When I See You Again

One Piece © Eiichiro Oda

Chapter II

And I'll Tell You about It When I See You Again


Greenland.

Namanya memang berarti "Tanah Hijau", tapi pada kenyataannya, tempat itu selalu dilingkupi salju, bahkan di era pemanasan global seperti ini. Lingkungannya begitu murni dan tenang, hanya terdengar bisikan angin di sana sini sesekali, keramaian satu-satunya di sana. Salju yang turun dari langit tanpa henti menjadikan Greenland diselimuti karpet putih tanpa akhir.

Tentu saja manusia tak tertarik pada tempat itu, karena memang tak ada apa-apa di sana selain salju dan salju. Juga salju, dan lebih banyak lagi salju. Oh, apa aku lupa bilang salju? Karena hanya ada salju di Greenland!

Namun, ketenangan tempat itu terusik hari ini.

Salju berserakan, terdorong paksa meninggalkan tempat di mana mereka berdiam entah berapa lamanya, lebih tua dari manusia atau baru jatuh dari surge putih mereka beberapa saat lalu.

Srak… srak…

Derap langkah dua pasang kaki yang berlari dengan kecepatan melebihi manusia biasa, teredam oleh tebalnya salju. Sekuat apapun mereka melangkah, tumpukan benda putih dingin itu menahan dengan ngotot, seolah menasehati, "nikmatilah perjalanan kalian!"

Bagi kedua orang itu, ini adalah saatnya buru-buru, karena tujuan mereka sudah ada di depan. Terhalang bukit yang menjulang curam di depan, tak ada habisnya. Mereka naik dan terus naik, kekuatan fisik dan Haki yang mereka banggakan seperti tak berguna menghadapi keagungan alam.

Nafas memburu sampai seperti mau mati rasanya, adalah harga yang sepadan untuk menikmati akhir perjalanan ini.

Dan saat itu akhirnya tiba.

Setelah 2 jam berlari seperti banteng kutub (memangnya di kutub ada banteng?) liar, mereka berdua bisa melihat cahaya mentari menyinari puncak bukit itu. Sudah dekat sekali! Mereka saling menoleh, menanyakan apa yang rekan mereka hendak lalukan. Tanpa kata-kata mereka setuju pada suatu aksi.

Menggunakan sisa tenaga yang tersisa, mereka memompakan Busoshoku Haki dl kedua kaki mereka, dan meloncat setinggi mungkin…

Putih.

Tak ada warna selain putih di sekeliling mereka. Kiri, kanan, bawah, semua diliputi putihnya salju yang tak terbatas. Hanya langit di atas yang memberikan warna berbeda, biru cerah tak berawan… menciptakan pemandangan yang sungguh luar biasa.

Di tengah nafasnya yang terburu, Monkey D. Luffy masih bisa berteriak dengan wajah girang, "WHOAAAAA! Inikah negara paling utara di dunia?!"

Teriakan itu seperti anak kecil yang tak pernah melihat salju selama hidupnya, menggema di sekelilingnya dengan amat jernih. Dia terhempas ke atas salju kemudian, tapi wajah cerianya tak hilang. Gadis yang bersama Luffy, yang dengan amat luar biasanya bisa mengikuti langkah-langkah cepat tanpa kenal lelah pria itu, hanya bisa tertawa geli. Lapisan tipis keringat membuat wajahnya bercahaya dan semakin cantik, "Fufufufu. Indahnya! Tak rugi aku berlari seperti orang gila bersamamu!"

Luffy menolehi kawan seperjalanannya, dan menyunggingkan senyuman puas kekanakan yang pastinya bisa menaklukkan hati gadis manapun.

"Shishishi! Untung ya, kau ikut lari bersamaku…"

Tapi, wanita itu tak terpengaruh. Mengapa?

"Hancock!"

Karena hati Boa Hancock sudah ditaklukkannya sejak lama sekali.

-xXxXx-

Apartemen keluarga Nami di kompleks Cocoyashi adalah tempat yang sederhana. Terdiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang keluarga sekaligus ruang makan dan ruang tamu, dapur kecil, dan kamar mandi dengan bak yang hanya bisa ditempati 1 orang. Namun, bagi Nami, itu adalah istana yang paling indah.

Waktu pertama gabung SH, dia minder kepada Luffy dan kawan-kawan, karena rumah mereka lebih besar darinya; ia selalu mengelak jika Luffy mengajak SH main-main ke apartemennya. Sedang dicat kek, sedang diperbaiki kek, barusan membongkar gudang kek, Nami selalu berhasil mengelak dengan alasan-alasan itu. Tapi, suatu hari Luffy mengikutinya pulang, dan menyerbu masuk begitu Nami membuka pintu apartemennya.

Komentar pertama Luffy adalah, "Rumah yang nyaman! Kau tinggal di sini bersama ibumu kan? Enaknya…"

Nami pun teringat kalau Luffy tak punya ibu, dan anak itu menumpang di toko kelontong butut milik si tua Dadan. Sejak saat itu Nami jadi lebih percaya diri terhadap rumahnya, dan sering mengundang anak-anak SH main ke apartemennya, terutama jika ada acara belajar bersama.

