"Aduh... Fang keren sekali ya!"

"Ya iyalah. Fang kan kaptennya!"

"Lihat tuh waktu si Fang mendribel bolanya! Keren abis!"

"Selain keren, dia tampan sekali ya!"

"Ah... mumpung dia jomblo, aku ingin sekali menjadi pacarnya!"

"Eleh, aku lebih cantik darimu! Fang hanya cocok denganku!"

"Tidak! Denganku!"

"Denganku!"

"Aku!"

"Aku!"

Boboiboy menutup kedua telinganya rapat-rapat saat mendengar para gadis di sebelahnya sedang mengagumi lalu memperebutkan Fang. Ia bingung, apa sih yang menarik dari sahabatnya yang berkacamata serta berambut layaknya landak itu?

Ok, kulit tubuhnya memang putih karena Fang keturunan China, sama seperti Ying. Wajahnya juga termasuk kategori tampan, tapi menurut Boboiboy, ia lebih tampan dari Fang. Dan sikap Fang juga cool. Apa itu yang membuat para gadis di sebelahnya klepek-klepek? Oh, ataukah jangan-jangan karena Fang termasuk anggota klub basket dan sekarang sudah menjabat sebagai kaptennya? Apa mereka tidak tahu kalau sikap idola mereka begitu menyebalkan?

"Oi, Boboiboy! Kau kenapa sih?"

Pemuda berparas manis itu terlonjak kaget saat bahunya ditepuk keras oleh seseorang. Ia menoleh ke samping dan mendapati Gopal yang nyengir ke arahnya. Ia memutar bola matanya bosan lalu melirik sekilas kelima anggota basket yang sedang bermain di lapangan tertutup khusus basket. Sebenarnya sih ia tidak ingin melihat mereka, hanya saja Gopal yang memaksanya.

"Tidak ada, hanya saja aku sangat heran."

Gopal mengerutkan keningnya. "Heran kenapa?"

Boboiboy menghela napasnya. "Apa sih bagusnya si Fang? Gadis-gadis di sampingku ini malah memperebutkannya."

Mendengar itu, Gopal melongo lalu kemudian tertawa. Boboiboy jadi kesal karena pertanyaannya malah ditertawakan. "Yah... mana aku tahu? Yang suka kan mereka, bukan aku. Lagipula kenapa sih? Sepertinya kau tidak menyukainya. Oh, apa kau iri dengan Fang ya?"

Kedua mata Boboiboy mendelik tajam setelah mendengarnya. "Hih... enak saja! Siapa yang iri dengannya? Hei, siapapun tahu kalau fansgirlsku lebih banyak dari punya Fang!" balasnya sombong, membuat Gopal mendengus.

"Iya deh, terserah kau saja" balas Gopal akhirnya, yang memperlebar senyuman Boboiboy.

Pintu ruangan tersebut terbuka, nampaklah Yaya dan Ying yang melangkah menuju ke barisan tempat duduk. Tiba-tiba saja bola basket melayang ke arah mereka berdua dan mengenai wajah gadis oriental itu.

"Ying!" teriak Yaya panik lalu berlari ke arah Ying yang terjatuh.

Boboiboy dan Gopal saling berpandangan ngeri lalu berlari tergopoh-gopoh menghampiri keduanya. Tak hanya mereka berdua, beberapa murid lain juga menghampiri Ying karena merasa simpati. Permainan basket terpaksa berhenti karena insiden ini.

"Ying, kau baik-baik saja?" tanya Yaya, berjongkok tepat di samping Ying. Kedua matanya melebar saat mengetahui sesuatu. "Astaga, Ying! Kacamatamu patah!" serunya kaget seraya memegangi kacamata sahabatnya yang sudah terpisah menjadi dua bagian.

Si korban tidak menjawab, justru memegangi kepalanya yang terasa berkunang-kunang setelah terkena lemparan bola basket itu. Melihat hal itu, tentu membuat gadis penyuka warna pink menjadi panik dan khawatir.

"Siapa yang terkena hantaman bola basketku?" Semuanya menyingkir tatkala seorang pemuda yang merupakan anggota basket itu menerobos gerombolan para murid. Dalam sekejap, kedua matanya membulat total lalu segera berjongkok di samping Yaya. "Ya ampun, Ying?! Jadi kau yang kena?! Mana yang sakit?! Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu" ujarnya panik. Ying hanya mengangguk kecil.

"Oh, jadi kau pelakunya ya, Anthony?"

Pemuda itu mendongak dan bertemu mata dengan salah satu sahabat Ying. Ia berdiri dan sedikit takut melihat matanya yang menatapnya geram. Fang yang merupakan kapten basket tersebut, tak kalah terkejutnya dengan Anthony.

"Maafkan aku, Boboiboy. Sungguh, aku tidak tahu."

Boboiboy melangkah mendekatinya. "Seharusnya kalau main basket itu hati-hati dong! Jangan sampai ada korban! Dan kau masih tanya kepada Ying sakit atau tidak? Tentu saja terkena bola basket itu sakit, bola basket kan lebih keras dari bola sepak! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Ying, bagaimana? Mau tanggung jawab?!"

Yaya benar-benar tak menyangka Boboiboy akan marah seperti itu kepada Anthony. Sejujurnya, ia juga marah sih sama dia karena sudah membuat sahabatnya terluka. Sedangkan si korban merona malu karena dikhawatirkan oleh Boboiboy.

Boboiboy menoleh pada Fang. "Dan kau juga, Fang! Kau itu kaptennya, seharusnya semua anggota-anggota basketmu tidak melakukan hal seperti ini! Jangan sampai ada korban lagi! Apa kau tidak kasihan melihat sahabat kita sendiri terluka gara-gara salah satu anggotamu?"

