Air tak mengerti kenapa dadanya berdebar tidak karuan sekarang. Dia menghela napas panjang ketika langit semakin menggelap. Matahari tertutupi oleh gumpalan awan, menandakan bahwa tak lama lagi akan turun hujan. Air melepas earphonenya lalu memasukkannya ke dalam tas beserta ponselnya. Ia harus cepat-cepat pulang.

Dan Air semakin tak mengerti saat tiba-tiba kakinya berhenti di ambang pintu. Dadanya berdebar-debar gelisah. Keringat dingin mengucur mulus melewati pelipisnya. Air menghembuskan napasnya dengan teratur, mencoba berpikir jernih tentang penyebab kenapa ia tiba-tiba seperti ini. Dan entah kenapa pikirannya hanya tertuju pada seorang gadis yang akhir-akhir ini mengisi kehidupannya.

Yaya.

Mata Air terbelalak. Ia mulai menyadari itu, firasat buruk. Ada hal buruk yang terjadi pada gadis itu, tapi Air tidak tahu apa itu. Air pun berlari mencari sosok Yaya. Entah kenapa ia begitu yakin kalau Yaya belum pulang dan masih berada di wilayah sekolah ini. Instingnya tentang Yaya begitu kuat, yang lagi-lagi membuat Air kebingungan.

Kemudian kaki Air berhenti berlari begitu tiba di tempat paling belakang di wilayah sekolahnya, yaitu gedung kolam renang. Dan saat itu juga, matanya terbelalak. Wajahnya pucat pasi. Air segera berlari menghampiri kolam renang dan mamatung melihat sosok gadis yang tenggelam di kolam renang.

"YAYA!"

Air buru-buru melepaskan tasnya lalu menceburkan diri ke kolam renang. Ia dapat melihat Yaya yang sudah memejamkan mata, tak sadarkan diri. Air pun langsung berenang ke atas dengan menggendong Yaya ala bridal style.

Setelah sampai di daratan, ia menidurkan Yaya yang masih tak sadarkan diri. Air benar-benar panik sekarang. Air mengguncangkan pelan tubuh Yaya berkali-kali, berharap bahwa usahanya bisa membuat Yaya tersadar seraya memanggil nama Yaya sambil berteriak. Air mengecek denyut nadi gadis itu dan terasa samar.

"Yaya! Bangunlah! Jangan pingsan seperti ini! Sadarlah!"

Tak ada pilihan lain, Air pun merunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Yaya, berniat memberikan napas buatan untuk Yaya. Namun...

"OHOK! OHOK!"

Air segera menyingkir. Mata gadis itu terbuka, kemudian membulat ketika melihat Air ada di hadapannya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap heran Air. "Loh, Air? Kau belum pulang?"

Pemuda itu menggeleng, membuat Yaya bingung. "Aku merasakan firasat buruk. Dan aku tidak tahu kalau itu adalah dirimu," jelas pemuda itu, yang membuat si gadis sedikit menganga tidak percaya.

Yaya menunduk, memeluk tubuhnya yang sudah basah kuyup dan ia sangat kedinginan. Angin berhembus cukup kencang membuatnya menggigil. Ia melirik tubuh Air yang juga basah sepertinya.

"Siapa yang membuatmu seperti ini?"

Gadis itu mendongak, mendapatkan ekspresi tak terima yang terpancar dari pemuda di hadapannya. Yaya menjadi murung, tak suka ekspresi itu terpasang di wajah innocent Air. "Amy dan Suzy. Amy masih tidak terima kalau aku menamparnya tadi."

Napas dihembuskan dengan kasar. "Oh, sudah ku duga." Yaya terdiam, tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Dan ia tak mengerti saat Air menatapnya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang.

"Jadi kau tidak bisa berenang?"

Jantung Yaya terasa tertusuk saat Air menanyakan itu padanya. Tentu saja ini mengenai harga dirinya sebagai The Princess of the School. Air masih menatapnya, membuat Yaya gugup seketika. Perlahan, Yaya menganggukkan kepalanya. Air hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ingin sekali tertawa, heran dengan Yaya yang terlihat sempurna ternyata tidak bisa berenang. Bagaimana jika yang lain tahu?

"Ku mohon, jangan beritahu hal ini kepada yang lain" pintanya memelas seraya mencengkram pelan lengan Air.

Kini Yaya mulai melupakan hawa dingin yang menyergap tubuhnya. Air benar-benar tak menyangka, Yaya memperlakukannya seperti ini. Ia tahu jika Yaya tak sadar melakukannya, tapi ia yang malu. Wajahnya memerah sedikit dan jantungnya berdegup kencang. Air lagi-lagi dibuat bingung dengan reaksi yang terjadi pada tubuhnya. Air menatap Yaya dengan aneh dan juga gugup. "Iya iya, aku tidak akan bilang. Tapi bisa lepaskan tanganku?"

Yaya tersentak kaget, baru sadar dengan kelakuannya yang bisa dibilang sangat aneh. Buru-buru ia menyingkirkan tangannya kembali lalu memeluk tubuhnya yang kembali menggigil. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap Air. Ia juga yakin jika wajahnya sedikit memerah akibat ulahnya. Dadanya berdebar-debar. "Maaf, aku tidak sengaja. Aku benar-benar tidak tahu."

"Hm" gumamnya pelan.

