"Simple Love Simple Happinesse"

Cast : BTS & Seventeen

Pairing : SoonHoon - YoonMin - VerKwan - VHope - JeongCheol - NamJin - JunHao - Meanie

Jungkook, Seokmin, Joshua, & Chan adalah milik mereka sendiri xD

Summary : Jihoon yang baru saja memulai kembali kehidupannya di Korea harus rela berurusan dengan Soonyoung, teman barunya di sekolah yang selalu mengejar-ngejarnya setiap hari. Apakah Jihoon akan terus menghindarinya atau malah berakhir di dalam dekapannya ?

Disclaimer : Seventeen n BTS adalah milik agency, orang tua, dan tentu saja diri mereka sendiri

Warning : Typo berserakan dimana-mana, Yaoi, Boys Love, GJ, de el el

Happy Reading ^^

.

.

.

.

Jihoon mengernyitkan dahinya begitu taksi yang ia tumpangi berhenti tepat didepan sebuah gedung berkelap-kelip. Hoshi yang sedari tadi duduk disebelahnya pun langsung keluar setelah membayar tagihan taksi yang mereka berdua tumpangi kemudian berlari kecil mengitari taksi hanya untuk membukakan pintu untuk Jihoon.

Dengan ragu Jihoon pun turun dari taksi itu. Pandangan matanya tak beralih sedikitpun dari gedung aneh didepannya. Kini kepalanya ia miringkan seolah tengah memikirkan sesuatu. "Tempat apa ini ?"

Soonyoung pun tersenyum. "Nanti kau juga akan tahu. Kajja~ kita masuk ! Yang lainnya sudah menunggu kita didalam." Soonyoung pun mulai melangkahkan kakinya menuju tangga masuk gedung itu.

Tapi begitu dirinya menyadari bahwa Jihoon sama sekali tak beranjak dari posisinya, Soonyoung pun berdecak dan kembali menghampiri Jihoon. "Wae ? Anak-anak yang lain sudah menikmati pestanya terlebih dahulu. Jadi Bintang utamanya harus segera bergabung."

Jihoon hanya menatap malas Soonyoung. Soonyoung pun sedikit membungkukkan badannya hingga wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah Jihoon.

"Kau lupa perjanjian kita tadi ? Tubuhmu malam ini adalah milikku jadi turuti apapun yang aku katakan atau..." Soonyoung memberi jeda sejenak sebelum akhirnya ia semakin memajukan wajahnya membuat Jihoon refleks memundurkan tubuhnya namun punggungnya langsung di tahan oleh tangan Soonyong membuatnya kembali terkejut.

Soonyoung menyeringai. "Atau kau mau aku sentuh ?"

"Barusan kau sudah menyentuhku dasar penjahat kelamin !" Jihoon langsung berjalan dengan langkah-langkah lebarnya setelah memberikan sebuah hadiah jitakan cukup keras ke kepala Soonyoung membuat Soonyoung kini berjongkok dan mengelusi kepalanya yang terasa berdenyut.

"Yakh~ Jihoon tunggu aku~" teriak Soonyoung sambil berlari menyusul Jihoon yang kini telah masuk kedalam gedung itu.

Setelah berhasil menyamai langkahnya, Soonyoung dan Jihoon pun berjalan beriringan melewati lorong panjang yang cukup sepi itu. Namun tak lama kemudian tiba-tiba mereka mendengar suara keributan dari arah ujung lorong itu membuat Jihoon dan Soonyoung menghentikan langkah mereka dan saling bertatapan.

Dari persimpangan lorong itu tampak banyak orang yang berlarian keluar, berlari melewati mereka berdua, mereka semua tampak saling berlomba mencapai pintu keluar secepatnya.

"Ada apa ini ?" tanya Jihoon heran.

"Molla~" jawab Soonyoung singkat.

Tak lama kemudian sebuah suara melengking yang sangat Soonyoung hafal menyambut gendang telinganya. "Yakh~ kalian berdua cepat lari ! Jangan hanya berdiri seperti patung bodoh begitu !"

Soonyoung semakin dibuat bingung melihat Seungkwan yang berteriak begitu keras dan berlari melewatinya begitu saja diikuti ketujuh temannya yang lain. Jihoon yang melihat hal itu pun jadi ikut merasa takut.

Jihoon tanpa sadar melangkah mendekati Soonyoung lalu tangan mungilnya meraih ujung jaket Soonyoung dan menarik-nariknya membuat Soonyoung berbalik menatapnya. "Ada apa sebenarnya ?"

Dan sedetik kemudian Soonyoung baru mengerti dengan situasi risuh ini begitu ia melihat beberapa orang berpakaian polisi muncul dari balik persimpangan lorong itu.

"Sial~! Ada razia !" ucap Soonyoung membuat Jihoon membulatkan matanya.

"Mwo ?"

Soonyoung langsung saja meraih tangan mungil Jihoon dan menariknya agar ikut segera berlari seperti yang lainnya. Meski otak Jihoon masih mencoba mencerna situasinya saat ini, namun ia tetap berlari mengikuti Soonyoung. Bagaimanapun Jihoon tak mau sampai tertangkap dan berakhir di balik jeruji besi hanya karena ulah namja yang tengah menarik tangannya ini.

"Yakh~ Boo Seungkwan ! Lee Seokmin ! Kim Tae hyung tunggu aku !" teriak Soonyoung namun kedelapan temannya itu tampak tak mendengarkan teriakannya dan terus saja berlari menyelamatkan diri masing-masing.

Sampai akhirnya mereka sampai di perempatan jalan. Seungkwan, Hansol, Chan, dan Minghao memilih terus berlari lurus, sedangkan Taehyung, Hoseok, Jungkook, dan Seokmin memilih berbelok ke kanan.

