"Bagaimana tadi malam, Fang? Sukses?"

Boboiboy melirik Yaya meskipun pertanyaan tersebut tidak ditujukan untuk dirinya, melainkan untuk salah satu sahabatnya yang berkacamata dan berambut raven. Tak hanya ia, Ying dan Gopal juga menoleh ke arah Yaya sekaligus Fang.

Fang tersenyum agak lebar, Boboiboy mengernyit. "Tentu saja sukses. Oh iya, terima kasih banyak ya, Yaya."

Yaya mengangguk dan tersenyum manis. "Iya, sama-sama, Fang. Aku juga ikut senang kalau kejutan tadi malam sukses."

Boboiboy mendekati mereka. "Memangnya ada acara apa sih sampai bilang sukses-sukses segala?" tanyanya penasaran.

"Kemarin itu hari anniversarry ulang tahun pernikahan orang tua Fang yang ke-17. Tadi malam Fang juga sudah membuat kejutan untuk mereka berdua dan hasilnya sukses!" jawab Yaya antusias. Padahal sesungguhnya Boboiboy berharap mendapatkan jawaban dari Fang.

Mendadak jantung Boboiboy terasa seperti diperas sekuat tenaga hingga membuatnya sesak napas dan panas. Pemuda itu hanya ber'oh' pelan lalu pergi ke luar kelas, meninggalkan Fang yang sedang menceritakan kejadian tadi malam kepada Yaya. Ying dan Gopal sama-sama merasakan sesuatu yang aneh tentang Boboiboy.

^^...^^

Disinilah Boboiboy sekarang, berada di atap sekolah dan hanya ditemani cahaya matahari yang terik dan angin semilir yang menerbangkan helai-helai rambutnya. Pemuda itu menatap kosong pagar pembatas di hadapannya. Kenapa rasanya begitu panas saat ia melihat Fang dan Yaya bercengkrama dengan asyik seperti tadi?

Pemuda itu akhirnya menatap langit biru yang terbentang luas di atasnya. Lalu segumpalan awan menarik perhatiannya. Kedua netranya menyipit, memperhatikan sesuatu yang terbentuk dari segumpalan awan itu. Kemudian matanya melebar ketika ia menyadari bahwa awan itu berbentuk...

Cinta.

Jantungnya berdentum keras saat bayangan masa lalu terlintas di otaknya.

FLASHBACK

Pemuda itu menaiki tangga tergesa-gesa karena mendapat sebuah pesan dari teman barunya yang berjenis kelamin perempuan. Hari ini adalah hari kedua ia menjadi murid di sekolah menengah atas. Sebenarnya pesan itu bukanlah pesan yang gawat darurat, namun pesan itu membuat rasa penasarannya bangkit dan ingin cepat-cepat menemui gadis itu di atap sekolah.

Pintu tersebut terbuka, menampilkan seorang gadis yang berdiri memunggunginya, dengan kepala mendongak ke atas, menatap antusias sesuatu. Menyadari kehadirannya, gadis itu menoleh ke arahnya.

"Boboiboy, ayo cepat kesini! Apakah kau tidak ingin melihatnya?"

Boboiboy tersenyum lebar lalu mendekatinya. Ia berhenti tepat di sebelahnya lalu mendongak, menatap objek yang sangat langka di atas langit. Kedua matanya berbinar-binar. Decakan kagum terucap dari bibir pemuda tersebut. "Waw, itu bagus sekali, Yaya! Bentuknya juga sangat mirip dengan cinta!"

"Hm, tentu saja. Aku kan yang menemukannya pertama kali" balasnya sombong, namun Boboiboy tahu itu hanya bercanda. Boboiboy mengerucutkan bibirnya. Yaya mengambil smartphonenya lalu memotret awan tersebut berkali-kali.

"Fotonya cukup satu saja, kali. Tidak usah banyak-banyak. Lagipula gambarnya juga sama" cibir Boboiboy.

Yaya menatapnya dengan tatapan mencela. "Ye, biarkan saja. Nanti kalau ke hapus, aku kan masih punya banyak fotonya."

Boboiboy memutar bola matanya. "Sama saja dong kalau misalnya kartu memorimu hilang, atau kena format. Fotonya hilang semua" tambah Boboiboy lagi dengan senyuman miring, membuat gadis itu pundung mendadak.

"Iya juga sih" lirihnya sembari memandangi foto hasil jepretannya. Kemudian wajahnya kembali cerah saat ide brilian melintas di otaknya. "Tapi kan aku juga bisa mengcopy foto-foto ini di laptopku. Gitu saja kok repot?"

Pemuda itu mendengus karena argumennya dikalahkan oleh gadis di hadapannya. "Iya deh, terserah kau saja."

Yaya terkikik pelan, sedangkan Boboiboy menggembungkan pipinya kesal. Kemudian mereka saling terdiam cukup lama, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Yaya masih sibuk memotret awan itu dari berbagai sudut pandang, sedangkan Boboiboy memandang deretan atap-atap rumah warga di sekitar sekolahnya.

