Chapter 5

"Simple Love Simple Happinesse"

Cast : BTS & Seventeen

Pairing : SoonHoon - YoonMin - VerKwan - VHope - JeongCheol - NamJin - JunHao - Meanie

Jungkook, Seokmin, Joshua, & Chan adalah milik mereka sendiri xD

Summary : Jihoon yang baru saja memulai kembali kehidupannya di Korea harus rela berurusan dengan Soonyoung, teman barunya di sekolah yang selalu mengejar-ngejarnya setiap hari. Apakah Jihoon akan terus menghindarinya atau malah berakhir di dalam dekapannya ?

Disclaimer : Seventeen n BTS adalah milik agency, orang tua, dan tentu saja diri mereka sendiri

Warning : Typo berserakan dimana-mana, Yaoi, Boys Love, GJ, de el el

Happy Reading ^^

.

.

.

.

Sedikit keterangan kamar dan kelas para pemain biar pada nggak bingung ^^

Room 1 : Jin - Jun - Yoongi - Jeonghan

Room 2 : Namjoon - Seungcheol - Hoseok - Joshua

Room 3 : Jihoon - Seungkwan - Mingyu - Jeongkook

Room 4 : Taehyung - Jimin - Soonyoung - Seokmin

Room 5 : Chan - Minghao - Wonwoo - Hansol

Class 12 : Jin - Namjoon - Seungcheol - Jeonghan - Jun - Yoongi - Hoseok - Joshua

Class 11 : Jimin - Jihoon - Taehyung - Soonyoung - Seungkwan - Seokmin - Wonwoo - Mingyu - Hansol - Minghao - Chan - Jungkook

.

.

.

.

Udara semakin dingin, namun itu tidak melunturkan semangat para siswa Ddaebak High School untuk belajar mati-matian. Terutama untuk para siswa tingkat akhir seperti Namjoon, Seokjin, Seungcheol, Jeonghan, Jun, Jisoo, Hoseok, dan Yoongi.

Seluruh siswa kelas tiga di seluruh penjuru Korea kini tengah menghadapi ujian kelulusan. Semua saling berjuang untuk bias mendapatkan nilai tertinggi dan masuk ke perguruan tinggi yang mereka inginkan. Seperti apa yang terlihat di salah satu meja panjang yang ada di dalam perpustakaan sekolah itu.

Hari pertama ujian memang sudah berlalu, namun masih ada dua hari lagi yang menanti mereka. Oleh karena itulah mereka kini berkumpul bersama untuk belajar bersama, saling membantu menjelaskan mata pelajaran yang tak mereka mengerti satu sama lain.

"Namjoon-ah~ apa rumus untuk soal nomor tujuh ini ?" Tanya Seokjin yang nampak bingung dengan soal dihadapannya, membuat Namjoon yang tengah membaca buku disampingnya menoleh lalu mulai membantu Seokjin mengerjakannya.

"Jeonghan-ah~ apa kau tahu jawaban nomor sepuluh ini ?" Jeonghan melirik buku yang disodorkan Seungcheol padanya lalu memasang pose berpikirnya namun tak lama ia lalu mengedikkan bahu.

"Aku tak tahu, coba kau tanyakan pada Namjoon."

"Namjoon-ah~" panggil Seungcheol yang duduk dihadapannya membuat Namjoon menatap soal yang di sodorkan Seungcheol.

"Aku juga tak tahu, sedari tadi aku juga sudah bolak – balik menghitungnya tapi tetap tak ketemu juga jawabannya. Euhm~ coba kau tanyakan Jun Hui."

Seungcheol mengangguk lalu menoleh Jun yang duduk di tepi meja. "Jun…"

"Wae ? Kau mau Tanya soal itu padaku ? Apa kau gila ? Si monster IQ itu saja tak tahu apalagi aku !" sahut Jun dengan nada tingginya membuat Seungcheol membatalkan niatnya bertanya lebih lanjut.

"Ah~ sungguh aku benci Matematika sialan ini ! Aish~ Matematika memang musuh terbesarku dasar pelajaran menyebalkan ! Ah~ rasanya aku ingin sekali membunuh siapapun orang yang telah membuat rumus-rumus sialan ini !" maki Yoongi sambil membanting buku yang sedari tadi di tatapinya itu. "Ah~ buku sialan !" umpatnya lagi membuat kelima temannya itu berjengit takut.

"Hyung~ tenanglah~ Jiminie yang manis ini sudah disini." Ucap sosok yang tak kalah mini dari Yoongi itu begitu ia datang dan langsung mengambil tempat di depan Yoongi.

Dan Yoongi langsung memasang tampang ingin muntahnya begitu melihat tampang ke-PD-an kekasihnya itu. Lihatlah senyum bodoh Park Jimin itu, bukannya membuat Min Yoongi jatuh ke pelukannya tapi malah membuatnya ingin menonjok wajah sok imut kekasihnya itu.

"Yakh~ kenapa kau disni ? Kau tahu kau itu mengganggu konsentrasiku saja !"

Jimin mengerjap bingung. "Hyung bisa konsentrasi ? Pada matematika ? Benarkah ? Sejak kapan ?"

"Yakh~ kau barusan mengejekku ya ?! Dengar ya, keluargaku itu paling terkenal dengan kemampuan berkonsentrasinya."