Maka, hari ini Nami mengadakan lagi acara yang sudah lama tak diselenggarakan di apartemennya itu: mengundang mantan anggota SH yang lain. Tapi sayang sekali, berhubung kesibukan yang tak bisa ditinggal, hanya Zoro, Barto, dan Kuina (yang terakhir ini tak tega karena Nami dikelilingi dua serigala) yang bisa datang. Menurutnya itu sudah bagus sekali sih.

Tapi, begitu acara dimulai, Zoro malah malas-malasan. rupanya rasa kangen terhadap kompleks apartemen yang pernah ditempatinya saat SMU membuatnya terlalu nyaman. Dia duduk terpekur tak bergerak, sepertinya tidur. Orang lain di forum diskusi kecil itu mengabaikannya. Ini memang sudah jadi kebiasaan Zoro, tak peduli berapa pun usianya.

"Lima tahun," Nami tiba-tiba memotong kesunyian ruang tamu itu. Ini menarik perhatian Barto dan Kuina dari ponsel mereka. "Terakhir aku melihat Luffy di kota ini..." Nami menolehi si jambul ayam, "Barto-kun, kamu ingat?"

Yang ditanya hanya mengerutkan dahi, menggigiti sedotan yang tertancap di jus kotak produksi keluarga Nami. "Hmm, nggak terlalu ingat, Nami-senpai. Itu sudah lama banget, dan lagi, waktu itu SH nggak ada kegiatan menarik yang bisa dikenang."

Nami mendesah, "Ah, benar juga. Ingatanku waktu itu juga kabur, bagaimana tidak, dengan ujian kelulusan yang semakin dekat juga ujian masuk universitas…"

"Lima tahun… itu berarti setahun setelah Zoro lulus, dan Nami-chan sudah kelas 3?" tanya Kuina, yang disambut dengan anggukan kedua orang di depannya. "Berarti, bersamaan dengan aku yang kembali ke sekolah."

Karena kelumpuhan kakinya, Kuina terpaksa cuti dari sekolah untuk menerima homeschooling. Lima tahun yang lalu setelah pulih benar, ia kembali bersekolah di SMU Seifu. Hanya perlu setahun baginya untuk lulus, selain karena kepandaiannya, juga karena ia ingin segera mengejar Zoro.

"Aku ingat sedikit-sedikit," Kuina menyentuh dagunya. "Waktu itu dia kelihatan seperti Luffy yang biasanya sih, kalau nggak bisa kubilang lebih ceria. Soalnya kan bebannya sebagai ketua OSIS selama 2 tahun sudah lepas."

Perkataan itu membuat ekspresi Nami berubah, sepertinya teringat sesuatu. "Ah! Iya, aku ingat! Waktu itu dia tiba-tiba mentraktir makan aku, Usopp, Chopper-kun, dan Barto-kun di restoran keluarga!"

"Haaah?!" Kuina terlonjak dari kursinya, sementara badan Zoro bergetar seperti mengalami mimpi buruk.

Benar, kata-kata "Luffy" dan "mentraktir makan" itu tak bisa disatukan, seperti rapalan mantra untuk memanggil Cthulhu saja! Itu terlalu mustahil, di luar akal sehat manusia!

"Yang benar? Tapi, tapi… 2012 sudah lewat kan? Apa ada teori konspirasi lain yang mengatakan dunia akan kiamat nanti malam?"

Nami dan Barto memandanginya dengan wajah aneh.

"Kau nggak apa-apa, Kuina-senpai?"

"Itu kejadian 5 tahun lalu… kalau memang dunia akan kiamat gara-gara Luffy mentraktir makan orang, kita semua sudah bersama-sama menanti Pengadilan Terakhir, kamu tahu."

Oh, Kuina membulatkan mulutnya, lalu kembali duduk. Ia mengusap keringat dingin di dahinya. "Syukurlah, kalau begitu?"

Sang tuan rumah menghela napas panjang. "Yah, jujur, waktu itu reaksi kami juga sepertimu, Kuina. Luffy, mentraktir?! Mustahil! Dia memang cukup dermawan sama kita-kita, misalnya ikut membiayai tiket kereta atau biaya menginap kalau kita berwisata. Tapi sejak mengenalnya, dia samasekali tidak pernah traktir makan. Itu karena dia orang yang rakus, yang berpedoman hidup, 'Jika aku punya daging yang lezat, aku pasti akan memakannya sendirian!'"

"Ah, Zoro juga punya pedoman seperti itu. 'Jika aku punya sake enak, aku akan meminumnya sendiri!' Nggak heran mereka bisa berteman selama itu."

"Luffy-senpai dan Zoro-senpai terlalu keren…"

"Daripada itu," Nami berdeham. "Lima setengah tahun lalu, Luffy mentraktir kita. Entah dia merayakan apa, tapi yang kuingat, dia tampak amat bersemangat."

"Setelah senpai bilang begitu…" Barto mengurut dahinya. "Ah! Aku ingat! Waktu itu Luffy-senpai seperti seseorang yang telah mencapai mimpinya! Seperti seorang bajak laut yang berhasil menjadi Raja Bajak Laut, ya!"