Pemuda itu berdehem lalu bangkit, membuat Yaya mendongak. Air mengambil tasnya lalu menyampirkannya di bahu. Yaya ikut bangkit, melirik tasnya ke belakang yang sudah basah kuyup. Buku-bukunya pun tentu saja basah semua. Yaya mendesah kesal dan juga kecewa. Ia benar-benar membenci Amy dan Suzy yang memperlakukannya seenak mereka.

"Ayo pulang!" ajaknya.

"Uhm.. aku boleh ikut denganmu ya? Boleh ya?"

"Hm" gumamnya sebagai respon lalu berjalan mendahului.

Yaya mencibir lalu berlari kecil, menyamakan langkahnya dengan Air yang sudah basah kuyup karena menolongnya. Entah kenapa tiba-tiba Yaya tersenyum kecil. Ia cukup mengagumi sosok Air yang suka menolong orang apabila kesusahan. Padahal ia yakin kalau selama ia mengenal pemuda ini, ia selalu merepotkannya dan membuatnya kesal.

Sementara itu, tak jauh berbeda dengan Yaya. Air membayangkan tindakan gilanya tadi, hampir memberikan napas buatan kepada Yaya. Jika Yaya tahu, ia yakin pasti Yaya akan marah-marah padanya. Air menghendikkan bahunya tak peduli. Toh, itu tidak benar-benar terjadi.

^^...^^

Air menatap lurus ke depan, fokus dengan jalanan yang ia lalui. Ia kini tengah mengemudi mobilnya. Sementara itu, Yaya memeluk dirinya yang masih saja kedinginan. Ia mencibir karena Air tak memperdulikannya. Ia melirik Air yang sedang fokus mengemudi. Entah kenapa wajah itu membuatnya susah menelan ludahnya. Ia menghela napas, tak tahan dengan suhu tubuhnya.

"Air, aku kedinginan. Bisakah kau menyalakan AC yang hangat?"

Tanpa melirik Yaya, Air menekan tombol penghangat mobil dengan tangan kirinya. Gadis itu kembali mencibir, merasa tak senang jika Air tak menatapnya dan bersikap cuek padanya. Padahal ia butuh teman mengobrol, untuk mengalihkan pemikirannya tentang mantan kekasihnya, Taufan.

Kemudian Yaya menggeleng kuat-kuat, malas untuk memikirkannya. Maka dari itu, ia sangat butuh teman mengobrol. Tak apa jika itu Air, yang penting bisa diajak mengobrol. Tapi harapannya kandas saat Air tak menoleh sedikit pun padanya. Ia tahu jika Air sedang menyetir, tapi bisakah Air mengajaknya mengobrol?

Tiba-tiba pikiran Yaya tertuju pada saat ia tersadar dari pingsan karena tenggelam di kolam renang. Tatapan Yaya berubah menjadi tatapan horror. Jantungnya berdegup kencang memikirkannya. Ia langsung menoleh, menatap Air dengan tatapan mengintrogasi.

"Aku ingin tanya sesuatu padamu."

Pemuda itu melirik sekilas ke arahnya lalu kembali fokus ke jalanan. Ia tidak mau mobilnya sampai menabrak sesuatu karena dia tidak hati-hati. "Apa?"

"Waktu aku pingsan karena tenggelam di kolam renang, apakah kau memberiku napas buatan sampai aku sadar?" tanyanya hati-hati.

Sontak, mata Air terbelalak mendengarnya. Ia hampir saja menginjak pedal gasnya terlalu dalam tetapi ia berhasil mengontrol emosi dalam dirinya. Yaya masih menatap Air dengan tatapan mengintrogasi. Air sekilas menatapnya kesal lalu kembali fokus ke jalanan.

"Tidak mungkin aku melakukannya. Kau sadar dengan sendirinya. Dasar otak mesum!"

Gadis itu melongo karena dikatai 'otak mesum'. Ia melayangkan tatapan kesal juga tajam ke arah Air. Tapi tampaknya Air tak mengetahuinya karena ia sama sekali tidak menatap Yaya.

"Aku tidak mesum! Aku kan hanya bertanya!"

"Tapi pertanyaanmu sungguh keterlaluan."

Kini Yaya tak bisa mengelak lagi meskipun ia tak memiliki niatan untuk membuat Air marah dan kesal padanya. Ia bersungut-sungut kesal sembari menyilangkan tangan di depan dada.

Dalam hati, Air merutuki dirinya yang teganya berbohong kepada Yaya dan mengatai Yaya mesum. Padahal apa yang dikatakan Yaya ada benarnya juga. Ia tadi hampir memberikan napas buatan jikalau Yaya tidak terbangun terlebih dahulu. Air menghembuskan napas perlahan karena dadanya terasa sedikit sesak, mungkin karena berbohong.

Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi mogok. Jelas-jelas Air dan Yaya sama-sama terkejut. Yaya menoleh ke arah Air dan ia langsung kecewa, ternyata Air membuka pintu mobil dan keluar. Yaya pun ikut turun. Air membuka penutup mesin depan mobil dan mulai mengutak-atik mesin. Yaya sama sekali tak tahu tentang mesin-mesin itu meskipun ia pandai dalam segala hal. Air mendecakkan lidahnya kesal. Yaya mulai merasakan firasat buruk.

"Ada apa?" tanyanya bingung dan heran, ia yakin ini bukan berita bagus.

"Mobilku mogok lagi. Kemarin sudah di service tapi keburu aku ambil, pasti ini belum selesai diperbaiki. Menyebalkan."

