Dengan ini, aku dengan mantap bisa menyatakan bahwa fic ini akan tamat dalam 2 chapter lagi.
Enjoy reading!
When I See You Again
One Piece © Eiichiro Oda
Chapter V
When I See You Again
Restoran keluarga Whole Cake adalah sebuah waralaba yang terkenal akan pilihan cake dan dessert-nya yang sangat bervariasi, selain menu utama yang juga menggiurkan (dan sangat manis). Namun, di dunia bawah tanah, waralaba ini hanyalah topeng samaran dari usaha yang sebenarnya. Charlotte Linlin, sang CEO, konon adalah pengusaha obat terlarang yang memiliki jaringan peredaran di seluruh dunia. Keuntungan dari bisnis haramnya itu ia gunakan untuk hobinya yang lain: makanan manis.
Ngomong-ngomong, keluarga Vinsmoke juga punya hubungan kerjasama dengan Whole Cake. Maka, tak heran Sanji memilih sebuah restoran Whole Cake yang buka 24 jam untuk mendiskusikan situasi sekarang.
Setelah Reiju menerima izin dari Jajji, Sanji segera meninggalkan kakaknya dan pergi dengan Nami dan kawan-kawan. Selama perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang tertukar di antara mereka, bahkan untuk menanyakan kabar pun tidak. Mereka tak nampak seperti sekelompok teman yang lama tak bersua, melainkan seorang pembunuh profesional dan orang-orang yang penasaran.
Kini, restoran tak bersalah itu harus menampung kelompok yang siap meledak ini. Bukannya makan malam babak kedua atau apa, tapi malah saling memelototi. Terutama kedua orang yang tadinya bertarung sampai mati. Tekanan udara di sana begitu pekat dengan niat membunuh yang diperkuat dengan haki, kau mungkin bisa memotongnya dan menyajikannya sebagai menu dessert baru. Orang-orang malang yang bersama mereka hanya bisa menonton dengan nafas tercekat.
"Kau tahu…" adalah suara berat Zoro yang membuka pembicaraan setelah hening semenjak mereka duduk di restoran itu, membuat Nami dan yang lain melonjak dari kursi layaknya mendengar suara tembakan. "Nyawamu masih aman karena ada Nami di sini."
"Kenapa dia tiba-tiba mengajak berkelahi?!" pikir Usopp dan Bon-chan.
Lawannya, Sanji, hanya menghembuskan asap rokok (padahal di situ dilarang merokok) ke wajah Zoro, yang menerimanya tanpa berkedip. "Heh. Omongan besar buat seseorang yang kalah dariku hanya dengan 2 serangan."
Bagi seorang atlit kendo kompetitif seperti Zoro, kata 'kalah' itu sangat menyinggung. "Kau menyerang saat aku lengah, bajingan!" dia membentak, tidak terima.
Sanji mengangkat bahu, "Itu dinamakan 'taktik'. Di duniaku, orang yang menyerang dari depan sepertimu nggak akan bertahan sampai 3 hari."
"Cih, argumen yang susah dipatahkan, pembunuh bayaran brengsek. Sudah berapa nyawa yang meregang di bawah sol sepatumu?"
Serangan balasan yang cukup tajam, menyerang nurani Sanji sebagai seorang manusia. Dia tak mau kalah, "Pedangmu itu, baru pertama ini mereguk darah? Hati-hati, dia akan terus meminta darah sebagai tumbal."
"Kau sendiri, menyemir sepatumu dengan nyawa orang?"
"Kalau kau tidak memenuhi dahaga pedang itu, kau bisa dikontrol dan berubah menjadi setan pedang."
"Berapa uang yang kau dapat tiap kali membunuh? Pasti sedikit, karena sepertinya butuh banyak nyawa untuk menyambung hidup keluargamu."
Saling menyerang secara personal, bagi mereka berdua yang dulu, adalah menu sehari-hari. Tersinggung, memang, tapi akan reda dengan membalas ejekan lawan. Tapi, mereka kini menyerang hati nurani masing-masing: Zoro karena dia baru pertama kali membunuh (dan tak terlihat menyesal), sementara Sanji karena dia sudah terlalu banyak membunuh (dan juga tak terlihat menyesal).
Kesabaran mereka ada batasnya sih.
"Bacot saja kau. Mari kita lanjutkan yang tadi di luar," Sanji bangkit.
Zoro bangkit, menggenggam katana-nya. "Asal kau tahu, aku belum serius tadi."
Dan jembatan persahabatan yang diperbaiki asal-asalan tadi, sudah runtuh dalam 15 menit.
Nami pun tak tahan lagi. Dia bangkit dan menggebrak meja dengan amat keras, membuatnya retak. Apa itu haki? Bukan, hanya amarah yang tertahan.
"Hentikan! Mau sampai kapan kalian begini?!"
Sepertinya bentakan si rambut oranye, yang semasa SMU begitu ditakuti mereka berdua, tak berguna lagi sekarang. Mereka mengacuhkannya. Ingin Nami memukul kepala mereka, tapi sadar bahwa mereka sudah bukan anak SMU lagi, mereka takkan bergeming. Alih-alih, tangannya yang sakit.
"Kalian…" Nami menggeram pasrah. Tapi kemudian ia teringat sesuatu, "Sanji. Bukankah kamu hanya diberi waktu 3 hari untuk pergi bersama kita? Yakin kamu mau membuang waktumu yang berharga untuk mengurusi pria lumutan itu?"
Mengabaikan teriakan 'oi' dari Zoro yang diejek, Sanji menolehi wanita itu dengan wajah terkejut. Entah karena ucapan barusan, atau karena dia akhirnya diajak bicara, "Ah, benar juga. Seperti yang selalu kuingat, Nami, pemikiran yang amat logis."
Sepertinya alasan yang kedua.
Tapi yang dipuji hanya menatap Sanji dengan mulut lurus, "… kau serius?"
"Soal apa?"
"… lupakan," Nami membanting tubuhnya di sofa, dan menyilangkan lengan dengan wajah sedikiiit memerah. Apa karena mendengar pujian pertama dari Sanji setelah 5 tahun?
Sanji tersenyum kecil, sepertinya menyadari apa efek pujian asal-asalannya itu. Dia kembali duduk di seberang mereka semua, diikuti Zoro yang tidak mengendurkan pengawasannya. Walaupun begitu, hawa berat yang menggantung di sana telah terangkat layaknya kabut yang diterpa sinar mentari pagi. Seperti yang diharapkan dari Nami yang sudah biasa melerai mereka. Bahkan sampai di usia setua ini pun, bentakannya masih sangat efektif.
