Chapter 2

"Simple Love Simple Happinesse"

Cast : BTS & Seventeen

Pairing : SoonHoon - YoonMin - VerKwan - VHope - JeongCheol - NamJin - JunHao - Meanie

Jungkook, Seokmin, Joshua, & Chan adalah milik mereka sendiri xD

Summary : Jihoon yang baru saja memulai kembali kehidupannya di Korea harus rela berurusan dengan Soonyoung, teman barunya di sekolah yang selalu mengejar-ngejarnya setiap hari. Apakah Jihoon akan terus menghindarinya atau malah berakhir di dalam dekapannya ?

Disclaimer : Seventeen n BTS adalah milik agency, orang tua, dan tentu saja diri mereka sendiri

Warning : Typo berserakan dimana-mana, Yaoi, Boys Love, GJ, de el el

Happy Reading ^^

.

.

.

.

Hari ini, hari Senin diminggu awal Bulan Juli adalah hari yang paling bersejarah bagi para pelajar sekolah menengah pertama yang baru saja mendapatkan ijazah mereka karena hari ini adalah hari pertama mereka menginjakkan kaki di tingkat awal sekolah menengah atas.

Oh~ betapa bahagianya anak-anak itu karena sebentar lagi mereka akan memulai fase baru dalam kehidupan remaja mereka.

Banyak orang yang bilang bahwa masa SMA adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidup dan banyak kenangan yang tak bisa kalian lupakan.

Dan sepertinya seorang Park Jimin setuju dengan persepsi itu. Lihatlah wajah bodohnya yang sedari tadi merekahkan senyumnya itu, menatap sosok seseorang yang tengah berdiri di sudut panggung, tempat sang kepala sekolah di sekolah baru Jimin itu berpidato.

Yeah~ hari ini adalah hari pertama Park Jimin menginjakkan kakinya di SMA. Lulusan SMP yang tak terlalu terkenal, otak pas-pasan, dan kampung asalnya yang ada di Busan adalah beberapa faktor yang membuatnya memilih sekolah ini.

Ddaebak High School...

Sekolah yang tak terlalu banyak pelajaran akademiknya, memfokuskan pada seni, benar-benar sekolah yang sangat cocok dengan sifat malah berfikirnya seorang Park Jimin. Dan satu nilai plusnya adalah sekolah ini berasrama membuat Jimin tak usah pusing-pusing memikirkan biaya kontrakan.

Tapi sepertinya kali ini Jimin harus menambahkan satu lagi hal yang membuatnya bahagia berada di sekolah ini, yaitu namja itu.

Namja imut berambut blonde, wajahnya yang seputih susu, senyuman manis seperti gula, dan postur tubuhnya yang mungil, mirip dengan tubuhnya sendiri, benar-benar type ideal Park Jimin.

Sebuah tangan tiba-tiba saja terulur menyentuh jidad Jimin membuat sang empunya jidad menatap malas kearah sampingnya.

"Apa sifat gilamu itu sedang kambuh sekarang, Tae ?"

"Ani~ tapi kurasa kali ini kau yang mulai gila Jim~" mendengar ucapan Taehyung barusan membuat Jimin langsung menepak tangan Taehyung menjauh dari jidadnya lalu mendelik kearah sahabatnya itu.

"Aku masih sangat waras Tae~ dan aku heran padamu, bukankah kau bilang kau ingin jadi polisi ? Tapi kenapa kau malah mengikuiku ke sekolah ini ha ?!"

Taehyung hanya menyengir lalu memeluk Jimin. "Karena kau adalah sahabat sejatiku Park Jimin. Dan aku juga tak bisa berpisah lama-lama denganmu. Ugh~ sepertinya Park Jimin dan Kim Taehyung memang di takdirkan tinggal bersama selamanya."

"Dalam mimpimu Kim Taehyung. Ish~ aku bahkan merinding sendiri membayangkan aku kan sekamar denganmu nanti."

Taehyung tak menggubris omongan Jimin itu, Taehyung malah semakin mengeratkan pelukannya pada sahabat SMP nya itu. Mereka berdua terus larut dalam dunia mereka sendiri tanpa memperdulikan pidato penyambutan siswa baru yang tengah berlangsung di atas panggung itu.

Masa Orientasi Siswa itu sendiri berlangsung selama seminggu. Dan Jimin harus bersyukur selama seminggu itu karena setiap hari entah kenapa ia merasa takdir baik selalu bersamanya.

Hari pertama orientasi... Seluruh siswa baru di sekolah itu di suruh untuk meminta tanda tangan para sunbae dan guru-guru.

Jimin cukup hebat dalam bergaul jadi tak sulit baginya untuk mendapatkan banyak tanda tangan. Bukannya senang, Jimin malah sedih.

Pasalnya sampai waktu hampir habis pun dia belum bertemu dengan sunbae blonde manis pujaan hatinya itu. Jimin sudah mengelilingi seluruh isi sekolah tapi tetap saja tak menemukan keberadaannya.

Satu lantai lagi Jimin naiki maka dia akan sampai di atap sekolah dan itu berarti adalah ujung pencariannya.

Jimin pun menghembuskan napas beratnya saat membuka pintu yang menghubungkannya ke atap sekolah. Sedetik kemudian Jimin tersenyum lebar kala matanya tak sengaja menatap sosok seseorang tengah duduk di pinggir tembok pembatas atap.

Kepalanya yang menunduk tanpa gerakan berarti membuat Jimin berasumsi bahwa namja itu tengah tertidur.

Jimin pun melangkah mendekat lalu berjongkok didepannya kemudian menusuk-nusuk pipi pucat namja itu dengan telunjuknya membuat namja yang tengah terlelap itu terusik dan terbangun.

Mata mengantuknya kini berganti menatap tajam Jimin di depannya. "Kau siapa ? Kenapa ada disini ?"

