KW," jelas Yaya panjang lebar, yang hanya direspon kembali dengan tatapan aneh Air.

Kemudian Yaya mencium squishynya dan tersenyum manis. "Baunya juga sangat harum. Squishy ini juga termasuk moodboosterku," lanjut Yaya.

"Ya ya, terserah kau saja," balas Air lalu keluar dari kelas karena bel istirahat baru saja berbunyi, membuat Yaya meremas kuat squishynya saking geramnya memiliki teman sebangku seperti Air.

^^...^^

Sesampainya di rumah Air, entah kenapa tiba-tiba Yaya menjadi gugup setengah mati. Biasanya ketika ia kerja kelompok di rumah temannya meskipun itu laki-laki, ia tidak pernah gugup seperti ini. Yaya menggelengkan kepalanya pelan untuk menyingkirkan pemikiran tidak jelasnya.

Matanya tak sengaja menangkap sosok Air yang tengah mengecek pintu mobilnya, memastikan semua pintu mobilnya terkunci. Air berjalan menuju pintu rumahnya. Yaya pun berlari kecil mengikutinya dari belakang. Disana, di hadapan pintu rumah, mereka berdua disambut ramah oleh para pelayan. Air tersenyum tipis, sementara Yaya tersenyum gugup. Ia mengakui bahwa keluarga Air lebih kaya dari keluarganya.

Air berjalan dengan santai dan tentunya Yaya selalu mengikutinya di belakang. Ia ikut berhenti ketika Air berhenti. Ia bertemu mata dengan beberapa wanita seumuran ibunya yang sedang bercengkrama di sofa. Salah satu wanita di antaranya, tersenyum padanya dan juga kepada Air. Lalu ia bangkit dan menghampiri.

Yaya sama sekali tak mengerti kenapa wanita itu tampak kaget ketika melihat wajahnya dari jarak dekat. Kedua bola mata itu membulat total, shock.

"Mama, perkenalkan, ini teman sebangkuku, Yaya." Air membuka suara untuk menghilangkan suasana canggung sekaligus tegang di antara mereka bertiga. Yaya meliriknya, tampak mengucapkan terima kasih lewat tatapan mata. Jujur saja, Air juga tak mengertinya seperti Yaya ketika melihat ibunya seperti itu.

Ibu Air mengerjapkan matanya kaget dan buru-buru tersenyum. "Ah, tumben sekali kau membawa temanmu main kesini, Air?" sahut ibunya tak percaya. Mendengar hal itu, sontak Air malu. Tatapan wanita itu kembali mengarah pada Yaya. "Jadi namamu Yaya ya?" Yaya mengangguk kecil sebagai respon. "Perkenalkan, nama saya adalah Alvina. Kamu bisa memanggil saya Tante Alvina. Saya adalah ibunya Air."

Yaya hanya manggut-manggut mengerti dan tersenyum tipis. Ia tidak pernah membayangkan bisa bertemu dengan ibu lelaki yang menyebalkan tersebut. Jengah dengan adegan perkenalan, Air berdehem kecil. "Mama, aku mengajaknya kesini bukan untuk main, tapi untuk mengerjakan tugas kelompok" jelas Air untuk meluruskan kesalahpahaman ini.

Alvina tampak kecewa mendengarnya. Ia sudah mengira bahwa Air bukanlah anak yang anti-sosial lagi karena bisa mengajak seseorang apalagi seorang gadis ke rumah. Tapi tak apalah, Air bisa mengajak Yaya ke rumah meskipun dengan alasan kerja kelompok. "Baiklah, terserah kau saja."

Air memijit pelipisnya karena sang ibu tidak mengerti maksudnya. "Tapi aku harus mengerjakan tugas kelompok dimana kalau teman-teman Mama ada disini? Aku ingin mengerjakannya di ruang tamu."

"Kamu bisa mengerjakannya di taman belakang rumah. Disana kan pemandangannya lebih indah dan segar."

Lelaki itu menahan diri untuk tidak mendengus, karena ia tidak ingin menyakiti hati sang ibu. Air hanya mengangguk, memberikan isyarat kepada Yaya agar dia mengikuti langkahnya. Yaya pun mengikutinya sambil menggerutu pelan karena sekarang ia seperti budak Air yang setia mengikuti majikannya kemana saja.

Alvina masih memperhatikan langkah kepergian mereka, terutama Yaya. Sejak saat melihat wajah Yaya, kegelisahan terus menggerogoti hatinya. Ia tampak ketakutan, seperti insiden lima tahun yang lalu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan melangkah menuju teman-teman arisannya.

"Tidak, dia adalah gadis yang berbeda. Mungkin kebetulan wajahnya mirip dengannya."

^^...^^

Yaya mengedarkan pandangannya. Mata Yaya berbinar-binar karena pemandangan taman belakang rumah Air sangatlah indah. Hatinya sejuk melihat warna hijau ada dimana-mana. Banyak sekali bunga warna-warni yang menancap di tanah. Yaya yakin kalau ini semua adalah koleksi bunga milik ibu Air. Pandangan Yaya tampak meredup ketika mendapati kolam renang yang tak terlalu kecil. Airnya tampak berkilauan karena terkena pantulan sinar matahari.