"Aaah. Adegan yang nostalgik," bisik Bon-chan kepada Usopp di sebelahnya. "Zoro-kyun dan Sanji yang berantem, lalu Nami yang melerai mereka dengan amukan, dan sikap tsundere itu…"
"Ya, mengingatkanku pada masa lalu yang naif, di mana semua tampak baik-baik saja," sambung Usopp. "Ini membuatku rindu, tapi juga mengingatkan situasi kita sekarang."
"Tsundere itu apa?" tanya Kuina, yang entah kenapa bisa mendengar obrolan itu.
Usopp dan Bon-chan memandang wanita itu seolah ia menumbuhkan kepala baru, lalu menghela napas dengan kompak dan menepuk pundaknya berbarengan.
"Lain kali aku jelaskan," kata mereka.
"Eeeeh…"
Bunyi hempasan badan besar Zoro di sofa menghentikan obrolan remeh itu. Dia melipat kedua lengannya di depan dada, dan menatap mereka semua berkeliling.
"Yah, seperti katamu, waktu kita pendek. Jadi, silakan kau memulai," kata Zoro sambil melayangkan pandangan ke arah Sanji, yang diikuti kawan-kawannya.
Pria pirang itu mematikan puntung rokoknya di asbak, dan menghela napas panjang yang bersih dari asap. Dia lalu merogoh sakunya untuk memunculkan sebuah ponsel, dan meletakkannya di atas meja. Usopp hendak menanyakan ada apa dengan ponsel itu, tapi Sanji menghentikannya dengan sebuah pertanyaan, "Pertama-tama, aku ingin tanya: apa yang sudah kalian ketahui?"
Tidak ada jawaban, entah mereka bingung atas maksud pertanyaan itu, atau memang tak bisa menjawab. Mereka saling menolehi satu sama lain, dan hanya mendapatkan geleng-geleng atau bahu yang terangkat.
Sanji memijat dahinya, dan melanjutkan, "Maksudku, dari sekian petunjuk dan penyelidikan tentang Luffy selama ini, apa yang sudah kalian ketahui?"
Nami dan yang lain saling memandang, sepertinya sudah mengerti.
"Yang… kita-kita tahu? Sedikit sekali," jawab Bon-chan.
"Tentu saja! Petunjuk dari Luffy hanya sedikit dan jeda waktu ke petunjuk baru sangat tidak beraturan, mana bisa kami menyimpulkan sesuatu dari sana?" sambung Usopp.
Sanji memutar bola matanya, "Dan apa sajakah petunjuk itu?"
Tanpa banyak bicara, Usopp mengeluarkan laptopnya, dan masuk ke folder di mana dia menyimpan semua petunjuk yang didapatkannya. Foto topi jerami, screenshot pesan-pesan di media sosial Straw Hats dan akun para mantan anggotanya, lalu rekaman video berdurasi 10 detik milik Margaret.
Sanji melihat itu semua mata setengah menutup, pertanda tak tertarik. Zoro menaikkan sebelah alisnya, heran kenapa wajah si musuh bebuyutan seperti itu.
"Jangan simpan sendiri pemikiran itu, oi. Kita di sini untuk diskusi," komentar Zoro.
Mengabaikan sang rival, Sanji mengangkat tangannya ke arah Usopp. "Cukup. Itu tidak berguna buat kita sekarang."
Si hidung panjang tampak sedikit sewot, "Haaah?! Nggak berguna, katamu. Apa kau serius? Mencari seseorang tanpa petunjuk itu nggak mungkin-"
Sanji menghela napas panjang, dan mengatakan ini.
"Petunjuk itu, semuanya palsu."
Satu kalimat yang membekukan mereka semua.
"Ada suatu hal yang amat vital yang kalian lupakan dalam kasus ini," Sanji meraih ponselnya yang di atas meja tadi, dan memutar-mutarnya, "Benarkah Luffy yang melakukan ini semua?
"Luffy menghilang, dan dia ingin kita semua berkumpul kembali untuk mencarinya bersama-sama. Tujuan ini mudah sekali terbaca. Tapi, mungkinkah dia melakukan semua ini? Memberikan petunjuk misterius dan semua tetek-bengeknya? Apakah kita membicarakan Luffy yang sama? Anak impulsif idiot yang tak pernah berpikir sebelum bertindak itu?
"Kalau aku adalah Luffy dan ingin bertemu teman-temanku di Straw Hats lagi, aku akan menghubungi kalian langsung satu-persatu. Selain aku dan beberapa orang, kontak kita tak pernah berubah selama 5 tahun ini."
Sanji menghentikan putaran ponsel miliknya itu.
"Kesimpulannya, yang memberi kalian petunjuk-petunjuk itu… bukan Luffy."
"?!"
Nami dan yang lain hanya bisa melongo, tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Nafas mereka tertahan, tenggorokan terasa amat berat. Fakta tadi begitu keras, seolah-olah mereka tak bisa menelannya langsung.
BRAKKK!
Hantaman Zoro, yang akhirnya menghancurkan meja di depannya, menggema di restoran lengang itu dan membuat para pelayan semakin takut. Dia lalu bangkit dengan wajah amat marah. Kuina, yang mengenalnya selama hampir seumur hidupnya, tak pernah melihatnya semarah itu. "Maksudmu, seseorang atau sekelompok orang… pura-pura menjadi Luffy untuk mengirimkan itu semua kepada kita, begitu?!" teriaknya.
"Benar," jawaban Sanji itu singkat, tapi amat mengena.
Hanya dengan kata itu, hancurlah sudah semua pemahaman Nami dan yang lain mengenai kasus ini. Mereka selalu berpikir bahwa Luffy menyusun suatu permainan dengan memberikan mereka petunjuk-petunjuk. Untuk menemukan kawan-kawannya yang terpisah, yang kemudian akan membawa mereka berkumpul kembali dan menemukannya. Makanya, mereka benar-benar menyelidiki petunjuk-petunjuk itu… sampai mereka melupakan suatu hal, hal terpenting.
Luffy tidak sepintar itu.
Sanji benar, mereka terlalu terfokus pada petunjuk-petunjuk… dan melupakan Luffy itu sendiri.
"Ini… tidak mungkin," Nami akhirnya mengucap, setelah lidahnya seolah terikat karena kesimpulan yang amat menohok itu. Ia merebahkan dirinya di sandaran kursi, tenaganya seolah menguap habis. "Kenapa kita bisa… Luffy…"
Usopp memegangi kepalanya yang terasa amat sakit karena tidak bisa memproses kenyataan yang terlalu tiba-tiba ini. "Apa ini berarti… kita sendiri, sebenarnya sudah melupakan siapa itu Luffy?!"
"Benar… kita melupakan kesederhanaan dan simplisitas Mugi-chan," Bon-chan mengurut dahinya.
"Bahkan aku-" Zoro hanya bisa bergumam. Tentu saja, baginya yang mengaku sebagai sahabat terdekat Luffy, ini adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Kuina, yang merasakan kegamangan itu, hanya bisa mengelus lengan Zoro perlahan. "Apa yang… selama ini kupikirkan…?"