Karena bosan dan tak mendengar suara gadis itu sama sekali, Boboiboy meliriknya. Ingin tertawa saat melihat seekor capung mendarat di puncak kepala sang gadis. Tampaknya Yaya tidak mengetahuiya. Dengan seringai jahil, Boboiboy melangkah mendekatinya, membuat Yaya tergagap.

"Hei, hei, kau mau ngapain? Menjauh sana!" usir Yaya dengan galak. Semburat merah mulai muncul di kedua pipinya. Tak bisa dibantah bahwa detak jantungnya berpacu lebih cepat.

Boboiboy meletakkan jari telunjuknya di bibir, membuat Yaya mengernyit. "Husshh... diam dulu, Yaya!" Hingga akhirnya Boboiboy berhenti tepat di depannya. Wajah Yaya terasa panas saat Boboiboy mendekatkan wajahnya, seperti hendak membisikkan sesuatu. "Di atas kepalamu ada capung," bisik Boboiboy sangat pelan.

Bisikan tersebut sukses membuat kedua mata Yaya membulat kaget. "Huahhhh! Capung?! Hiiii menyingkir dariku!"

Pemuda itu langsung memasang tampang cengo sekaligus kaget setengah mati karena gadis itu mendadak berteriak dan jingkrak-jingkrak geli. Hampir saja gendang telinganya dibuat pecah olehnya.

Dapat Boboiboy lihat bahwa Yaya tengah mengacak-acak rambutnya, bermaksud untuk menyingkirkan capung itu dari atas kepalanya. Padahal dengan berjingkrak tadi, sukses membuat si capung kembali terbang. Boboiboy menepuk jidatnya keras sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli.

"Hei, Yaya!" panggil Boboiboy. Yaya berhenti berulah histeris dan memandang Boboiboy dengan bingung. Pemuda itu mengulas senyum geli lalu mendekati Yaya. "Untuk apa kau mengacak-ngacak rambutmu seperti ini? Kau kan sudah jingkrak-jingkrak seperti orang kesetanan, tentu saja capungnya sudah hilang dari tadi" kata Boboiboy lalu tertawa.

Yaya menutup mulutnya yang menganga karena shock lalu wajahnya memerah karena malu. Ia mendengus sebal. "Kenapa tidak bilang dari tadi, hah?!" serunya marah.

Boboiboy menghentikan tawanya. "Yah... bagaimana mau bilang kalau kau masih ketakutan seperti tadi?" Yaya menggembungkan pipinya dengan kesal.

Gadis itu pun merapikan rambutnya sambil menahan rasa malunya yang luar biasa. Tak butuh waktu lama, rambutnya kembali seperti semula karena rambutnya sangat halus dan lurus.

Boboiboy memandangi Yaya cukup lama lalu manggut-manggut. Yaya menatapnya heran karena Boboiboy selalu saja bertingkah aneh tetapi juga lucu. "Oh... jadi kau phobia capung ya?"

Yaya mengangguk. "Ya, begitulah." Ia mengerucutkan bibirnya tatkala bayangan gambaran capung terlintas di benaknya. "Aku tidak phobia capung saja, tapi semua serangga, apalagi kecoak." Yaya langsung bergidik saat membayangkan seekor kecoak hinggap di atas kepalanya.

Lelaki itu tak menyangka bahwa gadis di hadapannya mempunyai phobia serangga. Kemudian ia tersenyum jahil dan memandangi Yaya cukup lama. "Eh, Yaya, ada capung lagi!" seru Boboiboy.

"Huahhh... manaa?!"

"Hahahahaha!"

Gadis itu berhenti berjingkrak-jingkrak dan melongo melihat Boboiboy berlari keluar area atap sekolah dan menghilang dari pandangannya. Sedetik kemudian wajahnya langsung masam dan kedua tangannya mengepal erat ketika tahu bahwa ia sudah dibohongi oleh lelaki itu.

"Huuuuhhh... BOBOIBOY!"

FLASHBACK OFF

Boboiboy menghembuskan napasnya lelah. Seharusnya ia sekarang tertawa karena kisah setahun yang lalu itu sangatlah lucu dan mengundang tawa. Tapi di keadaannya yang sekarang ini, tawanya sama sekali tidak muncul, tergantikan dengan wajah murung yang sangat tidak enak dipandang.

Ia melipat kedua kakinya lalu meletakkan dagu di atas kedua lututnya. Memejamkan mata, berharap rasa panas dan sakit itu menghilang dalam sekejap. Ia tak begitu mengerti, kenapa ia harus seperti ini dan merasakan rasa sakit ini? Yang ia inginkan sekarang adalah, menyendiri dari semua orang yang dikenalnya.

CEKLEK!

"Loh, Boboiboy, kau ngapain ada disini?"

