Chapter 6
"Simple Love Simple Happinesse"
Cast : BTS & Seventeen
Pairing : SoonHoon - YoonMin - VerKwan - VHope - JeongCheol - NamJin - JunHao - Meanie
Jungkook, Seokmin, Joshua, & Chan adalah milik mereka sendiri xD
Summary : Jihoon yang baru saja memulai kembali kehidupannya di Korea harus rela berurusan dengan Soonyoung, teman barunya di sekolah yang selalu mengejar-ngejarnya setiap hari. Apakah Jihoon akan terus menghindarinya atau malah berakhir di dalam dekapannya ?
Disclaimer : Seventeen n BTS adalah milik agency, orang tua, dan tentu saja diri mereka sendiri
Warning : Typo berserakan dimana-mana, Yaoi, Boys Love, GJ, de el el
Happy Reading ^^
.
.
.
.
"LAUT !" teriak Chan dan Seungkwan begitu turun dari bis.
Mereka berdua langsung berlari kegirangan menghampiri laut dihadapan mereka. Begitu pula dengan yang lari menyusul di belakang mereka.
"Woah~ aku tak menyangka bisa melihat laut lagi. Sudah berapa lama ya sejak aku datang ke pantai ?" ucap Jin sambil tersenyum sembari menutup matanya menikmati hembusan angin pantai yang berhembus kencang.
"Bukankah baru bulan lalu kita pergi ke pantai ?" sahut Namjoon membuat Jin menatapnya sambil mengerjap imut.
"Ah~ benar. Hehehe~ aku hampir lupa. Mian~ mian~"
"Lihatlah~ aish~ betapa kekanak-kanakannya mereka itu." gerutu Seokmin melihat Chan, Seungkwan, Hansol, Jungkook, dan juga Minghao yang sibuk berlarian kesana kemari.
"Jika kau ingin ikutan pergi saja sana. Tidak perlu sok jaga image begitu." sindir Mingyu yang langsung mendapat delikan tak terima dari Seokmin.
"Tidak usah menyindir orang lain jika diri sendiri juga ingin main air seperti anak-anak itu."
Kini giliran Mingyu yang mendelik pada Seokmin. "Setidaknya aku bukan orang jomblo yang bingung mencari kerjaan sepertimu itu. Aku punya hal lebih penting dari pada ikut berlari-larian dan bermain ciprat-cipratan air seperti itu." ucap Mingyu lalu menyeringai sembari menarik pergelangan tangan seseorang yang sedari tadi berdiri di samping kirinya kemudian mencium punggung tangan itu.
"Melindungi Wonu hyung adalah tugas pentingku."
Plak~
Plak~
Dua buah geplakan beruntun dari Wonwoo dan Seokmin sukses mendarat di kepala Mingyu yang kini sibuk mengaduh kesakitan.
Tak jauh dari pusat keributan itu terlihat Jihoon yang terlihat fokus menatap hamparan laut luas dihadapannya. Tak bergeming meski disekitarnya sangat ramai dan ribut, Jihoon hanya terus menatap jauh ombak besar yang terus bergulung hingga ke daratan.
"Kau masih suka ombak di laut ?" sebuah suara yang sangat dikenalnya menginterupsi fokus Jihoon yang tengah menikmati keindahan alam itu.
Jihoon tak menghiraukannya, ia hanya melirik sekilas Soonyoung yang kini telah berdiri tepat di sebelah kanannya dan kembali fokus menikmati pemandangan di hadapannya.
"Ngomong-ngomong... Berbicara tentang laut membuatku teringat dengan kejadian itu." Soonyoung menghentikan ucapannya lalu melirik Jihoon sekilas hanya untuk melihat ekspresi Jihoon namun sepertinya namja mungil itu masih tak mengerti kemana arah pembicaraan Soonyoung.
Soonyoung pun sedikit menundukkan badannya untuk sekedar mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jihoon. Dan Jihoon masih dengan wajah datarnya hanya menatap malas wajah Soonyoung yang kini dengan seenak jidadnya menutupi arah pandang Jihoon.
"Kau ingin ku hajar ? Cepat menyingkir dari hadapanku. Wajahmu membuatku mual !"
"Apa kau tak ingat ? Sungguh tak ingat ?" ucap sedih Soonyoung dengan bibir mengerucutnya.
"Mwo ?"
"Kau benar-benar tak ingat kenangan kita di pantai waktu itu ? Aku bahkan selama 10 tahun ini tak pernah bisa melupakannya."
"Tutup mulutmu. Aku tak suka pembicaraan yang berbelit-belit."
Bukannya menyingkir, Soonyoung malah semakin mendekatnya dirinya pada wajah Jihoon. "Apa aku perlu mengingatkanmu disini ?"
"Menyingkirlah Kwon !"
"Tidak sebelum kau ingat dengan ciuman pertama kita di pantai waktu itu."
Mendengar ucapan Soonyoung itu, Jihoon langsung membelalakkan mata sipitnya. Dan tanpa berpikir panjang, kaki mungil Jihoon langsung mendarat indah di kaki Soonyoung, menginjaknya penuh emosi kemudian menendang perut Soonyoung tanpa belas kasihan dengan lututnya.
"Jangan pernah mengungkit tentang hal itu lagi kecuali kau ingin mati di tanganku." ucap final Jihoon tanpa merasa bersalah sedikit pun melihat Soonyoung yang kini mengaduh kesakitan di atas pasir.
Sedangkan di kejauhan sana, Yoongi terus saja memperhatikan pertengkaran kedua insan itu. Meski terlihat tenang diluar, namun sedari tadi Yoongi tengah betpikir keras. Ia hanya merasa ada yang tak beres, seperti ada sesuatu yang mengganjal di benaknya ketika melihat kedekatan antara adiknya itu dengan namja berambut blonde itu.