"Tapi aku belum pernah melihat Yoongi hyung berkonsentrasi, apalagi pada pelajaran di kelas. Yang aku tahu hanya Park Jimin yang bisa membuatmu berkonsentrasi."

"Yakh~ kau mau mati detik ini juga Park sialan ?!"

"Bukankah aku benar ? Hyung hanya bisa berkonsentrasi padaku." Jimin kembali tersenyum sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya lalu mengerjap menatap Yoongi. "Karena dimata Min Yoongi hanya ada Park Jimin seorang."

"Mati kau Park sialan ! Aku pastikan kau tak akan bisa mengikuti ujian kenaikan kelas minggu depan. Kupastikan nisanmu akan menjulang tinggi di gunung belakang sekolah dan abumu akan kupakai sebagai campuran makanan Holly."

.

.

.

.

Ujian kelulusan baru saja selesai. Begitu selesai, Yoongi bahkan sujud syukur karena setidaknya ia bisa menjawab setengah dari total lima puluh soal yang diberikan. Bisa mengerjakan setengahnya saja sudah prestasi besar bagi Yoongi yang notabene memang membenci pelajaran akademik.

Heol~ Yoongi memilih sekolahnya sekarang ini agar bisa terbebas dari pelajaran-pelajaran yang ia benci itu dan fokus mata jurusan music yang ia ambil. Tapi ternyata tetap saja ia harus melewati ujian akademik itu demi menambah point nilai yang dijadikan acuan masuk universitas nanti.

Dan disisi lain, sosok mungil yang sedari tadi tadi berdoa kusyuk di pojok pintu kelas Yoongi itu langsung bersorak girang dan menerjang Yoongi begitu Yoongi keluar dan mengatakan padanya bahwa ujiannya berjalan lancar.

Setidaknya kini Jimin bisa bernapas lega lantaran doanya selama dua jam tadi terkabul. Sebenarnya Jimin bukan berdoa untuk kelancaran ujian Yoongi namun secara tak langsung ia berharap begitu karena selama dua jam itu yang ia gumamkan sambil memejamkan mata adalah 'Oh Tuhan. Setidaknya selamatkanlah hidup hambamu ini sekali lagi dari buasnya Min Yoongi.'

Bagaimana pun juga Jimin masih ingat ancaman pembunuhan Yoongi dua hari yang lalu di perpustakaan.

.

.

.

.

Setelah ujian kelulusan anak kelas tiga berakhir kemarin, kini giliran anak kelas dua dan kelas satu yang memeras otak karena minggu depan adalah giliran mrereka yang menghadapi medan perang. Seperti Jimin sekarang misalnya.

Ia telah duduk dengan manis di perpustakaan asrama sejak tiga jam yang lalu. Bagaimana pun juga meski dari luar sosoknya terlihat tengil dan urakan, namun sebenarnya Jimin itu cukup pandai dalam pelajaran akademik. Ia cukup tekun memperhatikan pelajaran yang di sampaikan oleh para guru di depan kelas setiap hari dan mengulangi membaca buku pelajaran di waktu luangnya.

Tak seperti sahabatnya yang kini tengah menguap lebar sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Ya, siapa lagi sahabat paling pemalas yang Jimin punya, tentu saja Kwon Soonyoung.

"Sungguh otakku tidak sampai membaca semua rumus ini !" gerutu Soonyoung lalu melemparkan buku fisika yang tadi di pegangnya. Soonyoung kini melirik Jimin yang duduk didepannya. "Yakh~ jika kau hanya menjadikanmu obat nyamuk disini kenapa tadi kau mengajakku kemari ha ?!"

"Kau kan mau sendiri. Kau bilang sedang galau dan butuh teman." Sahut Jimin tanpa melepaskan pandangannya dari buku di depannya.

"Aku butuh teman mengobrol tapi kau malah sibuk mengobrol sendiri dengan buku sialanmu itu."

"Jika memang aku berniat mengobrol denganmu, maka aku akan membawamu ke café bukannya kemari."

Soonyoung berdecih sebal. "Kalau begitu kenapa tak ajak saja kekasih gula menyeramkanmu itu ha ?!"

"Yoongi hyung sedang sibuk dengan ujian praktik musiknya. Dia bahkan mengurung diri sendirian di studio sehariannya ini. Dia bahkan tak mengijinkanku masuk menemaninya."

"Ah~" Soonyoung mulai bangkit dan menyandarkan punggungnya di kursi. "Jadi kau juga sedang di campakkan ya ?! Ah~ iya, aku lupa kalau masa hukumanmu kan belum habis ya~"

Jimin menatap nyalang kearah Soonyoung. "Jangan cari perkara denganku, Kwon ! Ingat kita ini musuh bebuyutan meski kita teman sekamar !" Jimin kembali fokus pada bukunya namun sedetik kemudian ia mengernyit dan kembali menatap Soonyoung. "Kau sendiri juga sedang di campakkan ?"

Soonyoung mengangguk membuat Jimin semakin mengernyit. "Oleh siapa ?"

"Jihoon…" ucap Soonyoung sedih.

Entah kenapa begitu mendengar nama itu keluar dari bibir namja di depannya itu membuat emosinya muncul. Dengan tak berperasaan, ditutupnya buku yang tadi ia baca itu lalu membantingannya dengan keras hingga menimbulkan bunyi hantaman yang memekakkan telinga semua orang yang ada disana.

"Kau masih mencoba mendekati Jihoon ?"

Soonyoung mengangguk.

