Entah karena nasibnya yang memang setiap hari sial atau apa, tiba-tiba saja mobil sport biru muda milik Air mogok di tengah jalan.
Padahal tadinya ia mampir ke toko buku untuk membeli novel edisi terbaru favoritnya. Setelah selesai, ia menonton film bioskop bertema action yang menurutnya menarik. Saat perjalanan pulang dengan langit yang berubah warna menjadi hitam dan bertaburan bintang-bintang, mobilnya mogok.
Terpaksa, ia membawanya ke bengkel terdekat dan ternyata ada masalah dengan mesin mobilnya. Dan kata montir, ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Air menjadi kesal. Di tambah lagi, ponselnya lowbat dan ia tidak membawa powerbank. Ia pun menaiki bus sampai sekarang. Mungkin karena malam ini malam Minggu, jalanan menjadi macet.
Air melirik arlojinya yang berwarna biru muda kombinasi abu-abu, sudah jam 8 lebih. Ia mendesah panjang, terlalu lelah dengan semua ini. Ia saja belum mengganti seragam sekolahnya, menjadi sorotan para publik yang menumpangi bus ini. Air sudah menguap beberapa kali. Ia benar-benar mengantuk sekarang.
Tiba-tiba bus berhenti, Air mendecakkan lidahnya kesal. Inilah yang membuatnya tidak sampai-sampai rumah. Ia terperanjat tatkala menyadari ada seseorang yang duduk di samping kanannya. Pandangan matanya yang tadinya menatapi pemandangan jalanan malam lewat jendela bus sampingnya kini menoleh ke orang itu.
Matanya terbelalak seketika, mendapati seorang gadis yang sangat familiar di matanya. Yaya, kenapa dia ada disini? Tapi Air tak peduli. Ia memilih untuk memandangi pemandangan jalanan lewat kaca bus.
Air heran. Tidak biasanya Yaya akan diam seperti ini. Ia mulai menyadari ada kejanggalan pada diri gadis itu. Ia menoleh, mendapati Yaya yang wajahnya seperti orang yang mengantuk atau sejenisnya. Kepalanya menunduk ke bawah sehingga Air tak dapat melihat ekspresi wajahnya. Dirinya dikejutkan oleh kelakuan mendadak Yaya. Tiba-tiba Yaya memeluknya. Sontak Air kaget setengah mati.
"Yaya! Yaya! Lepaskan pelukanmu itu!" perintahnya sambil berbisik. Mungkin karena suasana di bus itu hening, bisikannya mampu mengundang perhatian para penumpang.
Pemuda itu mulai risih ketika ditatap oleh semua penumpang bus. Ditambah lagi dirinya duduk di bangku paling belakang. Ia pun menjadi sorotan publik sekali lagi. Air menatap gadis yang tiba-tiba memeluknya. "Yaya! Sadarlah! Ada apa dengan dirimu?!" bisiknya lagi dengan oktaf yang ditinggikan.
"Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku" gumamnya parau.
Air melongo, masih tak mengerti dengan ucapan Yaya. Sementara itu, para penumpang mulai berbisik-bisik dengan menatapnya dengan tatapan hina. Astaga, Air mulai merasa tidak enak. Dengan kesal, Air mendongakkan wajah Yaya. Air mengernyit, mulai tahu jika Yaya sedang mabuk berat. Untungnya kondisi gadis itu tidak apa-apa, tidak dihajar oleh para berandalan atau sejenisnya. Tapi ia benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus ia lakukan?
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu" gumamnya lagi dengan tidak sadar.
Pemuda itu tahu jika kalimat itu bukan ditujukan kepada dirinya. Ia sangat tahu diri. Kalimat itu ditujukan hanya kepada Taufan, kekasih Yaya. Kini Air mulai sadar akan sesuatu. Ia mulai menduga jika ada masalah diantara Taufan dan Yaya. Lalu Yaya minum minuman keras sampai mabuk berat seperti ini. Tentu Air kerepotan.
Ia melirik, menatap kepala gadis itu yang bersandar bebas di lengannya. Tidak ada suara gumaman lagi dari gadis itu. Mungkin Yaya tertidur. Air mendesah panjang. Mobilnya mogok, tidak membawa ponsel, jalanan macet, dan sekarang ada Yaya yang mabuk! Air mengerang tertahan.
^^...^^
Dengan sangat terpaksa, Air membawa Yaya menuju rumahnya. Ia tadi sempat meninggalkan Yaya di bus dan malah di demo oleh penumpang lainnya. Ia dituduh yang membuat Yaya seperti itu dan ia harus bertanggung jawab. Ditambah lagi, ia juga tidak tahu dimana rumah Yaya, lupa alamatnya.
Dan inilah akhirnya, Air menggandeng tangan Yaya agar Yaya tidak mencoba untuk bunuh diri dengan menabrakkan dirinya dengan mobil yang berlalu lalang di jalan raya samping mereka. Yaya masih belum sadar betul. Air sudah mengantuk berat dan harus mengurus Yaya yang seperti ini.
Ia terkesiap saat Yaya menjatuhkan diri di atas tanah. Sungguh, gadis itu sudah mabuk berat dan sempoyongan. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Tampaknya ia tidak tahu bersama siapa ia sekarang. Air memijit pelipisnya.
"Yaya, ayo bangun! Bangunlah! Kau tidak boleh duduk disini" kata Air dengan sedikit kesal. Pasalnya gadis itu benar-benar menganggu waktu malam Minggunya. Padahal ia sudah membayangkan bagaimana dirinya nanti akan mandi air hangat lalu bermalas-malasan di atas tempat tidur sambil membaca novel barunya.
Yaya bergumam tidak jelas dan malah menendang-nendangkan kedua kakinya di udara kosong. Tubuh gadis itu berkeringat. Tentu saja, Yaya belum mandi karena ia masih memakai seragam sekolah. Sekali lagi, Air ingin sekali mengumpat sekeras-kerasnya. Tatapannya masih tetap sama, kosong.
Tidak ada pilihan lain, maka Air berjongkok membelakangi Yaya. "Yaya, naiklah. Kita tidak boleh berlama-lama disini," ujar Air, menoleh pada Yaya yang kepalanya menunduk. Ia sedikit ngeri karena sekarang Yaya mirip dengan kuntilanak. Wajah gadis itu tertutupi oleh rambutnya sendiri. Ditambah lagi mereka berdua berada di tempat yang sepi.