"Hyung~ apa kau tak kedinginan ?" tanya Jimin lalu meraih tangan Yoongi, menggenggamnya kemudian memasukkan tautan tangan itu kedalam saku jaketnya.
Yoongi pun menoleh, menatap sang kekasih hati yang kini tersenyum manis dihadapannya. Tanpa permisi, Jimin melayangkan sebuah kecupan singkat di bibir Yoongi lalu kembali tersenyum menatap kekasihnya itu.
"Wae ? Apa ada yang mengganggu pikiranmu hyung ?" ucap Jimin lalu melongokkan kepalanya mencoba melihat hal yang sedari tadi menyita perhatian hyung tercintanya itu.
"Oh~ mereka bertengkar lagi ? Ck~ anak itu benar-benar tak pantang menyerah. Dia bahkan tahan banting meski sudah ditolak Jihoonie berulang kali."
"Uhm~ Jimin-ah~ Soonyoung itu teman sekamarmu kan ?" tanya Yoongi membuat Jimin kembali menatapnya.
"Nde~ waeyo ?"
"Itu... Apa dia..." Yoongi menjeda kalimatnya lalu menggelengkan kepalanya. "Ani~ bukan apa-apa, lupakan saja."
"Yakh~ Hansol-ah !" teriakan keras Seungcheol membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Nde hyung ?" teriak Hansol yang masih sibuk bermain air dengan Seungkwan.
"Dimana villa nya ? Kami semua ingin istirahat." teriakan Seungcheol kembali menggema yang langsung di tanggapi tunjukan tangan oleh Hansol.
Mereka semua mengikuti arah tunjuk Hansol, menatap dua buah rumah yang terletak tak jauh dari pantai. Sebuah rumah cukup besar dan sebuah rumah lebih kecil disampingnya.
"Apa itu villa nya ?"
.
.
.
.
"Apa-apaan ini ?"
"Yang benar saja !"
"Ini villa atau pondok pesantren ?"
Teriakan tak terima langsung mengaung dari mulut Soonyoung, Seokmin, dan Mingyu sejak mereka memasuki villa itu.
"Huh~ yang benar saja, kita bertiga belas harus tinggal di rumah kecil ini sedangkan mereka bertujuh bisa tidur nyenyak di rumah yang sangat luas ?" kembali Seokmin mengeluh membuat kesabaran seorang Boo Seungkwan habis sudah.
"Yakh~! Kenapa kalian berisik sekali sich ? Kita kalah bermain games jadi terima saja hukumannya. Dari pada protes seharusnya kalian berterima kasih pada Hansol yang telah memberikan semua fasilitas ini secara gratis."
"Benar kata Seungkwan. Meski tempatnya kecil, setidaknya kita masih bisa bersyukur diberi tempat tidur didalam atap, bukan di halaman belakang." ucap Ji soo membuat beberapa dari mereka kembali tenang.
"Ddaebak~ jika anak pendeta yang bicara semua langsung diam. Yah~ Jisoo hyung seharusnya dari tadi saja kau menyumpal mulut-mulut menyebalkan mereka ini dengan injil-injil alkitabmu itu." seru Seungkwan sambil bertepuk tangan .
"Sudah~ jangan bahas hal tak berguna seperti ini lagi. Lebih baik sekarang kita membagi jatah kamar saja." ucap Seungcheol membuat semuanya kembali diam.
"Uhm~ Seungcheol hyung mianhae~ tapi..."
"Nde Hansol, ada apa ?"
"Di villa ini hanya ada satu kamar di lantai atas."
Semua terdiam menatap Hansol sembari mencerna ucapan namja bule itu. Hingga beberapa detik kemudian kegaduhan kembali menyerang ruangan itu.
"MWO ?"
.
.
.
.
Berbanding terbalik dengan suasana ribut di villa sebelah, villa besar yang berpenghuni tujuh orang ini terlihat sangat sepi, bahkan tak ada suara sedikitpun terdengar. Hanya hembusan napas berat Taehyung yang mengisi lorong di lantai dua rumah besar itu.
Jimin yang baru saja keluar dari kamarnya hanya mengerjap heran melihat Taehyung yang tengah berdiri di pagar pembatas sambil membawa sebuah kaleng bir sambil terus menatap kearah bawah.
Penasaran, Jimin pun menghampiri Taehyung. "Apa yang sedang kau lihat ?" tanya Jimin langsung yang di tanggapi tunjukan dagu Taehyung kearah bawah.
Jimin pun mengikuti arah tunjuk Taehyung tadi, melihat hal apa yang sedari tadi menyita perhatian sahabatnya itu di lantai bawah. "Oh~ my gosh~ mereka berdua benar-benar sudah gila." umpat Jimin begitu matanya disuguhi pemandangan yang tak seharusnya di lihat anak dibawah umur.
"Mereka sudah seperti itu sejak dua puluh menit yang lalu."
"Dan kau juga sudah berdiri disini sejak mereka mulai ?" Taehyung menganggukkan kepalanya sambil sesekali meminum bir di tangannya. "Dasar maniak."
"Jika kau ingin, minta saja sana pada hyung tsunderemu itu."
"Aku ? Tapi kenapa di mataku malah kau yang terlihat bernapsu ya ? Dimana Hobie kesayanganmu itu ?"
"Jika aku meminta padanya hanya karena aku horny melihat kegiatan Jin hyung dan Namjoon hyung seperti itu maka di jamin aku akan di masukkan kedalam kamar mandi lalu dikunci dan tidak boleh keluar sebelum aku menyelesaikannya sendiri."
