Pemuda berjaket biru muda tersebut menatap Yaya jengkel. Siapa yang tidak jengkel pada gadis yang seenaknya menyuruh kita untuk membayar semua belanjaannya? Siapapun tahu kalau selera fashion Yaya tidak main-main. Semuanya berkelas dan mahal. Air mendesah panjang, ia tidak tahu berapa uang yang mendekam di dompetnya.

"Huh... ayolah, Air. Kau kan setuju waktu itu," bujuk Yaya dengan wajah memelasnya, sukses membuat Air sulit meneguk ludah. Kenapa ekspresi gadis itu membuatnya tidak bisa berkutik sih?

"Kapan aku setuju?" balas Air kesal. Tidak mungkin kan ia setuju waktu itu? Ia benar-benar melupakannya.

Yaya menghentakkan kakinya kesal. "Ish... kau benar-benar lupa ya? Waktu itu kau menjawab 'terserah kau saja'. Begitu!" jelas Yaya, menirukan gaya bicara Air ketika menyalin persetujuan Air waktu itu.

Air mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian mendengus ketika mengingatnya. Oh ayolah, ia tidak ingin menghabiskan uang tabungannya hanya untuk membayar semua belanjaan Yaya. Meskipun Yaya hanya membeli dua baju sweater, bisa saja satu baju harganya Rp 300.000 atau lebih! Kalau seperti ini, ia tidak akan mengingatkan janji ini pada Yaya tadi.

"Aku ini bukanlah kekasihmu yang mau membayar semua belanjaanmu kapan saja!" balas Air kesal. Bahkan dirinya sampai tidak menyadari bahwa beberapa pengunjung mall di sekitar mereka sedang memperhatikan mereka dengan tatapan geli.

"Ayolah, Air! Kau tidak bisa mengingkari janjimu sendiri. Itu dosa loh" bujuk Yaya lagi, dengan memasang wajah lebih memelas dibandingkan sebelumnya. Matanya berkaca-kaca, dan kelihatannya hampir menangis. Dan Air tidak ingin orang-orang berburuk sangka padanya. Air menggaruk rambutnya yang tak gatal.

"Iya iya, baiklah. Aku akan membayar semua belanjaanmu. Puas?!" Air mendelik padanya, namun Yaya membalasnya dengan senyuman manis. Wajah Air memanas melihat senyuman itu. Air segera memalingkan wajahnya yang ia yakini memerah dan merebut dua hanger sweater yang akan dibayar. Yaya tersenyum saat Air mulai membayar.

"Totalnya Rp 600.000"

Mulut Air menganga tak percaya. Otaknya sampai berhenti berputar saking shocknya. Itu berarti satu baju harganya Rp 300.000?! Benar-benar selera Yaya! Air mendecak, membuka dompetnya dengan ogah-ogahan, menatap miris uangnya yang hanya Rp 120.000. Sadar kalau tadi malam ia berburu novel. Dalam hati ia bersyukur, untung saja ia membawa kartu kredit.

Berbeda dengan ekspresi Air, Yaya begitu terkejut ketika Air membuka dompetnya. Ia langsung berlari mendekati Air dan memperhatikan foto yang terpasang di dompet Air.

"Oh My God! Kau punya saudara kembar?!"

Pemuda itu terlonjak kaget mendengar suara Yaya yang ternyata ada di sampingnya. Ia langsung mendelik karena Yaya berhasil mengagetkannya. Kemudian ia mendengus karena ia tidak bisa memarahi Yaya di depan umum. "Tidak" balasnya super singkat, membuat Yaya cemberut.

"Tapi foto di dompetmu siapa? Kalian benar-benar mirip, seperti saudara kembar," tanya Yaya yang masih begitu penasaran. Air memutar bola matanya, menyerahkan kartu kredit kepada mbak kasir dengan wajah masam.

"Dia kakakku."

Gadis itu manggut-manggut, kemudian menatap Air lagi. "Tapi kenapa kalian sangat mirip? Dia lebih cocok sebagai saudara kembarmu."

Air memijit pelipisnya, kenapa Yaya sangat cerewet? "Namanya juga kakak adik, Yaya. Jangan banyak bicara."

Gadis itu tak bisa menahan diri untuk tidak mencibir dan menjelek-jelekkan Air. Pemuda itu tidak akan memperdulikan ocehan Yaya. Setelah barang belanjaan diserahkan, Air langsung melemparkan tas belanjaan pada Yaya, membuat gadis itu berjengit kesal.

Sadar dengan apa yang dilakukan pemuda itu, Yaya tersenyum manis. "Terima kasih ya, Air." Yaya mengatakannya dengan hati berbunga-bunga karena hari ini belanjaannya dibayar oleh Air untuk pertama kalinya, beda sekali dengan ekspresi Air yang tampak kesal.

"Hn." Yaya cemberut karena Air hanya membalas ucapan terima kasihnya dengan gumaman tak berarti.

"Oh iya, kau tidak ingin beli sesuatu?" tanya Yaya mengalihkan topik, sangat tidak nyaman ketika Air bersikap cuek padanya.

Lelaki tersebut terdiam berpikir. Kemudian ia menatap Yaya dengan tatapan datar, meskipun begitu terkadang Yaya dibuat meleleh olehnya. "Aku ingin jaket."

Yaya tersenyum tipis. "Ok, aku akan menemanimu untuk memilihkan jaket."

Air mendengus. "Aku bahkan tidak perlu ditemani olehmu."

Yaya menggembungkan pipinya kesal lalu mencubit pinggang Air.

"Adaw! Sakit lah!" pekik Air kesakitan. Yaya hanya memeletkan lidahnya kemudian berlari menjauh, sementara Air menggeram kesal. Ingatkan Air untuk membalasnya nanti.

^^...^^

"Ini sangat cocok untukmu."

Air menoleh, mendapati Yaya yang menyodorkan hanger jaket kepadanya. Air mengambilnya dan mengamatinya dengan mata menyipit. Jaket berwarna biru muda kombinasi abu-abu di beberapa bagian. Tampaknya sangat keren.