"Kau masih mengejar-ngejar Lee Jihoon ?"

Soonyoung mengangguk lagi.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menemuinya lagi ?!"

"Apa urusanmu dengannya ?"

"Yakh~ Kwon Soonyoung sialan aku bilang aku tidak akan pernah merestuimu dengan Jihoon. Tidak. Akan. Pernah ! Camkan itu !"

.

.

.

.

Jihoon berdiri didepan papan pengumuman sekolah dengan mulut menganga dan mata membola tak percayanya. Sudah hampir satu bulan ini ia sangat bersyukur tak bertemu dengan Kwon Soonyoung. Karena kesibukan belajar menempuh ujian kenaikan kelas membuat Jihoon punya alasan kuat untuk menjauhi Soonyoung.

Tapi yang tak habis Jihoon pikirkan adalah pengumuman pembagian kelas baru untuk tahun ajaran baru yang telah tertempel manis di dinding pengumuman sekolah. Bagaimana bisa begini ?

Jihoon bahkan berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengucek matanya, siapa tau ia tengah bermimpi atau salah lihat, namun semuanya percuma saja. Pengumuman di hadapannya itu sama sekali tak berubah.

Lee Jihoon akan masuk kelas 12-B bersama Soonyoung ?

Kwon Soonyoung ?

Itu tidak mungkin ! Bagaimana bisa ?!

'Takdir macam apa ini ?!' umpat Jihoon sambil mengepalkan kedua tangannya. Dari begitu banyak siswa yang ada di sekolah itu, dari begitu banyak kelas yang ada, bagaimana bisa mereka akan jadi sekelas ?

"Woah~ kita akan sekelas lagi kali ini !" pekik Minghao tiba-tiba disebelahnya membuat Jihoon menoleh kearahnya. "Kelas kita akan sangat menyenangkan !"

"Apanya yang menyenangkan ?!" Tanya Jihoon. 'Ini bahkan terasa seperti neraka bagiku.' Lanjut Jihoon dalam hati.

"Lihatlah~ Boo Seungkwan, Lee Seokmin, Park Jimin, Kim Taehyung, Kwon Soonyoung, mereka semua akan sekelas dengan kita. Ah~ kelas kita tak akan jadi membosankan lagi. Aku pikir aku akan menderita karena Jun hyung akan segera lulus dari sini dan meninggalkanku sendirian, tapi ternyata aku malah akan mendapatkan kelas yang sangat menyenangkan begini."

Jihoon hanya menghela napas beratnya. "Aku duluan." Pamitnya membuat Minghao memajukan bibir bawahnya karena di tinggal pergi begitu saja.

Namun langkah Jihoon tiba-tiba saja berhenti membuat Minghao yang menatap kepergiannya jadi menyatukan alis bingung. Jihoon sendiri berhenti karena mata kecilnya tak sengaja melihat sosok Soonyoung yang baru saja berbelok dari persimpangan bersama Seungkwan dan Hansol.

Soonyoung terlihat tengah tersenyum lebar sambil mengobrol bersama sepasang kekasih itu. Entah kenapa Jihoon jadi terdiam terpaku menatap wajah berseri Soonyoung itu. Namun sedetik kemudian ia tersadar dan menggelengkan kepalanya agar dirinya kembali kedunia nyata.

"Apa yang baru saja aku pikirkan ?!" Jihoon memukul-mukul kepalanya kemudian segera berbalik kembali dan berjalan cepat kearah sebaliknya agar tak berpapasan dengan Soonyoung yang berjalan kearah papan pengumuman itu.

'Wae ?" Tanya Minghao bingung melihat Jihoon berbalik arah.

Jihoon segera meraih lengan Minghao dan menariknya cepat. "Tiba-tiba saja aku sangat lapar, ayo kita ke kantin." Jihoon menarik tubuh Minghao agar mengikuti langkah kakinya yang ia buat secepat mungkin.

Sedangkan Soonyoung, Seungkwan, dan Hansol langsung berhenti tepat di depan papan pengumuman dimana masih terdapat beberapa siswa yang mengerubunginya. Sepertinya banyak sekali yang penasaran dengan pembagian kelas baru mereka untuk tahun ajaran baru mendatang.

"Woah~ kita akan sekelas Hansol-ah~" pekik Seungkwan begitu senang. "Akhirnya kita bisa sekelas juga !" Seungkwan langsung memeluk Hansol senang.

Sedangkan Soonyoung, dalam diam sebuah senyum senang pun ikut menghiasi bibir tipisnya. Mata sipitnya semakin melengkung indah dengan bibir yang ikut tertarik ke atas.

'Lee Jihoon, I Got You.'

.

.

.

.

"Piknik ?" pekik beberapa orang yang ada diruangan itu begitu mendengar apa yang Soonyoung katakan pada mereka.

Beberapa waktu yang lalu Soonyoung mengirimi pesan pada teman-teman terdekatnya itu untuk dating berkumpul ke ruang santai yang ada di asrama mereka itu. Dan kini di ruangan yang cukup luas itu telah ada anak-anak kelas tiga dan beberapa anak kelas dua yang Soonyoung kenal dekat.

Soonyoung tersenyum. "Bagaimana ? Bukankah itu ide bagus ? Anggap saja ini sebagai ucapan perpisahan bagi anak-anak kelas tiga yang sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita semua."