"Duduklah disini, aku akan masuk ke dalam untuk mengambil peralatannya dulu."

Yaya menoleh ke meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Letaknya juga berada di samping kolam renang. Ia enggan ditinggal sendirian. Bibirnya mengerucut. "Tidak, aku ikut. Aku takut."

Air memutar bola matanya, menghela napas lelah. "Disini tidak ada hantu, Yaya. Memangnya kau pikir rumahku berhantu?" balasnya jengkel.

"Hantu kan tidak kelihatan! Lagipula aku tidak bilang kalau rumahmu itu berhantu! Dan juga, aku tidak suka ditinggal sendirian di tempat sepi seperti ini."

Air benar-benar tidak mengerti dengan jalan pemikiran Yaya. Wajar saja sih kalau gadis (apalagi seperti Yaya) ketakutan atau enggan ditinggal sendirian di tempat sepi. Ia mendengus. "Iya iya, terserah kau saja."

Entah kenapa, Yaya begitu bahagia karena Air mengizinkan dirinya ikut dengannya. Air mengambil langkah dulu dan lagi-lagi Yaya mengikutinya dari belakang. Dalam hati, Yaya kembali menggerutu karena ia seperti budaknya Air sekarang. Menaiki anak tangga satu persatu, Yaya baru tahu bahwa kamar Air ada di lantai atas, sama seperti dirinya.

Air membuka pintu kamarnya. Yaya tampak takjub dengan suasana kamar itu. Ruangan yang dengan tembok dicat berwarna biru muda. Barang-barang yang ada disana kebanyakan berwarna biru muda. Fasilitasnya juga sangat lengkap, sama dengan kamarnya. Apalagi aroma itu, aroma mint yang membuat gadis itu sedikit mengantuk dan juga meleleh. Memang benar-benar khas Air.

Air melangkah masuk, maka Yaya ikut melangkah masuk juga. Air tampak sibuk mencari peralatan untuk tugas mereka. Sementara itu, Yaya masih memantung di tempatnya, bingung akan melakukan apa setelah ini. Ia belum pernah masuk ke kamar laki-laki. Kamar Taufan saja belum pernah ia masuki.

"Sebenarnya aku juga ingin ganti baju disini, tapi karena ada kau, aku tidak bisa mengganti bajuku" ujar Air yang mengambil beberapa kertas di meja belajarnya, membuat Yaya menoleh.

"Kan bisa ganti baju di kamar mandi, bagaimana sih?" balas Yaya kesal, yang mengundang tatapan datar dari Air. Gadis itu membanting tubuhnya di tepi tempat tidur bersprei biru muda itu.

"Tapi aku lebih suka mengganti baju disini, di depan lemari."

"Nanti kalau ada orang yang masuk kamarmu terus melihatmu, bagaimana? Apakah kau masih suka berganti baju di depan lemari?" balas Yaya dengan nada meremehkan.

Air kini berhasil menatap mata Yaya karena sebelumnya ia sibuk mencari peralatan untuk tugas kelompok yang letaknya menyebar. "Aku kan selalu mengunci pintu kamarku. Mana mungkin orang bisa masuk? Kau ini memang benar-benar bodoh ya!"

Mulut Yaya ternganga lebar. "Aku tidak bodoh, tahu!" balasnya kesal sekaligus tidak terima. Ia tidak sebodoh seperti yang Air pikiran.

"Terserah kau saja" balas Air datar, melangkah menuju pintu dan Yaya hanya diam memandanginya. Kemudian lelaki itu berhenti di ambang pintu, menatapnya sedatar tembok. "Ngapain masih ada disitu? Ayo cepat keluar, atau kau mau ku kunci disini."

Kedua mata Yaya mengerjap cepat karena kesadarannya kembali. Ia langsung berlari keluar sambil bersungut-sungut sebelum Air mengunci kamarnya.

^^...^^

Kini Air dan Yaya sudah duduk berhadapan. Di tangan Air, sudah ada lembaran soal matematika yang berjumlah 40 soal. Ini adalah soal untuk persiapan ujian kelulusan meskipun masih lama.

"Ya sudah, ayo dikerjakan!" ucapnya datar karena Yaya sedari tadi seperti orang bodoh saja, diam tak berkutik.

Yaya mengerjap lalu mengangguk. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya melayang hari ini. Apa gara-gara ia masuk ke rumah asing seperti ini? Ia tidak tahu. Yaya mulai mengerjakannya, tetapi saat sampai di nomor 1, keningnya mengerut. Yaya lupa rumusnya apa, padahal ia sering mengerjakan soal seperti itu saat kelas X. Itu dulu, sekarang tidak lagi. Yaya benar-benar dibuat pusing tujuh keliling hari ini. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ingin tanya kepada Air, tapi rasa gengsinya terlalu tinggi untuk melakukannya.

