So… I'm back.

Sori! Aku sibuk luar biasa selama Agustus – September ini dan lagi benar-benar buntu juga. Sebenarnya jalan cerita sampai ending sudah aku rencanakan, sih, cuman penghubung antar scene-nya yang belum, susah...

Well anyway, selamat membaca.


When I See You Again

One Piece © Eiichiro Oda

Chapter III

We've Come a Long Way, Where We Began


"… jam 9 malam, kah? Semoga aku tidak terlalu terlambat."

Memasukkan kembali ponselnya ke tas, wanita itu berjalan menuju restoran tradisional "Yaoyorozu" di depannya. Ia menahan menahan geli, mentang-mentang sudah dewasa, mereka selalu memilih tempat pertemuan yang menyajikan minuman beralkohol.

Begitu masuk, ia disambut dengan tawa kencang khas teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai, mereka seolah merajai restoran itu. Menyembunyikan senyuman rindu, ia berlari kecil menuju arah keramaian itu.

Tidak sulit menemukan mereka, kelompok berpenampilan nyentrik itu. Ada 4 orang di sana, yang sepertinya sudah mulai cukup lama. Si sniper, yang tatapannya masih awas, segera mengenali si pendatang baru.

"Waheey! Selamat datang! Silahkan, silahkan!" katanya dengan mulut belepotan busa bir.

Sebuah kepalan tangan melayang ke kepalanya, membenamkan pria itu ke salad di piring bawahnya. Usopp bangkit dan berteriak kesal dengan wajah belepotan mayones.

"Apa maumu?!"

"Begitu sambutanmu ke seorang teman cewek yang sudah lama tak bertemu?!" teriak Nami, si pelaku kekerasan barusan. Usopp hendak memprotes lagi, tapi Nami menyodorkan gelas bir kepadanya, "Mestinya kau langsung tawari dia bir!"

"Nami, apa kamu sudah mabuk?" tanya Chopper. Karena dia masih bertugas jaga di klinik setelah ini, dia tidak memesan bir.

"Haah? Mabuk? Omong kosong! Siapa orang lemah yang bisa mabuk hanya karena minum 4 gelas-glekkk," setelah mengatakan itu, Nami langsung menenggak habis bir di gelas yang dipegangnya – gelas kelima.

"KALIAN SAMA SAJA, OI!" teriak Jinbe, kesal. Dicueki, pria besar itu hanya geleng-geleng pasrah. Dia lalu menarik kursi di sampingnya untuk sang tamu yang diabaikan. "Dasar. Karena sudah bisa menikmati bir, mereka langsung kelewatan. Dasar anak muda zaman sekarang..."

"Hihihi. Mendengarmu bicara begitu membuatmu terlihat tua, oyabun," kata si tamu sopan. Ia meraih kursi yang ditawarkan itu dan duduk di atasnya dengan anggun.

"Bukan terlihat tua, tapi memang tua," Jinbe menenggak sake-nya perlahan. "Aaah. Mereka bahkan tak tahu bagaimana cara menikmati alkohol yang baik dan benar. Masa harus kuajari juga?" Sang tamu tertawa kecil, dan Jinbe meletakkan gelasnya di atas meja. "Jadi, bagaimana perjalananmu kemari, Margaret-kun?"

Margaret, sang tamu terakhir itu, menutup buku menu restoran itu dan menjawab sopan, "Melelahkan, Jinbe-san." Wanita pirang itu masih mengenakan baju kerjanya, pasangan kemeja dan blus serba hijau khas seorang guru. "Aku langsung berangkat ke Raftel setelah kemah musim panas di Reien berakhir tadi siang."

"Setelah mengurus para ojousama yang cerewet dan merepotkan, kamu langsung kemari? Staminamu tetap luar biasa ya," komentar Jinbe.

"Ah, tidak juga. Murid-muridku anak yang baik kok."

"Hm. Sungguh jawaban yang demokratis," Jinbe mengusap-usap kepala Margaret, "Kamu benar-benar memiliki wibawa guru, ya-"

"AAAW! Apa yang kulihat dengan mata kecilku ini?! Margaret!" teriakan norak yang khas menyeruak di tengah keramaian bar itu.

Wajah Margaret kembali bercahaya melihat dua kawan lamanya itu. Ia bangkit dan menyambut mereka, "Franky-san! Barto-kun!"

Barto mengambil beberapa langkah mundur dan menutupi wajahnya, "WHOAH! Margaret-sensei! Kenapa kau mengenakan pakaian seperti itu di sini?!"

"Hmm?" Margaret memutar tubuhnya, mengamati pakaiannya. Tidak ada yang tersingkap atau terbuka, kan? "Me-memangnya kenapa?"

"ITU SANGAT MENGGODA IMAAAN!" teriak Franky dan Barto kompak, lalu melakukan toss.

"Ah..." sebulir keringat dingin mengaliri pipi Margaret. Mereka tak berubah, tetap saja mesum seperti yang ia ingat.

"Abaikan. Kombinasi orang mesum dan fanboy hasilnya parah," komentar Jinbe, malas berurusan dengan mereka.

"Ngahahaha! Oyabun membuat kita malu saja!"

"Itu bukan pujian!" Jinbe berteriak. Tapi itu hanya membuat kedua orang tadi merona menjijikkan, jadi dia mengalihkan perhatian ke yang lain. "... dan sampai kapan kalian mau mabuk-mabukan?! Ingat tujuan awal kita kemari!"

Teriakan penuh Haki itu menghentikan gerakan Nami, Usopp, dan Chopper. Mereka meletakkan gelas masing-masing, dan menegakkan posisi duduk mereka. Namun, Nami segera melonjak begitu menyadari satu-satunya cewek di kerumunan serigala itu.

"Heh? Margareeet?!" ekspresi Nami berubah. Rona merahnya memudar, dan pandangannya jadi terfokus.

"Telat, oi," kata Usopp dan Chopper sambil mengibaskan lengan mereka.

Nami mengabaikannya dan menghampiri si pirang untuk memeluknya, "Kangennyaaaa! Kapan kamu sampai?! Kenapa tidak membalas e-mailku?!"

"Eh? U-um," Margaret nampak kaget tiba-tiba dipeluk dan diajak bicara seperti itu, "Nami-san, bukannya kamu tadi mabuk?"

"Sudah hilang, karena melihat wajah teman cewekku satu-satunya di tengah pesta sosis ini," Nami merangkul Margaret. "Yosh, teman-teman, aku undur diri dulu ya. Aku ingin bicara selamaman sesama cewek."

"TUNGGU, OI!"

...

"E-ehem. Seperti isi undanganku kemarin, kita berkumpul di sini untuk mendiskusikan Luffy. Maaf tidak bisa menyambutmu, Margaret-san," kata Nami, yang disambut anggukan ringan si pirang. "Selama beberapa hari kmarin, Franky dan Barto-kun sudah berjuang keras memecahkan pesan dan foto misterius itu."

Suasana langsung jadi serius. Franky dan Barto duduk di tempat masing-masing, dan si rambut ayam membuka laptopnya. Gelas-gelas berisikan bir, juga piring dengan makanan pun terabaikan.

"Mabukku langsung hilang."

"Perubahan mood cerita ini terlalu cepat, aku nggak bisa mengikuti," komentar Usopp.

"Berhenti bercanda dan perhatikan ke depan!"

Jinbe menepuk punggung kedua orang itu dengan Gyojin Karate (aplikasi jurus untuk hal sepele), dan mereka pun menatap lekat-lekat Franky dan Barto di depan. Suasana restoran yang tadinya ramai pun membisu, seolah terbawa suasana serius kelompok ini.

"Oh, ya. Bagaimana dengan video dariku?" tanya Margaret. Yang ia maksud adalah video misterius berdurasi 10 detik yang dikirimkan padanya beberapa saat lalu.

"Itu juga sudah kami selidiki," kata Franky. "Kami punya beberapa pemikiran-"

Chopper mengangkat tangannya. "Sebenarnya, kita belum pernah lihat jelas video itu. Bisa kita setel sebelum pembahasan lebih lanjut?"

Barto mengangguk dan meng-klik file video yang dikirimkan Margaret padanya itu. Video berdurasi 10 detik itu tak berubah sedikitpun walaupun dia sudah menyetelnya ratusan kali. Sebuah siluet di atas tanah putih, dan suara cempreng Luffy yang patah-patah. Petunjuknya terlalu minim.

"... dilihat berapa kali pun komentarku sama," Usopp sambil membelalakkan matanya lebar-lebar, seolah mencoba mencari petunjuk lain di layar laptop itu. "ITU SAJA?!"

"Memang, pendek banget."

"Pendek tapi sangat padat petunjuk, menurutku," Franky mengelus dagunya. "Kalian lihat nama videonya, 'formargaret', atau 'untuk Margaret'. Lalu, isinya adalah petunjuk tentang Luffy, yang membuat kita kebingungan akhir-akhir ini. Itu jelas bukan ulah orang iseng. Kemungkinan, pengirimnya adalah orang yang mengenal Margaret yang mantan anggota SH... antara lain, Robin, Bon-chan, Sanji, atau bisa juga Luffy sendiri."