"Coba saja dulu. Aku ingin melihatmu memakai jaket itu."

Kepala dianggukan kecil. Ia memakai jaket itu dan diam-diam Yaya memperhatikan gerak-geriknya tanpa berkedip sekalipun. Air melangkah menuju cermin besar yang tertempel disana. Seperti budak yang mengikuti majikannya kapan saja, Yaya mengikuti Air dengan memasang wajah penasaran.

Air terdiam dengan ekspresi takjub. Dipandanginya pantulan dirinya yang sedang mengenakan jaket tersebut. Untungnya tadi ia dan Yaya sudah menitipkan tas serta jas seragam sekolah mereka ke tempat penitipan barang. Tak hanya Air, Yaya juga takjub dalam diam. Kedua maniknya berbinar-binar melihat Air yang tampak mainly dan kece ketika mengenakan jaket itu. Tak perlu diragukan lagi pilihannya. Yaya tersenyum puas.

"Jaketnya bagus" komentar Air, dengan mata masih memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Kenapa ia baru menyadari bahwa ia begitu keren?

"Tentu saja. Siapa yang memilihkannya? Yaya gitu loh..." ujar Yaya memamerkan diri sembari mengibaskan pelan rambutnya, membuat Air yang lagi asyik mengagumi kekerenannya mendengus kesal. Pemuda tersebut spontan melepas jaketnya, membuat Yaya mengerjap kaget. "Loh, kok dilepas sih? Kau marah padaku?" tanya Yaya takut.

Air mengernyit. "Jaketnya kan belum dibeli, Yaya. Kau ini bagaimana sih?" balas Air gemas, gemas dengan kelemotan kinerja otak si gadis. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal dengan pipi merona malu.

"Jadi..." Yaya membuka mulut.

Sebelah alis Air terangkat. "Jadi?"

"Jaketnya jadi dibeli?"

Kesal, Air menempeleng pelan kepala Yaya. "Ya iyalah, memangnya mau diapain lagi?" balasnya jengkel. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kasir, meninggalkan Yaya yang awalnya mendelik ke arahnya lalu tersenyum tipis.

^^...^^

"Wahh... bagus sekali!"

Air menghentikan langkah ketika Yaya berlari menghampiri objek yang menurutnya bagus. Ia memijit pelipisnya lelah dengan tingkah si gadis. Ia tak habis pikir, kenapa Taufan tahan menghadapi Yaya yang seperti ini? Dengan lesu, Air menghampiri Yaya.

"Air, sepatu ini bagus kan?"

Air melihat sepatu tersebut yang akhir-akhir ini sedang trend di kalangan para gadis. Sepatu bermodel boot jenis ankle boot yaitu sepatu boot yang memiliki tinggi melebihi mata kaki namun tidak sampai lutut. Yaya tampak menginginkan sepatu ankle boot berwarna putih bergaris-garis merah muda tersebut. Bagus, Air mengakuinya, cocok untuk Yaya yang merupakan gadis feminim.

Gadis itu mencoba sepatunya. Tersenyum puas karena ukurannya pas.

"Iya, bagus" jawab Air singkat setelah beberapa detik lamanya. Ia baru menyadari kalau ia sibuk memperhatikan ekspresi gadis itu. Hei, apa yang ia lakukan?!

"Air..."

"Hmm..."

"Aku ingin beli sepatu ini."

"Beli saja."

"Tapi aku ingin kau yang membayarnya."

Air melebarkan matanya. Gadis itu malah tertawa cengengesan. Air kembali memijit pelipisnya sembari menatap Yaya penuh kesabaran. "Kenapa aku yang harus membayarnya sih? Memangnya kau tidak membawa uang?"

Wajah gadis itu memelas. "Dompetku ketinggalan di rumah." Gadis itu cengengesan, yang kemudian dibalas dengan wajah datar Air.

Pemuda itu terdiam, ia sudah menghabiskan uang Rp 600.000 untuk membayar sweater Yaya dan Rp 379.000 untuk jaketnya sendiri. Air melirik harga sepatu yang dipegang Yaya. Matanya langsung menajam, harganya Rp 463.000

Apakah ia harus membelikannya untuk Yaya? Kalau tidak, ia yakin pasti gadis itu akan menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan balon oleh orang tuanya. Gadis itu sekarang sangat mirip dengan anak kecil yang ada di imajinasi Air sih. Kalau seperti ini, hutangnya di bank akan semakin menumpuk. Apa yang akan ia katakan pada sang ibunda nanti?

"Oh ayolah, Air. Aku benar-benar menginginkannya. Ini sangat bagus."

Jauh di dalam lubuk hatinya, Air sangat membenci wajah Yaya ketika memelas seperti itu. Itu sangat menyakitkan baginya. Menghembuskan napas, sebenarnya ia tidak ingin melakukannya tapi...

"Baiklah, akan aku belikan."

Tentu saja, gadis itu sangat gembira. Ia langsung menarik tangan Air menuju ke kasir terdekat. Oh, kenapa Air sekarang langsung takluk dengan rayuan Yaya?

^^...^^

"Terima kasih banyak ya, Air. Kau sangat baik hari ini."

Air berhenti mengaduk-aduk jus lemonnya yang baru datang dan menatap Yaya, memutar bola matanya. "Ya, sama-sama."

Tanpa sengaja, Air memperhatikan raut muka ekspresi gadis itu. Benar-benar cerah dan membuat hatinya menghangat. Ia tak suka melihat gadis itu sedikit saja murung atau sedih. Tapi hari ini, dia benar-benar bahagia. "Sekarang kau tampak sangat bahagia, tetapi aku harus merelakan uangku terkuras banyak."

Yaya tertawa geli. "Maaf ya..." Air menatapnya lurus. "Gara-gara aku, uangmu habis sekarang."

Air menghela napas. "Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula aku sudah berjanji padamu." Gadis itu mengangguk kecil. Yaya tidak bisa menahan senyumnya lagi yang begitu memikat hati para kaum Adam.