"Aku siswa baru, aku mencari sunbae kemana-mana. Ternyata sunbae tidur disini." ucap Jimin dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.

"Wae ?"

"Nde ?"

"Kenapa kau mencariku ?"

"Ah~ ini, aku mau minta tanda tangan sunbae."

Namja blonde itu mendengus malas, acara tidurnya terganggu hanya karena anak kecil yang minta tanda tangan astaga...

Direbutnya asal buku yang didekap Jimin itu, lalu dengan kasar di baliknya lembar demi lembar buku itu untuk mencari dimana namanya berada.

Setelah menemukannya namja itu langsung mencoret-coretnya asal dan melemparkan asal kepada Jimin.

Jimin tersenyum saat menatap satu nama yang tertera Indah di buku itu. Kini dia tau siapa namja dihadapannya ini.

Min Yoongi...

'Salam kenal hyung.' ucap Jimin dalam hati.

Yoongi mendengus saat melihat namja didepannya ini malah terdiam seperti batu bodoh.

"Yakh~ Cepat pergi dan jangan pernah datang kesini."

Kalimat itulah yang terus menerus Jimin dengar selama seminggu masa orientasi.

Di hari kedua Jimin dengan segala kecerobohannya menumpahkan jus jeruk keatas kepala Yoongi yang sedang makan siang di kantin membuat namja blonde itu murka. Sungguh bukan rencana Jimin melakukan hal itu, dia hanya terpeleset kulit pisang yang ada didepannya. Jimin hanya sedang tak melihat jalan karena terlalu fokus menatap wajah imut Yoongi saat mengunyah makanan.

Hari ketiga pun tak jauh berbeda. Pantat Yoongi dengan indahnya terjun kelantai akibat di tabrak oleh Jimin di depan pintu toilet. Astaga... Jimin hanya sudah tak tahan mengeluarkan panggilan alamnya.

Begitu pula dengan hari keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Berbagai macam kesialan menimpa Yoongi akibat perbuatan Jimin.

Bahkan setelah masa orientasi itu berakhir Jimin masih saja terus membuntutinya. Membuat Yoongi lama-lama merasa jengah dan kesal.

"Apa kau penjahat kelamin Park ? Kenapa kau selalu mengikutiku kesana kemari ha ? Kau psikopat ? Apa kau kurang kerjaan ? Mau kuberi pelajaran dengan menghajarmu disini ha ?"

Teriakan Yoongi menggema ke seluruh lorong lantai itu. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka tak terkecuali Taehyung dan Soonyoung yang baru saja kembali dari kantin.

Sejak kejadian itu Jimin tak pernah lagi membuntuti Yoongi. Yoongi akui itu. Tapi kini ada yang membuntutinya setiap jam istirahat, yaitu...

'Susu coklat, kimbap, dan cheese cake.'

Yoongi menghela napas beratnya lalu menghampiri semua makanan itu. Duduk bersandar di tepi pagar pembatas atap sekolah sembari menikmati semua makanan yang sudah tersaji rapi setiap harinya.

Awalnya Yoongi bingung, siapa yang menaruh semua makanan itu setiap hari di atap sekolah? Darimana dia tahu kalau Yoongi pasti pergi ke atap sekolah setiap jam istirahat?

Hanya satu kertas kecil tertempel di kotak susu saat pertama kali Yoongi menerima makan siang gratis itu yang berbunyi...

'Untuk Yoongi sunbae yang semakin manis setiap harinya. Kuharap sunbae sehat selalu.'

Dan kini Yoongi tahu dari mana semua makanan ini berasal...

Park Jimin...

Namja bodoh itu yang selalu meletakkan makan siang gratis itu untuk Yoongi. Saat tak sengaja Yoongi melihat Jimin naik ke atap sambil membawa semua makanan itu, Yoongi ingin menegurnya agar tak melakukan hal itu lagi.

Tapi semua niat itu Yoongi urungkan saat melihat senyum lebar Jimin merekah Indah dibibirnya kala meletakkan semua makanan itu di atap sambil berbisik...

"Setidaknya aku masih bisa memperhatikannya seperti ini meski Yoongi hyung tak pernah melihatku." lalu Jimin mendongakkan kepalanya menatap langit biru yang bersinar cerah hari ini.

"Apa aku seburuk itu untuknya? Kenapa Yoongi hyung membenciku?" menghela napas beratnya lalu menunduk menatap sedih semua makanan yang tadi dibawanya. "Padahal aku sangat menyukainya."

Entah kenapa sejak saat itu perasaan Yoongi menjadi aneh. Dia jadi ingin melihat bocah bodoh itu tiap hari padahal dekat saja tidak.

Apa yang salah dengan Yoongi? Apa dia juga sudah mulai suka pada seorang Park Jimin?

"Apa-apaan ini?! Apa dia tak punya selera lain?! Kenapa setiap hari menunya hanya susu coklat, kimbap, dan cheese cake saja?" gerutu Yoongi masih dengan mulut penuh kimbap.

.

.

.

Akhir pekan adalah waktunya ekstrakulikuler dan tubuh Yoongi sudah penuh peluh setelah hampir 2 jam ini bermain basket bersama anak-anak klub basket lainnya.

Dan saat waktu istirahat tiba, tak sengaja mata Yoongi menatap sosok seseorang sedang berdiri termangu di pagar atap gedung sekolahnya itu.

Yoongi pun langsung pamit pulang lebih dulu, beralasan tak enak badan pada pelatih basketnya. Bukannya kembali ke asrama untuk istirahat, Yoongi malah berlari menaiki tangga menuju atap sekolah.

"Tertangkap basah sekarang kau Park Jimin!" pekik Yoongi langsung memukul belakang kepala namja yang lebih muda darinya itu.

