Digimon© Akiyoshi Hongo.
WARNING! AU, OOC, Abal, gaje, garing. Typo dan misstypo menyebar. ngaco.
((Saya tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari fanfiksi ini))
Houken Gakuen, sekolah putra bobrok yang nyaris tamat riwayatnya. Penghuni tak lebih dari dua ratusan siswa. Gedung nyaris runtuh dengan hiasan retak di sana-sini, ditambah suasana suram yang menambah angker gedung sekolah tak layak pakai ini.
Saat ini, murid-murid sedang asyik belajar. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, menandakan istirahat siang sebentar lagi tiba.
Percaya-gak-percaya, waktu istirahat siang adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu seantero anak sekolahan. Waktu istirahat ini mereka manfaatkan untuk mojok, ke toilet, memohon salinan PR, dan yang paling utama—tentu saja makan siang. Bel istirahat ini menjadi pertanda bagi otak mereka untuk stop berpikir dahulu dan tancap untuk mengisi perut, guna bahan bakar untuk molor di jam pelajaran selanjutnya. Namun… lain untuk sekolah bobrok ini. Bel istirahat siang berarti… pertempuran.
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat siang telah berbunyi, dan…
Greek!
Para siswa serentak berdiri dari bangku. Pintu kelas terbuka dengan kasarnya.
"Oooo! Serbuuu!" berpuluh siswa beringas merusuh keluar dari kelas. Gedung sekolah bergetar karena derap langkah mereka. Mata mereka bersinar garang, hawa ganas membuncah. Yel-yel yang sebenarnya tidak penting diteriakkan sangat lantang. Saling dorong, saling pukul, saling gulat. mereka cepat-cepatan lari menuju satu tempat; Kantin.
"Ayoo! Jangan mau kalah sama klub kendo!"
"Hajaar!"
"Bunuuh!"
"Jangan biarkan kroket kita direbut lawan, teman-teman!"
"Formasi 3-1-3! Bentuk Formasi 3-1-3 untuk merebut Mi Goreng!"
"Kaki gue keinjek! Eh, badan gue juga keinjek! Gyaaa!"
"Someone! Help meeeeeh!"
Selalu saja ada korban saat istirahat siang. Inilah mengerikannya sekolah bobrok satu ini. Beda dari yang lainnya—beneran beda. Hasilnya? UKS penuh sesak!
"Huah! Aku berhasil mendapatkan sandwich salmon ini!" ujar Takuya mantap setelah mengalahkan berpuluh siswa yang menghadang cucu mafia itu.
"Huh, susah sekali merebut Yakisoba ini," Kouji ikut-kutan setelah berhasil memukul jatuh beberapa anak dengan gitar elektrik yang ia bawa.
Dua sahabat itu—Takuya dan Kouji—berhasil mempertaruhkan nyawa mereka berebut makan siang. Atap menjadi tempat favorit mereka untuk makan siang sambil bercerita. Sepertinya tak butuh waktu lama untuk akrab bagi mereka. Sejak bertemu dengan Kouji, Takuya sudah merasa 'klik'.
"Ng… itu apa?" tunjuk Takuya pada pintu ruangan di sebelah kirinya. Pintu ruangan yang terlihat usang, dan kalau diibaratkan film Resident Evil, pintu itu cocok untuk tempat nangkring para zombie, atau jika ingin lebih unyu lagi, sangat cocok jadi tempat di mana Aichi Sendou dan Yuno Gasai akan melompat keluar karena pacar mereka diganggu.
"Pintu itu?" tanya Kouji meyakinkan. Takuya mengangguk. Yap. Sebagai murid baru, Takuya belum sempat keliling sekolah untuk melihat-lihat. Pintu itupun ia lihat saat lewat, hendak pergi ke atap untuk makan siang.
"Oh… itu ruang klub fotografi," jawab pemuda bandana tiger itu. "gak usah dipikirin. Klub itu isinya orang-orang unik semua."
"Oh, iya! Ngomong-ngomong klub. Aku ingin ikut klub sepak bola. Ada di sekolah ini, tidak?" Takuya berbinar. Akhirnya ia bisa menyalurkan hobinya bermain sepakbola. Namun harapannya pupus ketika Kouji menggeleng.
"Gak ada klub sepak bola di sini. Adanya hanya Klub kendo, lari sprint, musik, fotografi dan surat kabar. Gak ada yang minat bikin klub sepakbola atau basket."
"Ngek?" Takuya membelalak, "Sedikit amat? Cuma lima?"
"Namanya juga sekolah bobrok."
Takuya mangut-mangut. Ini artinya, ia harus menahan hasrat kepingin menendangnya. "Kau sendiri ikut klub apa, Kouji? Ah, pasti kendo, ya? Jurusmu melawan geng motor kemarin mantap!"