Merasa tidak terima karena dikatakan tidak bisa mengajari anggota-anggotanya, Fang membanting bola basketnya ke sembarang arah lalu maju menghadapi Boboiboy. Tak lupa dengan tatapan dinginnya yang sedingin es. "Oh, kau mengejekku karena aku bukanlah kapten yang baik untuk klub basket ini? Asal kau tahu, kita berlima adalah anggota klub basket terbaik yang dipilih oleh Pembina Klub Basket untuk bertanding satu minggu lagi. Dan soal Ying, siapa yang tahu kalau nanti bakal ada korban? Aku juga tidak mau kalau Ying terluka meskipun karena anggotaku. Aku yakin, Anthony tidak sengaja melakukannya. Kalau mau, aku bisa membelikan kacamata yang baru untuk Ying."

Yaya yang terpaku melihat pertengkaran Boboiboy dan Fang, terkejut saat merasakan ada yang menarik tangannya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Thalita yang menatapnya panik. "Yaya, kau harus melerai mereka berdua. Aku tidak mau kalau Anthony dan Fang terluka karena Boboiboy. Aku mohon sama padamu, Yaya. Please..."

Gadis itu mengangguk kecil lalu berdiri di antara Boboiboy dan Fang. Boboiboy yang hendak membalas perkataan Fang harus menelannya kembali. "Sudahlah, kalian jangan sampai bertengkar hanya karena ini, ok?" Lalu Yaya berdiri menghadap Boboiboy, membelakangi Fang. "Boboiboy, kau tidak perlu marah sama Anthony maupun Fang. Aku yakin kalau Anthony tidak sengaja melakukannya. Dan Ying sendiri juga sudah memaafkan Anthony kok."

Boboiboy mendengus. "Hei, Yaya, seharusnya kau memarahi Anthony juga karena dia sudah membuat sahabat kita terluka. Dimana sifat simpatimu yang biasanya? Apa kau sekarang sudah tidak menganggap Ying sebagai sahabatmu lagi?"

Kedua manik Yaya membulat sempurna. "Jaga perkataanmu, Boboiboy! Aku dan Ying masih bersahabat sampai sekarang. Aku melakukan ini hanya karena aku tidak ingin kamu melukai Anthony maupun Fang."

Boboiboy mendadak tertawa ala psikopat. Gopal bergidik karena tawa Boboiboy terkesan menyeramkan, beda jauh dengan tawa riang yang biasanya. "Memangnya aku monster yang akan melukai siapa saja yang sudah membuatku marah? Dasar aneh!"

Setelah mengucapkan kalimat yang sukses membuat hati Yaya remuk, pemuda itu melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Yaya yang memandang kepergiannya dengan kecewa sekaligus terluka. Gopal langsung mengejar sahabat karibnya, takut jikalau Boboiboy melakukan hal yang tidak diinginkannya.

Yaya langsung menghembuskan napasnya secara perlahan dan menahan air matanya yang menggenang untuk tidak mengalir. Ia menoleh pada teman-temannya yang lain. "Tolong bawa Ying ke UKS, aku masih ada urusan dengan Fang. Aku akan segera menyusul."

Fang yang namanya dibawa-bawa, menjadi terkejut dan tubuhnya mendadak kaku. Anthony yang sadar bahwa dirinya penyebab kekacauan ini, langsung menggendong Ying ala bridal style lalu ia berlari menuju UKS, diikuti oleh murid-murid lainnya yang merupakan teman dekat Ying. Setelah memastikan hanya mereka berdua, Yaya membuka mulutnya.

"Fang, maafkan Boboiboy yang sudah memarahimu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau dia bisa menjadi seperti ini hanya karena Ying terluka."

Pemuda berkacamata itu terdiam mendengar perkataan Yaya yang sama sekali diluar dugaannya. Dadanya sesak saat melihat air mata mengaliri pipi gadis itu.

"Sejujurnya aku juga marah sama Anthony karena dia sudah membuat Ying terluka, tapi aku tahu kalau Anthony tidak sengaja melakukannya. Aku juga tidak mau Boboiboy melukaimu dan juga Anthony hanya karena masalah ini. Tapi kenapa Boboiboy justru berkata seperti itu padaku? Apa perkataanku salah?"

Fang menggeleng pelan. Gadis itu menahan diri untuk tidak mengeluarkan isakan tangisnya dan memilih untuk menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangannya. Fang berjalan mendekatinya lalu menyingkirkan tangan gadis itu, memperlihatkan wajahnya yang basah karena air mata. Sejujurnya Yaya sangat malu karena Fang tahu wajahnya ketika menangis.

"Tidak, perkataanmu tidak salah sama sekali. Mungkin Boboiboy hanya tidak ingin salah satu di antara kita terluka, makanya dia menjadi seperti itu. Jadi kau tidak perlu menangis."

Jari-jari Fang menghapus air mata Yaya yang masih mengalir dengan sangat lembut, sementara Yaya hanya diam saja dan menundukkan wajahnya karena malu. Di sisi lain, hatinya juga masih merasa sakit saat mengingat perkataan terakhir Boboiboy padanya tadi. Itulah sebabnya kenapa air matanya tidak berhenti mengalir.

Dalam hati, Fang juga merasa sakit hati karena Yaya menangis hanya karena salah satu sahabat laki-lakinya. Dadanya ikut sesak dan panas menyaksikan satu persatu bulir bening itu mengaliri pipi gadis di hadapannya. Kehilangan kendali, Fang langsung menarik Yaya ke dalam dekapannya. Gadis itu kaget setengah mati melihat tingkah laku Fang yang sama sekali tidak ia duga.

"Kau tidak boleh menangis karena kau adalah alasan seseorang untuk bisa tersenyum sepanjang hari."

Mendengar itu, tangisan Yaya meledak seketika. Yaya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Fang agar suara tangisannya teredam. Dalam hati, Fang sangat kecewa karena Yaya tidak tahu siapa 'seseorang' yang ada di perkataannya.

"Seandainya kau tahu siapa 'seseorang' itu, Yaya."

^^...^^

Bel istirahat kedua pun berbunyi. Yaya harus menghabiskan waktu sendirian karena Ying sejak istirahat pertama berada di UKS. Gadis itu merapikan peralatan sekolahnya lalu dimasukkan ke dalam tas agar tidak hilang. Siapa yang tahu kalau salah satu barang kita akan diambil alias dicuri oleh salah satu teman kita nanti?

