Chapter 4

"Simple Love Simple Happinesse"

Cast : BTS & Seventeen

Pairing : SoonHoon - YoonMin - VerKwan - VHope - JeongCheol - NamJin - JunHao - Meanie

Jungkook, Seokmin, Joshua, & Chan adalah milik mereka sendiri xD

Summary : Jihoon yang baru saja memulai kembali kehidupannya di Korea harus rela berurusan dengan Soonyoung, teman barunya di sekolah yang selalu mengejar-ngejarnya setiap hari. Apakah Jihoon akan terus menghindarinya atau malah berakhir di dalam dekapannya ?

Disclaimer : Seventeen n BTS adalah milik agency, orang tua, dan tentu saja diri mereka sendiri

Warning : Typo berserakan dimana-mana, Yaoi, Boys Love, GJ, de el el

Happy Reading ^^

.

.

.

.

Namsan Tower adalah tempat yang mereka pilih untuk bertemu. Jihoon, dengan sweater pink sedikit kebesarannya yang membungkus tubuh mungilnya di tambah sebuah beanie berwarna senada diatas kepalanya membuat penampilannya terlihat semakin imut dan manis.

Sesekali Jihoon mengecek layar ponselnya, melihat jam dan mengecek chat chat yang masuk dan membalasinya sekedar menghilangkan rasa bosannya menunggu. Jihoon sekarang tengah berdiri di dekat tangga menuju pintu masuk Namsan Tower.

Sudah hampir setengah jam Jihoon berdiri disana sembari terus melihat ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang tengah ia tunggu. Merasa bosan berdiri disana terus akhirnya Jihoon pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar sana.

Sebuah pesan masuk ke dalam akun line nya. Jihoon mengeceknya dan tersenyum kala nama yang telah ia tunggu-tunggu itu muncul juga.

Hoshi : 'Kau dimana ?'

Woozi : 'Aku sudah di depan Namsan Tower. Kau dimana ? Kenapa belum sampai ?'

Hoshi : 'Sebentar lagi aku sampai. Tunggulah disana. Jangan kemana-mana.'

"Ugh~" pekik Jihoon ketika seseorang menabrak tubuhnya, membuatnya yang sedari tadi menunduk menatap layar ponselnya pun mendongak.

"Mianhae~ aku buru-buru." Orang yang menabrak Jihoon tadi langsung menundukkan kepalanya sekilas sebagai ucapan permintaan maaf, setelah itu ia kembali berjalan meninggalkan Jihoon yang malah terdiam seperti patung.

Jihoon menatap kepergian orang yang baru saja menabraknya tadi dengan dahi mengernyitnya. Kini Jihoon memiringkan kepalanya, mencoba berpikir dengan jari telunjuknya yang masih menunjuk arah kepergian orang tadi.

"Ck~ orang tadi tampaknya tak asing. Rambut silver itu sepertinya aku kenal. Ck~ tapi tidak mungkin itu dia." gumam Jihoon yang diakhiri dengan kedikan bahunya. "Dia pun juga aku tak peduli." lanjut Jihoon lalu melanjutkan lagi acara jalan-jalannya.

Sebuah pesan kembali masuk ke akun line nya membuat Jihoon bergegas berjalan cepat begitu membaca isi pesan itu. Sepertinya Jihoon lupa dengan chat terakhir yang ia baca tadi gara-gara namja sialan yang menabraknya tadi.

Hoshi : 'Kau dimana ? Bukankah aku sudah bilang jangan kemana-mana.'

Woozi : 'Mianhae~ aku hanya jalan-jalan sebentar karena bosan. Sekarang aku menuju kesana.'

Soonyoung sedikit mendengus membaca balasan chatnya itu. Di eratkannya jaketnya mencoba mencari kehangatan. Meski matahari masih bersinar terang di siang hari namun karena perubahan musim yang sebentar lagi akan memasuki musim membawa udara terasa mulai dingin.

Dan Soonyoung benci itu. Kwon Soonyoung sangat tak suka pada musim dingin. Dan dia sangat benci keluar di musim dingin. Soonyoung lebih memilih mendekam di dalam selimut atau membuat api unggun di Taman belakang sekolah daripada harus berdingin-dingin di luar seperti ini.

Hoshi : 'Kau dimana ? Kenapa lama sekali ?'

Setelah mengetik pesan itu, Soonyoung di buat terbengong oleh penampakan sosok Jihoon di depan matanya. Berkali-kali Soonyoung mengerjapkan matanya dan sosok itu bukannya pergi tapi malah semakin nyata dan semakin mendekat padanya.

'Dia sungguh Jihoon ? Untuk apa dia kemari ? Astaga... Gawat jika dia melihat Woozi nanti ! Bagaimana kalau nanti dia salah paham ?!' berbagai macam pemikiran berkecamuk di dalam benak Soonyoung.

Sedangkan Jihoon hanya menatap malas padanya sembari mendengus. 'Ternyata benar dia. Ck~ mengganggu saja. Untuk apa dia kemari ?! Tunggu... Jangan-jangan...'

"Kau mengikutiku ?" pertanyaan dingin Jihoon yang to the point itu membuat Soonyoung terkejut dan langsung berbalik hanya untuk mendapati tatapan tajam dari Jihoon.

"Untuk apa aku mengikutimu ?"

"Ya~ siapa tau saja. Penjahat kelamin sepertimu kan bisa melakukan apa saja."

"Yakh~!" Soonyoung hampir saja membentak Jihoon jika ia tak langsung ingat bahwa namja dihadapannya itu adalah orang yang sedang ia perjuangkan cintanya. "Sampai kapan kau mau memanggilku seperti itu ?! Sungguh... Aku ini namja baik-baik."

"Terserah." Jihoon kembali berbalik membelakangi Soonyoung namun sedetik kemudian ia teringat sesuatu, ia pun kembali berbalik. "Jadi jika kau tak mengikutiku, untuk apa kau kemari ?"

Mendengar pertanyaan itu, Soonyoung pun ikut berbalik. "Aku mau bertemu seseorang."

Jihoon menyipitkan matanya. "Nugu ? Pacarmu ?"

Mendengar pertanyaan Jihoon itu membuat Soonyoung langsung menggelengkan kepalanya. "Ani~! Kami hanya teman. Sungguh hanya teman."

Jawaban dengan nada sedikit berteriak Soonyoung itu membuat Jihoon sedikit memundurkan tubuhnya karena kaget.

"Pacar pun juga tak masalah. Kenapa kau malah membentakku begitu ! Ish~ !" Jihoon yang kesal pun kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Soonyoung yang kini menatapnya dari belakang.