"Tidak ada yang bisa menyalahkan kalian," kata Sanji kemudian, membuat yang lain meninggalkan rasa bersalah mereka sejenak untuk menatapnya. Si pirang itu tengah memainkan ponselnya, memencet sana dan sini. "Para pelaku tindakan ini begitu cermat. Untungnya, aku punya sumber daya yang bisa kumanfaatkan untuk melacak mereka.
"Dari tim IT keluarga Vinsmoke, aku menemukan ini," Sanji memperlihatkan layar ponselnya kepada mereka semua. Layar itu menunjukkan suatu laporan berupa angka-angka dan statistika. Dahi Nami dan yang lain kompak berkerut, pastinya tidak mengerti. Dia melanjutkan, "Pesan dan petunjuk yang kalian terima tidak berasal dari 1 nomor. Mereka datang dari paling tidak 3 nomor yang berbeda, yang diutak-atik sehingga seolah-olah itu hanya berasal dari 1 nomor, yaitu nomor milik Luffy. Hal yang mudah dilakukan di zaman serba canggih seperti sekarang."
Sanji menghela napas panjang.
"Kemungkinan terburuknya, ada yang berkomplot untuk menipu kita semua."
Dia bisa merasakan suhu ruangan naik beberapa derajat. Amarah Nami dan yang lain tampak begitu nyata di ekspresi mereka. Tentu saja, Sanji mengerti apa yang mereka rasakan. Waktu sampai pada kesimpulan ini pun, dia begitu marah dan bingung, sampai-sampai tak keluar dari kamarnya selama seminggu. Waktu Reiju memanggilnya untuk pekerjaan, dia nyaris mati karena dehidrasi dan stres.
Yah, tapi karena kejadian itu jugalah pak tua Jajji mau memberikannya kesempatan berlibur sementara. Dia tak mau kehilangan asetnya, kan.
"Lagipula… ada satu lagi yang bisa kusimpulkan selama seminggu mengurung diri itu," pikir Sanji.
Sesuatu yang terlampau positif, terlalu bagus, menurutnya. Yang kiranya tak lebih dari sinar di celah batuan penjara. Tapi… dia ingin mempercayainya.
"Kemungkinan lain, Luffy sendiri adalah salah satu dari 3 orang itu," Sanji meletakkan ponselnya di atas meja, yang segera disambar Nami untuk diamatinya… walaupun ia tak bisa memahami makna data-data di sana. "Luffy memang kurang pintar, tapi paling tidak, dia bisa mengikuti rencana. Dulu juga begitu kan? Waktu pertempuran geng atau acara Defense of the High School. Dengan kata lain, 'komplotan' ini bisa mengontrol Luffy, dan Luffy sendiri mengenal juga mempercayai mereka."
Walaupun itu adalah penjelasan yang menimbulkan (sedikit) harapan, entah kenapa kesunyian yang ditimbulkan terasa lebih mengerikan, kesunyian sebelum badai. Sebelum semuanya meledak dalam pusaran tak terhentikan.
Siapapun pelaku tindakan ini, mereka telah melibatkan hal yang paling tabu bagi mantan anggota Straw Hats: mencuri identitas Luffy. Atau, mereka memanipulasi kepolosan Luffy. Kedua-duanya sangat buruk.
"… Shusui, sepertinya masih haus," gumam Zoro, dengan ketenangan yang teramat dingin. Itu sebuah amarah yang sunyi, Nami dan yang lain tak pernah melihatnya seperti itu…
Dan mereka merasakan hal yang sama dengannya.
"Bawa kami, Sanji," pinta Nami, juga dengan emosi tertahan.
"Jangan kau pendam amarahmu sendiri. Sisakan untuk kami," sambung Usopp.
"Dari sekian banyak hal, mereka menipu kami soal ini," kata Bon-chan. "Takkan kumaafkan."
Kuina menelan ludah, dan tanpa sadar, tangannya menemukan lengan baju Zoro. Ia pun menggenggamnya erat-erat. Meskipun tak terlalu dekat dengan Nami dan yang lain, ia mengerti kenapa mereka bisa marah seperti itu.
"Kalian tahu, betapa aku menantikan permintaan itu," jawab Sanji, dengan senyuman haus darah. Dia pun bangkit dari kursinya, sembari tangannya memain-mainkan ponsel dengan kecepatan luar biasa, pastinya menghubungi orang-orangnya untuk menyiapkan segala sesuatu. "Ikutlah denganku. Kita akan pergi ke tempat Luffy… dan orang-orang yang menggunakan namanya."
Hanya Kuina yang masih bisa bertanya, sementara yang lain masih terbungkam karena amarah mendidih. "Di-di manakah itu?"
"Tanah dingin abadi. Greenland."
-xXxXx-
Menemui bintang Hollywood seperti Boa Hancock, membutuhkan proses yang sangat rumit.
Karirnya melejit seperti Komet Merah setelah ia meninggalkan Jepang saat kelulusannya dari SMU. Sementara berkuliah di sebuah universitas terkemuka di Boston, ia mengambil beberapa pekerjaan sampingan di tanah Amerika yang amat kompetitif dan tidak ramah bagi seorang wanita Asia sepertinya. Mulai dari modelling, pemain figuran, peserta game show, sampai stuntman, semua pernah ia lakoni. Pekerjaan yang bisa dianggap kasar baginya yang sudah berkarir cemerlang di Jepang.
Tapi, permata takkan pudar meskipun terbenam dalam tanah dan lumpur.
Adalah Donquixote bersaudara yang menemukannya. Kakak-beradik Doflamingo dan Rosinante, duo sutradara muda berbakat, mengakui bakatnya dalam proyek perdana mereka.
Sejak saat itu, Hancock menjadi bintang pendatang baru yang paling dicari. Tawaran demi tawaran bermain film membanjirinya, namun ia dengan angkuh hanya mau membintangi film dengan naskah berkualitas tinggi… yang justru semakin melejitkan namanya.
Lalu, dua tahun lalu, Donquixote bersaudara menawarinya bermain film lagi. Film kedua dari kru impian itu digadang-gadang akan memecahkan berbagai rekor box office. Bahkan sebelum rilis, nominasi piala Oscar sepertinya sudah jadi milik mereka. Jagat hiburan seluruh dunia menantikannya dan dunia maya berebut mendapatkan secuil saja info terbaru tentang film itu. Namun…
Berbagai masalah saat syuting mengakibatkan film tersebut gagal total di pasaran.
Anehnya, Donquixote bersaudara tidak menganggap itu sebagai bencana; mereka justru tampak lega karena film itu gagal. Bagaimanapun juga, film itu menjadi akhir dari karir duo Doflamingo – Rosinante. Mereka berpisah untuk bekerja di proyek masing-masing. Karir mereka masih cemerlang, meskipun ada yang pernah mengotori.