"Hyung?!" pekikan tak kalah keras pun terlontar dari bibir Jimin. Matanya membelalak tak percaya menatap Yoongi yang kini tengah tersenyum manis kearahnya.

"Apa kau akan terus seperti ini? Bersembunyi dan diam-diam memperhatikanku dari belakang?"

Mendengar pertanyaan Yoongi itu membuat Jimin menundukkan kepalanya.

"Ck~ dasar pengecut~" ucap Yoongi dengan pandangan mata yang menerawang langit orange di sore itu. "Apa aku sudah gila?! Bagaimana bisa aku tertarik pada namja pengecut sepertimu ini?! Ya~ ya~ aku yakin aku pasti benar-benar sudah gila."

"Nde?" Jimin hanya bisa mengerjap polos menatap Yoongi yang kini malah merebut kaleng minumannya dan menegukkan. Sungguh~ otak Jimin masih mencoba mencerna situasi ini.

"Apa kau punya uang?" satu pertanyaan dari Yoongi yang langsung di jawab anggukan kepala pelan oleh Jimin.

"Bagus~ kalau begitu malam ini traktir aku makan malam. Dan jangan traktir susu coklat, cheese cake, apalagi kimbap lagi ! Heol~ itu sungguh murahan. Lidahku ini berlevel tinggi jadi setidaknya kau harus mentraktirku pizza atu steak."

Yoongi menatap Jimin yang masih melongo di tempatnya. "Ini malam minggu, asrama terbuka malam ini, jadi ayo kita makan diluar." lanjut Yoongi dengan senyum manis yang kembali merekah Indah dibibirnya membuat jantung Jimin yang melihatnya jadi berdegup cepat tak terkendali.

Tapi memang dasarnya Park Jimin itu bodoh dan telmi, ia sama sekali tak sadar meski Yoongi telah berlalu meninggalkannya tanpa menunggu jawaban darinya. Jimin masih termangu di dunianya sendiri, mencoba mencerna maksud ucapan panjang Yoongi barusan.

"Yoongi hyung bilang tertarik padaku? Yoongi hyung mengajakku makan malam bersama? Berdua...? Hanya berdua? Tunggu... Yoongi hyung... Suka padaku? DIA SUKA PADAKU?" heboh Jimin sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.

Dan kini jari telunjuknya itu beralih menunjuk bibirnya dan menatap minuman kaleng yang ia pegang. Minuman kaleng yang tadi ia minum dan barusan di minum Yoongi.

"Astaga... Aku dan Yoongi hyung barusan... Kita... Ciuman tak langsung?!"

.

.

.

.

.

Yoongi menyipitkan matanya menatap kekasihnya yang sedari tadi memamerkan senyuman bodohnya itu.

"Apa yang lucu ha ?!" mendengar suara dingin Yoongi membuat Jimin akhirnya tersadar dan menoleh kearahnya.

"Aniya~ hanya saja setiap aku berada disini aku selalu teringat akan masa-masa awal hubungan kita hyung."

Jimin lalu menunjuk hidung Yoongi dengan telunjuk mungilnya. "Awalnya kau jual mahal tapi akhirnya kau juga yang mengejarku benar kan hyung."

Mendengar kalimat godaan Jimin itu membuat rona merah langsung menghiasi wajah Yoongi. Untungnya atap sekolah mereka ini tak memiliki pencahayaan yang terlalu terang membuat rona merah di kulit pucat Yoongi tak begitu kentara.

Tapi tetap saja astaga... Jika mengingat awal pertemuan mereka hingga saat ini, Yoongi benar-benar jadi merasa kalau dirinya terlalu murahan.

"Yakh~ Park Jimin bodoh hentikan omong kosong itu! Hal itu benar-benar sudah basi!"

Yoongi lalu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk pantatnya agar debu yang ia duduki hilang kemudian mulai melangkah pergi membuat tawa Jimin berhenti.

"Hyung mau kemana ?" pertanyaan Jimin sukses membuat langkah Yoongi terhenti dan kembali berbalik hanya sekedar untuk menjawab.

"Ke kamar."

"Untuk apa? Ini bahkan masih jam 9 hyung~ ini juga malam minggu~ ayolah setidaknya nikmati malam Indah penuh Bintang ini bersama kekasihmu ini."

Yoongi hanya menatap malas Jimin. "Hey bocah sialan~! Aku bahkan sudah duduk termenung disitu selama hampir 2 jam hanya untuk melihatmu senyam senyum tak jelas begitu~! Heol~ lebih baik aku meneruskan menulis lagu saja di kamar~!"

Melihat kepergian Yoongi membuat Jimin kelabakan sendiri. Dia bisa di mutilasi Kim sialan Taehyung dan Kwon mesum Soonyoung kalau begini.

Jimin langsung mengambil HP di sakunya dan mengirim pesan pada teman bodohnya yang telah menjerumuskannya kedalam rencana gila mereka itu.

Jimin terus berlari mengejar Yoongi sambil tangannya masih sibuk mengetik pesan. Jika Yoongi sampai tahu bahwa asrama kosong maka matilah kau Park Jimin.

.

.

.

.

1 jam 30 menit sebelumnya di klub malam Hongdae

Musik keras mengalun Indah menjadi ciri khas klub malam. Namja dan yeoja berbaur menjadi satu diatas lantai dansa. Menari meliuk-liukkan tubuh mereka menikmati musik yang di berikan oleh sang DJ.

Bagi yang malas menggerakan tubuh, mereka lebih memilih minum di meja bartender atau saling bermesraan dengan pasangan mereka di sudut-sudut ruangan yang gelap.

Yah~ begitulah kehidupan malam. Dan malam ini kedelapan siswa nakal Ddaebak High School pun datang ke tempat yang seharusnya tak mereka datangi ini.