"Kau sendiri... Untuk apa kemari ?"

"Aku juga ada janji bertemu seseorang." jawab Jihoon tanpa menatap Soonyoung dan malah sibuk dengan ponselnya.

"Mau bertemu dengan teman juga ?"

"Ani~ aku mau bertemu kekasihku."

Dan jawaban Jihoon itu sukses membuat Soonyoung patah hati. Soonyoung merasa sebuah belati tengah menusuk-nusuk hatinya.

Soonyoung tak salah dengar kan ?

Apa yang di ucapkan Jihoon tadi benar ?

Jihoon sudah punya kekasih ? Namja mungil itu sudah milik orang lain ?

Soonyoung masih berharap jika pendengarannya tadi tengah terganggu. Soonyoung berharap Jihoon tadi hanya bercanda untuk mengerjainya. Soonyoung berharap ucapan Jihoon tadi bohong.

Namun kalau semua itu benar maka perjuangan Soonyoung berakhir sudah. Oh~ betapa beruntungnya namja yang berhasil mendapatkan hati seorang Lee Jihoon. Soonyoung kini tengah iri padanya.

"Aku jadi penasaran orang seperti apa kekasihmu itu. Dia pasti namja yang paling beruntung di dunia ini." ucap Soonyoung dengan wajah sedihnya, seperti seorang namja yang baru saja di tolak pernyataan cintanya.

Soonyoung bahkan belum sempat menyatakan perasaan pada Jihoon tapi dia sudah kalah sebelum mulai berperang. Betapa sialnya seorang Kwon Soonyoung. Soonyoung pun berbalik dan mengecek ponselnya yang baru saja berbunyi tanda ada sebuah pesan chat masuk.

Woozi : 'Aku sudah ada di depan Namsan Tower. Kau dimana ?'

Membaca pesan itu membuat Soonyoung langsung mendongak dan mengedarkan pandangannya kesekitarnya. Terlalu banyak orang disana, Soonyoung jadi bingung.

Hoshi : 'Banyak orang disini. Kau pakai baju apa ?'

Woozi : 'Aku pakai sweater pink.'

Woozi : 'Ah~ aku juga pakai beanie.'

Woozi : 'Aku tak terlalu tinggi. Di belakangku ada seorang namja berambut silver.'

Woozi : 'Kau sendiri pakai apa ?'

Hoshi : 'Aku pakai sweater hitam dan jaket cokelat.'

Hoshi : 'Aku berdiri di belakang namja mungil berambut orange.'

Jihoon dan Soonyoung menyipitkan mata mereka begitu mereka membaca ulang isi chat terakhir mereka. Mereka berdua saling memiringkan kepala randa tengah berpikir.

Seperti ada yang aneh...

"Kenapa ciri-cirinya terasa tak asing ?" gumam Jihoon sambil menggigiti kuku-kuku jempol kanannya.

"Aku merasa baru saja melihat ciri-ciri ini ?!' kini giliran Soonyoung yang bergumam penuh tanda tanya.

Beberapa kali mereka berdua kembali mengulang membaca beberapa chat-chat mereka beberapa waktu yang lalu. Setelah di telusuri memang tampak ada yang aneh...

Cukup lama mereka berdua saling bergulat dengan pemikiran masing-masing hingga akhirnya secara bersamaan mereka berdua menegakkan tubuh mereka setelah menyadari sesuatu.

"Tidak mungkin..."

Jihoon lah yang pertama kali menatap ke belakang, melihat Soonyoung yang masih berdiri membelakanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

'Jaket cokelat itu... Rambut silver itu...' dengan cepat Jihoon kembali berbalik.

Dan kini giliran Soonyoung yang menatap ke belakang. Sama seperti Jihoon tadi, Soonyoung pun menatapi tubuh Jihoon dari bawah keatas.

'Sweater pink... Beanie... Rambut orange...' dengan ragu Soonyoung kembali berbalik.

"Tidak mungkin..."

Jihoon dan Soonyoung pun secara bersamaan berbalik, saling menatap dengan mata membola dan saling menunjuk diri satu sama lain.

"Hoshi ?"

"Woozi ?"

.

.

.

.

Kini keadaan tampak berubah. Jihoon tak lagi tersenyum semangat menantikan pertemuannya dengan teman masa kecilnya. Soonyoung pun tak lagi cemberut dan kebingungan menghadapi keadaan.

Semuanya telah berubah dalam sekejap.

Tak ada yang menyangkanya. Sama sekali... Tak ada...

Siapa yang tahu kalau keadaan akan berbalik seperti ini ?

Jihoon dan Soonyoung kini tengah duduk bersama di sebuah restoran tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Duduk berhadapan, saling menatap dalam satu meja. Mereka berdua tampak menampilkan ekspresi yang sangat berbeda dengan ekspresi mereka 15 menit yang lalu.

Jihoon kini terlihat menekuk wajahnya sama persis seperti Soonyoung yang uring-uringan beberapa hari belakangan ini. Sedangkan Soonyoung, ia malah terus tersenyum bahagia sama persis seperti Jihoon beberapa hari ini.

"Aku tak menyangka, tanpa berusaha pun aku bisa menjadi kekasihmu seperti ini." ucap Soonyoung sambil terus tersenyum membuat Jihoon menaikkan sebelah alisnya tak suka. "Ternyata akulah namja yang sangat beruntung itu."

"Nde ?"

"Maksudku, tadi saat kau bilang kau mau bertemu kekasihmu disini, kau tahu bagaimana perasaanku hancur berkeping-keping ? Ah~ aku berpikir siapa orang yang sangat beruntung mendapatkan hatimu. Dan ternyata itu aku, kkk~"

Jihoon membuang wajahnya mendengar ucapan Soonyoung barusan. "Siapa juga yang mendapatkan hatiku."

"Kau kan Woozi dan aku Hoshi."

"Lalu ?"

"Kita kan sepasang kekasih."

"Yakh~!" Jihoon memekik cukup keras membuat beberapa orang yang ada di restoran itu menatap kearah meja mereka. "Dengar ya Kwon penipu ! Aku ini bukan kekasihmu ! Dan tak akan pernah jadi kekasihmu !"

Soonyoung lalu mengerjap sedih. "Bukankah kau duluan yang menyatakan perasaan dulu. Kau kan yang mengajak kita menjalin hubungan seperti ini."

"Ck~ berhenti bicara omong kosong."