Diam-diam, Yaya melirik hasil kerja Air. Rahang bawah Yaya jatuh seketika. Air sudah sampai nomor 10 sekarang! Sedangkan dirinya, satu soal pun belum dijawab! Yaya harus menyingkirkan rasa gengsinya jauh-jauh kali ini.

"Air, nomor 1 caranya bagaimana? Aku lupa nih. Ajarin aku dong!" tanyanya sekaligus pintanya dengan sedikit... manja.

Mata Air mengerjap lalu menatap Yaya. Ia terdengar mendengus. "Begini caranya..."

Yaya mendengarkan secara seksama rumus-rumus yang diterangkan oleh Air. Bahkan keduanya belum menyadari, jarak antar wajah mereka cukup dekat. Yaya tersenyum puas saat mengingatnya kembali. "Oh iya, aku ingat!" serunya berapi-api lalu mulai menulis.

Air hanya menghendikkan bahunya tak peduli lalu hendak melanjutkan tugasnya, tetapi ia urungkan kembali saat Yaya berucap.

"Tungguin aku dong! Ini kan kerja kelompok."

Air memutar bola matanya lalu mengangguk dengan malas. Entah kenapa ia langsung menuruti tanpa membantahnya terlebih dahulu. Tak sengaja, ia memandangi terus wajah cantik Yaya ketika menulis sambil menopang dagu malas. Wajah itu sangatlah cantik dan mempesona. Pantas saja siapapun lelaki yang berpapasan dengan Yaya langsung terpesona termasuk Taufan.

Air meneguk ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, melebihi kecepatan normal. Air menggeleng, tetapi degupan itu tak kunjung hilang, membuat Air bingung sendiri.

"Lalu nomor 2 bagaimana? Aku juga lupa."

Pemuda itu tersentak kaget, tersadar dari lamunan konyolnya. Ia menatap Yaya dengan pandangan kesal karena Yaya tak ingat apa-apa.

"Kau ini kenapa sih? Kenapa rumus-rumus Matematika yang penting ini kau lupakan? Apa yang kau ingat? Taufan?" balasnya jengkel karena Yaya terus bertanya padanya. Menyebutkan nama kekasih gadis itu, entah kenapa detakan jantungnya berubah menjadi menyakitkan.

Ekspresi Yaya langsung berubah menjadi kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, membuat wajahnya terlihat sangat lucu. Air memalingkan wajahnya, mulai merasa kalau rona merah menjalari pipinya.

"Ya, aku memang selalu mengingat Taufan karena Taufan adalah kekasihku, mana mungkin aku selalu mengingat dirimu?" balas Yaya pedas, mendecak.

Air hanya menatapnya datar. Kenapa tiba-tiba mereka membahas hal ini? Ia menghembuskan napas perlahan agar kesabarannya meningkat. Emosinya selalu saja naik jika berhadapan dengan Yaya. "Baiklah-baiklah, aku akan mengajarimu. Tapi buku-bukumu yang dulu harus dibawa besok."

"Iya iya, kau bawel banget sih."

Air reflek melepaskan genggamannya pada bolpoinnya lalu bersandar pada punggung kursi. "Ok, aku batalin niatku untuk mengajarimu."

Gadis itu terkesiap. Reflek, ia menggenggam tangan Air dan memasang tatapan memohon. Air memandangi tangannya lalu memandangi Yaya bergantian dengan mata membulat. "Air, jangan dong! Ajarin aku, please!".

Pemuda itu merasakan tubuhnya menegang hebat saat Yaya menggenggam tangannya. Darahnya seolah berdesir dan berpusat pada tangannya yang dipegang Yaya. Jangan lupakan pada detak jantungnya yang semakin menggila. Air benar-benar tak tahu reaksi apa ini. Ia berdehem, mencoba untuk menghilangkan kegugupannya. "Iya iya. Puas?" jawabnya sedikit tergagap, namun juga sedikit kesal pada dirinya sendiri.

Yaya menyingkirkan tangannya dan tersenyum lebar. Yaya sendiri tak sadar jika tadinya ia menggenggam tangan Air. Gadis itu memang sangat cantik, Air menyetujuinya. Tetapi tidak bisa dipungkiri, tingkah Yaya terlihat kekanak-kanakan.

Ia pun mulai mengajari Yaya dengan serius. Air menahan napasnya saat wajahnya dengan Yaya hanya berjarak 5 cm, kira-kira begitu. Matanya menatap Yaya tanpa berkedip. Lihatlah reaksi Yaya. Reaksinya juga sama dengan Air. Tak ada kedipan mata di mata putri sekolah itu. Ia seperti orang bodoh sekarang. Jika bersama Taufan, ia tidak pernah merasakan reaksi yang seperti ini. Apakah artinya, Ya Tuhan?

Air menegapkan tubuhnya, sudah kembali ke alam nyatanya. Yaya pun langsung tersadar. Wajahnya memerah dan Air melihatnya. Gadis itu menunduk malu. "Kerjakan soal itu. Aku akan mengambil camilan dulu."