Rahang Yaya sontak jatuh ke bawah saking tak percayanya mendengar kabar menggelikan tentang mobil sport Air. Mobil sport itu terlihat mewah, menarik, juga mahal. Dan ternyata mobil itu tidak sebaik yang Yaya bayangkan. Lihatlah, kini kedua remaja itu terbengong-bengong di pinggir jalan.

"Jadi mobil ini sering mogok?" tanyanya lagi, masih tak percaya.

Air menatapnya kesal karena Yaya seperti mengejek mobilnya. "Ini baru pertama kali."

Yaya hanya ber 'oh' ria. Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang. Air dan Yaya sama-sama memeluk tubuh mereka yang masih basah dan menggigil kedinginan. Tak lama setelah itu, tetes-tetes air mulai turun perlahan lalu berubah menjadi deras seketika. Air dan Yaya langsung masuk ke dalam mobil. Keduanya pun bertambah kedinginan. Yaya benar-benar kesal dengan situasi seperti ini. Ia menatap Air dan Air juga menatapnya. Belum sempat Yaya bicara, Air terlebih dahulu bicara.

"Jangan menyalahkanku. Aku juga tidak tahu."

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Ia juga kaget karena Air bisa mengetahui isi pikirannya. Ia mulai curiga jika Air sebenarnya bukan seorang pelajar, melainkan seorang cenayang yang menyamar sebagai seorang pelajar. "Aku ini bukan cenayang. Dasar aneh!"

Lagi-lagi Yaya kaget, tapi ia hanya diam saja tak berkomentar. Ia memilih untuk melihat pemandangan basah lewat jendela mobil. Hujan sangat deras. Yaya mendesah kecewa. Sudah kedinginan, mobil mogok, mesin mobil mati, AC tak bisa dinyalakan, benar-benar paket complete yang bisa membuatnya membeku sekarang juga.

Yaya melirik Air yang tengah membuka jas biru mudanya. Yaya kaget bukan kepalang. Ia takut akan terjadi hal-hal yang aneh di saat hujan deras seperti ini. Hujan deras, suasana jalanan sepi, juga dirinya seorang perempuan dan Air laki-laki.

"Ap-apa yang ingin.. kau lakukan.., Air?" tanyanya tergagap.

Pemuda itu melemparkan jasnya kursi belakang lalu menatapnya dengan aneh. "Tentu saja aku kedinginan. Makanya aku melepasnya."

Gadis itu menghembuskan napas lega karena Air tidak akan macam-macam padanya. Air masih menatapnya dengan aneh lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, mendengus kasar. Ia tahu apa yang dipikirkan Yaya.

"Oh, aku tahu. Kau berpikiran bahwa aku akan melakukan hal yang aneh-aneh padamu? Simpan jauh-jauh khayalanmu itu."

Kini Yaya benar-benar kesal. Ia membuka pintu di sampingnya lalu keluar, membuat Air bingung dengan sikap nekad Yaya. Gadis itu membiarkan air hujan yang deras mengguyur tubuhnya yang sudah basah sedari tadi. Lalu Air menghampirinya. Ia benar-benar tak mengerti Air akan menghampirinya.

"Ada apa denganmu? Apa otakmu sudah tidak waras lagi?"

Gadis itu tak berniat untuk membalasnya. Ia memilih untuk diam, membuat Air kesal dalam diam. Air mengedarkan pandangannya. Ia terkejut tatkala melihat cafe yang tak jauh dari posisi mereka berada. Jarang sekali ia lewat sini. Mengabaikan hawa dingin yang menerpa tubuh mereka sampai menggigil, Air tersenyum senang lalu menatap Yaya.

"Yaya, disana ada cafe! Ayo kita kesana!" ajaknya sembari menunjuk tepat letak cafe yang baru ditemukannya.

Gadis itu terkejut lalu memandang apa yang ditunjuk oleh Air. Ia tersenyum lega lalu mengangguk. Dan tampaknya gadis itu sudah menghilangkan rasa kesalnya pada Air. Yaya membuka pintu mobil lalu melemparkan jasnya ke belakang, bertumpuk dengan jas milik Air. Tanpa meninggalkan ponsel yang ada di saku rok, begitu juga dengan Air, mereka berdua berlari kecil menghampiri cafe.

Sesampainya disana, buru-buru mereka memasuki cafe bersamaan. Para pengunjung cafe yang lumayan banyak itu sontak menatap ke arah mereka berdua. Yaya dan Air menjadi sangat malu. Mereka pun mencari tempat duduk yang hanya tersisa satu, yaitu di pojok belakang.

Salah seorang pelayan menghampiri meja mereka. Air dan Yaya sama-sama memesan ramen dan cokelat hangat. Pelayan itu pergi, membuat suasana di antara keduanya canggung seketika. Yaya memilih untuk memainkan ponselnya, sementara Air memandangi suasana ramai di sekitarnya. Setelah Air mulai bosan, ia pun mengambil ponselnya dan memainkannya. Yaya kembali menggigil kedinginan dan Air mengabaikannya. Ia juga kedinginan, tapi mau bagaimana lagi?

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dengan diantar oleh pelayan tadi. Yaya dan Air langsung menyesap cokelat hangat masing-masing, mencoba untuk menghangatkan tubuh mereka terutama perut walaupun hanya sedikit. Dua mangkuk ramen itu masih utuh dan belum dimakan oleh sang pemilik.