"Seperti yang kusimpulkan," sambung Margaret.

"Benar, lalu ada lagi," Franky menyetel lagi video itu, tapi kali ini menekan pause di tengah, saat siluet itu belum muncul dan hanya ada tanah serba putih pucat di layar. "Tanah putih ini menurutku adalah... salju."

"Salju? Tapi sekarang kan musim panas?" tanya Usopp.

"Kamu lupa kalau Luffy itu seorang travel blogger? Dia pasti berada di tempat di mana ada salju, walaupun di Jepang dan negara 4 musim lainnya sedang musim panas," jawab Nami. Ia mengelus dagunya, "Secara geografis, tempat seperti itu hanya ada di bumi bagian utara dan selatan, dengan kata lain, daerah kutub."

"Kutub?!"

"Benar juga, di sana banyak tempat wisata keren," sambung Chopper.

"Itu kalau video itu diambil baru-baru ini, kan," komentar Jinbe, tangan berototnya mengelus janggut. "Bisa jadi ini video sudah diambil sejak lama. Misalnya musim dingin kemarin. Kalau memang begitu, dia bisa berada di mana saja, di daerah dengan 4 musim."

Area pencarian mereka meluas lagi, tapi...

"Pemikiran yang bagus, Jinbe. Blog-nya Luffy memang berhenti di-update 2 tahun lalu," kata Franky. "Berarti, ini adalah video yang sudah lama diambil."

"Atau, dia sudah berhenti melakukan perjalanan, dan kini menetap di suatu negara. Itu berarti, bisa saja tempat bersalju ini ada di negara terakhir yang dia kunjungi," komentar Nami. "Franky, bukankah kapan hari kamu membuat peta perjalanan Luffy dengan menyelidiki travel blog miliknya? Bisa kamu perlihatkan itu?"

"Ow, akan kubukakan," Barto membuka sebuah folder yang berisikan peta dunia sederhana, kemudian dia membuka situs travel blog Luffy.

Tak lama, halaman awal blog itu pun sudah terbuka. Mereka yang belum sempat melihat blog itu karena kesibukan mereka, segera berdesakan melihat hasil karya sang mantan ketua.

Tampilannya sungguh sederhana. Sebuah halaman blog berbayar dengan tema lautan biru. Gelombang tinggi di kiri dan kanannya melambangkan semangat dan energi yang tak pernah habis. Ada logo kelompok Straw Hats di pojok kanan atas, tengkorak kartunis yang menyeringai, dengan topi jerami.

Semua orang yang melihatnya tersenyum. Itu sungguh karya Luffy, sederhana tapi menggugah siapapun yang melihatnya.

Barto lalu menekan tombol yang menunjukkan list update blog itu, berurutan dari yang paling pertama. Entry pertama itu tertanggal 3 tahun lalu. Semua orang sudah membaca ini sejak Barto memberitahu alamat situs blog itu pada mereka, dan isinya hanyalah kata-kata perkenalan singkat yang cukup membuat mereka menitikkan air mata rindu. Dasar Luffy.

"Entry terakhir bertanggal 2 tahun lalu," Barto meng-klik entry itu, yang berjudul, 'Berjalan Seperti Orang Mesir.' Isinya sama dengan entry lain, menceritakan perjalanan Luffy di negara yang dia datangi. Namun hanya sampai situ sajalah blog perjalanannya. Setelah rutin menulis 1 entry per minggu selama setahun, Luffy tiba-tiba saja berhenti menulis.

Anak-anak SH sudah membaca dengan seksama tiap entry yang ada di blog, namun mereka sama sekali tak menemukan petunjuk; alasan kenapa Luffy tiba-tiba berhenti menulis, tujuan selanjutnya setelah Mesir, dan ada di manakah dia sekarang.

Blog itu berhenti mendadak seolah si penulis lenyap dari muka bumi...

Itu membuat semua orang khawatir akan yang terburuk, tapi mereka tak ingin memikirkannya sekarang.

"... berapa kalipun dilihat dan dibaca, ini blog yang luar biasa," kata Nami. Anak-anak menolehinya. Menyadari dirinya jadi pusat perhatian, ia tersenyum, "Aku sungguh tak menyangka Luffy yang nilai bahasa Jepangnya ala kadar bisa menulis blog yang menarik dan mudah dimengerti seperti ini."

Semua orang pun mengangguk setuju.

Ya, itulah blog milik Luffy. Traffic pengunjungnya rendah karena cara penulisannya yang tidak bagus jika dibandingkan travel blog lain, tapi dia tak menulis demi ketenaran. Dia hanya menulis karena ingin. Maka niatnya itu bisa dilihat dar tulisan blog-nya yang sungguh... Luffy. Sungguh personal dan sederhana, membuat mereka yang membacanya merasa seperti tengah bertualang dengan si perut karet itu sendiri.

"Mengagumi Luffy takkan membawa kita lebih dekat dengannya," kata Jinbe kemudian, dengan wajah serius. Jangan salah sangka, dia juga mengapresiasi apa yang dilakukan anak itu, tapi takkan perkembangan kalau mereka berdiam saja membaca-baca blog itu secara berkelompok. Buang-buang waktu saja. "Kita di sini bukan untuk nostalgia dengan Luffy, tapi mencari apapun yang menunjukkan lokasi dia sekarang."

Mereka mengangguk, dan kembali ke posisi duduk masing-masing. Franky mengambil laptop dari Barto, dan membuka peta dunia sederhana tadi. Di sana tampak beberapa titik yang ditandai dengan bendera hitam berlambang Straw Hats.

"Yosh, mari kita mulai. Seperti yang kalian lihat, titik-titik ini adalah lokasi yang disinggahi Luffy dan ditulisnya dalam blog. Rutenya kira-kira begini," Franky menekan tombol dan tampaklah titik merah di kota Raftel. "Lima tahun lalu, dia berangkat dari kota ini, ke Tokyo."

Titik merah itu bergerak ke arah barat menuju ibukota. Franky lalu memencet tombol lagi, dan titik merah itu perlahan terbang meninggalkan Jepang, lalu ke Hong Kong. Setelah itu sepertinya Luffy hendak menempuh jalur udara menuju benua Asia, namun dia berputar ke selatan, ke jalur laut menuju Singapura. Kemudian dia pergi ke Thailand, dan melakukan perjalanan darat sampai India, menuju UEA, dan diakhiri perjalanan melewati Laut Merah ke arah Mesir. Setelah itu titik merah itu berhenti dan diam, menandakan akhir update blog itu.

"Setahun dia berputar di Asia saja... menurutku, progress-nya terlalu lama untuk seorang Luffy," komentar Usopp, yang disambut anggukan kawan-kawannya. Luffy itu seperti angin puyuh, tidak bisa diam lama di tempat yang sama untuk waktu lama, menimbulkan kekacauan dan keributan di manapun dia singgah. Maka, cukup aneh kalau dalam setahun dia hanya menempuh jarak segitu.

"Tapi, dia sengaja menempuh perjalanan sulit dengan kapal laut dan kereta kan? Kalau dia naik pesawat sih, takkan memakan waktu lama dari Singapura ke Mesir. Lagian, dilihat dari isi blog-nya, dia bertualang cukup lama di tiap negara yang dia singgahi," komentar Chopper.

"Tapi, kenapa dari Asia Tenggara dia langsung ke India? Kalau bicara tentang Luffy dan petualangan, bukankah di Asia lebih banyak tempat menarik?" tanya Margaret. "Indonesia dan Filipina misalnya... dia juga hanya sebentar singgah di Thailand dan India! Kenapa dia justru melewati tempat-tempat luar biasa seperti itu?"

"Simpel kan. Di Mesir ada sesuatu yang benar-benar menarik perhatiannya." gumam Barto.

"... kenapa kamu bisa begitu yakin?" tanya Nami.

"Eh? Itu... ah... heh?!" kemudian dia sepertinya teringat sesuatu, dan bangkit dr kursinya. Dia tampak kaget, "Tu-tunggu. Rute ini?!"

"Ada apa, Barto-kun?! Apa kau mengetahui sesuatu?!"

Semua orang tampak tegang. Begini-begini, Barto adalah fanboy terbesar Luffy. Bisa dibilang, dia mengenal senpai favoritnya itu seperti Zoro atau Nami, tapi dari sisi lain. Jadi, kalau dia sampai seperti itu, berarti ini amat penting...!

"Ya, ini amat mengagetkan... sulit kupercaya! Luffy-senpai menempuh rute seperti ini!" kata Barto. Anak-anak mulai khawatir melihat ekspresinya. "Diawali Jepang, sampai ke Kairo di Mesir... apa dia berniat melawan DIO?!"