Dan sebuah bantalan duduk langsung melayang ke kepala Soonyoung, siapa lagi siswa tergalak di sekolah itu kalau bukan Min Yoongi si pelaku pelemparan. "Kau pikir kami akan mati apa ?!"

Sedangkan Soonyoung hanya menyengir tak berdosa.

"Tapi kurasa itu bukan ide yang buruk." Ucap Seungcheol membuat semua yang ada disana menoleh menatapnya.

"Benar. Aku juga setuju. Kita sudah kenal hampir tiga tahun tapi kita bahkan belum pernah keluar bermain bersama ketempat yang jauh." Kini Jeonghan ikut angkat bicara.

"Liburan setelah stress menghadapi ujian bukankah hal yang sangat kita butuhkan ?!" kini semua yang ada disana kembali menatap Soonyoung yang masih mencoba meyakinkan, membuat seseorang yang sedari tadi duduk di samping Yoongi itu menatapnya penuh selidik.

"Memang kita akan pergi kemana ?" Tanya Jin yang mulai tertarik juga.

"Nah~ kalau itu Boo Seungkwan yang akan menjelaskannya." Ucap Soonyoung membuat Seungkwan bangkit dari duduknya.

"Annyeonghaseyo yeorobun~ apa kalian semua sudah tak sabar mengunjungi sebuah pulau dengan berjuta keindahan alam alaminya yang akan membuat mata kita segar dan menyejukkan hati kita. Sebuah pulau yang sangat berharga bagiku. Sebuah pulau yang selalu ada di dalam hatiku. Sebuah pulau dimana seorang namja bersuara merdu ini telah dilahirkan. Dimana lagi kalau bukan…"

Soonyoung dan Seungkwan saling bertatapan dan tersenyum. "Pulau Jeju." Ucap mereka berdua bersamaa.

"Woah~ ddaebak ! Aku sudah sangat lama ingin kesana !" kini pekikan senang terlontar dari bibir Seokmin.

"Bagaimana dengan budget nya ? Transportasi kesana ? Apa kita akan berjalan kaki kesana ?" Tanya Namjoon membuat yang lain kembali menatap Soonyoung dan Seungkwan minta penjelasan.

"Jika benar berjalan kaki maka aku akan lebih memilih menghabiskan libur musim dinginku ini dengan berhibernasi sendirian di dalam studio." Sahut Yoongi.

"Berapa hari kita akan berlibur disana ?" Tanya Namjoon lagi.

"Jika kita menginap lalu bagaimana dengan penginapannya ?" lanjut Jeonghan.

"Logistiknya ? Ew~ jangan bilang kau akan meminta kita membeli makanan sendiri-sendiri." Kini giliran Jin yang protes.

Namun seperti telah merencanakan semuanya dengan matang sebelum melakukan pertemuan ini, Soonyoung hanya tersenyum menanggapi semua lontaran pertanyaan itu.

"Transportasi, penginapan, logistik, bahkan keperluan kalian, semua itu tidak perlu kalian khawatirkan karena semuanya akan di tanggung oleh teman bule kita yang sangat tajir ini." Ucap Soonyoung lalu menunjuk Hansol yang baru saja ditarik oleh oleh Seungkwan."

"Benar. Kalian tak perlu khawatir karena semuanya akan di tanggung oleh kekasih tertampanku ini, Hansol Vernon Chwe."

Dan sorak sorai kegembiraan langsung membludak di dalam ruangan itu. Jika seperti ini tentu saja semuanya akan setuju melakukan perjalanan tamasya ini. Siapa coba yang akan menolak berlibur secara cuma-cuma ?

"Ah~ dan kalian juga boleh membawa teman dekat kalian yang lain jika mau." Lanjut Soonyoung membuat Jimin semakin mengerutkan dahinya.

Semuanya tampak senang, begitu pula dengan Yoongi namun tidak untuk kekasihnya yang sedari tadi hanya melipat kedua tangannya di samping Yoongi. Jimin hanya tak habis pikir, dia melihat sebuah keanehan.

"Kwon Soonyoung." Panggil Jimin akhirnya buka suara.

Dan yang di panggil pun menoleh. "Wae ?"

"Apa kau merancanakan sesuatu ?"

"Yakh~ kenapa kau berprasangka buruk begitu padaku ha ?! Kita ini memang musuh bebuyutan tapi sekali saja bisakah kau menerima kebaikan hati kami yang sangat tulus ini."

Jimin hanya tersenyum miring. "Oh ya ? Tulus ? Kita lihat saja nanti."

.

.

.

.

Hari ini adalah hari terakhir tahun ajaran pertama Jihoon di sekolah itu berakhir. Dan besok adalah hari pertama libur musim dingin akan dimulai. Banyak siswa yang memilih pulang ke rumah masing-masing untuk menghabiskan liburan mereka.

Namun ada juga beberapa siswa yang memilih tetap tinggal di asrama dan menghabiskan masa liburan mereka itu di Seoul. Beberapa dari mereka juga memilih ikut perjalanan piknik yang dibuat oleh Soonyoung dan Seungkwan untuk merayakan kelulusan beberapa hyung tersayang mereka, sekaligus sebagai pesta perpisahan dengan anak-anak kelas tiga yang tak akan mereka temui lagi di tahun ajaran berikutnya nanti.

"Kapan kita akan berangkat besok ?" Tanya Mingyu yang tengah mengepak pakaian-pakaiannya ke dalam tas.