Yaya membuka aplikasi kamera. Mengangkat tangannya agak tinggi lalu memotret dirinya. Padahal, di belakangnya ada Air yang menunduk sedang bermain ponsel. Yaya menyimpannya karena gambaran dirinya sangat bagus dan ia masih belum menyadari jika Air terkena potret. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. Saat hendak menyantap ramen miliknya, tiba-tiba...

"HUAACCCHIII!"

Gadis itu bersin, membuat para pengunjung menoleh ke arahnya karena suara bersinnya cukup keras dan menggelegar. Yaya pun tak merasa bersalah karena ia bersin tepat di hadapan Air. Pemuda itu menatapnya kesal. Air merasakan jika hidungnya terasa geli. Entah karena virus dari Yaya yang berpindah padanya, tiba-tiba...

"HUAACCCHIII!"

Pemuda itu ikut bersin. Sontak membuat para pengunjung tertawa karena virus gadis itu menyebar ke sang pemuda. Yaya dan Air sama-sama menunduk malu. Mereka pun mulai berbisik-bisik dan membicarakan hal yang aneh-aneh. Air pun menatap Yaya sebal. "Kalau bersin, ditutupin dong! Jangan asal bersin aja! Itu menular, tahu!" omelnya kesal karena Yaya sama sekali tidak sopan.

Gadis itu tak terima diomeli seperti itu. Ia pun membalasnya tak kalah sengit. "Mana aku tahu?! Jangan marah-marah gitu dong! Begitu saja marah!"

Air tak berniat untuk membalasnya. Ia hanya memutar bola matanya lalu mulai menyantap ramennya. Sedangkan Yaya mencibir dan menjelek-jelekkan Air. Sontak, tangan Air terangkat dan menjitak kepala Yaya. Yaya meringis kesakitan dan menatap Air sebal. Para pengunjung pun mulai tertawa kembali. "Diamlah! Aku tidak ingin berdebat denganmu hari ini!"

"Huh, siapa juga yang ingin berdebat denganmu? Dasar kegeeran!"

Air mendengus dan kembali menyantap ramennya. Yaya pun ikut-ikutan dan tak mau ramen miliknya dingin. Beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun habis tak tersisa.

"Kalau begitu, ayo pulang! Aku ingin tidur."

"Dasar tukang tidur dan pemalas!"

Air tak berkomentar. Ia membetulkan ucapan Yaya dalam hati. Ia bangkit lalu diikuti oleh gadis itu. Mereka berdua berjalan keluar dari cafe meskipun hujan masih turun dengan derasnya. Air berjalan tenang di belakang Yaya, tak mempermasalahkannya jika Yaya lah yang berjalan mendahuluinya. Gadis itu ternyata ingin cepat pulang juga.

Yaya berlari kecil dan entah kenapa tiba-tiba ia terjatuh tak jauh dimana mobil sport Air berada. Air menepuk jidatnya pelan. Yaya mengubah posisinya menjadi duduk sembari meringis kesakitan. Karena hanya alasan kasihan, Air berjalan menghampirinya lalu berjongkok.

"Apa yang membuatmu terjatuh?" tanyanya datar.

Gadis itu menatap Air lalu menatap lututnya yang mengeluarkan darah. Air pun terkejut melihatnya. Yaya meringis karena rasanya semakin perih saat air hujan membasahi lukanya. Entah kenapa rasanya jika bersama Air, ada saja hal-hal sial yang menimpanya. Dan akhirnya itu membuatnya merasa malu dan lemah di hadapan Air.

"Ayo bersihkan lukamu! Di mobilku ada kotak obat."

Kali ini Yaya hanya bisa mengangguk dan tak bisa membantah. Air bangkit dan mengulurkan tangannya, bermaksud memberikan bantuan kepada Yaya. Yaya pun menyambut uluran tangan itu dan mencoba untuk berdiri dengan menahan rasa sakit di lututnya. Saat ia berhasil berdiri, Yaya merasakan kakinya terasa kaku dan lemas.

"Aww!"

Kakinya pun mulai kehilangan keseimbangan dan otomatis tubuhnya terjatuh. Dengan sigap, Air menangkap tubuhnya dan tak sengaja memeluknya. Air dapat merasakan detak jantungnya semakin meningkat dan parahnya kepala Yaya tepat di dadanya. Yaya mengernyitkan dahinya saat mendengar suara detakan itu dari dada Air. Dan saat itu juga, ia mulai deg-degan.

Yaya menggigit bibir bawahnya, menyadari ada hal aneh yang hinggap pada hatinya. Mereka berdua sama-sama mematung, untungnya jalanan sekarang sepi karena hujan deras. Yaya mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap mata Air. Air menunduk dan menatap mata lentik Yaya.

Pandangan mata mereka saling bertemu dan sama sekali tak berkedip. Mereka mulai mengabaikan tetesan-tetesan hujan yang mengguyur tubuh mereka yang sudah basah kuyup sejak tadi. Dapat dirasakan jantung masing-masing berdetak kencang. Darah seakan berdesir begitu cepat. Tubuh menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan. Yaya pun tak merasakan sakit di lututnya. Tampaknya mereka mulai menyimpulkan sesuatu.

"Tidak mungkin. Ini sama sekali tidak mungkin. Jangan-jangan aku..."

"Reaksi ini, reaksi yang terjadi saat aku menyadari bahwa aku menyukai Taufan. Apa sekarang aku..."