Yaya mengangguk kaku. Air bangkit . Yaya bisa merasakan reaksi yang tidak biasa pada tubuhnya. Ia berkeringat dingin, jantungnya berdetak kencang, dan jangan lupakan jika wajahnya memerah. Ia benar-benar malu.

Sementara itu, Air membasuh wajahnya di wastafel dekat dapur. Menatap wajahnya lekat-lekat di cermin, dapat ia lihat semburat tipis ada di pipinya. Ia mengerang tertahan, apa maksudnya? Air menggeleng pelan, mengusir hal-hal konyol yang sempat bertengger di otaknya. Ia pun menghampiri kulkas yang berukuran besar itu, mengambil camilan-camilan yang ia punya.

^^...^^

Sementara itu, di dalam taman belakang rumah Air, tiba-tiba Yaya ingin sekali buang air kecil. Sedari tadi ia menahannya sekuat tenaga dan sekarang sudah ada di ambang batas. Ia pun bangkit dari posisinya, berlari menuju pintu. Di bukanya pintu dan ia benar-benar tak tahu jika ada seseorang yang hendak masuk. Karena tidak berkonsentrasi, ia tak sengaja menabrak orang itu dengan kasar. Entah apa yang dipikirkan Yaya sejak tadi, membuatnya tidak dapat berkonsentrasi penuh.

Seseorang yang hendak memasuki ruangan itu adalah sang majikan rumah, Air. Camilan-camilan yang ia bawa terlempar kemana-mana. Pemuda yang belum sempat mengganti baju seragam sekolahnya dengan pakaian rumah itu mengerang kesakitan saat merasakan punggungnya jatuh dengan cukup keras. Di tambah lagi dengan Yaya yang ada di atas tubuhnya.

"Eh, APA?!"

Dengan sangat hati-hati, Air melihat ke arah tubuhnya dan betapa terkejutnya dia saat menyadari ternyata Yaya memang tengah di atas tubuhnya. Tubuhnya menegang kembali, seperti tadi. Uh, pasti wajahnya memerah sekarang hanya karena insiden memalukan ini.

"Yaya ada di atas tubuhku? Apa yang aku lakukan? Apa yang telah aku perbuat? Bagaimana bisa? Astaga! Aku tidak ingin seperti Kak Api!" batinnya histeris.

Sementara itu, Yaya masih belum menyadari posisinya sekarang. Ia masih memikirkan rasa sakit di perutnya. Ia pun mulai merasakan ada kejanggalan. Matanya terbelalak saat tahu dirinya ada di atas tubuh seseorang, dan orang itu adalah AIR. Tertera jelas rona merah di wajahnya. Lalu pandangannya teralihkan menuju para pelayan rumah Air yang tercengang menatap posisi mereka berdua.

Tidak mau berlama-lama dalam posisi seperti itu, Yaya segera bangkit dari tubuh Air. Air pun mencoba untuk bangkit, mencoba untuk mengabaikan rasa sakit di punggungnya. Ia terlihat sangat kaget karena para pelayan rumahnya melihat posisi mereka. Mungkin mereka terkejut dengan suara nampan serta camilan-camilannya yang terjatuh. Langsung saja ia memberikan delikan penuh arti, dan membuat para pelayan buyar dan kembali ke aktivitas seperti biasanya.

Sambil menahan rasa malu yang luar biasa, Air memunguti camilan-camilan yang terlempar kemana-mana lalu mendengus ke arah Yaya. Yaya menunduk malu.

"Kau ini kenapa sih? Lihat-lihat dulu kalau mau keluar! Asal tabrak saja! Lihat tuh, kita tadi dilihatin sama pelayan-pelayan rumahku! Ini memalukan, tahu!" omelnya sebal, memang ini kejadian yang sangat memalukan baginya, ditambah lagi menjadi tontonan gratis para pelayan rumahnya.

"Iya iya, aku tahu kok!" balasnya dengan kesal sekaligus malu.

Air hanya mendengus kasar dan bersedekap. Jangan lupakan wajahnya yang sudah memerah. Apalagi Yaya, wajahnya semerah kepiting rebus. Seumur hidup, belum pernah gadis itu semalu ini, sama Taufan saja belum pernah. Ya, ia memang menolaknya.

"Tapi aku kan kebelet pipis! Aku sudah tidak tahan!"

Pemuda itu mengernyit ke arahnya dengan tatapan heran. Ia lagi-lagi mendengus, menyadari otak Yaya yang sama sekali tidak fokus hari ini. "Di sebelah sana kan sudah ada kamar mandinya! Bagaimana sih?!" balasnya dengan gemas.

Mulut Yaya menganga lebar lalu berbalik. Ia menepuk pelan keningnya, menyadari kebodohannya saat melihat kamar mandi kecil dengan pintu terbuka lebar. Padahal tadi ia melihat kamar mandi itu juga. Air berjalan melewatinya, duduk di kursi yang tadi ia tempati. Dengan lemas, Yaya masuk ke kamar mandi. Air hanya geleng-geleng kepala, mulai mengakui bahwa Yaya adalah gadis yang sangat bodoh.