"Kendo?" Kouji melirik Takuya, "Aku klub musik! Kaulihat, ‚kan aku bawa gitar?" ucapnya sambil memperlihatkan gitar elektrik berwarna biru yang tadi ia pakai sebagai senjata bertempur di kantin. (1)
Takuya mangut-mangut lagi. Kali ini, mereka telah sampai di atas atap dan mojok berdua. Makan siang. Tanpa diketahui oleh mereka, pintu yang tadi mulai bergerak-gerak, dan perlahan-lahan terbuka dengan bunyi berderit.
((It's Unscandal, Right?))
Rumah keluarga Kanbara. Takuya sedang asyik bercermin, mengagumi ciptaaan Tuhan limited edition dalam pantulan cermin itu. Oh… betapa ganteng dirinya. Penyakit Narsisnya kumat.
"I know you love me~"
Dengan lincahnya, Takuya mencoba bernyanyi ala Justin Bieber di depan cermin. Merasa diri paling ganteng seantero kompleks perumahan. Begitu lincah lenggokannya, serasa sudah berjalan di atas panggung.
Brak!
Sepertinya tadi ada suara sebuah buku yang jatuh. Di ambang pintu, Shinya—adik Takuya—memasang wajah pucat. Mulutnya menganga melihat sang kakak yang bergaya narsis.
"E-eh… Shinya?!" Takuya tercengang. Ia berjalan menghampiri adiknya.
"Ka-ka-" Shinya tergagap. Dengan tubuh bergetar, ia membalik badan dan berlari secepat kilat mencari sambungan telepon terdekat, "Aku gak mau punya kakak gilaaaa!"
Takuya pun tak berkutik dibuatnya. Hancurlah image dirinya di depan sang adik, walaupun notabene memang sudah hancur dari dulu.
"Egh," Takuya nepuk jidat. Ia memutuskan untuk menghentikan saja kelakuan narsis yang kelewat batas itu. Ia duduk di meja komputer, melanjutkan mencari tugas karya seninya.
"Hm… oke!" gumam Takuya ketika membuka internet. Namun, bukan mencari tugas, melainkan… chatting!
SOSRO. Ajang chatting laknat yang berjangkauan hanya di lokasi Shibuya-Odaiba-Shinjuku, sesuai namanya, Shibuya-Odaiba-Shinjuku Related Chatt sOciality. Maksa, sih, emang.
Takuya log-in, dan melihat ID Kari-Kamiya sudah anteng di chat room. Takuya bahagia. Ya, Takuya kelihatannya menyukai gadis dengan ID Kari-Kamiya ini. Mereka sudah bertemu beberapa kali di Odaiba berkat ajang chatting ini.
Takuya masuk ke chatt room, menggunakan ID-nya.
Taku-kece Sore…
Kari-Kamiya Sore. Takuya-kun. Apa kabar?
Taku-kece Baik. Hikari gimana? Udah lama gak ketemuan, yah? :D
Kari-Kamiya Udah lama? Kan baru bulan kemarin ketemuan? E-eh, Taku, aku mau curhat, nih. Aku lagi suka sama cowok…
Dunia Takuya berasa berbunga-bunga. Ada harapan untuk mendekati gadis ber-ID Kari-Kamiya ini. Dia suka sama cowok? Dan Takuya berjenis kelamin "cowok". Pastilah aku yang Hikari maksud! Batin Takuya orasi dengan rasa sotoy mampus. Padahal teori abal-abal itu (sudah tentu) tidak benar.
Taku-kece O-oh, yah? Orangnya gimana…?
Kari-Kamiya Um… orangnya… cukup keren. Cakep. Jago beladiri gitu... e-eh, udah dulu, yah!
Taku-kece Loh? Kok udahan?
Takuya harap-harap cemas siapa yang disukai Hikari. Ah… jangan-jangan benar dirinya? Hikari malu mengungkapkannya?
Kari-Kamiya Bu-bukan- tapi… ka-kakakku.. ah, Takuya, ayo cepat log-out!
Taku-kece kenapa?!
Sebuah ID yang omaigot tak kalah narsis masuk lagi ke chatt room antara Hikari dan Takuya.
Tai-Min-Hoo Oh, jadi kamu, yah, manusia berkelamin "cowok" yang digosipkan affair dengan adikku?! Hoo! Tunggu saja bocah… kecil-kecil sudah berani merayu anak gadis orang. Siap-siap ya, "Abang" ini yang akan mengajarimu!
Dan Takuya pun cepat-cepat log-out dari chatt room. Merinding kareda ID narsis tadi seakan memberikan ancaman kematian dan mengibarkan bendera Dead End kepadanya.
"Serem! Mending beneran cari tugas aja, deh!" Takuya mulai mengetik tugas artikel untuk kesenian.