Seakan jiwanya telah kembali ke raganya, Air tersentak kaget lalu menatap Yaya yang masih terbengong. Ia mulai menetralkan detak jantungnya yang tak karuan itu, tak peduli jika Yaya telah mendengarnya. Pemuda itu heran karena Yaya masih diam dan tak berubah dari posisinya.

"Yaya?" panggilnya.

Gadis itu tersentak kaget lalu mengerjapkan matanya berkali-kali, tersadar ke alam nyatanya. Yaya tampak kaget karena tangannya memeluk tubuh Air. Ia pun melepaskannya dengan canggung dan lututnya kembali nyeri.

"Ayo kita ke mobil."

Yaya mengangguk kecil. Ia yakin wajahnya memerah sekarang karena insiden memalukan tadi. Dengan dipapah oleh Air, Yaya berjalan sembari menahan rasa nyeri di lututnya.

Yaya masuk ke mobil bagian belakang, sementara Air mulai mengubrak-abrik bagian bagasi mobil untuk mencari kotak obat. Setelah ditemukan, ia duduk di bagian belakang mobil. Yaya meluruskan kakinya, membiarkan pemuda itu mengobati lukanya. Jas sekolah mereka berdua, Yaya singkirkan dan letakkan di punggung kursi mobil.

Air membuka kotak obat itu, mengambil obat merah, kapas, dan handsaplast. Yaya tercengang melihatnya. Air membuka tutup obat merah lalu meneteskan cairannya di atas luka Yaya. Gadis itu tersentak karena merasakan rasa sakit mulai menjalari sel sarafnya.

"Aduh! Aduh! Sakit banget, Air!" teriaknya menggelora.

"Diam dulu, Yaya. Ini luka juga tidak terlalu parah."

Yaya mengerucutkan bibirnya kesal. Memang tidak terlalu parah, tapi rasanya cukup menyakitkan baginya. Lama kelamaan, sakit itu semakin bertambah.

"Kyaaa! Perih banget!" teriaknya kembali, lebih membahana.

Air hanya bisa diam saat Yaya kembali berteriak dengan suara yang menggelegar seisi mobil. Wajar saja jika Yaya berteriak kesakitan. Kebanyakan wanita itu sulit untuk menahan luka seperti ini. Telinganya mulai panas karena Yaya tak henti-hentinya mengoceh.

"Hei, tahan lah! Ini masih tidak seberapa lukanya! Jangan menangis juga!"

"Aku tidak menangis, Air!" Tapi justru itulah yang membuat air mata Yaya meleleh. Buru-buru Yaya menghapusnya sebelum Air memergokinya.

Air tak berkomentar lagi. Pemuda itu memilih untuk menempelkan handsaplast di atas luka Yaya. Setelah selesai, Air menghela napas. "Sudah selesai."

Yaya menatap handsaplast kecil yang ditempelkan Air di lututnya. Rasanya sedikit rish, tapi setidaknya agak lebih baik karena perih di lututnya berangsur-angsur berkurang. "Terima kasih" ucapnya malu, dan sedikit tidak ikhlas karena sepertinya tadi Air mengobatinya dengan kasar. Atau ini hanya perasaannya saja?

Air memutar bola mata. "Mengucapkannya dengan ikhlas dong!" omel Air, tampak tidak terima karena Yaya seperti tidak menghargai usaha kecilnya, walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya ucapan terima kasih dari Yaya sih. Namun hati kecilnya ingin sekali mendapatkan ucapan tersebut, Air akui dirinya munafik memang.

Gadis itu menggeram pelan, mengalihkan perhatiannya ke arah lain, enggan bertemu mata dengan Air karena ia merasa sangat malu sekarang. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. "Iya, terima kasih, Air" ucapnya dengan nada yang sangat lembut.

"Hm" gumam Air, menyeringai tipis sambil memasukkan obat merah dan kapas tadi ke dalam kotak P3K.

Mulut Yaya menganga lebar karena respon dari lawan hanyalah berupa gumaman yang sama sekali tidak dimengertinya. Yaya mengerucutkan bibirnya kesal, tapi kemudian entah kenapa ia tersenyum tipis. Air meletakkan kembali kotak obat itu di bagasi mobil. Ia menatap Yaya dengan tatapan datar seperti biasa.

"Kau mau duduk disini atau di depan?"

Gadis itu terdiam sejenak, mempertimbangkan hal tersebut. Air memutar bola matanya, malas dengan Yaya karena hal sepele seperti itu masih saja dipertimbangkan. "Di depan saja deh!"

Air mendengus, memberikan jalan keluar untuk Yaya. Ia membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Yaya tersenyum bangga lalu masuk dan Air menutup pintunya. Ia berjalan memutari mobil lalu masuk ke ruang pengemudi. Ia mencoba menyalakan mobilnya karena tadi sempat mogok. Ajaibnya, sekarang mesinnya menyala. Air mendengus sementara Yaya terperangah. Air mendiamkan sejenak mobilnya.

"Kok tidak jalan-jalan sih?" tanya Yaya heran melihat Air yang diam saja.

"Mobilnya harus dipanaskan dulu biar tidak mogok lagi" jelas Air.

Yaya hanya manggut-manggut. Ia sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Ia kembali menggigil kedinginan saat angin berhembus menerobos ke sela-sela kaca mobil. "Huh, dingin banget" gumamnya dengan suara gemetar lalu memeluk tubuhnya menahan dinginnya udara.

