"Mama, Papa, aku berangkat sekolah dulu ya?" ujar Yaya lalu mencium punggung tangan sang ibu dan juga sang ayah.
Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Yaya. Hati-hati, sayang!"
Yaya mengangguk lalu berlari menuju mobil yang biasanya mengantarnya ke sekolah. Ia melihat ayahnya mencium kening ibunya, lalu ibunya mencium punggung tangan ayahnya. Mau tak mau, ia tersenyum melihatnya.
"Untung saja keluargaku masih lengkap dan harmonis."
Ketika hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba datanglah seseorang yang menaiki sepeda ninja berwarna oranye kombinasi hitam dan berhenti di depan rumahnya. Yaya melongo, ia tahu betul siapa dia.
"Ah, Boboiboy! Tante rindu sekali padamu."
"Apakabar, Boboiboy?"
Boboiboy membuka helmnya lalu digantungkan di spion. Ia tersenyum lebar dan turun dari motornya, menghampiri kedua orang tua Yaya untuk mencium punggung tangan keduanya. "Aku juga rindu sekali sama Tante Dinia." Boboiboy menoleh ke ayah Yaya. "Kabarku baik, Om Danu. Bagaimana dengan Om?"
"Syukurlah kalau begitu. Kabar Om juga baik." Lalu ayah Yaya yang bernama Danu itu mengecek arlojinya. "Baiklah, saya berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Danu berlari menuju mobilnya yang berwarna hitam, sedangkan Yaya masih terpaku di tempatnya. Dinia mengisyaratkan Yaya agar menghampiri Boboiboy. Yaya pun menurut. Boboiboy sangat senang Yaya menghampirinya.
"Yaya, kita berangkat bersama yuk!" ajak Boboiboy.
"Loh, tapi kan aku berangkat diantar sama sopir aku."
Boboiboy terlihat kecewa. Buru-buru Dinia memberikan delikan penuh arti kepada putri kesayangannya, membuat Yaya mengernyit. "Yaya, kamu berangkat sama Boboiboy saja. Apa kamu tidak kasihan sama Boboiboy? Dia kan sudah capek-capek kesini." Boboiboy tersenyum sumringah mendengarnya.
Yaya mendengus pelan. "Siapa yang suruh datang ke sini?" batinnya bertanya. Yaya berdehem. "Hm, baiklah. Aku berangkat dengan Boboiboy saja" balasnya dengan terpaksa.
"Nah, gitu dong. Terima kasih, Yaya." Yaya mengangguk. "Tante, kami berdua berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan!"
Boboiboy berlari menuju motornya dan memakai helm. Ia juga memberikan satu helm lagi yang dibawanya dari rumah kepada Yaya.
^^...^^
Boboiboy menghentikan motornya di pinggir jalan, agak jauh dari komplek perumahan gadis yang diboncengnya. Yaya mengerutkan keningnya lalu turun dari motor, diikuti oleh Boboiboy. Mereka kemudian sama-sama membuka helm yang mereka kenakan.
"Kenapa kita berhenti? Motornya mogok?" tanya Yaya pada Boboiboy yang sedang merapikan surai hitamnya.
Boboiboy menggeleng, tersenyum penuh arti pada Yaya. "Tentu saja tidak. Motorku kan motor mahal, tidak mungkin mogok" balasnya sombong.
Gadis itu menahan diri untuk tidak menjitak puncak kepala Boboiboy. "Jadi kenapa?"
Boboiboy berdehem pelan, melangkah mendekati Yaya, membuat gadis itu menjadi was-was. "Aku ingin minta maaf padamu."
"Minta maaf kenapa?" tanya Yaya kebingungan.
Napas dihembus pelan. "Kau lupa ya? Soal kemarin malam itu, waktu Study Tour."
Yaya terdiam, mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi kemarin malam, di saat kemah. Kemudian ia mendelik, wajahnya memerah. Boboiboy menjadi sedikit takut. "Oh, yang itu?" Boboiboy mengangguk takut-takut. Ekspresi Yaya berubah menjadi serius. "Sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Lelaki itu dapat merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia menelan ludahnya susah payah. "Tanya apa?"
"Sebenarnya waktu itu, kau kenapa sih? Jelaskan sejelas-jelasnya."
Tiba-tiba saja Boboiboy menggenggam kedua tangan Yaya, membuat Yaya terperangah. "Yaya, aku minta maaf. Sumpah, aku tidak ada niatan apapun, termasuk menciummu. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti itu, mungkin aku ketempelan sama hantu cowok yang menyukaimu" jelas Boboiboy dengan ekspresi memelasnya.
Gadis itu agak kecewa mendengarnya, entah karena apa. Tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak. Ia pun tak protes saat lelaki itu menggenggam tangannya. "Terus, kenapa minta maafnya baru sekarang? Kenapa tidak dari kemarin saja?"
Boboiboy cengengesan. "Yah... aku lupa. Baru ingat tadi pagi. Jadi aku langsung minta maaf mumpung ingat."
Yaya hanya ber'oh' ria sambil manggut-manggut. "Jadi kau mengajakku berangkat sekolah bersama hanya untuk minta maaf? Biasanya kan kau berangkat sekolahnya siang."
Boboiboy cemberut mendengarnya. "Ya... tidak juga. Hanya ingin berangkat pagi saja, sekalian minta maaf padamu."
Gadis itu tak tahu harus membalas apa. Ia kembali menatap Boboiboy dengan tatapan datar. "Urusannya sudah selesai kan?" Boboiboy mengangguk. "Jadi bisa kan kau melepaskan tanganku?"
Pemuda itu menganga lalu melihat tangannya yang ternyata masih menggenggam tangan Yaya. Buru-buru ia melepasnya. Wajahnya memerah karena malu. "Eh, maaf, Yaya. Aku tidak tahu. Maaf ya."
"Hm, aku tahu itu." Yaya menyibak rambutnya pelan lalu melihat arlojinya. "Baiklah, ayo kita jalan lagi, Boboiboy. Kita bisa terlambat."
Boboiboy tertawa pelan. "Yaelah, Yaya. Masih jam setengah 7 kok. Tenang saja."
Gadis itu mendengus pelan. "Sudahlah, ayo cepat!" ujar Yaya sambil mengenakan helm kembali.
"Kau tidak tahu ya kalau aku naik motornya cepet sekali?"
