Hadiah akhir tahun!
Oke, sebelumnya pengakuan. Jadi rencananya fic ini hanya akan sampai 5 chapter, tapi karena ceritanya terus berkembang, maka akan aku tambah jadi sekitar 6-7 chapter. Chapter ini saja sebenarnya bisa 8.000 kata lebih.
Oh ya, sebelum tahun baru rencananya aku akan buat one-shot untuk Pokemon Sun & Moon.
When I See You Again
One Piece © Eiichiro Oda
Chapter IV
Oh, I'll tell You All About it when I See You Again
Shirahoshi selalu merasa takut.
Sejak kecil ia cengeng, manja, dan penakut; membuat para kakak dan kedua orangtuanya tak bisa meninggalkannya sendirian atau ia akan meledak dalam pancuran air mata. Sifat buruk itu tetap ada sampai ia duduk di bangku SMU.
Namun pertemuannya dengan Luffy sedikit banyak mengubahnya.
Ia tetap cengeng, tapi ia jadi lebih berani untuk melawan.
Contohnya waktu ia maju di pemilihan ketua OSIS SMU Ryuugu, melawan Hody Jones dan kroni-kroninya. Terinspirasi Luffy yang terpilih untuk periode kedua dan dorongan dari Jinbe, Shirahoshi mencalonkan cerita, ia menang telak. Selain karena reputasinya sebagai murid teladan dengan banyak prestasi dan jajaran pendukungnya yang militan, popularitas Hody juga hancur setelah kegagalan mereka di event "Defense of the High School".
Namun yang terjadi selanjutnya lebih mengejutkan.
Shirahoshi mengundang Hody ke kabinet OSIS-nya yang baru. Sepertinya ia juga mengambil beberapa halaman dari teknik kepemimpinan Luffy... dan itu berhasil menyatukan SMU Ryuugu yang terkenal teritorial. Maka, setahun kepemimpinannya mengubah Ryuugu secara drastis, menjadikannya sekolah yang lebih ramah.
Selama itu juga, Shirahoshi terus berubah. Mungkin dikarenakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, atau memang sudah saatnya bagi ia untuk menjadi lebih dewasa. Orang bilang, kekuasaan dan pengaruh bisa mengubah seseorang, tapi itu tidak selamanya buruk... dan itulah yang terjadi pada sang putri Ryuugu.
Namun, kini Shirahoshi yang telah berubah, kembali merasakan takut setelah sekian lama.
…..
"Jinbe-oyabun, selamat siang!"
"Selamat siang!"
Sapaan itu menggema di koridor. Jinbe memang bukan petinggi perusahaan Ryuugujou, tapi semua karyawan di sana menghormatinya bak seorang bos. Ini karena kebanyakan pegawai perusahaan itu adalah lulusan SMU Ryuugu. Jinbe menyapa balik mereka dengan singkat sementara kakinya menghantarkan dia ke tempat tujuannya.
Ruangan Shirahoshi berada di lantai 2 kantor pusat Ryuugujou, dan untuk mencapainya, dia harus melewati pemeriksaan tim sekuriti. Tapi, begitu melihat sosok besarnya, tim langsung mempersilahkannya lewat.
"Selamat datang, oyabun!"
Jinbe tersenyum melihat mereka. Mantan anggota geng Shin Gyojin: Hody Jones, Vander Decken, dan Hyouzou, yang saat itu tengah menjalani shift. Para berandalan pemberontak aturan itu, kini menjadi orang-orang kepercayaan Shirahoshi.
Satu lagi hal yang ditiru Shirahoshi dari Luffy, adalah kemampuan untuk menjadikan lawan sebagai kawan.
"Hody Jones. Apa nona muda Shirahoshi ada di ruangan?" tanya Jinbe.
"Benar. Dia sudah menanti kedatangan anda."
"Hm. Baiklah kalau begitu," Jinbe berjalan menuju pintu masuk ruangan Shirahoshi, tapi sebelum mengetuk, dia membalikkan badannya."Ngomong-ngomong, yang benar 'beliau'."
"Jahahaha, sayangnya dia nggak pernah suka dipanggil 'beliau'," jawab Hody, disambut tawa renyah kedua rekannya.
Sepertinya karena mendengar itu, Shirahoshi yang di dalam ruangan menyadari kedatangan Jinbe. Maka, suaranya muncul dari speaker di dekat pintu, "Jinbe-oyabun kah itu?"
"Benar. Apa aku boleh masuk?"
"Tentu saja! Silahkan."
Pintu di depannya pun terbuka secara otomatis, dan Jinbe melangkah masuk. Dia langsung disambut ruangan serba biru laut yang menentramkan hati. Ini adalah ruang kerja pemimpin subdivisi Ekspor dan Impor perusahaan Ryuugujou, yang kini ditempati Shirahoshi yang menggantikan sang kakak, Manboshi, untuk sementara. Wanita muda berambut pink ikal itu segera bangkit dan menundukkan kepala dengan hormat.
"Selamat siang, oyabun."
"Ya, selamat siang," sapa Jinbe, ringan sekaligus sopan. Dia berjalan menuju kursi di depan meja kerja Shirahoshi, dan merebahkan diri. Badan besar itu menimbulkan bunyi gemeresak yang mengkhawatirkan, apa kursi itu bisa menahannya. Pak tua itu menggeram, "Ah... lain kali mintalah Hody dan yang lain untuk mempersiapkan kursi yang sedikit lebih besar untukku."
Mendengar protes itu, Shirahoshi tertawa kecil. Kedewasaan membuatnya semakin cantik, wajahnya yang bulat menjadi panjang dan fitur-fiturnya menajam. Kini ia tampak mirip sekali dengan ibunya semasa muda dulu, pemandangan yang membangkitkan rasa nostalgik di hati sang oyabun. "Jinbe-sama masih tetap gemuk, ya. Sepertinya anda sehat-sehat saja."
Jinbe melihat sedikit lingkaran hitam di bawah kedua mata sang putri yang tampaknya tidak berhasil disembunyikan sempurna oleh polesan bedak, tapi dia tidak mengomentarinya, "Heh! Gemuk ini bukan karena lemak, tapi otot. Apa kamu mau dengar persentase lemak badanku?"
Shirahoshi tertawa lagi, "Ehehehe. Senang bisa bertemu lagi, Jinbe-oyabun."
"Sama-sama, anakku. Kudengar dari Hody dan yang lain, sepertinya kamu cukup bisa beradaptasi dengan pekerjaanmu."
"Um, mereka terlalu memuji. Manboshi-oniisama sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan amat rapi sehingga saya tinggal melanjutkan kerja bagusnya," Shirahoshi berkilah, rendah diri, "Apa anda ingin sesuatu? Di luar cuacanya panas, sepertinya teh barley akan sangat menyegarkan."
"Tidak perlu," dan wajah Jinbe langsung bertransformasi, dari wajah seorang paman baik hati menjadi wajah guru yang serius, "Melihatmu yangseperti ini, sepertinya aku takkan lama-lama di sini."
Dengan itu, ekspresi ramah Shirahoshi pun meluntur. Ia mematikan sambungan telpon, dan menghela napas panjang. Gurunya semasa SMU ini masih saja peka.
"Penata make-up-mu kurang bagus, nak. Aku masih bisa melihat kalau kamu kurang tidur," jawab Jinbe sambil menunjuk kelopak bawah matanya. Melihat Shirahoshi memalingkan wajahnya seolah ingin bersembunyi, pria itu memajukan posisi duduknya. "Masih memikirkan pesan yang kamu dapat itu?"
Entah apa suasana di ruangan itu bisa jadi lebih berat lagi dengan pertanyaan barusan.
Shirahoshi tak menjawab, tapi diamnya wanita itu sudah menjadi jawaban bagi Jinbe. Pria tua itu menghela napas. "Sampai kapan kamu mau melarikan diri?"
Sang putri Ryuugujou seolah semakin tenggelam di kursi kerjanya, kembali menjadi dirinya semasa SMU dulu, yang cengeng dan penakut. Ya, sifat buruknya itu seolah kembali tiap seseorang menyebutkan soal 'pesan itu'.
