Digimon© Akiyoshi Hongo.
((Sekali lagi, saya bahkan tidak mengambil keuntungan materil dari karya beliau))
"Berbaris!"
"Siap!"
"Ambil suara!"
Suara lantang menggema pagi itu di kediaman keluarga Kanbara. Berpuluh anggota yakuza bawahan Toushizou Kanbara berbaris di depan pintu suatu ruangan. Terlihat di pintu kamar, ada ukiran mungil yang tergantung. Takuya kece's room. Beberapa detik kemudian, para anggota yakuza tersebut telah selesai mengatur rapi barisannya. Kini, mereka mulai membuka buku teks yang sudah dipegang oleh masing-masing anggota.
"Sebutkan peraturan yakuza yang sudah digubah oleh Bos Toushizou!" perintah sang pemimpin. Anggota lainnya lantang menuruti perintah.
"Satu! Jangan membunuh Tuan Takuya dan teman-temannya tanpa izin! Juga tidak memburu Tuan dan teman-temannya tanpa izin! Jika bermasalah, segera rumbukkan bersama!" ikrar mereka.
"Dua! Jangan mencuri mobil dari kru lain, terutama mobil Tuan Takuya dan Bos Toushizou! Jika seseorang mencuri mobil Anda, hubungi Badan Intelijen Yakuza!"
"Tiga! Jangan pernah meminta uang atau pinjaman dari siapa pun! Bekerjalah sangat keras sampai semaput!"
"Empat! Saling membantu sesama anggota Yakuza! Tenggang rasa tinggi dan selalu melindungi Tuan Takuya! Perintah Bos Toushizou maupun Tuan Takuya adalah mutlak!"
"Lima-
"Ribuuut!" terdengar suara geludukan, sebelum akhirnya pintu kamar itu terbuka. Terlihat Takuya sedang misuh-misuh di ambang pintu akibat suara ribut para staff rumahnya. Wajahnya sungguh menggambarkan kejengkelan.
"Sumpah, kesal, deh! Sampai kapan kalian akan membangunkanku dengan cara enggak wajar begini?!" amuk Takuya pagi itu. Dirinya kesal. Yap, inilah cara konyol para anggota Yakuza Kanbara membangunkan cucu bos mereka.
"Maaf, Tuan! Tapi ini perintah Bos Toushizou agar Anda tak telat pergi ke sekolah!" jawab salah satunya tegas, dengan tidak mengurangi rasa hormatnya kepada Takuya.
"Hah?!" jerit Takuya frustasi. Kakek lebay itu tidak berubah juga. Tetap grandson complex. "Sampai kapan kalian mau menuruti perintah kakek yang aneh-aneh itu?!"
Mereka berdiri tegap dan kembali membuka buku panduan peraturan yakuza tadi, kemudian dengan lantang membaca peraturannya, memberi sedikit penekanan pada beberapa kata "Empat! Saling membantu sesama anggota Yakuza! Tenggang rasa tinggi dan selalu melindungi Tuan Takuya! Perintah Bos Toushizou maupun Tuan Takuya adalah mutlak!"
"Ampun!" Takuya menepuk jidat. "Oke, deh! Aku sudah bangun. Nah, sana bubar, dan jangan lakukan metode bangun pagi macam ini lagi."
"Baiklah, Tuan Takuya!" seketika, kumpulan staff yakuza ber-yukata hitam itu bubar, pergi dari kamar Takuya, namun berkumpul lagi di depan kamar Shinya, adik laki-laki Takuya yang lebih muda empat tahun dari kakakknya.
"Sebutkan peraturan yakuza yang sudah digubah oleh Bos Toushizou!"
"Satu! Jangan membunuh Tuan Shinya-
Takuya geleng-geleng kepala, "Kapan, sih, mereka tobatnya?"
((It's Unscandal, right?))