Ia dapat merasakan pemuda bertubuh gempal menghampiri bangku di belakangnya. "Hei, Boboiboy! Kenapa kau jadi sangat beda tadi? Aneh."

Boboiboy mengernyit. "Aneh kenapa, Gopal?" tanyanya bingung sambil mencari-cari earphone oranyenya yang ia yakin sudah ia masukkan ke dalam tas tadi pagi.

Gopal memanyunkan bibirnya. "Ish... masa' kau tidak tahu? Tadi kan kau sangat khawatir kepada Ying. Pura-pura lupa nih."

Yaya yang tak sengaja juga mendengarnya, hampir saja menjatuhkan ponsel miliknya yang hendak dimasukkan ke dalam saku. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit di bagian jantungnya. Setiap detak jantungnya, terasa lebih menyakitkan dari biasanya. Ingatkan Yaya untuk periksa ke dokter spesialis jantung nanti.

Boboiboy mendelik. "Ih, apaan sih? Ngomong yang jelas dong!"

Gopal menatapnya heran. "Loh loh loh, aku kan ngomongnya sudah jelas. Kau tuh yang jawabnya tidak jelas."

"Iya, Boboiboy. Kau menyukai Ying ya? Ayo ngaku!"

Boboiboy hampir terlonjak saat mendengar suara yang berasal dari pemuda berambut pirang yang merupakan Ketua OSIS di SMA Bakti Negara tersebut. Tak hanya dia, pemuda berambut cokelat yang merupakan sahabat karib si Ketua OSIS ikut-ikutan menggodanya.

"PJ nya dong sama Ying."

Kemudian mereka bertiga sama-sama tertawa, membuat si objek bullyan kebingungan sekaligus kesal. "Ini lagi, si Ochobot dan Iwan malah ikut-ikutan. Jangan seperti itu dong!" Wajahnya mulai memerah karena malu.

Tak tahan mendengar godaan yang terus diluncurkan kepada pemuda penyuka buah jeruk tersebut, Yaya pun dengan cepat pergi ke luar kelas tanpa Boboiboy sadari. Fang yang tadinya sibuk memperhatikan gelagat Yaya saat mendengar godaan yang ditujukan kepada Boboiboy, menghela napas panjang lalu ikut keluar kelas. Boboiboy yang melihat itu, mencibirnya diam-diam.

"Hei, aku ini tidak menyukai Ying. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih. Jadi wajar dong kalau aku sangat khawatir dengannya tadi. Ying kan sahabatku" jelas Boboiboy, yang membuat Gopal, Ochobot, dan Iwan terdiam. Lalu pandangan Boboiboy diam-diam menerawang ke bangku di depannya. "Lagipula aku menyukai gadis lain."

Pandangan ketiga kawan Boboiboy berubah menjadi antusias. "Wah... siapa Boboiboy? Ataukah Yaya?" tebak Gopal.

Pemuda itu agak tersentak dengan tebakan Gopal lalu langsung menggeleng cepat. "Sudah ah, tidak usah dibahas. Aku mau keluar dulu."

Boboiboy meninggalkan ketiga kawannya yang tengah mencibirnya diam-diam.

^^...^^

"Hai, Yaya!" sapa Amy saat melihat temannya duduk di kursi kosong depannya. Ia mengernyit tatkala melihat wajah murung Yaya. "Kau kenapa, Yaya? Tumben murung? Apa karena Ying?"

Yaya tersentak ketika ditanya seperti itu. Namun ia mengangguk meskipun bukan itu jawaban sebenarnya. "Iya, Amy. Aku masih mengkhawatirkannya."

Amy ber'oh' pelan, sedangkan Suzy menatapnya curiga sekaligus penuh selidik. Kemudian gadis pujaan hati Gopal menghela napas pelan. "Jangan membohongi kami, Yaya. Kau memang tidak pandai berbohong karena itu bukan keahlianmu. Lagipula kita bertiga ini temanmu. Kau bisa cerita sama kita dan kita berjanji tidak akan membocorkannya."

Gadis berambut sebahu dan berponi lebat yang duduk di samping Yaya mengangguk. "Itu benar, Yaya. Untuk apa kita membocorkan rahasiamu? Cerita saja lah. Kita akan mendengarkannya baik-baik."

Yaya tersenyum mendengar ucapan mereka. "Terima kasih, Suzy, Siti. Kalian memang baik. Tapi aku tidak ingin cerita sama siapapun, maaf ya."

Ketiga gadis itu mengangguk. "Baiklah, Yaya. Kita tidak akan memaksamu untuk bercerita. Tenang saja" balas Amy, yang kemudian mengundang tawa Suzy, Siti, dan Yaya.

Amy menyeruput jus mangganya. "Oh iya, kau tidak cemburu saat Boboiboy sangat mengkhawatirkan Ying?"

Yaya memandangnya bingung. "Cemburu? Kenapa? Memangnya aku harus cemburu saat Boboiboy mengkhawatirkan Ying? Kita bertiga kan bersahabat."

Suzy menatapnya tak percaya. "Bukannya kau menyukai Boboiboy ya?"

Kalau Yaya sedang minum sekarang, sudah dipastikan ia akan tersedak hebat kemudian terbatuk-batuk. Pandangannya berubah menjadi horror. "Aku menyukai Boboiboy?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Amy, Suzy, dan Siti saling berpandangan. Kemudian Yaya tertawa. "Tentu saja tidak! Aku dan Boboiboy hanya bersahabat. Aku tidak akan pernah menyukainya."

Siti memutar bola matanya. "Yaya, kau tidak pernah mendengar pepatah ya kalau persahabatan antara laki-laki dan perempuan bisa berujung cinta?" Yaya hanya memandang mereka bertiga bingung, membuat Amy menepuk keras jidatnya.

"Siapapun tahu kalau kau menyukai Boboiboy. Pandanganmu terhadap Boboiboy itu berbeda dengan yang lainnya. Hanya saja kau yang tidak menyadari perasaanmu sendiri."