Jika Boboiboy boleh memilih, ia tidak ingin mendengar suara itu terlebih dahulu atau paling tidak, tidak membuka matanya untuk melihat wajah sang pemilik suara. Tapi ia tahu ia tidak boleh melakukan itu. Ia tidak boleh egois dengan memikirkan rasa sakit hatinya. Dengan sangat berat hati, Boboiboy membuka matanya dan langsung bertemu mata dengan manik bercahaya yang selalu menghipnotis Boboiboy.

"Kau sendiri, ngapain disini?" tanya Boboiboy balik. Entah hanya Yaya yang salah dengar atau apa, Boboiboy membalas pertanyaannya dengan nada sinis.

Gadis itu tersenyum tipis, agak dipaksakan karena ia merasa sakit hati dengan jawaban sinis Boboiboy. "Aku hanya ingin menjemur bukuku yang ketumpahan minuman Gopal" jawab Yaya seraya memperlihatkan bukunya yang basah.

"Oh."

Gadis yang sudah menjadi sahabat Boboiboy selama satu tahun itu benar-benar bingung dengan Boboiboy. Pasalnya Boboiboy tidak pernah seperti ini kecuali jika sedang badmood. Oh, tunggu, badmood? Yaya menatapnya lama. "Kau kenapa sih, Boboiboy? Kalau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku."

Boboiboy menghela napas lelah, memberanikan diri untuk menatap manik cokelat milik Yaya lekat-lekat, berharap Yaya akan tahu bagaimana perasaannya selama ini. Tapi pancaran mata gadis itu hanya memancarkan kebingungan. Kekecewaan menyelimuti hati Boboiboy. "Lebih baik kau turun dari atap dan biarkan aku ada disini. Aku ingin sendiri."

Rahang Yaya mengeras mendengar jawaban Boboiboy yang secara tidak sengaja, pemuda itu mengusirnya. Yaya menelan ludahnya susah payah lalu memasang senyum kecut. "Baiklah, aku akan turun."

Boboiboy hanya bisa memandangi punggung gadis itu yang kemudian menghilang di balik pintu tanpa mengucapkan apa-apa. Ia mendesah keras lalu mengacak rambutnya frustasi.

^^...^^

Kalau Boboiboy adalah putra dari pemilik sekolah yang ia tempati, maka Boboiboy memilih untuk membolos sampai jam pelajaran berakhir. Boboiboy akui kalau pikirannya hari ini kacau balau. Hanya karena cemburu, ia menjadi sekacau ini. Ah, tapi kalau dipikir-pikir, meskipun dia putra dari pemilik sekolah, ia tidak boleh membolos juga. Hidup memang menyebalkan.

"Boboiboy, kau darimana saja sih? Kita berempat sedari tadi menunggumu di kantin" gerutu Gopal ketika melihat Boboiboy masuk ke dalam kelas dengan pandangan mata terus tertuju pada lantai. Gopal mengerutkan kening, tidak seperti biasanya Boboiboy seperti itu.

"Lagi tidak mood makan di kantin" jawab Boboiboy dingin, menghempaskan tubuhnya di kursi.

Gopal membuka mulutnya, hendak membalas, namun Pak Zola lebih dulu memasuki kelas. Gopal langsung mendudukkan dirinya di kursi dan memasang badan tegap. Siapa yang berani menantang Pak Zola, huh?

Kali ini Pak Zola menjelaskan materi baru. Seluruh murid serius memperhatikannya, kecuali Boboiboy yang hanya memandang kosong buku tulisnya. Ia menopang kepalanya dengan tangan kiri.

Bukan Gopal jika rasa penasarannya langsung menghilang dalam sekejap. Pemuda bertubuh gempal itu melirik ke kiri, Boboiboy sedang melamun. Ia benar-benar bingung karena sahabat karibnya tiba-tiba berubah drastis. Apa Boboiboy kerasukan arwah penasaran ya?

Gopal menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk melenyapkan pemikiran konyol itu. Ia menolehkan kepalanya ke arah Boboiboy di saat Pak Zola sedang bermain ponsel, sudah menyelesaikan kegiatan menerangkannya. "Stt, Boboiboy?" panggilnya berbisik.

Boboiboy hanya meliriknya sekilas dengan kesal. Gopal mengerucutkan bibirnya. Ia memandang Boboiboy tak kalah kesalnya. "Hei, Boboiboy, kau sebenarnya kenapa sih? PMS ya?"

Kalimat terakhir Gopal sukses membuat Boboiboy menoleh ke arahnya sembari mendelik tajam. "GOPAL!"

Boboiboy langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan ketika sadar apa yang barusan ia lakukan. Kedua bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, semua teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan aneh. Yang paling membuatnya takut, ia bertemu mata dengan Pak Zola yang mendelik ke arahnya.