Ketegangan memudar seperti balon kempes imajiner, yang sepertinya juga memutar bola matanya. Nami memukul kepala Barto sampai dia membentur meja.

"Ubf!"

"Barto, ini fic serius. Jangan begitu."

"Kamu juga, oi," komentar Jinbe.

"Kalian tahu, mungkin si idiot itu benar," Franky mengelus belahan tengah dagunya, "Luffy itu, tak mungkin mengabaikan rute penuh petualangan ke tempat penuh pasir di Timur Tengah... ada alasan tertentu dia ke sana."

Semua orang pun menolehi si om eksentrik. Dia ini bisa dibilang yang terpintar di antara mereka semua sekarang ini, jadi pendapatnya pasti valid, tak seperti anak buah punk-nya.

"Kita harus singkirkan pemikiran kalau Luffy menulis semua hal tentang petualangannya di blog ini," dia mengetuk-ngetuk layar laptop. "Seorang blogger, misalnya mendatangi daerah kumuh, takkan menulis soal 'luar biasa'nya toilet yang dia gunakan-"

"Oi, ada orang makan!" protes Usopp dengan mulut penuh.

"Salahmu sendiri makan saat kita sedang diskusi!"

"Ehem. Maksudku, seorang blogger takkan menulis hal-hal di pikirannya selain pendapat tentang tempat yang dia kunjungi. Contoh lain, dia takkan menulis tentang masalah pribadi atau keluarganya. Pengunjung travel blog hanya ingin membaca tentang tempat wisata, bukan? Kupikir, Luffy juga seperti itu."

"Jadi, kesimpulannya?"

"Jelas, Luffy tak menulis alasan kenapa dia pergi ke Mesir. Dan sesampainya dia di Mesir pun, dia hanya menulis entry kedatangannya, seperti biasa."

"Ja-jangan-jangan, dia mengalami sesuatu di Mesir yang membuatnya tak bisa menulis lagi?!"

Chopper mengatakannya. Hal yang paling mengkhawatirkan mereka.

"Tenanglah. Yang kita bicarakan ini Luffy. Dia itu kuat... mana ada bandit yang berani merampoknya? Lagian, sebodoh apapun, dia takkan membuat masalah yang benar-benar gawat, misalnya melawan hukum dan sebagainya, kan?" jawab Franky, menenangkan. "Barto benar. Ada sesuatu di Mesir yang buat Luffy lebih penting dari petualangannya."

"... yang lebih penting dari petualangan buat Luffy..." Nami membelalakkan matanya, dan sepertinya yang lain juga menyadari ini. "Teman?"

"Tepat sekali. Dan bicara soal Mesir, kita bicara soal piramid, mumi, artifak, dan sebagainya. Negara itu ibarat tanah suci arkeologi."

"Dengan kata lain, Robin-senpai ada di sana," sambung Barto.

"!" semua orang terkejut mendengar hipotesa itu.

Kecuali Brook. Sang sensei menoleh ke arah Barto. Kenapa dengannya? Hari ini perkataan-perkataannya sangat akurat! Kemudian dia memalingkan wajah ke Franky, berharap menemukan kekagetan di sana... tapi pria berjambul itu nampak santai saja.

Kedua orang itu sepertinya tidak menceritakan semua hasil penemuan mereka. Mencurigakan...

"Tunggu, tunggu!" Nami bangkit dari kursinya, memandang Franky dan Barto yang senyum-senyum pede. "Mungkin memang benar kalau Robin ada di Mesir, tapi itu 2 tahun lalu kan? Masa dia masih di sana? Apa gunanya petunjuk ini sekarang?"

"Nami-jouchan. Asal kamu tahu, penggalian arkeologi bisa berlangsung sampai bertahun-tahun, apalagi kalau lokasinya di surga kebudayaan kuno seperti Mesir," Franky menjelaskan.

"Benar juga... tapi, memangnya kenapa? Aku senang tahu lokasi Robin, tapi apa hubungannya dengan Luffy?" tanya Chopper.

Franky memunculkan lagi foto topi jerami yang membawa mereka berkumpul lagi. Dia menyorot tulisan 'Di Mana Kalian?' di bawah foto itu.

"Kita tak perlu susah-sudah mencari petunjuk. Petunjuk terbesar kita ada di foto ini."

Semua orang memelototi foto itu, berusaha membuktikan apa yang dikatakan Franky. Tapi tidak ada. Mereka sudah melakukan penyelidikan yang amat teliti kepada foto itu berkali-kali, dan tetap tak menemukan apapun.

"'Kalian' yang dimaksud adalah kita, mantan anggota SH kan?" gumam Usopp.

"Lalu, 'di mana'? Kita ada di sini kan? Di kota Raftel seperti biasanya. Aku, Jinbe-san, dan Franky-san juga..." Brook terdiam, dan matanya terbelalak. "A-aaah, aku mengerti."

"Apanya yang... oh. Ohhh, begitu?" sambung Jinbe. "Heh, dasar Luffy. Bisa saja dia."

Ketiga anggota senior SH mengerti begitu saja dari clue kecil itu, ini membuat anggota lain merasa iri.

"Je-jelaskan! Apa maksudnya ini?!"

"... berapa jumlah anggota terakhir Straw Hats?" tanya Brook.

"Hah? Apa hubungannya-"

"Ssst, diam dulu, Usopp," Nami lalu mengamati kawan-kawannya, dan menaikkan jarinya untuk menghitung, "Luffy, Zoro, Usopp, Sanji-kun, Chopper, Bon-chan, Franky, Brook-sensei, Robin-neesan, Margaret-san, dan Shirahoshi-chan. Tiga belas."

"Bagaimana dengan Jinbe? Dia anggota kehormatan kan?" tanya Chopper, yang disambut Jinbe dengan senyuman senang. "Berarti 14?"

"Ya. 'Kalian' yang dimaksud di foto ini adalah 'semua anggota Straw Hats', dengan kata lain, kita berempat belas. 'Di mana kalian', berarti, 'di mana kita semua'. Dengan kata lain...

"Luffy ingin kita semua berkumpul lagi dan mencarinya bersama-sama."

"!" semua orang terperanjat.

Mereka terdiam sesaat. Bukan karena bingung, tapi karena semangat menggebu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, sebuah petunjuk jelas akhirnya muncul juga setelah sekian lama kebingungan!

Luar biasa, duo Franky dan Barto!

"Mengumpulkan anak-anak mantan SH dan mencari Luffy bersama-sama..." Usopp menyeringai lebar. Badannya gemetaran. "Oi, bukankah itu terdengar seperti sebuah petualangan yang sangat seru?!"

"Dasar Luffy, nggak ada orangnya pun masih bisa merepotkan!" komentar Chopper.

"Ha-hahaha. Luffy itu jenius atau bodoh sih? Membuat pesan rahasia seperti ini hanya dengan foto..." Nami menghela napas panjang. "Menarik!"

"Um, tapi kalian terlihat bersemangat?" komentar Margaret.

"Tentu saja! Jiwa petualang kami bangkit lagi setelah sekian lama!" komentar mereka bertiga, kompak.

"Kalian mengerti juga rupanya," Franky menyeringai, dan bangkit dari kursinya. "Kalau begitu, langkah kita selanjutnya sudah jelas. Sekarang sedang liburan musim panas, jadi banyak dari kita yang tidak terlalu sibuk. Kita akan membagi tim untuk menemukan mantan anggota SH lain!"

"Tunggu, anggota SH lain itu maksudnya..."

"Tentu saja kan? Sanji-kun, Robin-neesan, Bon-chan, dan Shirahoshi-chan! Zoro ada di prefektur tetangga, kita juga bisa mengajaknya!"

Mendengar nama 4 orang yang terpisah itu, semangat mereka semakin menggebu. Mereka sudah tak mempedulikan Sanji yang terlibat masalah dengan Nami dan Zoro, atau Robin yang putus kontak... dalam pikiran mereka hanya berputar-putar satu kata.

Reuni!

"Tu-tunggu, mereka berempat selain Zoro kan ada di luar negeri!" kata Chopper.

"Eh? Gampang lah, kita juga akan keluar negeri," kata Franky, enteng.

"HEEEEEEH?!" mereka tak percaya apa yang didengar.

"Aku akan membiayai kalian semua! Paspor, transport, akomodasi, bahkan akan kuberi uang saku!" kata si om dengan seringai lebar. "Uang bukan masalah! Om-om sepertiku pun juga ingin berkumpul bersama lagi seperti dulu! AW YEEEAH!"

"OOOOH!" semua orang berteriak penuh semangat.

"Lalu, setelah semuanya berkumpul, kita akan menemukan Luffy!"

"UWOOOOO!"

"Hidup Franky!"

Nami dan yang lain tampak amat bersemangat. Akhirnya, petunjuk besar yang mengarahkan mereka ke Luffy! Apalagi, mereka juga bisa menemui mantan anggota SH yang terpencar! Ini sungguh menarik!