"Woah~ tak kusangka Hobie hyung bisa keras juga ya padamu."
Taehyung lalu melirik tak suka pada Jimin yang kini terlihat tengah menahan tawanya itu.
"Dari pada kita takut meminta pada kekasih kita masing-masing..." Taehyung menjeda kalimatnya. Perlahan ia mendekatkan tubuhnya pada Jimin dan berbisik. "Bagaimana kalau kita berdua saja yang melakukannya."
"Najis." ucap Jimin sambil menoyor kepala Taehyung hingga ia terhuyung kebelakang. "Aku lebih baik tersiksa semalaman daripada harus melakukannya denganmu."
"Hyung kalian sedang membicarakan apa ?" itu suara Jungkook dan itu berarti kode merah bagi Jimin dan Taehyung.
Jimin dan Taehyung langsung berlari menghampiri Jungkook sebelum adik manis kesayangan mereka yang masih polos itu melihat kegiatan french kiss sambil pangku-pangkuan hyung tertua mereka itu.
"Aku mengantuk, Kookie~ kita tidur yuk !" ucap Taehyung sambil menarik paksa lengan Jungkook.
"Tapi hyung, aku haus. Aku mau ambil minum di bawah."
"Biar kuambilkan, nanti kuantar kekamarmu saja Kook." kali ini Jimin yang bersuara.
"Baiklah~ tapi cepatlah hyung, aku sudah sangat haus."
"Arraseo~ kau mau minum apa ?"
"Susu strawberry."
.
.
.
.
"Aku benci bermain game !"
Seokmin terus saja menggerutu sejak ia kembali kalah bermain games tadi. Yeah~ mereka bertiga belas kembali bermain games untuk menentukan siapa yang akan tidur di dalam kamar dan siapa yang akan tidur di ruang tengah karena hanya ada satu kamar di villa itu.
Dan lagi-lagi entah memang Seokmin yang sedang sial atau memang bodoh, dia langsung kalah di putaran pertama dan harus tidur di ruang tengah disusul oleh Mingyu, Soonyoung, Seungcheol, Hansol, Jisoo, Jun, dan juga Chan.
"Delapan lawan lima, apa ini masuk akal ? Jika hasilnya seperti ini tidak usah main games saja sekalian tadi." lagi-lagi kalimat protes kembali meluncur dari bibir Indah Seokmin.
"Sudahlah terima saja. Ikhlaskan. Lagi pula kan memang sudah kodratnya yang kuat melindungi yang lemah. Jadi tidak usah merengek kecuali kau juga mau berada di posisi bawah seperti kami." cibir Jeonghan yang telinganya sudah gatal mendengar ocehan Seokmin dari tadi.
"Aku ultimate seme jadi jangan harap aku akan berada di posisi bottom !" seru Seokmin tak terima.
"Kalau begitu ya sudah diamlah ! Berhenti mengoceh seperti yeoja. Kau benar-benar menyedihkan Seokmin-ah~"
"Tapi Jeonghan hyung, aku jadi meragukan posisi seme dia." kini Minghao ikut angkat bicara membuat Seokmin mendelik tak suka padanya. "Aku belum pernah melihat Seokmin hyung membawa pasangannya."
"Itu karena dia tak laku Hao~ baik jadi seme ataupun uke. Hahaha~"
"Mati saja kau dasar tiang sialan !" kesal Seokmin sambil melempari Mingyu dengan kulit kacang dihadapannya.
"Kenapa kau tidak coba blind date dengan Jisoo hyung saja." entah ada angin apa namun si emo Wonwoo tiba-tiba ikut bicara membuat semuanya kini menatap Jisoo tang tengah mengobrol dan tertawa bersama Seungcheol.
"Daripada dia terus berharap pada Seungcheol hyung dan menyakiti Jeonghan hyung." terkadang mulut Wonwoo memang tidak bisa di saring dan tak tahu tempat. Mingyu yang menyadari perubahan ekspresi di raut wajah Jeonghan pun lalu menyikut lengan kekasihnya itu.
"Wae ? Apa ada yang salah dengan ucapanku ?"
"Ucapanmu tidak salah Wonu sayang~ hanya saja kau terlalu blak-blakkan." ucap Mingyu sambil menunjuk Jeonghan yang duduk di seberang mereka dengan dagunya.
Wonwoo yang menyadari kebodohannya itu langsung memukul mulutnya. "Hyung... Mianhae~ aku tak sengaja."
"Gwaenchana Wonu-ya~ itu bukan masalah besar. Aku percaya pada Seungcheol dan juga Jisoo."
Soonyoung yang baru saja selesai mandi langsung berjalan menuju dapur, mengabaikan keributan yang tengah terjadi di ruang tengah itu. Dirinya terlalu lapar untuk ikut bergosip dengan teman-temannya itu.
Sesampainya di dapur ia melihat Seungkwan yang tengah membuat ramen. Soonyoung hanya melewati namja montok itu dan berjalan menuju kulkas. Dilihatnya isi kulkas, mencoba mencari makanan yang bisa ia makan tanpa perlu repot menyalakan kompor segala.
Begitu menemukan beberapa potong sandwicth yang Soonyoung yakini adalah bekal milik Jisoo, Soonyoung langsung mengambilnya dan membawanya keatas meja makan. Dengan tenang Soonyoung menikmati acara makannya itu sembari sesekali menatap Seungkwan yang masih sibuk didepan kompor.
"Ekhm~ Seungkwan-ah~" panggil Soonyoung membuat namja bermarga Boo itu menoleh kebelakang.
"Nde ?"
"Apa kau mau bertukar posisi denganku ?"
Seungkwan hanya mengerjap tak mengerti dengan arah pembicaraan namja blonde itu. "Apa maksudmu dengan posisi..."