"Sial~!" Dan Soonyoung yang bingung harus mengikuti yang mana pun hanya berakhir berdiri di tengah - tengah perempatan itu dan sibuk menoleh kesana kemari. Jihoon yang sudah kesal dan kehilangan kesabaran pun akhirnya menarik tangan Soonyoung kearah kiri.

Para petugas polisi yang berhasil mengejar mereka pun ikut berpencar ke tiga arah itu. Dan ternyata arah kiri yang tadi dipilih Jihoon adalah jalan buntu. Oh~ betapa sialnya nasib Jihoon malam ini.

Petugas polisi yang mendapati jalan buntu itu pun lalu menengok kekanan dan kekiri, mencari tempat yang mungkin saja dijadikan tempat persembunyian. Polisi itu hanya berpikir tidak mungkin para remaja yang ia kejar itu melompati tembok meski tembok di sekitarnya itu tak terlalu tinggi.

Sedangkan Soonyoung mencoba bersembunyi sebaik mungkin. Bersembunyi di balik tumpukan bungkusan-bungkusan sampah yang ada disana. Ia mencoba bersembunyi sebaik mungkin dengan memeluk tubuh Jihoon yang ada di bawahnya.

Jihoon sungguh ingin memukuli dadanya saat ini karena entah ada apa jantungnya kini malah berdetak sangat cepat. Apa ini karena Soonyoung kini berada begitu sangat dekat dengannya ? Lihatlah~ jika Jihoon menoleh seperti ini bahkan ia akan langsung bertemu dengan apple adam milik Soonyoung.

Namun Jihoon sebisa mungkin menghilangkan pikiran yang membuat pipinya terasa panas itu. Ini bukan waktunya memikirkan hal seperti itu. Jihoon terus meminta pada dirinya agar berpikir positif. Debar jantungnya yang begitu cepat itu pasti hanya karena efek berlari-lariannya tadi. Ya... Efek lari.

Namun debaran jantungnya kini bahkan berdetak berkali-kali lipat saat Soonyoung menunduk dan menatapnya, membuat dahi mereka bersentuhan. Mereka berdua pun saling bertatapan. Dan tatapan mata Soonyoung yang seolah berkata menenangkan itu berhasil membuat Jihoon sedikit merasa tenang.

Baiklah... Meski ia tak menyukai namja disampingnya ini tapi untuk saat ini Jihoon akan mencoba mempercayainya...

"Yakh~ waktu permainan petak umpetnya sudah selesai !"

.

.

.

.

"Jeon Jungkook !"

"Wonu hyung~" Jungkook yang sedang menangis ketakutan di pojok ruang tahanan sementara itu langsung mendongak begitu mendengar suara berat khas hyung nya itu.

"Chanie-ya~"

"Jeonghan hyung~" Chan langsung menghambur ke pelukan hyung tersayangnya itu meski jeruji besi masih menghalangi mereka.

"Minghao sayang~"

"Ugh~ Jun hyung~" Minghao langsung berlari menghampiri Jun.

"Dasar anak nakal ! Kau benar-benar mencoreng nama keluarga ya dasar Kim Taehyung sialan !"

"Jinnie-ah~ sabarlah~"

Namjoon hanya bisa menahan Jin yang hampir saja menjambaki rambut Taehyung yang kini telah berdiri di hadapannya.

"Hyung~ mianhae~" ucap Taehyun dengan wajah menyesalnya yang menunduk.

"Yakh~ buang akting memuakkanmu itu dari hadapanku !"

"Ish~" desis Taehyung yang tak pernah bisa membodohi hyungnya satu itu. "Lagipula ini semua terjadi kan gara-gara ide sialan dari Boo gendut itu."

"Yakh~ jaga ucapanmu dasar Kim pabo ! Ini kan juga idemu !" teriak Seungkwan tak mau disalahkan.

"Jelas-jelas kau yang mengajak kami kabur dari sekolah !"

"Aku memang mengajak kabur dari sekolah, tapi kan yang punya ide pergi ke klub malam itu jelas-jelas kau ! Yakh~ hyung jika kalian tak percaya pada ucapanku, tanya saja pada yang lain."

"Tapi kan tetap saja-"

"Diam !" teriak Jin yang emosinya sudah berada di ujung tanduk.

Semuanya telah berkumpul disana. Yoongi pun juga ada disana, dan pastinya dengan tatapan tajamnya menatap dua insan yang masih setia duduk di pojokan ruang tahanan itu.

Jihoon yang melihat tatapan Yoongi langsung menundukkan kepalanya. Selain penjara, hal lainnya yang tak mau Jihoon hadapi adalah mendapat tatapan mematikan dari hyungnya itu seperti ini.

"Jangan takut, Yoongi hyung itu memang singa di sekolah, tatapannya tak pernah santai di kondisi apapun." ucapan Soonyoung yang awalnya berniat menenangkan Jihoon itu malah berakhir mendapatkan tatapan tak kalah membunuh dari Jihoon.

"Diam kau jika tak tahu apa-apa !" dan sebuah tepukan cukup keras kembali menghantam kepala Soonyoung. Sekali lagi Soonyoung hanya bisa mengaduh dan mengusap-usap kepalanya.

"Jadi kalian wali anak-anak ini ?"

Tanya seorang polisi pada semua orang yang baru saja datang dan cukup membuat ribut kantor polisi itu.

"Nde~ aku Jeon Wonwoo, aku adalah hyungnya." ucap Wonwoo sambil menunjuk Jungkook.

"Aku Yoon Jeonghan akan jadi walinya Lee Chan."

"Dan aku akan menjamin Jung Hoseok."

"Yakh~ Jin hyung !" pekik Taehyung tak terima yang langsung mendapat delikan nyalang dari Jin.

"Wae wae wae ? Saking malunya aku bahkan tak mau mengakuimu sebagai adikku !"

"Hyung~!"