^^...^^

Yaya merogoh saku jasnya untuk mengambil pita rambutnya. Ia menautkan alisnya karena tak menemukan apa-apa disana. Yaya menjadi bingung, dimana pita rambutnya?

"Dimana ya?" gumamnya bingung.

Gadis itu mencoba mencarinya di tas, tak ada. Di saku roknya, tak ada. Ia tak boleh menghilangkannya begitu saja. Pita rambut itu adalah hadiah ulang tahunnya dari Taufan setahun yang lalu, beserta squishy juga. Tidak mungkin ia akan menghilangkannya. Ia mencoba mengingat tempat-tempat yang dikunjunginya hari ini.

Di cafe, ia tidak mampir kesana hari ini. Di kantin, ia tidak mengeluarkan apa-apa karena Ying mentraktirnya. Yaya teringat sesuatu. Ia tadi sempat mampir ke toilet sebelum ke kelas. Sebelum pita rambut itu hilang, ia pun bangkit dari kursinya dan berlari keluar kelas, mengabaikan tatapan aneh dari teman sekelasnya, apalagi Ying.

Entah takdir atau apa, entah karena ia tidak fokus lagi seperti kemarin atau apa, ia kembali menabrak seseorang yang sama. Kali ini ia tidak terjatuh ke lantai dan tumpang tindih seperti kemarin. Kali ini, tubuh mungilnya seakan dipeluk oleh seseorang. Jantung Yaya berdegup kencang saat tahu siapa itu. Pemuda yang duduk sebangku dengannya, bertopi biru muda, serta tatapan datarnya. Dia Air. Sekali lagi, dia adalah AIR. Tangan kiri Air menahan kepalanya, sementara tangan kanan Air memeluk pinggangnya. Yaya dapat merasakan kakinya melemas saking kagetnya.

Wajah Yaya memerah total saat itu juga. Mata Air dan Yaya sama-sama tak berkedip dan mereka saling beradu pandang, terpesona dengan makhluk di hadapan mereka. Teman-teman sekelas mereka hanya bisa menahan napas. Ying dan Fang saling berpandangan tak percaya.

Sementara itu, Taufan yang merupakan murid kelas XII IPA 3, ingin membuang sampah karena tong sampah ada di luar kelas. Ia berjalan santai dan membuang sampahnya. Pandangannya tertuju pada gadis yang sangat ia cintai, Yaya tengah dipeluk oleh pemuda yang sama sekali tak ia kenali. Tubuhnya mematung di tempat, menatap dua makhluk itu tak percaya.

Lalu teman sebangkunya, Amy datang menghampirinya. Gadis itu menatapnya aneh lalu ikut menatap apa yang ditatap Taufan. Reaksi yang sama diberikan Amy kepada keduanya, tatapan tak percaya.

"Oh My God! Itu kan Yaya sama Air!"

Sayang sekali, Yaya dan Air tak mendengar suara Suzy. Padahal suara Suzy cukup keras. Mereka lebih asyik saling beradu pandang. Taufan menatap Amy tak mengerti. "Apa? Jadi cowok itu yang namanya Air?"

Amy mengangguk pasti, membuat Taufan sama sekali tak percaya. Karena tak tahan, ia pun memasuki kelasnya dengan perasaan hancur berkeping-keping. Amy memandang kepergian Taufan dengan senyuman licik. Ia sekali lagi memandang kedua makhluk itu lalu kembali ke kelas. Kembali lagi kepada dua makhluk Tuhan yang mematung dengan posisi seperti itu.

Setelah beberapa menit rohnya melayang entah kemana, akhirnya ia tersadar dan melepaskan Yaya perlahan. Yaya sontak tersadar dan terkejut setengah mati. Air berdehem dan mencoba untuk memasang ekspresi datar seperti biasanya lalu berjalan melewati Yaya menuju bangkunya. Sudah pasti, selama Air melangkah sampai Air duduk di bangkunya, teman sekelasnya menatap Air tak percaya lalu berbisik-bisik.

Gadis itu masih mematung di ambang pintu, belum bisa berpikir jernih. Ia pun menggeleng, kembali ke tujuannya untuk ke toilet.

^^...^^

Selama jam pelajaran berlangsung, ekspresi Taufan tampak kacau. Bagaimana tidak? Ia tadi melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yaya dipeluk oleh seseorang yang namanya Air. Entah sengaja atau tidak, tetapi Taufan tetap cemburu. Pasalnya, ia jarang memeluk kekasihnya. Ia terlalu sibuk dengan kegiatan klub skateboardnya. Kenapa orang yang notabenenya hanya teman sebangku kekasihnya bisa memeluk kekasihnya seenak jidat?