"Hm, aku tahu." balas Yaya datar. Yaya mendelik saat Boboiboy masih belum mengenakan helm. "Cepat pakai helmmu, Boboiboy!"
Boboiboy tersentak. "Iya, Yaya. Aku pakai helmnya sekarang." Boboiboy langsung mengenakan helm dengan cepat saat tahu Yaya menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan. Dalam hati, pemuda itu sangat senang karena Yaya terus memandanginya meskipun sebenarnya adalah mengawasinya.
^^...^^
Boboiboy mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi seperti biasanya. Berkali-kali Yaya berteriak protes tetapi ia abaikan. Tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri karena bisa berangkat sekolah bersama Yaya, apalagi Yaya duduk di belakangnya dan memeluk pinggangnya dengan erat. Yah, itu bukan rencananya sih. Ia sudah terbiasa naik sepeda motor dengan kencang.
"Boboiboy, lampu merah! Berhenti!"
Boboiboy gelagapan dan langsung menekan rem sedalam-dalamnya. Ia menghembuskan napas lega karena tidak sampai menabrak kendaraan di depannya, sekaligus tidak sampai membuat Yaya terluka.
"Hei, Boboiboy! Apa yang kau lakukan, hah?! Kau sengaja ya?!" teriak Yaya geram, sambil mengelus-elus jidatnya yang terantuk kaca helm sekaligus punggung Boboiboy.
Boboiboy meringis pelan, menoleh ke belakang. "Aduh, maaf, Yaya. Aku tidak tahu kalau ada lampu merah di daerah ini."
Yaya melongo. "Bagaimana bisa tidak tahu?! Kau kan selalu lewat jalan ini kalau mau ke sekolah?! Oh, kau ingin mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Iya kan?!"
Tentu saja Boboiboy kesal setelah dikatakan begitu. "Jangan menuduhku yang tidak-tidak dong! Aku sedikit melamun tadi. Makanya aku lupa kalau ada lampu merah."
Penjelasan Boboiboy justru membuat Yaya semakin naik darah. "Apa kau bilang?! Melamun?! Apa kau tidak tahu kalau naik kendaraan sambil melamun itu bahaya?!"
"Iya iya, Yaya. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Jangan marah-marah lagi."
Gadis itu mendengus sebal lalu membuang muka. Boboiboy yang melihat itu mendesah frustasi lalu menolehkan kepalanya ke depan lagi. Akan sangat sulit mengembalikan mood Yaya, apalagi gadis itu badmood di pagi buta begini. Saat menoleh ke kiri, betapa terkejutnya ia melihat sahabatnya yang berambut raven menaiki sepeda motor ninja sama sepertinya, tetapi milik sahabatnya berwarna ungu tua.
"Loh, Fang?"
Merasa dipanggil, pemuda itu menoleh. Yaya yang juga mendengarnya, celingukan mencari sahabatnya yang bernama Fang. Fang terkejut melihat Boboiboy ternyata ada di sampingnya, kemudian ia bertemu mata dengan Yaya, membuat Fang semakin terkejut lagi. Ia membuka kaca helmnya.
"Oi, Fang! Sendirian?"
"Ya iyalah. Memang biasanya bagaimana?" balas Fang dengan kesal, kesal karena Boboiboy berangkat sekolah bersama Yaya. Hatinya mulai panas sekarang.
Boboiboy tersenyum jahil. "Yah... seharusnya kau menyusul Ying tadi, sepertiku yang menyusul Yaya" balasnya sambil menghendikkan bahunya ke arah Yaya. Gadis itu memutar bola matanya lalu kembali membuang muka.
Fang mendelik. Ia hendak menjawab namun lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Ia langsung tancap gas, meninggalkan Boboiboy yang terbengong-bengong. Ingatkan Boboiboy untuk tidak mengebut lagi agar Yaya tidak semakin ngambek padanya.
^^...^^
Yaya bisa bernapas lega karena dia dan Boboiboy sudah sampai di tempat parkir sekolahnya. Wajahnya langsung masam saat melihat sahabatnya yang bertubuh gempal memakirkan motornya. Motor ninja berwarna hijau tua, siapa lagi kalau bukan Gopal? Yang lebih parahnya lagi, Boboiboy malah memakirkan motornya di samping motor Gopal. Tabahkan hati Yaya ketika mendengar celotehan Gopal nanti.
"Cieee... yang naik motor bareng. PJ nya dong!" goda Gopal.
Yaya langsung turun dari motor Boboiboy dan membuka helm. "PJ, PJ, PJ apaan coba?!" balasnya sinis lalu melemparkan helmnya kepada Boboiboy, yang langsung ditangkap oleh sang empunya. Dengan wajah masam, gadis itu langsung melangkahkan kaki meninggalkan Boboiboy dan Gopal yang terbengong-bengong.
Gopal menatap Boboiboy. "Si Yaya kenapa sih? Sepertinya dia badmood" tanyanya keheranan dan sesekali melirik punggung Yaya yang semakin kecil dari jangkauan matanya.
Boboiboy mendesah kecil, mengangguk. "Memang iya" jawab Boboiboy singkat, yang mengundang tanda tanya bagi Gopal.
^^...^^
"Loh, Pak, kenapa berhenti?"
"Sebentar, Non. Ada yang tidak beres sama ban depan mobilnya."
Ying melongo saat sopir pribadinya turun dari mobil. Ia pun ikut turun dari mobil karena penasaran. Sopir pribadinya tampak kecewa dan panik. "Kenapa, Pak?"
"Ini, Non, ternyata ban depannya bocor. Padahal tempat tambal bannya masih jauh dari sini."
Gadis berkacamata itu tercengang. "Loh, kok bisa sih, Pak? Aduh, bagaimana nih? Bisa-bisa aku terlambat ke sekolah" kata Ying dengan panik.
Ketika hendak menjawab, sopir pribadi Ying melihat seseorang menaiki sepeda motor ninja hitam berhenti di samping Ying. Gadis itu menoleh dan terkejut melihatnya. Meskipun wajahnya tertutupi helm, Ying tahu betul siapa dia.
"Uhm... Anthony?"
Pemuda itu membuka helmnya, masih menaiki motor. "Ying, kenapa kau masih ada disini?"
"Ini loh, ban mobilku bocor. Tempat tambal bannya juga jauh dari sini" jawab Ying, tidak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya. Ia juga tidak pernah datang terlambat ke sekolah, maka dari itu Ying sangat panik.