"Sudahlah~ jangan ribut lagi. Apa kalian tak malu dilihat banyak orang." ucap Namjoon sambil mengelus punggung Jin mencoba menenangkan emosi kekasihnya itu.

"Kalau begitu biar aku yang menjamin Kim Taehyung."

"Ah~ Namjoon hyung memang yang terbaik~ Saranghae hyung~"

"Diam kau Kim Taehyung !"

"Wae ? Hyung cemburu karena aku bilang saranghae ke Namjoon hyung eoh ?"

Jin hampir saja melemparkan tinjunya ke mulut berlebih adiknya itu jika saja tak di hentikan Namjoon dan Hoseok yang langsung memukul kepala Taehyung yang banyak bicara itu.

"Seungcheol hyung pasti mau jadi waliku kan ?! Aku kan adik kesayangan kedua Jeonghan hyung~" ucap Seungkwan penuh kepercayaan diri.

Seungcheol pun tersenyum manis pada Seungkwan. "Hansol-ah~ kemarilah~ hyung yang akan jadi walimu." dan ucapan Seungcheol itu langsung membuat Seokmin dan Taehyung menertawakan Seungkwan.

"Yoongi ?" ucap Jin membuat semuanya kini menatap Yoongi yang sedari tadi berdiri diam dengan pandangan yang sama sekali tak beralih sedikitpun dari Jihoon.

"Aku akan menjamin Lee Jihoon."

"Mwo ?" teriakan tak percaya langsung keluar dari mulut Seungkwan dan Seokmin.

"Bagaimana bisa hyung menjamin anak baru dan mengacuhkan ku ?" ucap Seungkwan dengan nadanya yang dibuat berlebihan itu.

"Jisoo-ah ?" kini Jeonghan memanggil Jisoo yang sedari tadi diam melihat keributan itu.

"Aku akan bawa Soonyoung."

"Yakh~ hyung !" pekik Seungkwan dan Seokmin bersamaan.

"Pak polisi kami sudah selesai memilih, bisakah kita bawa mereka pulang sekarang ?"

"Hyung !" teriak Seungkwan dan Seokmin heboh memanggili hyung-hyungnya.

"Nde~ kalian semua bisa membawa mereka setelah mengisi formulir perwalian ini." polisi itu menyerahkan selembar kertas yang langsung diisi oleh kedelapan namja itu.

"Kenapa kalian tega sekali padaku ?"

"Karena kau sahabatnya Boo Seungkwan." jawab Seungcheol atas pertanyaan Seokmin.

"Apa salahku ?"

"Salahmu banyak Boo. Jika tak ingat aku maklum." kini Jun yang menyahuti pertanyaan Seungkwan.

"Gyu-ah~ kau bisa jadi waliku kan ?!" pinta Seokmin dengan wajah memelasnya.

"Mianhae~ kita kan seumuran. Sama-sama belum legal jadi aku tak bisa berbuat apa-apa."

"Jimin-ah~" kini Seungkwan yang memberikan puppy eyes nya pada Jimin yang sedari tadi berdiri di samping Yoongi.

"Aku juga belum legal, mian~"

"Bagaimana bisa kalian semua melakukan ini pada kami berdua ? Tidak adil !"

Seungkwan masih saja terus membicarakan ketidakadilan sampai kedelapan temannya yang lain telah keluar dari sel itu dan menyisakan dirinya dan Seokmin yang merana berdua.

"Jangan menangis dan jangan manja. Kurasa kalian harus sabar menunggu hingga pagi karena kalian akan di jemput petugas sekolah besok."

"Mwo ?" ucapan Yoongi itu sukses membuat Seungkwan dan Seokmin membelalak lebar.

"Karena petugas bagian kedisiplinan baru berangkat besok pagi itu artinya baru besok pagi kami bisa melaporkan pelanggaran kalian."

"Yakh~ hyung jangan pergi !"

"Kenapa kalian semua tega pada kami !"

"Hyung !"

.

.

.

.

"Yoongi hyung !" teriakan melengking khas seorang Park Ji min membuat gendang telinga Yoongi berdengung waspada.

Benar saja, saat Yoongi berbalik dari acaranya membaca pengumuman di papan pengumuman sekolah, ia langsung melihat kekasihnya itu berlari kearahnya. Dengan refleks yang baik, Yoongi pun langsung menghindari terjangan Jimin hingga namja bermarga Park itu sukses mencium kaca pelapis papan pengumuman yang tadi dibaca Yoongi.

Jimin dengan wajah cemberutnya mengemudi sebelah pipinya yang baru saja mencium kaca itu. "Hyung~ kau tega sekali !"

"Kalau tak mau celaka maka ingat hukumanmu Park Jimin ! Tak ada skinship hingga bulan depan ! Ingat itu atau kau mau diingatkan oleh tembok-tembok ini setiap hari ?"

Jimin yang melihat Yoongi menunjung tembok sepanjang lorong itu lalu memukulinya dengan kepalan tangannya membuat Jimin hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Jimin sudah sangat hafal dengan semua tanda yang di beri Yoongi itu.

Menurut maka hidupmu akan damai atau membangkang maka hidupmu akan celaka.

"Tapi hyungkan sudah janji tidak akan membunuhku~"

"Nde~ aku memang janji tidak akan membunuhmu tapi kan aku tak janji untuk tak mencelakaimu. Kurasa menyiksa seseorang hukumannya tak terlalu berat."

"Yakh~ hyung~" Yoongi kembali refleks memundurkan tubuhnya saat lagi-lagi Jimin mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh Yoongi. "Hyung~ ini sudah seminggu dan aku benar-benar hampir mati karena tak bisa menyentuhmu~"

"Kalau begitu mati saja !"

"Yakh~ hyung~! Kau tega sekali padaku ! Hyung ! Yoongi hyung !" teriak Jimin saat Yoongi dengan seenaknya meninggalkannya dan sama sekali tak menggubris panggilan dari kekasihnya itu.