Yaya membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tiba-tiba ia merasakan dadanya ditimpa beban yang berat. Jantungnya menjadi sesak. Keningnya mengerut. Ia sama sekali tidak bisa mempercayainya.

"Apa benar aku menyukai Boboiboy selama ini?"

^^...^^

Malam ini adalah malam yang penuh dengan kebimbangan bagi seorang Yaya. Setelah makan malam bersama keluarganya, Yaya langsung mengurung diri di kamarnya yang bernuansa merah muda. Gadis itu kini berdiri di dekat jendela kamarnya yang menampilkan pemandangan daerah komplek perumahannya di malam hari. Yaya tak merasa kedinginan dengan angin malam yang menerpa tubuhnya.

Di tangannya terdapat bando yang terbuat dari bunga melati, pemberian salah satu sahabat laki-lakinya. Ditatapnya bando itu lekat-lekat, berharap menemukan sesuatu yang tersembunyi dibalik bando itu. Sampai-sampai matanya memanas, meneteskan bulir bening dan tepat menjatuhi kelopak bunga itu.

"Kenapa aku sampai nangis segala sih?"

Yaya meletakkan bando itu di atas jendela, kemudian ia menggunakan kedua tangannya untuk mengusap air matanya. Yaya akui, rasanya memang menyakitkan. Tapi ia tidak bisa menjelaskannya lewat kata-kata.

Kemudian mata Yaya tak sengaja menangkap sesuatu yang tergantung di dinding, fotonya bersama keempat sahabatnya yaitu Boboiboy, Ying, Fang, dan Gopal. Dirinya berada di tengah, lalu disamping kanannya ada Boboiboy dan Gopal, di samping kirinya ada Ying dan Fang. Kelimanya sama-sama memancarkan senyum kebahagiaan.

Tapi tidak semuanya menjadi pusat perhatian Yaya, tetapi hanya dua orang yang menjadi pusat perhatian Yaya, yaitu Boboiboy dan Ying. Gadis itu mengambil bandonya kembali lalu melangkah mendekati foto itu. Kedua netra Yaya tak henti-hentinya memandangi Boboiboy dan Ying bergantian. Bahkan air matanya yang terus menetes ia abaikan.

Kemudian jari jemari Yaya terangkat dan mengelus foto Boboiboy yang terlapisi kaca itu dengan tangan gemetaran, diiringi oleh suara isak tangis Yaya. Gadis itu sangat bingung kenapa ia bisa menangis seperti ini. Sebuah bayangan tiba-tiba melintas di pikiran Yaya, bayangan ketika Boboiboy sangat mengkhawatirkan Ying di saat Ying terluka. Jantung gadis itu berdetak hebat dan membuat Yaya tersiksa.

"Kenapa sih aku harus cemburu saat Boboiboy sangat mengkhawatirkan Ying tadi? Dia kan hanya menganggapku sahabat, tidak lebih."

Yaya pun menyandarkan kepalanya di tembok, tepat di samping foto itu sambil memejamkan matanya, membuat air matanya yang menggenang itu menetes perlahan. Ia bahkan tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini.

^^...^^

"Gopal?"

Gopal menoleh ke kiri. "Hm, apa?"

Pemuda itu tampak ragu ketika ingin mengungkapkan kebimbangannya. Yah, siapapun tahu kalau Gopal itu adalah laki-laki yang tidak bisa menjaga rahasia orang. Meskipun Gopal sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun, Boboiboy masih saja meragukannya. "Tidak jadi deh."

Mendengar hal itu, Gopal mendengus lalu kembali menyalin catatan Suzy. Boboiboy dalam hati merasa bersyukur karena Gopal bukanlah orang yang kepo, namun disisi lain ia kesal karena Gopal merupakan orang yang tidak peka terhadap sesuatu.

Boboiboy melihat layar jam tangannya dan terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 5 menit. Itu berarti 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi, tetapi gadis yang ditunggunya belum menampakkan batang hidungnya. Dimanakah ia?

Gadis yang ditunggu Boboiboy datang bersamaan dengan bel masuk berbunyi. Boboiboy diam-diam memperhatikannya, sedangkan gadis yang diperhatikan tampak tidak tahu dan menghindari tatapannya.

"Yaya, kenapa BBM ku tadi malam tidak dibalas-balas juga? Ada apa?" tanya Boboiboy ketika gadis itu sudah duduk di bangkunya, yakni bangku di depannya.

Tubuh Yaya agak menegang lalu berbalik. "Maaf, Boboiboy. Tadi malam, aku ketiduran."

Pemuda berparas manis itu hanya ber'oh' pelan dan Yaya kembali menghadapkan tubuh ke depan. Pemuda itu dapat merasakan ada yang aneh dengan Yaya, tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Pesan darinya sejak tadi malam, tidak dibalas satu pun. Bahkan gadis itu juga enggan menatap matanya secara langsung.

Boboiboy masih saja memperhatikan gadis itu walaupun hanya kelihatan punggungnya. Ia menghela napas pelan lalu mengeluarkan buku-bukunya. Lagipula ia tidak bisa langsung mempercayai firasatnya kan?

^^...^^

"Yaya, ayo kita ke kantin!" ajak Ying.

Gadis yang diajaknya masih sibuk membereskan peralatannya, sedangkan keempat sahabatnya sudah menunggunya. Boboiboy terus-terusan memperhatikan gerak-gerik Yaya yang menurutnya mencurigakan.

Boboiboy tampak kecewa dengan respon Yaya yaitu menggeleng pelan dan menyunggingkan senyuman tipis. Tatapan mata Yaya juga hanya terfokus pada Ying. "Uhm... maaf ya, aku tidak ke kantin. Aku masih ada urusan OSIS."

"Memangnya ada event apa?" tanya Boboiboy. Ia dapat melihat gadis itu agak terkejut dan kebingungan menjawab. Ia sangat tahu kalau Yaya adalah gadis yang tidak suka berbohong. Jadi ia menunggu dengan sabar apa jawabannya.