"Aniya~ bukan 'posisi' itu yang kumaksud."
"Lalu ?"
"Kau... Tidurlah di ruang tengah, aku yang tidur di kamar."
Seungkwan menyipitkan matanya tak suka lalu melipat kedua tangannya didepan dada. "Wae ?"
"Kau ingin aku jujur atau bohong ?"
"Kalau bohong ?"
"Aku alergi dingin jadi tak bisa tidur di lantai."
"Lalu yang jujur ?"
"Aku ingin sekamar dengan Jihoonie~ aku ingin memandangi wajahnya saat tidur."
"Dasar maniak ! Lalu apa untungnya untukku ?"
"Kau jadi bisa tidur bersama Hansol juga kan ?! Dan memandangi wajahnya saat tidur. Bahkan jika kau kedinginan karena tidur dibawah, kau bisa minta peluk padanya. Bukankah kau akan menang banyak ?"
Seungkwan tampak berpikir dan Soonyoung yakin seratus persen kalau seorang Boo Seungkwan tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini, apalagi jika itu berhubungan dengan Choi Hansol.
"Oke~ call !"
.
.
.
.
Dan benar saja, Soonyoung sungguh mengendap-endap masuk kedalam kamar satu-satu di dalam villa itu yang berada di lantai dua. Berjinjit, berjalan pelan berusaha sebisa mungkin tak menimbulkan bunyi sedikitpun. Melompati kaki Minghao yang kebagian jatah tidur di bawah kasur.
Soonyoung baru sadar, tak hanya kamar saja yang hanya ada satu namun kasur pun juga hanya ada satu disana. Selain Minghao, ia juga melihat Wonwoo yang tengah tidur dibawah, disamping kasur.
Setelah berhasil masuk, Soonyoung langsung mengambil tempat di sebelah Wonwoo, merebahkan tubuhnya tepat disamping kasur tempat dimana Jihoon dan Jeonghan tidur.
Sesekali Soonyoung mengangkat kepalanya untuk melihat Jihoon yang tengah tidur menyamping, membelakanginya. Tangannya terulur menggapai ujung sweater merah yang dipakai Jihoon. Ditariknya ujung twitter itu berulang kali mencoba membangunkan Jihoon. Dan hal itu sukses mengusik ketenangan tidur Jihoon, membuatnya ingin melempari siapa saja yang berani mengusik tidur nyenyaknya dengan bantal yang ia pakai sekarang.
Dengan kesal Jihoon menarik bantal yang ia pakai lalu melemparkannya telak mengenai wajah namja yang berada di bawahnya. Begitu ia menarik kembali bantalnya, matanya membola mendapati Soonyoung tengah mengaduh sembari mengelus hidungnya yang baru saja mendapatkan ciuman tiba-tiba dari bantal tak berdosa itu.
"Yakh~ kenapa kau bisa disini ?!" pekik Jihoon refleks membuat Soonyoung segera membekap mulutnya.
"Sssttt~ diam atau kau akan membangunkan yang lainnya."
"Hhhmmmppphh~" ronta Jihoon minta di lepaskan.
"Janji dulu kau tidak akan berisik." Jihoon mengangguk. "Dan jangan membuat yang lain bangun." kembali Jihoon mengangguk. Soonyoung pun melepaskan bekapan tangannya dari bibir Jihoon.
"Jadi ? Dimana Seungkwan ?"
"Dia ada di lantai bawah, tidur bersama yang lain." ucap Soonyoung kembali merebahkan kepalanya ke bantal miliknya.
"Lalu kau ?" Soonyoung melirik Jihoon sekilas yang terlihat tengah menatapnya seolah dia adalah pelaku tindak kriminal.
"Aku alergi dingin. Aku tidak bisa tidur dibawah."
"Memang kau pikir kau sekarang sedang tidur dimana eoh ?"
Soonyoung hanya menyengir. "Aku pikir disini ada kasur yang bisa kutiduri, ternyata sama saja."
Jihoon lelah hanya untuk menanggapi lagi. Direbahkannya kembali tubuh mungilnya itu. Entah kenapa rasa kantuknya tadi sudah menghilang entah kemana. Ditatapnya langit-langit kamar disana dalam diam berharap lama kelamaan matanya akan kembali menutup dengan sendirinya.
Sedangkan Soonyoung yang berada di bawahnya menatapi jemari mungil Jihoon yang tanpa sadar terjuntai di tepi tempat tidur, tepat disebelah kepala mungilnya. Soonyoung tiba-tiba saja mengulurkan tangannya, meraih tangan mungil itu lalu menautkan jemari-jemari mereka. Jihoon tersentak kaget, ditolehkannya kepalanya menatap tangannya yang kini di genggam oleh Soonyoung itu.
"Biarkan seperti ini... Sebentar..." ucap Soonyoung membuat Jihoon mengurungkan niatnya untuk protes.
Jihoon kembali menatap langit-langit diatasnya. Bukannya tertidur, ia malah semakin tak bisa tidur sekarang. Bagaimana ia bisa tidur kalau jantungnya saja terus bergemuruh sejak tadi ?!
Jihoon rasa dadanya sebentar lagi akan meledak. Degupan jantungnya sungguh sangat cepat. Dan entah apa yang terjadi tapi kini kedua pipinya terasa memanas.
Jihoon sedikit bangkit, mencoba melihat Soonyoung di bawahnya yang kini terlihat telah terlelap dengan dengkuran halus. Mata sipitnya kini beralih menatap tangannya yang masih setia di genggam oleh Soonyoung. Meski Soonyoung sudah terlelap, namun genggaman di tangannya masih saja erat.