Anthony melirik mobil hitam di sebelahnya lalu berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kau berangkat sekolah bersamaku saja? Biar tidak terlambat."
"Iya, Non. Kalau Non menunggu saya, bisa-bisa Non terlambat ke sekolah" sahut si sopir pribadi Ying.
Siapapun tahu kalau Ying tidak suka merepotkan orang lain. "Eh, tapi-"
"Bel masuk berbunyi 5 menit lagi loh" potong Anthony dengan cepat, memperlihatkan layar arlojinya yang berwarna hitam.
Mata Ying membulat sempurna karena kaget. "Uh... iya deh. Aku berangkat bersamamu saja." Ying langsung naik ke motor Anthony, sementara Anthony menyerahkan helm yang menganggur sambil tersenyum.
"Pegangan kuat-kuat ya. Aku naik motornya sangat cepat loh."
"Eh, apa? Huahhh..."
Belum sempat Ying menuruti apa kata Anthony, motor yang dinaikinya langsung melesat begitu cepat. Ying gelagapan dan langsung memeluk pinggang Anthony erat-erat saking takutnya. Anthony merasakan kalau jantungnya berdebar-debar. Dibalik kaca helm, ia tersenyum tipis.
^^...^^
"Wuih... kencang sekali" ujar Ying takjub setelah turun dari motor Anthony.
Mendengar itu, Anthony tertawa kecil. "Ehm... maaf ya. Itu sudah kebiasaan. Lagipula waktunya juga mepet. Untungnya kita tepat waktu".
Ying mengangguk dan tersenyum. Melihat senyuman itu, jantung Anthony kembali berulah, membuat si empunya jantung salah tingkah.
"Terima kasih ya sudah mau mengantarku sampai sini. Kalau kau tidak ada, pasti aku sudah sangat terlambat."
Anthony tersenyum tipis. Rona merah menjalari pipinya. "Iya, sama-sama, Ying. Aku jadi punya teman ke sekolah" balas Anthony lalu tertawa. Ying pun ikut tertawa.
"Oh iya, biasanya kan kau berangkat sekolah bersama Thalita. Dimana dia?" tanya Ying memecah kecanggungan diantara mereka berdua.
Anthony tersentak kecil. "Oh, Thalita? Dia berangkat duluan tadi. Makanya aku sendirian."
Ying lagi-lagi mengangguk, tak tahu harus merespon apa. Anthony sedikit kecewa karena gadis di hadapannya termasuk gadis yang irit bicara jika bersama dengan orang yang tidak begitu dikenalnya. Setahunya, Ying adalah gadis yang cerewet. Berarti ia termasuk orang yang tidak begitu dikenal Ying dong?
"Anthony, kita harus cepat-cepat ke kelas."
Pemuda itu kembali tersentak karena terus saja melamuni kekecewaannya. Ia pun berlari bersama dengan Ying menuju ke kelas mereka yang berada di lantai 2.
^^...^^
"Ying, kenapa kau terlambat? Tumben" tanya Yaya ketika melihat Ying masuk ke dalam kelas, bersama dengan Anthony.
"Ban mobilku bocor. Jadinya aku sedikit terlambat. Untung ada Anthony" balas Ying lalu melirik pemuda yang ia sebut namanya dan tersenyum. Anthony membalas senyumannya dengan canggung lalu duduk di bangkunya.
Yaya menoleh ke Anthony. "Anthony, terima kasih ya!"
Anthony mengangguk. "Iya, sama-sama, Yaya."
Boboiboy menoleh ke arah Fang yang sedang melamunkan sesuatu. Kebetulan Fang duduk di belakangnya. "Oi, Fang! Coba kalau kau menyusul Ying tadi, pasti Ying tidak akan terlambat. Betul kan, Gopal?" godanya pada pemuda oriental itu sambil melirik ke Gopal yang duduk di samping kanan bangkunya.
Gopal mengangguk. "Betul tuh, Fang."
Fang jadi tersentak mendengar penuturan Boboiboy sekaligus Gopal. Ia langsung menjitak kepala Boboiboy, membuat pemuda itu meringis dan bersungut-sungut. "Apaan sih? Bisa diam, tidak?"
"Kalian ini kenapa?" tanya Ying kebingungan melihat tingkah ketiga sahabat laki-lakinya.
Fang menggeleng. "Tidak apa-apa."
Sebenarnya Ying masih penasaran karena mereka bertiga terlihat tengah menyembunyikan sesuatu. Ketika ia hendak bertanya lebih jauh, Bu Zila masuk ke dalam kelas.
^^...^^
Boboiboy mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang belum pernah ia datangi seumur hidup. Dengan wajah kebingungan layaknya anak kecil yang tersesat di tengah hutan, Boboiboy menjelajah lebih jauh dengan memasukinya. Rambut yang tak gatal ia garuk dengan pelan. Warna-warni yang ada di depan matanya malah membuatnya bingung.
Barang-barang cantik itu terjejer dengan rapi di rak masing-masing. Ada kalung, jepit rambut, cincin, jam tangan, bando, tas, sepatu, dan berbagai aksesoris wanita lainnya. Ya, sekarang Boboiboy berada di toko aksesoris wanita.
Inginnya sih ia mengajak Yaya kesini jikalau tidak ingat kalau Yaya sedang ngambek padanya. Boboiboy berhenti di depan sebuah tas cantik berwarna putih. Ia mengambilnya lalu memperhatikannya lekat-lekat, apakah bagus atau tidak. Harganya sih Boboiboy tidak mempermasalahkannya. Yang menjadi masalah, apakah tas itu cocok untuk wanita yang ia cintai selama ini?
Boboiboy mengerang pelan. Ia ingin menjambak rambutnya sendiri jika saja ia tak ingat dimanakah ia sekarang. Aksesoris yang terpajang di depan matanya memang cantik-cantik. Saking cantiknya, Boboiboy bingung harus memilih yang mana.
Kedua mata Boboiboy kini tertuju pada bando. Boboiboy mendekatinya, lalu mengambilnya dan mengamatinya. Bando itu berwarna pink cerah. Di sisi kanannya ada boneka beruang kecil berwarna putih. Pemuda itu tiba-tiba tersenyum-tersenyum sendiri. Untungnya tidak ada orang yang melihatnya.