"Kita akan berangkat sore." Jawab Seungkwan yang tengah tengkurap sambil memainkan ponselnya diatas ranjangnya.

"Berapa hari kita akan disana ? Apa aku perlu membawa banyak baju ?"

"Tidak perlu bawa banyak baju, kita bisa saling berbagi baju nanti. Yang penting bawa banyak pakaian dalam karena aku tak mau berbagai pakaian dalam denganmu nanti." Ucap Seungkwan lalu bangkit duduk kemudian menatap Jihoon yang sedari tadi hanya duduk diam di ranjangnya.

"Apa kau sungguh tak akan ikut ?" Tanya Seungkwan membuat Jihoon menurunkan novel yang tengah ia baca .

Masih dengan kacamata pink pastel yang bertengger indah diatas hidungnya, Jihoon menoleh bosan menatap Seungkwan. "Aku tidak ikut."

Lama-kelamaan Jihoon jadi kesal juga dengan pertanyaan Seungkwan yang tak berubah. Sudah ratusan kali Seungkwan menanyakan hal yang sama setiap menitnya dan ratusan kali juga Jihoon masih kukuh dengan jawaban awalnya. Jihoon hanya merasa ia seperti dipaksa, dan Jihoon tak suka itu.

"Kenapa kau tak ikut ? Anak-anak yang lain saja ikut."

"Kenapa kau memaksaku ?" ucap Jihoon tak suka.

"Aku tak memaksamu. Aku hanya…"

"Sudahlah Seungkwan-ah~ jika Jihoon tak mau biarkan saja." Ucap Mingyu ikut menengahi.

"Yakh~ bukannya begitu. Aku kan hanya mengajaknya ikut dengan kita daripada dia nanti sendirian di asrama saat kita bersenang-senang."

"Tapi itu namanya memaksa hyung." kini giliran Jungkook yang angkat bicara.

"Astaga... Aku hanya heran kenapa ada yang tak tertarik ikut acara piknik ini. Jika dipikir-pikir, bukankah acara piknik ini sangat menguntungkan ? Kalian tak perlu memusingkan nasib kalian di sana nanti. Kalian hanya tinggal datang. Bis, transportasi, penginapan, dan berbagai kebutuhan kalian disana akan langsung terpenuhi hanya dengan sebuah jentikan jari dari kekasihku, tapi kena... Yakh~ Jihoon-ah~ kau mau kemana ?! Lee Jihoon aku belum selesai bicara ! Yakh~ Jihoon-ah~!" teriak Seungkwan begitu melihat Jihoon memakai hoodie kebesarannya, bersiap keluar kamar dan akhirnya ia pergi meninggalkan Seungkwan yang tampak mendumel di atas ranjangnya.

Setelah menutup pintu kamarnya, Jihoon berniat pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa stock novel yang akan menjadi pendamping hidupnya beberapa hari kedepan. Namun saat Jihoon berbalik dan hendak berjalan, tiba-tiba saja terdiam. Sedikit terlonjak saat ia melihat sosok Chan tengah berjalan kearahnya.

"Annyeong hyung~" sapa Chan dengan senyum terkembang di bibirnya.

Jihoon yang merasa di sapa pun hanya menganggukkan kepalanya dengan gugup. Sedangkan Chan yang melihat raut muka Jihoon pun mengerutkan keningnya.

"Hyung, kenapa wajahmu pucat. Gwaenchana ?" tanya Chan dengan wajah khawatirnya.

"Aku baik-baik saja." ucap Jihoon lalu kembali melangkah melewati Chan.

Sedangkan Chan yang merasa tak dihiraukan pun hanya menunduk dan dalam tunduknya itu ia menyeringai. "Kudengar... Kau tak akan ikut besok, hyung. Wae ?"

Pertanyaan Chan membuat Jihoon berbalik dan menatapnya. "Lebih baik aku berhibernasi selama liburan ini daripada ikut tamasya konyol itu." ucap Jihoon membuat Chan memiringkan kepalanya.

"Hyung, jika kau tak ikut, kau akan di tinggal sendirian di asrama."

"Bukan masalah."

"Kau tak takut tinggal sendirian di gedung sebesar ini ? Bagaimana jika nanti ada hantu yang muncul dan mengganggumu ?"

"Kau pikir aku percaya dengan hantu ? Di dunia ini tidak ada yang namanya hantu !"

"Ah~ benar juga. Kalaupun ada hantu disini, aku yakin hantu itu akan lari terbirit-birit saat melihatmu. Kau kan lebih menakutkan dari mereka."

Jihoon yang mendapat ejekan dari Chan itu pun naik pitam. "Yakh~ jaga mulutmu itu dasar anak kecil !"

"Hyung juga masih kecil."

"Yakh~!"

"Lagipula Yoongi hyung yang terkenal sadis dan dingin saja ikut piknik besok." Cibir Chan membuat Jihoon harus lebih ekstra menahan amarahnya lagi.

"Jangan samakan aku dengannya."

"Ck~ kalau begitu setidaknya hyung harus bertanggung jawab karena telah menodai mata suci anak kecil ini." ucap Chan sambil memasang wajah sedihnya. "Hyung seharusnya kau bersyukur karena aku yang memergoki kalian berdua bukannya si mulut ember Boo."

Jihoon mendecih. "Kau juga mulut ember."