Houken Gakuen, sekolah bobrok khusus putra yang riwayat hidupnya nyaris tutup. Siswanya hanya dua ratusan jiwa. Perkelasnya hanya sepuluh lebih penghuni. Coba saja tanya tanya siswa-siswa sekolah lain, atau orang-orang sekitar. Sebagian besar jawaban yang akan didapat, pasti; "Houken Gakuen? Sekolah apa itu? Pesantren baru?"
Seperti biasa, sepanjang jalan Takuya lewat, anak-anak selalu memberikan jalan kepadanya. Bahkan anak-anak bertampang persis seperti bodyguard kakeknya—sangar—juga tunduk. Belum lagi yang bikin tensi Takuya naik satu tangga, ayam peliharaan sekolah juga ikut-ikutan meminggir melihat sosoknya. Apa segitu menakutkannya seorang cucu yakuza? Oke, Takuya positive thinking saja. Mereka meminggir karena minder Takuya kelewat ganteng!
Loh? Ternyata gaduh juga kelasnya… batin Takuya ketika ia menguping di balik pintu kelas.
"Pagi!" salam Takuya pada teman-teman setelah ia masuk ke dalam kelas. Suara ribut anak-anak sekelas, pembicaraan tentang sinetron yang ditonton kemari, gosip artis, tentang cewek, bahkan tentah perbandingan harga rebonding dan sedot lemak di Alaska buyar semua. Mendadak mereka terdiam, dan cepat-cepat mengambil posisi. Memberi Takuya jalan ke bangkunya.
"Pagi, Kanbara-sama!" jawab salah seorang dari mereka.
"Jangan panggil aku dengan nama keluarga! Panggil aku Takuya!" rengek Takuya. Muak.
"Oke, Takuya-sama!"
"Jangan panggil sama!"
"Jadi, kami harus panggil Anda apa?" sambar salah seorang, lagi.
"Justin Timberlake," Takuya duduk dengan kesalnya. Yang bikin dia tambah kesal lagi, untuk duduk pun, kursinya masih harus ditarikkan oleh mereka. Grr!
Demi peri laut Nereid, demi kakak kembar Takuya Kanbara, Ade Ray, aku muak diperlakukan begini. Takuya ingin banget menangis dalam hati. Kalau bisa, biar lebih dramatisir lagi, nangisnya sambil ngiris bawang Bombay.
Seketika, perhatian Takuya tertuju pada sesuatu. Ternyata bangkunya yang berada di pojok kanan belakang bersebelahan dengan Kouji. Dan yang bikin lebih menarik perhatian lagi, hanya Kouji yang bersikap cuek bebek dengan kedatangan Takuya.
"Kouji, pagi," sapa Takuya kaku pada si pemuda (sok) cool yang sedang asik baca buku akor gitar itu. Entah dia memang bisa main gitar atau cuma gaya-gayaan. Hm… atau di dalam buku akor itu ada gambar bokepnya?
"Pagi." Kouji membalas datar, dengan tetap tidak memandang pada Takuya.
Udah jutek, cuek banget lagi! Takuya dongkol setengah hidup.
Duak!
Pintu kelas digeser dengan kasar. Terlihat seorang pemuda berambut kuning jagung kecoklatan masuk. Tubuhnya yang ramping memudahkannya menyalip teman-teman yang menghadangnya.
"Katsuharu datang?!" kaget mereka. Seisi kelas kembali hening.
Katsuharu, murid yang terkenal berandalan dan sering cabut dari jam pelajaran. Ia jarang muncul, bahkan terancam DO dari sekolah. Seluruh nilainya tidak begitu buruk, namun hanya tersandung di absensi saja.
"Wah, siapa ini? Orang asing?" deliknya pada Takuya. Merasa mendapat bahan gencetan baru. Yang lain memasang tampang pucat. "Hooo. Baru masuk saja sudah sok!" bentaknya.
"Katsuharu, tunggu-"seorang teman mencoba mengingatkan Katsuharu, namun kelihatannya Katsuharu malah bandel dan tidak mau mendengar. Ia justru semakin mendekati Takuya.