Air menarik pelan tangan Yaya, membuat si pemilik tangan tersentak. Ia hanya menatap bingung ketika Air menggosok-gosokkan kedua tangannya. Kehangatan mulai menjalari syaraf-syaraf telapak tangannya. Kemudian Air menempelkan kedua telapak tangan Yaya di kedua pipi Yaya sendiri.

"Tunggu sebentar, aku akan menyalakan AC hangatnya setelah mesin mobil ini cukup panas. Jadi bagaimana, sudah lebih baik kan?"

Yaya tercengang sembari menatap kedua manik Air tak berkedip. Wajahnya langsung merona hebat. Pipinya semakin panas saat tangan Air menggenggam pergelangan tangannya. Entah kenapa tatapan datar yang dilayangkan pemuda itu, sukses membuat jantungnya ingin sekali meledak.

Gadis itu pun buru-buru mengangguk dan menundukkan wajahnya. Air tersenyum tipis saat melihat rona di pipi Yaya yang terbilang putih bagi orang Indonesia. Air pun menurunkan tangannya kembali dan bersiap untuk mengemudi setelah dirasakan mobilnya cukup baik. Ia menginjak pedal gas mobil perlahan dan mobil pun berjalan. Tak lupa menyalakan AC setelah menyetelnya menjadi hangat.

Selama perjalanan, suasana hening seketika gara-gara insiden cukup menggelikan tadi. Yaya masih merasakan genggaman hangat dari Air di disertai dengan dentuman hebat di dalam dadanya. Sedangkan Air merutuki sikapnya tadi karena itu cukup memalukan baginya. Ia bahkan tak tahu kenapa dirinya seperti itu. Ia mencoba untuk fokus ke jalanan dan mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.

Ternyata rumah Yaya tak begitu jauh dengan rumah Air, tetapi arahnya berlawanan. Perumahan tempat kediaman Yaya juga cukup asri dan menenangkan di matanya, sama seperti perumahan tempat rumahnya berada. Yaya pun mengambil jasnya tanpa di cek terlebih dahulu ketika mereka sudah berhenti di depan rumahnya.

"Ok, Air! Aku pulang dulu! Thanks ya!" ucap Yaya riang dan mulai melupakan rasa sakit di kakinya dan juga rasa malunya kepada Air.

"Hm" gumamnya pelan.

Yaya pun membuka pintu di sebelahnya dan turun dari mobil. Yaya tersenyum sekilas ke arah Air lalu masuk ke wilayah rumahnya. Air hanya geleng-geleng kepala lalu mulai mengemudi kembali.

^^...^^

Air berbaring tengkurap sambil memeluk guling kesayangannya. Ia tidak tahu harus ngapain sekarang karena tugas sekolah sudah ia kerjakan semua. Kedua orang tuanya lagi-lagi meninggalkannya sendirian di rumah. Ia heran apakah orang tuanya lebih mementingkan pekerjaan ketimbang suasana hatinya saat ini?

Entah kenapa ia menjadi gelisah sekarang. Air mengubah posisinya menjadi terlentang, kemudian matanya menyipit saat cahaya lampu yang menyilaukan menusuk matanya. Ia menghela napas pelan, mengubah posisinya menjadi miring. Kemudian kedua matanya langsung menemukan sebuah foto yang terpajang di dindingnya. Foto berukuran besar, memperlihatkan dua lelaki yang satu tersenyum lebar, yang satu lagi tersenyum tipis. Tak terasa, air mata mengaliri pipi tersebut.

"Ah... kalau begini aku jadi merindukan Kak Api."

Air menghela napas pelan. Kemudian tatapannya tak sengaja tertuju pada pintu kamar mandi di kamarnya yang terbuka lebar. Melihatnya, membuatnya teringat ketika Yaya lari terbirit-birit sambil menggenggam pakaian dalamnya dengan wajah merah padam akibat malu. Sontak, ia tertawa terpingkal-pingkal.

Namun ia juga teringat ketika Yaya tak sengaja menabraknya lalu menindih tubuhnya lantaran tak kunjung menemukan kamar mandi. Bukannya tertawa terpingkal-pingkal seperti tadi, namun justru wajahnya merah total sekarang. Ditambah dengan detak jantungnya yang semakin tidak terkendali. Air mendengus pelan ketika menyadari sesuatu.

"Huh, kenapa aku menjadi memikirkannya?"

Air yakin, ada yang tidak beres dengannya terutama jantungnya. Ia meraih ponsel bergarskin biru muda yang tak jauh darinya. Mencari kontak seseorang kemudian menekan tombol call setelah menemukan. Bibirnya terangkat ketika orang tersebut mengangkat panggilannya.

"Hallo, Fang?" Air membuka suara. "Apakah kau tidak menemaniku malam ini? Aku kesepian..." ceritanya menggalau. "Dan aku juga ingin menceritakan sesuatu padamu."

^^...^^

Hari ini matahari bersinar dengan cerah, menerobos masuk paksa ke dalam sebuah jendela yang tertutup tirai rapat berwarna biru muda. Sinar itu merambat lurus sesuai dengan sifatnya, menerpa wajah pemuda yang masih tertidur lelap. Pemuda itu mengerang kecil lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk guling.