"Tidak ada sih, cuma aku harus membereskan ruang OSIS" jawab Yaya yang kelihatannya masih ragu.

"Yaudah deh, tidak apa-apa. Aku dan yang lainnya mau ke kantin. Kalau urusannya hanya sebentar, langsung nyusul kita saja ya" saran Ying.

Yaya mengangguk. Kemudian mereka berempat langsung berlalu ke kantin. Sebelumnya Boboiboy sempat memandangi Yaya, namun gadis itu menghindari tatapannya.

^^...^^

Tidak seperti biasanya, kali ini Yaya tidak diantar ataupun dijemput oleh sopir pribadinya karena ia sedang sakit. Jadi saat berangkat sekolah tadi, Yaya naik taksi. Dan Yaya berniat untuk pulang ke rumah naik bus umum.

Seperti dugaan Boboiboy, Yaya akan keluar kelas setelah semua teman-teman sekelasnya sudah keluar alias ia sendirian di kelas. Lelaki itu menunggu di dalam kelas sebelah agar Yaya tidak mengetahuinya. Boboiboy pun mengendap-endap mengikuti Yaya setelah Yaya berjalan agak jauh dari posisinya.

Yaya berhenti karena merasa ada seseorang yang sengaja mengikutinya. Boboiboy menjadi was-was lalu bersembunyi di balik tembok. Dan saat itu juga, Yaya membalikkan badannya namun tidak melihat siapa-siapa. Bukan, Yaya bukanlah gadis yang mudah takut dengan makhluk halus seperti Gopal. Karena tidak ada sesuatu yang mencurigakan meskipun Yaya masih merasakannya, gadis itu pun melanjutkan perjalanannya, dan Boboiboy kembali mengikutinya lebih hati-hati.

Gadis itu berhenti di halte bus dekat sekolahnya. Boboiboy mengernyit karena biasanya Yaya berangkat dan pulang naik mobil pribadinya. Dan sangat kebetulan atau memang sebuah keberuntungan untuknya, Boboiboy juga tidak baik sepeda motornya kali ini. Entah kenapa tadi pagi ia begitu manja dan ingin diantar sopir pribadinya. Apa mungkin akan terjadi sesuatu seperti ini ya?

Bus pun datang, dan Yaya langsung menaikinya. Boboiboy lari tergopoh-gopoh karena takut bus itu akan keburu berjalan lagi. Ketika sudah berada di dalam bus, Boboiboy celingukan mencari gadis itu. Senyumannya melebar ketika melihat Yaya sedang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Tak lupa tangan Yaya berpegangan pada alat pegangan tangan yang tersedia di bus itu untuk menjaga keselamatannya.

Pemuda itu berjalan mendekatinya dan mengambil posisi tepat di sebelah Yaya. Gadis itu menoleh dan terlihat sangat kaget melihatnya ada di sebelahnya. Terbukti dengan kedua manik favorit Boboiboy yang membulat serta mulut Yaya yang menganga lebar.

"Loh, Boboiboy? Kenapa kau ada disini?"

Pemuda itu tak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola matanya karena pertanyaan konyol Yaya, namun kemudian Boboiboy tersenyum manis. Yaya mengerutkan keningnya. "Tentu saja aku mau pulang, Yaya. Kau ini bagaimana sih?"

Gadis itu cukup tercengang mendengar jawaban Boboiboy. Lalu ia menghembuskan napasnya perlahan dan memandang Boboiboy tak percaya. Ia tersenyum mengejek. "Kau kan anak orang kaya, ngapain naik bus seperti ini?"

Boboiboy mengangkat sebelah alisnya. Tawanya hampir saja lolos kalau saja ia tidak ingat misinya apa. Ia tersenyum tipis. "Yah, kau sendiri juga anak orang kaya, ngapain naik bus seperti ini juga?"

Yaya tampak terhenyak selama beberapa saat kemudian melemparkan tatapan kesal ke arahnya. Boboiboy menutup mulutnya dengan tangan dan terkikik pelan. Gadis itu yang awalnya menghindari tatapannya, kini berani menatapnya. Boboiboy menghentikan kikikannya dan menatapnya balik dengan bingung. Yaya tersenyum cukup manis ke arahnya, tapi Boboiboy tahu senyuman itu memiliki makna yang beda dari biasanya.

"Ciee... yang kemarin sangat mengkhawatirkan Ying, sampai segitunya. Sampai Anthony dan Fang dimarahi juga. Ekhem ekhem" goda Yaya yang diakhiri dengan Yaya yang berpura-pura batuk.

Kening Boboiboy mengkerut. Ini sama sekali diluar perkiraannya. "Eh, apaan sih? Kenapa sekarang malah membicarakan ini?"

"Hm... jadian sama Ying tidak bilang-bilang, nyebelin banget. Mana PJ nya? Traktir teman-teman satu kelas dong di restoran" goda Yaya lagi.

Boboiboy terperangah mendengarnya lalu ia memutar bola matanya. "Yaya, siapa sih yang jadian sama Ying? Tidak ada yang jadian kok" elak Boboiboy, meluruskan kesalahpahaman ini.

Tampaknya Yaya tidak mau mendengarkan perkataan Boboiboy dan terus menggoda Boboiboy, tak peduli rasa sakit hatinya yang teriris-iris. "Alah, bilang saja kalau kalian sebenarnya mau pacaran diam-diam, tapi rahasia kalian terbongkar duluan kan gara-gara kejadian itu? Ups, maafkan Fang dan Anthony, ok?"

"Stop, Yaya!"

Gadis itu sangat terkejut dengan bentakan Boboiboy. Mau tak mau ia bungkam dan menelan godaan yang sebenarnya akan diluncurkan setelahnya. Pemuda itu tampak frustasi dengan kelakuan Yaya yang semakin membuatnya naik darah. Boboiboy berusaha membendung emosinya agar tak meledak saat itu juga. Ia masih ingat bahwa ia masih berada di dalam bus, angkutan umum, dan juga sedang berhadapan dengan seorang gadis. Boboiboy menatap Yaya dalam diam dengan serius, membuat Yaya terdiam seribu bahasa.

