Air melangkahkan kakinya dengan cepat menuju taman belakang sekolahnya. Entah kenapa sekarang jantungnya berpacu dengan cepat, seiring dengan langkahnya yang tergesa-gesa. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Air segera mendudukkan diri di bawah pohon raksasa yang ada disana. Cahaya matahari tidak bisa menerpanya karena ia terlindungi oleh dedaunan lebat pohon tersebut. Batang kokoh itu sekarang menjadi pusat sandaran punggung Air.

Pemuda bernuansa biru muda itu menetralkan napasnya yang tiba-tiba memburu sambil memejamkan mata. Namun yang ada, bayangan saat Taufan memerangkap Yaya tadi melintasi pikirannya. Kedua matanya spontan terbuka lebar. Ia akui, ia merasa tidak suka, sangat tidak suka saat Taufan memperlakukan Yaya seperti tadi. Hei, semua orang sekarang tahu kalau Taufan dan Yaya sudah putus, tapi kenapa Taufan masih memperlakukan Yaya seolah Yaya masih berstatus sebagai pacarnya?

Tiba-tiba ia menggeram, mengacak rambut hitamnya sampai berantakan tak beraturan. Napasnya lagi-lagi memburu, dan Air tak berniat untuk menetralkannya kembali. Biarkan napasnya teratur dengan sendirinya. Ia benar-benar tak mengerti, kenapa ia tidak suka melihat Yaya masih berdekatan dengan Taufan, walaupun Taufan lah yang memulai.

Tak sengaja kini tatapannya tertuju pada air mancur yang tak jauh dari hadapannya. Melihat air, langsung saja memorinya melayang pada kejadian saat dirinya menolong Yaya yang tenggelam di kolam renang, lalu dirinya ikut-ikutan bersin di cafe, dan terakhir saat ia menahan tubuh Yaya agar tidak menyentuh tanah. Ia masih ingat ketika kedua matanya tak berkedip saat menemukan kilauan yang memikat hatinya. Hal itu sukses membuat jantungnya berdentum cepat. Perasaan macam apa ini?

"Hei, kenapa kau ada disini?"

Air merasakan kalau jantungnya hampir copot saat mendengar suara tersebut. Tubuhnya sampai berjengit saking kagetnya. Ia menoleh ke belakang, menatap datar seorang lelaki berambut raven dan berkacamata nila menatapnya aneh. Air mendengus, untuk pertama kalinya ia tidak suka waktu sendiriannya diganggu oleh seseorang yang sudah sangat berarti dalam hidupnya.

"Terserah aku dong kalau aku ada dimana."

Fang mengernyit karena mendapatkan jawaban ketus dari pemuda yang biasanya menjawab pertanyaannya dengan tenang. Kakinya melangkah mendekati tempat bersantai Air lalu duduk di sampingnya. Ia mendengus pelan. "Biasanya kau kesini disaat kau begitu merindukan'nya'."

Air meliriknya kesal. "Jangan bahas itu lagi, Fang."

Fang terkekeh, dalam hati merasa malu karena salah tebak. Ia membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. "Ada apa denganmu?"

"Tidak ada."

Pemuda berkacamata itu semakin kesal dengan jawaban super singkat dari Air. Tidak biasanya Air seperti itu, ohh kecuali jika Air sedang badmood. Otak Fang berputar, mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada lelaki tersebut. Percuma ia bertanya jika jawabannya tidak memuaskan. Tak lama kemudian, matanya memicing saat pemikiran melintas di otaknya.

"Kau sedang memikirkan Yaya?"

"Iya- eh, apa?"

Bibir Fang terangkat, membentuk senyuman super manis nan menawan yang bisa membuat para gadis mimisan masal. Tidak memperdulikan hal itu, Air sibuk menyembunyikan rona hebat di pipinya yang muncul di suasana yang tidak tepat. Sontak hal itu membuat Fang tertawa. Air menatapnya kesal.

"Oh oh oh, ternyata sekarang seorang Air menyukai gadis populer seperti Yaya ya? Tipe gadis yang kau sukai tidak pernah berubah." Tawa kembali terdengar. Telinga Air menjadi panas.

Air mendengus, dalam hati merutuki dirinya sendiri karena wajahnya memerah. "Jangan mengejekku dan aku tidak menyukainya," balasnya, yang membuat mata Fang menjadi sipit.