Namun, ada yang berpikiran lain.

"... maafkan aku, semuanya."

-xXxXx-

"Serius, hanya kita berdua?!" pertanyaan Nami melengking di tengah riuh-rendahnya bandara Narita.

Usopp sering berpikir kalau Nami itu punya Haoshoku Haki, mengingat teriakan dahsyat dan karismanya yang bahkan bisa menundukkan Luffy dan kawan-kawan, tapi sepertinya itu hanya karena ia mudah emosi saja.

Si hidung panjang menghela napas panjang, dan menjawab, "Zoro dan Margaret nggak bisa ikut karena ada urusan, dan si Chopper harus menjaga kliniknya! Aku saja bisa ikut setelah mengajukan cuti yang berimbas pemotongan gajiku selama sebulan! Mestinya kau bersyukur ada aku yang menemanimu!"

Nami terhenyak, tak menyangka Usopp akan mengorbankan pekerjaannya demi ini, tapi... "Tentu saja aku khawatir kalau hanya berdua denganmu, soalnya tak ada ksatria yang bisa menjagaku selama perjalanan!"

"Oi, kita hanya akan ke Hong Kong, bukan ke pedalaman Amazon! Nggak ada yang perlu dikhawatirkan!"

"Bagaimana dengan triad dan sebagainya? Bukankah sebagai wartawan kamu seharusnya tahu soal bahayanya dunia bawah tanah?"

"Um, kita justru akan menemui triad, tahu."

Mendengar itu, Nami malah menggembungkan pipinya, "Mou, Usopp sudah tak bisa digoda ya, menyebalkan."

"Uuuh... tahu begini aku akan memohon sambil berlutut pada Zoro untuk ikut menemani kita... aku nggak tahan bepergian berdua saja denganmu-"

"Haaah?! Maaf, bisa kamu ulangi lagi itu di depan wajahku?!" Nami tersenyum, tapi Usopp bisa melihat Asura di belakangnya. Si hidung pinokio hanya bisa menelan ludah dan memalingkan wajahnya, ini hanya memberinya hadiah sebuah benjolan. "Jangan membuatku marah dong, Usopp. Aku lemah di udara panas seperti ini, kamu tahu..."

"Yeah, yang benar saja."

Jadi, Franky membagi tim menjadi 2. Dirinya, ditemani Barto dan Brook, akan menuju ke Mesir untuk menemui Robin. Sementara, Nami, Usopp, Zoro, dan Margaret ke Hong Kong menemui Bon-chan... atau begitulah rencananya, tapi Zoro dan Margaret tiba-tiba membatalkan kepergian mereka karena ada urusan mendadak. Chopper tidak bisa ikut karena harus menjaga klinik, sedangkan Jinbe berangkat sendirian menemui Shirahoshi.

"Aku bisa mengerti Margaret yang diseret arisan ibu-ibu guru di sekolah tempatnya mengajar, tapi Zoro? Dia pergi bersama Kuina ke Tokyo! Padahal kan, Kuina bisa menjaga dirinya sendiri!" gerutu Nami kemudian.

"Yah, kau tahu, sebentar lagi mungkin Roronoa Zoro akan menjadi Sasaki Zoro, jadi..."

Nami menggeleng-gelengkan kepalanya, gemas. "Nyebelin. Dari semua mantan SH, aku nggak menyangka si marimo idiot itu melangkahi kita."

...

"... mulutku terasa dilalap api dan perutku mendidih."

Baru beberapa saat menjejakkan langkah di Hong Kong, Usopp langsung menyeret Nami mencoba menu masakan China otentik. Nami memesan menu nasi Hainan yang "aman", tapi Usopp nekat memesan mapo tofu. Akibatnya bisa ditebak, setengah hari di Hong Kong dihabiskan pria itu di toilet, mengeluarkan organ dalamnya yang menjadi sate babat.

"Salahmu. Sudah kubilang, itu bukan saus mapo, tapi lautan minyak cabai. Kamu gila menghabiskannya," komentar Nami. Ia tak berniat menolong Usopp, biar tahu rasa.

"T-tapi! Pergi ke China... maksudku, wilayah persemakmuran China tanpa mencoba mapo tofu yang otentik, adalah sebuah tindakan kriminal!" Usopp menolehi pemandu mereka, "Benar kan, Catherine?!"

"Ho oh, betyul sekali, Usopp! Kamyu tahu sekali apa yang harus kamyu lakukan di sini," jawab... makhluk itu. Pria besar dengan dandanan menor dan jenggot yang belum selesai dicukur. Kalau kau seorang okama, mestinya dandan yang rapi dong! "Tapi, pedasnya masih kalah dengan versi Szechuan asli, lho. Jij harus mencobanya kapan-kapan di daratan utama."

"... ow, itu kalau perutku masih mau berkompromi setelah ini."

Catherine (nama asli Gatou) adalah pegawai bar Newkama Land di mana Bon-chan adalah manajernya. Dia disuruh menjemput kedua tamunya dan mengantarnya sampai ke bar. Untungnya Nami dan Usopp sudah terbiasa dengan tingkah genit Bon-chan, jadi menghadapi makhluk sepertinya bukan apa-apa.

"Jadi, setelah ini mau langsung ke Newkama Land?" tanya si makhluk jejadian.

"Hah? Apa tidak apa-apa?" Nami mengecek arlojinya, yang sudah dia sesuaikan dengan waktu lokal. "Masih jam 9 malam, kalian pasti sedang sibuk-sibuknya... aku tak mau mengganggu."

"Ihh, jij imut banget sih! Tapi tak apa, aku yakin bos bisa meluangkan waktu untuk menemui kalian!"

"Oh, baiklah kalau begitu. Ayo berangkat!"

"... ngomong-ngomong, aku pesan obat sakit perut. Kalau bisa, yang ilegal sekalian, biar ampuh."

Kira-kira setelah berjalan setengah jam, sampailah mereka di bar Newkama Land yang super ramai. Walaupun pelayan di sana adalah okama dan makhluk jadi-jadian lainnya, namun pengunjung tempat itu berasal dari berbagai kalangan. Pria berdasi, pemuda dari kampung sekitar, bahkan ada wanita juga. Yah, lokasi tempat itu memang sangat strategis sih. Terletak di pusat pertemuan antara 4 wilayah: distrik lampu merah, perkantoran, perkampungan, dan pusat perbelanjaan, Newkama Land tak ubahnya naga emas yang mengomandani 4 mata angin.

Feng shui tempat ini pasti luar biasa, pikir Nami.

Catherine mengantar dua tamunya ke pintu belakang bar, di mana beberapa okama kekar berdiri tegak. Wajah mereka sungguh bengis, samasekali tidak cocok mengenakan make-up menor. Nami dan Usopp menelan ludah melihat mereka, sembari berpikir kalau mereka-lah triad yang dimaksud Franky.

Ya, sejak awal, Momoiro Mansion di kota Raftel adalah basis dari kelompok dipimpin sang Raja Keajaiban, Emporio Ivankov. Di balik sikap konyol dan kemampuan memasaknya yang luar biasa, dia memimpin kelompok yakuza yang amat besar. Maka, tak heran bahwa Bon-chan, anak buahnya, dipercaya memimpin ekspansi kelompoknya ke daerah Asia lain, termasuk di Hong Kong ini.

Singkatnya, mereka ini triad impor.

Tapi...

"Tempat ini nggak seperti yang kubayangkan..." bisik Nami pada teman senasibnya itu.

"... eh, menurutku ini masih biasa kok. Kau perlu melihat ruang belakangnya, Nami, di mereka biasanya melakukan pekerjaan ilegal," komentar Usopp, santai.

Nami mengusap-usap lengannya yang merinding, pastinya bukan karena AC ruangan yang dinyalakan begitu kencang.

Bagian dalam Bar Newkama Land itu sungguh berbeda dari bayangan Nami. Ia pikir akan menemukan sofa kotor, tumpukan uang, puntung rokok di mana-mana, atau kumpulan obat tidak jelas... tapi kini mereka berjalan di tempat yang bisa disebut sebagai kantor. Ada meja-meja dengan tumpukan dokumen, beberapa Mac (karena desktop terlalu legal buat mereka), dan orang-orang yang bicara dengan serius di telpon. Mirip pekerja kantoran, kalau saja mereka tak mengenakan pakaian preman, dengan tato di mana-mana dan pucuk-pucuk pistol yang terselip.

Tapi itu justru makin mengkhawatirkan, karena mereka tampak sungguh profesional...

Tak lama, mereka sudah sampai di depan ruangan dengan kaca susu. Tampak tulisan bahasa Mandarin di pintu kayu tebalnya, yang segera diketuk dengan sopan oleh Catherine.

"Boss, tamunya sudah datang," katanya dengan bahasa Mandarin kental.

"Ajak mereka masuk."