"Tapi setidaknya mulut emberku ini masih ada remnya, tak seperti teman sekamarmu itu." Ucap Chan kemudian sebuah seringaian muncul di wajah imutnya. "Makanya aku sarankan hyung besok ikut piknik ini jika tidak aku tak bisa menjamin apa saja yang mungkin keluar dari mulut emberku ini besok."

Jihoon membelalakkan matanya. "Kau gila ? Kau kan sudah janji akan menjaga rahasia ini !"

Chan menggeleng sambil tersenyum. "Makanya hyung harus ikut untuk menjadi pawang mulut emberku ini."

Jihoon kembali mendecih. "Tidak akan." setelah mengucapkan dua kata itu, Jihoon segera berbalik dan berjalan dengan langkah cepat-cepat meninggalkan Chan yang kini terlihat sibuk mendumel sendiri.

"Kita lihat saja besok. Aku berani bertaruh 5 cup ice cream besar dengan Soonyoung hyung kalau dia benar-benar akan datang besok, lihat saja !" kini Chan berbalik dan kembali berjalan menuju tujuannya tadi, kamarnya sendiri. "Seharusnya mereka bersyukur karena hanya aku yang melihatnya. Aish~ mereka berdua benar-benar pabo ! Bagaimana bisa ruang club dance yang suci itu mereka nodai dengan ciuman. Aish~ benar-benar ck~"

.

.

.

.

Dan di sore yang cukup cerah ini mereka semua yang tertinggal di asrama mulai memasuki bis yang akan membawa mereka piknik ke pulau Jeju. Seperti rencana awalnya, semuanya telah di persiapkan secara matang oleh Hansol. Seperti hal nya bis besar kelas VIP yang baru saja datang menjemput mereka ini.

"Oke~ oke~ semuanya tolong berbaris yang rapi dan masuk bis sesuai urutan yang akan aku sebutkan ya~" ucap Seungkwan yang sudah siap berdiri di sisi pintu masuk bis memegang sebuah buku absen buatannya.

"Kim Namjoon, Kim Seokjin, Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan, Min Yoongi, Park Jimin, Hong Jisoo, Lee Seokmin, Jung Hoseok, Kim Taehyung, Moon Junhui, Seo Minghao, Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Jeon Jungkook, Lee Chan."

Seungkwan berhenti begitu nama terakhir di daftarnya ia sebutkan. Dimiringkannya kepalanya dengan bibir yang mengkerucut lucu.

"Ada apa Boo ?" tanya Hansol mendekati Seungkwan. "Jika semua sudah masuk, kita bisa segera berangkat sekarang." lanjut Hansol membuat Seungkwan menatapnya lalu berpaling menatap Soonyoung yang tengah berdiri membelakangi mereka berdua.

"Kita tunggu 5 menit lagi. Sepertinya ada seseorang yang belum datang." ucap Seungkwan membuat Hansol mengangguk. "Ya~ Soonyoung-ah~ kami akan masuk duluan. Jika dalam lima menit kau tak masuk maka jangan salahkan kami jika kami tinggal !"

Soonyoung hanya mengibas-ngibaskan tangannya sebagai jawaban. Mata sipit Soonyoung masih saja terus menatap ke dalam gedung asrama, berharap seseorang akan keluar dari balik pintu kaca itu.

Namun sudah lima menit berlalu tapi sosok yang sangat di harapkannya akan muncul pun sama sekali tak menunjukkan Batang hidungnya.

"Soonyoung-ah~ saatnya berangkat ! Jangan membuat kita menunggu lagi !" teriak Seungcheol membuat Soonyoung menghela napas beratnya.

Soonyoung pun berbalik dan melangkah lesu menuju bis yang sedari tadi telah menunggunya itu. Begitu Soonyoung duduk di kursinya, dia langsung mengambil ponselnya dan mulai membuka sebuah chat yang sudah lama tak ia gunakan.

"Yakh~ pikachu ! Apa kau sungguh tak mau ikut ? Aku merindukanmu~" hendak Soonyoung mengirim pesannya itu namun jarinya berhenti seketika begitu ia mendengar pekikan nyaring dari Chan.

"Oh~ bukankah itu Jihoon hyung ?"

Soonyoung langsung menolehkan kepalanya ke sisi jendela di sebelah kirinya. Dan benar saja, sosok mungil berambut pink itu terlihat tengah berjalan mendekat. Tanpa sadar sebuah senyum lebar merekah di wajah Soonyoung.

"Jihoon-ah~ sini !" panggil Soonyoung sambil menunjuk-nunjuk bangku kosong di sebelahnya begitu Jihoon telah naik kedalam bis. Jihoon hanya memandangnya datar dan berjalan mendekat.

Yoongi yang melihat hal itu ikut menolehkan kepalanya. Matanya terus tertuju pada langkah Jihoon yang kini telah berjalan melewati kursinya. Yoongi menyipitlkan matanya begitu melihat Jihoon berhenti tepat didepan Soonyoung.

Soonyoung semakin tersenyum lebar saat langkah Jihoon semakin dekat dengannya dan berhenti tepat didepannya. Namun senyumnya langsung luntur begitu saja saat Jihoon malah duduk di bangku yang ada di depannya, bersama Chan.

Soonyoung semakin tersenyum lebar saat langkah Jihoon semakin dekat dengannya namun senyumnya langsung luntur begitu saja saat Jihoon malah duduk di bangku yang ada di depannya, bersama Chan.