Semua orang di ruangan itu merasa ada dinding imajiner yang pecah, lagi.

"Kupikir era menjebol fourth wall sudah lewat?" gumam Nami, membuat Barto mengibaskan lengannya sambil berkata, "Kau juga!"

"Kembali ke bahasan," kata Kuina, dengan keringat dingin mengaliri pipi pucatnya. Ia menuding-nuding foto topi jerami, pesan misterius, dan kata-kata 'lima tahun' yang ia tulis di notes kecilnya. "Kita dapat petunjuk baru, sekecil apapun itu. Lima tahun lalu, ada yang terjadi kepada Luffy-kun sehingga di luar kebiasaannya, dia mentraktir kalian makan. Kira-kira apa ya?"

"Tadi Barto-kun menyebut 'mencapai mimpi'…" Nami menyentuh dagunya, dengan bibir bawah dimajukan. "Impian Luffy, kah…"

"Dia ingin berpetualang keliling dunia kan?"

Tiba-tiba terdengar suara dari seseorang yang sejak tadi bungkam. Semua orang menoleh ke arah sumbernya, dan melihat Zoro, dengan wajah terfokus padahal barusan bangun tidur (sepertinya). Meskipun kelihatan tidur, dia tetap mengikuti diskusi tadi, ini sudah jadi kebiasaannya sejak dulu. Menyadari dirinya diperhatikan, si rambut marimo mengulangi dengan lebih jelas.

"Apa kalian lupa? Cita-cita Luffy adalah berpetualang keliling dunia."

Dan dengan kalimat itu, semua ingatan Nami dan Barto tentang si santai berperut karet yang samar, kembali menyeruak. Mereka berdua melonjak dari duduknya.

"Aku ingat!"

Nami dan Barto saling menoleh dengan telunjuk terangkat.

"Waktu itu Luffy dapat konfirmasi kalau ayahnya, yang tak pernah muncul itu, tiba-tiba mau membiayainya berpetualang keliling dunia!" kata Nami.

"Ya, ya! Luffy-senpai beralasan dia akan bekerja sebagai travel blogger!" sambung Barto.

"Tapi, semua orang tahu kalau dia tak pandai menulis, jadi kita-kita curiga atas motif si ayah! 'Jangan-jangan dia ingin menjauhkan Luffy darinya', kalau tak salah begitu kesimpulan kita waktu itu!"

Barto mengangguk. "Untungnya semua kecurigaan kita nggak terbukti. Luffy-senpai merilis blog-nya beberapa waktu kemudian, kalau nggak salah…"

"Judul blog itu…"

Mereka terdiam sesaat, dan kemudian Barto melesat ke arah pintu keluar. Sementara berkutat dengan jaket panjangnya (entah kenapa dia tetap memakainya di cuaca sepanas ini), dia berkata, "Nami-senpai, aku kembali ke kantor! Akan kutanyakan ini ke bos Franky!"

"O-oke, Barto-kun! Terima kasih atas waktunya!"

"Hati-hati, oi! Santai saja!"

Setelah si rambut ayam keluar dari ruang apartemen Nami, Zoro memejamkan mata lagi, kali ini dengan senyuman tipis. Nami meliriknya dan menghela napas lega.

"Seperti biasa, sedikit komentar saja dari tuan Zoro, bisa memecah segala kebuntuan."

"Heh, begini-begini akulah orang yang bertahan paling lama berteman dengan bocah itu," jawab Zoro. "Tentu saja aku ingat."

"Tapi…" wajah Nami menyunggingkan senyuman usil. "Apa tuan Zoro yang luar biasa ini ingat, apa nama blog milik Luffy yang kita bahas tadi?"

Alis Zoro berkedut, dan dia menggeram, "Aku bukan orang paling melek teknologi."

"Nama Miss Universe tahun ini saja dia nggak tahu, apalagi blog!" sambung Kuina.

Si rambut marimo membuka matanya dengan enggan, "Oi, mestinya kau di pihakku, kan?"

"Aku di pihak orang yang nggak sok!" Kuina menjulurkan lidahnya, dan wajahnya membeku. Ia lalu meraih ponselnya. "Ah, ada telepon masuk… egh, dari dosenku?! Sori, aku terima ini di luar ya! Kayaknya penting banget."

Sang pewaris dojo Sasaki itu kemudian berjalan keluar ruangan apartemen.

"… selamat deh. Itu pasti soal beasiswanya," gumam Zoro sambil membalikkan badan.

Menyadari mereka hanya berdua saja, Nami tentu tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Ia bangkit dan meremas lengan atas Zoro (menancapkan kuku sekalian), membangunkannya seketika.

"Apaan, sih?!"

"Tidurnya nanti saja! Sebentar lagi kalian pasti akan kembali ke dojo, kan? Besok kalian juga akan kembali ke Zou! Kesempatan ini, aku dan kamu berdua saja, jarang sekali terjadi!" kata si rambut oranye, wajah gosipnya muncul. Zoro memutar bola matanya, dia sudah menduga ini akan terjadi. "Jadi… aku sudah dengar dari Usopp. Katakan pada nee-san, Zoro, apa hubunganmu dengan Kuina?!"