Beberapa minggu lalu, dunia Shirahoshi yang sibuk menyenangkan, menjadi kelabu karena sebuah pesan gambar misterius, yang tak ada identitas pengirimnya.
Punggung kecil namun tangguh seorang pria dalam balutan jaket kulit berwarna merah membara, lalu jeans sepanjang lutut yang tidak cocok dengan setting gambar itu: sebuah hamparan salju. Pria itu berkacak pinggang, dan walaupun wajahnya tak terlihat, Shirahoshi bisa membayangkannya tengah menyeringai, senang menghadapi tantangan yang dilemparkan alam keras di depan sana.
Itu jelas, foto dari seorang Monkey D. Luffy.
Seorang dari masa lalu yang berusaha ia jauhkan dari kehidupan profesionalnya sekarang; seorang yang amat berjasa bagi dirinya.
Shirahoshi sebelumnya telah menerima pesan yang sama dengan yang diterima mantan kawan-kawannya di SH, yang berisikan foto Luffy dan pertanyaan "Di mana kalian?"
Namun, ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya selama sang kakak belum kembali dari urusannya di luar negeri; divisi itu cukup vital bagi perusahaan Ryuugujou. Maka, ia tak pernah sempat menghadiri pertemuan teman-temannya mantan anggota SH; ia selalu mendapat informasi mengenai hasil pembahasan pertemuan itu dari Jinbe.
Tapi, foto itu tetap mendatanginya.
Hal pertama yang ia lakukan setelah mendapatkannya, adalah menghubungi Jinbe. Bukan mantan anggota SH yang lain, melainkan Jinbe, yang notabene "hanya" mantan anggota kehormatan. Apakah ini karena ia tak mempercayai yang lain? Mungkin benar.
Bagaimanapun, ia hanya menjadi anggota SH hanya selama beberapa bulan, sebelum kelompok itu dibubarkan. Waktu pembubaran itu, ia ikut menangis… tapi jauh dalam hatinya, ia merasa tak berhak menangisinya lebih dari mereka yang bergabung lebih lama darinya.
Setelahnya, ia benar-benar menghilang dari SH: tidak pernah aktif di grup media sosial, tak pernah ikut acara reuni atau gathering... karena menurutnya, seorang anggota yang tidak terlalu merasakan kehilangan tak berhak terlibat lebih lama.
Apalagi, ia sudah tak bisa bertemu Luffy lagi. Jadi, apa gunanya mengikuti kegiatan-kegiatan itu?
Sebagai gantinya, Jinbe jadi aktif. Menggantikannya datang ke pertemuan-pertemuan, sekaligus menjadi sumber informasinya mengenai teman-teman singkatnya itu.
Bisa dibilang, Shirahoshi sudah tak mau terlibat lebih jauh, tapi...
"Kenapa saya...?" sang putri berucap lirih, setelah bungkam cukup lama. Kepalanya masih menunduk, bayang-bayang rambut menutupi ekspresi wajahnya. "Kenapa, setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari SH setelah sekian lama, foto itu tetap datang?"
Jinbe hanya bisa mendesah mendengar pertanyaan itu; pertanyaan yang sama, yang terus diulangi Shirahoshi tiap kali membahas pesan yang diterimanya.
"Berapa kalipun kamu menanyakan ini padaku, aku tetap tak bisa menjawab. Kamu sendiri-lah yang harus menemukan jawabannya."
Jinbe menatap sekeliling ruangan luas itu, yang terlalu besar, sebesar tanggungjawab yang dititipkan pada . Ditambah dengan masalah pesan dan foto dari Luffy itu, membuatnya semakin gamang.
"Luffy-kun itu, selalu menyusahkan orang," Jinbe menyeringai kesal. Dia melipat lengan besarnya, dan berkata, "Kamu tahu, Shirahoshi-kun..."
Mendengar namanya dipanggil, sang tuan putri mengangkat wajahnya. Jinbe bisa melihat lingkaran di pelupuk matanya menjadi semakin jelas, namun tak ada pipi yang basah.
"Aku tak tahu apa maksud Luffy mengirimkan foto itu, ataupun di mana dia berada sekarang. Nami dan yang lain kini tengah menyelidikinya tanpa lelah, mengorbankan masa liburan atau pekerjaan mereka. Tadi kamu bilang, kamu sudah melepaskan diri dari SH? Begitu juga mereka.
"Sudah tidak ada embel-embel SH yang menempel pada mereka semua, sudah tak ada hubungan kelompok atau geng SMU itu. Mereka melakukan ini, mencari Luffy, karena dia adalah seorang teman. Mereka – termasuk aku juga – selalu dibantu Luffy. Maka, sekarang inilah giliran kita membantu Luffy. Dan caranya, tentu saja, adalah dengan menemukan dia."
Shirahoshi tak berkedip mendengarkan penjelasan itu.
"Tapi walaupun begitu, Luffy tetap berniat membantu kita, dasar tukang merepotkan diri itu. Dia memberikan petunjuk yang aneh dan menarik untuk mengumpulkan kita semua. Teman-temannya yang sudah sulit berkumpul karena kesibukan dan pekerjaan. Dan, dia juga ingin membantumu."
Jinbe bisa melihat kilapan di kedua mata Shirahoshi.
"Pesan... foto yang dikirimkannya padamu, adalah bantuan darinya. Untuk menarikmu keluar, sehingga bisa menemui kawan-kawan lamamu dari SH. Foto itu dating padamu karena kamu juga seorang anggota SH, walaupun mungkin kamu merasa tidak pantas.
"Nah, lihat kan? Walaupun situasinya tidak jelas begini, Luffy-kun masih bisa menemukan cara untuk membantu seseorang. Pria yang luar biasa."
"Tapi, saya-" Shirahoshi menelan ludah, terasa amat berat di kerongkongannya yang kering. "Saya tak pernah membaur dengan anak-anak SH, tak pernah akrab dengan mereka, selain dengan Luffy-sama. Apa...saya berhak menerima bantuannya?"
Jinbe menghela napas panjang. "Kamu bicara apa lagi? Bukankah sebelum kamu bergabung dengan SH pun, kamu sudah sering dibantu Luffy?"
Ah, Shirahoshi teringat.
Waktu dia dikerjai anak-anak Shin Gyojin di awal masuk SMU, pertemuan pertamanya dengan Luffy, lalu diberi semangat saat Davy Back Fight, sampai bantuannya saat Defense of the High School dan perekrutannya ke SH beberapa bulan kemudian... Luffy selalu membantunya, bukan begitu?
"Luffy tak pernah membeda-bedakan orang yang akan dia tolong," Jinbe menyeringai melihat semangat yang mulai muncul di wajah sang putri Ryuugu itu, "Dan, sepertinya aku bisa mengerti maksud bantuannya padamu kali ini.
"Tadi kamu juga bilang kalau kamu tidak terlalu akrab dengan mantan SH yang lain, bukan?" Shirahoshi mengangguk singkat."Nah, dengan ini kamu akan bisa akrab dengan anak-anak itu, ikutlah dalam penyelidikan mereka, dan... temukanlah Luffy. Tidak ada kata terlambat untuk memulai."
Jinbe membuka kedua tangannya, "Karena mereka akan selalu membuka tangan lebar-lebar menyambutmu kembali."
Ah, Shirahoshi bisa melihat bayangan mereka.
Nami dan semua orang di SH tersenyum padanya... dan Luffy sendiri, berdiri di tempat yang tadinya ditempati Jinbe, mengulurkan tangan padanya dengan seringai yang hangat seperti matahari. Mengajaknya untuk berpetualang bersama, seperti dulu.
Ya... kalau dipikir-pikir, ini tak ubahnya ajakan petualangan dari Luffy, bukan?
Maka, Shirahoshi pun mengangkat wajahnya, yang kini menampakkan ekspresi seseorang yang telah menemukan jalan. Walaupun ia masih terlihat lelah dan kusut, tapi kedua matanya berbinar penuh semangat. Jinbe menghela napas lega.
"Jinbe-oyabun... temani saya menemuinya."