Kepala Yaya terlihat mengangguk kecil. Air bersyukur karena Yaya mengerti perkataannya. Tanpa basa-basi lagi, Yaya mendaratkan tubuhnya di punggung Air. Jantung Air berpacu saat kepala Yaya bersandar di bahunya, apalagi ketika merasakan hembusan napas si gadis yang hangat.
Air menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu mulai berdiri. Dalam hati, ia berdoa agar ia diberi kekuatan yang lebih untuk bisa menggendong Yaya dengan selamat sampai rumahnya.
^^...^^
Air mengedor gerbang raksasa rumahnya. Tak lama kemudian satpam membukanya dan terkejut melihat putra majikannya berjalan dan tak membawa mobil, apalagi dia sedang menggendong seorang gadis yang tampak teller. Seakan mengerti, Air langsung bicara.
"Mobil saya mogok dan sekarang ada di bengkel."
Satpam tersebut mengangguk kaku, membukakan pintu gerbang lebar-lebar. Air yang sudah lemas, melangkah masuk. Sang satpam sangat heran melihat gadis yang digendong oleh Air. Ia mulai berpikiran negatif dan berkesimpulan bahwa Air akan mengajak gadis itu tidur bersama dan melakukan hal yang terlarang. Apalagi sekarang banyak sekali remaja yang sudah melakukannya.
Air membuka pintu rumahnya dan langsung disambut oleh para pelayan. Reaksi yang sama diberikan oleh satpam tadi. Para pelayan tersebut heran dan bingung dengan gadis yang digendong Air. Air memberi isyarat agar mereka semua menyingkir. Air sungguh kewalahan menahan berat badan Yaya di punggungnya.
Rahang Air jatuh ke bawah saat melihat tangga yang akan menghubungkannya ke lantai dua. Kali ini ia sangat menyesali fakta bahwa kamarnya berada di lantai dua. Ia menghembuskan napas pelan-pelan lalu mulai menaiki tangga, mengabaikan rasa pegal di kakinya dan juga di punggungnya.
Air menghembuskan napas lega saat tiba di hadapan pintu kamarnya. Ia membukanya lalu menutupnya setelah dirinya dan Yaya ada di kamarnya. Sama halnya dengan satpam, para pelayan kini mulai berpikiran negatif saat keduanya memasuki kamar. Air mendudukkan Yaya di tempat tidurnya yang super empuk. Air meletakkan tasnya di atas meja belajar lalu membuka jas sekolahnya sekaligus topi biru mudanya. Ia lemparkan ke bak khusus baju kotor karena besok hari libur. Melepas sepatunya lalu meletakkannya di rak sepatu. Belum sempat mengganti seragam sekolahnya, ia menghampiri Yaya yang masih mabuk tiada hentinya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yaya.
"Yaya, ada apa denganmu?" tanyanya, mencoba untuk bernada lembut kepada Yaya yang kehilangan akal sehatnya.
Tiba-tiba, Yaya berdiri. Tentu Air bingung. Dan kini Air semakin kaget. Dirinya di peluk kembali namun lebih erat dari sebelumnya. Karena pemuda itu belum siap, keseimbangannya pun menghilang dan akhirnya dirinya limbung jatuh ke atas kasur. Air menatap horror wajah Yaya yang tepat ada di atas wajahnya. Kini posisinya sama seperti beberapa hari yang lalu, saat kerja kelompok.
Wajah Air memerah dan untungnya Yaya belum sadar dari kondisi mabuknya. Kepala Yaya kini bersandar di atas dadanya. Air dapat merasakan jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya terasa mendidih. Jika Yaya tidak mabuk, pasti gadis itu akan tahu langsung. Air menggeleng, mengusir pikiran negatifnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menidurkan Yaya dengan posisi yang benar yaitu kepala di atas bantal. Tak lupa untuk menyelimutinya.
Air menatap wajah damai gadis itu ketika tertidur pulas, memang sangat cantik. Air tak habis pikir, memangnya apa masalah di antara mereka sampai-sampai Yaya frustasi dan mabuk? Ia mendengus, memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
^^...^^
Mata gadis itu terbuka perlahan. Mengerjapkannya berkali-kali, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Matanya menyipit, merasa asing dengan kamar yang ditempati. Ia terduduk, mengedarkan pandangannya ke seisi kamar. Bercat biru muda, dan barang-barang kebanyakan berwarna biru muda. Matanya terbelalak. Ia baru ingat bahwa ini adalah kamar Air. Kenapa bisa dirinya ada disini?
Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Kepalanya pusing kembali. Tangannya reflek terangkat untuk memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Kepalanya menoleh lemah, mendapati pemuda berkaos biru muda pendek dan bercelana hitam selutut menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Air?
Kini Yaya benar-benar malu. Ia tak ingat apa yang terjadi sebelum ia berada di kamar ini. Air duduk di tepi kasur, menatap Yaya dengan tatapan sulit diartikan.
"Syukurlah, akhirnya kau bangun juga."
Gadis itu tersenyum canggung. Bola matanya bergerak tak tentu arah. Dirinya benar-benar gelisah dan bingung dengan semua ini. "Kenapa aku ada disini?"
Kening pemuda itu mengkerut. Jelas-jelas Yaya menjadi bingung. Air sama sekali tak menyangka bahwa Yaya tak ingat apapun. "Eh, kau lupa? Tadi malam kau tiba-tiba duduk di kursi bus sebelahku. Dan kau juga mabuk berat. Ada apa denganmu, hah?"
Mata Yaya terbelalak. Kini ia baru ingat. Gara-gara Taufan memutuskannya tanpa persetujuan darinya, ia menjadi frustasi. Ia mampir ke diskotik dan minum minuman keras entah berapa botol jumlahnya, yang jelas tidak hanya satu tetapi lebih.
Lalu ia merasakan tubuhnya menaiki bus dan duduk di kursi penumpang. Ia sama sekali tidak sadar dan tidak tahu bahwa ia duduk di sebelah Air. Dan kenapa harus Air yang duduk di sebelahnya? Tapi Yaya sangat bersyukur karena ia tidak duduk di sebelah pria-pria bejat yang akan membawanya ke kamar bercahaya remang-remang lalu mengambil keperawanannya. Yaya benar-benar tidak bisa membayangkannya. Dan yang terpenting, ia tidak ingin bernasib sama seperti sang kakak.