"Jika anak-anak yang lain tahu mereka pasti akan-"

"Tunggu ! Apa maksudmu anak-anak yang lain tahu ?"

"I-itu..."

"Kau bilang pada mereka kalau kau punya kekasih di dunia maya ?" Soonyoung menganggukkan kepalanya.

"Kau bilang kalau pacarmu itu teman masa kecilmu ?" kembali Soonyoung mengangguk.

"Kau juga bilang dia dari Amerika ?" lagi Soonyoung mengangguk.

"Kau juga bilang pacarmu itu kini pindah ke Korea ?" anggukan lagi diberikan Soonyoung.

"Dan kau juga bilang hari ini akan bertemu dengan pacarmu itu ?" untuk kesekian kalinya Soonyoung menganggukkan kepalanya.

"Yakh~ Kwon Soonyoung pabo kenapa kau menceritakan hal-hal memalukan itu pada semua orang di sekolah astaga... Ini sungguh memalukan ! Kekasih dunia maya ? Berpacaran di dunia maya ? Astaga bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh seperti itu."

"Apa salahnya ? Berpacaran di dunia maya kan bukan dosa. Kecuali kita bercinta di dunia maya." dan sebuah sendok sukses melayang ke bibir mesum Soonyoung.

"Dasar mesum." gerutu Jihoon masih mengacak-acak rambutnya.

"Apa salahnya aku cerita tentang pacarku pada teman-temanku, bukankah kau juga menceritakannya pada Seungkwan."

Jihoon tercekat. Hei~ darimana Soonyoung tahu ?! "I-itu... Aish~ tetap saja tak ada yang boleh tahu ! Pokoknya apapun yang terjadi aku tak mau anak-anak di sekolah sampai tahu kita pernah berpacaran di dunia maya !"

Soonyoung tampak tak suka dengan ucapan Jihoon barusan. "Pernah berpacaran ? Bukankah kita juga masih sepasang kekasih sekarang."

"Mwo ? Kita kan hanya sepasang kekasih di dunia maya saja."

"Kalau begitu ayo kita menjadi kekasih didunia nyata juga. Kita jadi kekasih sungguhan."

Jihoon tertawa kecil. "Mwo ? Ck~ jangan bercanda !"

"Aku tak sedang bercanda."

Hening sejenak, Jihoon tak menjawab apapun, ia hanya menatap Soonyoung yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan serius. Jika boleh jujur, Jihoon belum pernah meihat tatapan seserius itu dari Soonyoung. Sedikit jika boleh jujur lagi, Jihoon merasa jantungnya tengah berdebar sekarang.

"Aku tak mau !"

"Ya sudah kalau begitu aku akan bilang pada anak-anak yang lain kalau aku sudah bertemu dengan kekasih dunia mayaku dan orang itu ternyata adalah Lee Jihoon, siswa baru pindahan dari Amerika."

"Kau mau mati ya !"

Soonyoung memajukan tubuhnya yang tadi bersandar di kursi lalu menopang dagunya dengan tangannya di atas meja. "Kalau begitu buat kesepakatan denganku."

"Mwo ?"

"Ah~ aku ingin seperti mereka." ucap Soonyoung sambil menatap keluar jendela di samping mereka.

Jihoon pun mengikuti arah pandang Soonyoung dan wajahnya tiba-tiba berubah merah merona. Jihoon meneguk ludahnya kasar. Kini di tatapnya Soonyoung yang masih menyunggingkan senyum sambil menatap keluar.

"Kau... Serius menyuruhku melakukan itu ?" Soonyoung mengangguk masih menopang dagunya lalu menolehkan kembali kepalanya menatap Jihoon.

"Wae ? Kau tak mau ? Ya sudah kalau begitu sepulang dari sini nanti aku akan-"

Cup~

Ucapan Soonyoung terhenti begitu saja. Mata sipit khas jam 10:10 itu membola lebar. Soonyoung merasa jiwanya kini tengah melayang entah kemana. Namun Soonyoung mencoba menyadarkan diri lebih cepat dan segera memundurkan kepalanya membuat tautan bibirnya dengan Jihoon terputus.

Jihoon yang merasa kehilangan bibir Soonyoung pun segera membuka matanya hanya untuk mendapati kedipan mata bodoh Soonyoung di depannya. Pipi Jihoon terasa panas. Jihoon berani bertaruh kalau pipinya saat ini pasti sangat merah seperti kepiting rebus.

"Puas kau ha ?!" gertak Jihoon begitu kembali duduk di bangkunya.

Sedangkan Soonyoung masih memasang wajah bodohnya sambil memegangi bibirnya yang baru saja di kecup Jihoon.

"Ap-apa yang baru saja kau lakukan ?" tanyanya masih dengan wajah shock nya.

"Mwo ? Apa yang aku lakukan ? Apa lagi yang aku lakukan kalau bukan mengabulkan kesepakatan kita tadi."

"Ani~ maksudku... Apa kau baru saja menciumku ?"

"Aku hanya mengecupmu."

"Kenapa kau lakukan itu ?"

"Kan kau sendiri tadi yang minta !"

"Kapan aku minta ?!"

"Kau bilang jika aku menciummu seperti yang mereka lakukan kau tak akan mengatakan apapun di sekolah." teriak Jihoon sambil menunjuk keluar jendela, tepat ke tempat yang tadi di pandangi Soonyoung.

"Kapan aku janji begi-" ucapan Soonyoung terhenti begitu melihat arah tunjuk Jihoon. Soonyoung mencoba menahan tawanya. "Maksudku tadi adalah aku ingin kita menjalin hubungan sungguhan di dunia nyata. Tak kusangka kau malah berpikir jauh kesana."

Jihoon mengerjapkan mata polosnya. "Mw-mwo ?"

"Ckckck~ kau selalu mengataiku penjahat kelamin tapi ternyata kau sendiri juga mesum. Kkk~"

"Yakh~!"

.

.

.

.

Jihoon menunduk dalam. Malu... Sungguh malu...

Diacak-acaknya rambut pinknya hingga berantakan. Kini Jihoon tengah berjalan di belakang Soonyoung. Mereka berdua masih berada di Namsan Tower, berjalan menuju pintu keluar, hendak kembali ke dorm sebelum malam tiba.

Jihoon berjalan dengan gonta. Sesekali ia menendangi apa saja yang ada di sekitarnya untuk melampiaskan kekesalannya. Jihoon merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya berpikiran hal yang tidak-tidak seperti tadi.

"Berciuman ? Kecupan ? Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu tadi dasar bodoh !" gerutuan Jihoon terus saja mengaung dari celah bibirnya.