Jika kalian bertanya siapa pencetus ide gila ini, makanya jawabannya tentu saja berasal dari otak berlebih Boo Seungkwan.

Untuk seorang Boo Seungkwan dan Lee Seokmin kabur dari asrama di malam hari dan datang ketempat seperti ini adalah suatu hal yang biasa. Begitu pula bagi Kim Tae hyung dan Jung Hoseok yang juga sering kabur demi berkencan berdua.

Tapi tidak bagi keempat teman yang mereka bawa melompati pagar asrama malam ini.

Jeon Jungkook, Lee Chan, Choi Hansol, dan Xu Minghao. Empat siswa terpolos dan termuda di angkatan mereka.

"Cha~ everybody~ kita nikmati malam ini~! Cheers~!" teriak Seungkwan lalu mengangkat gelas berisi colanya yang diikuti ketujuh orang lainnya.

"Kupikir kau akan memesan bir, wine, atau soju." ucap Taehyung setelah meneguk minumannya.

"Yak~ kita ini masih anak SMA~ anak SMA yang uang sakunya tak banyak~ mana mungkin bisa beli segala macam minuman itu dengan uang pas-pasan begitu." jelas Seungkwan panjang lebar dengan gaya sok mabuknya.

"Benar~ anggap saja cola ini bir~" lanjut Seokmin yang ikut-ikutan sok mabuk.

"Tapi... Apa asrama akan baik-baik saja ? Bagaimana kalau kita ketahuan pergi ke klub malam begini ?" rasa khawatir Hansol tercetak jelas diwajahnya.

Seungkwan langsung menghambur memeluknya. "Tenang saja chagiya~ ada Park pabo Jimin yang jadi pawangnya disana."

"Yakh~ jangan asal bicara dasar Boo gendut~!" protes Taehyung hampir melemparkan gelasnya ke kepala Seungkwan kalau saja tak langsung di hentikan oleh Hoseok.

"Anak itu memang pabo jadi diamlah." sergah Hoseok membuat Seungkwan tertawa puas.

"Yakh~ hyung~! Bagaimana bisa kau menghina sahabat sejatiku begitu ha ?!"

"Yakh~ jika dia tidak bodoh mana mungkin dia bisa jatuh Cinta pada singa buas dan jadi pawangnya ha ?!"

"Tapi kurasa kau sama bodohnya dengan temanmu itu Tae~" ucapan Seokmin membuat Taehyung mengerutkan keningnya tak suka.

"Wae ?" ucap Taehyung dan Hoseok bersamaan.

"Karena kau juga menyukai seekor kuda dan rela menjadi pawangnya."

"Yakh~" teriak Taehyung dan Hoseok bersamaan dan hampir melemparkan gelas mereka ke kepala Seokmin.

"Jaga bicaramu dasar sesama kuda." cibir Hoseok kesal lalu menghempaskan tubuhnya kesandaran sofa.

"Eh~ dimana tiga anak kecil itu ?" tanya Taehyung dengan mata yang memandang kesana kemari seperti mencari sesuatu.

"Itu~ mereka ada di lantai dansa." tunjuk Seokmin pada sosok Jungkook, Chan, dan Minghao yang tengah menari-nari.

"Apa tidak apa-apa membiarkan mereka begitu ? Kurasa tak seharusnya kita membawa mereka bertiga ke tempat seperti ini." ucap Hansol yang langsung mendapat gelengan kepala dari kekasihnya.

"Sudah biarkan saja mereka begitu. Anak-anak seusia mereka tidak boleh di kekang. Biarkan saja mereka bersenang-senang. Mereka perlu belajar untuk jadi dewasa."

"Bukankah usia kita semua yang ada disini hampir sama. Dasar sok dewasa." cibir Taehyung yang hanya mendapat desisan dari Seungkwan.

"Tapi Boo~ bukankah kita disini untuk merayakan kedatangan anak baru itu ? Tapi kenapa Bintang utamanya malah tak datang begini ?" pertanyaan Seokmin langsung mendapat kibasan tangan Seungkwan.

"Tenang saja~ kalau soal anak itu si Kwon itu sedang menguruskan. Kita hanya tinggal menunggunya saja."

.

.

.

.

Tok

Tok

Tok

Suara ketukan pintu membuat Jihoon menghentikan acara membaca bukunya.

Berjalan pelan meraih kenop pintu kamarnya lalu membukanya. Sedikit terkejut melihat siapa yang datang. Namun raut tak suka langsung berganti menghiasi wajahnya.

"Untuk apa kau kemari ha ?!"

"Apa aku tak boleh main ke kamar temanku sendiri ?"

"Ani~"

"Kalau begitu bagaimana jika aku mampir saja."

"Tidak boleh."

"Oh~ ayolah~ aku hanya ingin menyapamu~"

"Kalau begitu sampai jumpa."

"Yakh~ Lee Jihoon."

Soonyoung langsung menahan pintu yang hampir ditutup oleh Jihoon. Sedangkan Jihoon sendiri masih mencoba mendorong pintu kamarnya itu agar tertutup.

"Aku hanya ingin menyapamu secara resmi dan berkenalan saja tapi kenapa sikapmu seperti ini."

"Kau kan sudah menyapaku tadi jadi kau tak perlu masuk."

"Yakh~ Lee Jihoon aku hanya ingin berteman denganmu. Jadi biarkan aku masuk."

"Mianhae Soonyoung-ssi tapi aku tak berniat sedikitpun berteman denganmu. Dan bagaimana bisa aku membiarkan penjahat kelamin sepertimu memasuki kamarku."

"Yakh~" teriak Soonyoung langsung mendorong keras pintu kamar Jihoon itu membuat tubuh mungil Jihoon terdorong dan terlempar jatuh.

Soonyoung langsung masuk dan menutup pintu kamar itu membuat Jihoon membelalakkan matanya. Entah kenapa kini ia bergidik ngeri melihat tatapan mata Soonyoung sekarang.