Nami dan Usopp mengenali suara yang mirip Franky itu, seolah seiyuu mereka sama. Itu Bon-chan! Tak salah lagi. Teman lama mereka itu, bahkan dialek seperti apapun akan terdengar akrab.

Cklek.

Pintu kayu itu terbuka, dan tampaklah Bon-chan... yang mengenakan kemeja hitam. Dandanan menornya masih seperti dulu, tapi wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.

"Ni hao ma," sapa Usopp, tanpa gugup.

Bon-chan mengangkat alisnya, dan menyeringai, "Aiya, nggak usah berusaha terlalu keras, Usopp-kyun. Nada bicaramu salah, tahu. Siapa yang mengajarimu?"

Dia tetaplah Bon-chan yang mereka kenal, guru ilmu kewarganegaraan sekaligus penanggung jawab klub balet. Usopp segera menjabatnya erat-erat.

"Wahahaha! Tempat ini membuatku takut, tahu! Apa kabar?"

"Aku tak pernah merasa sehebat ini, ngahahahaha!"

Dan mereka langsung bicara seperti lelaki pada umumnya. Nami menghela napas lega, dan menghampiri kedua orang itu.

"Bon-chan."

"Hehey! Nami-chwan! Ih waw, jij makin sekseeeh ajah!" kata Bon-chan. "Sini, beri eike pelukan~"

Meskipun dia cowok tulen yang hanya berlagak okama, tapi Nami menganggap kalau Bon-chan itu sudah melampaui batasan gender. Jadi, ia memeluknya tanpa ragu.

"Senang bertemu lagi denganmu!"

"Eike juga, eike juga!" Bon-chan melepaskan pelukannya, alisnya berkerut. "Hmm..."

"Ke-kenapa?"

"Hm, 88... tidak, 90..."

Angka apa itu? Nami baru ingin menanyakannya, tapi Usopp nyelonong.

"Tepatnya, 92. Ckckck, sepertinya kau terlalu sibuk bekerja..."

"Sungguh? Dia pakai bra jenis apa sampai bisa menipuku sebanyak dua ukuran?!"

PLAK. DUAGH.

"Baru ketemu langsung membicarakan ukuran dadaku! Dasar cowok, di mana-mana mesum!" gumam Nami sambil mengibaskan tangannya yang belepotan darah segar.

Tapi rasa marahnya berganti ketakutan saat ia mendengar bunyi 'klik' yang sering ada di film-film laga. Ia ditodong pistol dari segala arah! Tentu saja, soalnya barusan ia menghajar pemimpin kelompok itu!

"B-Bon-chaaaan!"

Untungnya, Bon-chan segera bangkit dan mengangkat sebelah tangannya, membuat anak-anak buahnya menurunkan senjata.

"Kamu," Bon-chan menoleh ke Catherine, yang langsung menegakkan posisi berdirinya. "Tinggalkan kami sendiri, dan matikan CCTV-nya."

"T-tapi, boss..."

"Sudah kubilang kan, kalau mereka ini teman lamaku. Jangan mengganggu."

"S-siap!"

Setelah itu, pintu ditutup dan Nami serta Usopp pun sudah duduk manis di seberang Bon-chan, yang sibuk menuangkan teh untuk mereka. Ketakutan masih nampak di wajah Nami, sementara Usopp hanya mengelus-elus benjolnya dari Nami, samasekali tidak takut sepertinya.

"Jadi, beginilah eike sekarang. Dari guru, menjadi 'pemimpin cabang' kelompok yakuza..." Bon-chan memulai pembicaraan. "Bagaimana menurut jij sekalian?"

Nami dan Usopp saling menoleh.

"Um, menurutku itu hebat?" kata Nami kemudian.

"Yeah, aku juga nggak berhak menilaimu, Bon-chan. Seorang wartawan kan harus selalu netral," sambung Usopp.

"Ngahahaha! Itu membuat eike senang," Bon-chan membalikkan badannya, untuk menyajikan dua cangkir teh, beserta beberapa keping biskuit. "Maaf, eike hanya bisa menyuguhkan seadanya. Jij sekalian sampai kapan di Hong Kong?"

"Um, kami hanya berencana menemuimu, lalu pulang... tak enak pada om Franky yang membiayai perjalanan kami," jawab Nami.

"Heeeing?! Bentar amat! Tinggallah sejenak di sini, dua atau tiga hari! Jangan khawatir soal biaya perjalanan, nanti aku ganti ke Franky-chan, deh!"

Nami memilih untuk menyeruput tehnya mendengar tawaran itu. Mereka berdua memang tak ingin lama-lama di Hong Kong ini, selain karena alasan yang tadi, juga karena takut. Mereka berada di daerah kekuasaan yakuza, tahu?!

"Eh, nanti deh, kita pikirkan," jawab Usopp.

"Oi-?!"

"Daripada berusaha menyogok kami dengan masakan China, Bon-chan, kami lebih tertarik pada petunjuk yang kau miliki," Usopp mencondongkan badannya ke atas meja. Wajah wartawannya muncul. Dia kini seperti seseorang yang harus mewawancarai pemimpin geng saja (walaupun itu benar).

Bon-chan hanya mengangkat sebelah alisnya. Dia lalu menoleh kanan-kiri, seolah mencari penyadap atau apa, padahal dia sudah menyuruh anak-anak buahnya tidak mengamati mereka. Sepertinya dia hanya ingin meyakinkan dirinya.

"Kalian juga diberitahu Franky-chan soal 'itu'?"

"Hm? Benar. Kamu punya petunjuk soal Luffy kan?" tanya Nami.

Bon-chan tampak terkejut, "Eh? Mugi-chan? Kenapa? Apa dia sudah ditemukan?"

"Ehhhhh?!"

Karena sepertinya dia tidak tahu, Nami dan Usopp pun bergantian menceritakan maksud dan tujuan mereka jauh-jauh menemuinya di Hong Kong. Soal hipotesa Franky mengenai foto misterius Luffy, dan tujuan mereka untuk mempertemukan seluruh mantan anggota SH dan bersama-sama menemui Luffy. Selain itu, juga informasi bahwa Bon-chan sepertinya punya petunjuk tentang si anak hilang.

"Sejujurnya, eike lebih nggak tahu apa-apa soal Mugi-chan daripada jij sekalian-"

"Lah, terus kita kemari buat apa, dong?!" protes Usopp.

"Makanya, dengarkan aku dulu!" Bon-chan menepuk meja. Setelah kedua orang di depannya diam, dia melanjutkan, "Franky-chan menyuruhmu kemari, untuk mendapatkan petunjuk lain!"

"Makanya, apa?!" tak mau kalah, Nami juga menepuk meja.

Bon-chan menarik napas, "Tentang Sanji-kyun."

...

"Haaah?! Coba kau ulang! Sinyalmu parah sekali!" teriak Zoro di seberang telpon.

"Ini telepon interlokal, tahu! Bersabarlah!" Usopp membalas berteriak.

"Cih. Kalau begitu, aku akan cari tempat sepi," kata Zoro. Dia menyentuh pundak Kuina yang duduk di dekatnya, lalu berkata, "Aku tinggal sebentar, nggak apa-apa kan?"

"Ka-kamu harus kembali, ya! Jangan tinggalin aku!" kata Kuina, dengan mata berkaca-kaca.

"Nggak usah mendramatisir begitu, kau hanya akan melakukan wawancara setelah ini!" Zoro membalikkan badan dan berlari.

Tujuannya adalah toilet pria. Untung saja mereka tadi duduk di dekat toilet, jadi dia tidak tersesat. Bukannya Zoro akan tersesat sih.

Begitu sampai, Zoro langsung memasuki suatu bilik, menguncinya, dan memasang earphone. Dia lalu duduk di atas toilet.

"Aku sudah di sini. Jadi, apa yang akan kau bicarakan tadi?"

"Oke... sebelumnya, aku ingin tanya. Kau sudah mengurus paspormu?" tanya Usopp, suaranya terdengar lebih jernih sekarang.

"Sudah. Memangnya kenapa? Kau ingin aku menyusul kalian ke Hong Kong?"

"Nggak! Kita butuh dua... atau tiga hari. Setelah itu, kau bisa menyusul... eh, nggak, ajak Kuina juga. Waktu itu ujian beasiswanya pasti sudah selesai kan?"

"Haah?! Kenapa?"

"Karena kita akan berperang."

Zoro mengangkat sebelah alisnya. Usopp terdengar serius, seperti saat Defense of the High School, di masa lalu yang sepertinya amat jauh sekarang.

"Kita menemukan lokasi Sanji. Dia sedang di Amerika."

Zoro bangkit dari duduknya, tangannya mencengkeram HP-nya terlalu erat sampai terdengar retakan. Dia mengaplikasikan Busoshoku, dan bertanya, seperti menggeram.

"Bagaimana cara aku membawa katana ke dalam pesawat?"

"... kelompok Bon-chan di Jepang akan membantumu."

-xXxXx-

Robin sudah biasa menyelidiki.