"Lagipula kan kau tadi pakai kartu kredit" ujar Yaya mengingat-ngingat.

Air mendengus kasar, enggan bertemu mata dengan gadis yang sudah menghabiskan uang tabungannya seharian. "Tentu saja, tidak mungkin aku membawa uang sejumlah Rp 1.442.000 di dompetku" gerutu Air. Sebelumnya ia sudah mentotal pengeluarannya tadi dengan kalkulator. Gadis di hadapannya mengapit kuat bibirnya, menahan tawa. Sorot mata Air menjadi tajam.

"Lalu kau membayar makan siang kita pakai kartu kredit juga?" tanya Yaya lagi. Dan untungnya taraf kesabaran Air masih ada beberapa persen.

Pemuda itu memutar bola matanya. "Tidak, pakai uangku." Ia bersikeras untuk memesan makanan paling murah dan sederhana di restoran tersebut agar pengeluarannya tidak semakin banyak. Meskipun ia anak orang kaya, ia diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk bersikap hemat dimana saja dan kapan saja.

Yaya manggut-manggut mengerti. Kemudian Yaya mengambil ponselnya untuk bercermin. Oh lihatlah, penampilannya sudah kusut sekarang karena kelelahan. Tapi ia sangat bahagia bisa pergi ke mall bersama Air, untuk pertama kalinya.

"Aku sangat kagum sama Taufan." Yaya mendongak, sedikit menatapnya tajam. "Dia begitu sabar menghadapi gadis matrek sepertimu."

Yaya mendelik tajam, kesal setengah mati karena tiba-tiba Air menghancurkan moodnya. Siapa sih yang suka ketika kita sudah sangat bahagia lalu tiba-tiba membahas tentang mantan? Dan ia juga dijuluki matrek?! "Hei, apa-apaan itu? Asal kau tahu, aku tidak pernah begitu sama Taufan" elak Yaya tidak terima.

Air menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah? Lalu kenapa kau bertingkah seperti ini hanya padaku?" tanyanya tak mengerti, sekaligus penasaran dan ingin mendengar penjelasan dari mulut gadis itu.

Gadis itu bungkam, tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba wajahnya memerah, haruskah ia menjawabnya? Menelan ludah saja susah. Bola matanya bergerak gelisah, membuat Air mengernyit dengan sikapnya yang aneh. Akhirnya, yang bisa Yaya lakukan hanyalah menatap Air sebal. "Mana aku tahu?!"

Air baru saja membuka mulut untuk membalas, namun pelayan restoran datang sambil membawa pesanan mereka. Yaya memesan nasi goreng seafood, sedangkan Air memesan nasi goreng sosis. Dan mereka memesan minuman yang sama yakni jus lemon untuk Air dan jus stroberi untuk Yaya. Harga satu piring nasi goreng Rp 30.000, dan satu gelas jus Rp 25.000. Itu pun yang paling murah. Porsinya juga normal, tidak banyak.

Air menggerutu dalam hati, bisa-bisanya mall tersebut mengambil keuntungan dengan rakusnya. Harga tersebut sangatlah tidak masuk akal. Rasa hidangannya pun juga biasa saja.

"Baiklah, selamat makan!" ucap Yaya semangat, mulai menyantap makanan yang ia pilih. Sementara Air hanya menjawab ucapannya dengan deheman kecil, terlalu lelah untuk menjawabnya dengan kata-kata.

Awalnya, gadis itu menyantap makanannya sambil senyum-senyum gaje saking bahagianya dengan hari ini. Kemudian dahinya mengkerut ketika lidahnya merasakan sesuatu yang sangat ia benci sejak kecil. Langsung saja, perutnya terasa mual. Yaya memejamkan matanya kuat-kuat, ia tidak boleh bertindak konyol di tempat umum begini.

Yaya menghela napasnya kuat-kuat. Mulutnya berhenti mengunyah untuk beberapa saat setelah berhasil menelan makanan terkutuk itu. Spontan, Yaya menutup mulutnya dengan tangan kanan. Sendok tak lagi ia genggam karena rasa mual menguasai pikirannya. Kenapa jadi seperti ini?

Tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. Ditambah lagi rasa mual di perutnya tak kunjung menghilang. Ditatapnya nasi goreng seafood miliknya yang belum tersisa setengahnya. Kemudian matanya membelalak saat melihat sesuatu. Rasa mual itu semakin menjadi-jadi.

"Hoek!"

Air berhenti mengunyah dengan makanan masih ada di mulut. Kalau begini, selera makannya menjadi hilang. Ia mendongak, terkejut melihat Yaya yang tampak menahan diri untuk tidak muntah. Ada apa dengannya? Kemudian pandangannya menjadi horror, jangan bilang kalau Yaya sedang hamil!

"Air, ikut aku!"

"Eh?!"

Dengan wajah bingung luar biasa namun juga sedikit kesal, Air membiarkan tangannya tiba-tiba ditarik oleh Yaya. Ia sudah menduga kemana Yaya akan menariknya. Mereka memasuki toilet yang berada di belakang restoran. Mereka berhenti tepat di depan wastafel.

Sesuai dugaannya, Yaya memuntahkan makanan yang ia suap beberapa menit yang lalu. Gadis itu berkeringat, Air merutuk karena lupa membawa sapu tangan seperti biasanya. Napas Yaya sedikit memburu, sementara Air mengelus-elus punggung Yaya ketika Yaya masih setia memuntahkan makanan yang ada di perutnya.

"Yaya, ada apa denganmu? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Air khawatir. Tentu saja ia khawatir dengan gadis yang awalnya ceria, tiba-tiba menjadi muntah-muntah begini.

Yaya menggeleng kecil, mengisyaratkan agar Air tidak perlu khawatir padanya. Lelaki itu mengerjap, sementara Yaya memutar kran lalu berkumur berkali-kali untuk membersihkan isi mulutnya. Air menahan diri untuk tidak muntah-muntah seperti Yaya juga.