"Aish~ ini semua adalah salah Kwon keparat Soonyoung ! Argkh~ aku bahkan tak ikut ke klub malam sialan itu tapi kenapa aku bisa ikut kena hukuman begini ! Tanganku bahkan sudah sangat gatal karena tak menyentuh Yoongi hyung selama seminggu ini ! Aish~ satu Bulan itu sangat lama astaga !"

Jimin terus mengoceh sepanjang lorong yang ia lewati. Setelah di tinggal kekasihnya dengan acuh, Jimin pun memutuskan untuk kembali keasrama dan tidur. Yang ia inginkan sekarang hanya tidur tidur dan tidur. Berharap jika ia tidur terus maka waktu satu bulan itu akan segera berlalu.

Tapi tiba-tiba saja langkah Jimin berhenti ketika kepalanya tak sengaja menoleh keluar jendela dan matanya melihat Soonyoung yang tengah makan di kantin asrama yang tepat berada di gedung seberang. Dengan penuh emosi dan berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya, Jimin segera berlari hendak mendatangi Soonyoung dan memukul kepala silver itu.

"Kwon Soonyoung sialan kau akan mati di tanganku sebentar lagi ! Lihat saja !"

.

.

.

.

Dan disinilah Jimin sekarang. Berdiri tepat didepan pintu kantin. Tangannya mengepal menahan amarah yang mungkin sebentar lagi akan meledak jika ia bertatap muka dengan Soonyoung.

Jimin pun melangkahkan kakinya memasuki kantin asrama dan langsung melangkah cepat menuju sebuah meja dekat jendela dimana orang yang ia cari itu berada. Jimin dapat melihat dengan jelas namja yang membuatnya sengsara selama seminggu ini tengah sibuk dengan ponsel ditangannya.

"Kwon Soonyoung !"

"Park Jimin ?"

Bukan... Yang barusan memanggil Jimin itu bukan Soonyoung. Soonyoung bahkan tak menggubris panggilan Jimin barusan, ia masih tetap sibuk dengan HP ditangannya. Sedangkan Jimin yang merasa di panggil pun berbalik keasal suara yang ia dengar dan mendapati Jisoo berjalan mendekatinya dengan sebuah nampan berisi nasi dan beberapa lauk pauk.

"Jisoo hyung ?"

"Ah~ sejak kejadian waktu itu aku jarang melihatmu, kau juga beberapa kali bolos di kelas vocal kan ?! Wae ? Apa kau sedang ada masalah ?" tanya Jisoo lalu membimbing Jimin agar ikut duduk bersamanya di meja tempat Soonyoung juga tengah duduk itu.

Namun sepertinya Soonyoung tak sadar jika kedua temannya itu tengah memandanginya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya entah apa yang ia lakukan hingga tak menyadari kedatangan Jimin dan Jisoo.

"Aku hanya tidur hyung~ agar waktu cepat berlalu."

"Nde ?" tanya Jisoo bingung yang langsung ditanggapi gelengan kepala oleh Jimin dengan senyum khas malu-malunya itu. "Ani~ bukan apa-apa, lupakan saja hyung."

"Ck~ kau ini selalu saja kalau bicara tak dipikir dulu." ucap Jisoo membuat Jimin hanya tertawa hambar. "Kau tak makan ?"

"Ani~ aku masih kenyang. Sebenarnya aku kesini untuk membuat perhitungan dengan anak ini." ucap Jimin sambil menunjuk Soonyoung yang pandangannya masih saja tak lepas dari ponselnya itu.

Jisoo pun berinisiatif memukul kepala Soonyoung dengan sumpit yang baru saja ia buka, membuka Soonyoung sedikit mendesis menatap Jisoo.

"Apa sich hyung ?" tanya Soonyoung sedikit sewot.

Jisoo pun menunjuk Jimin yang duduk di sebelah Soonyoung dengan dagunya. Soonyoung pun mengikuti arah tunjuk Jisoo dan langsung disambut senyuman bodoh dari seorang Park Jimin.

"Senyumanmu itu membuatku ingin muntah, bantet."

"Yakh~ jaga ucapanmu itu dasar mata sepit ! Mau kau tak kurestui dengan Jihoon ha ?!"

"Heol~ apa kau tak punya kaca ? Matamu juga sama sepertiku dasar segaris. Lagipula apa hubungannya aku suka Jihoon dengan restu darimu ?! Ck~ tidak penting sama sekali. Aku tak perlu ijin siapapun untuk menyukai Jihoon."

Soonyoung kembali fokus pada ponselnya yang baru saja berbunyi tanda ada pesan chat masuk. Soonyoung segera membaca chat itu dan membalasnya. "Aish~ bagaimana ini ?! Apa yang harus aku lakukan pada pikachu ku ini ?!"

Jimin mengerutkan keningnya begitu pula dengan Jisoo yang langsung menghentikan acara makannya. "Pikachu ?" tanya mereka berdua bersamaan.

"Kekasihku di SNS, dia mengajakku bertemu akhir pekan ini." jawab Soonyoung sambil menunjukkan isi chatnya pada Jimin dan Jisoo.

Awalnya Jimin ingin tertawa dengan nama panggilan dan gaya bahasa di dalam chat Soonyoung yang terasa lebay baginya itu. Namun rasa lucu itu tiba-tiba hilang seketika saat Jimin merasa ada yang aneh dengan lawan chat Soonyoung yang ia akui sebagai kekasihnya di dunia Maya itu.

Nama kontak di dalam chat Soonyoung itu terasa tak asing bagi Jimin.

"Dia kembali ke Korea atau cuma liburan saja disini ?" tanya Jisoo membuat Jimin menoleh padanya.