"Benarkah?" Fang tersenyum miring. "Kau tidak pandai berbohong, Air. Sikapmu akhir-akhir ini pada Yaya terlihat berbeda. Kau terlihat seakan ingin sekali melindunginya."

"Aku ini laki-laki, wajar dong kalau aku melindungi gadis seperti Yaya, apalagi sekarang dia sedang terpuruk." Rupanya Air masih bersikukuh kalau ia tidak menyukai Yaya, membuat Fang memutar bola matanya bosan.

"Ya ya ya, terserah kau saja." Mata Fang menerawang pada langit biru sambil memikirkan sesuatu. "Tapi kau memang benar-benar menyukai Yaya, Air. Jangan mengelak fakta lagi."

Air menoleh padanya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia meneguk ludah, terasa sangat sulit karena napasnya tercekat. Fang tersenyum tipis, melihat semburat tipis muncul di kedua pipi Air. "Jangan mempersulit keadaanku."

Fang tertawa. "Justru kau yang mempersulit keadaanmu sendiri. Aku hanya meluruskan kebimbangan yang kau alami, hanya itu yang aku lakukan."

Air menghela napas, tiba-tiba kepalanya terasa pusing hanya untuk memikirkan ini. Padahal jam pelajaran pertama belum dimulai, masih 5 menit lagi. Tapi ia ingin sekali cepat-cepat pulang dan mengistirahatkan dirinya.

"Oh iya," Air melirik ke arah Fang yang menyeringai padanya. "Kau kesini setelah melihat Yaya dipojokkan oleh Taufan di tengah-tengah tangga kan? Itu artinya kau cemburu, Air. Masa' sih kau tidak tahu? Padahal kan kau sudah berpengalaman."

Pemuda itu semakin kesal karena merasa dipojokkan. Rona merah di pipinya semakin terlihat jelas. Ia memang tidak bisa mengelak fakta, tapi ia tidak ingin mengakuinya. "Sudah, hentikan ocehanmu! Kau bawel sekali hari ini."

Lagi-lagi Fang tertawa mengejek, membuat Air bertambah jengkel kepadanya. Pemuda berkacamata itu bangkit dan menepuk bagian bajunya yang kotor. "Lebih baik kau cepat masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi."

"Aku masih ingin disini dan SMS aku kalau Pak Zola sudah datang."

Fang menaikkan sebelah alisnya, menatapnya aneh. "Baiklah kalau begitu."

Lelaki itu melangkah menjauh, dan Air hanya terdiam pada pemikirannya. Air mendesah panjang, menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil memejamkan mata. Pikirannya sedang berkecamuk sekarang. "Apa yang harus aku lakukan?"

^^...^^

"Yaya, aku minta maaf. Kemarin aku tidak bisa menghiburmu."

Yaya tersenyum tipis. "Jangan minta maaf, Ying. Kau kan kemarin tidak masuk karena sakit. Sudahlah, aku baik-baik saja sekarang."

Gadis berkacamata itu tetap saja merasa bersalah karena ia tidak ada di sisi Yaya ketika Yaya sangat membutuhkannya. Ia tahu, betapa sedih dan kecewanya Yaya saat Taufan memutuskannya. Sahabatnya itu selalu curhat kepadanya tanpa absen. Ia merutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba demam kemarin.

"Lagipula sudah ada Air kok yang menghiburku," ujar Yaya, mengaduk-aduk jus stroberinya yang tersisa setengah gelas.

Mata Ying sukses melebar, menatap Yaya tak percaya. "Air? Jadi kau kemarin dihibur sama Air? Oh My God!"

Yaya menutup mulutnya ketika menyadari bahwa ia seharusnya tak menceritakan hal tersebut walaupun Ying sahabatnya. Gadis yang duduk di hadapannya tak henti-hentinya menatapnya dengan tatapan curiga. "Memangnya kenapa?"

"Kau menyukai Air?"

Yaya sukses tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar pertanyaan Ying. Gadis itu menatapnya dengan tatapan watados. Yaya menghembuskan napasnya dan menstabilkan emosinya. Tidak mungkin ia akan marah-marah kepada Ying. Gadis berkacamata itu masih setia menatapnya, menunggu jawabannya. Dan Yaya tidak tahu harus menjawab apa.