Permintaan ini membuat sang oyabun mengangkat sebelah alis, "Hm? Menemui Luffy? Belum, kami belum menemukan dia-"
"Saya tahu itu. Maksud saya adalah pengirim foto ini," kata Shirahoshi sembari menyodorkan foto itu pada Jinbe, "Saya... sebenarnya sudah menyelidiki ini dari awal saya menerimanya. Dan minggu kemarin, Hody dan yang lain berhasil menemukan petunjuk. Pengirim foto ini bukan Luffy, ataupun mantan anggota SH lain."
Shirahoshi menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Jinbe, yang cukup menggembung karena banyaknya data dan dokumen di dalamnya. Tanpa bertanya, pria besar itu membukanya… dan kedua matanya terbelalak, tak percaya.
"Ya, pengirim foto ini adalah...
Seorang aktris Hollywood yang cukup dikenal Jinbe dan semua orang di kota asalnya, Raftel.
"Boa Hancock-sama."
-xXxXx-
"Fuh..."
Asap rokok mengepul hangat di tengah hujan yang mengguyur pinggiran kota Boston. Tapi, meskipun dibilas air dari langit, pria itu tidak merasa bersih. Bukan, ini bukan karena dia berdiri di tengah sebuah gang kecil dan kotor, di antara tempat sampah dan tikus-tikus kota yang sebesar kucing. Paling tidak, benda-benda itu adalah hal yang "alami" berada di sebuah kota besar.
Tidak sepertinya.
Dia, yang berdiri dengan tenang di atas genangan lumpur bercampur darah dan sebuah kepala yang retak, merasa dirinya bukanlah suatu hal yang alami.
Pria itu, Sanji Vinsmoke.
Anak keempat dari keluarga pembunuh, para Vinsmoke. Keluarga itu secara turun-temurun memimpin kelompok pembunuh bayaran, Germa 66. Mereka adalah pembunuh bayaran yang "legal", jasa mereka digunakan oleh berbagai pihak bahkan pemerintah. Anggota intinya, keluarga Vinsmoke, bisa dibilang adalah "bayi desain", yang telah dimodifikasi habis-habisan bahkan sebelum lahir, untuk menciptakan generasi penerus super yang menjanjikan keabadian nama Germa 66 dan Vinsmoke di dunia bawah tanah.
Ya, Sanji merasa dia tak ubahnya gedung-gedung tinggi pencakar langit yang menaungi kota yang disebut pusat dunia itu; sesuatu yang tidak alami.
Dia tak pernah menceritakan asal-usulnya kepada seorangpun yang dia kenal selama 23 tahun hidupnya. Bahkan ke teman terdekatnya ataupun gadis yang dia cintai pun tidak. Dia tak mau melibatkan kawan-kawan pertamanya itu dalam kegelapan dan jeratan leher (secara harfiah) Germa 66.
Menggigit filter kreteknya yang mulai basah, Sanji meraih ponsel dan menghubungi nomor pertama yang terpampang di layarnya.
"Misi selesai, kak Reiju."
Suara wanita dewasa menjawab dari seberang sana, satu-satunya wanita di keluarga inti Vinsmoke. "Aah, kerja bagus, Sanji. Kami akan segera ke sana untuk membereskan sampahnya."
Cklek.
Hanya itukah yang bisa dibicarakan oleh kakak dan adik? Reiju Vinsmoke memang kakaknya, tapi di pekerjaan kali ini, ia adalah atasan sekaligus pengawasnya, menurut Ichiji sang kakak lelaki tertua. Walaupun pria itu tak pernah memperlakukan Sanji seperti adik, tapi paling tidak dia memperlakukannya sebagai seorang rekan kerja yang profesional.
Tak lama, sebuah sedan hitam memperlambat lajunya di ujung gang. Sanji mematikan rokoknya di telapak tangan dan berjalan perlahan ke sana, sementara beberapa orang berbadan besar melewatinya untuk membereskan "sampah", alias target misi ini.
Seorang supir membuka pintu belakang mobil itu, dan Sanji mendapat sambutan berupa pelukan hangat dari kakak tersayangnya, yang sedikit menghilangkan dingin akibat guyuran hujan selama misi tadi.
Reiju melepaskannya, dan dengan senyuman tipis selayaknya seorang pebisnis yang menghadapi klien, ia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Sanji duduk dan menyerahkan sebuah arloji.
"Lima menit? Lama sekali," Reiju tampak kecewa, walaupun senyum di wajahnya menggoda.
"Tak ada informasi kalau dia didampingi bodyguard," kilah Sanji sembari melepaskan jasnya. "Yang lama adalah menghabisi dan menyembunyikan mayat bodyguard itu."
"Berarti informan kita kali ini kurang bagus. Akan kulaporkan ke Ichiji," Reiju membuka ponselnya. "Hmm, dengan kata lain, kamu hanya butuh 30 detik untuk menghabisi target, bukan?"
Sanji menanggapi itu dengan senyuman, "Aa. Kak Reiju terlalu baik."
"Fufufu. Biarkan aku memanjakan adikku yang paling manis."
Ngiiing... jendela mobil itu diturunkan. Mereka berdua bisa melihat wajah seorang bawahan yang dibayangi topi lebar.
"Sampah sudah dibuang ke tempatnya."
"Kerja bagus. Kita segera kembali ke hotel untuk briefing target selanjutnya," kata Sanji.
Reiju mengangkat alis melingkarnya – fitur yang sama dengan seluruh keluarganya, "Terburu-buru sekali. Apa kamu tidak capek?"
Sanji menangkap nada tuduhan di pertanyaan sang kakak. Benar, Reiju memang di sini untuk mengawasinya. Percuma berbohong atau membuat alasan, "Yah, soalnya ini yang terakhir."
"Oh, benar," Reiju melirik layar ponselnya, yang menyala karena pesan balasan dari Ichiji sudah masuk. Isinya singkat seperti biasa, "Dan Ichiji sudah mengizinkan."
"Tumben dia pengertian?"
"Bagaimanapun kejamnya kakak-kakakmu dan Yonji, mereka jelas bersimpati pada seseorang yang akan mencicipi 'kuburan kehidupan'," Reiju tertawa kecil. "Kamu tahu, Ichiji kapan hari mengundangku berpesta diam-diam, karena berhasil memaksa ayah menjodohkanmu ke keluarga Linlin, 'menyelamatkannya'."
"Betapa beruntungnya aku," Sanji berucap, sarkas, "Putra yang terbuang, bisa menikahi putri cantik dan kaya dari rekan bisnis kita."
"Yah, yang namanya pria pasti lebih suka kalau mereka hidup bebas tanpa ada ikatan."
Mendengar itu, Sanji tersenyum usil, "Kak Reiju sendiri? Apa tak ingin pensiun dini, lalu mencari pria tampan dan kaya sehingga bisa meninggalkan keluarga ini?"
"Mana bisa," Reiju menjawab, dingin. Sanji merasa suhu AC di mobilnya turun beberapa derajat, dan menelan ludah. Apa dia sudah terlalu lancang?
Namun, Reiju tersenyum kemudian, "Aku kan harus menjaga adik-adikku yang manis dan ayah. Bagiku, merekalah pria tampan dan kaya, yang menurutmu kubutuhkan."
"Oh? Hahaha, jadi malu," Sanji menggaruk kepalanya.
Tapi, senyuman Reiju tidak juga hilang, dan ini membuatnya grogi.
"Um... kakak bilang itu secara kekeluargaan, kan?"
"Entahlah, ya... ayah selalu bilang untuk menjaga darah murni keluarga Vinsmoke," Reiju beranjak dari tempat duduknya, dan menatap Sanji dalam-dalam. Jari lentiknya ia angkat, menyentuh dasi biru sang adik, menggerakkannya naik-turun.
Sanji menelan ludah.
"Aku sering berpikir, bahwa keluarga Vinsmoke ini seperti keluarga kerajaan saja. Jika ingin menjaga darah murni, kudengar mereka melakukan pernikahan sedarah, antara kakak-adik. Dengan kata lain, bukankah itu berarti aku harus menikahi salah satu dari kalian berempat?
"Dan daripada Ichiji, Niji, atau Yonji, aku memilihmu."