Sementara Hancock…
"Seorang bintang besar, tentu takkan meredup hanya karena sekali-dua kali mengalami kegagalan," komentar Jinbe. Di tangannya yang besar itu ada sebuah tablet yang menampilkan profil Boa Hancock. Kegagalan 2 tahun lalu itu dikhawatirkan menghancurkan karirnya, tapi nyatanya tidak. Ia tetap berkarya sebagai aktris, yang kini hanya tampil di film ber-genre horor, thriller, dan misteri. Film-film yang dibintanginya setelah bencana itu tetap masuk box office, namun tanpa penghargaan yang menghampiri.
Alasannya satu: walaupun aktingnya bagus, ia… tampak kurang menikmati peran-perannya. Lebih kasarnya, ia sudah tak menikmati pekerjaannya sebagai aktris film. Bagi penonton biasa, itu tak terlalu kentara, tapi bagi kritikus, itu sangat mempengaruhi kualitas aktingnya. Tak ada perasaan yang menggerakkan aktingnya.
"Bagaimanapun, tak pernah kusangka bahwa akan ada aktris Hollywood yang pernah tinggal di kota Raftel bersama kita," Jinbe menutup artikel itu. "Ahh, dunia ini begitu kecil. Benar kan, Shirahoshi-kun?"
Shirahoshi, yang tadinya menatap pemandangan di luar jendela dengan tatapan kosong, tersadar. Ia pun menolehi pria itu dan tersenyum sopan.
"Benar sekali, oyabun."
Jinbe tahu bahwa wanita muda itu tak mendengarkannya karena memikirkan sesuatu, tapi dia tak ingin mengatakannya. Dia meletakkan tablet itu di meja depannya, dan melipat lengan.
Mereka berdua sedang berada di Amerika Serikat. Lebih tepatnya, di pusat jagad hiburan, Hollywood. Dengan limusin hitam dan tim pengawalnya, kau takkan pernah menyangka kalau Shirahoshi bukanlah artis. Seolah ia memang pantas berada di sini bersama bintang-bintang lain.
Sampai saat ini, semua berjalan sesuai rencana.
Dalam waktu dekat ini, Neptune Corp. akan meluncurkan rangkaian produk kosmetik yang menggunakan bahan-bahan alami dari lautan seperti mutiara, rumput laut, dan sebagainya. Sebenarnya target market mereka hanyalah wilayah Jepang, tapi Shirahoshi dengan nekat ingin menjajal pasar internasional. Untuk itu mereka memerlukan brand ambassador yang mengenal Jepang dan cukup terkenal di level internasional. Pilihannya tak lain tak bukan adalah Boa Hancock! Ia pernah tinggal sampai SMU di kota Raftel dan kini menjadi artis bertaraf internasional, sepertinya tak ada alternatif yang lebih bagus darinya…
"Sungguh, selagi menyelam minum air."
"Walaupun demikian, ini akan jadi penyelaman termahal di dunia…" kilah Shirahoshi.
Mereka kini menuju sebuah agensi periklanan besar di mana mereka akan melakukan syuting iklan produk kosmetik tersebut. Alasannya sih, Shirahoshi mau mengawasi langsung proses produksi iklan itu, dikarenakan ini adalah produk baru.
Ada benarnya, walaupun tujuan mereka sesungguhnya bukanlah soal bisnis.
Setelah mendapatkan informasi bahwa pengirim petunjuk misterius yang menggegerkan para ex-Straw Hats adalah Boa Hancock, Shirahoshi ingin mengkonfrontasinya langsung. Tapi. Hancock adalah seorang artis besar, kesibukan dan statusnya membuat kesempatan bertemu langsung dengannya nyaris tak ada. Tapi, begitu menggunakan alasan "Neptune Corp. ingin menggunakan Boa Hancock sebagai brand ambassador", semua jadi mudah.
Memang, ini membuat biaya promosi mereka membengkak berkali-kali lipat. Shirahoshi yakin ayahnya sang direktur utama akan mengunyahnya setelah ini.
"Kamu jadi semakin berani, Shirahoshi-kun. Ini membuatku… bangga, walaupun juga khawatir," komentar Jinbe kemudian, yang ditanggapi sang putri dengan senyuman malu.
"Anda adalah orang kesekian yang mengatakan demikian," katanya.
Jinbe mengangkat kedua tangannya, "Aku tidak mengatakan itu untuk kemudian menasehatimu."
"Fufufu. Terima kasih."
Menggantikan Hody Jones dan yang lain, Jinbe menjadi pengawal pribadi Shirahoshi untuk kegiatan ini. Alasannya, karena dia sudah pernah bertemu Boa Hancock. Shirahoshi ingin memanfaatkan apapun yang bisa menguntungkannya dalam pembicaraan dengan sang artis.
"Di saat putus asa, diperlukan cara yang putus asa juga," jawab si putri, penuh percaya diri.
"Walaupun begitu, kurasa ini akan tetap menguntungkan buat perusahaan juga," balas Jinbe. "Setelah memotong biaya promosi yang menggunakan bintang sekelas Boa Hancock, sih."
"Oyabun memujiku atau apa sih?"
Mobil yang mereka tumpangi berhenti dengan anggun di sebuah gedung perkantoran besar dengan tulisan "Tesoro" berwarna emas raksasa di lantai teratasnya. Ini adalah kantor pusat agensi periklanan milik Gild Tesoro, yang biasa berurusan dengan para bintang Hollywood. Rencananya, Shirahoshi akan bertemu Hancock dan manajernya untuk berkenalan sekaligus melakukan briefing, sebelum syuting perdana dimulai di studio utama Tesoro.
Jinbe turun dan membukakan pintu bagi sang putri, yang segera melangkah keluar dengan anggun. Sebuah karpet merah digelar di bawah kakinya, dengan dipagari tim bodyguard di kanan-kirinya, melindungi Shirahoshi dari sergapan para wartawan yang haus berita. Sementara, di pintu masuk gedung itu berdirilah sang pemilik perusahaan, Gild Tesoro, beserta seorang wanita yang pasti adalah sekretaris pribadinya.
"Selamat datang, selamat datang! Di wilayah kekuasaan- ehem, maksudku, di kantorku yang sederhana ini, Ms. Shirahoshi!" sambut Tesoro dengan bombastis. Dia segera menjabat Shirahoshi dan mengecup punggung tangannya dengan hormat. "Anda tampak lebih cantik daripada yang diberitakan."
"Terimakasih, Mr. Tesoro," jawab Shirahoshi, dengan bahasa Inggris teramat fasih tanpa logat Jepang sedikitpun. "Maaf, tapi saya khawatir tidak punya banyak waktu di Amerika ini. Bisakah saya segera menemui Ms. Boa Hancock?"