"Ap-apa yang kau katakan? Tentu saja tidak!" elak Yaya, sedikit terbata-bata. Yaya mengutuk dirinya yang bisa-bisanya menjadi tergagap.

Ying tersenyum manis, sangat manis hingga Yaya ingin sekali menggigit jarinya. "Ah... benarkah? Tapi wajahmu merah loh..." goda Ying. Tampaknya Ying suka sekali menggoda sahabatnya.

Yaya menyentuh kedua pipinya dengan tatapan horror, Ying yang melihatnya menjadi tertawa cekikikan. Tiba-tiba jantungnya menjadi berdegup kencang. Pipinya terasa panas. Yaya menggigit bibir. "Tapi aku memang tidak menyukainya!" elak Yaya lagi.

"Grr... kau ini tidak mau mengaku ya? Bilang saja padaku kalau hatimu sekarang berpindah pada Air."

Yaya tidak menjawab, memilih untuk menyedot jusnya dan pura-pura tidak mendengar, membuat Ying menatapnya kesal.

"Ngomong-ngomong, Air tampan juga sih, meskipun Taufan lebih tampan." Sebenarnya Ying ogah mengakuinya, sedangkan Yaya menahan diri untuk tidak menjitak kepala sahabatnya yang seenaknya membicarakan mantan. "Tapi Air lebih manis dan menenangkan." Kemudian Ying melirik Yaya penuh arti. "Jadi kau lebih cocok dengan Air."

Yaya menghela napas panjang. "Jangan bicara sembarangan, Ying. Hatiku sedang kosong sekarang."

"Ya, dan sebentar lagi akan diisi oleh Air."

"Ying, diamlah."

Gadis oriental yang sudah menjabat sebagai sahabat Yaya sejak 2 tahun silam itu terkekeh-kekeh, memasang tampang watados. Yaya yang melihatnya menggeram kesal, menyeruput jus stroberinya dengan kasar sampai habis. Membicarakan hal ini, entah kenapa membuat jantungnya terpompa tak terkendali.

"Jangan terlambat menyadarinya, Yaya. Hanya kau yang bisa menyadari perasaanmu sendiri."

Gadis itu diam seribu bahasa dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

^^...^^

"Ck, sial!"

"Kau kenapa, Taufan?"

Taufan melirik seorang gadis berambut pirang yang menatapnya penuh keheranan. Ia menghela napas panjang, membiarkan gadis itu menghampirinya. "Yaya menolakku, dia menolak saat aku mengajaknya balikan."

Gadis itu menganga tak percaya. "Kau mengajaknya balikan?" tanyanya tak percaya.

Taufan mengangguk mantap. "Tentu saja. Aku masih mencintainya. Aku harus berusaha untuk mendapatkannya kembali, Amy. Bukankah begitu?"

Diam-diam Amy memasang ekspresi kesal. Ia tidak menyangka bahwa Taufan masih mencintai Yaya setelah apa yang terjadi kemarin. Otaknya berputar cepat agar lelaki yang ia sukai ini tidak kembali pada mantan pacarnya. "Tentu saja dia menolakmu."

Ia menoleh, menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Huh, apa maksudmu?"

Amy menghela napas. "Kemarin kan kau hampir menampar Yaya, kau lupa?" Taufan membulatkan matanya, baru ingat. "Tapi untung saja ada Air yang menolongnya." Kemudian tatapan Taufan mengeras, Amy tersenyum miring. "Jadi Yaya membencimu karena kau hampir melukainya. Dan mungkin sekarang Yaya menyukai Air."

Taufan melotot mendengarnya. "Benarkah?! Yaya menyukai Air?!"

Amy mengangguk. "Kau tidak bisa melihatnya?"

Pemuda itu menggeram, mengepalkan tangannya kuat-kuat guna menahan amarah. Amy sedikit ngeri melihat ekspresi Taufan yang begitu murka. Bahkan sendi-sendi tangan Taufan terlihat jelas. Apakah begitu besarnya cinta Taufan pada Yaya, sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk Amy? Amy mengumpat dalam hati.

"Grr... laki-laki itu sudah menghancurkan hubunganku dengan Yaya..." gumam Taufan, begitu lirih, menandakan bahwa ia begitu murka sekarang.

"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Lihat saja, aku akan membuat lelaki itu menderita."

^^...^^

"Come on, everybody! This is time to win!"

"We are the best! We are the winner!"

"Fighting! Fighting!"