"Boboiboy, ada apa denganmu?" tanya Pak Zola dengan deathglare mematikannya. Pemuda itu menjadi tergagap dan tak sanggup menjawab. Gopal memandangnya dengan ngeri. "Coba kamu kerjakan soal nomor 1 di papan tulis."

Pemuda penyuka warna oranye itu ternganga lebar, sementara guru nyentrik itu masih terus menatapnya. Menghela napas berat, Boboiboy bangkit dan berjalan ke depan untuk mengerjakan soalnya.

Boboiboy berhenti di depan papan tulis dan memandangi soalnya dengan mata membulat ngeri. Sungguh, ia tidak paham materi yang dijelaskan Pak Zola tadi. Salahkan ia yang seenaknya melamun tadi.

"Bagaimana? Tidak bisa?" tanya Pak Zola, membuat Boboiboy terlonjak. Pemuda itu menggeleng dan nyengir. Pak Zola memutar bola matanya. "Baiklah, kalau begitu..." Kedua netra guru itu memandangi satu persatu muridnya. "... Yaya, coba kamu bantu Boboiboy untuk mengerjakan soal itu."

Boboiboy terperangah mendengar nama yang dipanggil Pak Zola untuk membantunya. Ia berbalik, gadis itu sudah bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arahnya. Yaya mengerutkan keningnya saat Boboiboy menatapnya aneh. Mau tak mau, Boboiboy merasakan kakinya melemas saat Yaya berhenti di sampingnya. Kenapa harus Yaya yang dipanggil sih?

Pak Zola menatap Boboiboy tajam. "Kalau kamu ingin bisa mengerjakan soal itu dan tidak saya beri hukuman, jadi kamu harus meminta Yaya untuk mengajarimu."

Boboiboy menjatuhkan rahangnya ke bawah, sedangkan Yaya menundukkan kepalanya dengan malu saat seisi kelas mulai menyoraki mereka berdua.

"Ciee ciee..."

"Wah... kalian so sweet deh."

"Uhuk uhuk, PJ nya dong!"

Wajah Boboiboy dan Yaya sama-sama merah padam, namun Yaya lebih parah karena ia adalah seorang gadis. Boboiboy menyentuh dadanya yang berdentum hebat. Nyaris semua suhu tubuhnya mendidih. Bola mata Boboiboy bergerak tak tentu arah, sulit mengendalikan detak jantungnya sekaligus rasa malu luar biasa yang melanda dirinya. Kenapa ia salah tingkah di saat seperti ini sih?

"Cepat, Boboiboy! Sepuluh menit lagi, jam pelajaran saya akan habis" kata Pak Zola dengan penekanan di setiap kalimatnya. Pemuda berparas manis itu menggarukkan belakang kepalanya bingung. Bagaimana ini?

Menghela napas panjang, Boboiboy mengubah posisinya menjadi menghadap Yaya. Gadis itu mau tak mau juga mengubah posisinya menjadi menghadap Boboiboy. Lelaki itu mengangkat kepalanya dan harus menahan malu lagi karena Yaya bisa melihat wajahnya yang memerah. "Uhm... Yaya, tolong ajarin aku ya."

Lagi-lagi seisi kelas menyoraki mereka. Boboiboy nyaris saja pingsan saking tidak tahannya menopang berat tubuhnya karena kakinya selalu saja melemas. Sedangkan Yaya ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup. Pak Zola yang melihat mereka berdua, mau tak mau mengulas senyum geli.

"Baiklah, Yaya. Tolong ajarkan Boboiboy ya" pinta Pak Zola, terlalu lelah untuk mengulang materi yang baru saja diterangkannya.

Yaya mengangguk. "Baik, Pak."

Gadis berparas jelita itu pun mengisyaratkan Boboiboy untuk mendekati papan tulis lewat tatapan mata. Boboiboy langsung mengerti. Yaya menahan diri untuk tidak mendecak karena soal yang ditulis Pak Zola benar-benar mudah namun Boboiboy tidak bisa mengerjakannya sedikit pun. Apa memang Boboiboy memang benar-benar melamun ya?

Yaya mulai mengajari Boboiboy dan Boboiboy mendengarkannya baik-baik. Saking seriusnya, mereka tidak tahu bahwa semakin lama jarak wajah mereka semakin dekat.

"Ciee... wajah kalian dekat sekali..."

"Uhuy, cium Yaya dong, Boboiboy!"

"Hahahaha..."

Mereka berdua tersentak kaget lalu saling berpandangan. Keduanya sama-sama membulatkan mata saat menyadari hal tersebut. Lalu mereka langsung menjauhkan wajah masing-masing. Boboiboy ingin sekali menendang orang yang menyuruhnya untuk langsung mencium Yaya. Dan tentu saja, yang berkata kalimat itu adalah Gopal. Hanya saja Boboiboy tidak mengetahuinya.