"Kau ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Siapa yang mengatakan hal itu padamu kalau aku berpacaran dengan Ying? Aku saja tidak pernah menyatakan cinta padanya, apalagi pacaran. Dan aku hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih." Tubuh Yaya mematung mendengar penjelasan pemuda di hadapannya. Entah kenapa gadis itu merasa gembira setelah mengetahui kalau Boboiboy dan Ying tidak ada hubungan spesial kecuali sahabat. "Dan, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu."

Yaya mengerjapkan matanya. "Huh, apa?"

Kedua netra lelaki itu menatap lurus kedua netra milik gadis di hadapannya, membuat Yaya menjadi berdebar-debar. "Kenapa kau menghindariku, Yaya?"

Gadis itu terlonjak mendengar pertanyaan lelaki di hadapannya. Ia langsung mengalihkan tatapannya dan enggan menatap langsung mata lelaki itu. "Siapa yang menghindarimu? Itu hanya perasaanmu, Boboiboy."

Boboiboy memutar bola matanya. Ia langsung mencengkram kedua bahu Yaya lalu memutarkannya sehingga tubuh mereka saling berhadapan. "Kalau memang benar itu hanya perasaanku saja, lalu kenapa kau mengalihkan pandanganmu dari mataku?"

Yaya melepaskan kedua tangan Boboiboy yang masih menempel di bahunya. "Jangan berlebihan, Boboiboy. Tidak ada apa-apa kok. Aku juga tidak merasa menghindarimu selama ini."

Boboiboy memicingkan matanya. "Aku tahu kau bohong, Yaya. Jawablah yang jujur!" perintahnya dengan tegas.

Yaya mulai kesal dan menggeleng. "Aku tidak bohong apa-apa. Sudahlah, jangan dibahas lagi!"

Boboiboy mendecih sebal. "Tuh kan, tidak usah berbohong lagi deh. Percuma kau berbohong kalau orang yang kau bohongi sudah tahu lebih dulu."

Gadis itu terdengar menggeram. "Sudah ku bilang kalau aku tidak bo- huahhhh!"

Tiba-tiba saja bus yang mereka naiki berhenti mendadak dan Yaya hampir saja jatuh ke depan jika saja Boboiboy tidak cepat menangkap Yaya. Wajah gadis itu merona hebat setelah tahu kalau Boboiboy kini tengah memeluk tubuh mungilnya. Sementara tangan kanan pemuda itu masih berpegangan pada gantungan tangan.

"Jadi katakan, kenapa kau menghindariku seharian ini, Yaya?"

Gadis itu tersentak lalu mencoba menyingkirkan tangan kiri Boboiboy dari pinggangnya. "Singkirkan tanganmu ini, Boboiboy!"

Boboiboy kesal karena Yaya selalu seperti ini padanya. Sedetik kemudian sebuah ide terbesit di benaknya. Senyuman jahil tersungging di wajah manisnya. "Ok, baiklah kalau begitu. Kalau kau masih tetap tidak mau jujur padaku, aku tidak akan melepaskan pelukanku."

Yaya terperangah. Wajah gadis itu semakin merah padam. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Kakinya melemas. "Boboiboy, lepaskan! Sesak, tahu!" serunya sambil berusaha menyingkirkan tangan Boboiboy.

"Kau masih belum jujur padaku, untuk apa dilepaskan, hm?"

Jantung Yaya berdebar-debar mendengar balasan yang terlontar dari mulut Boboiboy, ditambah lagi para penumpang bus banyak yang membicarakannya dan pemuda yang memeluknya. Yaya merasa sangat malu. Ingin sekali Yaya mengubur dirinya hidup-hidup saking tak tahannya menahan rasa malu ini. "Boboiboy, apa kau tidak malu dilihat sama orang-orang seperti ini? Lepaskan!"

Sebelah alis Boboiboy terangkat, lalu ia mengedarkan pandangannya. Boboiboy tersenyum kecil. "Biarkan saja, aku tidak peduli."

Ingin sekali Yaya menendang Boboiboy jauh-jauh dari kehidupannya jikalau tidak ingat bahwa Boboiboy adalah sahabatnya yang sangat berarti bagi kehidupannya selain Ying. Gadis itu hampir menjerit saking bahagianya karena bus yang mereka naiki sudah sampai di gang komplek perumahannya. Beda halnya dengan Yaya, Boboiboy tampak kecewa karena ia dan Yaya sebentar lagi akan berpisah, walaupun hanya sementara.

"Pak, berhenti disini!" seru Yaya.

Beberapa detik kemudian, bus tersebut berhenti. Yaya menyingkirkan tangan Boboiboy yang sudah melemas dari pinggangnya. Yaya menoleh ke belakang, menatap mata pemuda itu sambil tersenyum sangat manis, menunjukkan betapa bahagianya ia karena sudah terlepas dari perangkap Boboiboy.

"Aku pulang dulu, Boboiboy!"

Kemudian gadis itu berlari menuju pintu bus. Boboiboy menatap punggung Yaya dengan tatapan kosong. Entah kenapa ia sangat tidak rela melepaskan pelukannya pada Yaya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. "Yaya, kau harus membalas semua pesanku dan jangan menghindariku lagi, ok?!" teriak Boboiboy menggema ketika Yaya sampai di pintu bus.

Yaya tercengang, wajahnya merah padam. Untuk beberapa saat, ia terpaku di ambang pintu bus, memandangi Boboiboy seolah berkata 'kau gila?!'. Wajahnya semakin merah saat semua penumpang bus tengah membicarakan mereka berdua. Ia mendengus kecil. "Iya, bawel!"

Lalu Yaya berlari turun dari bus, meninggalkan Boboiboy yang memanyunkan bibirnya. Pemuda itu memandangi gadis itu yang tengah berlari memasuki sebuah komplek perumahan mewah lewat kaca bus. Senyuman tipis terulas di wajah manisnya.