Jihoon merutuk dengan suara yang ia buat sekecil mungkin. Sangat kecil seperti berbisik namun tanpa ia sadari Soonyoung mendengar semuanya. Soonyoung hanya diam sambil sesekali terkikik tertahan melihat tingkah imut namja mungil di belakangnya itu.

"Aw~" pekik Jihoon sambil mengelus-elus keningnya yang baru saja berbenturan dengan bahu Soonyoung yang tiba-tiba berhenti tanpa pemberitahuan.

"Yakh~ jika mau berhenti tiba-tiba beri klakson donk !" pekik Jihoon.

Namun bukannya minta maaf, Soonyoung malah berbalik dan segera membekap mulut Jihoon membuat Jihoon terkesiap kaget dan mencoba melawan.

"Sssttt~ jika kau tak mau mati malu di sekolah jangan ribut." ancam Soonyoung membuat Jihoon mengerutkan keningnya namun ia akhirnya hanya diam saja dan menuruti Soonyoung ketika tubuh mungilnya di seret ke belakang semak-semak di samping mereka.

"Wae ?" bisik Jihoon begitu Soonyoung melepaskan tangannya dari bibir Jihoon.

"Aku mendengar suara Chan."

"Mwo ?" pekik Jihoon keras yang langsung di hadiahi 'sssttt' oleh Soonyoung.

Mata Jihoon melebar begitu ia sungguh melihat teman sekelasnya itu ada disana. Tanpa sadar Jihoon malah semakin merapat ke arah Soonyoung. Jihoon hanya tak ingin tertangkap basah oleh namja termuda di kelasnya itu.

Selagi Jihoon sibuk mengintai Chan dari balik semak-semak, Soonyoung malah sibuk mencuri pandang kearah Jihoon. Soonyoung menatap wajah tanpa berkedip wajah Jihoon dari samping dalam diam, bahkan untuk bernapas saja Soonyoung seakan lupa.

"Apa ini ? Kenapa Seungcheol dan Jeonghan hyung juga ada disini ?" ucap Jihoon lalu menolehkan wajahnya untuk mendapatkan jawaban dari Soonyoung.

Dan Jihoon langsung terdiam begitu wajahnya kini malah berhadapan langsung dengan wajah Soonyoung dengan jarak yang begitu sangat dekat. Dan jantung Soonyoung terasa hampir meledak saat tanpa ia duga Jihoon memajukan tubuhnya, membuat wajah mereka semakin menempel.

"Apa kau sengaja mengundang mereka ?" ucap Jihoon dengan nada dinginnya.

"Mwo ?"

"Kau menjebakku ?" tuduh Jihoon membuat Soonyoung geram.

"Yakh~!"

Dan teriakan tiba-tiba Soonyoung sukses menyita perhatian Chan.

"Waeyo Chanie ?" tanya Jeonghan yang melihat Chan tiba-tiba memandang kearah semak-semak.

"Hyung, apa kau tadi tak mendengar suara yang aneh ? Aku seperti mendengar suara yang tak asing." Chan memiringkan kepalanya seperti tengah berpikir. "Seperti suara Soonyoung hyung dan itu berasal dari arah semak-semak itu."

Mendengar penuturan Chan itu membuat Jihoon yang tengah membekap mulut Soonyoung bergidik ngeri. Jihoon memejamkan matanya seolah hidupnya akan segera berakhir beberapa detik kedepan ketika ia mendengar suara langkah mendekati tempat persembunyian mereka.

Soonyoung yang melihat perubahan Jihoon itu pun segera bertindak. Dilepaskannya tangan mungil Jihoon yang membelenggu bibirnya. "Kau cepatlah kembali ke asrama." ucap Soonyoung singkat sebelum akhirnya ia berdiri sambil tersenyum bodoh kearah Chan, Jeonghan, dan Seungcheol yang telah berdiri tepat di depan semak-semak.

"Oh~ kalian disini juga ?"

"Soonyoung ?" panggil Jeonghan dan Seungcheol bingung dengan kehadiran tiba-tiba Soonyoung dan senyum bodohnya itu.

"Benar kan ! Aku tak akan pernah salah mengenali suara orang." ucap Chan sambil tersenyum bangga.

Soonyoung hendak berjalan menghampiri ketiga temannya itu namun terhenti sejenak saat ia merasakan Jihoon menarik tangannya. Soonyoung hanya menatapnya sekilas dan menggelengkan kepalanya kemudian berbisik. 'Pulanglah'

"Kenapa kau bisa ada disini juga ?" tanya Jeonghan yang di tanggapi senyuman manis oleh Soonyoung.

"Hanya berjalan-jalan menghabiskan akhir pekan yang membosankan."

.

.

.

.

Awal minggu kembali datang. Hari Senin adalah hari yang selalu terasa panjang dan melelahkan. Dan waktu istirahat seperti inilah yang paling di tunggu-tunggu oleh seluruh warga sekolah, tak terkecuali para guru.

Dan tempat paling ramai di jam seperti ini pastilah kantin. Tempat menyantap makan siang sambil mengobrol dengan teman seperti ini adalah surga dunia di sekolah itu.

Jun yang baru saja datang langsung berdecak sebal melihat betapa penuhnya kantin itu. Ia bahkan tak melihat sebuah meja kosong dimanapun. Minghao yang baru saja datang dengan sebuah nampan berisi berbagai macam menu makan siang hari ini pun ikut berhenti di sebelah kekasihnya itu dan menyenggol sikunya, mencoba mencari perhatian sang kekasih.

"Wae ?"

"Tak ada tempat kosong."

Minghao pun ikut mengedarkan matanya ke segala penjuru kantin. Ia tersenyum begitu pandangannya berhenti di sebuah meja dekat pintu keluar, seorang namja mungil terlihat tengah mengaduk-aduk sup di depannya.

"Kita duduk disana saja." ucap Minghao yang langsung berjalan dan diikuti Jun.

"Jihoon-ah~ boleh kami duduk disini ?" suara Minghao membuat Jihoon mendongak kemudian mengangguk tanda tak masalah temannya itu bergabung di mejanya.

"Ah~ gomawo. Ck~ lihatlah tempat ini selalu jadi seperti sarang lebah setiap jam istirahat tiba." gerutu Jun sambil memakan makanan miliknya.

"Dan kau salah satu lebahnya." jawab Minghao membuat Jun tersenyum kearahnya dengan pipi mengbung penuh makanan.