"Hei, anak baru! Kalau berani, ayo tantang aku! Kita bertarung!" Katsuharu menarik kerah baju Takuya. Ia merasa sok jago sekarang. Takuya yang diperlakukan begitu langsung memasang wajah pucat.
Pucat? Ya, pucat, tapi bukan karena takut pada Katsuharu, melainkan mengkhawatirkan nasib Katsuharu. Biasanya kalau sudah begini, adegan selanjutnya adalah…
Dar! Der! Dor! Duar! Duar! Drrrrt!
"Lepaskan Tuan Takuya!"
"Beraninya menyentuhkan tanganmu ke seragam Tuan Takuya!"
"Bunuuh!"
"Hajaaar!"
"For Toushizou-sama sake, you must die!"
Beginilah. Berpuluh bawahan sang kakek—sekaligus pelindung Takuya—memberodol Katsuharu dengan beribu peluru bermacam senjata api. Mulai dari senjata legal, sampai selundupan, dari senjata api berupa petasan eceran sampai AK-47. Inilah yang Takuya takutkan—keselamatan orang sekitarnya. Takuya sontak melepaskan diri dari Katsuharu, untuk kemudian bergegas menghadang para pengawalnya.
"Ngapain kalian mengikutiku? Pakai sembunyi-sembunyian segala?!" tunjuk Takuya sebal pada para bawahan sang kakek yang senantiasa tak bosan-bosannya pakai jas atau yukata hitam setiap hari itu.
"Kami menghkawatirkan Anda, Tuan! Bos Toushizou memerintahkan kami untuk menjaga Anda!" sahut mereka. Tensi Takuya semakin minggat ke level atas.
"Pulang! pulang! Aku enggak masalah sendirian! Bilang sama Kakek kalau aku gak butuh perlindungan!" omel pemuda ber-goggle itu.
Diomeli begitu, si hitam-hitam yang jumlahnya banyak itu serentak bersiap, mengeluarkan suatu buku dan membaca isinya. Takuya menepuk jidat lagi. Itu buku yang tadi pagi.
"Empat! Saling membantu sesama anggota Yakuza! Tenggang rasa tinggi dan selalu melindungi Tuan Takuya! Perintah Bos Toushizou maupun Tuan Takuya adalah mutlak!"
"Aaaagh!" sahut Takuya frustasi. "Oke, deh!" ia menyambar buku peraturan yakuza itu dan kembali membacanya dengan beberapa penekanan. "Empat! Saling membantu sesama anggota Yakuza! Tenggang rasa tinggi dan selalu melindungi Tuan Takuya! Perintah Bos Toushizou maupun Tuan Takuya adalah mutlak!"
"Gimana?!" delik Takuya pada mereka. Sedetik, para bawahan mengangguk-angguk. Pertarungan dimenangkan Takuya. Para bawahan bubar semua dan meninggalkannya. Pemuda ber-goggle itu lega. Badai sudah berlalu. Takuya akhirnya berbalik pada Katsuharu.
"Ma-maaf. Kamu tidak apa-apa?" tanya Takuya takut-takut. Katsuharu pun mendadak berdiri tegak dan menundukkan kepalanya dengan kaku.
"Ta-Takuya-sama, saya baik-baik saja. Jangan khawatir."
Aduh, Mak. Badai telah berlalu, datang lagi angin gurun. Katsuharu yang dikenal preman calon DO pun tunduk padanya. Ini artinya, ia semakin ditakuti, bukan karena ia kelewat keren dan ganteng—apalagi seksi, melainkan karena kesangarannya yang bisa memerintah anak buah Yakuza.
((It's Unscandal, right?))
Siang itu Kouji sedang berajalan di sekitar lorong menuju atap, tempat favoritnya untuk menyendiri. Tugas suci sudah ia lakukan—bertempur mempertaruhkan nyawa berebut mi goreng di kantin. Kini sudah ada sebungkus di tangannya,
Triing!