"Hyung~ aku senang kau ikut." ucap Chan sambil tersenyum manis, meski Jihoon sama sekali tak membalas senyum itu. "Setidaknya aku punya teman duduk sekarang." terdengar menyindir membuat Soonyoung yang duduk di belakangnya jadi geram dan dengan teganya ia menendang kursi Chan membuat Chan mengaduh karena kepalanya jadi terantuk kursi di depannya.

Chan langsung memberi tatapan membunuhnya pada Soonyoung yang tak mau kalah memberinya tatapan membunuh juga.

"Okey~ okey~ mohon perhatiannya semuanya~" seru Seungkwan membuat seluruh pasang mata di dalam bis itu menatapnya yang kini telah berdiri di depan. "Hansol sudah menyiapkan dua villa untuk kita nanti."

Dan perkataan Seungkwan itu di sambut teriakan riuh dari yang lainnya. "Hanya saja... Villa itu berbeda ukuran. Yang satu villa besar nan megah dan satu lagi villa sederhana. Yeah~ tak kecil-kecil amat tapi lumayanlah~"

Kembali pekikan riuh terdengar membuat Seungkwan harus menepuk tangannya keras-keras agar seluruh perhatian kembali tertuju padanya. "Karena total kita ada dua puluh orang, maka kita harus bagi dua."

"Bagaimana jika kita bermain games untuk menentukan pembagian villanya ?" seru Seokmin yang di tanggapi anggukan setuju oleh yang lainnya.

"Lalu bagaimana pembagiannya ?" tanya Jeonghan.

"Sepuluh banding sepuluh ?" saran Jin.

"Sepertinya tidak akan seru jika pembagiannya seimbang." ucap Hoseok yang disetujui oleh yang lainnya.

"Bagaimana jika kita buat banyak sebelah ? Uhm~ misal... Lima belas banding lima ?" saran Jimin yang langsung mendapatkan tepukan kepala oleh Yoongi.

"Itu kebanyakan bodoh !" cibir Yoongi.

"Bagaimana kalau tiga belas banding tujuh ?" ucap Taehyung membuat yang lain tampak berpikir. "Tiga belas orang untuk villa sederhana dan tujuh orang untuk villa besarnya. Bukankah itu seru ?!"

Dan saran itu langsung mendapatkan anggukan setuju dari yang lainnya. "Call !"

.

.

.

.

Hari sudah mulai gelap, keributan didalam bis itu pun kini sudah mulai berkurang. Semakin malam suasana di dalam bis itu pun semakin sunyi. Tak lagi terdengar obrolan, semua merasa capek karena perjalanan yang cukup jauh itu. Bahkan beberapa dari mereka sudah mulai terlelap ke alam mimpi.

Tak namja mungil di depan Soonyoung itu. Jihoon bahkan sudah mulai menutup matanya semenjak mereka selesai bermain games untuk menentukan pembagian villa tadi.

Dan hasil dari games yang mereka mainkan tadi adalah Kim Nam joon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, dan Jeon Jungkook yang berhasil memenangkan permainan dan berhak menempati villa utama nanti. Sedangkan ketiga belas sisanya hanya bisa tersenyum kecut mendapatkan villa kecil.

Soonyoung terus memperhatikan kepala pink di depannya itu yang sedari tadi bergerak kesana kemari, bahkan sempat hampir jatuh karena mengantuk. Soonyoung mengerucutkan bibirnya, ia merasa kasihan melihat Jihoon yang jadi tak bisa tidur dengan nyenyak itu.

Jika saja Soonyoung duduk di sebelah Jihoon sekarang... Jika saja ia bisa memberikan bahu dan lengannya sebagai bantal Jihoon seperti pasangan lain disana... Jika saja Jihoon mengakui Soonyoung sebagai kekasihnya...

Jika saja...

Jihoon mengernyitkan dahinya saat ia merasakan sebuah getaran dari saku celananya. Jihoon hampir saja mengumpat sebal karena getaran itu tak juga berhenti membuatnya terusik dari tidur nyenyaknya. Sepertinya Jihoon hanya lupa mematikan alarm ponselnya.

Dan benar saja saat ia mengambil ponsel dari sakunya, jam menunjukkan pukul lima pagi, waktu dimana Jihoon biasanya menyetel alarmnya agar tak terlambat sekolah. Dan Jihoon kini merutuki karena alarm bodoh itu telah mengganggu acara tidurnya di hari libur ini.

Setelah mematikan alarm nya, Jihoon kembali menyamankan tubuhnya, bersandar dan kembali memejamkan mata. Namun sedetik kemudian Jihoon baru menyadari sesuatu yang aneh. Dengan malas Jihoon membuka matanya, mengerjap berulang kali saat ia menemukan sebuah jendela di sebelah kananya.

Jika Jihoon tak amnesia, ia ingat kalau tadi ia duduk deretan kursi sebelah kiri jadi jendelanya ada di sebelah kiri, tepat di sebelah Chan duduk. Tapi kenapa sekarang... Jendelanya bisa berpindah sendiri ?

Jihoon kembali terpaku saat ia merasakan tangan kirinya tak bisa ia gerakkan, terasa berat seperti ada sesuatu yang menggenggamnya. Dan benar saja... Saat ia menunduk, ia menemukan tangan kirinya tengan di genggam oleh seseorang dengan begitu erat.

Dan kini Jihoon baru sadar jika ia sedari tadi tidur di atas bahu seseorang. Jihoon pun mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah Soonyoung kini tepat berada di hadapan matanya.