Si rambut marimo bangun dengan wajah enggan, "Aaah, kenapa kalian selalu menanyakan itu… aku heran."

"Hei, ini penting tahu! Tergantung jawabanmu, aku sepertinya harus meluangkan jadwal untuk menghadiri semacam acara penting… pokoknya, jawab yang jujur!"

Zoro menghela napas. Satu-satunya hal yang membuatnya tidak mau bertemu dengan kawan-kawan lamanya, ya ini. Dia menggaruk kepalanya, dan mendesah. "Oke, kujawab. Tapi, sebelumnya…"

"Aku tidak boleh mengatakannya ke orang lain?"

"Eh, ceritakan saja ke anak-anak, nggak masalah," kata Zoro. Ini membuat Nami menaikkan alisnya, "Toh mereka juga akan segera tahu.

"Intinya... kita sepertinya akan segera bertunangan."

Nami terjungkal dari kursinya.

"YANG BENAR?!"

Zoro buru-buru membungkam mulut Nami. Peduli amat soal kebijakan tak menyerang cewek secara langsung, ini masalah hidup dan mati! "Jangan keras-keras, bodoh! Ini hanya perkiraanku!"

Nami mengangguk pelan, dan mulutnya pun dilepaskan.

"Aku yakin sekali kalau pak tua Koshiro itu ingin menjodohkan aku dengan Kuina. Bahkan mungkin sejak SMU dulu. Dia pernah bilang soal ini setelah duel waktu itu kan?"

"Aah, waktu kamu mau melepaskan diri dari dojo dan tinggal sendiri itu? Waktu aku kelas 2 SMU. Aku ingat."

"Ya, kupikir waktu itu dia cuma bercanda… kau tahu, orang tua yang khawatir pada suksesi dojo-nya. Tapi, sejak dia mengizinkan Kuina tinggal denganku-"

"KALIAN TINGGAL BERSAMA?!" Nami terkesiap. "Bukannya itu berarti kalian sudah bisa dianggap menikah?"

"Nggak, nggak," Zoro mengelus dahinya. "Maksudku, Kuina tinggal di apartemen yang sama denganku, di Zou sana. Seperti situasiku denganmu waktu SMU dulu. Tapi dia sering mampir ke tempatku, buat masak dan lain-lain. Dan jangan ngeres dulu, dia biasa tidur di tempatnya sendiri."

Nami menelan ludah. Zoro yang itu, cowok yang sama bebalnya soal cinta dengan Luffy, sudah sejauh itu dalam hubungannya… bahkan bisa dibilang, dari semua mantan anggota SH, dia yang paling terdepan soal kehidupan asmara!

"Intinya, pak tua Koshiro semakin serius soal perjodohan kami, aku yakin Kuina juga sudah curiga soal itu. Atau malah dia sudah tahu dan diam saja. Yang jelas, semua orang di dojo berpikir kalau aku nggak menyadari apa-apa. Tapi, apa kau piker aku tetap anak bebal yang Cuma memikirkan pedang, seperti waktu SMU dulu?"

Nami menggeleng. "Jadi…"

"… aku menunggu saat yang tepat. Kuina itu, dia bisa dibilang teman masa kecil sekaligus kakak angkatku, kau tahu. Yah, walaupun umur kami cuma beda beberapa bulan. Hatiku condong ke 'ya', sementara pikiranku ke 'tidak'."

Nami melongo mendengar monolog singkat itu, sampai Zoro melambaikan tangan di depan wajahnya. Kemudian, ia menutup mulutnya, dan tertawa kecil… sambil mengelus kepala Zoro.

"Zoro, kau jadi dewasa sekali, ya? Nee-san bangga denganmu."

Biasanya si marimo akan menghindari tindakan terlalu akrab seperti ini, tapi kali ini dia diam saja, "Berisik. Aku sudah dewasa dari dulu."

"Kalau begitu, kau jadi tua?"

"Oi, oi…"

-xXxXx-

Cklik.

Sebuah pemantik menyala di tengah kegelapan. Api biru kecilnya menyentuh ujung rokok, menyalakannya. Sekejap kemudian asap kelabu mengotori murninya udara malam. Aroma tembakau dan cengkih, bercampur dengan aroma besi darah.

"Cek denyutnya," perintahnya dengan bahasa Perancis yang kental.

Terdengar bunyi langkah kaki seseorang, dan, "Tidak ada, tuan muda."

"Ambil pelurunya, bungkus badannya dan buang ke laut. Lakukan dalam lima menit."

"Siap!"

Derap langkah-langkah lain mengelilinginya, menggema pada dinding-dinding gang sempit itu. Pria perokok itu menghembuskan asap berbentuk cincin dengan santainya, dan berjalan keluar, menuju heningnya malam.

Sebuah mobil Ferrari hitam menunggunya di sana, suatu pemandangan yang kontras di pinggiran kota yang kumuh itu. Jendela mobil itu diturunkan, dan aroma harum parfum melayang keluar dari sana.