"Bando lucu ini cocok sekali untukYaya" batin Boboiboy, seraya membayangkan Yaya memakai bando yang tengah dipegangnya. Saat mengingat sesuatu, buru-buru Boboiboy menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bando itu Boboiboy letakkan di tempatnya semula. "Aku kan kesini mau beli hadiah ulang tahun untukMama, bagaimana sih?"
"Loh, Boboiboy? Apa yang kau lakukan disini?"
Reflek, pemuda yang kini mengenakan jaket oranye dan topi berwarna senada yang dikenakan terbalik, itu menoleh, lalu membulat saat tahu siapa yang memanggilnya. Yaya, meletakkan jepit rambut di tempatnya semula lalu menghampiri Boboiboy dengan ekspresi bingung luar biasa. Bagaimana tidak? Boboiboy yang notabenenya adalah laki-laki malah berada di mall bagian aksesoris wanita. Siapapun tahu kalau Boboiboy adalah jomblo. Sudah sepantasnya Yaya curiga.
"Eh, Yaya!" pekik Boboiboy. "Ehm… kau ngapain ada disini?" tanyanya balik.
Yaya memutar bola matanya. "Ini lagi, malah nanya balik. Jawab dulu pertanyaanku."
Boboiboy terkekeh. "Sebenarnya hari ini Mamaku ulang tahun, tapi aku masih bingung mau ngasih kado apa. Yah, aku mencoba kesini tapi aku malah bingung. Semuanya bagus-bagus sih" curhat Boboiboy. Si gadis yang menjadi mendengar, hampir saja tertawa.
"Oh... jadi gitu toh? Kalau aku sih, ya... kau tahu kan? Aku ingin membeli jepit rambut, tapi tidak ada yang bagus."
Boboiboy mengangguk kecil, tidak tahu harus membalas apa. Ia kebingungan saat Yaya memandanginya dari atas sampai bawah. "Hm... Tante Septika hari ini ulang tahun ya? Kalau ibu kita ulang tahun, kita tidak perlu repot-repot ngasih kado yang mahal-mahal, tapi kalau yang mahal-mahal sih ya tidak apa-apa" ujar Yaya, si Boboiboy mendengarkannya baik-baik. "Ehm… kalau dilihat-lihat, Tante Septika menyukai hal-hal yang sederhana, seperti Mamaku. Jadi kau tidak perlu memberikan hadiah yang mahal-mahal" lanjutnya.
Boboiboy menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu meletakkan jari telunjuk di bawah dagu dengan pandangan menerawang langit-langit toko. "Uhm… hal-hal yang sederhana ya? Contohnya apa?" tanya Boboiboy yang masih belum mengerti.
Yaya terdiam sejenak. "Beberapa minggu yang lalu, Mamaku juga berulang tahun. Mamaku sama seperti Tante Septika, suka hal-hal yang sederhana. Jadi aku membelikan bunga mawar untuknya. Syukurlah, Mamaku menyukainya."
Boboiboy tersenyum lebar. "Kalau begitu, aku akan membelikan bunga mawar untuk Mama juga deh. Pasti Mama suka." Yaya yang mendengarnya tersenyum. Boboiboy memandangnya penuh arti, si gadis mengernyit bingung. "Karena kau yang mengusulkan, jadi kau harus menemaniku untuk membeli bunga mawar. Aku juga lupa dimana toko bunga."
Gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menjitak kepala Boboiboy. Pemuda itu meringis sambil memandangnya dengan kesal.
^^…^^
Boboiboy memandang sebuket mawar merah yang ada di tangannya sambil tersenyum lebar sembari menunggu uang kembalian. Lalu kedua netranya berpindah pada sosok gadis yang sedang mengamati bunga-bunga yang ada di toko tersebut. Sesekali gadis itu menciumnya lalu tersenyum. Boboiboy menjadi gemas.
"Ini kembaliannya. Terima kasih, Tuan" ucap si kasir seraya memberikan uang kembalian kepada Boboiboy.
Boboiboy mengangguk lalu menerima uang kembaliannya. Yaya yang mendengar suara si kasir langsung melangkah menuju Boboiboy.
"Bagaimana? Sudah selesai?"
Boboiboy mengangguk lagi. Ketika hendak melangkahkan kakinya menuju ke sepeda motornya, kedua matanya lagi-lagi menangkap sesuatu. Sedetik kemudian cahaya matanya berubah menjadi berbinar-binar. Yaya hanya menatapnya bingung. Boboiboy langsung menghampiri objek tatapannya lalu mengambilnya.
Bando bunga, biasanya kan bando bunga terbuat dari kain-kain yang dibentuk menjadi bunga. Bedanya bando ini terbuat dari bunga melati asli.
"Yaya, kemarilah. Kau harus mencobanya".
Dalam hati, Yaya tak bisa menampik keindahan yang dimiliki bando itu. Betapa bodohnya ia tidak mengetahui keberadaannya, padahal barusan ia berkeliling toko itu. Yaya terkejut dalam diam saat Boboiboy memakaikan bando bunga itu ke kepalanya. Lalu Boboiboy menarik tangannya menuju ke cermin raksasa yang digantung di tembok toko itu.
Yaya hanya bisa terperangah dengan penampilannya sekarang yang sedikit berbeda. Bibir ranumnya perlahan tertarik membentuk senyuman. Boboiboy yang melihatnya juga tersenyum. Tangannya terangkat menyingkirkan poni Yaya yang menutupi matanya. Yaya terkekeh.
"Bagaimana? Bagus kan? Bando bunga itu sangat cocok untukmu. Lihatlah, kau jadi sangat cantik" puji Boboiboy. Yaya yang mendengarnya langsung berdebar-debar. Wajahnya memanas serta memerah.
"Terima kasih, Boboiboy. Aku juga menyukai bando ini."
Boboiboy mengangguk mantap. "Baiklah kalau begitu, aku akan membelikannya untukmu".
Yaya membalikkan badannya dan menggeleng cepat. "Tidak usah, Boboiboy. Aku beli sendiri saja. Lagipula aku juga bawa dompet" tolak Yaya halus, mengambil dompetnya lalu memperlihatkan isinya.
Boboiboy mendengus geli. "Jangan begitu dong. Aku kan lelaki yang gentle, jadi harus membayar apa yang dibeli sama perempuannya. Jadi jangan protes." Kemudian Boboiboy berlari cepat menuju tempat kasir, meninggalkan Yaya yang terbengong-bengong. Lalu gadis itu tersenyum tipis.