Fang memandang Boboiboy dan Yaya dengan bingung luar biasa. Lalu kedua matanya berpindah fokus pada Gopal yang tertawa cekikikan. "Hei, Gopal? Memangnya mereka berdua kenapa sih?" tanyanya heran.

Gopal berhenti tertawa dan membalikkan badannya agar bertatap mata langsung dengan Fang. "Boboiboy kan menyukai Yaya, dan Yaya juga menyukai Boboiboy" jawab Gopal dengan sangat antusias, sukses membuat Fang shock. Ying yang tak sengaja mendengar, juga ikut-ikutan shock dan nyaris pingsan.

^^...^^

"Apa yang kau katakan tadi itu fakta ya?"

Gopal mengangkat kepalanya dengan sebelah alis terangkat. "Yang mana, Fang? Aku kan sudah bicara banyak tadi."

Fang menelan rotinya. Ia takut tersedak kalau membicarakan hal ini. "Saat kau mengatakan bahwa Boboiboy dan Yaya saling menyukai."

Ying yang sedang menguyah bakso, tiba-tiba berhenti dan melirik Fang, sedangkan Fang menatap serius Gopal yang juga sedang berpikir. Ying menyedot jus sirsaknya dan menatap kedua sahabat laki-lakinya bergantian. Sungguh, ia juga ingin tahu jawaban tentang hal ini yang sudah lama mengganjal di hatinya.

Gopal menengadah ke langit-langit yang tampak mendung. "Entahlah, aku juga tidak tahu tentang mereka berdua." Perhatian Gopal kembali tertuju pada Fang sekaligus Ying. "Menurutku sih mereka berdua sama-sama saling menyukai, hanya saja mereka tidak menyadari perasaan mereka masing-masing dan tetap bersikukuh bahwa hubungan mereka berdua hanyalah sahabat."

Pemuda berkacamata itu mendengus pelan. "Jadi itu hanya hipotesamu saja?" Ia memutar bola matanya. "Ku kira itu sungguhan."

Gopal memanyunkan bibirnya. "Yah, siapa tahu kalau hipotesaku ternyata adalah fakta," balasnya tak ingin kalah. Sedetik kemudian sorot matanya berubah menjadi curiga. "Kenapa kau menanyakan hal ini? Apakah kau menyukai Yaya?"

Ying menutup mulutnya yang menganga lebar. "Fang, kau benar-benar menyukai Yaya?" tanyanya shock. Gopal tak kalah shocknya melihat sahabatnya yang satu lagi terlihat sedikit salah tingkah. Apakah ia hanya salah lihat ya?

Fang membuang mukanya. "Tentu saja tidak. Aku kan hanya bertanya tentang Boboiboy dan Yaya, kenapa malah menanyakan hal ini? Lagipula aku bertanya agar tidak ada rahasia-rahasiaan di antara mereka berlima," jawab Fang.

Awalnya Gopal masih menatapnya curiga, namun kemudian ia hanya mengangguk mengerti. "Oh begitu toh? Aku tak menyangka bahwa kau seperti ini, Fang" katanya lalu tertawa geli. Fang melemparkan tatapan kesal pada Gopal sambil diam.

Berbeda dengan Ying yang langsung mempercayai alasan Fang, gadis berkacamata itu masih terus memicingkan matanya curiga ke arah sahabatnya yang sama-sama bermata empat sepertinya. Ia tahu, Fang menyimpan banyak rahasia, tapi ia tidak tahu apa itu.

^^...^^

Pemuda itu sedang bermalas-malasan dengan berbaring di atas tempat tidurnya yang sudah berantakan. Buku-buku bertebaran di atas kasurnya, sedangkan si pemilik malah sibuk melamun, memikirkan kejadian memalukan yang terjadi di kelas tadi. Namun kemudian, pemuda itu mengerjapkan matanya berkali-kali lalu mendengus.

"Kenapa aku malah kepikiran sama kejadian tadi ya? Kejadian memalukan malah aku pikirin? Grr... menyebalkan!"

Tangannya meraih buku yang tak jauh darinya, tersenyum saat buku yang di dapatnya tepat sasaran. Ia membukanya lalu mencari halaman tentang materi yang dijelaskan Pak Zola tadi. Sungguh, ia sangat-sangat tidak mengerti.

Hampir saja ia melemparkan bukunya ke lantai karena tidak bisa memahaminya satu pun. Otaknya langsung nge-blank mendadak. Lelaki itu mengubah posisinya menjadi duduk lalu mengacak rambutnya frustasi. Apa karena ia masih memikirkan hal tadi sampai ia sulit untuk berkonsentrasi?

Boboiboy menahan diri untuk tidak berteriak karena otaknya sulit untuk diajak kompromi. Pertama, ia merasa cemburu dengan Yaya dan Fang tadi. Kedua, ia merasa sangat malu karena digoda habis-habisan oleh teman-teman sekelasnya bersama Yaya. Kedua netra Boboiboy melirik jam dinding berbentuk jeruk yang menempel di dinding, masih jam 7 malam. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung tempat tidur dan mulai berpikir sesuatu.