Perkataan sang kakak... entah mengapa, cukup masuk akal. Walaupun hatinya berteriak kalau ini tindakan amoral!
"Fufufu, bercanda," Reiju melepaskan Sanji, dan merebahkan dirinya, "Yang benar, aku masih belum menemukan pria yang tepat bagiku dan tentunya sesuai kriteria ayah."
Sanji kembali menarik napas, yang entah sejak kapan tertahan.
...
Sesuai hasil negosiasi dengan Jajji Vinsmoke, Sanji diperbolehkan meninggalkan keluarga untuk sementara setelah dia menyelesaikan 3 misi.
Tentunya, misi pembunuhan.
"Perkara mudah."
Bagi Sanji yang sekarang, harga nyawa 3 targetnya (dan para bodyguard, juga saksi, kalau ada) tidak sebanding dengan kesempatannya pergi. Untuk memperbaiki semuanya untuk yang terakhir kali dengan teman-teman lamanya, dengan mantan anggota Straw Hats.
Dengan Nami. Ya, terutama dengannya-
"Kau dengar?!" suara menjengkelkan Ichiji terdengar dari seberang sana, membuyarkan lamunan Sanji.
"Ah... ya. Maaf."
"Tentu saja kau harus minta maaf! Aku nggak mau mengulang penjelasanku selama 5 menit barusan, berada di Kuba membuat mulutku cepat kering, tahu!"
"Bah, Ichiji, kau terlalu serius!" teriak Niji dari latar belakang, "Biarkan Sanji mengerjakan misinya tanpa petunjuk, minumanmu jadi nggak dingin lagi, tahu!"
"… kuanggap kau sudah mengerti, hei adik ketiga. Deadline-nya jam1 malam waktu Amerika, kau dengar?! Ichiji out," dan sang kakak pria tertua menutup teleponnya.
Sanji menatap layar ponselnya dan menghela napas panjang.
Targetnya kali ini adalah seorang pengusaha muda. Dia sepertinya bekerjasama dengan suatu kelompok mafia untuk melindungi bisnisnya, tapi setelah sukses dia tak mau membayar biaya perlindungan. Parahnya, dia membunuh penagih dari kelompok mafia itu dan kabur keluar negeri. Maka kelompok mafia itu mengajukan permintaan untuk membunuhnya. Jika sukses, mereka akan mengambil alih bisnis orang itu, sekaligus mendapatkan beberapa kali lipat dari hutang si pengusaha.
"Oi, kalian serius mau membunuhnya hanya karena ini?" komentar Sanji untuk yang kesekian kalinya.
"Sanji, 400 juta beri itu jumlah yang banyak," jawab Reiju. Ia tersenyum usil, "Ini bisa digunakan untuk menambah biaya pernikahanmu, bukan?"
"Haah. Kamu nggak perlu mengingatkan soal pernikahan tiap 3 hari," Sanji memasukkan ponsel ke sakunya, kemudian beranjak keluar mobil. Arlojinya menunjukkan pukul 23.20 waktu Amerika Serikat; waktunya masih banyak, tapi dia tak mau berlama-lama di sini.
Tim mereka berada di luar sebuah motel tempat si target berada, informasi ini didapatkannya dari orang-orang Vinsmoke 2 jam lalu. Targetnya itu tampaknya sendirian, tak sadar bahwa kelompok mafia yang dikhianatinya telah memberi harga untuk kepalanya.
"Karena berani membohongi mafia, kupikir dia itu pintar."
Tak banyak berpikir lagi, Sanji meloncat ke lantai 2 motel dan mendarat tanpa suara di balkon kamar yang ditempati si target. Gordennya tertutup dan lampu di dalam menyala redup, apakah dia tidur?
Semakin idiot saja orang ini, Sanji hampir merasa kasihan padanya.
Sanji melubangi jendela kamar itu dengan pemotong kaca, dan membukanya perlahan. Bunyi klik terdengar-
Dan saat itu juga dunianya meledak dalam cahaya.
BLAAAARRRR!
Reiju keluar dari mobil untuk menyaksikan kobaran api besar di kamar yang dituju Sanji. "Apa yang terjadi di sana?!" tanya wanita itu pada pengawalnya.
"Sepertinya jebakan, nona muda! Tuan muda Sanji masuk lewat jendela kamar, dan seketika terjadi ledakan! Saya tak bisa menghubunginya!"
"Perlukah kita mengirim bantuan? Tim medis?"
"Bagaimana dengan polisi? Di mana mereka berada?"
"Kalian diamlah!" teriak Reiju. Ia mengerutkan dahi, berusaha mendeteksi hawa kehidupan Sanji...
Di sana! Ia membuka mata, dan melihat adik kesayangannya itu berada di atap motel, dengan kemeja hangus dan luka bakar di sana-sini, tapi sepertinya baik-baik saja.
Sebelum sempat menghela napas lega, Reiju merasakan sebuah hawa kehidupan lain melesat keluar bangunan... sepertinya di atas sebuah motor. Itu pasti si target!
Reiju hendak kembali ke mobil dan memerintahkan pengejaran, tapi-
"Biar kukejar. Kak Reiju dan tim, amankan saja tempat ini dari polisi," terdengar suara Sanji dari communicator.
"Baik. Hati-hatilah."
Sanji mengangguk dan memompakan Haki ke dalam kedua kakinya. Dalam kekacauan barusan, si target sudah mencuri start sejauh 500 meter, tapi itu bukan masalah buat Sanji. Menggunakan pepohonan di pinggir jalan sebagai pijakan, dia meloncat-loncat dengan mata terfokus.
Tak lama, dia bisa melihat si target di atas sebuah motor besar yang disetirnya dengan panik, jaraknya sekitar 50 meter dan terus menjauh. Mendesah, Sanji mengeluarkan sebuah pistol jarak menengah dari balik jasnya. Semua anak Vinsmoke dilatih dalam penggunaan senjata api, dan walaupun tidak suka, dia mempraktekkan hasilnya.
Dor!
Sebuah tembakan menggema nyaring di jalan raya antar kota itu... dan si target terpelanting dari motornya karena peluru itu tepat bersarang di roda belakang. Dia menabrak pagar pembatas, terpental ke rerumputan di pinggir jalan.
Sebenarnya bisa saja Sanji membunuh si target dengan satu tembakan lagi, tapi dia tak suka melakukannya. Dia lebih suka menggunakan kakinya, dengan sebuah serangan yang menghancurkan rongga dada atau tenggorokan; itu lebih presisi.
Dia ingin menyaksikan sendiri saat-saat terakhir si target; untuk mengingatkannya bahwa dia adalah seorang pembunuh.
Sembari memikirkan itu semua, Sanji meloncat turun dari dahan pohon tempatnya berdiri. Sang target berada kira-kira 60 meter di depannya, berusaha merangkak menjauh, dengan bodohnya membalikkan badan di depan seorang pembunuh. Sanji memejamkan mata dan mengaktifkan Busoshoku di kaki kirinya, lalu meloncat ke depan. Targetnya adalah leher bagian belakang pria itu-
Sebuah kilatan.
Hanya itu yang dilihat Sanji sebelum rasa sakit menyerang wajahnya. Meringis, dia segera mengalirkan Busoshoku ke wajah untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut. Lalu, dia menjejakkan kedua kakinya ke aspal, untuk meloncat mundur.
Dia melihat merah.
Rupanya apapun yang menyerangnya tadi, berhasil melukai dahinya. Cukup dalam sehingga darah terus mengucur, menghalangi penglihatannya.
"Apa yang-"
Sebelum pemikirannya itu selesai, dia mengangkat kakinya ke arah hawa pembunuh yang dia rasakan.
BRANGGG!
Kekuatan serangan yang mengenai kakinya begitu dahsyat, sehingga Sanji sampai terseret mundur. Menggeram, dia meningkatkan konsentrasi Haki di kakinya, dan menendang daya serangan itu, menciptakan sebuah gelombang kejut yang menghancurkan pepohonan di pinggir jalan.
Sanji lalu mengangkat wajahnya, dan melihat pelaku penyerangan itu.