Seketika hapenya bunyi. Ia ambil hape flip-nya yang berwarna hitam dari saku celana. Di layarnya tertulis nama sang ayah.
"Halo?" Kouji mengangkat teleponnya.
"Kita mendengar kata'hello', dari padang gurun Nevada!" teriak si ayah di seberang sana. Kouji sweatdroppdi tempat.
"Jangan garing, Ayah!" geram Kouji kesal dengan kegaringan ayahnya. Mungin sang ayah sudah berubah dari serius menjadi garing setelah menikah lagi. Ditambah lagi, sang ibu tiri paling suka masak ayam goreng kriuk. Tambah garing.
"Gawat! Ini gawat sekali, Kouji!" sang ayah berteriak panik.
"A-ada apa? Maling? Gawat kenapa, Yah?" balas Kouji sedikit takut.
"Pokoknya gawat sekali! Ini mendesak!"
Kouji semakin bingung. Ia mengangkat satu alisnya, "Ada apa, Ayah? Gawat kenapa? Ayah cerai lagi? Kita mau syukuran karena Ayah cerai lagi?"
"Bukan itu! Ini penting!" amuk si ayah dari seberang sana.
"Jadi?"
"Kouji… ayah baru bikin Twitter, tapi ayah gak ngerti cara pakainya. Kamu bisa, 'kan, pulang sebentar untuk ngajarin ayah?"
"Gak penting!"—KLAP!
Kouji langsung memutus sambungan, kesal dengan sifat garing ayahnya yang makin lama makin parah. Karena ini jugalah Kouji jadi ilfil dengan ayam goreng Fried Chiken. Kouji juga ingin sekali membanting hapenya, namun niat itu diurungkan mengingat hape itu adalah hape keramat yang sudah ia pakai sejak kelas lima SD.
Pemuda berbandana itu melanjutkan langkahnya menuju atap.
Klek!
Pintu atap ia buka. Tak lama, matanya menangkap sosok Takuya sedang tertunduk lesu sembari bergumam tak jelas. Depresi karena ulah sang kakek.
"Takuya?" panggil Kouji, namun Takuya tak menyahut. Malah terus menggumamkan mantra aneh seperti; 'Kenapa harus aku…?', 'Aku gak mirip kakek', 'Aku gak mau jadi cucu yakuza'.
"Oi, Takuya!" panggil Kouji lagi.
"Kembalikan anakku… kembalikan anakku…," gumaman Takuya mulai melenceng. Tak Kouji ketahui, kalau kata-kata itu adalah gumaman khas Suzannah di film-film teranyarnya. Yaph! Takuya adalah penggemar berat Suzannah!
"Takuya!" suara Kouji meninggi, membuyarkan lamunan Takuya akan keadaan dirinya.
"Y-ya? Loh, Kouji? Sedang apa kau di sini?" tanya Takuya lemot.
"Mau nonton bokep," jeda, "ya enggaklah! Mau makan!" jawab Kouji ketus.
"Duduk sini, temenin curhat!" Takuya menepuk-nepuk lantai di sebelahnya.
"Gak sudi!" ucap Kouji namun tetap duduk di tempat yang ditunjuk Takuya, sambil mulai mengunyah Pizza jajanannya. Tunggu, bukannya tadi Kouji jajan mi goreng?
"Aku padahal nggak mau diperlakukan segini berbedanya hanya karena cucu seorang yakuza," Takuya mulai sesi curhatnya tanpa basa-basi. "padahal aku ingin seperti yang lain. Punya teman dan main-main seperti anak biasa."
"Memangnya kamu nggak biasa?" balas Kouji. Takuya menggeleng lemas.
"Aku selalu berpindah sekolah karena masalah yang sama; ketahuan cucu Toushizou Kanbara. Orang-orang sekitar menjauhiku. Mereka takut, bahkan memandangku sinis."