Tak dapat dipungkiri, Air begitu lega melihat Yaya yang sudah baik-baik saja, walaupun ekspresi gadis itu masih terlihat kesakitan. Setidaknya Yaya tidak muntah-muntah lagi. Sadar suasana, Air merobek tisu yang tersedia disana lalu memberikan pada Yaya. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum malu lalu mengelap mulutnya yang basah.

Gadis itu terdiam melamun, sangat terkejut melihat udang ada di muntahannya. Bagaimana bisa?

"Air?" panggil Yaya.

Air menoleh. "Hm?"

Yaya menghela napas kecil. "Kenapa ada udang di makananku? Bukankah aku memesan nasi goreng seafood, bukannya nasi goreng udang?"

Air sweatdrop mendengarnya. "Kau bodoh ya? Tentu saja nasi goreng seafood ada udangnya! Udang kan binatang laut!"

Gadis itu hampir menangis, bukan karena dibentak Air atau dikatai bodoh oleh Air, melainkan mendengar satu persatu kata yang Air ucapkan. "Aku sangat alergi udang."

Air membulatkan matanya kaget. Ia sangat tidak mempercayai tindakan konyol yang Yaya lakukan tadi. "APA?! Lalu kenapa kau memesan nasi goreng seafood kalau kau sendiri alergi udang?!" balasnya dengan oktaf meninggi.

Yaya menghapus air matanya yang lolos mengalir, menatap Air sambil sesenggukan kecil. "Ku kira nasi goreng seafood hanya ada ikan-ikanan saja. Aku kan juga tidak tahu," balasnya sambil memasang tampang watados.

Air menepuk keningnya, bisa-bisanya Yaya tidak tahu hal sekecil ini. Ia benar-benar tidak habis pikir, apakah Yaya berniat ingin bunuh diri? Mulutnya bahkan sampai menganga lebar sebelumnya. Air menghembuskan napasnya kasar, mengacak rambutnya. "Baiklah, ayo kita kembali ke meja."

Gadis itu mengangguk dengan wajah polosnya. Dan Air ingin sekali menempeleng kepala Yaya jikalau tidak ingat kalau gadis itu menyesali perbuatannya.

^^...^^

"Aku tidak mungkin makan nasi goreng ini lagi."

Air menatapnya sembari mengunyah makanannya. Benar juga apa yang dikatakan Yaya. Bisa dibilang gadis itu trauma dengan nasi goreng seafood. Ia menghela napas panjang sebelum menelan makanannya. "Lalu bagaimana? Kau tidak boleh mubazir dan menghabiskan uangku lagi. Uangku tinggal Rp 10.000"

Yaya mengerucutkan bibir. Ia bisa beli makanan apa dengan uang Rp 10.000? Lagipula disini makanannya juga mahal-mahal. Paling murah di atas 30.000. Ia bisa saja makan di rumah, namun perutnya berteriak ingin sekali diisi. Melihat Air yang menyantap makanannya tanpa masalah apapun seakan tidak mengerti penderitaannya, membuat gadis itu kesal setengah mati.

Gadis itu diam-diam memutar otaknya, mencari ide untuk memecahkan masalah ini. Kemudian Yaya memandangi nasi gorengnya serta nasi goreng Air bergantian, dan akhirnya tersenyum tipis.

"Bagaimana kalau kita menukar nasi goreng kita?" usul Yaya sambil tersenyum bangga karena berhasil menemukan ide yang cemerlang.

Air nyaris tersedak. "Apa?! Kau ingin kita menukar nasi goreng kita?" tanyanya tidak percaya, yang dibalas anggukan kecil oleh Yaya. Air mendesah panjang, apa boleh buat? Gadis itu tidak akan menyantap nasi goreng seafoodnya, dan sebenarnya Air juga kasihan dengan gadis itu. Ia mengangguk dengan terpaksa. "Iya, terserah kau saja."

Bohong kalau Yaya tidak senang. Seandainya ia tidak ingat kalau perutnya baru saja sembuh dari mual, ia akan berjingkrak-jingkrak ria. Air menukar piring mereka berdua. Dahinya mengkerut ketika Air memberikan cumi-cumi yang berada di nasi gorengnya ke piringnya.

"Kenapa kau memberikan cumi-cuminya padaku?" tanya Yaya bingung.

"Aku alergi cumi-cumi."

Gadis itu hampir tidak percaya. "Benarkah? Padahal aku sangat menyukai cumi-cumi. Cumi-cumi kan enak."

Air menatapnya. "Justru aku menyukai udang, tapi kau malah alergi udang."

Mulut Yaya menganga tak percaya lalu keduanya saling berpandangan aneh. Air merasa hal ini membuatnya sadar kalau ia ada hubungan yang sulit ia jelaskan kepada gadis itu. Tapi Air tidak bisa mendeskripsikannya. Jadi ia hanya diam, memutuskan kontak pandang dengan Yaya lalu menyantap makanannya.

Yaya menyantap makanannya sambil berpikir. Kenapa ia dan Air bisa sama seperti ini? Ia yang suka cumi-cumi dan alergi udang, justru Air yang menyukai udang dan alergi cumi-cumi. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Gadis itu hanya diam saja. Kalau pun ia bertanya, pasti pemuda itu tidak akan menjawabnya karena tidak mengerti maksudnya.

"Oh iya, kau kan punya kakak. Apakah kau tidak membelikan sesuatu untuk kakakmu?"

Mendengar itu, sontak Air tersedak dan terbatuk-batuk hebat. Gadis itu kebingungan kemudian panik. Sadar akan situasi, Yaya buru-buru menyerahkan gelas berisi jus stroberinya kepada Air tanpa berpikir panjang. Tak ingin menjadi lebih parah, Air menerimanya dan meminumnya sampai tersisa setengah.

Gadis itu nampak mengernyit ketika melupakan sesuatu. Kemudian matanya terbelalak setelah mengingatnya, menatap Air yang menyedot jusnya dengan tatapan horror. Wajahnya memerah ketika menyadari bahwa itu ciuman tak langsung. Tak bisa dicegah kalau ia salah tingkah sekarang.