"Oh, tentu, tentu saja! Ms. Hancock sepertinya juga sudah tidak sabar ingin memulai syuting iklan perusahaan anda! Harus aku akui, naskah iklannya begitu jenius. Aktris selevelnya tentu amat antusias untuk naskah brilian seperti ini!" Tesoro menepuk tangannya, dan dalam sekejap pasukan bodyguard yang menyambut Shirahoshi tadi segera meringkasi segala pernak-pernik penyambutan dan mempersilahkan (baca: mengusir) para wartawan. Pria yang sangat efisien, Tesoro ini. "Ah, jangan biarkan aku membuang waktumu, Ms. Mari, kita berangkat, Ms. Hancock berada di lantai 32."
Mereka pun memasuki gedung yang dijuluki Gedung Emas oleh insan dunia hiburan itu. Sesuai julukannya, terdapat ornamen-ornamen emas di berbagai tempat dalam gedung. Mulai dari basis pilar, meja resepsionis, pintu lift, chandelier, sampai-sampai bel dan pot-pot bunga, semua bernuansa emas.
"Dekorasi yang… luar biasa, Mr. Tesoro," puji Shirahoshi, berbasa-basi.
"Pastinya! Nuansa ekslusif untuk semua mitra kerjaku, yang aku hormati!" Tesoro membalas pujian itu tanpa ada kesombongan, hanya kepercayaan diri atas kemampuan finansialnya.
"Bagaimana dengan keamanannya?" tanya Jinbe. Dengan emas sebanyak ini di mana-mana, pasti akan sangat menggiurkan orang-orang rakus dan berniat jahat, bukan? Lihat, bahkan kartu pegawainya bersepuh emas! Bisa saja pegawainya menggelapkan emas itu, bukan?
"Pertanyaan bagus, tuan kepala bodyguard. Tapi, anda tak perlu khawatir. Semua emas di sini sudah didaftarkan secara digital di bank milikku. Jika ada yang dibawa keluar dengan radius 100 meter dari gedung ini, semua akan terdeteksi dan tim pemburuku akan segera menemukannya."
"Wah, sungguh canggih. Walaupun, itu sedikit… menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu di kalangan pegawai," komentar Shirahoshi.
"Ah. Aku pikir menanamkan sedikit rasa takut kepada bawahan itu hal yang bagus," kata Tesoro, ringan. Sembari bercakap-cakap begitu, tak terasa mereka sudah sampai di depan lift utama gedung… yang sungguh emas. Dari plat penunjuk lantai, pintu, bahkan tombol-tombolnya, semua bersepuh emas. "Silahkan."
Shirahoshi melangkah masuk ke dalam lift, diikuti Tesoro, lalu sekretarisnya. Jinbe dan dua orang pengawal dari perusahaan Tesoro masuk setelahnya. Sekretaris itu memencet angka 32 di tombol lift, dan mereka pun naik dengan perlahan.
"Ngomong-ngomong, Mr. Tesoro," Shirahoshi membuka pembicaraan lagi. "Tadi anda bilang bahwa Ms. Hancock sangat menantikan syuting film ini, dikarenakan naskahnya yang luar biasa. Saya jadi penasaran."
"Oh, itu? Aku juga kaget! Aku tak menyangka akan mendapat sebuah naskah iklan yang levelnya tak kalah dari film kelas A Hollywood! Tapi maaf, aku tak bisa memberitahukannya lebih lanjut. Khawatir akan merusak ekspektasimu, nona."
Shirahoshi mengangguk, dan menanyakan hal yang menjadi tujuan utamanya berbasa-basi seperti tadi, "Dan siapakah penulis naskah itu, kalau boleh saya tahu?"
"Oh, Ms. Shirahoshi pasti tahu dia. Sang adik dari Donquixote bersaudara, Mr. Rosinante!"
Sang putri hanya bisa terdiam mendengar nama itu.
…..
Jinbe hanya pernah sekali bertemu dengan Boa Hancock, dan itu pun berada di kubu yang berseberangan.
Waktu itu, Hancock baru terpilih menjadi ketua OSIS Seifu, dan harus memimpin anak-anak sekolahnya di "Defense of the High School". Jinbe yang menjadi guru penanggungjawab Ryuugu, berhadapan dengan sang Ratu Es di klimaks pertempuran. Walaupun mereka hanya bertarung sebentar, tapi kesan yang ditimbulkannya begitu besar.
Rasa percaya diri yang tak tersentuh. Tatapan tajam seperti seorang ratu yang menilai rakyatnya. Dan, kecantikan itu… bahkan Jinbe yang seorang bapak-bapak pun mengakuinya. Dia seolah kembali ke Eropa abad pertengahan, berhadapan dengan seorang ratu yang bertakhta. Jujur, Jinbe sempat dibuatnya merinding. Seorang anak muda yang memiliki pembawaan sepertinya… dia yakin, Boa Hancock ini, suatu saat akan menjadi seorang yang besar.
Hal yang sama dengan yang dirasakannya sekarang.
Tim perias yang ada bersama mereka di ruangan itu seperti boneka kayu saja. Keberadaan mereka seolah terhapus karena berdiri di dekat seorang Boa Hancock.
Boa Hancock yang dulu dan sekarang, tentu berbeda. Ia jadi lebih tinggi, seksi, dan cantik, itu pasti. Lalu, aura haki yang dipancarkannya tetap amat kuat. Itu, dipadu dengan ekspresi netralnya membuat Shirahoshi dan Jinbe merasa terusir dari hadapannya. Mereka seperti tidak berhadapan dengan seorang manusia, melainkan makhluk asing yang menolak kehadiran manusia di dekatnya.
"Selamat datang di Amerika, Ms. Shirahoshi," sapa Hancock, profesional. Ia mengulurkan tangan yang segera dijabat erat tanpa ragu oleh sang putri Ryuugu. Dalam hati, Jinbe bersorak bangga; Shirahoshi tak terpengaruh sedikitpun oleh aura intimidasi lawan bicaranya. "Bagaimana perjalanan anda dari Jepang?"
"Apapun maskapainya, perjalanan menyeberangi Samudra Pasifik tetap saja melelahkan," jawab Shirahoshi.
"Fufufu, sudah kuduga. Namun, sepertinya anda tidak terlalu terpengaruh? Mengingat anda langsung mengajakku untuk bertemu."
"Pertemuan ini lebih penting dari waktu istirahatku."
Hancock mengangkat sebelah alis tipisnya. "Begitu pentingnya kah, produk baru perusahaan anda ini?"
Shirahoshi mengangguk dengan mantap.