"Memangnya kekasihnya itu bukan orang Korea ?" tanya Jimin yang sepertinya mulai antusias dengan tema pembicaraan mereka kini. Lihatlah~ dia bahkan sudah lupa tujuan awalnya datang ke kantin ini.

"Ani~ dia bilang dia orang Korea hanya saja tinggal di Amerika dan karena pekerjaan orang tuanya yang mengharuskan mereka pindah akhirnya dia kembali ke Korea dan meneruskan sekolahnya disini."

"Dan dia bilang bahwa dia adalah orang Jepang yang sekolah di Korea. Bukankah itu lucu ?" sahut Jisoo membuat Jimin membola.

"Mwo ? Bagaimana bisa ?"

"Lihat saja nama kontak yang ia buat tadi. 'Hoshi' itu namanya." lanjut Jisoo menanggapi wajah Jimin yang nampak kaget itu.

"Apa kalian tak pernah bertukar foto sebelumnya ? Maksudku... Setidaknya kalian mengenal wajah masing-masing kan ?!" sepertinya Jimin mulai tertarik dengan tema pembicaraan mereka ini.

"Dia bukan orang yang baru satu dua bulan ini aku kenal. Dia itu teman masa kecilku. Kami dulu tetangga tapi karena orang tuanya bercerai, dia pun pergi keluar negeri mengikuti ibunya. Cukup lama kami berpisah hingga tak sengaja 3 tahun yang lalu kami bertemu lagi di SNS. Awalnya aku tak tahu kalau itu dia tapi... Saat ia membuat status 'merindukan teman kecilku Hoshi' dan memasang DP boneka pikachu yang sempat kuberikan dulu, aku jadi tahu bahwa itu dia. Teman masa kecilku dan cinta pertamaku, Min Woozi."

Kembali Jimin terpaku di tempatnya begitu mendengar nama itu disebut. Bagaimana ini ? Sekarang bukan hanya namanya yang sama bahkan marganya pun sama.

"Dan kami berjanji untuk tidak memasang foto asli sebagai DP atau mengirim foto masing-masing karena kita ingin melihat langsung perubahan wajah kita masing-masing suatu saat nanti jika ada kesempatan untuk bertemu."

"Dan akhir pekan ini adalah kesempatanmu." ucap Jisoo membuat Soonyoung tiba-tiba saja merubah ekspresinya menjadi sedih dan menelungkupkan kepalanya kemeja didepannya.

"Tapi aku sekarang menyukai Jihoon. Eotteokke~"

"Sudah kubilang aku tak akan merestuimu dengan Jihoon !"

Tanpa berperasaan Jimin menginjak kaki Soonyoung, membuat Soonyoung reflek memekik kesakitan dan mengangkat kakinya yang malah berakhir dengan lututnya yang mencium pinggiran meja dan membuatnya semakin meratapi kesakitan.

"Yakh~ Park Jimin sialan !"

.

.

.

.

"Ya~! Jungkookie~ kamar mandinya sudah kosong tu, cepatlah mandi sebelum keduluan Taehyung, kau tahu kan anak itu kalau mandi bisa berjam-jam." ucap Seungkwan begitu masuk kedalam kamarnya itu.

"Jangan sebut-sebut nama Taehyung, aku geli mendengarnya." ucap Jungkook sambil mengambil pakaian ganti dan handuknya.

Seungkwan langsung mengerutkan dahinya. "Wae ?"

"Dia suka sekali menggodaku ! Aku kan jadi di tatap sinis oleh Hoseok hyung !"

Seungkwan hanya terkikik pelan. "Harap maklum, anak itu kan memang kelebihan tenaga jadi kadang suka lebay, aneh, dan mesum."

"Apa kau tak berkaca Boo ?"

"Yakh~ Kim Minggu diam kau !" Seungkwan langsung melemparkan handuk yang sedari tadi ia pakai untuk mengeringkan rambut itu tepat kedepan wajah Minggu yang tengah fokus pada layar laptopnya.

Mingyu yang sedari tadi nampak sibuk bersandar di kepala ranjang miliknya sambil bermain laptop itu langsung menegakkan tubuhnya dan balik melempar handuk itu ke wajah Seungkwan.

Jungkook tak mengindahkan pertengkaran tak penting itu. Ia pun segera keluar kamar membawa peralatan mandi, mengacuhkan dua teman sekamarnya yang kini tengah saling lempar-melempar handuk itu.

Sedangkan di seberang ranjang Minggu, ada seorang anak lain yang juga tak menghiraukan perkelahian tak penting itu. Jihoon lebih memilih berselancar di atas layar ponselnya yang menyala daripada mengurusi dua insan yang tengah ribut hanya karena hal sepele itu.

Untuk seorang Jeon Jungkook, mendengar adu mulut dan adegan lempar melempar barang di kamar itu sudah biasa. Tapi tidak untuk Jihoon. Awalnya Jihoon sangat tidak suka dengan keributan dan dia akan lebih memilih keluar kamar daripada mendengarkan pertengkaran tak penting dari teman sekamarnya itu.

Namun berbeda dengan hari ini. Jihoon sama sekali tak memperdulikan hal itu. Ia terus fokus pada layar ponselnya. Jihoon seolah menutup kedua gendang telinganya rapat-rapat dengan wajah yang kadang-kadang tersenyum sendiri.

Seungkwan yang menyadari hal itu akhirnya menghentikan acara bertengkarnya dengan Mingyu dan memilih menghampiri Jihoon di ranjangnya. Seungkwan pun mencoba menyamankan duduknya di ranjang Jihoon, menyandar di tembok, seperti apa yang Jihoon lakukan disampingnya itu.

"Wae ? Tumben kau ketawa ketiwi seperti orang gila begitu."

Dan Seungkwan bersumpah~ jika yang ada disampingnya itu benar-benar Lee Jihoon,teman sekelas sekaligus teman sekamarnya yang ia kenal, maka sudah pasti tatapan tajam bahkan jitakan kepala akan ia dapatkan.