Tak berapa lama kemudian, matanya berbinar-binar saat mendapatkan ide brilian yang tak sengaja mempir ke otaknya. Ia langsung menyambar ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Halo, Boboiboy. Ada apa?"

Boboiboy tersenyum sangat manis. "Eh, Yaya, ajarin aku materi Matematika yang tadi dong, please..." pinta Boboiboy dengan nada yang dibuat-buat menyedihkan.

"Masih tidak bisa? Makanya jangan melamun di saat pelajaran" omel Yaya.

Pemuda itu cengengesan seraya nyengir. "Maaf, Yaya. Iya deh, aku tidak akan melamun lagi. Jadi tolong ya ajarin aku malam ini, aku masih tidak bisa nih."

"Hm... baiklah, aku akan mengajarimu. Tapi aku tidak boleh keluar rumah malam-malam begini. Kedua orang tuaku juga belum pulang."

Boboiboy meluruskan kakinya yang terasa kesemutan. "Kalau begitu aku saja yang pergi ke rumahmu. Bagaimana?"

"Hm, baiklah, Boboiboy. Aku tunggu."

Lelaki itu memandang ponselnya cengo karena Yaya memutuskan sambungan teleponnya, padahal kan ia yang menelepon Yaya duluan. Ia memutar bola matanya lalu dengan ogah-ogahan, bangkit dari posisinya untuk bersiap-siap pergi ke rumah Yaya.

^^...^^

Boboiboy menekan tombol bel yang berada di samping kanan pintu rumah Yaya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket seraya menunggu. Tak lama kemudian, pintu raksasa berwarna putih itu terbuka dan menampilkan seorang gadis yang amat Boboiboy kenal.

"Oh, Boboiboy? Masuklah" kata Yaya, mempersilahkan Boboiboy masuk ke dalam rumahnya. Yaya menyingkir, Boboiboy melangkah masuk.

Boboiboy mendudukkan diri di kursi setelah Yaya menyuruhnya duduk. Sementara Yaya masuk ke dalam untuk membuatkan minuman. Perhatian pertama Boboiboy tertuju pada foto raksasa yang menempel di dinding depannya. Foto Yaya yang tersenyum sangat cantik, berlatar belakang taman bernuansa hijau, sukses membuat Boboiboy terkesima.

"Mana yang masih tidak bisa? Materinya kan sangat mudah."

Pemuda itu terlonjak mendengar suara itu. Ia menatap datar sosok gadis yang meletakkan dua gelas jus jeruk di atas meja. Kemudian Yaya duduk di sebelahnya sementara Boboiboy mengeluarkan buku-bukunya.

"Ya iyalah, kau kan memperhatikan Pak Zola tadi. Lah, aku?"

Sang gadis langsung menjitak puncak kepala sang pemuda, membuat pemuda itu meringis dan memberengut. "Siapa suruh melamun di saat pelajaran? Udah ah, cepat buka bukunya."

Boboiboy menuruti apa kata Yaya sambil bersungut-sungut. Yaya mengacuhkannya, membuat Boboiboy bertambah kesal. Yaya menunggunya dengan sabar, hingga perhatiannya tertuju pada pintu rumah.

"Assalamualaikum."

Boboiboy dan Yaya menoleh. "Waalaikumsalam."

Sepasang suami istri itu tampak terkejut dengan kehadiran Boboiboy. Namun kemudian mereka tersenyum ramah. Boboiboy ikut tersenyum kikuk dan mencium punggung tangan mereka, begitu juga dengan Yaya.

"Hm, Boboiboy, lagi belajar bersama dengan Yaya ya?" tanya Dinia.

Boboiboy mengangguk, tersenyum kikuk. Rasanya sangat gugup ketika bertemu dengan calon mertua, eh? "Iya, Tante."

"Baiklah, kalau begitu lanjutkan saja. Kami naik ke atas dulu," ujar Danu, melirik istrinya kemudian melanjutkan langkah mereka. Boboiboy terus memandangi sepasang suami istri tersebut yang sedang menaiki tangga, hingga tepukan di bahu membuatnya mengerjap kaget.

"Ayo, Boboiboy. Kita lanjutkan."

Setelah Yaya mengajari dan menerangkan ulang materi yang diterangkan Pak Zola tadi, Boboiboy mengerjakan soal-soal latihan sesuai perintah Yaya. Gadis itu dengan sabar menunggu sembari menopang dagu.

Meskipun kedua manik Yaya memandangi hasil kerja Boboiboy, tetapi otaknya memikirkan hal lain. Gadis itu merutuk dirinya sendiri yang masih saja memikirkan hal memalukan yang terjadi di kelas tadi. Diam-diam Yaya, menenggelamkan wajahnya di telapak tangan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kening Boboiboy mengkerut melihat gelagat Yaya. "Yaya, kau ini kenapa? Kenapa kepalamu geleng-geleng seperti itu? Memangnya jawabanku salah semua?"