Yaya menggigit bibir bawahnya, pasti ia sudah mengigau yang tidak jelas pada Air. Hancur sudah reputasinya sebagai siswa terpandai, tapi sekarang malah menjadi pemabuk. Tiba-tiba seberkas ingatan kelam menghampirinya di saat Taufan tiba-tiba memutuskan hubungan yang sudah ia jalin selama 2 tahun. Tangisannya pecah kembali dan tanpa sadar, ia memeluk Air yang duduk di hadapannya.
Lagi-lagi Air kaget setengah mati. Dapat ia dengar isakan tangis yang keluar dari mulut Yaya. Tubuh Yaya bergetar hebat. Air dapat merasakannya. Tangan Air pun terangkat, membalas pelukan itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Air sembari membelai lembut rambut Yaya yang sangat halus dan lurus. Ia tidak mengerti ketika kulit di telapak tangannya terasa bergetar.
"Taufan, hiks, Taufan memutuskanku, hiks, tanpa alasan yang, hiks, jelas, hiks, hiks" jawabnya sesenggukan.
Air menganga lebar. Sungguh, ini trending topic jika sudah tersebar di sekolahnya. Hubungan Yaya dan Taufan terbilang awet, sudah 2 tahun. Meskipun Air sebelumnya tak akrab pada keduanya, ia tahu itu. Dan sekarang, tiba-tiba mereka putus tanpa alasan yang jelas? Lalu yang memutuskan terlebih dahulu adalah Taufan? Air sama sekali tak mengerti.
"Sudah, tenanglah. Cari saja yang lain. Siapa tahu masih ada laki-laki yang jauh lebih baik daripada Taufan."
Hanya itu yang Air ucapkan. Ia benar-benar tak tahu kata-kata apa yang pas untuk menghibur Yaya yang suasana hatinya sangat kacau begini.
"Tapi, hiks, aku sukanya sama Taufan, hiks."
"Iya, aku tahu. Kalau Taufan bukan jodohmu, kau pasti tidak akan bersama dengannya. Tapi kalau dia jodohmu, pasti kalian akan kembali lagi." Air tidak mendengarkan balasan apapun dari gadis yang memeluknya, mungkin membenarkan perkataannya dalam diam. "Makanya kau jangan menangis seperti ini lagi."
Gadis itu mengangguk kecil lalu melepaskan pelukannya. Yaya mengusap kasar air matanya yang tampaknya sudah berhenti mengalir. Air tersenyum tipis tanpa Yaya ketahui. Wajahnya sembab. Terlihat jejak air mata di pipi Yaya. Yaya berhenti mengusap air matanya lalu menatap Air dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Maaf ya sudah membuat bajumu basah," ucapnya merasa bersalah lalu menatap kaos Air yang sedikit basah karena air matanya.
Pemuda itu menatap kaos yang dikenakannya. "Ehm... tidak masalah. Aku juga belum mandi."
Kening Yaya berkerut tak percaya. "Belum mandi? Tapi kenapa masih wangi ya?" Gadis itu sempat mencium aroma parfum mint yang menguar dari tubuh Air saat dirinya memeluk Air. Ia bahkan baru menyadari bahwa ia tadi memeluk Air. Kini ia benar-benar malu. Tapi ia tak mempermasalahkannya. Justru pelukan itu membuat tubuhnya menghangat dan hatinya lega.
"Aku mau mandi dulu. Kau sarapan dulu saja. Makanannya sudah aku siapkan di atas meja belajar."
Yaya melirik ke arah meja belajar dan mendapati piring berisi makanan yang terlihat lezat dan ditutupi oleh tudung saji kecil. Ia pun menoleh ke arah Air dan tersenyum tipis namun tulus. "Terima kasih."
"Ya, sama-sama," balasnya, juga ikut tersenyum tipis.
Lalu Air mulai melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Yaya tersenyum memikirkan kebaikan Air. Ia bahkan mulai menyadarinya hari ini. Ia pun melangkah menuju meja makan dan duduk di kursi, menyantap sarapannya yang rasanya sangat enak.
^^...^^
Yaya menahan napasnya saat melihat sang pemilik kamar keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Air tampak sibuk dengan kegiatan mengeringkan rambutnya sehingga tidak menyadari tatapan terpesona dari Yaya. Setelah selesai, ia menjemur handuknya di tempat jemuran berukuran kecil yang terletak di balkon kamarnya. Saat Air bertemu mata dengannya, Yaya langsung mengerjap kaget. Si gadis tampak salah tingkah dan berusaha untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Ada apa denganmu?" tanya Air bingung, merapikan kaos putih yang dikenakannya. Dan entah kenapa kaos putih itu terasa tembus pandang di mata Yaya.
Belum sempat menjawab, Yaya tergagap saat Air berjalan menghampirinya. Langsung saja aroma mint langsung tercium oleh hidung Yaya, memaksa Yaya untuk memejamkan matanya sejenak. Ketika ia membuka mata, ia sedikit ternganga karena ternyata Air tepat berada di hadapannya. Jarak mereka sangat dekat. Yaya harus mendongak untuk menatap manik itu karena ia masih duduk di kursi sedangkan Air sedang berdiri.
Gadis itu menatap bingung saat tubuh Air membungkuk. Wajah yang Yaya akui ternyata tampan itu mengikis jarak, mendekat sampai Yaya lupa bagaimana cara bernapas dengan baik. Ekspresinya menunjukkan betapa syoknya ia. Air yang melihat itu, mengernyit heran dan terdiam pada posisinya. Yaya sungguh kesal pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya tergagap jika berdekatan seperti ini dengan Air. Ia tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdegup kencang. Seolah ada berjuta kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Apa lagi ini?
Yaya memasang tampang cengo saat tangan Air meraih ponsel yang berada di meja belajar, tepat di belakang tubuhnya. Air memundurkan tubuhnya, memperlihatkan wajah Yaya yang sudah semerah kepiting rebus dengan jelas. Sebelah alis terangkat, Air menatapnya aneh. Yaya menjadi salah tingkah.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau kira aku akan menciummu?" katanya, dengan senyuman miring yang begitu membuat si gadis jengkel dan malu.