Di bawah bulan rendah, siluet seorang pria dengan sepasang mata berkilauan merah karena hawa pembunuh yang murni. Sebuah benda berkilat keunguan tergenggam di tangan kanannya, yang langsung dikenali Sanji karena lengkungannya yang khas; katana.
Lalu, haki dan hawa pembunuh ini, tak salah lagi. Keberadaan yang amat dibencinya, sekaligus entah kenapa membangkitkan kenangan.
"... marimo sial."
Wujud sang bushido melangkah keluar dari dalam kegelapan. Mengenakan kemeja hitam dan celana kain senada yang formal, bandana buluknya terikat erat di kepala, sehingga hanya menampakkan sepasang mata yang berkilat di balik bayangan.
"Koki keparat," Zoro menyapa balik. Nada umpatannya itu sama dengan yang selalu didengarnya selama Sanji mengenalnya. "Atau... harus kupanggil Sanji Vinsmoke?"
Rival terkuatnya itu sekarang berdiri di depannya, menghalanginya dari target!
Apa yang terjadi di sini?
Kenapa dia tahu?
Apa dia bodyguard yang disewa si target?
"... kenapa kau ada di sini?" hanya itu pertanyaan yang bisa terucap.
"Kau nggak berhak bertanya duluan," jawab Zoro, dingin. Dia mengarahkan katana hitamnya, Shusui, ke wajah Sanji, "Aku ada banyaaaaaak pertanyaan buatmu, keparat. Tapi, untuk menjawabnya, kau nggak butuh bagian badan selain mulut dan kepala, bukan?"
Dengan gerakan cepat yang tak bisa kau bayangkan dari pria berotot sebesar dirinya, beberapa bilah pedang udara melesat ke arah Sanji, menyerbu alat-alat geraknya.
Tapi, pola itu sudah tertebak. Si pirang hanya perlu meloncat ke samping sejauh beberapa meter untuk membuat semua serangan itu meleset, menghancurkan permukaan jalan. Zoro masih terlalu lembek, pikirnya, mengumumkan target serangan sebelum menyerang.
"Ya, kenapa kau ada di sini?" pikir Sanji, mengulang pertanyaan tadi. "Apa maumu? Apa kau datang bersama yang lain? Apa kabar Nami-san-"
Sanji menggelengkan kepalanya, dia tak mau memikirkan itu semua. Karena saat ini, hanya satu hal yang penting. Dia menatap mata pria di depannya itu.
"Ya. Peduli amat dengan alasanmu. Kau... hanyalah satu dari sekian banyak penghalang misi ini. Enyah, atau ikut menjadi korban."
Angin berhembus dari arah Sanji, aliran udara yang membawa niatan membunuh.
Zoro terhenyak. Dia serius ingin menghajar Sanji, sungguh... tapi dia tak menyangka sang lawan akan serius menghadapi provokasinya. Apalagi,
"Mata itu."
Sepasang iris hitam yang menatap Zoro itu tampak redup walaupun diterpa cahaya lampu jalan, tak ada kilatan karena semangat bertarung yang selalu ditunjukkan sang rival tiap kali mereka berkelahi.
Kedua iris itu telah mati, pertanda si pemilik sudah terlalu sering melihat seseorang kehilangan nyawa.
"Itu mata seorang pembunuh."
Maka, dengan sedikit rasa penyesalan, Zoro berbisik lewat communicator-nya.
"Maaf. Aku nggak bertanggungjawab dengan apa yang akan terjadi setelah ini."
Dan jalan raya yang mereka pijak seolah bergetar menerima luapan haki.
...
Teropong yang digenggam Usopp jatuh berdentang, sementara Nami terjatuh dalam posisi berlutut. "Kenapa ini bisa terjadi?" gumam Nami.
"... eike sepertinya terlalu meremehkan para Vinsmoke," gumam Bon-chan, memijati sakit kepala yang tiba-tiba muncul. "Sanji-kyun itu, sudah terlalu lama bersama mereka."
Bon-chan mendapat informasi mengenai keberadaan Sanji dari anggota kelompok Newkama-nya, yang memang bekerjasama dengan keluarga Vinsmoke.
Mereka bertiga sampai beberapa hari lalu, dan sembari menunggu kedatangan Zoro, berpencar keliling kota. Berharap bisa mendapatkan sekelebatan saja dari sosok Sanji. Tapi sampai kemarin, saat Zoro sampai, mereka tak juga menemukannya.
Pertemuan mengejutkan ini tak ubahnya sebuah kebetulan saja.
Saat informan kelompok Newkama mengabari mereka soal ledakan di motel kecil di luar kota, Nami segera menyimpulkan kalau itu adalah ulah Sanji. Mereka segera menuju lokasi dan mendapati kebenarannya, dan setelah rapat kecil, Zoro diutus untuk mengkonfrontasi Sanji.
Sebenarnya sih, tugasnya hanya berbicara dengan Sanji untuk mengajaknya menemui Nami dan yang lain. Kalau perlu, menangkap dan menyeretnya. Mereka sudah memperkirakan akan ada perselisihan atau pertarungan kecil pedang melawan tendangan, tapi... tidak seperti ini.
Mereka bertarung sungguhan.
Dengan teknik terkuat, tanpa segan. Kontak fisik mereka bukanlah kontak fisik ringan seperti yang selalu mereka peragakan di masa lalu; tiap sabetan, tiap tendangan, tiap serangan yang mereka lancarkan penuh dengan niat membunuh lawan.
Itu bukanlah pertarungan reuni oleh sepasang rival yang sudah lama tak bertemu; itu adalah pertarungan antar seorang pembunuh dan pendekar pedang.
Tidak mungkin mereka bisa melerai ini, pikir Bon-chan sambil menelan ludah.
Dan lagi, sakit kepalanya seolah bertambah parah karena tekanan yang dia rasakan di sampingnya.
"..." Kuina, yang ikut bersama Zoro ke Amerika, mengamati pertarungan dengan Kenbunshoku Haki. Kedua tangan putih halusnya semakin pucat; tangan kanan menggenggam erat sarung katana Wado Ichimonji, sementara tangan kiri menggenggam pergelangan tangan kanannya, seolah menahan diri agar tidak terjun langsung. "Pirang sialan itu."
"Apa yang harus eike lakukan..." gumam Bon-chan.
Mereka berempat terfokus pada pertarungan hidup-mati di bawahsana, sampai tak menyadari kehadiran sosok kelima di sana-
"Nami, Usopp-kun!" teriak Kuina.
Sepertinya tidak sempat. Gadis itu mendecak, dan menghantamkan ujung sarung Wado Ichimonji ke tanah, membuat kedua orang itu kehilangan keseimbangan, sehingga posisi kepala mereka jadi lebih rendah. Sepersekian detik kemudian, sesuatu melesat di atas mereka, menghancurkan tembok di sekitar.
"Apa yang-"
Bon-chan melesat ke belakang si penyerang dan menodongkan pistolnya, sementara Kuina berdiri di depan Nami dan Usopp dengan katana terhunus.
"Siapa dikau?" tanya Bon-chan.
Sosok misterius itu, yang ternyata seorang wanita, mengangkat kedua tangannya.
"Reaksi yang bagus. Kalian sungguh teman Sanji yang dari SMU biasa itu?" tanya Reiju, dengan ekspresi yang bukan milik seorang yang menyerah.
Keempat orang itu terhenyak melihat sosoknya.
"H-hah?! Sa-Sanji-kun... perempuan?" komentar Nami, setelah kagetnya sedikit mereda.
"Hmph. Tidak sopan," wanita berwajah Sanji itu menyilangkan lengan, ancaman pistol dari Bon-chan ia acuhkan dengan santainya. "Aku Reiju Vinsmoke, kakak tertua Sanji."
Bon-chan terhenyak. Nama itu tak asing lagi di kalangan yakuza dan kelompok bawah tanah, sehingga tentu saja sebagai pentolan kelompok Newkama, dia mengetahuinya!
"Gawat."
BLAAAARRR!