"Sepuluh menit," terdengar suara wanita dari dalam jendela itu. "Kau menyundutnya dengan rokok sampai mati, dik?"

"Rokok bermerek Glock," kata pria yang dipanggil 'dik' itu, sambil membuka jasnya, menampakkan kilapan baja dingin pistol.

"Fufu, jawaban yang bagus. Masuklah."

Ckling. Pintu belakang mobil itu terbuka secara otomatis, dan pria itu memasukinya. Begitu di dalam, lampu putih muram menyinari wajah dan badannya. Seorang pria pirang dengan poni yang menutupi sebelah mata, alis melingkar, dan janggut hitam. Sebatang rokok tersembul di mulutnya.

Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan lokasi kejadian.

"Sedikit lama, tapi kerja bagus," wajah seorang wanita cantik berambut pirang terpantul dari kaca spion mobil. Wajah itu memiliki fitur yang sama dengan si pria, sepertinya karena mereka bersaudara. "Tapi lain kali sebaiknya kau tidak merokok, karena anjing-anjing polisi itu bisa menciumnya… adikku Sanji."

Sanji mendengus, "Heh. Percuma juga mereka mengendus asap rokokku. Penyelidikan mereka akan terhenti begitu huruf 'V' dari 'Vinsmoke' terungkap, kak Reiju."

Reiju, wanita itu, bersiul pelan. "Kamu sudah bisa mempercayai kami?"

"Lebih tepatnya, hanya kak Reiju yang kupercayai di keluarga ini."

"Fufufufu, pasti karena aku wanita cantik?"

"Walaupun aku pecinta wanita, kakakku sendiri tentu ada di luar daftar," Sanji terkekeh, diikuti sang kakak. Dia menghisap rokoknya, dan menatap keluar jendela.

Italia.

Negeri asal pasta, menara Pisa, sisa-sisa kebesaran kerajaan Romawi… dan konon, tanah kelahiran para mafioso. Sanji tak habis pikir kenapa dia bisa sampai di sini, ribuan kilometer dari tempat di mana seharusnya dia berada. Tanah bunga, romansa, dan masakan, Perancis.

Setelah berulangkali dipikir, memang bodoh sekali dia nekat keluar Jepang setelah lulus SMU. Di Jepang, Sanji memang tak tersentuh karena ada di bawah perlindungan pak tua Zeff dan restoran Baratie beserta koki jadi-jadian Newkama Land, tapi begitu keluar…

Tangan-tangan bayangan keluarganya, Vinsmoke, segera menangkapnya.

Ya, selama ini Sanji tak pernah bercerita kalau dia memiliki keluarga. Yang diketahui teman-teman sekolahnya adalah dia anak yatim piatu yang diasuh Zeff selama perjalanannya mendirikan restoran-restoran Baratie di seluruh penjuru dunia. Itu karena keluarganya… bisa dianggap keluarga criminal.

Kau mengerti, keluarga Vinsmoke adalah keluarga pembunuh.

Reputasi menyeramkan mereka, membuat keluarga itu dianggap urban legend di dunia bawah. Konon dibangun dari puing-puing organisasi kuno Hashashin, keluarga Vinsmoke membunuh untuk penawar tertinggi – biasanya itu dari pemerintah atau organisasi lain. Jadi, di suatu waktu mereka bisa membunuh untuk keadilan dan keamanan rakyat, namun di waktu lain mereka membunuh atas perintah mafioso.

Begitu menjejakkan kaki di Eropa, Sanji langsung tertangkap keluarganya, dan dipaksa meninggalkan cita-citanya menjadi chef masakan Perancis untuk melangkah di jalur berdarah. Tapi, bukannya penyesalan atau kemarahan, Sanji malah merasa sedikit lega.

Karena akhirnya dia bisa menyelesaikan persoalan yang paling dia takuti – keluarganya.

"Ngomong-ngomong, kak Reiju, sudah dapat info soal 'itu'?" Sanji memecah keheningan di perjalanan pulangnya ke kediaman keluarga Vinsmoke itu.

"Fufufu. Kamu benar-benar serius menggunakan aset keluarga untuk menyelidiki hal sepele seperti ini. Adik-adik marah lho."

"Peduli amat. Sudah dapat atau belum?"

"Dingin sekali," kata Reiju. Terdengar beberapa gesekan, dan sebuah amplop coklat pun disodorkan sang kakak ke kursi belakang. "Sudah kami download semua artikel dari laman blog itu. Total ada 52, satu artikel per minggu. Di balik wajah santainya, si pemilik blog orang yang rajin, ya."

Sanji meraihnya, "Karena dia serius dengan cita-citanya."

"Huhum. Berkeliling dunia, kah? Cita-cita yang romantis."

"Dia anak yang bodoh."

Si pirang kemudian membuka amplop itu. Cukup tebal, berisikan kertas-kertas bertuliskan aksara Jepang dan beberapa foto. Dia mengambil selembar, dan membaca isinya. Bibirnya yang membeku dalam garis tipis selama beberapa tahun ini berurusan dengan darah dan orang mati, menyunggingkan senyuman karenanya. "'Perjalananku di India'. Sungguhan ini judulnya? Payah, seperti catatan harian anak SD saja. Hahaha."