"Kau juga." balas Jun yang dibalas senyuman juga oleh Minghao. "Ah~ tunggu sebentar jangan bergerak." lanjut Jun membuat Minghao dan Jihoon memandangnya.

Jun mengulurkan tangannya kearah bibir Minghao secara perlahan hingga tangan itu mendarat tepat diatas bibir Minghao dan mengambil sebuah nasi yang tak sengaja tertinggal di belah bibir keasihnya itu.

"Ada tamu tak diundang." ucap Jun lalu memasukkan sebutir nasi tadi kedalam mulutnya.

Minghao hanya tersenyum malu dan memukul ringan lengan kekasihnya. "Jangan begitu, ada Jihoon aku malu."

Jihoon yang melihat kelakuan pasangan di depannya itu hampir saja memuntahkan seluruh makanan yang ada di perutnya sejak tadi pagi. Sungguh menggelikan~

Jihoon kembali berkutat pada nampan makan siangnya yang sama sekali belum terjamah sejak tadi. Bahkan sup yang sedari tadi ia aduk-aduk itu sudah tak karuan bentuknya.

Jihoon menopangkan kepalanya pada sebelah tangannya yang menganggur. Jihoon merasa tak bertenaga dan tak bersemangat sejak kejadian akhir pekan kemarin. Ia masih tak percaya dengan jalan cerita kehidupannya yang menjadi seperti ini sekarang.

Berpacaran dengan Kwon Soonyoung mesum itu ?

"Yang benar saja !" teriak Jihoon tiba-tiba membuat Jun dan Minghao menghentikan suapan sendok di mulut mereka seketika.

Memandang ngeri kearah Jihoon yang kini semakin cepat mengaduk-aduk sup nya dengan mulut yang terus mendumel tak henti.

"Euhm~ Jihoon-ah~ gwaenchana ?" tanya Minghao hati-hati membuat Jihoon seketika menghentikan adukan tangannya lalu menatap Minghao dan Jun secara bergantian.

Jihoon tersenyum. "Mianhae~ apa aku mengagetkan kalian ?! Hehehe~ mian~ mian~"

Jun dan Minghao hanya saling memandang dan mengedikkan bahu.

"Jika kau sedang ada masalah, kau bisa membaginya dengan kami. Kami akan menjadi pendengar dan jika kami bisa memberi saran pasti akan kami beri nanti." ucap Jun tulus yang di tanggapi senyuman oleh Jihoon.

"Gwanchana~ ini bukan masalah besar kok." ucap Jihoon lalu mengeluarkan ponselnya dari balik saku celananya. "Kalian lanjutkan saja acara makan kalian. Tak perlu pedulian aku."

Setelah mengucapkan semua itu Jihoon kini telah berkutat dengan ponsel pintar miliknya. Membuka beberapa aplikasi di ponselnya kemudian tangannya mulai berjelajah diatas layar putih itu.

Setelah selesai, diletakkan kembali ponselnya itu di sebelah nampan makan siang miliknya dan mulai memakan dengan benar berbagai macam makanan yang sedari tadi ia anggurkan itu.

Sedangkan di meja lain yang berada tak jauh dari belakang Jihoon, ada seseorang yang terus saja memandang kearah Jihoon. Soonyoung, namja yang tengah mabuk kepayang karena seorang Lee Jihoon yang berhasil membuat pandangannya buta oleh pesonanya itu sudah hampir setengah jam menopang dagunya sambil terus tersenyum bodoh menatapi namja pujaan hatinya yang bahkan hanya bisa ia lihat punggungnya itu.

"Jadi kau tak memutuskan kekasihmu itu ?" suara berat terdengar menyapa gendang telinga Soonyoung namun sama sekali tak ia gubris. Soonyoung masih saja fokus memperhatikan namja mungilnya yang tengah melahap makan siangnya kini.

"Yakh~ Kwon !" suara keras sekaligus gebrakan meja membuat Soonyoung bahkan beberapa siswa di kantin itu, termasuk Jihoon menoleh ke asal suara.

"Yakh~ Kim Minggu kau gila apa !?" bisik Soonyoung sambil menyembunyikan tubuhnya di balik badan besar Minggu yang duduk di depannya lalu melirik Jihoon yang kini kembali berbalik ke posisinya semula. Soonyoung pun menghela napas lega, bersyukur karena Jihoon tak melihatnya.

"Kau yang gila Kwon sialan ! Kenapa kau mengabaikan pertanyaan Wonu sedari tadi ha ?!" geram Mingyu yang hanya di tanggapi tatapan polos tak berdosa Soonyoung.

"Mwo ? Apa kau tadi bicara padaku Wonu ?" dan helaan napas berat meluncur dari mulut sepasang kekasih yang duduk berdampingan itu. "Mianhae~ aku sedang tak fokus tadi. Jadi kau bicara apa tadi ?"

"Aku tanya padamu, apa kau kemarin tak jadi memutuskan kekasih dunia mayamu itu ?"

"Ah~ ya~ seperti yang kubilang, aku tak jadi memutuskannya."

"Wae ? Apa karena dia terlalu manis atau tampan jadi kau merasa menyesal jika memutuskannya ?" kini giliran Mingyu yang bertanya.

"Anggap saja begitu."

"Mwo ?" pekik Minggu dan Wonwoo bersamaan.

Soonyoung hanya tersenyum menanggapi reaksi kedua temannya itu. Kini pandangannya beralih ke ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Dilihatnya layar ponselnya yang baru saja mendapatkan notif masuk.

Begitu melihat notif apa itu, Soonyoung langsung saja buru-buru membuka ponselnya dan membuka sebuah notif pemberitahuan status baru Lee Jihoon yang baru saja ia buat beberapa menit yang lalu.

"Jadi sekarang kau mau bilang kalau kau akan mendua begitu ? Memacari Woozi dan mengejar Jihoon ?" baru saja Wonwoo menutup mulutnya, Soonyoung sudah berlari keluar kantin.

Minggu dan Wonwoo pun mengikuti arah pergi Soonyoung yang meninggalkan mereka tanpa pamit itu.

"Anak itu benar-benar... Yakh~ dimana sopan santunnya !" teriak Minggu yang hanya menjadi angin lalu.

"Kurasa otaknya makin gesrek semenjak ada Lee Jihoon disini."

"Kau benar hyung. Lihat saja kelakuannya yang semakin hari semakin aneh. Bahkan ia sekarang lebih aneh dari seorang Park Ji min yang tergila-gila oleh Min Yoongi."

"Jangan ungkit-ungkit nama Yoongi hyung, jika dia mendengarmu, kau akan berakhir di dalam kloset toilet asrama."