"Cuek saja kalau gitu. Daripada dipikirin, malah jadi racun hati?" nasehat Kouji. Takuya tersenyum simpul. Ternyata si serigala cuek ini bisa bijak juga.
"Semoga bisa, ya. Kalau gitu, kaumau jadi teman pertamaku di sini?" Takuya berbinar. Harapan untuk mendapatkan teman mulai terbuka.
"Oke-oke. Habisnya aku nggak tega melihat mukamu yang kayak kucing yang ngotot minta dipungut itu," tukas Kouji kejam. Takuya nyengir.
Takuya tersenyum puas. Hari kedua di sekolah barunya, ia mendapat teman untuk pertama kalinya. Namun… yang namanya masalah sepertinya masih tetap cinta sama Takuya dan menghampiri pemuda goggle itu.
"Keluar, kau! Katsuharu!" di depan gerbang sekolah, lima anak berandal berdiri tegap. Wajah mereka sangar dengan pedang bambu di tangan. Beberapa dari mereka bahkan merokok. Ini dia preman sejati.
"Itu 'kan geng motor yang ada di daerah sini? Kenapa meteka kemari?" Kouji melotot ketika melihatnya dari atas atap.
"Aku di sini!" Katsuharu keluar dengan (sok) gagahnya.
"Kami akan balas dendam atas anggota kami yang kau hajar!" tegas mereka sambil mengacungkan pedang bambu mereka.
"Silahkan saja!" jawab Katsuharu lantang.
Tak elak, adegan boxing live pun terjadi di halaman sekolah. Katsuharu dan geng motor itu bertarung, pukul-pukulan dan tonjok-tonjokan. Adegan berantem berat sebelah pun terjadi. Satu melawan banyak. Ini curang
"Cuek aja. Toh, itu ulah Katsuharu sendiri," Kouji dengan santainya makan popcorn sambil menonton adegan itu. Persis bioskop lapangan terbuka, cuma beda tipis aja sama layar tancap. Ngomong-ngomong, dari mana pula popcorn itu breasal?
"Itu curang namanya, Kouji! Aku akan ke bawah melerai mereka!" Takuya berlari secepat kilat menuju lapangan sekolah, tempat adegan baku hantam terjadi.
"Oi, Takuya! Tunggu!" terlambat, yang dipanggil sudah hilang dari pandangan. Berlari dengan gagahnya ke tengah lapangan. Larinya cepat juga. Puji Kouji.
"Berhenti kalian!" teriak Takuya lantang.
"Hooh? Apalagi ini? Kau bawahan Katsuharu, ya?" delik para preman itu.
"Aku bukan bawahannya... tapi-ah sudahlah! Berhenti!" lerai Takuya berani—atau bosan hidup.
"Hoo, menantang maut, nih?"
Pertempuran berlanjut. Katsuharu dan Takuya akhirnya ikut bertarung. Diluar dugaan, Takuya yang selalu dilindungi oleh bawahan tidak jelas Sang Kakek itu, ternyata lumayan pandai bertarung, tinju-tinjuan atau pukul-pukulan. Gerakannya gesit. Takuya sedikit sempoyongan ketika perut dan kepalanya dipukuli. Begitu juga Katsuharu. Lima keroyok dua. Tentu lima yang menang.
"Dasar Takuya dodol! Bosan hidup dia ternyata!" Kouji pun akhirnya ikut menghampiri arena pertempuran, sambil membawa pedang bambu yang ia colong dari klub Kendo.
"Oi!" Kouji ikut bertempur. Diluar dugaan lagi, Kouji pandai memainkan pedang bambu. Tekniknya tinggi dan pukulannya mantap. Sebagian preman habis ia hajar. Membuat Takuya dan Katsuharu bertepuk tangan tanpa melihat sikon.
"Huh, sok jago!" si bos preman berusaha menikam Kouji dengan pisau lipat dari arah belakang.