Kemudian dia tenggelam dalam keasyikannya membaca. Berulangkali, senyuman membuncah di wajahnya.

Isi amplop itu adalah artikel dan foto dari laman blog, 'Mugiwara', milik Luffy sang travel blogger. Sanji, seperti mantan anggota SH lainnya, juga menerima foto dan pesan misterius itu. Bagi si pirang, ini adalah secercah cahaya kecil di kehidupannya yang gelap sekarang. Maka, dia pun bersikeras menyelidiki ini, bahkan sampai menggunakan asset keluarga Vinsmoke.

"Tuan muda," tiba-tiba sang sopir berkata. Sanji hanya menaikkan sebelah alisnya, masih membaca artikel di atas kertas itu. "Perlu kuingatkan, anda masih memiliki tanggungan 3 pekerjaan lagi."

"Ya, ya. Setelah itu beres, barulah aku bisa pergi sejenak menyelidiki ini kan? Pastinya aku lebih ingat soal ini darimu."

"Baguslah kalau anda masih fokus terhadap pekerjaan dan keluarga."

Sanji mendengus. Ya, sebelum dia menyelesaikan 3 misinya, dia takkan bisa keluar dari Italia untuk mencari Luffy. Itu pun dia hanya diberi waktu seminggu dan akan dikawal ketat, karena keluarga Vinsmoke tak mau kehilangannya lagi.

"Sanji, kenapa kau begitu inginnya menyelidiki foto itu? Bukankah kau sudah meninggalkan semua yang berhubungan dengan kehidupanmu di luar keluarga kita?" Reiju bertanya, sebuah pertanyaan tegas dan kejam. Tapi yang ditanya malah terkekeh.

"Aku melakukan ini, justru untuk meninggalkan mereka," jawabnya. "Selama misteri foto itu belum bisa kupecahkan, hatiku masih mendamba kehidupan lamaku. Rasa penasaran mengiris lebih tajam daripada pedang, kakak tahu?

"Maka dari itu, menemukan Luffy, adalah salam perpisahanku untuk mereka. Setelah dia kutemukan, aku takkan kembali lagi."

-xXxXx-

"Sampai jumpa besok, sensei!"

"Aah, ya. Hati-hati di jalan, kalian semua!"

"Tentu saja, sensei!"

Guru muda itu hanya bisa tersenyum kecil menanggapi semangat anak-anak yang berlarian itu. Namun, tak tampak rasa khawatir sedikitpun di wajahnya, meskipun hari sudah gelap.

Akademi Reien tempatnya mengajar memang berisikan putri orang kaya atau berpengaruh, tapi jangan sekali-kali berpikir kalau mereka hanyalah gadis-gadis manja. Berbagai klub bela diri di sekolah itu membuat mereka kuat, dijauhi orang-orang usil dan mesum, atau yang berniat memanfaatkan posisi mereka sebagai anak orang-orang berpengaruh.

Margaret adalah salah satu guru penanggungjawab klub itu. Sesuai pengalamannya dari SMP sampai SMU, dia menangani klub kyudo. Olahraga kuno yang identik dengan keanggunan para pahlawan dan putri raja zaman dulu, sangat popular di Reien ini. Pekerjaan tambahan ini, selain posisinya sebagai guru fisika membuat sebuah kesibukan yang menyenangkan. Senang rasanya melihat bibit-bibit baru bertumbuh dan bermekaran menjadi bunga-bunga indah yang juga tangguh. Margaret merasa bangga telah ikut mendidik dan melatih anak-anak Reien sampai mereka lulus, selama 2 tahun ini.

Selain itu, ia juga bisa terus berada di suasana SMU, masa-masa yang terindah selama hidupnya. Berkat teman-temannya, gadis canggung sepertinya bisa menjalani masa sekolah yang berkesan dan menyenangkan. Baik Hancock dengan geng Kuja-nya atau Luffy dengan geng Straw Hats-nya, semua memiliki peran teramat besar membentuk Margaret jadi seperti sekarang.

Geng Kuja yang dipimpin Hancock sudah lama hilang. Salah satu anggotanya menikah tiba-tiba karena "kecelakaan di luar nikah", melanggar peraturan terkeras geng. Hancock pun membubarkan geng itu agar tak terjadi perselisihan di antara alumni dan anggota-anggota barunya. Namun, nama geng itu masih digunakan di wilayah kota Raftel, nama besar dalam bayang-bayang yang melindungi para gadis kota. Untuk itu Hancock merasa sangat bersyukur…

Kabar dari 4 tahun lalu itulah saat terakhir Margaret bertemu dengan sang ketua abadi Kuja.

Margaret, seperti halnya semua alumni Kuja, tak merasa sedih maupun khawatir. Karena mereka bisa bertemu dengan Hancock kapan saja di layar kaca.