Karena penasaran, tangan pemuda itu terulur untuk mengambil ponsel. Ia menekan tombol kunci dan matanya terbuka setengah. Sudah jam 7. Air terlonjak kaget. Ia pun buru-buru meloncat dari tempat tidurnya dan berlari kecil menuju kamar mandi. Sudah setengah jam bersiap-siap, ia pun hendak memakai jasnya. Namun ada hal yang terasa janggal. Jasnya kekecilan, membuatnya mengernyit heran seraya menatap pantulan dirinya di cermin.

"Tidak mungkin tubuhku menjadi besar sendiri dalam satu malam."

Pemuda itu pun mengecek name tag yang tertera di bagian dada. Matanya terbelalak seketika. Itu bukan nama dirinya.

MEISYA LAUREN CRISTALIA

Air menggelengkan kepalanya. Jelas-jelas itu bukan nama dirinya. Dan ia baru menyadari jika itu adalah nama lengkap Yaya. Air mendengus kasar, mulai mengumpat hal-hal tentang gadis itu karena salah ambil jas kemarin. Tentu saja ia sangat kesal padanya. Katanya gadis pintar, tapi ceroboh juga.

Pemuda itu mendecakkan lidahnya kesal lalu menyampirkan tas di bahu dan menenteng jasnya lalu berjalan keluar dan turun ke lantai bawah, menuju ruang makan. Tidak mungkin ia akan memakai jas itu yang jelas-jelas terlalu kecil jika ia pakai.

^^...^^

Sementara itu, Yaya pun juga mematut dirinya di hadapan cermin. Menyisir rambutnya pelan lalu memakai jepit rambut berwarna putih di sisi kanan rambutnya. Sementara jepit rambut milik Taufan sudah ia buang ke tong sampah karena ia benar-benar berniat untuk melupakannya. Memakai make up natural dan tak berlebihan. Itu sudah cukup membuatnya cantik.

Setelah dirasa riasan wajahnya sudah cukup, ia mengambil jas biru mudanya yang sudah dicuci dan disetrika di gantungan baju. Saat ia pakai, ia mengernyitkan dahinya bingung. Ia menemukan kejanggalan. Jasnya terlalu besar jika dipakai olehnya. Gadis itu sama sekali tak percaya dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.

"Kok kebesaran sih? Tubuhku menyusut dalam satu malam?" batinnya shock.

Gadis itu pun mengecek name tag yang tertera di bagian dada jas. Matanya membulat total serta mulutnya menganga lebar. Jelas-jelas itu bukan nama dirinya. Sejak kapan namanya berubah?

BOBOIBOY AIR YUDHISTIRA

Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Tangannya salah mengambil jas kemarin. Ia sangat ceroboh, mengambil jas yang salah. Yaya merutuki dirinya sendiri dengan sebal dan juga kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras, menyesali tingkah bodohnya kemarin. Ia pun memasukkan jas milik Air ke dalam tasnya.

^^...^^

Sesampainya di wilayah sekolah, Yaya menjadi pusat perhatian murid-murid lainnya. Yaya mulai risih saat mereka berkasak-kusuk tentang dirinya. Bagaimana tidak? Hari ini Yaya tidak memakai jas biru mudanya. Yaya memilih untuk mengabaikan mereka dan berjalan santai menuju kelasnya.

Sesampainya di tangga yang akan menghubungkannya ke lantai tiga, ia bertemu dengan sang mantan kekasih, Taufan. Pemuda itu menuruni tangga sedangkan Yaya menaiki tangga. Yaya memilih untuk mengabaikan Taufan dan berpura-pura tidak tahu. Namun harapannya kandas saat tiba-tiba tangannya digenggam olehnya. Gadis itu menatap Taufan tajam.

"Apa lagi, hah?! Belum puas menyakiti hatiku?!" gertak Yaya kesal sembari mencoba untuk melepaskan genggaman dari tangan Taufan.

Pemuda itu semakin mengeratkan genggamannya, membuat Yaya berdecak kesal. Ia hampir bisa melupakan hal-hal tentang Taufan. Taufan sekarang menatapnya dengan lembut dan tersirat penuh penyesalan di wajah tampannya. Yaya melengoskan wajahnya ke arah lain. Ia sudah terlanjur kecewa kepada lelaki itu.

"Yaya, tolong maafkan aku. Aku, aku tahu kalau aku salah."

Gadis itu kini menoleh ke arah Taufan dengan sebelah alis terangkat. Yaya semakin sebal tatkala Taufan baru menyadari kesalahannya sekarang, kenapa tidak dari kemarin-kemarin? Yaya membiarkan tangannya digenggam oleh Taufan.

"Ya, aku sudah memaafkanmu."

Ekspresi Taufan berubah menjadi cerah dalam hitungan detik. Yaya sudah menduganya. Genggaman pada tangannya semakin mengerat. "Jadi kamu mau balikan lagi sama aku?"

Napas Yaya tercekat dengan mata membulat lebar serta mulut menganga setengah. Ia sama sekali tak menduga jika Taufan akan mengajak berbalikan kepadanya. Sungguh, ia tak mau lagi. Dengan mantap, ia menggelengkan kepalanya. Taufan mendesah kecewa, sangat kecewa.

"Maaf ya, aku tidak bisa balikan lagi denganmu. Mungkin kau bukan jodohku. Jadi lepaskan tanganku, Taufan!"

Gadis itu mencoba lagi untuk melepaskan tangannya dari genggaman Taufan, namun pemuda itu malah mengeratkannya kembali. Yaya sedikit meringis. "Tidak, tidak akan! Apa alasanmu menolakku, hah?! Katakan!" desak Taufan dengan penuh paksaan.