Jihoon pun bangkit hendak menyeret tubuh Soonyoung keluar dari kamarnya tapi bukannya tubuh Soonyoung yang ia seret, malah Soonyounglah yang sekarang menyeret tubuhnya, mendorong tubuh mungilnya ke atas salah satu tempat tidur di kamar itu lalu menindihnya.

Jihoon tak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini. Namja yang ia anggap penjahat kelamin selama ini tengah berada diatas tubuhnya, menindihnya dengan wajah yang begitu berdekatan.

Tapi Jihoon sama sekali tak bisa berteriak hanya sekedar untuk meminta tolong. Jangankan berbicara, bernapas saja terasa sangat sulit bagi Jihoon sekarang.

"Lepaskan aku atau aku akan berteriak hingga seluruh siswa bahkan pengawas asrama datang kemari dan melihat perbuatanmu ini Kwon."

Soonyoung hanya menyeringai lalu mendekatkan bibirnya tepat di sebelah telinga Jihoon. "Lakukan saja, tapi sebelum kau sempat melakukan hal itu aku pastikan bibirku ini akan mendekap mulutmu terlebih dahulu."

Mendengar bisikan Soonyoung itu membuat Jihoon membulatkan matanya. Segera saja ia memberontak, tangan mungilnya terus memukul-mukul dada Soonyoung agar melepaskannya.

Tapi sayang, usahanya itu sia-sia saja. Kini Soonyoung malah mencengkeram kedua tangan Jihoon di samping kepalanya membuat keselamatan Jihoon benar-benar berada di ujung tanduk.

"Apa maumu ha ?!" mendengar pertanyaan Jihoon itu membuat Soonyoung kembali menyeringai.

"Aku hanya ingin kau Jihoonie~"

"Mw-mwo ?"

"Jika kau memberikan tubuhmu malam ini padaku, maka aku akan melepaskanmu."

"MWO ?"

.

.

.

.

Wen Jun Hui, siswa asal Cina yang berhasil menjadi siswa pilihan yang mendapatkan kesempatan belajar di Ddaebak High School sebagai siswa pertukaran pelajar bersama Xu Minghao.

Namja Cina itu sedari tadi terus saja memanyunkan bibirnya menatap kesal ponsel di genggamannya yang sedari tadi tak berbunyi. Jun sedang menunggu balasan pesan dari sang kekasih yang sedari tadi tak juga membalasnya.

Terkadang namja Cina itu akan melemparkan ponselnya asal keatas kasurnya dan berguling kesana kemari saking bosannya menunggu. Dan hal kekanakan itu sungguh membuat mata Jin perih melihatnya.

Jin yang sedari tadi duduk menyandar di atas kasurnya yang berada di seberang ranjang Jun itu langsung menutup kesal novel bacaannya kemudian menatap nyalang kearah Jun.

"Yakh~ Wen Jun Hui hentikan sikap kekanakanmu itu ! Benar-benar tidak sadar umur. Jika kau rindu pada kekasihmu itu kenapa kau tidak turun lalu mengajaknya jalan-jalan di taman belakang asrama ha ?!"

Ide yang Bagus menurut Jun. Jalan-jalan sambil bergandengan tangan berdua bersama Minghao pasti akan sangat romantis. Tapi masalahnya kali ini adalah sekitar 2 jam yang lalu saat Jun mengiriminya pesan hendak mengajak Minghao makan malam bersama di kantin bawah, Minghao membalas kalau dia tidak lapar dan ingin tidur lebih cepat karena badannya sedang tidak enak.

Jun yang membaca hal itu langsung khawatir dan menawarkan diri membelikannya obat atau hanya sekedar menemaninya di kamar. Tapi Minghao malah melarangnya turun karena takut kalau-kalau Jun nanti tertular, lagipula ada Wonu yang akan menjaganya.

Membaca hal itu membuat Jun sedikit merasa lebih tenang karena Wonwoo memang temannya yang paling peduli dan pasti akan menjaga temannya yang sedang sakit dengan begitu telaten sama seperti saat Chan terkena demam berdarah beberapa bulan yang lalu.

Tapi tetap saja rasa khawatir Jun tak bisa hilang begitu saja. Dia masih saja terus mengirim pesan pada kekasihnya itu, setidaknya ia masih bisa merasa sedikit lega karena sang kekasih masih bisa membalas pesan-pesannya yang menandakan sakitnya tak begitu parah.

Yah~ mungkin memang Minghao hanya tak enak badan saja, istirahat tidur mungkin adalah hal terbaik yang bisa mebuat tubuhnya lebih cepat baik.

"Apa dia sudah tidur ? Kenapa tak membalas pesanku lagi." gerutu Jun sambil memanyunkan bibirnya membuat Jin yang melihatnya memalingkan wajahnya malas.

"Dia sedang sakit memang seharusnya dia beristirahat tapi kekasihnya ini malah mengajaknya ber-chat ria." cibir Jin yang kembali meneruskan acara membaca novelnya.

"Tapi Jun... Apa kau tak merasa ada yang aneh ?" Jin kembali menghentikan bacaannya hanya sekedar untuk menatap Jun di seberangnya.

"Wae ?"

"Kukira Minghao tak sedekat itu dengan Wonwoo sampai-sampai berani memanggil nama kecil anak itu."

"Apa maksudmu ?"

"Bukankah kau tadi bilang bahwa Minghao menyebut Wonu yg menjaganya ? Dia juga tidak memberi embel-embel 'hyung' di belakang nama Wonu." ucapan Jin itu membuat Jun kembali membuka percakapannya dengan Minghao tadi.