Sejak lulus SMU, karir Hancock di dunia entertainment melesat kencang. Bukan hanya di Jepang, ia juga telah merambah Hollywood! Paduan wajah cantik, kemampuan akting bagus, kepandaian menyanyi, dan kepintarannya bernegosiasi, menciptakan aktris serba bisa yang jarang ditemui.

Suatu hal luar biasa jika kau mengingat masa lalunya yang suram.

Margaret mengusap keringat yang mengalir di dahinya, sembari mengecek jadwal latihan klub panahan untuk yang kesekian kalinya di sore itu. Karena libur musim panas sudah dekat, ia harus mempersiapkan camp musim panas bagi para anggota klub, karena target mereka adalah kejuaraan nasional. Rival terberat tentu saja alma mater Margaret, SMU Seifu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ada email masuk rupanya. Margaret menaikkan sebelah alis. Di zaman berbagai aplikasi pengirim pesan seperti sekarang, masih ada saja yang menggunakan email? Penasaran, ia segera membukanya.

Untuk mendapati sebuah file video, dengan nama "formargaret. mp4".

Kontan sang guru muda teringat cerita murid-muridnya. Seorang iseng mengirimkan pesan berantai yang berisikan foto korban pembunuhan sadis atau foto seram. Ia bergidik, dan segera menutup ponselnya… tapi kemudian tersadar.

"Yang kudengar, pelaku mengirim foto-foto secara acak ke alamat email orang-orang yang tak dia kenal. Tapi, file foto ini namanya 'formargaret', alias 'untuk Margaret'. Untuk aku. Mungkin ini dari orang yang kukenal?" pikirnya sambil meraih kembali ponsel itu. Dari sekian kenalannya yang bisa melakukan ini, tak mungkin ini ulah murid-muridnya, karena mereka pasti merasa sungkan (dan Margaret bisa bersikap cukup tegas bila perlu). Jadi kemungkinan dari orang di luar sekolah. Dengan kata lain, bisa jadi dari teman-teman sekolahnya!

Ini membuat Margaret semakin penasaran.

Teman-teman lamanya tentu tak pernah mengerjainya, mereka sudah terlalu tua untuk itu. Keusilan mereka paling hanya sekedar foto iming-iming acara reuni, jalan-jalan atau makan bersama. Kemarin lusa saja dia menerima foto dari anak-anak mantan SH yang mengadakan reuni kecil di Seifu… dan waktu itu ada Zoro!

Maka, Margaret membuka email itu, dan melihat bahwa durasi videonya hanya 10 detik. Ia kembali ragu, jangan-jangan ini benar-benar ulah iseng seseorang? Tapi sebelum sempat menutupnya, tangannya tak sengaja menyentuh tombol Play, dan video itu pun terputar.

Ia melihat rekaman tentang pegunungan berlapis salju, kualitas gambarnya cukup buruk karena sepertinya direkam dengan kamera ponsel tanpa filter khusus salju. Kamera mengarah ke atas, menampakkan langit kelabu yang dibatasi pegunungan gelap kebiruan, lalu mengarah ke bawah, ke hamparan salju... beserta suatu bayangan di atasnya. Seseorang dengan sebuah topi lebar di kepalanya.

Kemudian samar-samar terdengar suara yang tak asing lagi.

"Apa… kota ini-"

Suara Luffy! Itu tak salah lagi, Margaret masih bisa mengingat suara sang penyelamatnya, walaupun mereka tak pernah bertemu selama bertahun-tahun.

Setelah itu, videonya habis. Memang hanya 10 detik, dari pemandangan langit dan pegunungan, sampai siluet di atas salju dan suara Luffy.

"Apa maksudnya ini? Luffy-san?" pikir Margaret. Merasa kurang jelas, ia mencoba memainkan video itu lagi.

Saat itulah ia menyadari kalau ada sebuah subject di email itu.

Sebuah pertanyaan singkat.

"Di mana kalian?"

-xXxXx-

"Kereta menuju Kota Zou akan tiba di Stasiun Raftel dalam 10 menit lagi. Para calon penumpang silakan bersiap, hati-hati barang bawaan anda. Kami ulangi..."

Keramaian di Stasiun Raftel tak bisa mengalahkan nyaringnya bunyi pengumuman itu. Hari ini liburan musim panas dimulai, jadi stasiun dipenuhi anak-anak muda yang hendak berlibur. Ada juga beberapa kelompok dari sekolah yang sepertinya akan berangkat berwisata.

Maka, Zoro dan Kuina, yang membawa tas besar, tampak membaur dengan sekitarnya. Padahal, mereka tidak akan pergi, tapi akan pulang, kembali ke kota Zou.

"Yakin, kalian mau pulang sekarang?" tanya Nami, untuk yang kesekian kalinya di siang itu.

Zoro sampai bosan menjawab ini, tapi Kuina menanggapinya dengan ramah. "Maaf sekali, Nami. Dojo kami akan mengadakan kemah musim panas, jadi kami harus menyiapkan segala sesuatunya."

"Lusa, ya... kalian nggak akan mau kecapekan di depan murid-murid kalau misalnya kembali ke Zou besok," komentar Franky, satu-satunya mantan SH selain Nami yang bisa mengantar kepulangan mereka. Sebenarnya Barto yang mau berangkat, tapi penyelidikannya tentang travel blog Luffy tak bisa ditinggal.