Sang artis mengamati lawan bicaranya ini baik-baik. Tentu, sebelum bertemu dengan klien, Hancock sudah sedikit banyak mencari informasi tentang perusahaan apa yang akan ia wakilkan.
Neptune Corp. adalah perusahaan yang bergerak di bidang kelautan, dan beberapa saat lalu berniat meluncurkan jajaran produk kosmetik berbahan dasar kehidupan marina; sampai situ ia mengerti. Lalu, yang menemuinya sekarang adalah putri dari direktur utama perusahaan, yang menduduki posisi penting di sana (entah karena nepotisme atau kemampuan, Hancock tak mau memikirkannya).
Meskipun sudah berbekal informasi ini, Hancock tetap tak bisa memperkirakan apa yang akan dikatakan sang putri Ryuugu. Ia jadi penasaran-
Sampai Shirahoshi membuka mulutnya dan waktu seolah membeku, "Apa anda mengetahui nama… Monkey D. Luffy?"
Pupil Hancock membesar mendengar nama yang tak pernah mampir di telinganya selama beberapa tahun, tapi dalam sekejap kembali normal. Ekspresi yang tentunya tak luput dari pengamatan Shirahoshi dan Jinbe.
Jadi, informasi itu benar. Bahwa Boa Hancock mengetahui sesuatu tentang Luffy!
Sang bodyguard menolehi putrinya, yang tanpa sadar menyunggingkan senyuman penuh percaya diri. Ia pun melanjutkan, "Saya pikir, pasti anda mengenalnya. Anda dan Luffy-sama," alis Hancock berkedut mendengar akhiran '–sama' itu, "pernah bersekolah di SMU Seifu di kota Raftel, bukan? Bahkan, anda berdua hanya berselisih 2 tahun."
Hancock menatap wanita muda di depannya itu bagaikan menatap sesosok hantu, hantu dari masa lalunya. Cahaya kehidupan di matanya menghilang, dan entah kenapa suhu AC ruangan itu turun beberapa derajat.
Sang artis menolehi tim periasnya, yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk syuting. Dengan nada datar yang membangkitkan bulu kuduk, ia berucap, "… kalian. Keluar dari sini, sekarang."
Itu bagaikan sebuah titah mutlak dari ratu, yang tak menurut akan menerima ganjaran yang amat berat. Meski begitu, masih ada saja yang berusaha mengelak.
"Tapi, riasan anda-"
"KUBILANG, KELUAR."
Jika tatapan mata bisa membunuh, anggota tim perias (yang pastinya masih magang) itu pastinya sudah mati sebanyak 3 kali. Tapi, ia hanya pingsan dengan mulut berbusa akibat Haoshoku Haki yang difokuskan kepadanya. Anggota yang lain, tanpa mengatakan apapun, segera menyingkir sembari menggotong anak malang itu.
Inilah salah satu penyebab kemampuan akting Boa Hancock menurun sejak kegagalan filmnya 2 tahun lalu: emosinya tidak stabil. Hancock, dalam kondisi normal adalah seorang yang angkuh, tapi ia takkan sampai hati memanfaatkan wibawanya untuk meneror bawahan-bawahannya. Namun, jika ada sesuatu yang menyinggungnya, sosok Ratu Es dari masa mudanya itu bangkit… dan tenggelam begitu saja.
Seperti sekarang.
Begitu semua orang menyingkir dan hanya tersisa Shirahoshi, Jinbe, dan Hancock saja dalam ruangan itu, sang artis tampak kembali tenang. Ia mengunci pintu ruangan, lalu menatap mata kedua lawan bicaranya ini.
"Pantas aku merasa pernah melihat anda, tuan bodyguard," kata Hancock, sembari melirik pria tua itu. "Anda Jinbe, guru dari SMU Ryuugu, bukan?"
"Benar. Kamu mengingatku?"
"Tentu saja. Aku pernah bertarung dengan anda di klimaks pertempuran 'Defense of the High School', 8 tahun lalu," sang artis menyandarkan dirinya di pintu ruangan, menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan. Ia kemudian nampak semakin kehilangan kekuatan, karena posisi duduknya terus turun… sampai akhirnya, ia terduduk di lantai yang dingin. Ia pun menundukkan kepala, menutupi wajahnya yang pucat pasi. "Fufufufufu… karma rupanya tak berhenti mengejarku, bahkan setelah sekian tahun berlalu."
"A-anda tak apa-apa?" tanya Shirahoshi sembari menghampirinya. Namun, Hancock mengangkat sebelah tangan untuk menghentikannya. Jinbe pun meraih pundak wanita muda itu.
"Ms. Shirahoshi, siapa sebenarnya kamu?" tanya sang artis dengan lirih.
"Aku… ah, tentu saja. Anda lulus dua tahun lebih dulu dari Luffy-sama bukan, sehingga tak mengenaliku?" Shirahoshi meletakkan sebelah tangan di depan dadanya, "Perkenalkan, anggota kelima belas Straw Hats, Shirahoshi."
"Straw Hats… katamu?" Hancock mengangkat wajahnya, dan tanpa disangka, sebulir air mata meleleh dari ujung matanya. "Fufu-hahaha. Anggota Straw Hats… terlebih lagi, anggota yang tak kukenal… adalah yang menemukanku."
Sebuah senyuman pun merekah di wajahnya, ekspresi yang amat tidak cocok dengan air mata yang berlinang. Ia tampak seperti seorang budak, yang setelah puluhan tahun, dibebaskan dan merdeka.
"Akhirnya… kita bertemu."
Ia mengusap matanya, tapi tak berguna, air mata terus membanjiri pipinya dan menghancurkan riasan tipis yang dikenakannya. Hancock berusaha bangkit dengan sebelah tangannya, tapi ia terlalu lemah, ia tergelincir dan terjatuh.
Kali ini Shirahoshi menghampiri untuk membantunya berdiri, dan dalam sekejap… Hancock menariknya jatuh. Ia tak bisa lepas, kekuatan fisiknya kalah jauh!
Jinbe, yang khawatir kalau-kalau emosi Hancock meledak lagi seperti tadi dan membahayakan sang putri, melesat dengan niat memisahkan mereka. Tapi…
"Terima kasih…"
Sebuah ucapan yang lagi-lagi, amat tidak cocok dengan suasana pembicaraan mereka. Belum reda kekagetan Shirahoshi, sang artis memeluknya erat. Bagaikan saudara kandung yang sudah tak bertemu setelah sekian tahun, sebuah kerinduan yang tak terperikan.
"Terima kasih karena telah menemukanku, Straw Hats."
Dan dunia yang ditatap Hancock pun menghilang dalam kegelapan.