Air menghela napas lega lalu meletakkan gelas jus Yaya di samping piring Yaya. Ia sempat berpikir kalau ia akan mati saat itu juga. Ia mengusap matanya yang sedikit berair, bodoh sekali. Ia menatap Yaya yang tampak gelisah.

"Kakakku sudah meninggal karena gegar otak parah akibat kecelakaan motor 5 tahun yang lalu." Air membuka mulut dan bercerita. Yaya mengerjapkan matanya, kemudian menatap Air iba.

"Ah, begitu ya? Aku minta maaf. Aku tidak berniat untuk mengingatkanmu pada kakakkmu lagi" ucap Yaya, merasa sangat bersalah, apalagi setelah melihat ekspresi Air yang mendadak murung. Ia tahu, Air tengah melihat masa lalu tadi.

Pemuda itu menggeleng pelan, tersenyum tipis. "Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula kau kan tidak tahu, jadi tidak perlu minta maaf." Yaya mengangguk kecil, menyantap makanannya sambil berpikir. Ia sangat heran karena Air memiliki banyak persamaan serta perbedaan dengannya. Namun keduanya juga sangat berkaitan.

"Kenapa wajahmu memerah?"

Yaya berhenti mengunyah, dan juga otaknya berhenti berjalan. Ia menatap Air dengan tatapan cengonya. Gadis itu menelan kunyahannya dengan susah payah. Ia merutuk, kenapa Air bisa menyadarinya sih? Air menatapnya curiga ketika Yaya tak langsung menjawab pertanyaannya melainkan gelagapan dan salah tingkah. Apa maksudnya coba?

Yaya buru-buru tersenyum. "Ah, tidak kok, tidak apa-apa. Wajahku merah karena kepanasan. Ah ya, kepanasan. Cuaca hari ini kan panas." Yaya tersenyum gugup. Air semakin mengernyit mendengar jawabannya, namun ia tidak memperdulikannya dan memilih untuk melanjutkan santapannya. Sementara itu, Yaya menghembuskan napas lega.

"Ternyata rasa jus stroberi tidak buruk juga ya, enak" gumam Air mengingat rasa jus stroberi milik Yaya barusan.

Gadis itu mengangguk kaku. "Ten-tentu saja! Itu adalah jus favoritku" balas Yaya tergagap. Kalau tidak ada Air di hadapannya, Yaya ingin sekali meremas mulutnya sendiri saking kesalnya.

Jujur saja, Air sedari tadi tidak bisa menghilangkan rasa penasaran, bingung, serta curiganya pada Yaya yang tiba-tiba mendadak aneh begini. Wajah Yaya pun mendadak menjadi merah, lagipula cuacanya juga tidak panas-panas amat.

"Oh... jadi foto dua lelaki di kamarmu itu fotomu dan kakakmu ya?" Yaya teringat pernah melihat foto yang cukup besar terpajang di dinding kamar Air, tepat berhadapan dengan tempat tidur Air. Yang satu tersenyum lebar, yang satu tersenyum tipis. Yaya nyaris menganggap bahwa Air memiliki saudara kembar.

Air mengangguk. "Iya. Waktu itu aku berumur 12 tahun, sedangkan kakakku 17 tahun. Itu foto terakhir kita sebelum kakakku meninggal." Sorot mata Air berubah menjadi sendu.

Gadis itu jujur saja tidak suka dengan ekspresi Air sekarang yang begitu menyedihkan. Dengan cepat, ia memasang senyuman termanis yang pernah ia miliki. "Wow, wajah kalian di foto itu mirip sekali, lebih mirip dari foto yang kau pasang di dompet."

"Kalau di dompet kan, aku masih berumur 5 tahun, dan kakakku berumur 10 tahun" jelas pemuda itu lagi agar Yaya tidak salah paham terus. Wajahnya sedikit memerah ketika Yaya mengatakan kalau dirinya sangat mirip dengan sang kakak. Tentu saja ia senang. Ia sadar, betapa ia rindu dengan sosok kakaknya.

Yaya menggaruk pipinya yang tak gatal, mengingat-ngingat wajah kakak Air di foto yang terpajang di kamar Air. "Ehm... wajahmu yang sekarang sangat mirip dengan wajah kakakmu di foto itu. Tapi kakakmu jauh lebih imut dan menggemaskan. Ah sayang sekali, kenapa dia sudah meninggal ya? Kalau belum, pasti aku akan langsung menyukainya."

Jelas Air langsung kesal setelah Yaya mengatakan kalau kakaknya jauh lebih imut darinya. Memang iya sih, tapi ia tidak suka dikatakan blak-blakan seperti itu. Ah, namanya juga Yaya yang asal nyeplos saja. Ia melirik, gadis itu sepertinya membayangkan sosok kakaknya. Entah kenapa, rasa makanan yang ia kunyah mendadak menjadi hambar.

^^...^^

"Kok kulitku jadi gatal-gatal begini ya?"

Yaya menoleh, mendapati Air yang bergerak gelisah di kursi pengemudi dengan tatapan terfokus pada jalanan. Yaya mengernyit, tidak paham dengan apa yang terjadi pada pemuda di sampingnya. Ia terdiam tatkala Air meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.

Gadis itu melongo ketika Air melepas jas seragamnya. Sebelumnya sih mereka memang melepas jas seragam mereka sebelum memasuki mall. Namun ketika pulang, Air menyuruhnya untuk memakainya agar jas mereka tidak tertukar lagi. Alasan yang logis memang, tapi Yaya merasa itu adalah alasan yang konyol baginya.

Mata Yaya membulat saat melihat sesuatu lain di kulit Air. "Ya ampun, Air! Di kulitmu ada bercak-bercak merah begini!" seru Yaya panik, mendekatkan diri pada pemuda itu.

Air shock mendengarnya. "Eh, apa?! Kok bisa sih?!" balasnya kebingungan, sekaligus menahan diri untuk tidak menggaruk bagian kulitnya yang gatal karena itu bisa membuatnya bertambah parah saja.