Namun kali ini sungguh berbeda. Jangan tatapan tajam, suara makian pun sama sekali tak keluar dari mulut Jihoon.

Seungkwan langsung menatap Mingyu yang langsung dijawab kedikan bahu oleh Mingyu. Seungkwan yang memang memiliki rasa ingin tahu sangat tinggi pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Jihoon untuk mencoba melihat hal apa yang tengah menyedot seluruh perhatian Jihoon itu.

"Hoshi ?" gumam Seungkwan begitu melihat nama lawan chat Jihoon.

Refleks Jihoon langsung mematikan layar ponselnya dan menyembunyikan ponselnya ke balik selimut yang membalut tubuhnya. Seungkwan yang melihat Jihoon nampak salah tingkah itu pun jadi semakin semangat untuk bertanya lebih jauh lagi.

"Kenapa kau sembunyikan ? Siapa dia ?"

"Bukan siapa-siapa." jawaban Jihoon membuat Seungkwan semakin menatap penuh selidik.

"Kalau bukan siapa-siapa kenapa kau langsungmematikan layar ponselmu dan salah tingkah begini ha ?!"

"Siapa yang salah tingkah !? Batraiku habis makanya ponselku mati sendiri." sergah Jihoon lalu berdiri menuju meja belajarnya, mengambil charger lalu mencharge ponselnya.

Seungkwan pun lalu membaringkan tubuhnya ke kasur Jihoon. Matanya menatap langit-langit kamar mereka itu. Sebenarnya Seungkwan masih mau menanyai hal macam-macam untuk menggoda Jihoon, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Sejak tadi hal itu terus memenuhi pikiran Seungkwan. Ia hanya merasa ada sesuatu yang aneh tapi ia sendiri tak yakin apa itu.

"Hoshi... Kenapa nama itu terasa tak asing ya~" gumamnya membuat Mingyu menoleh padanya. Sedangkan Jihoon yang kini duduk di meja belajarnya itu mulai tenggelam lagi pada ponselnya.

Seungkwan pun menoleh pada Mingyu. "Bukankah kau juga merasa nama itu tak asing Gyu-ah ?"

"Bukankah Hoshi adalah nama guru Bahasa Jepang kita ? Hoshi kan juga berarti bintang. Dan bukankah nama anjing peliharaan Chan juga bernama Hoshi ?"

Seungkwan langsung terduduk dan menjentikkan jarinya. "Kau benar astaga... Aku ingat sekarang. Kita pernah berkenalan dengan Hoshi waktu main ke rumah Chan bulan lalu." namun tiba-tiba wajah sumringah Seungkwan kembali luntur.

"Tapi tetap saja nama itu tak asing disekitarku. Seperti... Ada seseorang yang menggunakan nama itu juga. Tapi siapa ?"

.

.

.

.

- 16.05 -

Woozi mengomentari foto profil Hoshi.

Woozi : 'Bukankah itu foto Namsan Tower ? Kau sedang ada di Korea ?'

- 16.15 -

Hoshi : 'Nde~'

Woozi : 'Aku juga ada di Korea sekarang. Aku baru saja pindah dari Amerika jadi sekarang aku sudah menetap dan bersekolah di Korea.'

Hoshi : 'Benarkah ? Baguslah kalau begitu.'

Woozi : 'Apa kau sibuk sekarang ?'

Hoshi : 'Lumayan.'

Woozi : 'Bagaimana kalau akhir pekan ? Kita bisa bertemu ?'

- 17.35 -

Woozi : 'Hoshi-ah ?'

Woozi : 'Apa kau sangat sibuk ?'

Woozi : 'Aku hanya ingin bertemu denganmu. Sudah 7 tahun lamanya kita tak berjumpa. Aku merindukanmu. Ini kesempatannya. Untuk pertama kalinya aku ingin melihat wajah kekasihku kini. Apakah wajahmu masih tetap chubby seperti dulu atau sudah berubah jadi tampan. Kkk~'

- 20.22 -

Woozi : 'Hoshi-ah ?'

Woozi : 'Chagiya ?'

Woozi : 'Hoshi chagi ?'

- 21.34 -

Hoshi : 'Baiklah, ayo kita bertemu. Akhir pekan ini di Namsan Tower. Aku akan menunggumu disana.'

Woozi : 'Okey~ aku setuju. Kalau begitu sampai bertemu disana besok.'

Woozi : 'Aku sungguh tak sabar bertemu denganmu. Aku sungguh tak sabar. Rasa rinduku selama 7 tahun ini akhirnya akan berakhir juga.'

Hoshi : 'Aku juga.'

Woozi : 'Akhir pekan ini pasti akan jadi hari yang menyenangkan dan tak terlupakan. Aku sangat menantikannya.'

Hoshi : 'Aku juga.'

Hoshi : 'Sudah malam, apa kau tak mengantuk ?'

Woozi : 'Aku ngantuk tapi aku masih ingin ngobrol denganmu.'

Hoshi : 'Tidurlah. Kau masih harus sekolah besok. Aku juga.'

Woozi : 'Baiklah~ arraseo~ kalau begitu selamat malam.'

Hoshi : 'Nde~ selamat malam dan mimpi Indah.'

Woozi : 'Kau juga harus mimpi Indah.'

- 22.04 -

Woozi : 'Hoshi-ah ?'

Hoshi : 'Hem~ wae ? Belum tidur juga?'

Woozi : 'Aku hampir memejamkan mataku tapi aku lupa mengatakan sesuatu padamu.'

Hoshi : 'Mwo ?'

Woozi : 'Saranghae~'

.

.

.

.

Mingyu melangkah cepat melewati lorong-lorong sekolahnya itu. Senyuman tak pernah luntur dari wajah tampannya sejak ia mendapat pesan line dari sang kekasih 15 menit yang lalu.