"Yuhuuuuuu!"

Setelah melakukan atraksi yang begitu mengagumkan dan mempesona para penonton yakni melemparkan satu anggota ke atas untuk melakukan atraksi seperti menggulingkan badan atau menekuk badan lalu beberapa anggota di bawah menangkapnya, mereka membentuk formasi dan meneriakkan yel-yel untuk menyemangati tim basket sekolah mereka dengan kompak.

Tentu saja para anggota basket bertambah semangat, apalagi anggota tim cheerleader mengenakan pakaian super seksi dan minim berteriak menyerukan yel-yel mereka dengan begitu keras.

Hari ini tim basket SMA Harapan Bangsa melawan tim basket SMA Pelita Bangsa. Dan kali ini yang menjadi tuan rumah adalah SMA Harapan Bangsa. Tentu ini menjadi kebanggaan sendiri bagi mereka. Yaya yang merupakan kapten tim cheerleader sekolahnya, merasa sangat senang sekaligus kesal, senang karena bisa memberikan pertunjukan timnya, kesal karena timnya mendukung tim basket yang dipimpin oleh Taufan.

Di saat waktu break, Yaya melirik Ying yang juga merupakan anggota tim cheerleader. Gadis yang mengenakan kacamatanya itu tampak begitu semangat dan bahagia. Yaya menyipitkan mata dan memandangi apa yang dipandangi Ying sejak tadi. Yaya hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Oh, pantas saja Ying sangat semangat. Disana kan juga ada Fang. Oh My God! Jadi Ying benar-benar menyukai Fang? Kenapa dia tidak bicara jujur saja padaku? Cih, dia menyuruhku untuk jujur dengan perasaanku tapi nyatanya sendiri dia tidak jujur dengan perasaannya."

Ketika matanya menangkap sosok sang mantan kekasih, ia langsung membuang pandangannya dan mendecih sebal. Di saat ia merenung, entah kenapa ia malah terpikirkan pada salah satu pemuda.

Air.

Yaya kini mau memandangi Taufan. Namun bukan Taufan yang mengisi pikirannya, namun Air. Ia membayangkan Taufan adalah Air. Ia membayangkan kalau Air lah yang bermain basket dan menjadi kapten disana. Mata Yaya sampai tak berkedip melihatnya. Tubuhnya membeku. Di otaknya hanya terisi oleh bayangan Air saja. Kenapa Air tampak begitu keren saat mendribel bola?

Mata Yaya mengerjap kaget. Gadis itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam tidak jelas. Ia merutuk dalam hati karena memikirkan pemuda itu.

"Kenapa aku malah jadi memikirkannya sih?"

Yaya menghembuskan napasnya pelan-pelan dan menjernihkan pikirannya. Ia hanya diam ketika Taufan berhasil memenangkan pertandingan tersebut dengan bola yang masuk ke keranjang sebagai akhir pertandingannya. Ia tahu kalau Taufan hebat, tapi ia terlalu malas untuk mengakuinya. Sebagai hadiah kemenangan, ia dan anggota tim cheerleader yang lain bertepuk tangan heboh dan kembali meneriakkan yel-yel.

Seperti biasa, Taufan mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu menebarkan flying kiss kepada para penonton yang sebagian besar adalah para gadis. Yaya memutar bola matanya, rasanya ingin sekali muntah. Beda dengan Yaya, reaksi para gadis tersebut menjerit-jerit tak karuan. Taufan tersenyum mempesona, dan Yaya sama sekali tidak terpesona seperti dulu lagi.

Tubuh Yaya membeku saat melihat pemandangan langka yang terjadi di hadapannya. Seorang gadis berambut pirang berlari memasuki arena pertandingan lalu memeluk Taufan begitu erat. Pemuda itu tampak membalas pelukannya. Air matanya sukses menetes saat itu juga.

"Selamat atas kemenangan timmu ya, Taufan." Pelukan terlepas, keduanya sama-sama tersenyum lebar.

"Ya, sama-sama, Amy."

Yaya segera menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir dengan kasar, menimbulkan bekas yang tak bagus di wajah cantiknya. Ia mendengus kasar, melayangkan tatapan amat benci pada kedua insan yang saling melempar senyum itu, kemudian berlari menjauh, tanpa menyadari tatapan khawatir dari seseorang yang duduk di salah satu kursi penonton.