Minggu meneguk ludahnya dengan susah payah. Diliriknya Wonwoo yang kini tengah mengemuti tulang ayam di sampingnya itu. Terkadang hyung sekaligus kekasihnya ini kalau bicara tak pernah dipikir dulu, membuat orang lain bergidik ngeri.

Tapi untungnya Wonwoo hanya ucapannya saja yang menakutkan seperti mengancam. Tidak seperti Yoongi yang suka bertindak tanpa berpikir dulu akibatnya. Minggu jadi ingat insiden beberapa Bulan yang lalu.

Saat itu Taehyung dan Seokmin berkelahi di belakang sekolah. Namun sialnya, salah satu tangan mereka mengenai wajah Yoongi yang lewat untuk mengambil bola basket di gudang penyimpanan alat-alat olahraga yang juga berada di belakang gedung sekolah.

Dan apa kalian tau akibat dari kejadian itu ?

Yoongi dengan wajah datarnya hanya menatap tajam Taehyung dan Seokmin yang langsung membuat kedua anak itu menciut. Tatapan membunuh itu seolah hendak memakan mereka berdua hidup-hidup.

Alhasil, malam harinya petugas asrama yang sedang patroli malam, mengecek setiap kamar tak menemukan Taehyung dan Seokmin di manapun. Dan dengan santainya Yoongi mengatakan...

"Mereka ada di gudang olahraga. Kurasa mereka sedang tidur bersama beberapa tikus disana."

Dan benar saja, begitu penjaga asrama pergi ke gudang olahraga mereka menemukan Taehyung dan Seokmin tengah tiduran diatas matras yang sering dipakai untuk olahraga roll depan dan roll belakang itu bersama beberapa tikus putih di sekitar mereka.

Min Yoongi itu sungguh menakutkan...

Mengerikan...

.

.

.

.

Matahari mulai tenggelam, menyembunyikan dirinya di dalam pekatnya langit malam yang gelap. Soonyoung berlari menyusuri beberapa lorong-lorong di dalam asramanya dan berhenti tepat di depan sebuah pintu.

Ia tersenyum sembari mengatur napasnya yang tesengal-sengal akibat terus berlari sejak tadi. Begitu ia sudah merasa baikan, Soonyoung mengulurkan tangan kanannya kedepan hendak mengetuk pintu di depannya itu.

Namun sebelum tangan Soonyoung sempat menggapai pintu itu, pintu didepannya telah terbuka terlebih dahulu. Soonyoung tersenyum saat pintu itu mulai terbuka.

"Jihoon-" ucapan Soonyoung terhenti begitu ia melihat sosok Yoongi yang muncul di balik pintu itu.

Soonyoung mengernyit. Ditatapnya sekitar untuk memastikan bahwa ia tak salah lantai dan tak salah kamar. Sedangkan Yoongi hanya menyipitkan matanya menatap kelakuan aneh Soonyoung yang malah berjalan kesana kemari itu.

"Apa yang kau lakukan Kwon ?!"

"Ini benar kamar Jihoon. Kenapa kau bisa disini hyung."

Kini Yoongi melipat kedua tangannya didepan dadanya dan bersandar di pinggir pintu. Niatnya kembali kekamarnya untuk tidur hilang begitu saja. "Ini memang kamar Jihoon dan kurasa tak ada larangan penghuni kamar lain main ke kamar lainnya." jawab Yoongi ketus.

"Kau sendiri untuk apa kemari dan mencari Jihoon ?" tanya balik Yoongi.

"Sama sepertimu, aku juga mau main" ucap Soonyoung lalu berteriak memanggil Jihoon. "Jihoon-ah~ kemarilah. Aku membawakan sesuatu untukmu."

Yoongi mengernyit menatap bungkusan yang dibawa Soonyoung sedari tadi itu. "Apa itu ?"

"Ini untuk Jihoon."

"Lihat !" ucap Yoongi dingin lalu merampas bungkusan di tangan Soonyoung dan membukanya. "Ice Cream Cake ?"

"Yakh~" pekik Soonyounf yang langsung merebut kembali bungkusannya dari Yoongi. "Jangan coba-coba menyentuhnya. Ini milik Jihoonie~ jika hyung mau beli saja sendiri. Atau suruh Park Jimin itu membelikanmu. Kuihat kekasihmu itu semakin hari semakin menyedihkan saja karena tak kau beli jatah."

"Yakh~ Kwon Soonyoung jaga mulut mesummu itu dasar kurang ajar !"

"Aku hanya menyampaikan apa yang ingin Jimin sampaikan padamu."

"Kau benar-benar ingin mati ya !"

"Ayolah hyung~ daripada menghalangiku seperti ini lebih baik kau temui Jimin dan berlovey dovey dengannya."

"Lalu kau juga akan berlovey dovey dengan Jihoon begitu ?"

Soonyoung langsung mengangguk cepat. "Hyung pintar sekali. Otak hyung cepat tanggap juga ya~ tak seperti jalan hyung yang seperti kura-kura"

"Yakh~ Kwon Soonyoung !"

Teriakan menggelegar Yoongi itu membuat Jihoon langsung berlari kearah Soonyoung, berniat menjauhkannya dari amukan murka hyungnya itu. Jihoon sudah sangat tau bagaimana sifat hyungnya satu-satunya itu. Jihoon sudah sangat hafal segala macam hal gila yang bisa Yoongi lakukan jika sudah murka.

Dia bahkan pernah hampir membunuh orang dulu saat mereka pernah tinggal bersama saat masih kecil. Dan orang malang itu adalah namja yang baru saja diseret Jihoon menjauh, Kwon Soonyoung.

Selama didalam kamarnya tadi Jihoon terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya tak habis pikir, dulu maupun sekarang saat mereka berdua bahkan tak saling kenal pun mereka masih bisa menjadi musuh seperti ini.

Saling adu mulut. Saling mengejek satu sama lain.

Jihoon bahkan tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka berdua selama berada di sekolah dan asrama yang sama selama hampir 3 tahun seperti ini. Dan Jihoon hanya bisa sedikit bersyukur saat beberapa waktu yang lalu dirinya dan Yoongi saling mengobrol di dalam kamarnya, Jihoon sempat bertanya tentang tetangga mereka dulu, 'Hoshi'.

Dan selama perbincangan itu berlangsung Jihoon dapat menarik kesimpulan bahwa Yoongi hyungnya belum tau kalau Soonyoung adalah Hoshi, namja kecil yang selalu menjadi musuhnya waktu kecil dulu.