"Tuan!"
"GYAA!" Takuya jatuh jungkir balik karena kaget. Seorang anak buah sang kakek tiba-tiba muncul dari bawah kolong meja komputer.
"Ngapain kamu di situ?!" tunjuk Takuya pada sang bawahan. Jantungnya masih kebat-kebit.
"Saya hanya ingin mengingatkan Tuan Takuya, kalau hari ini Tuan juga ada tugas Matematika," katanya. Takuya menghela napas. Pasrah.
"Iya. Aku tahu. Aku sudah bukan anak SD lagi sampai harus diingatkan."
"Tapi Tuan... yang sering ketinggalan buku matematika di sekolah itu hanya anak SD, Tuan."
"What?!" takuya melotot. Diliriknya tas sekolah yang sudah terbuka di atas kasur. Ia yakin pastilah sang bawahan ini sudah memeriksa tasnya dan menemukan bahwa buku matematika tidak ada. Pasti ketinggalan di laci meja.
"Selamat jalan, Tuan. Semoga sampai ke sekolah dengan selamat. Saya hanya mengingatkan, kalau ini sudah jam delapan malam. Jalanan gelap, dan... hati-hati terhadap legenda urban di daerah ini, Tuan."
Takuya mengangkat alisnya. Heran. "Legenda urban?"
"Ya," bawahan itu mengangguk. Sepertinya ia berasal dari daerah ini, sehingga ketara sekali ia mempercayai legenda urban di daerah ini. "Legenda hanti ketua geng motor tanpa kepala, Tuan. Ia suka berkeliling kota pada malam hari seperti ini."
Glek! Apapula itu? Takuya menggelengkan kepalanya cepat. "Ba-Baiklah, aku akan hati-hati. Sampai jumpa. Aku mau telepon Kouji dulu untuk menemaniku ke sekolah," mengambil langkah cepat, akhirnya Takuya menghilang di balik pintu.
((It's Unscandal, Right?))
Takuya hanya cengok akhirnya di depan gedung sekolah. Gedung Sekolah terlihat sangat angker, gelap, sunyi dan menyeramkan. Cocok menjadi tempat uji nyali. Belum lagi gedung tua bobrok ini tidak memiliki penjaga—saking kritisnya nasib sekolah ini.
/"Hah? Sori. Aku lagi mengurusi si Sheep, anjingku. Katanya dia menghamili marmut betina tetangga."/
Jawaban Kouji semenit lalu lewat telepon. Takuya hampir saya membanting ponselnya mendengar alasan super ngeyel kayak gitu. Ketara sangat kalau Kouji berbohong. Lagian, kenapa juga anjing diberi nama 'Sheep'? Apa naming-sense Kouji segitu buruknya?
Ia putuskan untuk tidak mengharap bantuan Kouji. Cuih. Dengan langkah sok gagah, Takuya akhirnya memasuki gedung, melewati kotak sepatu dengan perlahan. Ketika hendak menaiki tangga, sontak bulu kuduknya berdiri. Ada sesosok mengerikan turun dari tangga. Wanita. Rambut hitam terurai panjang menutupi wajahnya. Bola mata putih yang hampair melompat keluar. Berlumuran darah. Berjalan merayap menuruni tangga dengan tangannya.
"I...itu...," Takuya terpaku seketika. Tidak bisa bergerak. Ngeri sudah merasuk kalbunya. Ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia dan makhluk itu kini hanya saling menatap. Keheningan masih menyelimuti mereka, sampai sosok mengerikan itu berteriak menakutkan, kemudian menghilang dalam sekejap.
"Tidaaaaak! Ada Cucu Kanbara! Toloooong akuuuuu!"
Mulut Takuya turun lima senti. Cengok lagi. Sebenarnya seberapa hebat, sih, kekuasaan kakeknya? Jangankan manusia, makhluk dari alam gaib pun tunduk pada sang kakek. Ampun...
((It's Unscandal, Right?))
Suara langkah memenuhi lorong-lorong gelap. Takuya kembali melanjutkan petualangannya demi menemukan buku matematika yang tertinggal di laci mejanya. Takuya melihat sekeliling. Rasanya dua kali lebih lelah dari siang hari. Kenapa kelasnya terasa begitu jauh sekarang?
Entah langkah ke berapa yang ia tempuh sekarang, namun Takuya yakin. Ada sesosok bayangan yang tengah mengikutinya di belakang. Ketika menoleh, Takuya mendapati sosok yang tengah bersembunyi di balik tong sampah. Takuya ragu sosok apa itu. Merasa ngeri, ia mencoba mempercepat langkahnya. Mulai berlari dari tempat itu.
"Dia mengejar," gumam Takuya ketika dirasanya bayangan hitam-besar itu juga mempercepat geraknya—mengejar Takuya.