^^...^^

"Hiks... hiks..."

Yaya berhenti di suatu tempat tersembunyi, menutup mulutnya rapat-rapat agar isakan tangisannya tidak terdengar oleh siapapun. Yaya nyaris kesulitan bernapas karena napasnya tercekat sekaligus dadanya terasa sesak.

Yaya tak mengerti kenapa ia menangis terisak-isak seperti ini. Padahal ia sudah putus dengan Taufan, ia begitu membenci Taufan dan menyatakan bahwa ia tidak menyukai Taufan lagi, tapi mengapa ia menangis saat Amy memeluk Taufan? Ataukah jangan-jangan ia masih...

Yaya menggeleng, tidak sanggup melanjutkan perkataan batinnya yang sedang berkecamuk. Terlintas bayangan kejadian itu saja sukses membuat dadanya semakin panas dan sesak. Yaya menyandarkan tubuhnya di tembok, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis dalam diam disana.

"Kau masih menyukainya."

Gadis itu terlonjak dan menyingkirkan tangannya, matanya membulat total saat melihat seseorang ada di hadapannya. Dia menghampirinya, menatapnya lurus dengan ekspresi datar seperti biasanya. Isakannya terhenti, Yaya terdiam seraya menatapnya.

"Kau tidak menyadarinya?"

Yaya menggeleng, menghapus air matanya. Bola matanya bergerak tak tentu arah, mencari jawaban. "Tidak, aku sudah tidak menyukainya. Aku hanya kesal karena Amy berhasil merebut Taufan dariku. Dan itu artinya Amy lebih hebat dariku. Aku sangat membencinya."

Air memutar bola matanya. "Tidak mungkin kau sampai menangis seperti ini hanya karena kau kesal pada Amy."

Yaya terdiam, manik itu kembali berkaca-kaca ketika menatapnya. Dada Air terasa nyut-nyutan dan tanpa sadar Air menahan napasnya. Ia begitu membencinya, ia tidak suka melihat Yaya menangis, dan ia lebih tidak suka jikalau ia tidak bisa menghapus air matanya.

Tangisan gadis itu kembali pecah dan tanpa sadar ia menghambur ke pelukan Air. Bohong kalau Air tidak terkejut. Tubuh Air sampai menegang saking kagetnya. Ia membalas pelukannya, memejamkan mata ketika tubuh Yaya terasa bergetar karena tangisannya. Ini terasa menyakitkan baginya.

Tanpa mereka sadari, seorang lelaki berpakaian basket menatap Air dengan tatapan amat murka.

^^...^^

"Aduh, Yaya kira-kira kemana ya? Tiba-tiba dia menghilang begitu saja."

Pemuda berkacamata itu melirik, kemudian memutar bola matanya. Sifat cerewet yang dimiliki sang gadis mulai muncul ke permukaan. Ingatkan Fang untuk sabar menghadapinya. "Mungkin Yaya ada di kantin atau di ruang ganti, Ying."

Ying mengerucutkan bibir, tidak terima dengan pendapat Fang. "Yaya tidak akan kesana tanpaku, kecuali jika aku tidak masuk sekolah."

Fang mendengus. "Mungkin karena kau terlalu lama, dia pergi kesana sendirian dan meninggalkanmu." Ying menatapnya kesal dan Fang mendengus penuh kemenangan karena berhasil membuat gadis oriental itu sebal.

Kedua remaja tersebut yang masih memakai kostum basket dan cheerleader itu melangkah penuh keheningan menyusuri koridor sekolah mereka. Saat tiba di suatu tempat yang agak gelap, Fang menganga tak percaya dan tanpa sadar menghentikan langkahnya. Ying pun ikut menghentikan langkahnya.

"Kenapa berhenti, Fang?" tanya Ying bingung, terlebih melihat ekspresi Fang yang tampak begitu shock.

Tak menjawab dengan kata-kata, Fang justru mengangkat tangan kanannya, jari telunjuknya menunjuk pada objek yang membuatnya shock. Masih kebingungan, Ying mengikuti arah tunjuk Fang dan seketika itu juga, ia menjatuhkan rahangnya ke bawah.

"Itu Yaya dan Air kan? Mereka berpelukan?" tanya Ying tak percaya.