^^...^^

Gadis penyuka warna pink serta kartun Hello Kitty itu mengayuh sepedanya dengan kecepatan standart. Angin sepoi-sepoi menerbangkan pelan surai hitamnya yang hanya sepanjang setengah punggung. Yaya melirik ke atas sejenak, tersenyum hangat melihat pemandangan favoritnya, matahari terbenam.

Wajah gadis itu memerah saat mengingat moment bersama sahabat laki-lakinya saat berada di dalam bus. Tatapan serius itu, pelukan hangat itu, ekspesi tidak suka pemuda itu saat ia berusaha menghindarinya, mampu membuat hatinya meleleh sekaligus berbunga-bunga. Saat itu, ia merasakan jantungnya berdetak sangat kencang dan ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya. Ah, ternyata Yaya masih terbawa suasana.

Yaya memakirkan sepedanya di depan sebuah gapura raksasa. Seikat bunga melati putih dan lili putih yang berada di keranjang sepedanya, Yaya ambil. Kaki mungil itu melangkah pelan memasuki gapura itu. Kedua netra itu terlihat agak menyipit karena cahaya matahari sore, memandangi banyaknya makam yang tertancap di atas tanah. Ya, Yaya sedang berada di tempat makam umum.

Yaya berjongkok di samping dua buah makam yang bersisian begitu dekat. Tangan gadis itu menyentuh papan nama yang tertera di ujung makam, nama kakek dan neneknya. Yaya menahan dirinya untuk tidak menangis, karena ia begitu merindukan mereka sekaligus kasih sayang mereka.

"Halo, kakek, nenek. Apakabar?" salam Yaya, tersenyum tipis. Yaya menyingkirkan daun-daun kering yang menutupi kedua makam orang tua ibunya. Kemudian Yaya menaruh bunga yang digenggamnya di sisi nisan yang bertuliskan nama tersebut. Gadis itu menunduk, menengadah kedua tangannya, membacakan doa.

"Sudah lama ya aku tidak kesini, soalnya banyak tugas sih." Yaya tertawa garing. "Oh iya, sebenarnya aku ingin curhat sama kalian, soal kehidupanku yang tiba-tiba berubah menjadi lebih berwarna."

Yaya terdiam, mengelus permukaan nisan dengan tatapan kosong. "Akhir-akhir ini aku sangat bingung. Entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdebar-debar saat bersama salah satu sahabat laki-lakiku. Dan wajahku juga tiba-tiba memerah dan terasa panas. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi entah kenapa ini terasa sangat menyenangkan. Nenek dan kakek tidak mau tahu siapa orang yang ku maksud?"

Gadis itu tertawa kecil, menyingkirkan poninya yang hampir menusuk matanya. Angin semilir menerbangkan rambutnya. Ia merasa seperti orang gila karena berbicara sendiri di tengah makam yang sepi. Yaya tersenyum tipis. "Dia itu sebenarnya-"

"Yaya, apa yang kau lakukan disini?"

Jantung gadis itu hampir copot saat mendengar suara itu. Dengan wajah shock, Yaya membalikkan wajahnya dan bertemu mata dengan kedua manik yang selalu tertutupi oleh kacamata bergagang nila. Ia tersenyum gugup lalu berdiri.

"Oh, ternyata kau, Fang? Aku disini sedang mengunjungi makam kakek nenekku." Yaya melirik sekilas kedua makam itu. "Lalu kau sendiri, sedang apa?"

Fang tersenyum tipis, entah kenapa Yaya bisa melihat kegugupan yang tersirat di wajah oriental itu. "Sama, aku juga mengunjungi makam kakek nenekku."

Yaya mengangguk mengerti lalu keduanya sama-sama diam. Keheningan mulai mengambil alih. Fang membaca nama kakek nenek Yaya, sedangkan Yaya menatap kagum matahari terbenam. Semuanya terasa begitu indah.

"Yaya, bagaimana pendapatmu tentang kedua orang tua kita?" Pertanyaan Fang berhasil membuat Yaya menoleh dan menatap Fang cukup lama, merasa aneh. Fang tersenyum miris. "Mereka sangat sibuk. Mereka seperti menelantarkan kita di rumah dan melupakan fakta bahwa mereka masih punya anak walaupun satu."

Sang gadis terkejut mendengar celotehannya. Ia menggeleng. "Apa yang kau katakan itu sangat tidak benar, Fang. Iya, aku tahu kalau mereka sering sekali pulang malam, tapi kau tidak tahu apa yang mereka lakukan disana." Kedua manik Yaya menatap lurus kedua manik yang tertutupi kacamata itu. "Mereka seperti itu karena mereka sedang sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Kau tahu sendiri kan semakin lama, semakin banyak kebutuhan kita. Apalagi sebentar lagi kita akan kuliah. Biaya kuliah itu tidak sedikit loh."

Mendengar penjelasan Yaya, Fang jadi tersentuh. Pandangan lelaki itu menjadi redup untuk beberapa saat. Napasnya tercekat. Selama ini ternyata dugaannya salah. Ia terdiam, membiarkan Yaya untuk bermonolog.

"Mereka sangat menyayangi kita. Kita tidak tahu bagaimana susahnya mereka, merawat kita dari lahir sampai sekarang." tambah Yaya, membuat Fang semakin merasa bersalah saja.

Fang menggigit bibir bawahnya. "Hari ini adalah hari anniversarry pernikahan kedua orang tuaku yang ke-17."

Kedua mata Yaya langsung berbinar-binar. "Benarkah?" Fang mengangguk. "Kalau begitu, kau harus membuat kejutan untuk mereka. Kejutan kecil-kecilan saja, tidak perlu besar-besaran. Dengan begini, mereka pasti sangat senang, dapat kejutan dari anaknya."

Mendengar itu, Fang tidak bisa untuk tidak tersenyum. Gadis di hadapannya selalu bisa membuatnya tersenyum apapun caranya, sekaligus membuatnya lebih lembut dari biasanya. "Terima kasih karena kau sudah menyadarkanku." Yaya mengangguk dan tersenyum manis. Fang sedikit salah tingkah. "Sebagai tanda terima kasihku, aku akan mengantarmu pulang."