"Kalaupun iya, memangnya aku mau dicium olehmu?" balasnya tak ingin kalah. Air memutar bola matanya, tak berniat untuk membalas dan memilih untuk duduk di tepi tempat tidur, sibuk menjelajahi ponselnya.
"Kau mandi sana! Kau kan belum mandi sejak kemarin." ejek Air santai, tanpa mengalihkan pandangan dari layar smartphone.
Wajah Yaya kembali dibuat memerah oleh Air. Ia lalu mengendus bau tubuhnya. "Iya juga ya? Ternyata tubuhku bau kalau belum mandi" batinnya membenarkan. Ia menjadi sangat malu.
"Iya iya, aku mandi. Puas?" Yaya langsung berdiri dan menatapnya tajam. Air mendongak dan kembali memutar bola mata. Yaya heran, apakah respon Air hanya itu-itu saja?
Air meletakkan ponsel di sampingnya, menatapnya dengan tatapan mengejek. "Memangnya kau bawa baju ganti, hm?"
"Tentu saja." Gadis itu menghampiri tas pinknya yang terletak di samping tas Air lalu membongkarnya. Yaya terperangah karena baju yang biasanya ia bawa di tas hilang tanpa jejak. "Hei, kenapa aku hanya membawa pakaian dalam saja?" ujarnya kesal, kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi.
Air mendengus. "Sudah ku duga."
Yaya menatapnya kesal. Ia tidak mungkin memamerkan pakaian dalamnya di hadapan lelaki itu. Bisa-bisa harga dirinya jatuh nanti. Ia kembali mengubrak-abrik tasnya, siapa tahu ia kurang teliti mencarinya. Barang-barang di dalam tas itu, Yaya keluarkan semuanya, kecuali pakaian dalamnya, tentu saja. Ia menggeram tertahan. Keringatnya mengucur dengan deras.
"Lalu bagaimana?"
Yaya menoleh, mendapati Air yang sedang tengkurap ke arahnya. Kedua netra itu fokus menatapnya. Ponsel di genggamannya, Air abaikan sejenak. Kedua kaki lelaki itu menendang-nendang pelan tembok di belakangnya secara bergantian. Yaya mendesah putus asa, menggeleng. "Entahlah, aku benar-benar tidak membawanya."
Air mengubah posisinya menjadi duduk dengan kaki menggantung menghadap Yaya. "Mandi sana, nanti aku akan meminjamkan bajuku untukmu," ujarnya datar, sukses membuat Yaya menatapnya kaget.
"Benarkah? Kau akan meminjamkan bajumu untukku?" tanya Yaya, masih tidak percaya.
Air memutar bola matanya, mengangguk. "Ya iyalah. Cepat mandi, sana! Kau bau! Bau alkohol pula!" ejeknya yang membuat Yaya memberengut kesal.
Gadis itu mengambil pakaian dalamnya di dalam tas, menggenggamnya erat, menyembunyikannya di balik punggung. Air menatapnya aneh namun ia tahu kalau Yaya malu dan itu juga merupakan privasi. Air memperhatikan Yaya yang berjalan mengendap-endap ke kamar mandi sambil berusaha keras menyembunyikan rupa pakaian dalamnya dengan tatapan aneh.
Yaya mendelik saat mengingat sesuatu. "Oh iya, kalau aku tidur di kamarmu, lalu kau tidur dimana? Apakah kau tidur satu ranjang denganku?" tanya Yaya shock.
Guling tak berdosa melayang mulus mengenai kepala Yaya, hingga tanpa sadar Yaya menjatuhkan pakaian dalamnya karena terfokus pada sakit di kepalanya. Yaya mengelus-elus kepalanya yang terkena lemparan guling sembari menatap Air sengit.
"Apakah kau gila? Tentu saja aku tidak tidur seranjang denganmu!" balas Air kesal. Mana mungkin ia mau dituduh sembarangan oleh gadis seperti Yaya? Apalagi soal beginian. Gadis itu selalu saja membuatnya naik darah.
Yaya mengerucutkan bibirnya. "Benarkah?" tanyanya masih tidak percaya. Air menatapnya datar, sangat datar. Apakah ia perlu memasang CCTV di kamarnya agar Yaya percaya padanya? Yaya mendengus. "Lalu kau tidur dimana?"
"Di kamar kakakku."
Yaya hanya ber'oh' ria tanpa membalas apa-apa lagi. Kemudian tatapan Air tak sengaja tertuju pada sesuatu yang tepat berada di bawah Yaya. Lelaki itu mengapit bibirnya kuat-kuat, tampak berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Melihat Air seperti itu yang menurutnya sangat tidak biasa, Yaya menengok ke bawah. Seketika itu juga, ia terperangah.
"Oh tidak! Kau sangat tidak boleh melihatnya!"
Yaya segera mengambilnya dan menggenggamnya erat-erat. Dadanya terasa panas karena menahan malu. Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat malu, apalagi kepada lelaki itu. Air tampak masih sibuk menahan tawanya, membuat Yaya menggeram kesal. "Tapi aku kan sudah melihatnya. Bagaimana, hm?" sahut Air, menaik-naikkan sebelah alisnya menggoda.
"Huh, awas kau ya!" Yaya mengambil guling bersprei biru di bawah kakinya lalu dilemparkan sekuat tenaga ke arah Air, namun pemuda itu berhasil menangkapnya, kemudian melayangkan senyuman mengejek. Gadis itu benar-benar naik pitam dan memilih untuk masuk ke kamar mandi, tidak mengetahui jikalau Air bersembunyi di dalam selimut dan tertawa terpingkal-pingkal.
^^...^^
"Huh, bajunya kebesaran. Apakah tidak ada yang lebih kecil lagi?"
Air menatap gadis yang duduk di kursi meja belajarnya dengan malas. "Tentu saja tidak ada. Itu salahmu sendiri yang punya tubuh kekecilan," ejek Air, sukses membuat Yaya menatapnya kesal. Dalam hati, sebenarnya Air memandang geli gadis itu yang kini memakai baju kebesaran. Kelihatan sangat lucu dan imut.
"Aku kan perempuan, jadi wajar!" seru Yaya kesal, yang hanya direspon Air dengan rotasi bola mata. "Dan..." Yaya mengendus-endus tubuhnya sendiri kemudian tersenyum puas. "Aroma sabun mint mu membuatku nyaman."