Mingyu yang tadi sedang latihan basket dengan klub ekstrakulikulernya itu langsung tersenyum lebar dan segera berganti pakaian begitu Woonwoo mengiriminya pesan menyuruhnya segera datang ke ruang ekstrakulikuler memasak dan mengirimi Mingyu sebuah foto yang membuat Mingyu semakin semangat melangkah.

Sebuah foto dari seseorang yang selalu membuat Mingyu berdebar setiap harinya. Foto yang baru saja dikirimkan Wonwoo itu adalah foto Wonwoo yang sedang memegang sepiring banana cake yang tampak sangat lezat.

Entah mana yang membuat Mingyu tak sabar untuk memakannya karena keduanya, baik banana cake maupun Wonwoo tampak enak dimakan dimata Mingyu.

Begitu sampai di ruang ekstrakulikuler memasak, Mingyu langsung disambut senyum manis Wonwoo.

"Kau cepat sekali ?"

"Karena aku sudah tak sabar ingin memakanmu."

Tangan Wonwoo langsung menahan dada Mingyu saat namja jangkung itu berjalan cepat menghampirinya dengan tangan merentang lebar hendak memeluknya.

"Mwo ?" Wonwoo mendelik membuat Mingyu hanya bisa tersenyum hambar.

"Maksudku... Aku sudah tak sabar memakannya." dalih Mingyu sambil menunjuk banana cake di atas meja di samping mereka itu. "Aku juga merindukanmu Wonu sayang~"

Lagi-lagi pergerakan Mingyu ditahan oleh Wonwoo membuat Mingyu memasang wajah protesnya.

"Wae ?" tanya Mingyu membuat Wonwoo menyipitkan matanya.

"Jarak lapangan basket kesini cukup memakan waktu tapi kau bisa kemari begitu cepat jadi aku yakin kau belum membersihkan dirimu kan ?!"

"Itu karena aku sangat merindukanmu~ saking tak sabarnya ingin segera memakanmu-ups~ maksudku saking tak tahannya ingin segera merasakan banana cake buatanmu maka aku bergegas kemari."

"Kau bau. Kotor. Belum mandi maka jangan harapkan skinship dariku." ucap final Wonwoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Mw-mwo ? Yakh~ Wonu-ah~ jangan setega itu pada namja tampanmu ini." protes Mingyu sambil menarik-narik lengan baju Wonwoo.

Wonwoo mendecih tak suka lalu menarik lengannya yang tadi di tarik-tarik kekasih kekanakannya itu. Terkadang Wonwoo sangat sebal melihat sikap manja kekasihnya yang satu ini.

"Jangan protes dasar manja !"

Mingyu kembali mendekati Wonwoo, terus mendekatinya hingga Wonwoo mulai terpojok ke sudut meja.

"Jangan menolak pesona kekasih tampanmu ini Wonu-ya~ pesonaku terlalu hebat untuk kau acuhkan." ucap Mingyu penuh percaya diri.

Sedangkan Wonwoo, jika sudah terpojok dalam keadaan seperti ini yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk atau mengalihkan pandangannya ke sembarang arah asal tidak menatap Mingyu atau Wonwoo akan terpikat oleh pesona namja tertampan di sekolah itu lagi dan lagi.

"Gyu-ah~ jebal~ hentikan~" ucap Wonwoo sebisa mungkin saat Mingyu semakin memajukan tubuhnya, mendekap Wonwoo dengan wajahnya yang terus maju, mendekat dan semakin dekat dengan wajah Wonwoo.

"Wae ?" suara Mingyu menjadi sangat rendah dan berat membuat Wonwoo semakin merona dibuatnya. "Aku janji setelah ini aku akan langsung mandi dan membersihkan diri tapi..."

Mingyu menjeda ucapannya. Tangan kekarnya terulur menyentuh pipi Wonwoo, mengelusnya lembut. "Biarkan aku menikmati bibir manismu ini sebentar."

Dan tanpa menunggu lama kedua bibir itu pun bertemu. Mingyu menciumi secara bergantian bibir bawah dan atas Wonwoo. Tangannya yang tadi mengelus pipi Wonwoo kini telah berada di tengkuk Wonwoo. Ditariknya tengkuk Wonwoo agar ciuman mereka semakin dalam.

Wonwoo mulai melayang oleh perbuatan Mingyu itu, begitu pula dengan Mingyu yang semakin menikmati belahan bibir Wonwoo. Hingga sampai sebuah suara gebrakan meja mengagetkan mereka, membuat tautan bibir mereka terlepas paksa dan menghentikan kegiatan intim kedua insan itu.

Mingyu dan Wonwoo menoleh keasal suara. Dan disana, sang pelaku keributan sekaligus pelaku perusak kegiatan panas kedua insan itu tengah menguap lebar sembari mengucek mata sipitnya.

"Suara kecipak bibir kalian sungguh membuatku ingin muntah ! Dan kau Kim Mingyu... Kau sungguh namja mesum tak berperikemanusiaan."

"Yakh~ Kwon Soonyoung diam kau dasar pengganggu kenikmatan orang !"

Soonyoung yang tadi baru saja terbangun dari acara tidur sore nyenyaknya di lantai pun segera berdiri. Masih dengan wajah bantalnya dan rambut acak-acakan, Soonyoung meraih piring berisi banana cake buatan Wonwoo yang tadi hendak di berikan pada Mingyu.

"Yakh~ dasar sipit ! Mau kau bawa kemana cake buatan Wonu ku itu ha ?! Itu kue untukku dasar sialan !" Mingyu hampir saja mengejar Soonyoung jika saja Wonwoo tak menahannya.

"Sudahlah~ biarkan saja Soonyoung. Di oven masih ada satu lagi, kau bisa memakannya jika sudah jadi nanti."