Yaya menggigit bibir. "Ah, pasti kau tidak sengaja memakan cumi-cuminya tadi." Air terdiam mendengarnya. "Air, aku minta maaf! Aku benar-benar tidak tahu." Gadis itu merasa sangat bersalah. Ia sadar kalau ia adalah gadis pembawa sial bagi kehidupan Air.

Pemuda itu mendesah pelan, mengusap peluh di keningnya lalu menyalakan AC agar ia tidak berkeringat banyak. Ia baru menyadari kalau tubuhnya penuh keringat dan basah sekarang. "Jangan minta maaf. Ini bukan kesalahanmu. Baiklah, kita harus cepat pulang."

Gadis itu hanya terdiam, ingin sekali menangis tapi ia ia tidak bisa melakukannya. Jadi ia berdoa agar Air cepat sembuh dan tubuhnya kembali ke semula.

^^...^^

Air melangkah cepat memasuki rumahnya karena rasa gatal di tubuhnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya sudah berkeringat, ditambah dengan rasa gatal yang menyerang tubuhnya, membuat Air ingin sekali berteriak sekarang juga.

Kakinya berhenti ketika berpapasan dengan kedua orang tuanya yang sepertinya menanti kepulangannya di sofa ruang tamu. Ia terdiam, kenapa tatapan mereka berubah seperti itu? Mereka berdua berjalan menghampiri Air.

"Air, kamu darimana sih? Kenapa kamu baru pulang jam segini?" tanya Alvina tanpa repot-repot menyembunyikan raut kecemasan di wajahnya. Sementara itu, Adrian, sang ayah menatapnya datar.

"Aku barusan kerja kelompok, Ma. Dan harus dikumpulkan besok, jadinya lama. Jangan khawatir seperti itu. Aku baik-baik saja kok," balas Air, tersenyum tipis. Ia terpaksa berbohong 100% agar kedua orang tuanya tidak semakin khawatir padanya.

"Lalu kenapa kulitmu jadi merah-merah begini?" tanya Alvina kaget. Air menggigit bibir, mustahil kalau kedua orang tuanya tidak menyadarinya. Mata Alvina membulat sempurna. "Kamu habis makan cumi-cumi?" tanyanya lagi.

Air menggigit bibir bawahnya. "Iya, Ma, tapi tidak sengaja. Aku tadi makan nasi goreng seafood karena aku hanya mengincar udangnya, tapi ternyata ada cumi-cuminya. Sudah aku singkirkan, tapi aku kurang teliti dan jadinya yah... seperti ini" jelas Air, tidak sepenuhnya benar karena ia sebelumnya memesan nasi goreng sosis.

Alvina menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Adrian terlihat curiga padanya. Air mengernyit, memangnya ia terlihat mencurigakan ya? Jadi yang hanya bisa Air lakukan saat ini adalah memasang tampang yang meyakinkan.

"Oh iya," Air mendongak, bertemu mata dengan manik sang ibu yang sama dengan manik sang kakak. "Apakah kamu bersama Yaya tadi?"

Dahi Air mengekerut mendengar pertanyaan sang ibu. Tidak ingin menjadi anak durhaka karena terlalu sering berbohong, Air mengangguk. "Tentu saja. Kita satu kelompok."

"Lalu apakah kamu juga menyukai Yaya?" tanya Alvina lagi.

Pertanyaan tersebut bagaikan petir yang menyambar jantungnya. Kenapa ibunya harus menanyakan hal ini padanya? Apakah begitu penting sampai Alvina menatapnya dengan tatapan sangat mengintrogasi? Apakah ini adalah hal yang dilarang? Sontak, Air menggeleng. "Tidak, aku hanya menganggapnya sebagai teman sebangku." Alvina mengangguk puas, membuat Air mengernyit. "Memangnya ada apa sih? Kenapa kalian seperti ini hari ini?"

Alvina hendak menyahut namun sang suami lebih dulu menyahut. "Tidak ada, Air. Lebih baik kau ke kamar saja dan minum obat."

Sebenarnya Air masih penasaran dan ingin sekali mendesak sang ibu agar menjawab pertanyaan akhirnya. Namun melihat wajah sang ayah yang sangat tidak bisa dibantah, maka Air mengalah. Ia menaiki tangga yang akan menghubungkannya dengan kamarnya.

Setelah Air menghilang dari jangkauan mata mereka, Adrian menatap Alvina dengan sedikit kesal. "Alvina, apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa menanyakan hal itu karena Air bisa curiga padamu" omel Adrian yang langsung mengubah raut muka Alvina.

"Iya, aku minta maaf. Tapi ini juga demi kebaikan anak satu-satunya kita, Air. Aku tidak ingin hal yang sama terulang lagi kepada anak kita. Sudah cukup kita kehilangan Api, dan aku tidak ingin kehilangan Air juga."

Adrian menghela napas, sangat mengerti perasaan yang dirasakan oleh Alvina. "Iya, aku tahu dan aku juga tidak ingin mengalaminya lagi. Tapi Yaya tidak ada hubungannya dengan gadis itu."

Alvina tanpa sadar mendecakkan lidahnya karena pendapat mereka selalu saja berbeda, apalagi tentang putra mereka. "Adrian, wajah Yaya benar-benar mirip dengan wajah Melissa. Dan aku yakin kalau Yaya adalah adiknya Melissa."

Adrian memutar bola matanya. "Tidak selamanya orang yang wajahnya mirip itu kakak adik. Apakah kau tidak tahu kalau ada 7 orang berwajah mirip di dunia ini?" Alvina bungkam. "Sudahlah, lebih baik kita istirahat saja mumpung pekerjaan kita hari ini sedikit." Dan Alvina hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Sebenarnya ia masih kesal pada suaminya yang tidak mempercayai dugaannya, tapi ya sudahlah. Lebih baik ia istirahat saja hari ini.

^^...^^

Taufan memandang murka tembok berwarna putih lecek di hadapannya. Tumbuh lumut-lumut di beberapa bagian tembok tersebut. Tapi bukan itu yang ia pikirkan, melainkan fakta yang baru saja ia ketahui.