.

.

.

.

Disinilah Jihoon dan Soonyoung sekarang berada. Entah apa yang ada di benak Jihoon namun langkah kakinya hanya terus saja melangkah menyeret Soonyoung hingga berakhir di depan ruang dance.

Jihoon pun masuk kedalam, menyalakan lampu ruang dance itu lalu duduk bersandar di lantai sambil menyilakan kakinya. Matanya terus menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang mengelilingi ruang dance itu. Jihoon bahkan tak bergeming saat Soonyoung ikut duduk disampingnya.

"Menjaulah dariku." ucapnya dingin tanpa menoleh kearah Soonyoung.

Soonyoung yang mengerti maksud Jihoon lalu mengangkat pantatnya dan berpindah sedikit lebih jauh dari Jihoon.

"Kenapa kau tadi kekamarku dan mencari masalah dengan Yoongi hyung ha ?" tanyanya masih tanpa menatap Soonyoung.

Dan Soonyoung merasa tengah diadili saat ini. Seperti seorang tersangka yang sebentar lagi akan mendapatkan jatuhan hukuman mati atau di penjara seumur hidup.

"Aku tidak mencari masalah. Yoongi hyung saja yang terlalu sinis jadi orang."

"Jaga ucapanmu." kini Jihoon menoleh menatap tajam Soonyoung yang langsung membuat Soonyoung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Jihoon kembali menoleh menatap kaca di depannya. "Jadi untuk apa kau mencariku ?"

"Ah~ iya aku hampir lupa !" Soonyoung langsung meraih bungkusan yang sedari tadi ia bawa lalu kembali mendekati Jihoon. "Ini~"

Soonyoung memberikan bungkusan itu pada Jihoon. Awalnya Jihoon mengernyitkan dahinya lalu menatap bungkusan itu dan Soonyoung secara bergantian. Namun tak lama Jihoon akhirnya menerima bungkusan itu membuat Soonyoung tersenyum bahagia.

Namun senyumannya itu langsung hilang begitu Jihoon menyuruhnya kembali mengambil jarak dengannya. Soonyoung pun menuruti dan kembali ke tempatnya semula.

"Apa ini ?" tanya Jihoon sambil membuka bungkusan itu. Dan Jihoon langsung terdiam terpaku saat melihat isi didalam bungkusan itu.

"Ice Cream Cake. Bukankah kau sedang ingin makan itu."

"Bagaimana kau-"

"Bagaimana aku bisa tau ? Aku membaca statusmu tadi saat di kantin. Dan aku langsung berlari mencarikanmu itu." ucap Soonyoung sambil tersenyum bangga.

Tanpa Soonyoung duga, Jihoon kembali menoleh padanya dengan tatapan tajamnya. "Kau membuntutiku di kantin tadi ?"

Pertanyaan Jihoon itu sukses membuat Soonyoung tak berkutik. "Euhm~ itu... Aku hanya tak sengaja melihatmu saat makan bersama Mingyu dan Wonwoo tadi."

"Yang benar ?!" selidik Jihoon masih dengan tatapan mengintimidasinya

"Sungguh... Jika tak percaya tanyakan saja pada Mingyu dan Wonwoo."

"Aku tak kenal mereka."

"Kalau begitu percaya saja padaku. Kita ini kan sepasang kekasih jadi harus saling percaya !"

"Tutup mulut embermu itu. Jaga mulutmu itu baik-baik ! Jika aku tadi tak menyeretmu pergi aku yakin kau pasti sudah kelepasan di depan Yoongi hyung."

"Wae ? Memang kenapa jika aku mengatakannya di depan Yoongi hyung ? Yoongi hyung itu bukan tipe orang yang suka bergossip, jadi aku yakin kuta akan sangat mudah menutup mulutnya. Euhm~ dia juga sangat suka dengan Ice Cream Cake sepertimu, jadi kita bisa membelikannya berbungkus-bungkus Ice Cream Cake untuk membekap mulutnya. Hahaha~"

Tawa renyah Soonyoung hanya di tanggapi tatapan tanpa kedip Jihoon membuat Soonyoung menyadari tatapan aneh itu. "Wae ?"

"Kurasa kau tak tahu bagaimana Yoongi hyung itu."

"Memang dia kenapa ?"

"Dia itu memang tak seperti Seungkwan ataupun Chan yang mulutnya ember. Tapi Yoongi hyung itu sekalinya marah dan murka ia bisa mengucapkan segala hal, bahkan rahasia yang sudah ia janji akan ia bawa sampai mati. Dan mulutnya itu tak akan berhenti bicara sampai emosinya reda."

Soonyoung melongo mendengar penjelasan Jihoon. "Woah~ bagaimana kau bisa tahu semua itu ?"

"Tentu saja karena aku adalah adik..." Jihoon tiba-tiba saja menghentikan ucapannya membuat Soonyoung mengernyit.

"Wae ? Kau dan dia apa ?"

Jihoon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aniya~ bukan apa-apa. Lupakan saja." ucao Jihoon lalu sibuk membuka bungkusan yang sedari tadi ada di pangkuannya itu. "Setidaknya aku masih lebih punya hati dari pada Yoongi hyung. Aku akan menerima hadiah ini. Aku akan memakannya sekarang jadi kau bisa pergi."

"Aku akan menunggumu sampai kau menghabiskan semuanya." ucap Soonyoung yang langsung mendapat delikan tajam dari Jihoon. "Setidaknya kau harus membalas betapa beratnya upayaku mendapatkan itu dengan menghabiskan semuanya."

"Aku kan tidak minta kau belikan." ucap Jihoon lalu mengambil sepotong kuenya kemudian mulai memakannya. "Dan jangan memandangiku terus seperti itu. Aku bukan tontonan."

Soonyoung yang tertangkap basah tengah memandanginya pun langsung membuang mukanya ke sembarang arah. Ia cukup bosan menunggui Jihoon yang ternyata memakan 6 potong Ice Cream Cake saja sangat lama.

Soonyoung pun beranjak ke sudut ruangan, mengotak-atik beberapa spiker yang ada disana kemudian menancapkan sebuah kabel ke ponselnya. Setelah terpasang, Soonyoung lalu menjelajah ponselnya, membuka berkas lagu-lagu simpanannya. Matanya naik turun mencoba memilih lagu yang ia suka.

Akhirnya pilihannya pun jatuh pada sebuah lagu milik SHINee yang berjudul Lucifer. Musik pun mulai terdengar dan Soonyoung berjalan ke tengah ruangan. Setelah ia mulai mendapat beat yang tepat, Soonyoung pun mulai menggerakkan tubuhnya, menari mengikuti beat lagu yang cukup cepat itu.