Seorang arkeolog sepertinya memiliki pekerjaan ganda sebagai detektif, demi menyelidiki masa lalu yang jauh. Tempat Kejadian Perkara-nya adalah situs-situs penggalian bersejarah, petunjuk-petunjuknya berupa artefak, barang peninggalan, potongan tulang, atau bekas bangunan. Sedangkan pelaku yang meninggalkan semua petunjuk itu? Mereka adalah orang-orang yang hidup di masa lalu yang jauh.

Petunjuk atau keanehan sekecil apapun takkan luput dari perhatiannya. Sekecil apapun petunjuk yang ditinggalkan, itu adalah pesan dari masa lalu untuk masa depan.

Robin selalu berpikir, bahwa pekerjaannya ini sebenarnya cukup romantis. Bisa saja ia menjadikannya kekasih, fufufu.

Namun akhir-akhir ini pikirannya teralihkan dari "kekasihnya" itu.

Karena foto aneh yang diterimanya. Sebuah topi jerami berselimutkan salju dengan kata-kata misterius, "Di mana kalian?"

Sebagai arkeolog slash detektif, ia secara otomatis menyelidiki foto itu.

Obyek foto itu jelas adalah topi jerami milik teman lamanya, Luffy. Sementara, pertanyaan singkat itu digunakan si empunya untuk mengajak teman-temannya bereuni.

"Konyol," pikirnya. "Luffy yang kukenal takkan meninggalkan pesan tidak langsung seperti itu. Dia pasti akan muncul begitu saja dari udara kosong dan mengajaknya langsung."

Dari pemikiran itu muncullah pemikiran-pemikiran lain.

Apa yang terjadi pada Luffy? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia berada sekarang?

…..

Hari ini juga, Robin turun ke lapangan bersama timnya. Selama beberapa bulan ini, mereka berada di kompleks Lembah Para Raja, Mesir. Tempat yang cukup mainstream sebagai lokasi penggalian arkeologis, namun timnya menemukan sesuatu yang berbeda dari tim lainnya, yang cukup membuat mereka bergelut selama 2 tahun di sana.

Ya, tanpa terasa, sudah hampir selama itu timnya tinggal di negara lembah sungai Nil ini, menyelidiki makam, piramid, dan mayat berbalur balsam.

"Minggu terakhir, kah..." seorang rekan Robin, wanita tinggi bernama Wanda, berkomentar. Ia ini bagaikan anjing pelacak, dengan naluri tajamnya bisa menemukan lokasi-lokasi penggalian. Selain itu, ia juga mirip Nami dengan rambut oranye panjangnya, jadi Robin akrab sekali dengannya. "Dua tahun di tempat ini membuatku mirip mumi, kurasa."

Ketiga orang lain dalam mobil jeep itu mengangguk kompak.

"Apa rencanamu setelah penggalian ini berakhir, Robin?" tanya Carrot, anggota tim yang termuda. Gadis pirang itu berwajah bulat dan amat lincah seperti kelinci. Ia baru setahun lulus dari universitas, jadi semua orang memanjakannya.

Robin membersihkan kacamatanya dengan sapu tangan, senyuman misterius mewarnai wajah cantiknya, yang cukup gelap karena seringnya berada di padang pasir, "Yang jelas, aku ingin berlibur."

"Benar! Di manapun selain padang pasir, atau pantai! Pantai juga ogah! Terlalu banyak pasir! Sudah cukup aku melihat pasir sepanjang hidupku!" komentar pemimpin tim mereka yang menjadi sopir, Pedro. Berlogat Spanyol kental dengan rambut berombak liar seperti surai singa, dia sudah ada di Mesir selama 3 tahun lebih.

"Pekerjaan kita setelah ini menyelidiki Atlantis tahu, jadi pastinya kita akan sering ke laut... dan pantai," jawab Wanda, dingin.

"GAAAAAAHHHH!" Pedro meraung kesal.

"Oi, marahnya nanti dulu, kau sedang mengendara!" protes Carrot.

Benar, nyaris saja mobil itu menabrak sebuah dune pasir. Pedro mengumpat dan membanting setir ke kanan, menggoncang semua di dalam mobil itu, penumpang dan barang-barang lain. Robin dan kawan-kawan sudah terbiasa, jadi mereka sigap mengamankan diri sendiri dan barang-barang penting.

Tak lama, mrk sampai di lokasi penggalian mereka, di wilayah utara Lembah Para Raja di mana mereka berhasil menemukan sebuah piramid terbalik berukuran kecil. Namun, ukurannya yang kecil sungguh menipu. Di dalamnya, mereka menemukan sebuah sarkofagus emas dan 7 artifak aneh yang tertanam di dalamnya. Mereka sudah memisahkan artifak-artifak itu dari sarkofagus, dan kini saatnya membungkusnya untuk penelitian lebih lanjut di laboratorium utama tim di Eropa.

"Hm? Kok ramai sekali di sana?" komentar Pedro, melihat kerumunan orang di lokasi penggalian.

Karena penggalian sudah selesai, seharusnya sudah tak ada kuli lagi di sana, melainkan hanya seorang penerjemah bahasa Arab dan beberapa orang dari sponsor Pedro. Namun, hari itu entah mengapa suasananya ramai sekali.

"… aku melihat ada beberapa orang yang tak kukenal," komentar Wanda.

Berdecak, Pedro langsung menghentikan mobil dan meloncat keluar dengan wajah serius, khawatir kalau telah terjadi pencurian artifak atau semacamnya. "Ada apa ini?" tanya pria itu pada sang penerjemah. Bahasa Arab logat Mesirnya cukup bagus.

"Itu... ada wisatawan yang ngotot masuk ke area penggalian."

"Wisatawan?" komentar Wanda yang berlari kecil menyusul. "Aneh sekali. Tidak biasanya pemandu mengarahkan wisatawan ke area sini."

"Jangan-jangan, mereka beneran penjarah makam?" Carrot menyeletuk, membuat kedua seniornya menoleh, "Itu lho! Seperti yang di film-film 'Indiana Jones'! Penjahat yang menyamar jadi wisatawan untuk merebut artifak yang kita gali dengan susah payah!"

"Hahaha," Wanda tertawa kecil dan mengelus-elus kepala Carrot, membuat si junior mengerutkan alis. "Kalau kamu masih berpikir idealis seperti itu, artinya pengalamanmu masih kurang."

Sementara, si rambut singa menggeleng pasrah, "Yah, apapun itu, aku harus mengeceknya. Di mana mereka?"

"Akan kuantar, pak. Mereka ada di tenda utama."

Setelah Pedro berangkat, barulah Robin dating dengan mencabut kontak mobil di jari manisnya dan beberapa dokumen. Baru saja ingin bertanya, dia melihat... sebuah mobil jeep kuno berwarna biru terang, yang kemarin saat mereka meninggalkan lokasi tak ada di sana. Di atap mobil itu tampak logo... robot berjambul?

Yang amat familier buatnya.

Robin terdiam, wajahnya langsung memucat, "Tidak mungkin..."

"? Robin? Kamu kenapa? Seperti melihat mumi bangkit dari kubur," tanya Carrot.

"Maaf... sepertinya aku harus segera pergi dari sini," tanpa banyak bicara lagi, Robin berbalik dan berlari ke arah jeep milik Pedro.

"E-eh? ROBIN?!"

Bhak.

Robin menabrak sesuatu. Ia memang kalut melihat jeep biru berlogo aneh nan familiar itu, tapi tak mungkin sebegitu paniknya sampai tak menyadari kalau ia menabrak mobilnya Pedro... bukan, "Apa ini?"

Di depannya ada sesuatu yang tak kasat mata, yang menghentikannya. Robin meraba-raba benda itu, terasa halus seperti kaca, namun berdiri begitu saja di tengah padang pasir.

"Robin-senpai, kenapa langsung kabur? Itu dingin sekali, bahkan buatmu."

Terdengar suara asing dari seberang benda transparan itu. Robin pernah mendengar suara ini sekali sebelumnya, dari sebuah video call yang amat lama. "Satu-satunya yang memanggilku 'Robin-senpai', adalah anggota Straw Hats yang bergabung setelah aku mengundurkan diri..." Robin menurunkan lengannya dari benda itu. "Bartolomeo."

Whuut.

Dalam sekejap benda transparan itu menghilang, dan tampaklah sesosok pria besar dengan rambut jambul ayam berwarna hijau. Wajahnya cukup seram dengan tindik, tato, dan gigi tajam. Rupanya itu adalah barrier searah, Robin tak bisa melihat ke seberang sementara Barto bisa melihatnya.

"Senang sekali Robin-senpai mengenaliku-"

BAMMM!

Pasir di depan pria itu meledak. Bukan lebih tepatnya, ada sesuatu yang jatuh dengan kecepatan tinggi di sana. Robin hanya bisa menutup matanya agar tak kelilipan pasir. Setelah debu cukup turun, Robin pun bisa melihat Carrot yang memasang kuda-kuda siap bertarung.