Yaya cukup tersentak. Respon pertama yang ia berikan adalah dengusan kecil. "Bukan, bukan itu yang aku pikirkan, tapi aku masih memikirkan hal paling memalukan yang terjadi di kelas tadi," jawab Yaya dengan wajah memerah.

Pemuda itu terhenyak dan kemerah-merahan mulai muncul di kedua belah pipinya. Ia sedikit salah tingkah, namun kemudian kesal pada dirinya sendiri karena hanya dirinyalah yang salah tingkah, sedangkan Yaya tidak. "Sudahlah, jangan dipikirkan." Dan lagi-lagi, ide muncul di benak Boboiboy. "Huh, bilang saja kalau kau bangga karena disoraki dengan lelaki tampan sepertiku," goda Boboiboy, memamerkan sifat narsisnya yang membuat Yaya muntah-muntah.

Wajah Yaya bertambah merah, antara malu dan juga amarah. "Apa kau bilang?!" geramnya, kemudian ia menyilangkan tangan di depan dada dan membanting tubuhnya ke punggung sofa, mendengus. "Ok, kalau begitu aku tidak akan mau mengajarimu lagi," ancam Yaya.

Boboiboy langsung menatap Yaya panik. Bibir bagian bawah ia gigit. Sia-sia dong kalau ia datang malam-malam kesini kalau Yaya ngambek dan tak ingin mengajarinya. "Yaya, jangan seperti itu dong. Maafkan aku, aku kan hanya bercanda," bujuk Boboiboy dengan puppy eyes andalannya.

Yaya membuang mukanya. "Aku kan sudah bilang kalau aku tidak ingin mengajarimu lagi. Lebih baik kau pulang saja sana. Hush hush," usir Yaya, membuat Boboiboy mengerucutkan bibirnya karena Yaya mengusirnya seperti mengusir kucing liar. Memangnya wajahnya mirip sekali dengan kucing liar ya?

Kemudian Boboiboy menyeringai. "Ok, baiklah, aku akan pulang. Tapi aku akan menyebarkan foto-foto konyolmu yang ku ambil diam-diam lalu menguploadnya di semua sosmed yang aku punya," ancam Boboiboy, sukses membuat Yaya menatapnya horror.

Melihat pandangan gadis itu tertuju pada ponselnya, Boboiboy langsung mengambilnya dan berlari menjauh dari Yaya. Gadis itu tercengang kaget lalu mengejar Boboiboy yang juga sedang berlari menghindari Yaya. Akhirnya mereka pun kejar-kejaran, persis seperti saat Study Tour.

Entah karena saking senangnya berhasil menjahili Yaya atau kebingungan menghindari gadis itu, ia tersandung kakinya sendiri dan terjatuh dengan pantat yang mencium lantai terlebih dahulu. Yaya yang sibuk memikirkan cara untuk menangkap Boboiboy dan terlalu fokus pada pemuda itu, tak sadar bahwa Boboiboy terjatuh dengan posisi terlentang di hadapannya. Matanya terbelalak namun terlambat, ia pun ikut terjatuh menindih Boboiboy.

Boboiboy melongo melihat wajah Yaya tepat di atasnya, sama halnya dengan Yaya. Ia dibuat jantungan melihat wajah Boboiboy ada di bawahnya. Entah seberapa banyak dosanya sampai-sampai ia mengalami hal memalukan ini lagi untuk yang kedua kalinya. Tanpa mereka sadari, mereka saling bertatapan cukup lama tanpa berkedip.

"Yaya, apakah kau sudah memberikan camilan kepada Boboiboy?!"

Dua pasang mata yang saling bertubrukan itu sama-sama mengerjap dan menoleh secara bersamaan ke sumber suara yang sudah berhasil mengganggu moment mereka. Keduanya sama-sama membulat dan segera bangkit dengan wajah merah padam. Di tengah-tengah tangga, terlihat ibu Yaya yang menatap mereka dengan tatapan sangat tidak percaya. Boboiboy meringis pelan.

"Eh, Mama, e-eh... belum, Ma. Aku lupa," balas Yaya, terkekeh pelan yang malah terkesan garing. Yaya dalam hati merutuk.

Sementara Dinia hanya geleng-geleng kepala lalu turun dari tangga, membuat jantung Boboiboy dan Yaya berdentum sangat keras. Jikalau Boboiboy, ia ketakutan setengah mati dan berpikiran bahwa Dinia akan memarahinya. Sementara Yaya, ia sama halnya ketakutan seperti Boboiboy, dan berpikir bahwa sang ibu akan memarahinya habis-habisan karena sudah menindih tubuh seorang lelaki yang bukan suaminya. Astaga, pikiran Yaya mulai kotor.