Kuina mengangguk dengan penuh semangat, "Yap! Tahun ini akan berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena kita berhasil mendapat izin dari Kuil Ryuudo untuk bermalam di sana, dan memanfaatkan seluruh daerah bukit tempat kuil itu berdiri sebagai lokasi pelatihan!"

"Whoa, pasti akan seru," komentar Nami.

Zoro menyeringai jahat, "Tentunya. Akan kuberikan mereka latihan dari neraka yang bahkan terlalu keras untuk para iblis."

"Dan aku akan memasak kari yang lebih panas dari api neraka," sambung Kuina.

"Plagiat kau."

"Biarin!"

Ting tong ting tong...

"Kereta menuju Kota Zou akan memasuki Stasiun Raftel. Para calon penumpang silakan bersiap, hati-hati barang bawaan anda. Kami ulangi..."

Mereka bisa melihat hidung biru kereta peluru itu di kejauhan. Para calon penumpang mulai berjalan menjauhi jalur rel, tentunya Zoro dan yang lain juga. Sembari membetulkan posisi ransel, mereka berpamitan.

"Minggu terakhir liburan sepertinya kita akan kemari lagi. Kuina harus mengurus dokumen-dokumen untuk beasiswanya, kan," kata Zoro.

"Yap! Kali ini kami akan tinggal lebih lama, jadi kosongkan jadwal kalian! Ayo maiiiin!" sambung Kuina.

"Aku siap kapan saja kok!" jawab Nami. "Tak tahulah kalau yang lain."

"Ouw, akan kucoba mengosongkan jadwal. Sekarang aku kan bos, jadi bisa santai, ngahahahaha!"

Setelah menjabat Franky, Zoro menolehi Nami, wajahnya menjadi serius.

"Nami. Nanti kalau anak-anak mendapat info baru tentang foto itu, beritahu aku secepatnya. Aku bisa kau hubungi kapanpun."

"Tentu saja."

"Heh, nanti malam sepertinya kau sudah dapat telpon tentang info itu. Kita sudah dapat alamat blog-nya kok, tinggal download isinya. Siapa tahu ada petunjuk lagi," kata Franky.

"Cepat banget! Aku nggak sabar."

"Kalaupun anak ini," Kuina menggaet lengan kaus Zoro, "nggak bisa ditelpon, ke aku saja! Pasti akan kusampaikan!"

"Kenapa kau selalu ikut campur?!"

"Habis, ini penting buatmu kan?!"

"Sudah, sudah. Perkelahian suami-istrinya nanti saja di kereta."

"Siapa yang suami-istri?!"

Sementara Kuina meneriaki Franky dengan wajah memerah (entah karena malu atau kesal), Zoro berbicara lagi kepada Nami, dengan suara pelan.

"Aku nggak bisa berjanji banyak, tapi…" Zoro menyentuh kepala si rambut oranye layaknya adik kandung, "Kita semua akan menemukan Luffy. Untuk itu aku berani bersumpah."

Nami menampik tangan Zoro, dan memukul lengannya, gemas, "Kalau itu sih, semua orang juga bisa! Aku akan menemukan Luffy duluan, kamu lihat saja! Sana, buruan pulang!"

Zoro merengut kesakitan, "Bah! Ngapain aku sok lembut tadi, rugi!"

Kemudian, tiba-tiba Nami memeluknya.

"Sampai jumpa, Zoro."

Si rambut marimo tertegun. Dia bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar, dan mendecak. Mood perempuan memang sulit ditebak. "Aaah. Apaan sih. Sudah kubilang aku akan kembali, juga." Dia menghela napas, lalu meletakkan tangannya di bahu Nami, canggung. "Tenang saja. Aku nggak akan meninggalkanmu."

"... terima kasih."

...

Memandang kereta peluru yang berakselerasi meninggalkan Stasiun Raftel, Nami tak bisa menghilangkan perasaan aneh di dadanya itu. Bukan, bukan deg-degan atau apa. Ia hanya… entah kenapa, mendapat firasat buruk tiap bersama Zoro dan membahas Luffy.

Nami kemudian meraih dan membuka ponselnya.

Di sana ada email dari Departemen Meteorologi Jepang di Tokyo, yang bertanggal 2 minggu lalu. Si rambut oranye menelan ludah, dan membukanya.

Sesuai perkiraannya, email itu mengabarkan bahwa ia lolos tahap seleksi online. Wawancara dan psikotest akan menyusul sebulan lagi. Sebuah kesempatan besar baginya, kemungkinan ia diterima amatlah besar karena jarang ada wanita yang mau memasuki departemen suram itu.

Nami menatap langit, dengan sunyi memanjatkan doa entah kepada siapa, agar mendapat kesempatan bertemu lagi dengan kawan-kawanya sebelum ia sungguh tenggelam dl dunia kerja dan orang dewasa.

Sebelum ia sungguh-sungguh meninggalkan SH dan masa remajanya.

- To be continued -


Next

Chapter 3

We've come a long way, where we began