Jihoon tersenyum sekilas. Jemari mungilnya mulai membalas genggaman tangan Soonyoung. Jihoon kembali berbaring, menyamankan kepalanya tepat diatas tautan tangan mereka.
Entah kenapa tapi Jihoon merasa nyaman dan tenang saat Soonyoung menggenggam tangannya seperti ini. Ia bahkan bisa tersenyum dalam tidurnya saat ini.
.
.
.
.
Alarm di ruangan tengah itu sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu namun tak ada tanda-tanda kehidupan sedikitpun disana. Semuanya masih terlelap di posisi masing-masing. Seungcheol bahkan merasa sangat malas mematikan alarm yang ia setel sendiri itu.
Sampai akhirnya suara gedoran pintu dari luar itu terdengar bersamaan dengan teriakan seseorang yang sukses memekakkan telinga di pagi ini.
"Yakh~ ayo bangun dasar anak-anak pemalas !" teriak Taehyung tak sabaran masih dengan menggedor-gedor pintu tak berdosa itu.
"Ayo kita jogging bersama !" kali ini suara nyempreng Jimin yang terdengar.
"Aish~ berisik dasar sialan !" umpatan Seokmin terdengar disusul dengan gumaman malas yang lainnya.
"Hyung~ ayo bangun~" ucap Chan mencoba membangunkan Jun yang masih bergelung di sebelahnya.
"Eoh~ Boo~ kenapa kau disini ?"
"Pagi Hansol chagi-ya~" bukannya menjawab pertanyaan kaget Hansol, Seungkwan malah mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Hansol. "Morning kiss~" setelah mengucapkan itu, Seungkwan kembali merebahkan kepalanya di atas dada Hansol sambil memeluk tubuh kekasihnya itu lebih erat, mencoba mencari kehangatan di pagi yang sangat dingin ini.
"Yakh~ Seungkwan-ah~ jangan bermanja-manja, ini masih pagi." sebuah beanie hitam sukses mendarat telak di wajah Seungkwan dan sukses membuat namja gembul itu hampir mengumpati hyung tertuanya itu. "Cepat panggil yang di lantai atas, kita akan jogging bersama."
Jihoon membuka matanya perlahan, keributan dibawah sukses mengusik tidur lelapnya. Tubuhnya bergerak mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dilihatnya Jeonghan yang tidur disebelahnya masih setia menutup matanya.
Namun sedetik kemudian Jihoon teringat sesuatu. Ditolehkannya segera kepalanya dan benar saja, tangan Soonyoung masih menggenggam tangannya sampai sekarang. Diliriknya Soonyoung yang masih terlelap di bawah sana. Jihoon pun berusaha melepaskan tautan tangan mereka, namun tanpa diduga, Soonyoung malah menarik tangannya, membuat tubuh mungilnya sukses terjatuh menimpa Soonyoung.
Jihoon membelalakkan matanya saat menyadari tubuh kini berada tepat diatas tubuh Soonyoung, bahkan jarak wajah mereka sangat dekat.
"Good morning Woozi-ya~" dan sebuah kecupan sukses mendarat di bibir mungil Jihoon, membuat kedua pipi Jihoon kini merona hebat.
Namun tak perlu waktu lama untuk Jihoon meraih kembali kesadarannya. Ia segera bangkit lalu melompat keatas kasurnya, kembali menutup matanya, berpura-pura tidur tepat saat pintu kamar itu terbuka dan muncullah sosok Seungkwan yang langsung melompat keatas kasur, mencoba membangunkan Jeonghan dan Jihoon.
"Hyung ayo bangun ! Anak-anak kelebihan energi itu mengajak kita jogging bersama~" seru Seungkwan sambil memeluk tubuh Jeonghan yang terlihat masih setengah sadar itu.
.
.
.
.
"Yakh~ dagingnya dimana ?"
"Aish~ kenapa apinya tak mau menyala sich !"
"Kenapa sausnya belom jadi ?"
"Dagingnya mana ?"
Itu semua adalah teriakan Jeonghan dan Jin yang sibuk menyiapkan acara barbeque hari ini. Kedua namja yang terlihat seperti 'ibu' itu terus saja berteriak kesana kemari, memarahi siapa saja yang tak bejus membantu mereka.
"Siapa yang memberi ide mengadakan barbeque party di siang hari eoh ?" gerutu Seokmin yang sedari tadi diberi tugas untuk menyalakan api di alat pemanggang namun belum berhasil juga karena angin laut yang terlalu kencang berhembus.
"Apa tak sebaiknya kita buat barbeque partynya di dalam villa saja ?" usul Namjoon yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Jin.
"Namanya barbeque party harus di lakukan di alam terbuka baru feels nya terasa."
"Jihoon-ah~ apa kau sibuk ?" ucap Jeonghan yang melihat Jihoon berjalan ketempatnya.
"Aniya~ waeyo ?"
"Bisa tolong ambilkan tissue didalam ?"
Jihoon pun mengangguk. "Baiklah~"
Jihoon pun berjalan memasuki villa. Ia baru saja kembali dari pantai setelah puas menikmati laut bersama Seungkwan dan yang lainnya. Jihoon memang berniat kembali ke villa karena panggilan alam yang tak bisa ditahannya.
Setelah selesai mengurus panggilan alamnya, Jihoon segera berjalan ke dapur, mengambil satu pack tissue dan berniat kembali ketempat diadakan barbeque party itu.
Namun saat ia melewati ruang tengah, ekor matanya tak sengaja melihat pintu kaca penghubung balkon samping villa itu terbuka. Jihoon berniat menutup kembali pintu kaca itu namun niatnya terhenti saat matanya menemukan sosok Soonyoung yang tengah mengobrol dengam Wonwoo.