Ia masih ingat, sangat ingat dengan perjanjiannya dengan Amy beberapa hari yang lalu. Entah setan apa yang berhasil memengaruhi pikirannya, ia langsung menyetujui rencana gadis itu tanpa berpikir panjang. Mungkin waktu itu otaknya terlalu lelah hanya sekedar untuk memikirkan hal itu.

"Bagaimana kalau kita merencanakan sesuatu. Yah... sesuatu yang bisa membuat Yaya menyesal karena menolak ajakanmu untuk balikan."

"Rencana seperti apa?"

"Besok kan kau ada pertandingan basket dengan sekolah lain? Nah, dari situlah kita bisa menjalankan rencana kita."

"Iya, memangnya rencana apa?"

"Nah, begini, aku sangat yakin kalau timmu besok akan memenangkan pertandingan. Setelah kau berhasil memenangkan pertandingan, aku akan berlari memasuki arena pertandingan dan memelukmu sebagai ucapan selamat. Bagaimana?"

"Huh, begitu ya? Jadi aku harus membalas pelukanmu juga?"

"Tentu saja, dengan begitu Yaya akan langsung sedih dan cemburu. Aku sangat yakin kalau rencana kita berhasil."

"Tapi kalau kalah bagaimana?"

"Ish... kau ini! Aku yakin kalau kau menang kok!"

"Iya iya, baiklah. Aku setuju."

Taufan menggeram kesal, mengacak rambutnya frustasi. Ia sangat menyesalinya sekarang. Apalagi hal itu membuat Yaya menangis di pelukan Air. Ia benar-benar bodoh, seharusnya kan Yaya menangis di pelukannya dan mengemis agar ia kembali mengajak gadis itu balikan. Tapi nyatanya...

"Argghhh!"

BUGH! BUGH! BUGH!

Taufan memukul tembok di hadapannya. Ia sudah tidak peduli jika tembok itu retak atau bahkan roboh. Kalau perlu, ia bisa membayar dan menyuruh seseorang untuk memperbaikinya. Lagipula tidak ada yang tahu kalau ialah penyebab semua ini.

Napas Taufan memburu, dengan tangan terkepal masih setia menempel tembok. Kepalanya menunduk, Taufan berusaha untuk menetralkan deru napasnya yang tidak karuan. Seperti inilah dia, napasnya tidak beraturan jikalau ia emosi meledak.

Kemudian matanya menerawang langit-langit, menghela napas ketika bayangan sesuatu melintas di otaknya.

FLASHBACK

"Whoaa... Gopal! Akhirnya kau masuk sekolah juga setelah seminggu ini. Maaf ya, aku tidak bisa menjengukmu. Kau tahu kan? Aku harus mempersiapkan diri untuk pertandingan basket. Dan lihatlah hasilnya, timku menang!"

Mendengar itu, Gopal mendengus. Ia tak menyangka jikalau sahabatnya lebih mementingkan pertandingan basket ketimbang dirinya, meskipun dirinya sekarang sudah baik-baik saja. Tapi tetap saja Gopal ingin sekali Taufan menjenguknya, sekali saja. "Iya iya, terserah kau saja."

Taufan tersenyum, menepuk pelan bahu Gopal ketika Gopal meletakkan tas di kursi. Ia merasa sangat bahagia karena sahabatnya satu kelas dengannya untuk ketiga kalinya. Gopal menatapnya serius. "Oh iya, tumben Yaya tidak kesini. Ada apa?"

Pemuda penyuka warna biru tua itu terdiam, lupa memberitahu kepada sahabatnya bahwa banyak sesuatu yang berbeda di saat Gopal tidak masuk. "Aku putus dengan Yaya seminggu yang lalu."

Tertera jelas ekspresi shock di wajah Gopal. "Apa?! Putus?! Kok bisa?!"

Wajah Taufan berubah menjadi murung, sementara Gopal menatapnya bingung. Taufan menjatuhkan diri di kursinya. Lalu Gopal menduduki kursinya sendiri yang memang satu bangku dengan Taufan, memperhatikan ekspresi sahabatnya yang begitu menyedihkan. "Yaya sudah tidak mencintaiku lagi, dia sekarang menyukai Air."

Mata Gopal membulat tak percaya. "Benarkah?! Tidak mungkin Yaya seperti itu. Aku sangat tahu kalau dia sangat sangat mencintaimu, Taufan. Kau ini bagaimana sih?"

Taufan menatapnya datar. "Iya, itu dulu. Sekarang sudah beda." Gopal mengerjapkan matanya tak mengerti. Taufan menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Waktu itu, aku lihat Yaya dipeluk sama Air, seperti di film-film itu. Dan mereka saling berpandangan. Sudah begitu, mata mereka berdua tidak berkedip pula!"

Pemuda bertubuh gempal itu masih tidak percaya dengan penjelasan Taufan. "Yah... mungkin saja Yaya terpeleset lalu Air menolongnya. Bisa juga kan?" Taufan mendelik, membuatnya meneguk ludah. "Ok, lalu apa yang kau lakukan setelah itu?" tanya Gopal mengalihkan topik. Ia paling tidak mau menghadapi Taufan yang meledak-ledak.

Jari telunjuk diletakkan dibawah dagu, memasang pose berpikir. Netra Taufan bergerak-gerak, mengingat-ngingat kejadian itu. "Sepulang sekolah, aku berniat menciumnya." Mata Gopal kembali membulat total. "Tapi sayangnya, dia menolaknya mentah-mentah. Aku melakukannya sesuai dengan saran Amy. Kata dia, kalau aku menciumnya dan Yaya membiarkannya, itu berarti Yaya benar-benar mencintaiku. Kalau tidak, sebaliknya, Yaya tidak benar-benar mencintaiku."

Taufan tak mengerti saat Gopal memandangnya kesal. "Kenapa kau malah menuruti saran Amy sih?! Apakah kau tidak tahu kalau Amy begitu menyukaimu dan berniat untuk menghancurkan hubunganmu dengan Yaya sejak dulu?!