Fang mengangguk. "Ya, seperti yang kau lihat." Kedua matanya masih terfokus pada kedua remaja yang sedang berpelukan itu. Si gadis tampak menangis, membuatnya mengernyit dan hendak berucap, namun tergantikan dengan kedua matanya yang mendelik saat sesuatu lain terjadi.

"Yay- hmpph!"

Fang langsung membekap mulut Ying dengan tangannya kuat-kuat, membuat gadis itu terlonjak sekaligus mendelik, kemudian Fang menyeretnya menjauh dari tempat Yaya dan Air. Ying meronta-ronta, namun bekapan Fang sukses membuat suaranya teredam dan nyaris tak terdengar.

Ying langsung menyingkirkan tangan Fang dengan kasar ketika Fang menghentikan langkahnya, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Pemuda oriental itu hanya memandanginya sembari mengerjap bingung. Apakah perbuatannya sampai membuat Ying kehabisan napas?

"Kau ini apa-apaan sih? Kau berniat untuk membunuhku ya?!" protes Ying murka dengan mata merah.

Fang mengerjap, mendengus. "Siapa juga yang berniat untuk membunuhmu? Seharusnya kau tahu kenapa aku melakukan itu padamu." Ying memandangnya tak mengerti, membuat Fang menggeram karena Ying juga merupakan gadis yang lola. "Kau hampir merusak moment Air dan Yaya. Kalau rusak, mereka berdua akan canggung dengan kehadiran kita. Jadi kita tidak boleh mengganggu mereka. Kau paham?!"

Ying menganga, kemudian mengatup ketika baru menyadari kesalahannya. Ia menggigit bibir bawahnya, gerak-gerik tubuhnya tampak gelisah. "Iya iya, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu."

Fang mendengus, membuang muka. "Kau ini memang tidak berpengalaman ya? Kau tidak pernah pacaran?" tanya sekaligus sindir Fang.

Ying cemberut mendengarnya. "Memang aku tidak pernah pacaran!" serunya kesal karena lelaki itu tengah menyindirnya. Wajahnya memerah malu, pasti Fang menertawainya dalam hati. "Memangnya kau sudah pernah pacaran?"

Lagi-lagi Fang membuang muka, semburat tipis menghiasi pipi putihnya ketika Ying menanyakan pertanyaan itu. Ah, apakah ia harus memberitahu yang sebenarnya? Ying meliriknya penuh rasa penasaran. "Jujur saja, aku memang belum pernah pacaran, tapi setidaknya aku tahu situasi." Rupanya Fang tidak ingin harga dirinya jatuh hanya karena gadis mungil itu dan masih mencoba membela diri.

Ying yang mendengar alasan itu mendengus. Kemudian wajahnya memerah total saat mengingat sesuatu. Fang tak sengaja memeluk pinggangnya dari belakang ketika lelaki itu membekap mulutnya lalu menyeretnya. Degupan jantungnya berubah menjadi sangat cepat dan terasa sesak di saat yang bersamaan.

Ia meliriknya, tampaknya Fang tidak menyadarinya. Jika menyadarinya, Ying ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup.

Wajah Ying semakin memerah ketika Fang melangkah mendekatinya. Jarak mereka begitu dekat. Ying menggigit bibir, menetralkan detak jantungnya yang semakin tak terkendali.

"Tampaknya Air mulai menyukai Yaya, Ying."

Ying menghembuskan napas kasar. Betapa bodohnya ia, Fang tidak mungkin akan berbuat yang aneh-aneh padanya, apalagi menciumnya. Ying tersentak dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena pemikiran konyol mulai melintas di otaknya.

"Kau ini kenapa?" tanya Fang dengan nada aneh.

"Eh, apa?" Ying menoleh, warna wajahnya semakin tak karuan, ia tergagap. "A-ahh... tidak ada kok. Memangnya kau bicara apa tadi? Maaf, aku melamun." Ying tertawa garing, sukses membuat Fang mengernyit.

Fang menghela napas pelan-pelan. "Ku rasa Air mulai menyukai Yaya."

Mata Ying melebar, menatapnya tak percaya. Kemudian ia terdiam, memikirkan sesuatu yang sepertinya sama dengan apa yang dibicarakan Fang. "Ehm... ku rasa Yaya juga mulai bisa melupakan Taufan dan menyukai Air."

Fang melongo. "Benarkah?" Ia tersenyum lebar. "Oh, baguslah."

"Bagus kenapa?" tanya Ying tak mengerti.