-xXxXx-
Enam tahun lalu, aku nekat berangkat ke Amerika karena merasa karirku telah mencapai puncaknya di Jepang. Berbekal koneksi keluargaku dengan petinggi industri perfilman Hollywood, aku segera mendapatkan debut. Kebetulan film di mana aku terlibat juga merupakan karya debut dari Donquixote bersaudara, yang mencoba mendirikan studio film. Sang kakak, Doflamingo atau Doffy, yang nekat dan penuh emosi meledak-ledak seolah dia takkan hidup lama; dan sang adik, Rosinante atau Corazon atau Cora, yang kalem dan tak banyak bicara, tapi amat perhatian kepada orang lain.
Mereka adalah dua orang paling muluk-muluk yang pernah kukenal. Penuh semangat, cita-cita yang membumbung tinggi, dan tak mau berhenti di tingkatan tertentu, terus berimprovisasi. Singkatnya, mereka mudah bosan.
Aku dengar dari teman-teman mainku kalau mereka sebenarnya punya beberapa perusahaan, bahkan sebuah akademi… tapi mereka meninggalkan kemapanan mereka sejenak, untuk terjun dengan kepala lebih dulu ke dunia film.
Padahal duo sutradara, apalagi yang bersaudara seperti mereka, amatlah jarang. Kau tahu kenapa?
Karena tidaklah mudah menggabungkan isi kepala 2 orang ke dalam suatu karya. Egoisme, perbedaan pandangan, atau sekedar perbedaan sifat, bisa saja menghancurkan semua yang telah dipersiapkan dengan matang.
Tapi… mereka sungguh di luar dugaanku.
…..
Film pertama dua bersaudara itu berjudul "Abyss" dengan genre drama dan misteri. Alkisah, ada sebuah keluarga besar kaya-raya dan terpandang di masyarakat, namun kekayaan dan pengaruh mereka disebabkan kegiatan kriminal di baliknya. Karakter utamanya adalah anak perempuan bungsu yang diperlakukan sangat buruk. Ia mengalami pelecehan, kekerasan rumah tangga, bahkan sampai dicekoki obat terlarang. Tetap saja, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap waras, menjadi satu-satunya penghuni rumah itu yang normal.
Namun kematian anggota keluarga lain secara misterius membuat gadis itu perlahan mempertanyakan kewarasannya. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa sejak saat pertama dia berjanji untuk tetap normal, saat itulah kewarasannya sudah menghilang.
Sesuai pepatah, jika kau terlalu lama menatap kegelapan, kegelapan akan menatapmu balik… yang menjadi inspirasi judulnya.
Karena aku hanya terlibat sebagai pemeran pembantu (secara literal), waktuku banyak dihabiskan di trailer. Sembari para senior syuting, aku mempelajari naskah secara menyeluruh, sampai-sampai aku bisa menghapal semua dialog di dalamnya. Bahkan, kadang aku bermain sendirian, selayaknya latihan drama, membayangkan diriku adalah para tokoh yang sedang berinteraksi. Menjadi karakter pria yang meraung penuh semangat di sana, mengucapkan perasaan yang tulus seperti sang karakter utama wanita di sini, atau menjadi karakter antagonis yang tertawa kejam, aku latih diriku seolah-olah akulah pemeran mereka.
"Kamu… ngapain?"
Orang itu muncul begitu tiba-tiba. Cora, yang sedang beristirahat, memergokiku tengah bermain drama seorang diri. Sepertinya dia sudah lama menyaksikan aku dari luar pintu trailer yang terbuka. Aku, yang merasa amat malu karena antusiasmeku ini, segera membuat alasan kalau aku berlatih karena ingin berakting sempurna. Pria pendiam itu hanya mengangguk, lalu melengos pergi.
Ternyata, dia melapor ke kakaknya, dasar Cora sial itu.
Doffy yang penasaran pun memutuskan untuk membuatku menjadi karakter utama! Aku "naik pangkat" amat drastis dari pemeran pembantu! Untungnya, para artis yang lebih senior memahami tingkah seenaknya Doffy, dan membiarkan aku menjalani peran yang lebih banyak. Yah, siapapun mau bekerja dengan santai, bukan?
….
Singkat cerita, film itu meledak di pasaran.
Doffy yang memiliki standar tinggi sebenarnya ingin menayangkan film itu di bioskop, tapi Cora dengan bijak membujuknya. Genre film ini tidaklah umum sehingga akan sulit bersaing secara realistis dengan film-film blockbuster musim panas. Maka, kami "hanya" membawa film itu ke sebuah festival film di Perancis. Karena orang-orang di sana punya selera yang "lebih tinggi" daripada kebanyakan, tanggapan mereka sangatlah positif dan "Abyss" pun mendominasi penghargaan. Padahal menurutku (yang pemeran utama!) film ini amat gelap dan membuat frustasi. Ternyata ada juga ya, orang-orang yang bisa terhibur dengan keputusasaan? Dunia ini sudah bobrok rupanya…
Barulah setelah itu Doffy mencoba memasarkannya secara konvensional, itu pun tidak dibarengi upaya promosi besar-besaran. Tapi, di luar dugaan pendapatan film ini melesat jauh meninggalkan para saingan, padahal persaingan jagad perfilman tiap musim panas amatlah berat! Selama beberapa minggu, film ini bercokol di puncak box office Amerika Serikat dan Eropa. Nominasi Oscar pun berdatangan.
Pada akhirnya, "Abyss" memenangkan screenplay dan film drama terbaik, suatu pencapaian amat luar biasa bagi Donquixote bersaudara. Namaku sebagai pemeran pendatang baru juga masuk nominasi, dan walaupun aku kalah, tapi pengenalan publik padaku sudah sangat berharga. Aku pun menjadi artis pendatang baru paling dicari, dan tahun-tahun setelahnya kuhabiskan dengan bolak-balik lokasi syuting film. Aku sangat sibuk, tapi ini kesibukan yang menyenangkan. Jauh lebih seru daripada pekerjaanku di Jepang! Aku dengan bangga mengatakan bahwa itu adalah saat-saat paling membahagiakan untukku.
Namun, dua tahun lalu…
…..
Donquixote bersaudara tiba-tiba menghubungiku, untuk menawarkan kesempatan bermain di proyek terbaru mereka "Crimson Ruby". Genre-nya lagi-lagi drama, kali ini diselingi thriller. Teringat akan kesuksesan film pertamaku bersama mereka, dan karena ada perasaan ingin membalas budi atas reputasiku sekarang, aku pun menyetujui ajakan mereka dengan antusias.
Kami bertemu di sebuah café di New York, aku dan kakak-adik itu. Kesuksesan tak mengubah dua orang itu, mereka tetap penuh semangat dan muluk-muluk, dengan standar yang semakin tinggi daripada "Abyss". Sesuai yang kuharapkan.