Taufan menggeram kesal. Tanpa ia sadari, genggaman pada bolpoinnya mengerat. Amy yang melihat Taufan seperti itu diam-diam tersenyum licik. Ia melirik Suzy yang duduk di samping bangkunya. Suzy pun tahu apa yang sedang Taufan alami. Mereka berdua memang licik, sangat licik melebihi apapun.

"Taufan, kau kenapa sih? Sudahlah, jangan dipikirkan terus. Bisa-bisa kau kesulitan saat ulangan Ekonomi nanti."

Si pemuda mendesah kecewa. "Uh... Amy? Bagaimana ini? Masa' sih Yaya mau dipeluk sama orang asing?" gumamnya lirih tetapi Amy tetap mendengarnya.

Gadis bernama Amy itu terdiam sejenak, mencari kata-kata yang pas agar hati Taufan semakin hancur dan hubungan mereka otomatis juga akan hancur. "Coba deh kau lakukan saranku yang ini."

Pemuda itu menatapnya antusias, padahal Amy berniat untuk menghancurkan hubungannya dengan Yaya. Taufan memang mudah percaya kepada siapa saja, apalagi gadis licik itu. "Kau belum pernah berciuman dengan Yaya kan?"

Bola mata Taufan bergerak-gerak gelisah, membuat hati Amy merasa puas. Memang benar apa yang dikatakan oleh Amy, Taufan belum pernah mencium Yaya selama dua tahun ini. Padahal itu merupakan satu-satunya cara agar Yaya menjadi miliknya seutuhnya, tapi ia belum pernah sekalipun melakukannya. Pikiran Taufan mendadak kalut. Untungnya guru yang mengajar di kelas mereka sedang keluar sebentar.

"Belum pernah ya?" tanya Amy lagi, yang direspon oleh anggukan lesu dari Taufan.
Taufan mengangguk dengan lesu. "Coba kau lakukan hal itu. Kalau Yaya menolak, itu berarti dia tidak pernah mencintaimu. Dia hanya memanfaatkan kepopuleranmu, Taufan. Coba lihat, kau kan akhir-akhir ini sibuk. Seharusnya, Yaya menemanimu setiap saat, bukannya hanya diam. Bagaimana? Kau setuju, tidak?"

Saran yang memang masuk akal bagi Taufan. Amy lagi-lagi tersenyum licik, mulai menyadari kebimbangan Taufan. Tapi ia yakin kalau Taufan akan menerima dan melakukan sarannya. "Baiklah, akan aku coba."

^^...^^

Bel istirahat pun berbunyi dengan nyaring. Guru yang mengajar mata pelajaran Fisika itu pun keluar dari kelas, diikuti oleh teman sekelasnya yang lain. Yaya masih tetap di bangkunya, tak mengerti dengan penjelasan sang guru. Sementara Air pun sama dengan gadis itu. Bukan karena Air juga tidak bisa, ia malas untuk pergi keluar kelas. Ying menghampiri Yaya yang tidak berubah.

"Yaya, kau tidak ke kantin?" tanyanya heran.

"Tidak, Ying. Kau kesana sendirian saja ya, aku masih belum mengerti sama materi ini. Maaf ya."

"Oh, yaudah deh. Tidak masalah. Kalau begitu, selamat belajar."

Yaya hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Ying berjalan keluar kelas. Yaya masih bingung dengan otaknya yang semakin tidak nyambung. Lihatlah, ia dulu dikenal sebagai murid terpandai. Sekarang, ia tidak bisa apa-apa dan merasa kalah dengan Air. Apalagi materi ini materi Fisika tentang hitung-hitungan.

Yaya semakin lelah. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Hanya dirinyalah dan Air yang masih ada di kelas. Sementara itu, ia tidak tahu jika diperhatikan oleh Taufan yang bersembunyi di dekat pintu kelas.

"Tumben tidak ke kantin, ada apa?"

Gadis itu tersentak kecil lalu menoleh ke samping. "Ini nih, aku masih tidak bisa. Caranya bagaimana sih? Ajarin aku dong."

Lagi-lagi Yaya berucap manja padanya. Yaya pun tidak tahu kenapa dirinya bisa seperti itu kepada Air, kepada Taufan saja jarang. Air menghela napasnya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Yaya. Taufan yang melihatnya mengepalkan tangan kuat-kuat menahan amarah.

Air pun mulai menerangkan apa yang diterimanya tadi saat jam pelajaran berlangsung. Yaya mendengarkannya dengan seksama agar ia cepat mengerti. Ia sangat malu jika terus-terusan bertanya kepada Air.

"Ok ok, aku mengerti sekarang. Makasih ya."

"Hn."

Lalu Yaya mulai mengaplikasikan apa yang diterangkan oleh Air. Sementara Air menenggelamkan wajahnya di atas lipatan kedua tangannya di atas meja, mencoba untuk tidur. Ia mengangkat kepalanya kembali saat mendengar suara rintihan dari samping. Siapa lagi kalau bukan Yaya?

"Aduh! Aduh!"