^^…^^
Setelah membayar bando itu, Boboiboy dan Yaya keluar dari toko bunga. Yaya terus saja memandangi bando itu. Menurut Yaya, bando itu adalah bando terbagus yang pernah ia lihat. Boboiboy ikut senang karena Yaya sangat menyukai bando yang dibelikannya. Yaya menyimpan bunga itu di tas.
"Bagaimana, Yaya? Sudah dibelikan bando itu, kau tidak ngambek lagi kan padaku?"
Gadis itu terperangah. "Apa katamu? Oh, jadi kau membelikanku bando ini biar aku tidak ngambek lagi padamu? Kau mau menyogokku? Licik juga ya caramu" ujar Yaya tidak percaya.
Boboiboy menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tak menyangka kalau Yaya adalah gadis yang mudah salah paham. "Bukan begitu, Yaya. Aku tidak ada niatan untuk menyogokmu. Lagipula aku membelikan bando itu untukmu ikhlas kok."
Yaya mendengus, membuang mukanya sambil melipat tangannya di depan dada. "Halah, bilang saja kalau kau ingin sekali menyogokku."
Boboiboy menepuk jidatnya keras. Ia sudah salah perkiraan. Ia tak menyangka bahwa Yaya masih marah padanya. Padahal kan tadi Yaya sudah mau menemaninya membeli bunga. Ia berjalan dan berhenti di depan Yaya. Gadis itu tampak kaget namun tetap membuang muka. Si lelaki menghela napas.
"Yaya, aku bersumpah, aku tidak ada niatan sama sekali untuk menyogokmu. Aku tadi tidak sengaja lihat bando itu. Makanya aku membelikannya untukmu. Tidak mungkin kan aku yang pakai bandonya? Aku kan laki-laki" Boboiboy tertawa, namun Yaya tidak membalas tawanya, menoleh pun saja tidak. Boboiboy nampak sakit hati. "Yaya, please, aku tidak mau kau marah lagi kepadaku. Aku minta maaf kalau aku sudah membuatmu sakit hati. Dan aku tidak ada niatan sama sekali untuk melakukan hal itu. Jadi aku mohon, maafkan aku. Jangan marah lagi padaku."
Gadis itu terdiam sambil menatap lekat kedua mata Boboiboy. Ia menjadi merasa sangat bersalah, apalagi melihat ekspresi bersalah yang terpancar dari mata Boboiboy. Ia tahu, Boboiboy lebih merasa bersalah daripada dirinya sendiri. Ia pun mengangguk. "Iya, aku memaafkanmu."
Ekspresi Boboiboy berubah menjadi senang. "Benarkah kau sudah mau memaafkanku? Aku mau melakukan apa saja agar kau memaafkanku. Aku akan melakukannya."
Mendengar itu, hati Yaya menjadi trenyuh. Ia tak menyangka bahwa Boboiboy mau melakukan apa saja demi mendapatkan maaf darinya. Ia menggeleng, tersenyum tipis. "Tidak, tidak perlu, Boboiboy. Aku memaafkanmu tanpa syarat apapun."
Boboiboy menatapnya tak percaya. "Benarkah?"
Yaya mengangguk, tersenyum tipis. "Ya iyalah, masa' sih aku bohong?"
Ekspresi pemuda itu langsung berbinar-binar. "Wah... terima kasih banyak, Yaya" katanya ceria lalu spontan memeluk Yaya erat, membuat mata Yaya terbelalak kaget.
Tubuh gadis itu mematung saat Boboiboy tiba-tiba saja memeluknya. Detak jantungnya berubah menjadi lima kali lipat lebih cepat. Wajahnya merah padam. Di sisi lain, ia merasakan kehangatan yang berbeda dari yang lainnya. Ia sering berpelukan dengan Ying, tetapi terasa berbeda bila bersama Boboiboy. Ia tak bisa menampik, pelukan ini membuatnya nyaman.
Kedua manik Boboiboy mengerjap saat sadar bahwa ia sekarang tengah memeluk Yaya. Ia langsung melepaskannya, tak menyadari ekspresi kecewa terpancar dari gadis itu. "Maaf, Yaya. Aku tidak sengaja. Sumpah, aku tidak menyadarinya tadi."
Gadis itu mengangguk kecil. "Iya, tidak apa-apa kok. Aku tahu itu" balasnya lalu kemudian memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah yang menjalari pipinya.
Boboiboy mengepalkan tangannya kuat-kuat karena tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Akibatnya, ia menjadi canggung bila bersama Yaya kalau begini caranya. Napas ia hembuskan dalam-dalam, mencoba untuk meredakan emosinya. Arlojinya yang berwarna oranye kombinasi hitam ia lihat.
"Ini sudah jam 1 siang. Kau tidak lapar?"
Yaya tersentak kecil lalu menoleh. "Uhm... ya, aku lapar dari tadi" jawabnya lalu tertawa kecil. Boboiboy yang mendengar tawa Yaya, ikut tertawa. Namun tawanya terkesan garing. Boboiboy ingin sekali menonjok wajahnya sendiri.
"Di restoranmu aja ya? DD Restaurant?" usul Boboiboy disertai seringaian di akhir kalimat.
Yaya mengernyit. "Kenapa harus di restoranku?"
Boboiboy terlihat berpikir. "Soalnya makanan-makanan di restoranmu itu beda dengan yang lain. Makanannya juga lebih enak dari restoran manapun. Suasana restoranmu juga membuat siapapun betah lama-lama disana. Makanya aku ingin makan siang disana."
Mendengar itu, Yaya tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. "Baiklah. Terserah kau saja."
^^…^^
Boboiboy dan Yaya sekarang sudah sampai di kawasan DD Restaurant yang merupakan restoran milik keluarga Yaya. Keduanya melangkah memasuki bangunan restoran yang suasana ramainya tidak dapat diragukan lagi. Boboiboy sangat tahu kalau DD Restaurant adalah restoran teramai dan terfavorit di Jakarta.
"Loh, Anthony? Thalita?"
Boboiboy yang tadinya setengah melamun dan setengah sadar langsung berhenti saat Yaya berhenti berjalan. Kedua netra pemuda itu awalnya menatap Yaya bingung lalu menatap objek yang ditatap Yaya. Benar saja, ada kedua teman sekelas mereka.