"Penjahat!" teriaknya. "Sudah kuduga, kalian adalah gerombolan penjarah makam!"

"Whoa! Kaget aku! Kirain meteor atau apa!"

"Aku akan jadi meteor untuk melindungi tempat ini..." geram gadis kecil itu.

Tapi ini malah membuat seringai Barto melebar. Dia menggeretakkan jari-jarinya. "Hoo? Boleh juga! Kebetulan di Raftel sudah tak ada lawan sepadan! Akan kuladeni kau!"

"Tunggu-"

"Hentikan, Carrot!" tiba-tiba teriakan Pedro menggelegar. Tensi tinggi itu pun menurun, dan semua orang mengalihkan pandangan ke asal suara.

Tampaklah pria itu berjalan bersama 2 orang asing: seorang besar dengan rambut crewcut, dan seorang kurus tinggi berambut kribo. Mereka asing bagi Carrot dan juga Wanda, tapi tidak buat Robin.

"Yap, ketemu," kata si rambut crewcut.

"Sulit kupercaya dia masih di sini..." komentar si kribo.

Carrot bersalto ke depan Robin, lengannya menyilang untuk melindungi seniornya itu. Sepertinya niat bertarung anak itu masih ada.

"Siapa kalian?!"

"Seperti yang kau bilang tadi, gadis kecil, kita ini penjarah makam," jawab Brook. Carrot langsung mengarahkan nafsu membunuhnya kepada si kribo begitu mendengar jawaban itu, tapi dia malah tersenyum jenaka, "Dan incaran kami adalah 'harta karun' yang berdiri di belakangmu. Bukan begitu, Nico Robin-kun?"

Kalimat terakhir diucapkannya dalam bahasa Jepang.

Pedro, Wanda, dan Carrot menolehi sang tertuduh; kaget kenapa seorang berpendidikan tinggi seperti Robin bisa mengenal pria-pria berpenampilan preman seperti itu. Sementara yang menjadi pusat perhatian hanya memejamkan mata dengan alis berkerut.

"Benar... yang mereka cari itu aku," jawabnya sembari membuka mata dengan perlahan

...

"Kawan Robin semasa SMU, katamu?" komentar Wanda setelah trio Franky menceritakan asal-usul mereka. Mereka beralih ke tenda markas utama untuk berlindung dari matahari padang pasir yang membakar, "Bukankah selisih umur kalian terlalu jauh?"

"Aah. Lebih tepatnya aku dan Brook ini temannya di luar sekolah," sambung Franky, tangan besarnya menggenggam botol cola. "Sedangkan si Barto juniornya, yang terpaut 3 tahun."

"Terus, mau apa kalian di sini?" tanya Carrot, tegas. "Tak mungkin kalian jauh-jauh ke Mesir dari Jepang hanya untuk bertegur sapa dengan kawan lama kan?"

Franky memandangi anak itu, dan menoleh ke Pedro dan lalu Wanda yang sama-sama mengangkat bahunya. "Gadis cerdas. Langsung ke inti masalah, dasar semua ilmuwan sama saja..." om itu menenggak cola di genggamannya, dan mengusap bibirnya, "Singkatnya, kami membutuhkan Robin untuk menyelidiki sesuatu-"

"Menyelidiki keberadaan seorang teman," sambung Barto, menjelaskan.

Brook hendak menyela, lalu teringat bahwa kelompok mereka memang sudah berjanji untuk tidak menutup-nutupi kasus Luffy kepada siapapun. Bantuan apapun akan berguna, menurut mereka.

"Temanmu... yang bernama Monkey D. Luffy itu?" tanya Wanda. Ini menarik perhatian ketiga wisatawan palsu, "Robin sudah sering cerita pada kami. Sejujurnya kupikir dia kepikiran juga-"

"Wanda-!" si tertuduh berusaha mengelak, tapi ia hanya mendapat senyuman pengertian.

"-sehingga indeks pekerjaannya sedikit menurun. Orang lain mungkin takkan merasakannya, tapi aku ini wanita yang instingnya tajam."

Robin menggigit bibir bawahnya. Memang, seniornya itu sangat perhatian soal hal-hal kecil, seperti layaknya arkeolog lain sih.

"Begitu kata mereka. Bagaimana menurutmu, Robin?" tanya Pedro. Melihat juniornya itu diam saja, dia menambahkan, "Kamu tahu, pekerjaan kita sudah selesai di sini. Kalau hanya mengorganisir barang-barang temuan, kita bertiga juga bisa melakukannya dalam seminggu. Jadi, kamu bebas untuk-"

"Aku menolak," Robin memotong perkataan pemimpin timnya itu, dengan jawaban mengejutkan ini.

"HAAAAH?! Kenapa-" belum selesai Barto protes, Franky buru-buru menutup mulut lebarnya.

Robin membalikkan badan sehingga kini ia menghadap ketiga kawan lamanya itu. Wajahnya tampak datar, tanpa ekspresi... dan juga, tanpa keraguan sedikitpun.

"Franky. Kamu, dari semua orang, adalah yang paling tahu soal posisiku sekarang. Ini adalah pilihanku sendiri, jalan karir ini. Sensei seharusnya juga mengerti, karena sensei-lah yang mendorongku memasuki jalan ini. Semua yang kulakukan, semua keputusanku sejak meninggalkan Raftel 6 tahun lalu, adalah konsekuensi dari pilihanku. Ya… pilihanku untuk meninggalkan semua masa laluku di Straw Hats dan kota Raftel.

"Masa lalu yang ada padaku sekarang, hanyalah masa lalu umat manusia."

Barto tampak kaget. Dia baru tahu kalau penyebab Robin memutuskan hubungan dengan Straw Hats dan semua yang ada di Raftel adalah karena pengaruh kedua om itu. Apa maksudnya ini?

Franky menggaruk kepala berambut tipisnya, "Yaa, aku ingat pernah mengatakan itu. Aku dan Brook, lebih tepatnya. Bahwa salah satu cara untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan adalah dengan menyibukkan diri. Memaksa diri sendiri untuk lupa."

"U-umm, aku tak bisa mengikuti pembicaraan ini-"

"Ibuku meninggal dalam tahanan di tahun pertama kuliahku," jawab Robin, dingin.

"HAH?!"

Ini berita baru buat Barto, Pedro, Wanda, dan Carrot. Memang, Robin tidak suka membicarakan tentang dirinya sendiri, apalagi untuk berita seperti ini. Dan yang membuat lebih penasaran adalah…

"Tahanan…?"

Kata ini. Terlebih, "meninggal dalam tahanan", dengan kata lain, ibu Robin adalah seorang pelaku kriminal yang dipenjara?

"… kupikir, kalian harus mengetahuinya," Robin mengangkat wajahnya. Tak ada kesedihan di sana layaknya seorang yang telah kehilangan, hanya ada wajah datar yang menunjukkan bahwa ia sudah pasrah. "Ibuku adalah tahanan politik. Beliau dicurigai menyelami sejarah suatu negara terlalu dalam sehingga menemukan suatu hal tabu yang dianggap bisa mengacaukan stabilitas negara tersebut. Ia dan kawan-kawan penelitinya ditangkap, dan ditahan. Kejadiannya setahun sebelum aku masuk SMU. Kalian ingat, Franky dan Brook-sensei, ini penyebab aku selalu tinggal sendiri.

"Setelah itu, kondisi ibu terus memburuk, entah karena diperlakukan dengan buruk atau stress menghadapi penyelidikan kasusnya. Setahun setelah aku lulus SMU, beliau meninggal."

Barto pun tersadar. "Setahun" yang dikatakan itu, adalah 4 tahun lalu. Ya, waktunya sama dengan putusnya hubungan sang senpai dengan Zoro. "Ahh, jadi karena itu?"

Satu misteri telah terpecahkan.

"Satu-satunya keluargaku di dunia ini sudah tiada, dan aku bahkan tak bisa mengunjungi makamnya. Itu membuatku mengalami depresi berat. Kuliahku terbengkalai, kesehatanku menurun drastic, dan aku berhenti bersosialisasi. Saat itu situasiku begitu parah, kupikir bisa menyusul ibu kapan saja karenanya."

Robin lalu tersenyum. Itu bukan ekspresi yang pantas ditunjukkan seorang yang mengingat masa lalu yang menyakitkan.

"Tapi, aku beruntung. Memiliki teman-teman yang punya naluri tajam. Entah karena apa, saat itu Zoro, lalu Franky dan Brook-sensei tiba-tiba saja aktif menghubungiku. Baik lewat medsos, telepon, bahkan Franky pernah mampir ke Ohara. Mereka sangat membantuku melewati masa-masa terburuk selama aku hidup. Namun, kerusakan terlanjur terjadi. Kehilangan ibu yang sangat kucintai, walaupun jarang kutemui, membuatku jadi apatis soal hubungan interpersonal. Padahal itu sangat penting di bidang kuliahku.