"Kenapa kau bisa lupa soal ini, Yaya? Ayo kita cari camilan untuk Boboiboy."

Gadis itu menjatuhkan rahangnya ke bawah karena respon sang ibu sama sekali meleset dari dugaannya. Yang dapat ia lakukan adalah menghembuskan napas lega. Boboiboy melakukan hal yang sama. Teringat Boboiboy, Yaya sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu mata dengan Boboiboy.

"Boboiboy, aku harus ke dalam dulu. Kau duduk saja di sofa."

Hanya itu yang Yaya katakan. Boboiboy tidak merespon, jadi Yaya berlari kecil menuju dapur yang berada di lantai satu, tepat di belakang ruang tamu. Boboiboy menghempaskan tubuh di sofa kualitas impor tersebut, sembari menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangan.

^^...^^

Melihat sang ibu sedang mengeluarkan camilan dari kulkas, Yaya langsung mendekatinya dan memasang wajah sangat bersalah, siap untuk mendapatkan amukan super dari sang ibu. "Mama, dengarkan aku, aku tadi tidak melakukan hal apa-apa dengan Boboiboy. Kejadian itu murni kecelakaan, Ma. Mama harus percaya padaku. Itu tidak sengaja," jelasnya dengan takut-takut.

Dinia nyaris tertawa mendengar penjelasan putri satu-satunya. Ia meletakkan camilan-camilan yang digenggamnya di atas meja lalu menatap manik putrinya yang sama dengan miliknya. "Iya, Yaya. Mama percaya padamu kok. Mama tahu kalau kejadian tadi itu tidak sengaja. Mama tahu kalau putri Mama adalah anak yang baik-baik."

Yaya bersyukur karena memiliki ibu yang sangat baik dan pengertian seperti Dinia. Melihat ekspresi lega yang terlihat dari wajah sang putri, Dinia tersenyum jahil. "Hm... apakah kau tidak malu dengan wajahmu yang sangat merah itu? Dan kau pasti sangat senang kan terjadi hal seperti tadi, apalagi dengan Boboiboy," goda Dinia.

Wajah Yaya bertambah merah mendengar godaan Dinia. Ia jadi salah tingkah, dan untungnya Boboiboy tidak ada disini. "Mama apaan sih? Sudahlah, aku harus kembali ke ruang tamu." Yaya segera mengambil camilan-camilan yang sudah disiapkan Dinia lalu berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan Dinia, memandangi Yaya sambil tersenyum geli.

^^...^^

Boboiboy hampir terjungkal dari sofa ketika melihat Yaya berjalan ke arahnya. Ia memperbaiki posisi duduknya, sementara Yaya meletakkan beberapa camilan favorit Boboiboy di atas meja.

Yaya berkacak pinggang, menatap tajam sosok lelaki berjaket hitam oranye di hadapannya. "Sekali lagi aku peringatkan, hapus fotonya, Boboiboy! Kalau kau masih menyimpan fotonya, aku benar-benar tidak ingin mengajarimu lagi."

Pemuda itu spontan berdiri, menyamakan posisinya dengan Yaya yang masih berdiri sejak tadi. "Yaya, jangan marah begitu dong! Lagipula aku tidak punya fotonya lagi, kan fotonya sudah kau hapus saat Study Tour waktu itu," bela Boboiboy, membuat Yaya terperangah.

"Apa kau bilang?!" teriak Yaya geram.

Boboiboy gelagapan saat Yaya memukulnya bertubi-tubi. "Eh, Yaya! Berhenti! Ampun deh, ampun! Aku kan cuma bercanda, Yaya! Hentikan pukulanmu!" pinta Boboiboy yang sama sekali tidak digubris oleh Yaya. Pemuda itu harus merelakan diri pulang dengan tubuh pegal-pegal.

"Yaya, jangan memukuli Boboiboy seperti itu! Kau bisa membuatnya kesakitan," tegur Danu yang kebetulan sedang menuruni tangga. Yaya langsung berhenti dan menatap sang ayah sambil tersenyum malu, sedangkan Boboiboy menghembuskan napas lega.

"Eh, Papa? Iya, Pa. Maafkan aku," kata Yaya dengan sangat tidak ikhlas.

Danu memutar bola matanya. "Jangan ulangi lagi ya, Yaya." Yaya mengangguk kecil. Pria itu pun kembali menuruni tangga dan melangkah menuju dapur, tampaknya ingin menemui sang istri.

Setelah Danu benar-benar sudah memasuki area dapur, Yaya menatap Boboiboy sebal, sedangkan Boboiboy hanya nyengir.

TBC

Gimana chapter kali ini? Bagus atau jelek? Dimohon review ya, wajib banget review! Jangan jadi dark readers dong...

Maaf kalau ada typo bersebaran di atas, hehe. Maklum, males banget ngecek ulang. Langsung publish aja :v

Btw, makasih banyak ya udah review di chapter kemarin. Review lagi yuks!