"Yaya?! Boboiboy?! Kemarilah!" sahut Thalita yang sudah duduk di salah satu bangku bersama Anthony. Boboiboy dan Yaya melangkah menuju bangku mereka lalu mengambil posisi duduk masing-masing.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian disini" ucap Yaya.
Anthony dan Thalita saling berpandangan lalu tersenyum lebar. "Aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian disini. Aku dan Anthony kesini untuk makan siang setelah kerja kelompok" sahut Thalita.
Yaya hanya mengangguk. Lalu pelayan mendatangi meja mereka. Yaya dan Boboiboy menyebutkan pesanan masing-masing. Dan sudah semestinya, pelayan itu tahu kalau Yaya adalah putri tunggal pemilik restoran tersebut. Setelah pelayan itu pergi, Boboiboy menatap mereka curiga.
"Kalian hanya berdua disini?"
Anthony mengangguk. "Ya, memangnya kenapa?" tanyanya bingung.
Si pemuda bertopi oranye menatap mereka dengan seringai jahil. "Pasti kalian ada apa-apanya nih. Tidak mungkin kan kalian datang kesini hanya berdua dengan alasan habis dari kerja kelompok. Pasti kalian sedang berkencan di tengah hari" goda Boboiboy. Yaya yang mendengarnya tertawa.
Anthony dan Thalita yang mendengarnya sontak tertawa. "Ya ampun, Boboiboy! Apa yang dikatakan Thalita itu benar, aku dan Thalita kesini untuk makan siang setelah kerja kelompok. Lagipula aku dan Thalita juga bersahabat sejak kecil. Apalagi rumah kita juga berdekatan" jelas Anthony untuk menghindari kesalahpahaman.
Seringai jahil Boboiboy tak kunjung hilang. Bahkan kini lebih parah. "Oh ayolah, biasanya dua orang berlawanan jenis yang sedang bersahabat, pasti ujung-ujungnya mereka akan dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing".
Anthony nyaris tersedak es tehnya sendiri. "Ralat, bukannya ujung-ujungnya saling jatuh cinta?"
Boboiboy memperlebar seringaiannya. "Nah, itu tahu. Padahal kan aku sengaja menyalahkan kata-kataku biar kau peka."
Anthony tertawa. "Tapi kalau kita punya calon masing-masing, hal itu tidak mungkin terjadi. Kau ini aneh-aneh saja". Boboiboy yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahili Anthony dan Thalita. Anthony kemudian memperhatikan Boboiboy dan Yaya yang sepertinya juga sama dengannya dan Thalita. "Nah, kau sendiri datang berdua dengan Yaya. Pasti kalian juga ada apa-apanya nih" goda Anthony balik.
Sontak, wajah Boboiboy dan Yaya sama-sama memerah. Boboiboy berdehem, sementara Yaya menundukkan kepalanya malu, berpura-pura menyibukkan diri dengan ponsel. "Tadi Yaya membantuku untuk memilihkan kado ulang tahun Mamaku. Kau tahu sendiri kan kalau aku tidak pintar memilih hadiah, apalagi itu untuk wanita".
Anthony mengangguk paham lalu kembali menyeruput es tehnya sampai habis. Hal itu juga dilakoni oleh Thalita yang menghabiskan es jeruknya. Pelayan yang tadi kembali datang sambil membawa pesanan Boboiboy dan Yaya. Setelah pelayan itu pergi, Yaya menatap Thalita yang sedang membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Oh iya, kalian sedang kerja kelompok apa?"
Thalita menegapkan tubuhnya. "Kerja kelompok Biologi. Kau lupa?" jawab Thalita sambil tersenyum lebar.
Boboiboy mendengus karena ia tidak begitu suka pelajaran Biologi. Yaya menepuk keras jidatnya karena melupakan sesuatu yang penting. "Oh iya, aku lupa. Kenapa aku bisa lupa ya?" Kemudian ia melirik Boboiboy. "Oh... pasti aku ketularan penyakit lupamu, Boboiboy!"
Mendengar tuduhan tidak berdasar itu, Boboiboy mendelik. "Enak saja! Jangan menyalahkanku terus dong!" protesnya tak terima. Yaya menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Sebenarnya sih tugas ini dikumpulkan tiga minggu lagi, tapi banyak loh" sahut Anthony, membuat Yaya manggut-manggut dan memikirkan strategi tugasnya nanti.
"Kalau begitu, aku dan Thalita pulang dulu. Kita sudah lama disini" ujar Anthony lalu berdiri. Diikuti oleh Thalita. Boboiboy dan Yaya langsung mendongak.
Boboiboy mengerucutkan bibirnya. "Padahal makananku dan Yaya baru saja datang, tapi kalian malah mau pulang" ucap Boboiboy lemas.
Anthony menggigit bibir, lalu menoleh ke Thalita dan ternyata Thalita juga menatap ke arahnya. Anthony menatap Boboiboy dan Yaya dengan tatapan bersalah. "Maaf ya, Boboiboy, Yaya, tapi kita benar-benar sudah lama disini." Pemuda itu menoleh sekilas ke luar restoran. "Dan sebentar lagi juga akan turun hujan."
Boboiboy dan Yaya menatap ke luar restoran dan benar saja, langit sudah mulai berwarna abu-abu. Keduanya pun mengangguk. "Baiklah, hati-hati di jalan ya" ucap Yaya lalu tersenyum hangat. Anthony dan Thalita membalas senyuman Yaya lalu berjalan ke luar restoran. Setelah keduanya hilang dari jangkauan mata, Boboiboy menoleh ke arah Yaya lalu tersenyum lebar.
"Baiklah, selamat makan!"
^^…^^
"Boboiboy dan Yaya sangat cocok ya. Boboiboy tampan dan Yaya juga cantik. Pokoknya, mereka adalah pasangan yang paling serasi. Tapi kenapa mereka berdua belum pacaran juga ya?"
Anthony yang mendengar ocehan Thalita, tertawa kecil. Ia meletakkan buku novel horror di tempatnya semula karena menurutnya ceritanya tidak menarik. "Ralat, Boboiboy itu manis, bukan tampan. Yah, dia juga tampan sih." Thalita hanya manggut-manggut. "Kalau masalah mereka pacaran atau tidak sih, aku tidak tahu. Soalnya mereka berdua juga bersahabat sejak kelas X. Mungkin mereka lebih memilih bersahabat daripada berpacaran. Kau pasti tahu maksudku kan?" Anthony menoleh sekilas ke arah Thalita.