"Hah?!" Zoro terhenyak, dan menoleh ke asal bunyi menggelegar itu... dan matanya terbelalak saat melihat tempat Nami dan yang lain bersembunyi hancur berselimutkan debu.
Di saat yang sama, dia merasakan rasa sakit luar biasa di dadanya, dan darah membuncah keluar dari mulutnya.
"Ghak!"
Dia terpental. Rupanya Sanji memanfaatkan kelengahan pria itu untuk memasukkan sebuah tendangan yang telak mengenai dadanya.
"Sial!" dia mengumpat.
Belum sempat Zoro mengambil napas, alih-alih memulihkan keseimbangan, ujung sepatu Sanji sudah mengarah ke wajah. Secara reflek, Zoro menggunakan sebelah tangannya sebagai perisai... dan mendengar bunyi tulang retak dari sana. Mengacuhkan rasa sakit yang menyebar sampai seolah tangannya lumpuh, Zoro mengangkat tangan satunya untuk mencengkeram kaki Sanji dan menahan gerakannya.
"Ghh!"
Kekuatan tangan Zoro dan kaki Sanji sepertinya seimbang, sehingga mereka berdua sama-sama tak bisa bergerak. Tapi itu takkan berlangsung lama, Zoro mengernyit, karena Sanji masih punya kaki yang sebelahnya. Dia mempersiapkan diri untuk rasa sakit yang akan datang, tapi…
"..."
Pria berkaki hitam itu tak bergerak, ekspresinya membeku dalam kekagetan. Kesempatan itu digunakan Zoro untuk membanting kaki yang dicengkeramnya, membuat sang lawan kehilangan keseimbangan. Belum selesai, dia menghunjamkan tinju ke wajah Sanji, membuatnya terpelanting ke aspal.
"Cih," si bushido meludahkan darah yang dia kulum, "Kita masih belum selesai." Dia lalu membalikkan badan untuk melihat sesuatu yang membuat Sanji membeku barusan.
Di sana Nampak Bon-chan yang sepertinya terluka, lalu Kuina yang menghunus Wado Ichimonji, lalu Usopp dengan Kuro Kabuto terhunus, serta Nami dengan Sorcery Clima-Tact yang memancarkan percikan listrik.
"Oi, apa yang terjadi di atas sana?" tanya Zoro dengan entengnya, seperti menanyakan pukul berapa sekarang.
"Hah, Zoro?!" Nami menoleh kepada pria berambut hijau itu.
"Kita terpental sampai ke tempatnya?!" komentar Usopp.
"Zoro, kita disergap! Lawannya-" Kuina terkesiap."Dia datang!"
BRANGGG!
Bunyi benda keras beradu kembali menggema di tengah jalan, namun nyatanya itu bukan logam, melainkan sepatu bot Reiju bertemu katana milik Zoro, yang bergetar dahsyat. Dia menggeritkan giginya, kekuatan yang luar biasa!
"Dia meloncat 50 meter sekaligus?!" terdengar teriakan tak percaya Bon-chan di latar belakang.
Kuina berusaha menghampiri Zoro, tapi gerakannya terhenti begitu melihat kilapan pistol Glock yang terarah ke dahi.
"Siapa dia?!" teriak Zoro.
"Di-dia kakak tertua Sanji-kun, Reiju Vinsmoke!" jawab Nami.
"Kakak?!" Zoro menatap baik-baik wanita itu, dan mengerutkan dahi, "Itu berarti dia pembunuh profesional yang jauh lebih berpengalaman dibanding si koki keparat, kan?!"
Mendengar namanya dipanggil, Reiju mengangkat wajah... dan Zoro langsung merasa ingin menyingkir sejauh mungkin.
"Seperti gadis kecil itu bilang," katanya, ringan. "Wow. Teman-teman Sanji memang hebat, tak kusangka bisa menemukan talenta seperti kalian di sekolah biasa di Jepang."
"Geh, Sanji cewek?!"
Reiju mengangkat alisnya, dan di luar dugaan, terkekeh, "Kenapa reaksi kalian selalu begitu? Apa aku memang begitu miripnya dengan Sanji? Aku sangat menyayangi adik kecilku itu, tapi kalau disamakan dengan laki-laki, tentu mengesalkan, kalian tahu. Apalagi…"
Wanita itu mengamati pria yang beradu dengannya itu baik-baik dari atas ke bawah, dan senyumnya perlahan merekah. Zoro merasakan firasat amat buruk...
"Sejujurnya, setelah dilihat-lihat... kamu itu tipeku banget."
"F**K!" naluri alami Zoro sebagai lelaki membuatnya meloncat mundur dengan pedang terhunus-
Tendangan berapi itu telak mengenai perut Zoro, mementalkannya sampai menghunjam pagar pembatas jalan. Cowok itu tak bergerak setelahnya, sepertinya lebih karena shock melihat sosok Reiju (dan dirayu), daripada terluka.
"Z-Zoro!"Kuina bergegas menghampiri teman masa kecilnya itu.
"O-oi, kakak nggak apa-apa?" tanya Sanji dengan penuh perhatian. Dia tahu kakaknya itu mustahil diapa-apakan, tapi, "Kalau dia sampai terluka, leherku yang jadi taruhannya!"
Nami membeku di tempat melihat sosok pria itu.
"S-Sanji..."
Suara itu menghilangkan semua niat bertarung si pirang.
…..
Dia sudah menduga ini.
Keberadaan Zoro di sini, berarti teman-teman yang lain juga bersamanya (Zoro kan tukang nyasar, mustahil bisa menemukan jalan di Amerika yang sangat luas ini), dan itu berarti... orang yang paling ingin ditemuinya – sekaligus yang paling ingin dia hindari – selama 5 tahun ini, juga datang.
Sanji menoleh ke asal suara itu, dan melihatnya.
Gadis yang ia tinggalkan, yang selalu hadir dalam mimpi buruk dan penyesalannya.
"... Nami."
Dengan nama yang saling terucap, mereka seolah merasa kembali lagi ke masa-masa SMU, di atap Seifu tempat mereka biasa makan siang bersama kawan-kawan dari Straw Hats. Sinar mentari hangat menyinari dan langit biru menaungi mereka, dunia tampak begitu indah.
Namun ilusi itu buyar begitu saja dengan rasa sakit yang tiba-tiba.
Plak.
Mengabaikan kewaspadaan dua orang pembunuh bayaran profesional, memotong ketegangan di udara, telapak kanan Nami mendarat di pipi Sanji. Pria itu hanya bisa menyentuh pipinya yang berdenyut dengan mata lebar. Rasa sakitnya tak seberapa, tapi...
"Apa kabar," kata Nami kemudian.
"... itu pertanyaan apa kabar paling tsundere sepanjang zaman!" pikir Usopp, Kuina, dan Bon-chan.
Ah, dan Reiju menyadari, itulah gadis yang sering diceritakan Sanji kepadanya. Ia tersenyum, dan menurunkan pistolnya dari arah Kuina.
"Zoro!" gadis itu pun berlari mendapatkan Zoro, sambil mengamati kondisinya. "Kamu tak apa-apa?"
"Ngantuk," Zoro melepaskan bandana dari kepala, lalu merebahkan dirinya di pembatas jalan. "Soalnya peranku sudah selesai."
Sejak awal, Zoro sudah berpikir bahwa akan lebih baik jika Nami yang menghadapinya langsung, karena Zoro sudah berulangkali bilang kalau takkan mau bicara dengan Sanji, melainkan langsung menghajarnya. Tapi wanita itu ngotot menyuruhnya maju.
Apakah karena ia takut menghadapi Sanji, yang kini berada di dunia yang amat berbeda?
Atau, karena dia khawatir pada reaksi dirinya sendiri jika menghadapi pria itu?
"Melihatnya seperti itu, opsi kedua sepertinya menjadi jawaban," pikir Zoro.
"Aku... sudah lama sekali menunggu."
Suara lirih Nami membuka pembicaraan itu.
"Aku menunggu. Sejak hari itu, sejak kamu berjanji. Setahun lewat, dan tak terjadi apapun antara aku dengan Luffy, tapi saat itu juga kamu hilang kontak. Aku tetap menunggu. Setahun, dua tahun... sampai empat tahun, kau tak kunjung muncul. Jangankan janjimu, aku bahkan tak tau apa kau masih hidup!"