Air terdiam sebentar. "Tentu saja. Itu adalah aroma favoritku." Kemudian ia teringat sesuatu. "Oh iya, kau tidak memakai shower puffku kan?" tanyanya was-was.
"Tentu saja tidak! Aku masih tahu diri, tahu!"
Air mendengus, menengkurapkan tubuhnya lalu kembali sibuk dengan ponselnya, mengabaikan Yaya yang mencibir dan menjelek-jelekkannya. "Lalu kau pakai apa?" tanyanya lagi, masih penasaran.
"Pakai tangan" jawab Yaya dengan muka polosnya, mampu membuat Air menutup mulutnya, menahan tawa. Gadis itu menatapnya kesal. "Daripada memakai shower puff milikmu, lebih baik aku memakai tanganku sendiri!"
Air menyingkirkan tangannya, mengulas senyum geli. "Iya iya, terserah kau saja." Mendengar hal itu, Yaya menggembungkan pipinya kesal serta membuang muka. Air hanya terkikik melihatnya. Entah kenapa melihat wajah cemberut itu membuat hatinya tergelitik untuk mengeluarkan tawa. Kemudian ia melihat jam dinding berbentuk beruang kutub tersebut. "Hei, kau tidak pulang?"
Yaya menoleh padanya, lagi-lagi dengan tampang kesal. "Kau mengusirku?" tanyanya jutek.
Air memutar bola matanya. "Bukan begitu maksudku." Air mengubah posisinya yang semula tengkurap menjadi duduk menghadap Yaya. "Orang tuamu pasti khawatir dan mencarimu. Kenapa kau tidak berpikir tentang hal itu?"
"Tidak ah, aku masih ingin disini." Jujur saja, Air terkejut mendengarnya. "Orang tuaku sekarang ada di Surabaya, jadi aku sendirian di rumah. Oh iya, ada pelayan-pelayan rumahku sih, tapi tetap saja aku sendirian" curhat Yaya.
"Ya, terserah kau saja mau disini atau dimana" kata Air dengan malas. Meskipun begitu, Yaya tersenyum lebar mendengarnya.
^^...^^
Entah kenapa, Yaya yang memiliki niat untuk memperbaiki hubungannya dengan Taufan merasa bimbang. Ia memiliki firasat bahwa Taufan bukan jodohnya. Firasat yang sangat bodoh baginya. Jelas-jelas ia sangat mencintai Taufan, kenapa ia malah mempercayai firasat itu? Ia ingin menjadikan Taufan sebagai yang pertama dan terakhir untuk dirinya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
Tak sengaja, ia bertemu dengan dua musuh bebuyutannya yang bersahabat dengan licik, Suzy dan Amy. Hendak ia melangkahkan kaki menjauh dan enggan adu mulut dengan mereka, tiba-tiba ia mendengar keduanya tengah membicarakan dirinya. Ia bersembunyi di balik loker. Mereka saat ini berada di ruang khusus loker perempuan.
"Akhirnya rencanaku untuk menghancurkan hubungan Yaya dan Taufan berhasil. Mereka berdua putus dua hari yang lalu. Bagus, bukan?" Amy membuka suara, tersenyum miring kepada sahabatnya yang tersenyum puas mendengarnya.
Gadis yang sengaja menguping itu menggeram kesal. Ia akhirnya tahu siapa yang menyebabkan hubungannya dengan Taufan hancur dan putus. Taufan telah dipengaruhi oleh Amy.
"Wow, bagus dong. Apa caramu? Aku ingin tahu," pinta Suzy, penasaran dengan rencana apa yang dijalankan Amy untuk menghancurkan hubungan pasangan fenomenal di SMA Harapan Bangsa tersebut.
"Aku memanfaatkan kecemburuan Taufan saat dia melihat Yaya dan Air berpelukan. Yah, dia memang mudah terpengaruh dengan ucapan orang lain."
Suzy mengerutkan keningnya tidak percaya. "Hanya itu?"
Amy menggeleng dengan tenang, menyilangkan tangan di depan dada. "Tidak, masih ada lagi. Lalu aku menyuruh Taufan untuk mencium Yaya. Kalau Yaya tidak mau, itu berarti Yaya tidak pernah mencintainya. Kalau dia mau, itu berarti sebaliknya. Ternyata Taufan mau mengikuti saranku."
Keduanya tertawa puas, membuat Yaya menggeram kembali. Ia benar-benar marah kepada mereka berdua karena sudah merusak hubungannya dengan Taufan seenak jidat.
"Masa' sih Taufan tidak tahu kalau Yaya punya masa lalu yang kelam tentang kakaknya soal 'itu'?" ucap Suzy dengan heran.
Amy menghendikkan bahu. "Entahlah, buktinya dia benar-benar melakukannya. Itu berarti Taufan memang tidak tahu, atau sudah melupakannya dan tidak memperdulikannya lagi."
Keduanya tertawa lagi. Yaya mendengus kasar dengan mata berkilat-kilat amarah. Tentu saja dia marah kepada mereka berdua. Entah darimana mereka tahu soal masa lalu kelam kakaknya. Hanya sahabatnya yang tahu, mungkin mereka berdua menguping pembicarannya dengan Ying.
Tak tahan lagi, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dengan amarah yang telah dibatas puncak. Amy dan Suzy menoleh. Mereka tak kaget, malah memberikan senyuman licik kepada Yaya. Yaya sungguh muak. Kini mereka bertiga menjadi pusat perhatian para murid yang berseliweran di sekitar sana.
"Jadi kau yang membuat hubunganku dengan Taufan hancur berkeping-keping, hah?!" teriaknya menggelora sambil menunjuk Amy.
Sontak, semuanya kaget bukan kepalang. Mereka belum tahu berita ini sebelumnya, berita putusnya Taufan dan Yaya.
"Oh, jadi kau sudah mendengar semuanya ya? Tidak masalah. Dan..." Ia melirik Suzy yang tersenyum penuh arti padanya. "... ya, aku yang sudah membuat hubungan kalian hancur."
Yaya mengerang tertahan, berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak saat itu juga. "Huh, aku tahu. Kau pasti menyukai Taufan kan? IYA KAN?!"
"Menurutmu?" tanya Amy balik.
Yaya kini mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan diri agar tidak mendadak meninju wajah yang tak lebih cantik darinya itu. Suzy dan Amy yang melihatnya sontak tertawa mencemoh. Para murid yang melihat pertengkaran itu terdiam semua, tak berkutik sedikit pun. Atmosfer ketegangan ini membuat mereka semua ketakutan.