Pemuda penyuka warna biru muda itu menoleh, menatap Yaya dengan bingung karena Yaya berteriak kesakitan tadi. "Kau kenapa?" tanyanya dengan nada datar, namun terselip nada khawatir disana.

"Air, mataku kelilipan. Tolongin aku" rengeknya memelas.

Gadis itu tampak mengucek-ucek matanya. Air tampak panik dan bingung. "Jangan diucek-ucek, Yaya. Nanti matamu malah infeksi."

"Iya, tapi reflek" kata Yaya ikut-ikutan panik.

"Sebelah mana sih?" Yaya menunjuk mata kanannya yang terkena debu. Mata Air menyipit dan memperhatikannya lekat-lekat, seolah ia bisa menembus lapisan hitam itu. "Buka matamu lebar-lebar! Akan aku tiup."

Yaya pun berusaha untuk membuka mata kanannya lebar-lebar. Yaya mendekatkan wajahnya ke wajah Yaya lalu meniup matanya dengan sekali tiupan. Yaya tampak sedikit lega karena sakit di matanya berkurang. Ia membuka matanya lebar-lebar. Dirinya terkejut melihat wajah Air yang sangat dekat dengannya, mungkin berjarak 3 cm. Taufan yang masih ada disana kembali menggeram kesal juga marah. Ada saja kesempatan Air untuk mendekati Yaya.

Air pun kembali menenggelamkan wajahnya seperti tadi. Yaya menatap belakang kepala pemuda itu lalu mengulas senyuman tipis. Mata Taufan mendelik seketika.

^^...^^

"Yaya, aku ingin bicara penting sama kamu. Temui aku di atap sekolah."

Yaya hanya mengerutkan keningnya ketika mendapat pesan tersebut dari sang kekasih. Ia segera membereskan buku-bukunya dengan cepat lalu memasukkannya ke dalam tasnya yang berwarna pink cerah. Setelah sang guru keluar, ia pun bersama teman-temannya yang lain ikut keluar kelas. Ia melirik Air yang masih membereskan bukunya. Ia tak peduli. Ia memilih untuk menemui Taufan di atap sekolah.

Menaiki tangga yang akan menghubungkannya ke atap dengan hati-hati. Sesampainya ia di depan pintu, ia memutar knop pintu perlahan. Di dapatinya Taufan tengah berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota dari atas atap sekolah. Ia berjalan menghampirinya dengan langkah canggung.

Belum sempat ia memanggil nama kekasihnya, Taufan sudah membalikkan tubuhnya, menatap Yaya dengan tatapan dingin. Kening Yaya mengkerut saat tak melihat senyuman yang selalu di arahkan padanya.

"Ada apa, Taufan? Tumben mengajakku bicara serius seperti ini."

"Aku ingin serius denganmu untuk kali ini."

Kini Yaya benar-benar bingung, tak seperti biasanya Taufan mau serius. Biasanya ia akan bersikap santai dan seolah tak ada apa-apa meskipun ada masalah besar yang menimpanya. Jangan salahkan Yaya kalau ia bingung. Yaya terperanjat saat tiba-tiba tangan Taufan menarik pinggangnya dan kini tubuh mereka berdua menempel, membuat tubuh Yaya menegang seketika. Matanya menatap Taufan dengan penuh kesiagaan.

"Aku punya satu permintaan padamu."

Kedua alis Yaya bertaut, tak mengerti maksudnya. "Permintaan... apa?" tanyanya tergagap. Dari sini, perasaan Yaya mulai tidak enak.

"Kau mau kan kalau aku menciummu sekarang juga?"

Napas Yaya seketika tertahan. Matanya membulat lebar saking kagetnya. Mulutnya mengatup rapat. Taufan memandangnya sambil tersenyum tipis, namun sangat mempesona. Kini Yaya benar-benar takut. Baru pertama kali ini ia terlihat sangat ketakutan kepada Taufan. Kepalanya menggeleng kuat, membuat Taufan kaget.

"Tidak, aku tidak mau, Taufan" tolak Yaya mutlak.

"Kenapa? Apa alasanmu? Cepat katakan!" desaknya pada Yaya.

Yaya belum menjawab. Alasannya ialah ia ingin mempertahankan kesuciannya yang berharga meskipun sudah memiliki kekasih. Ia tak ingin menghancurkannya sebelum menikah. Itu bukan termasuk prinsipnya. Baru ia akan menjawab, Taufan berucap yang langsung membuat napasnya tercekat kembali.

"Oh, aku tahu. Kamu sudah punya laki-laki lain kan?"

Yaya kali ini menggeleng lebih kuat daripada sebelumnya. Namun tampaknya Taufan tak percaya lagi padanya. "Bukan, bukan itu alasannya, Taufan. Aku tidak mau karena-".

"Karena kau sudah tidak mencintaiku lagi kan?" sambungnya lebih cepat.

Sungguh, Yaya semakin tak mengerti arah pikir Taufan. Keringat dingin mulai mengalir melewati pelipisnya. Taufan mendengus, mulai mengambil kesimpulan jika ucapannya tadi memang benar adanya.