"Kau benar... Apa dia lupa karena terlalu malas mengetik ? Anak itu kan jika sedang tak enak badan pasti sakit kepalanya juga kumat." Jun mencoba tetap berpikir positif karena dia sangat mengenal Minghao. Minghao itu adalah anak paling polos yang pernah ia temui dan kepolosannya itulah yang membuat Jun jatuh hati padanya. Dan Jun tahu kalau Minghao itu tidak akan pernah berani berbohong padanya.

"Selain itu... Apa kau tak merasa keadaan asrama malam ini terlalu sepi ? Ck~ benar-benar seperti kuburan."

Jun kembali berpikir mendengar ucapan Jin itu. "Benar juga. Kemana perginya anak-anak pembuat onar itu ?!" Jun yang penasaran pun bangkit dari ranjangnya.

"Kau mau kemana ?" tanya Jin melihat Jun meraih jaketnya dan hendak membuka pintu kamar mereka.

"Perasaanku jadi tidak enak. Aku akan mengecek ke asrama bawah. Jika benar-benar ada sesuatu yang tak beres dan itu menyangkut kekasihku maka akan kubunuh mereka semua."

.

.

.

.

Seungkwan tak henti-hentinya tertawa menatap layar ponsel yang ia pegang sedari tadi itu. Sesekli jemari lentiknya sibuk bergerak di layarnya, entah apa yang ia ketik yang pasti wajah berpipi chubby itu terus menyunggingkan senyuman.

"Astaga~ aku sungguh tak kuat lagi." tawa lepas akhirnya keluar dari bibir namja bermarga Boo itu membuat Hansol yang sedari tadi memperhatikannya semakin penasaran.

Akhirnya diambilnya ponsel yang baru saja di letakkan Seungkwan di meja itu untuk melihat hal lucu apa yang sedari tadi dilihat kekasihnya itu.

"Lho Boo kau ganti password HP ?" tanya Vernon saat ia tak berhasil membuka ponsel itu dengan password ponsel Seungkwan yang biasanya.

"Ani~"

"Lalu kenapa ponsel ini tak mau terbuka ?"

Seungkwan hanya melirik sekilas. "Ah~ itu bukan ponselku. Itu ponselnya Minghao."

Hansol langsung mengerutkan keningnya begitu mendengar perkataan Seungkwan itu. "Untuk apa kau... Yakh~ Boo Seungkwan kejahilan apa lagi yang kau buat ha ?!"

Sungguh~ seorang Choi Hansol itu sudah sangat mengenal seorang Boo Seungkwan. Kekasihnya itu suka mengerjai teman-temannya. Bahkan hampir tak ada siswa seangkatan mereka yang belom pernah merasakan kejahilan Seungkwan. Semua pernah merasakannya tak terkecuali Hansol yang notabene adalah kekasihnya sendiri.

"Aku tidak jahil, aku hanya membalas pesan yang masuk di ponsel itu karena Minghao menitipkan ponselnya padaku. Bahkan Minghao sendiri yang menyuruhku membalas jika seandainya ada pesan masuk."

Hansol masih menyipitkan matanya tak percaya. "Sungguh ?"

"Astaga~ sungguh~ kali ini aku tidak bohong. Jika tak percaya tanya saja pada Minghao sana." Seungkwan yang kesal hanya melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir yang maju kedepan.

"Kalau begitu apa passwordnya, aku ingin memeriksanya." Seungkwan hanya menghela napas beratnya kemudian merebut ponsel itu lalu ia kembalikan lagi pada Hansol setelah mengetikkan kata sandi hingga ponsel itu kini dapat di jelajah Hansol sesuka hati.

"Hanya ada pesan dari Jun hyung saja." gumam Hansol dengan mata yang sibuk naik turun membaca isi pesan itu.

"Boo..."

"Hem~" Seungkwan hanya menanggapi Hansol dengan malas, bahkan untuk menoleh menatap orang yang berbicara padanya saja Seungkwan enggan.

"Aku yakin semua kata yang kau tulis ini bukan Minghao yang menyuruhmu kan ?!"

Seungkwan hanya menyengir dan menatap Hansol dengan tatapan liciknya. "Sudah biarkan saja. Anak polos seperti Minghao itu terkadang perlu menjadi dingin dan jual mahal agar kekasih Cinanya itu sedikit menderita."

Mendengar ucapan Seungkwan yang diakhiri dengan gelak tawanya itu membuat Hansol hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Aku yakin Jun hyung sekarang sedang tak tenang." gumam Hansol masig Setia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa kalian hanya duduk saja disini sich~ ayo ikut kami menari disana. Ini sungguh asyik." ajak Jungkook membuat kelima namja itu saling bertatapan.

"Benar~ untuk apa kita datang ketempat seru seperti ini jika tidak untuk bersenang-senang." Seokmin akhirnya bangkit berdiri diikuti Seungkwan.

"Let's party tonight~" teriak Seungkwan dengan gaya sok Inggris nya yang membuat Hansol ikut berdiri.

"Let's go go go~" kini Taehyung dan Hoseok ikut berdiri hendak menyusul mereka ke lantai dansa.

Namun langkah mereka semua langsung terhenti saat mendengar suara ribut dari arah pintu masuk. Wajah heran mereka semakin tergambar jelas saat musik keras di dalam ruangan itu tiba-tiba saja berhenti.

"Apa yang terjadi ?"

.

.

.

.

Dengan langkah cepatnya Jun menuruni tangga dari lantai tiga ke lantai dua. Ia sungguh tak sabar untuk menyeret kakinya ke kamar sang kekasih yang berada di lantai dua itu.

Namun Jun segera menghentikan langkahnya saat melewati perpustakaan yang ada di lantai dua asrama itu. Perpustakaan yang memiliki dinding kaca membuat siapapun yang melewatinya dapat melihat keadaan di sekitar perpustakaan itu. Dan saat itu ekor mata Jun tak sengaja menemukan seseorang yang juga sedang ia cari.