"KAU! Dasar PHO! Perusak Hubungan Orang! Maumu apalagi, hah?!"
"Aku ingin Taufan membencimu dan menjauhimu."
Lalu Suzy dan Amy tertawa. Yaya menggeram kesal. Wajahnya memerah menahan amarah. Napasnya sudah tidak beraturan. Keringat panas mengucur deras di kulit tubuhnya. Mampukah ia bertahan?
Tanpa sadar, tangannya terangkat dan menampar pipi Amy dengan keras. Semuanya kaget setengah mati dengan mulut terbuka dan mata membulat. Suzy hanya menatap sahabatnya lalu Yaya bergantian dengan wajah memucat. Amy memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Yaya. Yaya tak kuat lagi menahan amarahnya yang meluap-luap. Ia tak menyangka, dalang dibalik semua ini adalah mereka berdua terutama Amy. Entah apa yang akan dilakukan setelah ini, menganiaya Amy ataukah yang lebih parah lagi?
"Dengar, tukang PHO! Hubunganku dengan Taufan sudah berakhir dengan tragis dan tidak jelas! Sekarang kau bisa mengambilnya sepuas yang kau mau tanpa ada halangan sedikit pun! Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan Taufan!"
"Oh, jadi kau memang tidak mencintaiku lagi ya?"
Suara itu sukses membuat tubuh Yaya membeku, seolah telah tersiram oleh air es yang berasal dari Kutub Selatan asli. Yaya berbalik dan mendapati sang mantan kekasih berdiri tegap seraya menyilangkan tangan di depan dada. Mata itu menusuk ke arah dirinya. Napasnya tercekat. Yaya menggigit bibir bawahnya, sangat berharap agar air matanya tidak kembali keluar.
Taufan berjalan menghampirinya. Dan kini Taufan berdiri membelakangi Amy dan Suzy. Ia tak akan tahu ekspresi kedua gadis tersebut. Kini semuanya memandang Yaya dan Taufan dengan tatapan menegangkan. Amy dan Suzy saling berpandangan kemudian tersenyum licik. Amy kini sudah lupa dengan rasa sakit di pipinya.
"Ku kira kau akan memohon padaku supaya kita balikan lagi, tapi perkiraanku salah besar ya? Aku tidak menyangka kau sejahat ini, Yaya."
"Taufan, aku-"
"Kau mau bilang apa lagi? Kau mau bilang kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi, kan? Sejak kapan sih? Aku ingin tahu." Dan kalimat-kalimat berikutnya sukses membuat Yaya tertohok. "Oh, aku tahu. Sejak kau duduk sebangku dengan si Air kan? Sudah seminggu ya? Pasti kau menusukku dari belakang dan bermesra-mesraan dengan Air di belakangku."
Napas Yaya sangat tercekat mendengar ucapan itu terlontar lancar dari mulut Taufan yang kini sudah menyandang status sebagai mantan kekasihnya. Kenapa sekarang Taufan suka sekali melayangkan perkataan sinis dan sarkastis padanya? Matanya berkaca-kaca, siap menurunkan bulir-bulir bening berkilauan yang sebenarnya sangat tidak diinginkan oleh Taufan.
Yaya menghela napas panjang lalu menatap Taufan tajam. Ia juga tidak ingin kalah dengannya. Yaya sudah tidak peduli lagi jika air matanya menetes. Toh, dia ingin Taufan tahu kalau sebenarnya ia masih mencintai pemuda itu.
"Jangan bicara sembarangan ya! Aku bukanlah gadis sejahat itu! Berpikirlah dengan logis dong! Untuk apa aku menjadi kekasihku selama dua tahun ini! Karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu sampai aku lupa kapan aku mulai mencintaimu. Dan sekarang aku sangat kecewa padamu."
Taufan menaikkan sebelah alisnya. "Kecewa? Bukannya seharusnya akulah yang kecewa disini, hah?"
Yaya menghapus air matanya yang sukses mengalir dengan kasar. "Aku sangat kecewa padamu karena kau lebih mempercayai ucapan Amy daripada ucapanku sendiri."
"Aku melihat kalian berdua dalam posisi itu dengan mata kepalaku sendiri. Tidak mungkin aku salah paham." Yaya ingin menjerit tatkala Taufan tetap bersikukuh dengan pemikiran negatifnya.
"Kau belum tahu alasan dibalik semua ini."
"Aku sudah tahu semuanya. Kau memang membohongiku".
Kini Yaya benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan Taufan. Yaya memandang Taufan dengan pandangan yang sulit diartikan. Taufan kini sudah berubah. Seolah tubuhnya sedang dikendalikan oleh Amy. Entah kenapa Yaya mulai lelah menghadapi hubungannya dengan Taufan. Saat Yaya terdiam, Amy diam-diam memikirkan rencana untuk membuat hubungan mereka menjadi sangat hancur.
"Taufan, tadi Yaya menamparku. Dia menuduhku yang tidak-tidak. Dia mengira bahwa akulah yang menyebabkan hubungan kalian hancur. Jadi dia menampar pipiku dengan keras. Padahal kan aku hanya ingin meluruskan hubungan kalian berdua."
Murid-murid lainnya yang sedari tadi melihat pertengkaran antara Yaya dan Taufan ingin sekali muntah melihat akting Amy yang sudah melampai batas, sekaligus tercengang. Mereka semakin membenci Amy, sekaligus Suzy. Taufan menggeram lalu menatap Yaya dengan tatapan tajam. Yaya tercengang luar biasa bahwa cerita Amy sungguh melenceng dari fakta. Ia sedikit takut menatap Taufan. Jarang-jarang Taufan menatapnya tajam seperti ini.
"Oh, jadi kau main tampar sembarangan ya? Coba rasakan tamparan dariku!"
Yaya berjengit dan hanya mampu menutup matanya rapat-rapat saat melihat tangan kanan Taufan mulai melayang, akan menampar pipinya. Namun dirinya dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menarik tubuhnya ke belakang, membuatnya jatuh ke pelukan hangat orang tersebut. Gadis itu reflek mencengkram tangan orang tersebut karena hampir saja terpeleset. Yaya membuka matanya lalu menoleh ke belakang. Sangat terkejut melihat pemuda berekspresi datar yang masih memeluk pinggangnya.