"Aku tak bisa mendiskusikan ini dengan Zoro yang usianya dekat denganku, jadi aku minta petunjuk dari Franky dan Brook-sensei yang jauh lebih tua dari kami. Mereka memberikan saran sederhana: fokuslah pada diri sendiri."

Robin menolehi Barto, yang hanya bisa melongo, seolah ia menjelaskan ini hanya untuknya.

"Karena itulah, aku melepaskan semuanya. Rekan-rekanku selama kuliah, teman-teman dari Straw Hats, dan… Zoro. Aku ingin fokus pada satu hal saja, yaitu cita-citaku menjadi arkeolog. Dan aku berhasil sampai di sini."

Ia membuka lebar kedua tangannya.

"Aku berhasil mencapainya hanya dengan mengandalkan diriku sendiri."

Ini membuat shock para rekan arkeolog wanita itu. Mereka piker, Robin sudah membaur dengan tim, dan mereka sudah menganggapnya teman bahkan keluarga sendiri. Namun, ternyata perasaan itu bertepuk sebelah tangan; Robin hanya menganggap mereka sebagai rekan kerja.

Ini membuat Pedro memalingkan wajahnya karena kecewa, dan Carrot mencengkeram lengan baju Wanda dengan mata berkaca-kaca.

Di sisi mantan SH, Brook bersandar di meja kerja dengan sebelah tangan, dia terlihat sungguh tua saat itu. Franky memijat-mijat dahinya yang berkerut. Barto hanya bisa menatap tajam kedua pak tua itu; karena tindakan Robin selama ini secara tak langsung dikarenakan nasihat mereka.

Ya, nasihat mereka benar adanya. Menyibukkan diri untuk melupakan kesedihan, sehingga Robin bisa terus terfokus pada cita-citanya, seolah itu adalah tempurung untuk ia sembunyi. Tapi, setelah cita-cita itu tercapai, Robin tetap bersembunyi dalam tempurung.

Franky dan Brook merasa sungguh bersalah atas apa yang terjadi pada Robin sehingga ia jadi pribadi yang sangat tertutup seperti ini; pun juga pada Zoro dan kawan-kawan Robin yang ia tinggalkan dengan dingin.

Sementara, Wanda hanya bisa menghela napas. Sejak awal mengenal Robin, ia selalu berpikir kalau juniornya itu seolah memiliki medan yang menolak semua orang yang berusaha mendekatinya lebih dari poin tertentu. Meskipun di tempat kerja ia berkomunikasi dengan mereka secara normal, tapi ia tak pernah mau diajak bersosialisasi di luar pekerjaan. Ajakan makan malam, liburan, atau sekedar bertamasya selalu ia tolak dengan halus.

Rupanya itu alasannya…? Wanda merasa sedih mendengar ini, namun di sisi lain ia lega. Lega karena setelah sekian lama, ia akhirnya mengetahui sedikit tentang rekan kerja misteriusnya ini.

Karena itulah, hanya ada satu kalimat yang bisa diucapkannya. Satu kalimat ini, yang sejak dulu ingin sekali ia utarakan.

"... manusia tak bisa hidup dengan pilihan yang sepi seperti itu, Robin."

Robin memalingkan wajah ke arahnya, diikuti semua orang di dalam tenda itu.

"Melupakan kesedihan dengan fokus kepada satu hal saja, aku juga pernah melakukannya. Waktu aku putus dengan pacarku, aku melarikan diri ke pekerjaan, sampai tidak tidur 3 hari. Pedro juga pernah begitu, bedanya dia memilih ngacir dari pekerjaan untuk berlibur," Pedro hendak memprotes, tapi Wanda memandangnya tajam, membungkamnya.

Ia lalu menghampiri Robin, dan meletakkan tangan di pundaknya. Wanita itu tak mengelak maupun menepisnya, diam saja dengan kepala tertunduk.

"Robin. Kamu tadi bilang kalau kamu telah melupakan masa lalu dengan orang-orang terdekatmu demi menyelidiki masa lalu umat manusia… namun, kau tidak bisa melupakan ibumu."

Ini membuat Robin mengangkat wajahnya, yang nampak terkejut.

"Tentu saja! Ini ibuku yang kamu bicarakan, mana bisa aku-"

"Kau munafik," Wanda meludahkan kata itu. "Ibumu telah mengikatmu dengan 'rantai' berupa memori tentangnya, dan kematiannya."

Mendengar itu, Robin seolah mendengar bunyi 'cring', bunyi rantai yang bergoyang. Ya, rantai yang membelenggunya selama ini. Akhirnya ia menyadari keberadaannya.

Robin memejamkan mata.

Ya... ia bisa melihatnya. Ia diikat kencang oleh rantai perak, seperti warna rambut kebanggaan sang ibu. Kedua tangan, kaki, leher, perutnya, di mana-mana ada rantai yang terjulur ke dalam kegelapan tak berujung.

Ia tak bisa bergerak.

Tapi, herannya, ia merasa nyaman. Ia merasa tak perlu bergerak. Walaupun membelenggunya, namun ibu tetaplah ibu. Apalagi, beliau telah meninggal. Tentu saja ia takan bisa melupakannya!

"Kau tidak bisa hidup seperti manusia biasa selama rantai itu tidak kau lepaskan. Aku tidak bilang kau harus melupakan ibumu, tapi... sampai kapan kau mau terus begini, Robin? Kau sudah meninggalkan masa kuliahmu, kekasihmu, dan teman-temanmu. Namun, manusia tak bisa hidup sepertimu.

"Dan kalau masih belum jelas, ya, kamu itu manusia. Kalau bukan, kamu tak bisa jadi arkeolog, kan?" Wanda mengedipkan matanya. "Lagipula, bagaimana bisa seorang arkeolog mengerti pesan dari manusia di masa lalu, kalau dia sendiri membuang kemanusiaannya?"

"...!"

Jrash.

Kata barusan terasa seperti sebilah pedang yang menyabet "rantai" yang membelenggu Robin. Pedang tajam yang bisa memotong rantai. Kedua matanya melebar, dan ia menghela napas panjang.

"Benar. Selama ini aku... melarikan diri dari dunia dengan menggunakan ibu sebagai alasannya. Aku menjadikan saran dari Franky dan Brook-sensei sebagai kitab suciku. Mengabaikan orang-orang yang berusaha menggapaiku." pikirnya. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya. Rasa perih membuatnya semakin terfokus.

"Kamu kehilangan ibumu? Oke, itu memang masalah besar. Tapi ingat, kau masih belum kehilangan segalanya. Belum. Kamu masih bisa menggapai hal-hal yang kamu miliki... teman-temanmu."

Wanda menolehi trio SH, dan Robin mengikuti pandangannya. Di sana ia melihat Franky yang mengangkat kacamata hitamnya dan menangis deras, si sentimental itu. Brook hanya bisa geleng-geleng, sepertinya merasa bahwa sebagai orang paling tua di sini, dia kalah memberi wejangan. Sementara, Barto hanya diam mematung, sepertinya kebingungan.

Robin lalu kembali menghadap Wanda, dan meraih tangan wanita itu di pundaknya untuk melepaskan dan menggenggamnya lembut.

Ia lalu tersenyum, senyuman seseorang yang telah bebas.

"Aku... sepertinya mengerti-"

Clink!

Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk. Semua orang saling menoleh, penasaran ponsel siapa yang berani-beraninya merusak suasana ini.

Sembari berdecak kesal, Robin melepaskan tangan Wanda dan berjalan ke arah tasnya. Ia mengambil ponselnya, dan benar saja, ada pesan LINE masuk. Saat hendak membantingnya karena kesal momen penting seperti ini terganggu, ia tak sengaja melihat nomor si pengirim... dan nafasnya tercekat.

"Ini... nomor milik Luffy."

"HAH?!" Franky, Brook, dan Barto berteriak kompak. Mereka pun bergegas menuju Robin, dan berebut mengintip dari balik punggungnya.

Robin memejamkan mata sejenak, lalu membuka pesannya. Benar, itu masuk ke nomor pribadi Robin, terlebih lagi ke akun LINE-nya.

Isinya adalah sebuah foto.

Sepertinya itu adalah bagian dari foto yang lebih besar, karena hanya tampak sebagian dari objek utam, dengan pinggiran yang di-crop dengan kasar. Walaupun hanya sebagian, objeknya sudah tampak sangat jelas, karena itu adalah objek yang sama dengan foto sebelumnya, yang sudah sangat dihapal mereka berempat.

Sebuah pilar batu dengan topi jerami lusuh di atasnya, berdiri kesepian di tengah padang rumput pucat.

Di bawah foto itu ada sebuah pesan singkat.

"Aku di sini."

...

Momen kedatangan pesan itu terlalu pas.

"Ada yang aneh di sini..." pikir Brook.

- To be continued -


Next

Chapter IV

Oh, I'll tell you all about it when I see you agan