Yaya langsung menggeleng, membuat Fang sedikit kecewa karena tawarannya ditolak begitu saja. "Tidak usah, Fang. Aku kesini naik sepeda, jadi aku tidak bisa bersamamu. Maaf ya" tolak Yaya halus, merasa bersalah kepada Fang.

"Iya, tidak apa-apa kok" balas Fang singkat, disertai senyuman getir.

Gadis itu merasa bersalah. Ia sebenarnya tidak mau menolak tawaran Fang begitu saja, tapi bagaimana dengan sepedanya? Lagipula Fang juga naik sepeda, tetapi sepeda motor. Bola mata Yaya bergerak sedikit. "Fang, aku pulang dulu ya. Ini sudah sangat sore."

"Ehm... baiklah kalau gitu. Hati-hati di jalan."

Yaya mengangguk kecil dan melemparkan senyuman untuk terakhir pertemuan mereka kali ini. Pemuda itu terus memandangi gadis itu yang berlari menjauh darinya, keluar dari area pemakaman. Fang menghembuskan napas perlahan. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.

"Gadis itu sudah membuatku sadar akan beberapa hal penting dalam hidupku. Gadis itu juga sudah mengajarkanku banyak kebaikan. Itulah sebabnya aku menyukaimu, Yaya."

^^...^^

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sepasang suami istri turun dari mobil mewah keluaran terbaru bulan ini. Ekspresi kelelahan terpancar jelas dari wajah keduanya. Mereka berdua melangkah dalam keheningan memasuki rumah mereka yang sudah berumur belasan tahun.

Ketika pintu terbuka, sang istri terkejut mendapati bagian dalam rumahnya gelap gulita. Tak hanya dia, sang suami juga ikut terkejut. Mereka berhenti di ambang pintu. "Loh, kenapa rumah kita gelap seperti ini? Memangnya mati listrik?"

Sang suami menggeleng. "Tidak kok. Yang lainnya tidak mati listrik." Ia terdiam sejenak. "Mungkin pulsa listrik di rumah kita habis dan kita juga lupa untuk membelinya" tebaknya. "Kau kan orangnya pelupa, Riska" cibirnya.

Wanita yang bernama Riska itu menatapnya kesal. "Aku tidak sepelupa itu, Arif. Dua hari yang lalu, aku sudah membelinya kok."

Arif memutar bola matanya. "Mungkin Fang yang mematikan semua lampu di rumah kita. Ada-ada saja tuh anak" ujarnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli. Mendengar itu, Riska terkikik.

Arif dan Riska melangkahkan kaki memasuki rumah. Baru satu langkah saja, mereka dikejutkan dengan semua lampu yang menyala tiba-tiba dan potongan kertas kecil-kecil yang jatuh dari atas mereka, hujan conveti. Perhatian mereka sama-sama tertuju pada sosok pemuda berkacamata yang berjalan menuruni tangga dengan kue tart di tangannya. Lengkap dengan lilin berangka 17 menancap di atas kuenya.

"Selamat hari anniversarry pernikahan kalian yang ke-17, Mama, Papa." Fang tersenyum tipis, namun tersirat rasa kebahagiaan di balik senyuman itu.

Terharu, air mata Riska sukses menetes, memandangi putra satu-satunya dengan mata berkaca-kaca lalu kertas warna-warni yang berserakan di lantai. Arif tersenyum bangga karena putranya telah membuat kejutan untuknya dan juga istrinya.

"Wah... Papa tidak menyangka kau akan membuat kejutan seperti ini, Fang."

Fang berhenti di depan kedua orang tuanya. Ekspresi pura-pura kesal ia tampakkan tatkala sang ayah mengatakan kalimat itu. "Jangan bilang seperti itu dong, Pa. Aku kan sudah capek-capek menyiapkan ini beberapa jam yang lalu. Dan aku juga rela belum tidur sampai selarut ini" gerutu Fang pura-pura kesal.

Mendengar itu, Arif tertawa geli. "Iya iya, maafkan Papa. Papa tidak bermaksud untuk menyinggungmu, Fang. Papa hanya tidak menyangka, kau kan orangnya dingin dan cuek, apalagi untuk hal-hal seperti ini. Mana ada orang sepertimu yang mau repot-repot melakukan hal semacam ini, hm?" balasnya sembari menaik-naikkan sebelah alisnya dengan jenaka. Fang memutar bola matanya.

Riska menghapus air matanya. "Terima kasih, sayang, karena kamu sudah repot-repot mau membuat kejutan ini untuk Mama dan Papa."

Fang tersenyum tipis. Rona merah menjalari pipi putihnya. Ia tak ingin kedua orang tuanya tahu hal ini. "Iya, sama-sama. Baiklah, kalian harus meniup lilinnya sebelum kedua tanganku pegal."

Arif dan Riska saling berpandangan lalu tertawa kecil. Sepasang suami istri ini meniup lilin berangka 17 itu secara bersamaan. Kemudian mereka saling senyum-senyum layaknya para pemuda pemudi yang sedang kasmaran. Melihat itu, Fang tersenyum lebar, seolah merasakan kebahagiaan yang dirasakan kedua orang tuanya.

"Nah, ayo kita makan kue tartnya!"

TBC

Oh iya, aku sekarang mau jelasin soal chapter kemarin. Aah, emang bener di beberapa adegan ada yang sama dengan cerita lain. Tapi yang perlu kalian tahu, cerita itu juga punyaku. Cerita yang judulnya "True Love" kan? Iya, itu ff pertamaku. Tapi aku hapus soalnya jelek XD Nah, aku buat lagi yang baru dan hasilnya adalah ff ini "Tears of Sacrifice". Dan namaku juga aku ganti dari Salsa Hasna jadi CutePinkyGirl.

Jadi jangan sebut aku plagiat cerita lain yak! Dan tetep semangat untuk mengisi kotak review lalu mengirimnya...

Review please...