Taufan yang hendak menampar Yaya malah menampar angin kosong. Semua terkejut dengan perlakuan Air. Pemuda itu melepaskan Yaya yang masih membeku di tempat karena tindakan pemuda itu. Air melangkahkan kakinya menghadap mantan kekasih Yaya. Taufan semakin geram saat melihat tatapan datar Air. Ia sangat membenci ekspresi itu seumur hidup.
"Kau tidak boleh main kasar dengan perempuan. Bukannya kau tahu itu dari dulu? Punya otak, tidak?" gertak Air.
Mata Taufan mendelik saat Air menggertaknya. Yaya benar-benar tak percaya karena Air berani menggertak seseorang dan orang itu adalah Taufan.
"Jaga ucapanmu! Untuk apa kau kemari? Untuk menyelamatkan sang pujaan hatimu?" tanya Taufan sarkastik, mengalihkan topik karena ia tidak suka Air menggertaknya.
Dengusan kasar terdengar dari mulut Air. "Pujaan hati? Tahu apa kau tentang diriku?" tanyanya balik, dengan ekspresi yang mampu memancing amarah emosi seorang Taufan. Yaya hanya mampu menutup wajahnya, tidak ingin melihat jika tiba-tiba Taufan menonjok wajah innocent Air.
Taufan kembali menggeram. Air semakin bosan mendengar geraman Taufan. Ia pun berbicara langsung ke intinya. "Jadi kau cemburu melihatku dengan Yaya dua hari yang lalu? Astaga, aku benar-benar tidak berniat untuk membuatmu cemburu. Untuk apa aku melakukannya?" Melihat Taufan terdiam, Air kembali berucap. "Aku tidak sengaja menabraknya saat aku mau masuk ke kelas. Yah, bayangkan saja bagaimana kejadiannya."
Taufan masih menatapnya tidak percaya. "Kalau memang benar iya, lalu kenapa kalian saling bertatapan begitu lama? Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan? Kau baru menyadari kalau Yaya itu begitu cantik?"
Kedua tersangka itu sama-sama tersentak dengan ucapan Taufan. Yah, itu memang benar, tetapi itu sungguh tidak direncanakan dan terjadi begitu saja. Air menoleh ke belakang, mendapati teman sebangkunya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Taufan mendengus, merasa bahwa dirinya sangat benar. Air pun kembali menatap Taufan dengan tatapan datarnya seperti biasa.
"Oh ya? Menurutmu begitu? Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, Taufan. Dan kau juga mudah terpengaruh dengan ucapan orang lain, termasuk Amy dan Suzy, biang gosip dan orang licik di sekolah ini. Kenapa kau dengan begitu mudah mempercayai ucapan biang gosip, hm?"
Amy dan Suzy sangat kesal dengan ucapan Air. Air membalasnya dengan senyuman meremehkan. Taufan masih belum percaya. "Seharusnya kalau kau memang benar-benar mencintai Yaya, kau mempercayainya, bukannya mempercayai orang yang tidak jelas seperti mereka berdua."
Gadis yang sedari tadi mematung di belakang Air kini mencengkram pelan tangan Air, membuat yang lain tersentak melihatnya, apalagi Air. "Sudahlah, Air. Tidak usah di bahas lagi. Toh, kalau Taufan tidak mempercayaiku, tidak masalah. Aku percaya padamu kalau kau tidak punya niatan jahat denganku dan Taufan. Aku yakin itu."
Taufan mendelik tajam ke arah Yaya dan Yaya tak segan-segan untuk mendelik tajam ke arahnya. Air terdiam, apalagi saat Yaya mencengkram pelan tangannya. Ia merasakan suhu tubuhnya naik.
"Ayo kita ke kelas saja!"
Tanpa seizin Air, tiba-tiba saja Yaya menarik tangan Air cukup kuat. Air yang tak siap pun hampir saja terjatuh jika dia tidak cepat-cepat menjaga keseimbangan. Taufan yang melihat mengamit lengan Air seperti itu mendecak tak terima lalu pergi dengan perasaan bercampur aduk. Amy dan Suzy melakukan highfive pelan-pelan, takut mereka akan mendengarnya. Sementara itu, murid-murid lain menatap mereka berdua dengan sebal dan marah. Tentu saja karena mereka berdua sangatlah licik.
^^...^^
Yaya berhenti menyeret Air saat mereka berdua tiba di taman belakang sekolah. Buru-buru Yaya menarik tangannya kembali. Air menunduk, merasa bersalah kepada Yaya dan juga Taufan. Ialah yang menyebabkan hubungan mereka hancur. Seharusnya ia tak menatap Yaya lama-lama waktu itu. Dan sejujurnya, ia juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya waktu itu, seolah terhipnotis oleh kilauan mata yang dipancarkan oleh Yaya.
Air menatap Yaya dengan perasaan bersalah yang sangat terlihat. "Yaya, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu soal ini. Akulah yang menyebabkan hubungan kalian hancur seperti ini. Aku-"
Ucapan Air terhenti seketika saat Yaya menempelkan jari telunjuknya di bibir Air. Sontak, pemuda itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan menatap Yaya tak mengerti. Jantungnya berdebar-debar saat jari mungil itu tak sengaja menyentuh bibirnya walaupun tidak lebih dari satu detik. Tanpa sadar Air juga menahan napasnya selama beberapa detik. Yaya menarik jari telunjuknya kembali dan tersenyum tipis.
"Kau tidak salah sama sekali. Aku tahu kau tidak sengaja menabrakku dan juga memelukku. Kalau kau tidak menolongku, mungkin aku akan terjatuh sampai kakiku terkilir. Taufan saja yang mudah terpengaruh dengan ucapan Amy. Jadi jangan salahkan dirimu sendiri, ok?"
"Tapi, Yaya, secara tidak langsung, akulah yang menyebabkan kalian bertengkar dan putus seperti ini."
"Cukup, Air. Aku tidak ingin mendengar ucapan bersalah darimu. Lebih baik kita ke kelas sekarang."
Air tak bisa lagi membantah saat tangan Yaya tiba-tiba menarik tangannya. Yaya diam-diam tersenyum tipis melihat Air yang merasa bersalah padanya. Ia tahu, Air adalah orang baik-baik dan tidak mungkin ia memiliki niat jahat untuk membuat hubungannya dengan Taufan hancur, meskipun sikapnya terkadang menyebalkan. Ia yakin jika Amy lah yang memanas-manasi hati Taufan. Air pun hanya diam tak berkutik sepanjang perjalanan. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Yaya tidak marah padanya.