"Yakh~ berisik !" teriakan Jihoon membuat Soonyoung berhenti menari dan berbalik memandangnya.

"Wae~? Ini bahkan belum setengah lagu~"

"Apa kau tak punya lagu lain yang lebih lembut ?"

"Tapi mereka adalah idolaku."

"Aku tak peduli."

"Kalau begitu kau saja yang menari ?"

Jihoon mengernyit tak suka. "Mwo ?"

"Bukankah kau pernah bilang kalau kau juga suka menari. Bahkan kau ikut kelas dance juga kan selain kelas vocal. Aku hanya ingin melihat kemampuan menarimu."

"Tidak mau."

"Ayolah~"

"Tidak mau !"

"Jihoonie~"

"Kubilang aku tak mau !"

"Pikachu~"

"Yakh~ berhenti memanggilku begitu !"

"Ya sudah~" ucap final Soonyoung mengiringi tubuhnya kembali menari mengikuti lagu yang kini telah berganti menjadi Dream Girl, masih dari penyanyi yang sama.

Namun saat Soonyoung berputar, tiba-tiba saja ia memekik dan terjatuh memegangi pergelangan kakinya yang terasa berdenyut. Jihoon yang melihat wajah kesakitan Soonyoung pun segera menghampirinya dan berjongkok di sebelah Soonyoung.

"Gwaenchana ?" tanya Jihoon khawatir.

Jihoon pun mengecek pergelangan kaki Soonyoung yang ternyata telah membiru. "Kenapa bisa sampai begini ? Kau terkilir ?"

Soonyoung meringis saat jemari Jihoon menyentuh pergelangan kakinya yang memberi. "Aku hanya tak sengaja terjatuh saat membelikanmu kue tadi."

Penuturan Soonyoung itu sukses membuat Jihoon iba. Memang bukan salah Jihoon kalau Soonyoung celaka karena Jihoon bahkan tak meminta Soonyoung membelikannya, namun entah kenapa ada rasa bersalah yang hinggap di dalam hatinya.

Seperti ini semua terjadi karena dirinya...

"Mianhae~ seharusnya aku tak membuat status seperti itu." ucap Jihoon sambil menunduk.

Soonyoung yang melihat sikap Jihoon seperti itu jadi kebingungan. "Aniya~ ini bukan salahmu,, sungguh~ kau tak perlu minta maaf."

"Tetap saja kau terluka karena aku."

"Bukan. Aku terluka karena kecerobohanku sendiri. Karena aku tak hati-hati."

"Tapi tetap saja-"

"Lupakan saja."

Keduanya diam dalam posisi yang tak berubah sedikitpun. Membuat Soonyoung lama-lama sedikit jengah.

"Kalau begitu agar kita impas, kau harus menari untukku." ucap Soonyoung membuat Jihoon langsung mendongak menatapnya.

"Nde ?"

"Menarilah untukku. Aku sangat ingin melihatmu menari."

Jihoon menggigit bibir bawahnya. Dia tampak ragu tapi akhirnya Jihoon mengangguk kecil. "Baiklah~"

Soonyoung pun tersenyum senang. Ia lalu bangkit berdiri dibantu Jihoon. "Kau mau lagu apa ?"

"Putarkan saja lagunya Beast yang Ribbon."

"Ah~ jadi kau suka genre-genre lagu yang seperti itu." ucap Soonyoung sambil berjalan pelan menuju speaker, sedikit kesusahan karena bagaimana pun juga pergelangan kakinya terasa sakit.

Setelah ia menemukan lagu request'an Jihoon di HP nya, ia pun mulai menekan tombol play dan intro lagu pun mulai terdengar. Jihoon juga terlihat menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar, mencoba menyiapkan diri.

Soonyoung berdiri bersandar di dekat speaker untuk melihat pertunjukan memukau Jihoon sebentar lagi. Jihoon mulai menggerakan tubuhnya, bergerak sesuai irama. Sangat Indah dan memukau. Jihoon ternyata sangat pintar menari. Soonyoung yang notabene adalah ketua klub dance pun sampai terpukau tak berkedip melihat tarian Indah Jihoon.

Sangat Indah seperti kupu-kupu terbang...

Dan entah mendapat keberanian dari mana, Soonyoung melangkahkan kakinya mendekati Jihoon. Tak ia hiraukan rasa sakit di kakinya. Seolah terbius oleh tarian Jihoon, kakinya kini sama sekali tak terasa sakit.

Yang ada di benak Soonyoung hanyalah menghampiri Jihoon lalu mendekapnya. Seperti yang Soonyoung lakukan saat ini. Tangannya meraih pinggang Jihoon yang masih sibuk menari. Jihoon tampak terkejut oleh tarikan tiba-tiba Soonyoung itu.

Soonyoung membawa tubuh Jihoon kedalam dekapannya. Memandangi wajah manis yang membuatnya tergila-gila itu dengan begitu lekat dan intens. Dan entah apa yang menghipnotis Jihoon, ia bahkan sama sekali tak melawan perlakuan Soonyoung yang termasuk kurang ajar itu.

Jika dalam keadaan normal, Jihoon pasti sudah berteriak keras padanya, memukul kepalanya, dan memaki 'penjahat kelamin' padanya. Namun saat ini entah apa yang membutakan otak dan pandangan Jihoon. Ia hanya merasa Soonyoung yang ada di hadapannya kini sangatlah mempesona dengan tatapan yang membuat otak dan tubuhnya membeku.

Hingga akhirnya entah bagaimana kedua belah bibir mereka bertemu. Menempel kemudian saling melumat satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah, keduanya ingin saling mendominasi.

Soonyoung buta. Begitupula dengan Jihoon. Tak ada yang tahu apa yang ada di otak mereka saat mereka saling bercumbu. Yang mereka rasakan hanyalah hasrat tak terbendung yang meminta dipuaskan.

Akal sehat ?

Biarkan mereka membahas itu nanti.

.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

.

Chapter 4 done ^^

Gomawo buat kalian semua yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca FF ku ini ^^ baik yang sudah menyumbangkan reviewnya maupun yang cuma sekedar mampir baca doank pokoknya jeongmal gomawo ^^

Mian mian kalau review-review kalian nggak sempet aku bales ^^ tapi yang pasti semua review yang masuk selalu aku baca kok ^^

Ditunggu juga review untuk chapter ini ^^

See ya~