"Crimson Ruby" menceritakan sebuah perusahaan pertambangan ruby yang menggali terlalu dalam dan membangkitkan suatu makhluk kuno yang tinggal di bawah tanah. Konsep yang cukup klise, tapi fokus film ini adalah sang makhluk, yang diberi nama 'Crimson'. Bagaimana dia yang terisolir dari dunia atas selama ribuan tahun, tiba-tiba harus berhadapan dengan dunia modern dan manusia. Crimson pun menghancurkan alat-alat pertambangan dan membunuhi para pekerja dalam kebingungannya. Orang-orang perusahaan, berbekal peralatan berat mereka, dengan percaya diri hendak memburu Crimson dan menghabisinya; namun seorang ilmuwan geologis yang bersama mereka justru ingin mempelajari sang makhluk, ingin mengerti dia.
Aku akan berperan sebagai ilmuwan itu.
"Konsep yang luar biasa," kataku setelah membaca potongan naskah.
"Tentu saja, kau pikir sedang bicara dengan siapa, hah?!" Doffy tertawa sombong, sementara Cora mengangguk-angguk dengan senyuman bangga. Melihat ekspresi mereka, aku yakin ini adalah buah pikiran mereka berdua. Kekompakan mereka membuatku tersenyum.
"Dengan Ms. Hancock di sini, cast manusianya sudah lengkap," komentar Cora kemudian.
"Mffufufu. Aku percaya ini cast terbaik yang bisa kita dapatkan untuk film ini," Doffy membetulkan posisi kacamata hitam yang selalu dipakainya itu. "Masalahnya adalah…"
"Adalah?" aku memiringkan kepala, apa lagi yang kurang?
"Pemeran Crimson. Kita takkan menggunakan CG, melainkan aktor dalam kostum."
Pernyataan ini membuatku semakin penasaran. Di zaman serba digital ini, mereka masih ingin menggunakan metode kuno?
"Aku ingin menggambarkan Crimson dengan kebingungan dan ketakutan yang alami, karena pertama kali bertemu manusia, tapi langsung diburu untuk dibunuh. Itu tak bisa kudapatkan dengan CG. Untuk takut kepada manusia, kau harus mengerti manusia itu sendiri. Dengan kata lain, hanyalah manusia yang pantas memerankannya," kata Doffy.
"Punya kenalan yang kira-kira memenuhi standar itu?" tanya Cora. Aku menggeleng singkat, dan dia menghela napas, "Sudah kuduga. Kamu tak terlihat seperti orang yang mudah bergaul, Ms. Hancock."
Permisi? Apa dia barusan menyindirku? "Apa maksudmu dengan itu, Mr. Donquixote junior?"
Wajah ramah Cora berkedut. Tepat sasaran. Walaupun dia adiknya Doffy, tapi entah kenapa dia tidak mau dipanggil begitu. Kami pun saling melotot, tidak terima atas perkataan lawan.
Sampai sang kakak menepuk pundak kami dan berkata, "Oi oi, bertengkarnya nanti saja di set syuting!"
"Uhh, Doffy, kita sebaiknya tidak melakukan itu kan?"
"Apa kau bilang, adikku, pertengkaran itu bumbu hubungan kerja!"
Kami hanya bisa tertawa kering menanggapi optimisme sang kakak.
Jika kuingat kembali, saat itu aku memang tengah berpacu secepat mungkin menuju masa depan, tak pernah melambat apalagi berhenti. Juga tak pernah melihat ke belakang, meninggalkan Boa Hancock yang dulu. Aku tak pernah menyangka bahwa masa laluku mengirimkan seseorang untuk menyapaku, untuk mengatakan, "Hei, melambatlah sedikit. Kamu belum siap mencurahkan segalanya untuk karir. Hidupmu masih panjang."
"WHOA! TERNYATA SUNGGUHAN!"
Aku tersedak nafasku sendiri.
Suara yang tak pernah kudengar selama sekian tahun, tapi selalu kuingat di manapun aku berpijak.
Aku tidak menoleh. Aku tidak berani menoleh.
Aku takut, pemilik suara yang ramah itu hanyalah sekadar ilusi, untuk menghambat langkahku menuju masa depan.
BAM!
Tapi, ilusi itu muncul di depan mataku dalam wujud fisik dan senyuman lebar.
"Kamu Hancock kan?! Whoa! Lama nggak ketemu!"
Dia… sungguh nyata. Seringainya yang bercahaya, matanya yang berkilauan, dan aura penuh semangat yang dipancarkannya itu…
"L-Luffy… san?"
Ya, sejak aku lulus SMU, aku menanggalkan '-sama' pada namanya, dan memanggilnya dengan lebih formal. Tapi, itu tak penting lagi sekarang.
"Tentu saja, ini aku!"
Luffy kini memiliki wajah yang lebih dewasa, kulitnya nampak lebih gelap dan badannya lebih kekar. Tapi, Hancock takkan pernah melupakan seringai remajanya, yang pernah meluluhkan hatiku. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat itu, selain kegembiraan luar biasa. Perasaan yang telah lama kulupakan, bahkan meskipun aku begitu menikmati pekerjaanku sekarang.
Hati sang Ratu Es yang perlahan membeku selama tahun-tahun belakangan karena profesionalitas, perlahan meleleh kembali.
...
Ya, jika kuingat-ingat lagi, pertemuan itu tak ubahnya sebuah keajaiban.
Namun, keajaiban takkan bisa didapat begitu saja tanpa suatu bencana untuk membayarnya, bukan? Begitulah dunia ini bekerja. Aku... bukan, kami, akan segera menyadarinya.
-xXxXx-
"Kalian… tahu soal legenda kotak Pandora?"
Ketika dia tak mendapat jawaban dari kedua orang di depannya, dia melanjutkan,
"Seorang wanita dipercayai para dewa untuk menjaga suatu kotak rahasia. Tentunya, ia dilarang untuk membukanya. Namun, karena penasaran, ia pun melanggar sumpahnya dengan para dewa dan membuka kotak itu… yang berisikan kejahatan umat manusia. Para dewa marah dan mengutuknya, ia takkan bisa mati sebelum bisa mengumpulkan semua kejahatan dan menutup kotak itu lagi."
Pria itu menghela napas panjang. Dia hendak mengatakan lanjutannya, tapi napasnya tercekat. Temannya, yang duduk di sebelah, menepuk pundaknya dan melanjutkan,
"Singkatnya, seseorang mengetahui sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui, dan tidak bisa melupakan pengetahuan tersebut.
"Seseorang itu… bukan. Lebih tepatnya, kami sudah membuka kotak Pandora, dan tak bisa menutupnya kembali."
Sang teman memejamkan matanya yang mulai memanas, membendung derasnya air mata yang tertahan selama 3 tahun ini.
"Semua, seperti kisah tragedi pada umumnya, dimulai dengan sebuah tindakan bodoh."
- to be continued -
Chapter VI
See You Again