Mulut Taufan menganga, matanya membulat, menunjukkan betapa shocknya dia setelah mendengar penuturan Gopal. Pemuda bertubuh gempal itu menghela napasnya pelan. Ia tahu, ia tidak boleh menyalahkan Taufan meskipun disini yang salah sebenarnya Taufan.

"Benarkah itu? Amy menyukaiku sejak dulu?" tanya Taufan lagi, masih tidak percaya.

Gopal memutar bola matanya. "Ya iyalah. Masa' sih aku bohong?"

Gopal mendongak ketika Taufan tiba-tiba berdiri dengan murka. Ia meneguk ludah, sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Tapi ia tidak bisa membohongi Taufan terus karena Taufan berhak tahu soal ini, agar Taufan tidak lagi mempercayai Amy dan terpengaruh oleh rencana licik gadis itu.

"Grrrr... dia benar-benar menyebalkan! Beraninya dia mempengaruhiku selama ini?!"

FLASHBACK OFF

"Grrrr... semuanya menyebalkan! Terutama kau, Amy! Hiyahhh...!"

Taufan kembali memukul tembok di hadapannya bertubi-tubi, tak peduli darah mulai mengaliri tangannya. Rasa sakit tidak begitu terasa, melainkan rasa amarah sudah menguasai urat syarafnya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar marah seperti ini, apalagi karena dibohongi dan telah dipengaruhi dengan seenaknya.

Seandainya ia tahu hal ini sejak dulu, hubungannya dengan Yaya akan baik-baik saja meskipun Amy berusaha mendekatinya. Yaya juga tidak akan berpindah hati pada pemuda pendiam seperti Air. Kalau saja ia mempercayai penjelasan Yaya, ia akan bahagia selamanya bersama Yaya. Ia ingin sekali menonjok dirinya sendiri yang tidak peka dengan perasaan orang.

Seandainya saja waktu bisa diputar, Taufan akan memperbaiki semuanya sebelum hal seperti ini terjadi. Taufan mencakar tembok itu hingga serbuk-serbuk cat tembok mengisi kukunya. Netra Taufan memandangi darah kering yang masih melekat di tangannya.

"Taufan, ada apa denganmu?"

Taufan mendecih mendengar suara yang amat ia benci mulai sekarang. Dengan berat hati, ia menolehkan kepala, mendapati gadis berambut pirang melangkah mendekatinya dengan khawatir. Ia mendecak, ia tidak membutuhkan kekhawatiran dari gadis itu.

"Ya ampun, tanganmu berdarah! Apa yang kau lakukan?!"

"Pergi dari sini!"

Amy mengerjap, tak mengerti kenapa Taufan tiba-tiba mengusirnya. Apalagi melihat ekspresi pemuda itu yang tampak sangat membencinya. Tidak mungkin kan Taufan yang notabenenya adalah pemuda yang ia sukai sejak 2 tahun yang lalu tiba-tiba membencinya? "Memangnya ada apa?"

"KU BILANG PERGI DARI SINI!"

Mata Amy memanas. "Kenapa kau tiba-tiba mengusirku, Taufan? Jelaskan padaku dan aku akan pergi dari sini."

Taufan menggertakkan giginya. Ia menoleh pada Amy dengan wajah seram, memandang gadis itu dengan penuh rasa benci dan murka, membuat nyali Amy ciut. Belum pernah Amy mendapatkan tatapan seperti itu dari Taufan.

"Kau... kau sudah menghancurkan hubunganku dengan Yaya! Iya kan?! Ayo ngaku!"

Gadis itu tercengang, tak menyangka Taufan akan menuduhnya seperti ini walaupun memang ia yang melakukannya. Tapi siapa yang memberitahunya? Ingin ia berbohong, tapi melihat wajah Taufan yang tidak bisa lagi dibohongi, Amy menyerah. "Darimana kau tahu?"

"Gopal."

Gadis itu benar-benar kesal setengah mati dengan Gopal. Berani-beraninya Gopal memberitahu hal ini pada Taufan. Ingatkan Amy untuk balas dendam pada Gopal nanti.

"Aku sangat membencimu, Amy. Sangat membencimu melebihi apapun. Sekarang kau pergi dari sini dan jangan menganggu hidupku lagi! PERGI!"

Hatinya retak mendengar suara Taufan yang membentaknya dengan penuh emosi seperti ini. Ia menyadari kalau ia begitu mencintai Taufan namun Taufan tidak sekalipun pernah melihat ke arahnya. Miris sekali. "Aku melakukan itu karena aku sangat mencintaimu, Taufan. Aku tidak suka melihatmu bahagia bersama orang lain, apalagi dengan Yaya!"

Pemuda itu tak lagi kaget karena ia sudah tahu lebih dulu, dan Amy tidak memperdulikan wajah datar Taufan. Yang terpenting, perasaannya sudah terungkap.

Napas dihembuskan perlahan. "Kau seharusnya tidak menjadi PHO licik seperti ini karena aku sangat membencinya." Amy terdiam mendengarnya. Tubuhnya membeku, memandangi Taufan dengan mata berkaca-kaca. "Baiklah, kalau kau tidak mau pergi, aku saja yang pergi karena aku muak melihat wajahmu."

Kaki Taufan mulai melangkah menjauh, membuat Amy bertambah kesal sekaligus sedih karena Taufan benar-benar marah dan membencinya sekarang. "Kau akan menyesal kalau kau tidak mau menjadi pacarku, Taufan!"

Langkah Taufan sempat berhenti, pemuda itu sedikit gelisah mendengar penuturan Amy. Tapi kemudian ia kembali melangkahkan kakinya lagi, membuat gadis itu menggeram kesal dan mengacak-acak rambutnya.

TBC

Maaf ya baru update sekarang. Author lagi sibuk-sibuknya sekolah nih, masa liburan sudah habis. Padahal kan yang liburan masih kurang puas :v maklum author masih SMA kelas 1 :v

Nah, gimana menurut kalian chapter ini? Bagus atau jelek? Kirim jawabannya lewat review ya...

Maaf juga yang sudah menunggu lama ff ini, semoga tidak kecewa dengan chapter ini ya...