Segera saja Jun masuk kedalam perpustakaan dan langsung menuju meja dimana dua orang namja tengah duduk sambil sesekali terlihat tertawa bersama itu.

"Jeon Wonwoo !" panggil Jun membuat sang empunya nama langsung mendongak dan menatapnya.

"Oh~ Jun hyung." balas Wonwoo menyapa Jun.

"Kenapa kau malah disini ? Bukankah seharusnya kau menjaga Minghao ku yang sedang sakit." mendengar ucapan Jun membuat Wonwoo mengerutkan alisnya bingung.

"Apa maksudmu hyung ? Aku sama sekali tak mengerti."

"Ck~ apa karena si tiang ini yang mengajakmu ber-lovey dovey disini jadi kau begitu saja meninggalkan orang yang sedang sakit sendirian dikamarnya begitu ? Astaga... Aku tak menyangka kau setega itu Jeon !"

Wonwoo yang sungguh tak mengerti kemana arah pembicaraan hyung satu tingkatnya itu kembali hendak membuka mulutnya menyahuti jika saja tak didahului oleh Mingyu.

"Hyung maaf tapi sepertinya kau sedang salah paham." sahutan tiba-tiba Mingyu membuat Jun kini yang mengerutkan keningmu.

"Salah paham ?"

"Nde~ Wonu dan aku sudah berada disini sejak jam ekstrakulikuler tadi sore selesai. Kami bahkan belum kembali ke kamar, kau tidak lihat kami masih pakai seragam sekolah begini ?" ucap Mingyu sambil menunjuk seragamnya dan Wonwoo secara bergantian. "Kurasa kau sedang di kerjai oleh seseorang dan aku berani bertaruh bhwa orang itu tak lain tak bukan adalah si lebay Boo Seungkwan.

"Nde ?" sungguh Jun masih mencoba mencerna penjelasan Mingyu itu.

"Saat aku mengambil buku dari perpustakaan sekolah tadi aku tak sengaja melihat anak-anak nakal itu melompati pagar asrama dan kulihat Minghao bersama mereka."

"Nde ?" teriak Jun yang kini mulai mengerti kemana arah pembicaraan adik kelasnya itu. "Kau mau bilang kalau Minghao ku... Ani~ maksudku Xu Minghao kabur dari asrama ?"

.

.

.

.

Jimin menuruni tangga itu dengan begitu pelan. Bibirnya tak bisa diam menggigiti kuku jarinya untuk melampiaskan rasa khawatir dan takutnya.

Khawatir bahwa nyawa teman-temannya sekarang sedang berada di ujung tanduk dan takut karena Jimin yakin tak lebih dari sepuluh menit lagi nyawanya akan melayang di tangan Min Yoongi.

Sungguh~ membayangkan hal apa yang akan terjadi 10 menit kedepan saja membuat Jimin bergidik ngeri. Jimin menatap punggung Yoongi yang berjalan di depannya dengan wajah pucat. Sungguh... Jika waktu bisa diputarnya maka Jimin akan kembali ke waktu tadi sore di ruang klub dance di mana ia dipaksa membantu rencana gila kawan-kawannya itu kemudian menolaknya dengan tegas.

"Hyung~!" panggil Jimin mencoba menyamai langkah Yoongi.

"Mwo ?" jawab Yoongi datar.

"Kau bilang adikmu yang tinggal di Amerika itu akan pindah ke Korea dan bersekolah bersamamu disini. Tapi kenapa dia belum datang juga ? Kapan dia datang ?" ucap Jimin mencoba mencairkan suasana mencekam itu.

Sekilas Yoongi tersenyum. "Wae ?"

"Ani~ aku hanya penasaran saja pada adikmu itu. Aku ingin bertemu dengannya, menyapanya, dan mengenalkan diriku sebagai kekasih tampanmu." dan kata terakhir Jimin itu sukses membuat Yoongi memutar bola matanya malas.

"Kau kan sudah melakukan semua hal itu." jawab Yoongi enteng yang membuat Jimin mengerutkan alisnya bingung.

"Mwo ? Kapan ?"

"2 minggu yang lalu."

"Hah ? Benarkah ? Dimana ? Kenapa aku tak ingat ?"

"Di kantin saat makan malam di hari pertama adikku masuk ke asrama."

"Mwo ? Adikmu sudah disini ? Tapi kenapa aku tak ingat apa-apa. Lagipula seingatku 2 minggu yang lalu saat makan malam bukankah aku mengenalkan diri pada Jihoon. Seingatku juga anak baru disekolah kita ini hanya Jihoon saja, belum ada siswa baru yang datang. Jadi bagaimana bisa aku bertemu dengan adikmu ?"

Jeda sejenak. Yoongi hanya menggelengkan kepalanya menatap Jimin yang tengah berpikir keras itu.

"Tunggu dulu..." Jimin tiba-tiba saja menghentikan langkahnya membuat Yoongi ikut berhenti dan menatapnya dengan tangan menyilang di depan dadanya.

"Apa otak bodohmu itu sudah bekerja sekarang ?"

"Hyung... Ini tidak mungkin kan ?! Jadi maksudmu adikmu yang bernama Woozi itu adalah... Jihoon ?"

Yoongi menganggukkan kepalanya pelan. "Ck~ kenapa otakmu itu sangat lelet begini. Bukankah kau sering bilang bahwa wajahku ini sangat mirip dengan anak baru itu ?"

"Heol~ aku sungguh tak percaya ini. Tapi... Bagaimana bisa Min Woozi berubah jadi Lee Jihoon ?"

Yoongi tak menggubris pertanyaan yang menurutnya bodoh itu. Yoongi maah melanjutkan langkahnya meninggalkan Jimin yang masih termenung dalam pikirannya sendiri.