Menghentakkan kakinya ke aspal jalan, Nami mendongakkan kepala.
"Apa penjelasanmu, Sanji?!"
Ah, dan ia juga melepas panggilan '-kun' itu.
Si pirang itu, wajah pembunuhnya perlahan menghilang. Matanya kembali memancarkan kilauan yang manusiawi, dan dari mulutnya terdengar decakan kesal.
Kesal atas dirinya sendiri.
"Aku benar-benar berada dalam masalah, rupanya," nada bicaranya pun kembali seperti biasa. Dia mengusap-usap belakang kepalanya, "Oke, akan kujawab satu-persatu."
Dia menolehi Zoro yang bersama Kuina, lalu Usopp dan Bon-chan. Mereka sudah terbang jauh-jauh dari Jepang hanya untuk menemuinya... tanpa sadar, senyuman kecil merambat di wajahnya.
"Pertama, aku baik-baik saja, Nami-san. Ah, mungkin terlalu baik! Agak gemukan, malah. Kamu tahu, masakan rumah dan sebagainya... dan pastinya, aku bertambah kuat," dia menolehi Zoro, yang memelototinya. "Dan kedua..."
Ekspresi ramah pria itu menghilang lagi.
"Kalau kalian bisa menemukanku di sini, aku nggak perlu menjelaskan alasan kenapa aku putus kontak."
Nami dan timnya mengangguk perlahan; mereka sudah dengar semuanya dari Bon-chan.
Awalnya mereka semua tak mau mempercayainya. Tidak mungkin kan? Cowok gentle dengan tata krama yang bagus, pintar akademis, punya kemampuan fisik gila, dan fasih berbahasa asing seperti Sanji adalah anak keluarga pembunuh itu...?
Yang, kalau dipikir baik-baik, justru merupakan bukti kalau cowok itu bukanlah orang biasa.
Dan, di sinilah sekarang dia berada, bersama seorang petinggi keluarga Vinsmoke yang juga kakaknya, di lokasi yang amat mendukung sebagai setting pembunuhan terencana. Sudah tak bisa disangkal lagi, bahwa Sanji adalah seorang Vinsmoke, yang sedang mengerjakan misinya.
"Yah, seperti yang kalian lihat," Sanji membuka lebar kedua tangannya, seolah memamerkan situasinya sekarang. "Inilah kehidupanku yang sekarang. Bergelut dengan peluru, darah, dan nyawa; seorang pembunuh. Mana bisa aku menelpon kalian dan mengabarkan, 'Apa kabar? Ngomong-ngomong, per hari ini, aku sudah memenuhi kuota membunuh 3 orang per bulan.'
"Aku… sudah berada di dunia yang berbeda dengan kalian."
Nami dan Usopp menggigit bibir bawah mereka mendengar itu.
Sanji bisa menceritakannya dengan amat mudah... namun, di situlah masalahnya. Dia sepertinya bisa menerima situasi sekarang, bahkan terkesan bangga.
"Kalian tahu, setelah menghabisi nyawa target, aku sering merasa bangga akan kemampuanku. Bisa membunuhnya dengan cepat dan tanpa terdeteksi…" Sanji menatap Nami, tidak dengan sepasang mata pembunuh yang kosong, namun dengan mata manusia yang merasa nyaman atas kehidupannya. "Itu membuatku senang, seperti halnya berhasil menyelesaikan soal ujian yang sulit."
Aaah, mendengar soal pembunuhan, langsung dari mulut Sanji membuat suasana semakin suram. Tapi, dari semua itu, ada yang kurang. Satu hal paling penting, yang menceritakan siapa itu seorang "Sanji".
"Dia tidak mengatakan apapun soal memasak. Hal yang paling dibanggakannya."
"Dia tidak menyebutkan soal kami, teman-temannya."
"Dia tidak menyebut namaku di sana."
"Dengan kata lain, dia masih merindukan kehidupannya yang dulu."
Pemikiran-pemikiran itu berkelebat di benak kawan-kawannya. Mereka semua menatap Sanji, kompak memintanya melanjutkan. Mulut mereka membentuk garis lurus, tanpa ada kata yang keluar, tapi bagi Sanji itulah pertanyaan tersulit selama hidupnya.
"... itu tadi," Nami memecah keheningan, "Adalah jawaban darimu sebagai 'seorang pembunuh bayaran'. Yang ingin kami dengar adalah jawabanmu sebagai seorang 'Sanji.'Jawaban dari dirimu sendiri."
"Hmm?" Sanji memiringkan kepalanya, matanya yang terlihat melebar. "Apa ada bedanya antara diriku dengan kosakata 'pembunuh bayaran'?"
"…!" Nami terkesiap, matanya langsung terasa panas. Kenapa Sanji yang dia kenal sampai merendahkan dirinya sejauh itu-
Tap.
Sebuah telapak tangan besar menyentuh bahu Nami, dan wanita itu menoleh untuk melihat wujud Zoro yang menggelengkan kepala. "... minggir sebentar," katanya, sambil mendorong bahu gadis itu. Usopp lalu menerima tubuh Nami yang mulai gontai.
Sanji memicingkan mata kepadanya melihat perlakuan kasar itu, tapi si rambut hijau menatapnya balik dan... di sana Sanji tak lagi melihat wajah rival atau lawan bertarung, melainkan seorang kawan lama. "Koki-erhm, Sanji," dia buru-buru meralat. "Dan kalian semua di sini, dengarkan aku.
"Betapapun muaknya aku mengakui ini, tapi... aku setuju denganmu."
Itu jawaban yang paling tidak disangka. Dari semua orang, justru Zoro si musuh bebuyutan yang membela Sanji?!
"Haaah?!"
"Zoro, apa maksud-"
Si marimo mengangkat tangan kanannya, menandakan agar Usopp dan Kuina berhenti berkomentar. Kemudian, dia melanjutkan.
"Seperti yang kalian tahu, aku nggak punya keluarga. Semuanya sudah meninggal sejak lama sekali, aku nggak punya ingatan sedikitpun tentang mereka. Dibandingkan aku, kau... sangat beruntung," Zoro menatap Sanji, dan pria pirang itu berani bersumpah bahwa dia melihat rasa iri di sana. Perasaan yang seharusnya tak dimiliki pria dengan penuh harga diri seperti seorang Roronoa Zoro. "Setelah bertahun-tahun, kau ditemukan keluargamu. Meskipun mereka semua pembunuh bayaran, anggota organisasi konspirasi misterius dan sebagainya, tapi mereka tetap keluargamu.
"Aku yang sebatang kara ini saja mengerti betapa pentingnya sebuah keluarga, apalagi kau. Maka, begitu mendengar ceritanya dari Usopp beberapa hari lalu, aku bisa menghilang. Kau... lebih memilih keluarga dibanding teman-temanmu, bukan?"
Mata Sanji melebar, satu lagi ekspresi manusia yang ditunjukkannya dalam beberapa menit ini. Seolah-olah topengnya sebagai seorang pembunuh runtuh sedikit demi sedikit, menampakkan wajah aslinya.
Tiba-tiba semuanya jadi masuk akal.
Seorang manusia yang telah lama berpisah dengan keluarganya, separah apapun keluarga itu, pasti akan terikat dengan mereka. Inilah situasi Sanji yang sebenarnya.
"Itu… nggak sepenuhnya benar, Zoro," akhirnya Sanji angkat bicara. Seperti si marimo, dia menggunakan nama asli si rival, menunjukkan keseriusannya. "Karena, aku membenci keluargaku."
Reiju memalingkan wajahnya mendengar jawaban kejam itu.
Ia sudah menduganya. Melihat perlakuan buruk ayah dan saudara-saudara lelakinya kepada Sanji, hati kecil Reiju selalu merasa pedih. Wanita itu mencengkeram kerah kemejanya, dengan pertanyaan menggema dalam benak: apa ini berarti Sanji juga membencinya?