Jihoon terus memperhatikan gerak-gerik mereka dari balik korden pintu itu. Soonyoung dan Wonwoo tampak sangat dekat, saling melempar senyum dan tertawa bersama. Bahkan terkadang tangan mereka berdua saling menepuk lengan dan paha masing-masing.
Dan Jihoon sama sekali tak suka dengan apa yang tengah ia lihat itu. Mereka berdua terlalu dekat, dan Jihoon benci itu.
"Aw~" pekik Wonwoo tiba-tiba sambil memegangi matanya.
"Gwaenchana ?" tanya Soonyoung terlihat khawatir.
"Sepertinya mataku kelilipan."
'Cih~ dasar modus !' umpat Jihoon dalam hati. Dan ia semakin kesal saat kini ia melihat Soonyoung dengan telaten meniupi mata Wonwoo yang kelilipan itu. Sumpah~ jarak mereka terlalu dekat !
Jihoon bahkan tak sadar jika pack tissue yang sedari tadi ia pegang itu kini hanya tinggal tersisa setengah karena tangannya yang sedari tadi mencabuti tissue itu, melampiaskan kekesalannya hingga menghasilkan sebuah gunung tisaue kecil tepat di bawahnya.
"Jihoonie~ gwaenchana ?" panggil Jimin khawatir melihat kelakuan aneh calon adik iparnya itu yang sedari tadi berdiri diam di pojokan dengan aura membunuhnya yang sangat menyengat.
Bagaimana pun juga Jihoon dan Yoongi itu adalah saudara kandung, satu darah. Hal itu membuat Jimin tau ada yang tidak beres dengannya, karena Jimin sangat mengenal aura membunuh itu. Sama persis seperti aura Yoongi jika sedang cemburu padanya.
"Nde~ I'm very very gwaenchana~" ucap Jihoon sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Jimin. Jihoon bahkan tak sadar dengan gunung mungil hasil perbuatannya itu.
Jimin menggelengkan kepalanya lalu melongokan kepalanya keluar teras hanya untuk mendapati Soonyoung yang masih asyik mengobrol dengan Wonwoo.
"Dia benar-benar sedang cemburu."
.
.
.
.
"Cheers !"
Teriakan heboh mengiringi malam cerah hari ini. Setelah mereka semua menyiapkan barbeque party sejak siang, akhirnya semuanya dapat berjalan juga malam ini, itupun berkat bantuan dari para pelayan panggilan Hansol yang ia hubungan beberapa menit yang lalu.
"Ternyata membuat barbeque tak semudah kelihatannya. Hansol-ah~ gomawo~" ucap Jeonghan yang kini masih setia berdiri didepan perapian, sibuk memanggang daging sejak tadi bersama Seungcheol.
"Nde~ itu bukan masalah besar Jeonghan hyung." jawab Hansol yang tengah duduk dan asyik mengobrol dengan Seungkwan, Soonyoung, Mingyu, Wonwoo, Jimin, Taehyung, dan Seokmin.
"Kekasihku memang yang terbaik !" puji Seungkwan sambil memeluk lengan Hansol dan menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu kekasihnya itu.
"Cih~ aku jadi iri~" cibir Seokmin.
"Kalau begitu cepat tembak Jisoo hyung !" Seokmin hampir saja melemparkan kaleng cola miliknya ke mulut Taehyung membuat mereka yang duduk disana tertawa melihat ekspresi malu Seokmin.
Kini dalam diamnya, Seokmin mencuri pandang kearah Jisoo yang tengah duduk di depan api unggun bersama Jihoon, Jun, Minghao, Jin, dan juga Namjoon. Seokmin tak memperdulikan kehebohan yang tengah terjadi di dekatnya itu, bagi saat ini memandangi Jisoo yang tengah tertawa disana membuat senyumnya ikut merekah.
"Woah~ dagingku sudah habis. Aku mau ambil lagi. Yakh~ Jin hyung hentikan dulu cerita horror mu itu sampai aku kembali nde !"
"Yakh~ jangan lama-lama ! Atau kau akan ketinggalan banyak !" teriak Jin lalu tertawa melihat Chan yang berlarian mengambil jatah dagingnya lagi. "Anak itu benar-benar sangat lucu." lanjut Jin sambil tertawa di bahu Namjoon.
"Jeonghan hyung aku mau daging lagi ! Cepat cepat cepat !"
"Aish~ kau ini tidak sabaran sekali sich~" gerutu Seungcheol yang malah di balas juluran lidah oleh Chan.
"Ini daging spesial untuk bayiku tersayang."
"Gomawo Jeonghan hyung~" Chan langsung berlari kembali setelah mendapatkan dagingnya. "Yakh~ Jin hyung ayo mulai lagi !" seru Chan setelah kembali duduk ditempatnya semula.
"Baiklah~ dengarkan baik-baik..." ucap Jin dengan nada dan ekspresi nya yang kembali dibuat-buat menyeramkan, siap untuk melanjutkan ceritanya tadi.
"Hyung~! Coba lihat apa yang aku temukan !" teriak Jungkook tiba-tiba begitu ia kembali dari toilet.
"Tongkat baseball ?" Jungkook mengangguk semangat mendengar ucapan Mingyu.
"Woah~ kita bisa main baseball besok." seru Taehyung ikut semangat.
"Ide bagus ! Jungkook-ah~ letakkan saja tongkat baseball itu di lantai atas. Besok kita gunakan untuk bermain baseball." Jungkook langsung mengangguk patuh dan kembali masuk sesuai perintah Seungkwan tadi.
"Eoh~ hyung ? Kalian dari mana saja ?" panggil Jimin melihat Yoongi dan Hoseok yang baru saja datang.