^^...^^
Bel pulang sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu, tetapi Yaya belum beranjak dari tempatnya. Air mengernyit, melepas earphone biru muda yang sempat bertengger di telinganya dan menatap Yaya heran. Tidak seperti biasanya gadis itu tidak langsung pulang seperti ini. Oh, ataukah karena masalah tadi?
"Tidak pulang?"
Yaya menoleh padanya. "Aku menunggu suasana sepi." Dan Air kembali menatapnya heran. Oh, ataukah maksud tersirat dari perkataannya adalah karena ia tidak ingin bertemu Taufan?
"Tapi ini sudah sepi. Tidak ada jadwal klub di hari Rabu."
Gadis itu terdiam, Air menatapnya sambil menopang dagu. Entah kenapa pemuda itu kini mulai tertarik untuk memperhatikan gadis itu. Kemudian Yaya tersenyum kecil. "Baiklah, aku pulang sekarang. Dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." Air melihat langit yang sudah berwarna abu-abu dengan awan menggumpal-gumpal. Ia mendesah, sementara gadis itu menyampirkan tas di bahu.
"Kau sendiri tidak pulang?" tanya Yaya bingung setelah bangkit dari posisinya.
Air menggeleng. "Sebentar lagi, aku masih ingin disini. Kau duluan saja."
Si gadis menatap si pemuda aneh namun akhirnya tersenyum tipis. "Baiklah, aku duluan!" serunya riang lalu berlari keluar kelas. Lelaki itu menatap pintu yang tadi sempat bergoyang karena hembusan angin kemudian mendengus geli.
^^...^^
Yaya melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang akan menghubungkannya ke gerbang utama sekolah. Ia menghentikan langkahnya saat dua orang gadis memblokir jalannya seraya menatapnya sinis. "Ada apa? Aku saat ini malas untuk berdebat dengan kalian" ucapnya ketus.
"Kau harus ikut denganku!" perintah Amy tegas lalu menarik tangan Yaya tanpa izin dari pemiliknya.
Sontak, Yaya terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Ia menatap tangannya yang ditarik paksa oleh Amy dan Suzy yang berjalan cepat di depannya. Ia merutuki suasana sekolah yang sudah sepi. Yaya mengernyitkan dahinya saat mereka berdua menghentikan langkah tepat di samping kolam renang yang kedalamannya dua meter khusus untuk perenang termahir. Yaya membulatkan matanya saat merasakan firasat buruk yang akan menimpanya.
"Kau berani ya menamparku tadi?!" suara Amy menggelora.
Kening Yaya berkerut, tak menyangka Amy dan Suzy masih mempersalahkan hal ini. Yaya menghendikkan bahunya tak peduli, membuat dua gadis licik di hadapannya langsung mendelik tajam. Yaya menyilangkan tangan di depan dada dan menatap mereka berdua dengan tatapan merendahkan. "Tentu saja berani karena kau bukan siapa-siapaku!"
Sebelah alis Amy terangkat serta senyuman miring terulas di bibirnya. "Oh, jadi sekarang kau berani menantangku ya?!"
Yaya tersentak saat tiba-tiba Amy mencengkram kuat tangan kanannya sedangkan Suzy mencengkram kuat tangan kirinya. "Hei, apa-apaan ini?! Lepaskan aku!" teriaknya sembari meronta-ronta, menyentakkan tangannya berulang-ulang agar cengkraman tersebut terlepas.
Tanpa menghiraukan ucapan Yaya, Amy dan Suzy langsung mendorong Yaya ke belakang tepatnya ke kolam renang. Yaya pun tercebur ke kolam renang yang cukup dalam baginya. Amy dan Suzy tertawa penuh kemenangan lalu menatap Yaya yang mencoba berenang ke atas untuk menghirup oksigen tetapi tidak kunjung berhasil. Tawa mereka berdua sungguh menggelegar.
"Rasain tuh! Makanya jadi orang jangan berani menentang orang cantik dan populer sepertiku!" ucapnya sombong.
"Biarkan saja dia tenggelam, Amy. Lebih baik kita mampir ke cafe baru itu."
Amy mengangguk setuju lalu berjalan beriringan bersama Suzy meninggalkan Yaya yang benar-benar kelabakan. Gadis itu tidak menyerah, masih berusaha untuk naik ke permukaan dengan mengepak-epakkan tangannya kuat-kuat karena paru-parunya terasa sangat sesak. Ia memejamkan matanya kuat-kuat dan mengatup bibirnya rapat-rapat ketika kembali masuk ke dalam air.
"Siapapun tolonglah aku..."
Karena tidak tahan lagi, maka kesadarannya menghilang. Semuanya terasa sangat gelap bagi Yaya.
TBC
Balasan review :
ruruchan : Makasih udah bilang ffku bagus. Eh, orang Malaysia? Aku terharu banget pas tahu kalau direview orang Malaysia. Iya ya, Taufan emang bodoh, melepaskan Yaya begitu saja (hiks) Maaf juga ya nggak bisa bales pakek bahasa Malaysia. Review lagi ya :v makasih udah review!
IrenaChan 1012 : Yah... ehm... gimana ya? Tebak aja deh, nanti akan ku bongkar lama kelamaan kok, ada apa hubungan mereka di masa lalu. Makasih udah review!
nevyandini : Ada deh siapa yang ibu Air maksud (plak!) Ada Api juga kok disini, tapi masih bingung ditaruh mana :v Makasih udah review!
miss blank : Makasih udah bilang kalau ffku bagus & sweet (menangis terharus, hiks hiks) Emang Taufan tega banget sama Yaya. Nggak tahu apa Yaya udah terlanjur cinta banget sama dia (merenung) Yah, ada hubungannya kok, tebak sendiri dulu aja ya (tertawa devil) Makasih udah review!
Reynie Wang : Yah.. aku juga berharap kalau Air lah yang menggantikan posisi Taufan (digerudi taufan ama Taufan, author babak belur) Makasih udah review!
Makasih untuk yang lain juga ya udah review di chapter kemarin. Maaf kalau chapter ini kepanjangan...
Review please and don't be silent reader, ok?