Jihoon mengerjapkan matanya bingung. Bagaimana bisa ia berpindah tempat dan duduk bersama Soonyoung ? Apa Soonyoung yang memindahkannya ? Sejak kapan ?

Selagi Jihoon berpikir, Soonyoung nampak bergerak gelisah di dalam tidurnya. Sepertinya Soonyoung merasa kehilangan sandarannya pada kepala Jihoon sebelumnya.

"Uhm~ Jihoon-ah~" ucap Soonyoung di sela tidurnya sambil mengusap-usapkan kepalanya pada sandaran kursi, mencoba mencari Jihoon.

Melihat hal itu Jihoon pun refleks memundurkan tubuhnya hingga tubuh mungilnya menabrak kaca di belakangnya. Tapi sayang, seolah memiliki radar, Soonyoung dapat menemukan keberadaan Jihoon.

Masih dengan mata terpejam, Soonyoung tersenyum begitu ia merasa kembali menemukan kenyamanannya. Menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Jihoon. Soonyoung bahkan semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Jihoon. Bagi Soonyoung, aroma Jihoon sungguh membuatnya sangat nyaman.

Sedangkan Jihoon, ia hanya bisa terdiam terpaku. Ia bahkan hampir lupa bagaimana cara bernapas. Jihoon kini hanya terus berdoa semoga Soonyoung tak mendengar debaran jantungnya yang tengah berdetak begitu keras.

Merasakan hembusan napas hangat Soonyoung di ceruk lehernya membuat Jihoon menunduk menatap wajah Soonyoung yang tampak damai dalam tidurnya. Jihoon menatap lekat-lekat paras Soonyoung dan tak lama kemudian ia tersenyum.

'Dia benar-benar tak berubah. Sejak kecil... Hingga sekarang...' batin Jihoon.

Dan entah keberanian dari mana, tangan kanannya yang tak di genggam Soonyoung pun terulur mengelus rambut silver Soonyoung yang tampak berantakan. Merapikan rambut Soonyoung dan sesekali Jihoon mengelus pipi Soonyoung, membuat Soonyoung semakin terlelap dalam tidurnya.

Jihoon benar-benar membuatnya nyaman...

.

.

.

.

Jihoon kecil terlihat tengah membangun sebuah istana pasir bersama hyung tersayangannya. Mereka berdua terlihat sangat bahagia dengan senyuman polos yang terus terukir di wajah mereka.

"Hyung~ aku haus~" ucap Jihoon kecil membuat Yoongi kecil refleks berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya, membersihkan pasir yang menempel pada celanyanya.

"Tungguh disini. Akan aku ambilkan minum untukmu." Ucap Yoongi kecil membuat yang di tanggapi anggukan imut dari Jihoon kecil.

Selama menunggu Yoongi mengambilkan minum untuknya, Jihoon terlihat bermain-main sendiri dengan pasir yang ada di sekitarnya itu. Jihoon kecil masih berusaha membuat istana pasirnya sendiri.

"Apa kau membuat istana pasir untuk rumah kita nantinya ?" Jihoon mendongakkan kepalanya begitu mendengar seseorang berbicara padanya.

"Oh~ Hoshi hyung !" pekik Jihoon senang. Namja yang dipanggil Hoshi tadi pun membalas senyuman Jihoon lalu duduk di hadapannya. "Apa kau mau aku membantumu membuat rumah masa depan untuk kita ini, Woozi-ah~"

Kembali Jihoon mengangguk semangat. "Nde~ kita bisa membuatnya bersama-sama bertiga dan tinggal bersama juga disana bersama Suga hyung."

Namja bernama Hoshi itu tiba-tiba terdiam dan berhenti menata pasir didepannya membuat Jihoon kecil menatapnya bingung. "Wae ?"

Hoshi pun menatap Jihoon kecil. "Aku tidak mau tinggal bersama Suga hyung. Aku tidak mau tinggal dengan musuhku. Aku hanya ingin tinggal bersama Woozi. Berdua."

Jihoon kecil memiringkan kepalanya dan mengerjap imut menatap namja dihadapannya itu. "Hanya berdua ?"

"Nde~ hanya berdua."

"Waeyo ?"

"Karena Woozi adalah milik Hoshi."

Setelah mengucapkan hal itu Hoshi kecil langsung menarik tudung jaket yang di kenakan Jihoon kecil membuat Jihoon kecil tertarik kearahnya dan sebuah kecupan pun Jihoon kecil dapatkan tepat di bibir mungilnya.

Hanya sebuah kecupan. Sebuah kecupan sepasang anak kecil yang membuat anak kecil lainnya yang berdiri tak jauh dari mereka jadi geram. Yoongi kecil yang melihat pemandangan itu menjadi geram. Dirematnya gelas plastik yang ia bawa di tangannya itu hingga tak berbentuk.

Yoongi kecil marah. Sungguh marah melihat ada seorang anak kecil kurang ajar yang sangat ia benci berani-beraninya melakukan hal itu pada adiknya. Dan Yoongi kecil bersumpah di hadapan ombak laut bahwa ia tak akan membiarkan Jihoon menemui namja kurang ajar yang telah menodai bibir sucinya itu.

Tak akan pernah.

.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

.

Gomawo buat yang udah baca ^^

RnR please ^^

.

.

.

.

- DDangKie -