"Itu artinya cinta mereka berdua terbalaskan."

Ying memutar bola matanya. "Itu kan hanya hipotesa kita, Fang. Belum tentu hipotesa kita itu benar."

Fang menatapnya kesal. "Nah, eksperimennya itu saat kita melihat Air dan Yaya saling berpelukan."

Gadis berkacamata itu menatapnya sembari melongo. "Jadi kau ingin belajar tentang metode ilmiah ya?"

"Kau yang memulainya dulu dengan kata 'hipotesa'. Bukankah setelah hipotesa itu diadakan uji coba atau eksperimen?" balas Fang tak ingin kalah, membuat Ying mendengus karena pembicaraan mereka semakin ngawur dan tidak jelas.

"Sudahlah, aku ingin ganti baju. Dan sebaiknya kau juga harus ganti baju karena badanmu penuh keringat dan bau!"

Rahang pemuda berkacamata tersebut jatuh ke bawah, memandangi gadis yang berjalan meninggalkannya dengan pandangan cengo. Mengerjapkan mata, tersadar, kemudian berdecak. Ia mengendus-endus aroma tubuhnya. Matanya menyipit, tidak terlalu bau juga.

"Ck, gadis sialan!"

^^...^^

Kedua matanya membulat, Yaya tersadar dan dengan cepat melepaskan pelukannya pada Air. Yaya menjauh, wajahnya merona hebat karena malu, kemudian gadis itu menghapus air matanya dengan tangan meskipun masih membekas.

"Maaf" gumam Yaya, menundukkan kepala, menggigit bibir agar tidak berteriak bahwa ia merasa sangat malu sekarang. Entah ini ke berapa kalinya ia malu karena lepas kendali di hadapan Air.

"Ya, tidak apa-apa," jawab Air, melirik jas seragamnya yang basah karena air mata si gadis. Tapi ia tidak mempermasalahkannya, toh masih ada jas seragam cadangan di lokernya. "Nih."

Yaya mendongak, menatap Air bingung saat Air menyodorkan sapu tangan berwarna biru langit padanya. Air masih menatapnya, mengisyaratkan agar Yaya mengambilnya. Gadis itu tersenyum malu lalu mengambilnya.

"Hapus air matamu. Aku tidak tega melihat gadis sepertimu menangis hanya karena laki-laki."

Yaya merasakan jantungnya berdebar-debar setelah Air mengucapkan itu. Ia menghapus air matanya dengan sapu tangan yang terasa selembut sutra. Diam-diam ia tersenyum kecil, tak menyangka betapa baik dan perhatiannya pemuda yang biasanya bersikap cuek padanya. Ternyata laki-laki yang cuek bisa seperti ini ya?

"Oh iya, katanya aku harus menemanimu belanja di mall."

Mata Yaya berbinar-binar mendengarnya, betapa bodohnya ia melupakan hal tersebut. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya. Mata Air menyipit karena senyuman itu terasa menyilaukan baginya.

"Ah! Aku lupa! Baiklah, sepulang sekolah kita pergi ke mall."

Air tersenyum tipis. "Baiklah, seperti yang kau inginkan."

^^...^^

Kalau begini, Air sangat menyesal karena tadi mengingatkan Yaya tentang perjanjian itu. Niatnya sih ingin mengembalikan ekspresi ceria dan bahagia gadis itu. Meskipun Yaya begitu menyebalkan baginya, ia tak tahan melihat gadis itu berulang kali menangis di pelukannya. Hatinya terasa tersayat-sayat menyaksikan bulir bening itu mengucur deras melewati pipi Yaya. Air menghela napas.

Berkali-kali ia menguap lebar, matanya berair dan bertambah sipit. Ia tak menyangka gadis itu begitu lama ketika berbelanja. Ia memilih untuk duduk di tempat duduk yang disediakan daripada merasakan pegalnya kaki ketika menemani Yaya berkeliling. Tapi kalau seperti ini, ia kesal juga.

Karena matanya semakin memberat dan memaksa untuk menutup, Air menguap lebar untuk terakhir kalinya, lalu jatuh terlelap.

Sementara itu, Yaya sibuk memilih-milih pakaian model terbaru. Apalagi warna-warnanya membuat mata Yaya kembali cerah dan berbinar-binar. Ia tak menyangka, berbelanja seperti ini mampu membuatnya kembali bahagia dan melupakan kejadian tadi. Ingatkan Yaya untuk berterima kasih kepada Air.