"Ck~ lagipula sejak kapan anak itu ada disana eoh ?!" tanya Mingyu sambil menunjuk lantai di seberang meja tempat Soonyoung muncul tadi.

"Sebelum kau datang dia sudah disini menemaniku."

"Mwo ? Wae ? Untuk apa dia disini ha ? Apa dia menggodamu ?"

"Jangan asal bicara."

"Aku tak asal bicara. Lihat saja tampilan tak terurusnya itu. Dia itu jomblo lumutan di sekolah kita ini."

"Sudah kubilang jangan asal bicara. Soonyoung itu sudah punya pacar dan dia tadi datang untuk berbagi cerita tentang pacarnya itu padaku."

Mingyu tampak terkejut mendengar penuturan Wonwoo barusan. "Mwo ? Anak itu sungguh sudah punya pacar ? Siapa ? Seperti apa orangnya ?"

"Teman masa kecilnya yang tinggal di luar negeri. Selama ini mereka berhubungan lewat SNS. Belum pernah bertemu lagi sejak 7 tahun yang lalu. Tapi kekasihnya itu sudah kembali ke Korea sekarang dan mereka akan bertemu akhir pekan ini."

"Woah~ Bagus donk kalau begitu. Dia pasti sedang dalam suasana hati bahagia sekarang."

Wonwoo menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi ucapan Mingyu barusan. "Malah sebaliknya."

"Mwo ?"

"Soonyoung sedang sangat stress sekarang ini makanya dia butuh seseorang untuk berbagi masalahnya."

"Wae? Memang ada apa?"

"Soonyoung mengaku ia sudah tak punya perasaan lagi pada kekasihnya itu. Ia sekarang sudah menyukai orang lain. Ia ingin mengatakannya pada kekasihnya saat mereka bertemu akhir pekan ini tapi Soonyoung tak tega mengatakannya. Bagaimanapun juga ini pertama kalinya mereka bertemu setelah 7 tahun berpisah dan setelah 3 tahun menjadi sepasang kekasih meski hanya di dunia maya saja."

"Sungguh rumit. Aku tahu bagaimana perasaannya sekarang." tanggapan Mingyu membuat Wonwoo menganggukkan kepalanya. "Jadi... Dia tak akan jujur pada kekasihnya itu jika ia kini sudah menyukai orang lain ? Apa dia mau mendua ? Woah~ tak kusangka anak itu playboy juga ya~"

"Ani~"

"Eoh ? Jadi maksudmu Soonyoung akan bertahan dengan kekasihnya sekarang ?"

"Tidak juga."

"Lalu ?"

"Dia akan minta putus. Tepat di hari pertama kali mereka bertemu kembali besok."

.

.

.

.

Soonyoung baru saja selesai mandi. Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana ia akan bertemu dengan cinta masa kecilnya. Hari yang telah ia tunggu-tunggu selama kurang lebih 3 tahun ini.

Tapi kenyataan yang ada tak sama seperti dulu. Soonyoung dulu ingin sekali mendeklarasikan cintanya di hari pertama kali mereka bertemu di muka publik, berteriak sekeras mungkin dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai Min Woozi.

Tapi itu dulu...

Waktu dan keadaan benar-benar dapat merubah segalanya...

Masih dengan handuk membalut tubuh toplessnya, Soonyoung berjalan membuka lemari pakaiannya, mengambil beberapa pakaian hangat, musim dingin sudah mulai tiba.

Setelah selesai berganti pakaian, Soonyoung pun berkaca, melihat penampilannya di depan cermin. Setelah merasa oke, Soonyoung pun tersenyum. Dihelanya napas beratnya.

"Kau pasti bisa Hoshi-ah~ kau namja yang kuat dan hebat. Kau pasti bisa. Fighting !"

Sedangkan di kamar sebelah...

Jihoon tampak membongkar seluruh isi lemari pakaiannya. Sudah sejam lebih Jihoon bergulat dengan seluruh tumpukan pakaian q pakaiannya itu, mencari pakaian yang menurutnya cocok ia pakai di hari spesial ini.

Dan setelah bersusah payah akhirnya pilihannya pun jatuh pada sebuah sweater manis berwarna pink. Jihoon pun tersenyum dan segera berganti pakaian. Ia harus bergerak cepat, waktunya telah terbuang banyak hanya untuk mencari pakaian.

Saking bahagianya menunggu hari ini tiba, semalaman Jihoon bahkan tak bisa tidur. Ia terus membayangkan apa yang harus ia katakan nanti begitu bertemu dengan teman masa kecilnya yang kini menjadi kekasihnya itu.

Jihoon bahkan mulai merangkai satu persatu hal yang akan ia lakukan nanti. Membayangkannya saja membuat Jihoon terus tersenyum seperti orang bodoh.

Kini Jihoon telah duduk di depan meja belajarnya. Ia meraih sebuah lipgloss di dalam lacinya. Jihoon rasa memberi sedikit pelembab di bibirnya akan membuatnya terlihat semakin manis hari ini.

Setelah dirasanya persiapannya cukup sempurna, Jihoon pun melihat pantulan dirinya di depan cermin. Tersenyum ceria begitu ia merasa penampilannya kali ini sudah sangat manis.

"Hari ini pasti akan sangat menyenangkan. Ah~ aku sungguh tak sabar."

.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

.

Ah~ akhirnya aku bisa meneruskan FF ini juga ^^

Mian~ karena telah menelantarkan FF ini 2 bulan~ tapi mulai sekarang aku akan berusaha untuk lebih cepat update lagi ^^

Gomawo untuk kalian semua yang sudah bersedia meluangkan waktu membaca FF ini ^^ dan mian kalau tak bisa balas review kalian satu persatu ^^

Dan gomawo yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk review di chapter 1 dan 2 kemarin ^^

Ditunggu juga review untuk chapter ini ^^

See ya~