Apa seluruh hal yang dikatakan Sanji, seluruh rasa terimakasih yang ditunjukkan kepadanya, hanyalah pura-pura? Bahwa persaudaraan mereka yang terjalin kembali selama lima tahun ini, direkatkan dengan kebencian dan rasa takut?
Kedua mata Reiju terasa panas memikirkan ini, ia tak tahu kenapa.
"... membuangku ke pelosok Eropa karena aku nggak mampu mengikuti pendidikan keras untuk menjadi pembunuh bayaran, menghapusku dari pohon keluarga... lalu setelah belasan tahun berselang buru-buru mencari dan memaksaku kembali hanya untuk memenuhi strategi bisnis mereka? Bajingan macam apa kepala keluarga ini?!" Sanji mengibaskan lengannya. "Aku sangat membenci tua bangka Jajji, juga kedua kakak dan adikku yang semuanya brengsek. Para bedebah yang menyebut neraka ini sebagai 'keluarga' dan 'rumah'! Persetan dengan mereka semua!"
Kemudian, badai umpatan dan amarah itu berhenti tiba-tiba, saat Sanji menolehi sang kakak perempuan satu-satunya, Reiju. Wanita itu, yang memasang wajah serius dan netral, tapi kedua mata beningnya tak bisa mengkhianati perasaan di hatinya.
"Tapi... di tengah neraka itu, ada seorang yang peduli. Masih ada seorang yang merindukanku, menantikan kedatanganku, dan yang terpenting; memperlakukanku sebagai seorang manusia dan adik. Seorang yang kini rela menangis karenaku.
"Begitu melihat senyuman dan tangisan orang itu, 5 tahun lalu saat aku kembali, kebencianku seolah menguap."
Sanji menolehi sang kakak tercinta.
"Ya, kak Reiju. Kamulah satu-satunya alasan aku bisa bertahan di keluarga ini."
Satu orang yang lebih penting darinya daripada teman-teman.
"Ah…" sesuatu mengalir turun dari mata Reiju yang terhalang rambut pirangnya. Ia menyentuhkan telunjuknya, dan terbelalak. Jarinya terasa basah. "Air mata. Entah sejak kapan tak mengalir keluar."
Ia menggenggamkan jarinya itu, dan tersenyum sedih.
"Jadi, setelah sekian banyak nyawa yang kurenggut, aku masih bisa menangis…?"
Sanji kembali menghadap Nami dan yang lain, berpura-pura tak melihat air mata sang kakak.
"Maafkan keegoisanku, kalian semua. Kak Reiju... adalah satu-satunya keluargaku. Aku nggak bisa meninggalkannya sendirian di kerak neraka Vinsmoke."
Itulah jawaban Sanji.
"... begitukah," Nami menggumam, ia merasa sudah mengerti semuanya.
Situasi Sanji selama 5 tahun ini, yang kesepian dan terkucilkan di tengah keramaian; selama dia sendirian di tengah orang-orang asing yang menyebut diri mereka sebagai "keluarga". Namun, di tengah itu semua, dia bisa menemukan seorang yang takkan meninggalkannya, seorang yang bisa meyakinkannya bahwa dia seorang manusia yang patut disayangi.
Seorang kakak.
Nami langsung teringat kakak perempuannya, Nojiko, yang kini telah menempuh hidup baru bersama suami dan keluarganya di luar provinsi. Betapa besar peranannya di kehidupan keluarga Nami yang cukup tidak wajar…
Air matanya meleleh. Ia lega mendengar jawaban yang tulus itu.
Teman-temannya juga merasakan hal yang sama. Bon-chan berusaha menghapus air mata yang merusak maskaranya, Usopp mengusap-usap hidungnya yang memerah menahan tangis, dan Kuina menunduk, tak mau menunjukkan emosinya. Reiju hanya bisa tersenyum haru.
"... kami masih ingin menyeretmu," kata Zoro kemudian, mengagetkan semua orang di sana.
"HEH?!"
Kuina menghampiri Zoro, dan mencengkeram kerahnya, "Oi, kamu tak mendengar omonganmu sendiri tadi?"
Zoro melepaskan tangan Kuina dengan kasar, "Tadi ya tadi, sekarang ya sekarang. Seorang pria nggak pantas terpaku pada masa lalu." Dia menolehi Sanji, dan menudingnya dengan sarung Shuusui. "Alasan yang sungguh suci bagi pria dengan tangan sekotor dirimu, oi. Tapi perlu kau tahu, kami nggak mengajakmu pergi dari keluarga ini. Kami cuma ingin meminjam kau sebentar."
"Meminjam…?" tanya Reiju.
"Ah, maaf, kami belum menceritakan apa maksud kami menjemput orang ini," Usopp menjawab. "Kami menerima pesan aneh dari seorang kawan lama dan kami ingin mencarinya dengan bantuan Sanji-"
"Aku tahu itu, dan aku mengerti," jawab Sanji, memotong penjelasan si hidung panjang, namun "... aku tetap nggak bisa."
Kali ini, Usopp tidak bisa tidak merasa marah.
"Oi. Kita semua sudah mengalah. Kami sudah memahami situasimu, dan pentingnya nona Reiju bagimu, kami nggak akan memaksamu pergi selamanya! Masa meninggalkan mereka sejenak saja, tidak bisa?!"
Iya, Sanji tahu maksud mereka. Sebentar saja, mereka butuh kemampuannya untuk menemukan Luffy. Itu saja… tapi, dia masih memiliki sesuatu yang perlu dibayarkan kepada Jajji, dan dia tak bisa meninggalkannya.
Karena dia sudah berjanji.
Sanji menatap mereka semua, dengan mata yang bergetar, seolah akan menumpahkan isi dam yang terbendung begitu lama; air mata kekesalan dan rasa frustasi. Tatapan nanar yang seolah berkata, "Mengertilah. Kumohon."
Ah... Zoro mengerti. Dia mendecak kesal, dan berjalan perlahan menuju target pembunuhan Sanji yang terlupakan. Pria malang itu terluka, tapi kondisinya masih sadar. Dia sudah tak bisa lari karena di sekelilingnya berdiri para agen Vinsmoke.
Crassshhh!
"GHUARK!"
Semua orang terhenyak. Zoro... menyabet pria itu! Tepat di urat nadi lehernya, menewaskannya seketika.
Ekspresinya tetap dingin, dia lalu menyobek lengan kemejanya untuk menyeka darah di katana kesayangannya itu.
"Misi selesai, keparat. Ayo pergi," katanya kemudian.
Tapi belum sempat ada yang berkomentar, Kuina sudah mewakili mereka dan melesat untuk mencengkeram kerah baju tampak sangat marah, bercampur kaget.
"Zoro! Apa yang kamu lakukan?!"
"Menyelesaikan kerjaan orang nggak becus ini," Zoro menolehi Sanji dan Reiju, yang akhirnya menampakkan ekspresi manusia: kebingungan. "Oi, kalian punya jurus sabetan dengan kaki kan? Rankyaku atau apalah itu, laporkan sebagai penyebab kematiannya."
Mendengar itu, Kuina melonggarkan cengkeramannya, sepertinya mengerti tindakan Zoro.
"Kamu membunuh orang, Zoro!" teriak Nami.
"Aaaah? Memangnya kenapa? Kalau kamu ingat, keluarga Roronoa itu yakuza. Mereka biasa membunuh orang," jawab Zoro, dingin. Nami dan yang lain sepertinya tak bisa membalas, mereka hanya bisa membuka-menutup mulut, "Aku dibesarkan dalam lingkungan kacau seperti itu, orang-orang dewasa yang nggak segan menumpahkan darah di depan anak kecil. Lalu…"
Zoro menolehi Sanji.
"Kau masih punya misi untuk diselesaikan sebelum bisa pergi kan?"
"…!" Nami dan yang lain terhenyak.
"Harga nyawa orang ini nggak sebanding dengan kesempatanmu bergabung dengan petualangan terakhir kita," kata Zoro, seringainya lebar.
Perkataan yang sama dengan hal yang dipikirkan Sanji di awal misi ini.
Dia pun mendapat jawabannya.
"Cih, terserah kalian, deh."
- to be continued -
Chapter V
When I See You Again