Setelah beberapa jam memilih, akhirnya pilihan Yaya jatuh pada dua baju sweater bermodel sama namun berbeda warna, yang satu merah muda dan satunya lagi putih. Sama-sama bagus sih, membuat Yaya bingung. Kemudian Yaya mengambilnya dan berjalan menuju tempat dimana Air menunggunya.

"Air! Air! Menurutmu yang bagus yang mana? Warna pink atau warna putih?"

Yaya menjatuhkan rahangnya ke bawah ketika mendapati pemuda yang dihampirinya tertidur dengan nyenyak. Ia mengecek jam tangannya, sudah 3 jam ia sibuk memilih baju. Ia memijit keningnya.

"Air! Air! Ayo bangun! Apakah kau tidak malu tidur disini?!" ujar Yaya, mengguncang-guncangkan tubuh Air yang diam seperti patung.

Tidak ada pergerakan sedikitpun, sukses membuat Yaya naik pitam. Apalagi sekarang beberapa pengunjung mall mulai memperhatikan mereka dengan tatapan yang tidak enak. Yaya mendengus kasar. "AIR! AYO BANGUN!" seru Yaya.

Lelaki itu berjengit dan matanya reflek terbuka. Yaya menatapnya kesal sembari berkacak pinggang. Air mengerjapkan matanya berkali-kali dan kebingungan melihat tempat dimana ia berada. Lalu tatapannya tertuju pada Yaya yang menatapnya tajam. "Apa?" tanya Air polos.

Yaya menggaruk rambutnya dan menghela napas panjang-panjang. "Kenapa kau bisa ketiduran disini sih? Memalukan saja."

Awalnya pemuda tersebut tampak bingung mendengar ucapan Yaya, namun beberapa detik kemudian ia menatap Yaya kesal ketika sudah mengerti. "Itu karena kau sendiri. Kau terlalu lama, tahu! Aku jadi mengantuk disini."

Yaya memijit keningnya frustasi. "Makanya tadi kau ikut aku saja berkeliling mencari baju."

Air mendengus. "Kalau aku ikut denganmu, kakiku akan pegal-pegal."

Gadis itu menatap Air jengkel dan akhirnya mendesah panjang. "Terserah kau saja lah." Kemudian Yaya memandangi dua baju yang dipegangnya. "Oh iya, menurutmu yang bagus yang mana, pink atau putih?"

Air meliriknya sekilas. "Semuanya bagus."

Yaya tersenyum puas. "Baiklah, kita beli dua-duanya. Ayo kita ke kasir!"

Dengan sangat malas, Air bangkit dan mengikuti langkah Yaya yang akan menuju ke kasir. Diam-diam ia menghembuskan napas lega karena antrian kasir sedikit, tidak panjang seperti biasa yang ia lihat. Yaya menatapnya sambil tersenyum manis. Dari situlah Air merasakan firasat buruk.

"Nah, sesuai dengan perjanjian yang kita sepakati, kau harus membayar semua belanjaanku."

Air tercengang. "APA?!"

TBC

Maaf ya baru update sekarang, udah 2 minggu ya? Tapi akhir-akhir ini aku emang sibuk banget, nggak sempet nyentuh laptop gara-gara acara classmeeting dan Pensi. Aku juga ikut Pensi, kelasku ngadain flashmob :v tapi harus ikhlas karena kelasku sendiri nggak menang, nggak kompak sih. Jadi aku baru update sekarang, setelah rapot dibagikan aku lanjutin fic ini.

Maaf ceritanya aku gantung sampai sini, biar kalian penasaran XD (digebukin readers)

Yang penasaran, silahkan isi dulu kotak reviewnya lalu dikirim ^^

Ku mohon kalian review (masang puppy eyes),, biar aku semangat ngelanjutin nih ff. Jangan suka jadi dark readers karena itu merupakan perilaku tidak terpuji :v Maaf lagi karena aku nggak bisa bales review kalian lagi, tapi kalian tetep review kan?

Oh ya, jangan lupa baca ffku yang satunya ya, Tears of Sacrifice. Kalau kalian suka sama ffku yang ini, jadi kalian juga harus suka sama ffku yang satunya lagi (ih, maksa banget mbak) Pokoknya jangan lupa baca & review ya