Bukannya menjawab, Yoongi hanya melirik Jimin sekilas, mengabaikan pertanyaan kekasihnya itu dan lebih memilih berjalan menuju api unggun. Sedangkan Hoseok kini telah duduk manis di samping Taehyung sambil membuka sebuah kaleng cola dan meminumnya.
Mengerti dengan arti tatapan Jimin yang terus saja menatapnya dari tadi, Hoseok pun angkat bicara. "Jangan salah paham dan jangan cemburu padaku dasar pendek !"
"Yakh~!" teriak Jimin tak suka dengan ejekan yang baru saja keluar dari bibir Hoseok itu.
"Aku hanya menemani Yoongi hyung mengambil jaketnya saja. Dia terlihat kedinginan, kurasa dia sedang sakit." ucapan Hoseok sukses membuat Jimin khawatir.
Yoongi yang baru saja tiba hendak mengambil tempat di sebelah Jihoon. Namun langkahnya tiba-tiba saja berhenti tepat di belakang Jihoon. Matanya menatap penasaran layar ponsel Jihoon yang tengah menyala dihadapan adiknya itu.
Meski samar, karena Yoongi lupa memakai kontak lensnya, Yoongi dapat melihat sebuah ruang chat tersaji di layar ponsel milik adiknya itu.
'Hoshi ?' batin Yoongi begitu membaca nama yang tertera di layar menyala itu.
Setelah menghembuskan napas beratnya, tiba-tiba saja Jihoon berdiri. Begitu ia berbalik, ia sedikit terlonjak kaget mendapati sosok Yoongi berdiri di belakangnya.
"Kau mau kemana ?"
"Aku merasa tak enak badan hyung. Aku mau istirahat saja di kamar." Yoongi hanya mengangguk dan melihat kepergian adiknya yang terlihat berjalan dengan langkah gontainya.
Saat melewati teras tempat yang lain sedang asyik mengobrol itu, obsidian Jihoon tak sengaja menatap Soonyoung yang lagi-lagi duduk bersebelahan dengan Wonwoo. Mereka berdua masih saja terlihat sangat akrab, tertawa bersama, bahkan tak menganggap Jihoon yang berjalan melewati mereka dengan wajah pucatnya.
Jimin yang tak sengaja melihat tubuh mungil Jihoon menghilang di balik pintu itu pun mengernyit. Ia jadi ingat sesuatu.
"Soonyoung-ah~ apa kau masih mengharapkan Jihoon ?" pertanyaan tiba-tiba Jimin membuat semua yang ada disana menghentikan tawa hebohnya dan terdiam menatapi Jimin dan Soonyoung secara bergantian.
Soonyoung tersenyum. "Tentu saja. Wae ? Kau masih tak mau merestui kami ? Kurasa itu tak penting karena aku akan mengabaikannya."
"Bukan itu. Hanya saja... Kurasa kau dan Wonwoo terlalu dekat."
"Eoh~ kenapa namaku ikut disebut-sebut ?" ucap Wonwoo sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Apa kau tak merasa kalau sedari tadi Jihoon terlihat kesal ?" Soonyoung menggeleng mendengar pertanyaan Jimin. "Dasar Kwon pabo ! Pantas saja Jihoon susah sekali menerimamu. Kau benar-benar tak peka !"
"Yakh~ aku tak mengerti kemana arah pembicaraanmu itu ! Bicaralah yang jelas Park !" sungut Soonyoung sambil meneguk cola ditangannya.
"Jihoon melihat kalian berdua di teras tadi. Dan dia cemburu."
Brush~
"Yakh~ Kwon jorok !" teriakan heboh Seokmin yang baru saja mendapat semburan dari Soonyoung itu sama sekali tak dihiraukan. Mereka semua sibuk memandangi kepergian Soonyoung yang tanpa aba-aba berlari masuk kedalam villa menyusul Jihoon.
Soonyoung tak bisa berpikir lagi. Bahkan untuk menanggapi ucapan Jimin. Ia bahkan tak menghiraukan segala macam umpatan yang keluar dari bibir Seokmin. Soonyoung kini hanya fokus pada satu hal, yaitu...
Lee Jihoon...
Sesampainya di satu-satunya kamar di lantai dua itu, Soonyoung langsung di suguhi pemandangan sebuh gumpalan selimut yang Soonyoung yakini berisi namja mungil manisnya.
Soonyoung pun berjalan mendekat lalu duduk tepat di pinggir ranjang. "Jihoon-ah~" panggil lembut Soonyoung namun sama sekali tak ada balasan dari orang yang di panggil.
"Jihoon-ah~ gwaenchana ? Apa kau sakit ?" tanya Soonyoung penuh kekhawatiran sembari mencoba membuka selimut yang membungkus tubuh mungil Jihoon itu.
"Pergilah Kwon ! Suaramu membuatku mual !" meski suaranya terdengar lemah namun cara bicaranya masih saja sadis.
Soonyoung menghela napas beratnya. Penolakan seperti ini bukan pertama kalinya ia terima, Soonyoung sudah sangat kebal dengan kekasaran seorang Lee Jihoon.
"Jihoon~ kemarilah~ aku ingin melihat wajahmu." Soonyoung masih mencoba menarik selimut yang malah balik ditarik oleh Jihoon dari dalam. Soonyoung tak menyangka kalau tubuh mungil Jihoon itu ternyata memiliki kekuatan sebesar ini. Ia bahkan hampir kualahan hingga akhirnya selimut penghalang itu berhasil ia singkap juga, menampilkan wajah garang Jihoon.
"Sudah kubilang pergi apa kau tak punya telinga ha ?!" Jihoon bangkit duduk dan langsung membentak Soonyoung.
"Baik aku akan pergi tapi biarkan aku bertanya satu hal saja, setelah kau menjawabnya aku akan langsung pergi."