Yaya semakin terkejut tatkala Taufan memojokkannya di tembok belakang Yaya. Murid lainnya yang berlalu lalang di belakang Taufan menatap mereka dengan tatapan aneh dan sejenisnya. Yaya semakin terpojok saat jarak wajahnya dengan Taufan sangat dekat. Gadis itu sangat takut saat melihat seringaian terukir di wajah tampan Taufan.

"Apa kau sudah pacaran dengan Air, hm?"

Mata Yaya langsung terbelalak mendengarnya, membuat Taufan kembali menyeringai. Sungguh, Yaya membenci seringaian itu dari dulu. Yaya menatap horror Taufan yang semakin gila padanya. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian kembali. Yaya menjadi jijik dengan ulah Taufan.

"Taufan, lepaskan aku! Menjauhlah dariku!" perintah Yaya kembali dengan tegas dan terdengar seperti bentakan.

Tapi tampaknya Taufan tak mendengarnya. Itu semakin membuat Yaya was-was dan merasa kalau dirinya hendak dimangsa oleh Si Raja Hutan. Ia dengan cepat menoleh ke kiri saat melihat seorang pemuda yang familiar baginya menuruni tangga dan berjalan ke arah mereka. Ia terdiam saat melihat Yaya dipojokkan oleh Taufan. Kedua mata sipit itu terlihat membulat. Yaya pun lega melihatnya.

"Wah, Air! Aku sangat merindukanmu" ucapnya manja.

Taufan menjauhkan tubuhnya dari Yaya lalu menatap Air kesal. Yaya menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tangannya dari genggaman Taufan. Air terkejut saat gadis itu mengatakan bahwa ia merindukannya. Tapi Air cukup tahu diri, itu adalah tipsnya untuk melepaskan diri dari Taufan.

Yaya tersenyum cerah lalu menaiki tangga mendekatinya. Air hanya diam. Yaya mulai berucap dengan suara yang keras dan tentu saja itu di sengaja. "Air, jas kita tertukar ya? Ya ampun, kok bisa sih? Apa jangan-jangan kita jodoh ya?"

Air menatapnya dengan bingung. Yaya segera memberi kode dengan kedipan mata agar ia mengikuti permainan aktingnya. Kini, yang lain mulai berbisik-bisik tentang mereka. Taufan mendengus kasar sembari menyilangkan tangan di depan dada. Air tersenyum tipis. Rasanya menarik untuk mengikuti permainan ini. "Ah, iya. Dimana jasku?" tanyanya dengan suara diperlembut.

Yaya pun membuka resleting tasnya lalu mengeluarkan jas Air yang sudah dicuci dan disetrika dengan lembut. Ia memberikannya kepada Air dan Air menerimanya. "Ini dia! Sudah ku cuci dan di setrika loh! Wangi pula!" Air tersenyum cukup manis lalu memakai jasnya. Sejujurnya Yaya cukup terpesona dengan senyuman itu. Buru-buru ia mengalihkan perhatian. "Lalu dimana jasku?"

"Jasmu ada di tasku. Ayo ke kelas!"

Yaya pun mengangguk senang. Keduanya berjalan beriringan menaiki tangga menuju ke kelas. Lagi-lagi Taufan mendengus kasar, merasa cemburu jika melihat Yaya berdekatan dengan Air. Salahkan dia karena waktu itu ia sendiri tak mempercayai Yaya. Nasi sudah menjadi bubur. Itulah peribahasa yang cocok untuknya.

^^...^^

Air membuka resleting tasnya lalu menyerahkan jas milik Yaya kepada pemiliknya. Yaya menerimanya dan langsung memakainya. Air masih sebal kepada Yaya karena sikapnya yang ceroboh kemarin. Yaya meletakkan tasnya di atas meja bagiannya. Air mendengus kasar lalu bersedekap, menatap tajam Yaya.

"Dasar ceroboh! Ambil jas saja salah!" sindirnya dengan sengit.

Sindiran itu sukses membuat Yaya menatap Air tajam. Ia juga baru menyadari pagi ini. Siapa sangka ia mengambil jas milik Air? Tentu saja ia tidak mau hal itu terjadi, benar-benar membuatnya sangat malu. Jasnya tertukar dengan Ying tak apa, tapi kalau Air? Ini baru pertama kalinya.

"Mana aku tahu?! Memangnya aku mau jasku tertukar denganmu?!" balasnya tak kalah sengit.

Decakkan lidah Air terdengar jelas di telinga Yaya. Air melengoskan wajahnya lalu berjalan keluar kelas, meninggalkan Yaya yang masih menyimpan rasa sebal padanya. Ia pun duduk di kursinya dengan sedikit membanting tubuhnya sendiri. Tak lama setelah itu, bel masuk berbunyi. Teman-temannya yang tadinya ada di luar kelas mulai bergerombolan masuk. Yaya kini tidak sendirian lagi. Ia menopang dagunya dengan malas. Tak percaya hidupnya akhir-akhir ini terasa berbeda daripada sebelumnya.

TBC

Maaf ya nggak bisa bales review kalian satu-satu, tapi aku berterima kasih banget sama kalian yang udah review di chapter kemarin.

Oh iya, baca ffku yang satunya lagi ya, "Tears of Sacrifice". Ku harap kalian juga suka ffku yang itu.

Dimohon review kembali... aku menunggu review kalian...