"Aku tahu, sangat tahu. Aku tadi melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat kalian berdua tengah bermesraan tadi pagi." Gadis di hadapannya tampak syok. "Sekarang kau menyukai Air kan? Iya kan? Jawab, Yaya!"

Napas Yaya tertahan, tak menyangka Taufan akan menuduhnya seperti ini tanpa bukti, apalagi sama Air. Apa yang dilihat sama Taufan? "Maksudmu apa sih?" tanyanya masih tidak mengerti.

"Kau benar-benar tidak tahu apa maksudku? Ok, aku akan jelaskan. Tadi pagi, aku melihatmu bermesraan dengan Air. Kau dipeluk sama Air kan sampai beberapa menit lamanya? Romantis sekali ya? Dan waktu istirahat, matamu kelilipan lalu Air yang meniup matamu. Sungguh romantis, Yaya. Bahkan aku tidak pernah melakukan hal itu sama padamu selama dua tahun ini."

Kini, air mata Yaya mulai menetes dengan deras setelah mendengar cerita Taufan yang separuh benar dan separuh salah. Ia menggeleng, ini salah paham.

"Ta-Tau-Taufan, ini semua salah paham. Aku bisa jelaskan-"

"Jelaskan apalagi, hah?! Aku kecewa padamu, Yaya! Aku sangat kecewa padamu! Padahal aku sudah sangat mencintaimu tapi kau malah mengkhianatiku! Dimana sih hatimu?!"

Kini Yaya mulai menangis terisak-isak. Jelas-jelas Taufan salah paham, tapi ia tidak bisa menjelaskannya karena Taufan terus saja memotong ucapannya. Napasnya juga mulai tak beraturan.

"Sekarang kita kembali ke topik awal. Aku tanya sekali lagi padamu. Kau mau kan kalau aku cium? Kalau kau tidak mau, itu berarti kau sudah tidak mencintaiku lagi. Cepat, pilih yang mana?"

Yaya tidak bisa memilih semuanya. Ia tidak mau dicium oleh siapapun. Ia juga masih cinta sama Taufan. Ia benar-benar bingung kali ini. Karena Yaya tak kunjung menjawab, membuat Taufan jengah. Ia mengarahkan wajahnya ke arah wajah Yaya, membuat Yaya berjengit. Pemuda itu mencoba untuk menciumnya. Yaya sama sekali tak mau. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat Taufan mendesah kecewa.

"Ok kalau itu maumu, Yaya. Ternyata kau memilih yang kedua ya? Ok, aku hargai keputusanmu dan keinginanmu. Mulai detik ini, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kita PUTUS!"

Bagai disambar petir di siang bolong, napas Yaya tercekat lagi. Matanya membulat tak percaya. Air matanya semakin mengalir dengan deras. Bukan ini yang ia mau. Ia tak mau putus dengan Taufan. Ia masih mencintainya. Taufan menatapnya kesal lalu pergi meninggalkannya seenak jidat. Dadanya menjadi sesak. Nalurinya berniat untuk memanggil nama Taufan, tetapi fisiknya tak mengikutinya. Ia menggeleng, berharap bahwa ini adalah mimpinya, bukan kenyataan.

Kakinya mendadak lemas. Lututnya pun kini sudah menyentuh lantai semen atap sekolahnya. Ia memegangi dadanya yang sesak.

"Kenapa hubunganku menjadi hancur seperti ini? Apa salahku? Itu hanya salah paham. Taufan tidak mau mendengarkanku. Lalu aku harus apa?"

TBC

Hallo, semuanya! Ada yang kangen sama aku nggak? (nerbangin kelopak-kelopak bunga sakura di hadapan readers)

Maaf ya untuk yang minta update kilat. Aku bener-bener nggak bisa ngabulin permintaan kalian yang satu ini. Yah, aku hanya bisa update di hari Sabtu atau Minggu. Weekend coyyy!

Balasan review :

Nissa1234 : Makasih udah bilang cerita ini bagus. Aku bakal lebih baik lagi kok. Makasih udah review!

: Suka sama pair AirxYaya? Kalau gitu sama dong (blink blink). Yah, Taufan disini aku jadiin pacarnya Yaya biar kerasa greget gitu :v Taufan juga orangnya romantis kayak aktor-aktor Korea (wow) Makasih udah review!

sarhyqilah : Taufan bukan saudaranya Air kok. Mereka beda keluarga. Soal Air punya kakak atau nggak, bisa ditebak sendiri :v Makasih udah review!

Edelweiss Lee : Fanfic ini nggak bakal discontinued kok. Tenang aja. Makasih udah review!

Ciiko : Emang bener disini Yaya OOC, kayak orang gila bener, suka heboh dan agak sombong :v Tapi demi kepentingan cerita juga. Makasih udah review!

Untuk yang lainnya, makasih juga ya udah review cerita ini.

Dan untuk terakhir kalinya, revieww please biar aku tambah semangat untuk ngelanjutin ff ini...