Thalita mengangguk. "Tentu saja aku tahu" jawabnya lalu membaca sinopsis salah satu novel. Anthony yang melihatnya menjadi sedikit kesal karena nantinya pasti ia akan diabaikan oleh Thalita.
Kemudian muncullah pertanyaan di benak Anthony. Pemuda itu menatap Thalita cukup lama saat jalanan lenggang. "Kau tidak ingin seperti mereka?"
Gadis itu menutup novel tersebut setelah diberi penanda dengan jari tangannya sendiri lalu menatap Anthony bingung. "Maksudnya?"
Anthony menghela napas pelan. "Boboiboy dan Yaya" jelasnya.
Si Thalita terdiam sebentar kemudian mengangguk mengerti, sekaligus memberikan jawaban. "Ya, aku ingin seperti mereka yang selalu terlihat romantis."
Anthony yang mendengarnya tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, kau inginnya bersama siapa?" tanyanya dengan nada menggoda. Thalita menjadi salah tingkah dan pipinya merona. Tanpa sadar, ia tersenyum-senyum sendiri karena terbayang wajah pujaan hatinya.
Anthony yang melihat Thalita tersenyum-senyum sendiri tentu saja heran setengah mati. Setelah melihat senyum yang terlihat berbeda dari biasanya, bibir Anthony membentuk senyuman jahil.
"Ah… kau pasti sedang jatuh cinta ya? Sejak kapan? Kau juga tidak pernah cerita kepadaku. Kau sekarang menyukai siapa?" tanya Anthony bertubi-tubi saking penasarannya.
Thalita tersentak lalu menatap malas Anthony dengan sedikit gugup. "Ap-apa yang kau bicarakan, hah?!" balas Thalita dengan kesal sekaligus gugup.
Anthony terkikik. "Hei, jawablah pertanyaanku! Aku tahu kau mendengarnya tadi! Ayolah, cepat jawab!"
Thalita mendengus lalu membuang muka. "Sekarang aku tidak menyukai siapapun."
Bibir Anthony mengerucut. "Huh, kau selalu saja begitu saat ditanya soal gebetan. Aku kan sahabatmu, Thalita. Aku wajib tahu. Jadi katakan, siapa lelaki yang kau sukai? Apa teman sekelas kita? Ataukah senior?" tanya Anthony yang semakin penasaran.
Kalau begini, Thalita kesal juga. "Sudahlah, Anthony. Jangan dibahas" balasnya dengan wajah yang semakin memerah karena terus-terusan digoda.
Bukan Anthony kalau menyerah dengan rasa penasarannya. "Ayolah, Thalita! Aku kepo nih. Siapa sih lelaki itu?" tanyanya lagi dengan nada manja yang dibuat-buat. Justru itu yang membuat Thalita semakin jijik dan kesal.
"Husshh… diamlah, Anthony!" seru Thalita kesal lalu memukul Anthony bertubi-tubi.
Mendapat serangan itu, tentu Anthony menjadi gelagapan. Anthony langsung melindungi dirinya dengan tangan kiri. "Aduh, Thalita, jangan seperti ini dong! Pukulanmu lumayan sakit, tahu!" keluh Anthony mencoba menghindar dari pukulan maut Thalita.
Bukan Thalita kalau mudah tunduk dengan perkataan orang. "Inilah akibatnya kalau kau terus-terusan menggodaku! Rasakanlah!"
Anthony tetap menggunakan tangan kirinya yang terangkat sebagai tameng. Langkah kakinya tanpa sadar malah semakin lama semakin mundur. Sumpah, semakin lama pukulan Thalita semakin sakit. "Aduh, stop! Sakit, Thalita! Sudahlah, aku minta maaf!"
"Minta maafnya telat!"
"Thalita, aku mohon!"
BRUK!
"Eh?!"
Thalita spontan menghentikan pukulannya saat tahu Anthony tak sengaja menabrak pegawai toko buku tersebut sampai jatuh. Anthony menggigit bibir lalu membantu wanita tersebut berdiri. Dapat mereka lihat ekspresi kesal juga malu ada di wajah wanita itu. Thalita semakin malu saat semua mata pengunjung toko tertuju pada mereka.
"Ehm... maaf, Mbak. Saya tidak sengaja."
"Makanya kalau bertengkar sama pacarnya, jangan disini. Ini toko buku, bukannya tempat untuk berkencan dengan pacar."
Anthony dan Thalita sama-sama melotot mendengar omelan dari sang pegawai toko. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menatap wanita di hadapannya dengan tatapan merasa bersalah.
"Iya, Mbak. Kami minta maaf."
"Huh, kalian menyebalkan! Membuat saya malu saja!"
Wanita itu pergi meninggalkan Anthony dan Thalita tanpa menghilangkan rasa kesalnya sedikitpun. Anthony dan Thalita saling berpandangan sengit.
"Kau sih pakai acara mukul aku segala! Lihatkan, aku jadi nabrak orang!"
Thalita mendelik. "Kenapa aku yang disalahkan?! Kau kan yang nabrak dia, bukannya aku! Lagipula siapa juga yang menggodaku terus?" balasnya tak ingin kalah.
Anthony memandangnya dengan sebal. "Sudah ah, kita pulang saja! Aku malu terus-terusan ada disini."
Gadis itu menjadi kesal karena Anthony malah meninggalkannya. Ia pun menyusul sahabatnya itu sambil menahan rasa malunya.
^^...^^
Boboiboy mengendap-endap. Tak henti-hentinya kedua matanya yang biasanya menatap jahil, kini menajam dan sangat berhati-hati. Bola mata itu berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang tahu perbuatannya. Tanpa sadar, genggamannya pada buket bunga yang ia sembunyikan di balik punggung menjadi erat saking gugupnya.
Boboiboy bisa menghembuskan napas lega saat sudah tiba di tempat tujuannya. Sekali lagi, ia bersembunyi di balik dinding dengan kepala melongok ke dalam ruangan. Ia mendapati seorang wanita tengah berdiri memunggunginya, sepertinya sedang memasak. Aroma masakan pun tercium oleh hidung Boboiboy.
Lelaki berkaos oranye serta bercelana pendek hitam itu melangkah santai mendekati wanita itu. Boboiboy tak menyadari bahwa tubuhnya berkeringat dingin. Seikat bunga itu masih tetap di posisinya.