"Apa ?!" sentak Jihoon masih dengan wajah kesalnya.
Soonyoung mulai tersenyum penuh arti membuat Jihoon mengernyit tak suka. "Jimin bilang kau tadi melihat aku dan Wonu sedang mengobrol di teras."
"Lalu ?"
"Apa kau cemburu ?"
Jihoon sedikit tersentak kaget, matanya mengerjap gugup, dan jantungnya kembali berpacu kencang. Namun seorang Lee Jihoon tak akan semudah itu mengakui kecemburuannya. "Aku cemburu ? Huh~ dalam mimpimu Kwon !"
"Kalau begitu aku sekarang pasti sedang bermimpi kan ?!" Soonyoung kembali tersenyum. "Jika benar ini adalah mimpi, maka aku tak mau bangun lagi. Karena ini adalah mimpi terindahku bisa melihat pipimu berubah merah merona seperti itu."
Soonyoung menepuk-nepukkan jari telunjuknya tepat pada dimple manis Jihoon. Tanpa sadar Jihoon memegangi kedua pipinya yang memang terasa memanas tiba-tiba.
Ugh~ betapa imutnya Jihoon saat ini.
.
.
.
.
"Eoh~ hyung ? Kau mau kemana ?" tanya Jimin melihat kekasihnya itu yang baru saja kembali dari api unggun. "Mau duduk disini ?"
Yoongi menggelengkan kepalanya. "Aku mau menjenguk adikku."
Jimin hanya membentuk mulutnya dengan 'oh' dan membiarkan kekasihnya itu melihat Jihoon yang memang terlihat pucat tadi.
"Yakh~ bagaimana kalau kita main kartu saja ?" seru Seokmin girang.
"Ide bagus ! Ya~ Seungcheol hyung mau ikut bergabung ?" tawar Taehyung yang ditanggapi anggukan setuju oleh Seungcheol.
.
.
.
.
Yoongi mulai menaiki tangga. Ia sungguh merasa tak tenang semenjak berpapasan dengan Jihoon di perapian tadi. Wajah adiknya itu terlihat pucat.
Begitu sampai di depan pintu kamar tempat Jihoon berada, dahi Yoongi mengernyit. "Kenapa pintunya terbuka ?"
Yoongi hendak masuk, namun pergerakan tangannya yang hendak menyentuh kenop pintu itu tiba-tiba saja terhenti saat ia mendengar suara orang lain di dalam sana.
"Jika aku memang cemburu kenapa ?" itu suara Jihoon.
"Aku senang. Itu artinya kau juga menaruh hati padaku." dan itu suara yang seperti Yoongi kenal, apa itu suara Soonyoung ? Apa anak itu benar-benar menyukai Jihoon ?
"Boleh aku jujur Kwon ? Aku merasa Soonyoung itu sangat asing bagiku. Aku lebih senang menganggapmu sebagai Hoshi. Hoshi ku yang dulu."
'Hoshi ?' Yoongi kembali mengernyit. Nama yang terasa sangat tak asing baginya.
"Aku merasa sangat nyaman saat mengobrol denganmu di dunia maya, karena kau disana adalah Hoshi, teman baikku semasa kecil. Tapi kau didunia nyata ini benar-benar terasa asing, membuatku tak nyaman."
"Kalau begitu anggaplah aku sebagai Hoshi lagi. Karena aku memanglah Hoshi, teman masa kecilmu yang telah merebut ciuman pertamamu. Dan kau adalah Woozi, teman masa kecilku yang telah menjadi cinta pertamaku dan selamanya akan menjadi orang yang paling kukasihi."
Soonyoung mengelus lembut pipi kanan Jihoon dengan penuh sayang. Ia kembali tersenyum menatap dalam mata Jihoon.
"Entah itu Lee Jihoon ataupun Min Woozi, aku akan tetap mencintaimu." sebuah kecupan pun mendarat di bibir pucat Jihoon. Soonyoung menempelkan kedua bibir mereka cukup lama, membuat Jihoon ikut menutup matanya.
Tak lama Soonyoung melepaskan tautan mereka namun masih dengan jarak yang begitu dekat, mereka kembali bertatapan. Hembusan napas hangat Jihoon bahkan dapat ia rasakan menyentuh wajahnya.
"Jihoon-ah~ saranghae~" kembali kedua belah bibir mereka menyatu. Kali ini dengan beberapa lumatan-lumatan kecil membuat Jihoon melayang dan mengalungkan kedua tangannya memeluk leher Soonyoung yang entah sejak kapan Jihoon sudah kembali berbaring dengan tubuh Soonyoung yang menindihnya.
Sedangkan diluar sana, terdengar hembusan napas kasar keluar dari mulut Yoongi. Tangan putih pucatnya mengambil sebuah tongkat baseball yang tergeletak di pinggir pintu.
Yoongi mulai berjalan pelan memasuki kamar berisi dua insan manusia yang tengah bercumbu itu. Yoongi kembali menghembuskan napasnya kasar membuat beberapa helai poninya tertiup keatas.
Yoongi dengan emosi yang sudah mengumpul di ubun-ubunnya pun mulai tongkat baseball yang ia pegang itu. Digerakkannya kepalanya ke kanan dan kekiri, bersiap mengumpulkan tenaganya sebelum tongkat baseball tak berdosa itu mendarat Indah di punggung namja yang tengah menindih adik tersayangnya itu.
"MATI KAU KWON HOSHI !"
"AW~!"
"HYUNG ?!"
.
.
.
.
"Eoh~ suara apa itu tadi ?"
.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
.
Gomawo buat yang udah baca ^^
.
.
.
.
- DDangKie -