"Kouji! Awas!" teriak Takuya berbarengan katsuharu. Dan…
Duak! Sang bos geng motor tepar terkena hantaman kamera tua yang datangnya entah darimana. Dengan ini, habislah geng motor yang tadinya sok rusuh itu. Mereka dengan susah payah berdiri dan kabur menggotong bos mereka. Si kamera misterius berhasil meninggalkan benjol serta pitak bernilai abadi di kepala sang bos geng motor.
"Apa ini? Kamera?" heran Takuya mengangkat benda yang cukup besar itu, "Dari mana asalnya, ya?"
"Kamera?" Kouji memandang kamera itu dengan tatapan mencurigakan sembari merinding dangdut.
Perlahan, terdengar riuh tepuk tangan yang deras. Tak disadari, ternyata seisi sekolah melihat adegan pertarungan itu dari jendela gedung sekolah. Banyak dari mereka yang bersorak riang dan bertepuk tangan. Merayakan kemenangan mereka atas geng motor. Begitu juga para guru dan kepala sekolah yang melihat dari balik jendela ruang guru.
"Pak kepala sekolah! Kanbara menang, itu artinya saya menang taruhan! Ayo bapak bayar lima ribu!" ujar seorang guru tak bertangung jawab.
"Cih! Sial!" umpat kepala sekolah sembari mengeluarkan dompet.
((It's Unscandal, right?))
"Ternyata kau bisa berantem juga, walau dimanja pengawal, ya?" ucap Katsuharu menepuk punggung Takuya. Sore itu, Takuya, Katsuharu dan Kouji berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Katsuharu tunduk pada Takuya dan menghormati pemuda itu—walau Takuya yang memohon-mohon pada Katsuharu untuk tidak menganggap dirinya terlalu superior.
"Enak saja! Begitu-begitu, aku 'kan laki-laki!" ucap Takuya gagah. Ia berjalan di antara Kouji dan Katsuharu. Mobil jemputannya? Ia suruh pulang lagi karena ingin berjalan kaki bersama teman-teman barunya, tak peduli sang sopir sudah menangis memohon agar Takuya pulang dengan mobil saja.
"Iya, deh! Aku nggak bakal anggap kamu remeh," Katsuharu kembali menepuk—menggampar—punggung Takuya. Takuya tersenyum tipis, sementara Kouji masih asyik meneliti kamera misterius sok superhero yang melayang entah dari mana. Di benak pemuda berkuncir itu, hanya terbayang satu orang mencurigakan yang identik dengan kamera. Dan orang itulah yang ia curigai saat.
"Oke! Sampai sini saja aku mengantar kalian. Aku mau ke parkiran mengambil motor. Dadah!" Katsuharu memisah. Ia berlari menuju parkiran dan pulang dengan motornya. Hanya tinggal Takuya dan Kouji yang ada di depan gerbang sekarang.
Sore itu, dari jendela atas gedung sekolah, jendela salah satu ruangan, seseorang tengah melihat Takuya dan Kouji menggunakan teropong.
"Ah… Kouji baik-baik saja. Berarti lemparan kameraku berhasil, ya?" ujarnya sambil tetap mengemil keripik bandeng favoritnya. Pemuda dengan helai biru itu mengulas senyum. Bangga.
"Ketua! Ketua hebat sekali bisa melempar tepat sasaran dari jarak sejauh ini. Tapi, apa tak apa-apa melempar kamera itu?" anak buahnya yang berpenampilan super cupu bertanya padanya.
"Nope. Itu kamera rongsok, kok. Sudah nggak bisa diapa-apakan lagi. Ditinggal di tengah jalan juga nggak ada yang mau ngambil." ujarnya seakan tak menghargai barang.
To Be Continued
Maaf kalau garing dan banyak typo :"D untuk pembaca lama Unscandal, kok saya tetiba malu, yah, kalau karya ini kalian baca ulang? :3 Maaf, loh, kalau banyak typo QAQ
Minta feedbacknya aja, deh, yah? :"D Makasih, loh