"Uhm, Mama?" panggil Boboiboy gugup.
Wanita itu, Septika, membalikkan badan setelah meletakkan pisau yang tadi digenggamnya. "Boboiboy, ada apa? Oh iya, hari ini Mama memasak makanan kesukaanmu, ayam bumbu merah."
Boboiboy tidak bisa untuk tidak tersenyum. Ia benar-benar bersyukur karena memiliki ibu sebaik dan sepengertian Septika. Bahkan ia ragu kalau kebaikan ibunya dimiliki oleh ibu-ibu yang lain. "Oh, eh, itu..."
Septika menaikkan sebelah alisnya. "Itu apa, Boboiboy?" selanya bingung. Boboiboy tak sengaja menggantungkan kalimatnya karena ia bingung harus mengatakan apa. Jantung lelaki itu berdebar-debar kencang.
Tak tahan dengan kegelisahan serta kegugupannya, akhirnya Boboiboy menyodorkan sebuket bunga mawar itu. "Selamat ulang tahun, Mama" kata Boboiboy sambil tersenyum lebar dan manis.
Septika terperangah, menerima buket bunga itu lalu memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Boboiboy tahu, ibunya adalah seorang wanita yang lemah lembut, mudah terharu dengan hal-hal yang bisa membuatnya bahagia walaupun itu hanyalah hal sederhana. Memang benar apa yang dikatakan Yaya. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Yaya tadi.
"Boboiboy... ini..." Septika tampak bingung harus berucap apa dengan hadiah yang diberikan putranya.
"Iya, Mama," potong Boboiboy cepat, namun pelan dan lembut. Ia tidak ingin menyakiti hati sang bunda apalagi di hari ulang tahunnya. "Aku tidak tahu harus memberikan hadiah ulang tahun apa untuk Mama. Aku hanya bisa memberikan bunga mawar itu. Maaf ya, Ma, kalau hadiahnya jelek."
Septika menggeleng cepat, menyeka air matanya. "Tidak, sayang. Kamu tidak boleh berkata seperti itu." Boboiboy hampir menangis mendengarnya. "Bunga ini sangat cantik, Boboiboy. Tentu saja Mama suka, apalagi kalau bunga ini adalah hadiah darimu. Hadiah apa saja kalau dari kamu, Mama pasti menyukainya."
Boboiboy tersenyum kecil. "Sekali lagi, selamat ulang tahun, Mama."
"Terima kasih, sayang."
Boboiboy menghambur ke pelukan Septika. Wanita itu membalas pelukan sang putra dengan lembut, lalu mengelus-elus puncak kepala putranya yang posisinya semakin lama semakin tinggi.
"Hm... ada apa nih? Kok Papa tidak diajak?"
Pelukan anak dan ibu itu reflek terlepas ketika mendengar suara yang tak jauh dari posisi mereka. Seorang pria berdiri di ambang pintu dapur. Boboiboy terkekeh dan saling berpandangan dengan Septika. Kemudian pria itu meletakkan tas kantor di atas meja lalu menghampiri keduanya. Kedua netranya langsung menatap bunga mawar yang digenggam istrinya. Diliriknya sang putra. "Bunga itu hadiah darimu, Boboiboy?"
Boboiboy mengangguk. "Tentu saja. Tidak mungkin dari Papa" balasnya sombong, mengundang dengusan dari pria itu.
"Chandra, kau kalah dengan putramu sendiri. Boboiboy saja sudah memberikan hadiah ulang tahun padaku, masa' kau belum?" ejek Septika kepada sang suami.
Pria itu yang ternyata bernama Chandra menoleh ke arah Septika, sedikit kesal karena istrinya sedang mengejeknya. Boboiboy yang mendengar itu terkikik geli. Chandra tersenyum miring. "Baiklah, Septika, nanti malam ikutlah denganku."
Sebelah alisnya terangkat. "Huh, kemana?"
Chandra memutar bola matanya. "Ikut sajalah. Nanti kau juga tahu."
Saat teringat sesuatu, Boboiboy tersenyum jahil. "Oh... pasti Papa mau mengajak Mama dinner di restoran-restoran atau hotel mewah ya?" tebaknya sekaligus godanya. Tanpa bisa dicegah, wajah Septika pun merona.
Chandra menempeleng pelan kepala Boboiboy. "Jangan ikut campur urusan orang tua. Masuk ke kamar sana, belajar yang rajin dan usahakan agar kau bisa masuk ke Universitas Harvard jurusan bisnis, ok?"
Lelaki yang memiliki kemiripan wajah dengan Chandra itu merengut sebal, menyadari bahwa sang ayah sedikit meremehkan kepintaran otaknya. "Huh, iya iya" balasnya lalu pergi meninggalkan orang tuanya.
"Baiklah, lebih baik kau juga pergi ke kamar untuk ganti baju. Kalau makan malamnya sudah siap, aku akan memanggilmu dan juga Boboiboy," kata Septika.
"Hm, iya, sayang" balasnya lalu mencuri cium di pipi Septika. Wanita itu merona lalu melempar sendok yang menganggur ke arah sang suami yang berlari terbirit-birit sambil tertawa cekikikan.
TBC
Ini chapter duanya, maaf mengecewakan dan kebanyakan.
Balasan review :
Guest : Nggak kok. Masih ada pair selain Boboiboy & Yaya, sebagai selingan biar nggak bosen sama Boboiboy & Yaya terus (plak!) Makasih udah review!
Nurul2001 : Makasih udah bilang kalau ff ini bagus. Terima kasih sudah review!
kawaii erya : Iya, emang yang paling sweet itu Boboiboy dan Yaya nya :3 Makasih udah review!
Khairul487 : Maaf nggak bisa update kilat terus-terusan. Akan aku usahain, kalau tugas sekolah nggak menyita waktu :v Makasih udah review!
nevyandini : Itu kan cuma game, jadi pura-pura. Nanti kalau beneran, pada mimisan semua readernya (kegeeran!) Emang si Papa Zola minta ditabok udah ngerusak suasana (dipukul pakek rotan keinsyafan) Makasih udah review!
miss blank : Iya, si Papa Zola kerjaannya suka nggangguin orang lagi kasmaran (terpental gegara ditendang Papa Zola) Ehmmm kalau masalah Ying tebak sendiri dulu aja ya. Nanti bakal di bahas di chapter-chapter selanjutnya. Makasih udah review!
Review please and see you in chapter 3...