"Kalau Jihoon adalah adik Yoongi maka ini benar-benar mala petaka astaga..." gumam Jimin begitu pelan.

Dan begitu ia tersadar ia begitu terkesiap dimana ia berada sekarang. Ini bukan lantai 3 dimana kamar Yoongi berada. Hey~ ini adalah lantai 2 dimana kamar Jimin berada dan juga lantai dimana kamar Jihoon berada.

Dan kamar itu ada di ujung lorong dan Yoongi tengah menuju kamar itu sekarang.

'Kau benar-benar akan mati sebentar lagi Park Jimin.' batin Jimin menangis meraung-raung.

Jimin pun dengan sekuat tenaga yang ia bisa, ia berlari mencoba mendahului Yoongi yang sebentar lagi akan sampai di kamar Jihoon. Dan sebelum tangan putih pucat Yoongi itu sempat memegang kenop pintu, Jimin langsung berhenti didepan Yoongi, lebih tepatnya berdiri menghalangi pintu kamar itu dari Yoongi.

Dengan senyum lebarnya Jimin mencoba mengalihkan perhatian Yoongi. "Hyung! Aku lapar! Ayo kita ke kantin bawah dan makan malam bersama."

"Aku tak lapar, minggir!" Yoongi mencoba meraih kenop pintu itu meski badan Jimin masih Setia menghalanginya.

"Bagaimana kalau kita pesan pizza saja hyung. Kau kan suka makan pizza!"

"Tidak mau !"

"Bagaimana kalau ayam goreng atau kau mau makan chesse cake saja hyung ?"

"Aku bilang aku tak lapar Park Jimin ! Minggir aku mau ketemu adikku !"

"Kalau begitu kita pesan ice cream saja kau pasti suk..."

"Yakh~ Park Jimin kenapa kau menghalangiku seperti ini sich !" Yoongi kini melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap Jimin penuh selidik. "Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ?"

Jimin langsung membulatkan matanya merasa bahwa dirinya telah tertangkap basah sekarang. Jika dalam keadaan biasa melihat wajah Yoongi begitu dekat begini, Jimin pasti akan langsung menyambar bibir merah menggoda itu tapi keadaan sekarang benar-benar membuat Jimin tak berani hanya sekedar menatap bibir merah itu, meneguk ludahnya saja terasa begitu berat bagi Jimin.

"Oh~ Jimin ada kecoa di bahumu !" seru Yoongi yang langsung mengembalikan kesadaran Jimin sepenuhnya. Jimin langsung melonjak kaget, melihat Jimin sedikit lengah membuat Yoongi langsung mendorong tubuh Jimin kesamping, membuat namja bermarga Park itu sukses mencium tembok di sampingnya. Sedangkan Yoongi langsung saja membuka pintu kamar itu dan matanya langsung membulat seketika.

"Dimana Jihoon ?" itulah kalimat yang langsung keluar dari bibir Yoongi begitu melihat keadaan kamar yang tak berpenghuni itu.

Jimin yang masih mengelus-elus kepalanya yang tadi berbenturan dengan tembok itu langsung meraih ponselnya saat ponsel disakunya itu tiba-tiba saja berdering. Mata sipirnya melebar saat membaca nama kontak yang muncul di layar ponselnya.

Jimin tak berniat mengangkat telepon itu, sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk mengangkat telpon dari Kwon bodoh itu. Mengangkat telponnya sama saja bunuh diri di depan Yoongi.

Dan tak lama kemudian sebuah pesan line masuk. Pesan yang sama dengan kontak yang baru saja menelponnya tadi. Jimin langsung saja membuka pesan itu dan matanya langsung membelalak lebar begitu melihat isi pesan dengan sebuah foto yang dikirim itu.

"Dasar anak-anak bodoh !" pekik Jimin membuat Yoongi mengalihkan pandangannya kearahnya.

"Siapa itu ?" tanya Yoongi dengan nada dinginnya membuat Jimin terlonjak kaget dan segera menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya.

Jimin langsung menggeleng-geleng cepat. "Bukan siapa-siapa kok hyung." ucapan gugupnya itu ia akhiri dengan cengiran canggungnya.

"Berikan padaku !" perintah Yoongi sambil menengadahkan tangannya. Bukannya memberikan ponselnya, Jimin malah terus saja menggelengkan kepalanya yang kini sambil mempoutkan bibirnya kedepan.

"Park Jimin berikan sekarang juga sebelum aku mengambilnya dengan kasar."

"Tapi hyung janji dulu tidak akan membunuhku !"

Yoongi hanya memutar bola matanya. "Baiklah~"

"Mwo?"

"Aku janji."

"Janji apa ?"

"Huh~" Oke Park Jimin kau benar-benar sukses membuat kesabaran Min Yoongi habis. "Aku, Min Yoongi berjanji tidak akan membunuh Park Jimin setelah melihat apapun isi ponsel itu."

Jimin akhirnya tersenyum lega dan memberikan ponselnya, walaupun masih dengan ragu-ragu membuat Yoongi yang benar-benar sudah kehilangan kesabarannya itu segera merebut ponsel itu begitu saja dan melihat apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kekasih bocahnya itu.

Mata Yoongi langsung membelalak lebar begitu melihat foto dan isi pesan yang tertulis tepat di bawah foto itu. Pesan line dari Kwon Soonyoung dengan fotonya bersama sembilan anak lainnya menjadi backgroundnya. Mereka terlihat berada di dalam jeruji besi. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah salah satu namja di belakang, namja mungil berambut blonde dengan sweater pink tengah terduduk meringkuk di sudut ruangan. Dan tanpa diberitahu pun Yoongi sudah sangat yakin bahwa itu adalah Lee Jihoon, adiknya...

'Jimin-ah~ help me ㅠ ㅠ kami tertangkap polisi ㅠ ㅠ'

.

.

.

.

T

B

C