"Baiklah!" merasa dipermainkan, akhirnya Takuya melakukan gerakan cepat. Sliding mendadak, menjengkal sosok itu hingga terjatuh di hadapannya. Baru Takuya sadari, ternyata sedari tadi ada tiga bayangan yang mengikutinya.
"Siapa kalian?!" teriak Takuya dengan cukup berani—ia sudah yakin. Sosok ini jelas-jelas manusia.
Tiga bayangan yang mengejar tadi kini berada di depannya. Sosok asli mereka tampak ketika cahaya bulan menerobos kaca jendela. Tiga orang siswa yang wajahnya mirip semua. Persis kembar tiga. Gakuran hitam melekat rapi di tubuh mereka, kacamata tebal dan bulat menutupi mata, potongan rambut gaya tempo doeloe, bekas jerawat di pipi kiri dan kanan bertaburan, salah satu di antara mereka berbibir tebal. Dan yang terpenting, culun abis! Perbedaan dari mereka hanya; yang satu gendut, yang satu tinggi dan yang satunya lagi berbibir bak Eddy Murphy.
"Ka-kalian siapa?!" tunjuk Takuya pada tiga culun itu.
"Kami!" satu persatu mereka bergaya ala power ranger, "Klub fotografi!"
"Hah?" takuya tenganga ketika melihat gaya culun super lebay mereka. Apa-apaan ini? Sejak kapan Takuya punya fans tidak jelas begini?
"Kami kemari untuk memotret sosok hantu yang digosipkan berada di tangga sekolah. Huh, ternyata malah bertemu dengan cucu Kanbara," ujar si gendut. Panggil saja begitu.
"Tak masalah, karena kau juga bisa jadi objek yang bagus, Selebritis sekolah!" si bibir tebal mengarahkan kameranya pada Takuya.
Takuya nepuk jidat. Stress karena buku matematikanya tinggal, ketakutan di gedung sekolah bobrok nan angker ini, bertemu pula dengan anggota klub fotografi yang aneh bin ajaib ini. Lalu kenapa pula mereka masih berada di gedung sekolah ini malam-malam?
"Oi, bukannya kita juga sekalian mau cari Ketua?" si jangkung menepuk si bibir tebal. Mengingatkan akan satu tujuan lagi.
"Ketua? Anggota kalian masih ada lagi?!" jerit Takuya membayangkan ternyata masih ada satu orang lagi yang aneh bin ajaib.
"Tentu saja! Kami memiliki ketua yang sangat kami hormati!" kata mereka bertiga serentak, kemudian tanpa basa-basi menarik lengan Takuya. Membawanya entah ke mana.
"Lepaskan! Aku mau ke kelasku! Buku matematikaku ketinggalan!" racau Takuya. Ketika berhasil melepaskan diri, ia langsung berlari, tak mempedulikan tiga makhluk ajaib yang ikut-ikutan berlari mengejar dirinya. Aha! Fans baru.
((It's Unscandal, Right?))
Kouji tengah merenung sendirian di kamarnya. Menggejreng gitar tak tentu nada. Sembarang bunyi. Ditatapnya keripik bandeng di atas meja belajar. Sudah ia coba, dan rasanya tidak enak di lidahnya.
"Kenapa dia suka makan keripik begini, sih?" tanya Kouji, masih berusaha menghabiskan bungkus kecil itu. Kini pandangannya beralih ke luar jendela. Menatap lampu-lampu perumahan yang benderang.
"Oke. Aku bosan. Mungkin ada baiknya aku ikut Takuya ke sekolah tadi. Kasihan dia ngompol di celana kalau ketemu makhluk halus di sekolah angker itu," gumam Kouji lagi. Aha. Tumben ia jadi cerewet begini. Ada apa gerangan?
Kouji melirik bingkai foto mungil di atas meja belajarnya. Foto seorang pemuda yang berwajah identik dengannya. Seulas Kouji tersenyum tipis—sangat tipis sampai nyaris tidak terlihat.
Apa harus ia syukuri saja keluarganya yang sekarang ini? Ia masih bisa bahagia di keluarga ini, bukan? Memiliki satu ayah, dua ibu—yang sama-sama baik, satu kakak laki-laki. Ia mungkin Kouji harus mematri rasa syukur itu di hatinya.
"Kouji," sang ayah telah berdiri di ambang pintu. Ketika menoleh, Kouji kembali pada mood semula. Jaga imej. Ia hanya berwajah datar ketika ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Ayah?"
"Begini...," sang Ayah mendekatinya. Lembut. "Kamu mau bantu ayah bikinin Skype nggak? Ayah kesengsem sama Nene Amano."
"..."
Patut disyukuri, 'kan?
((It's Unscandal, Right?))
"Akhirnyaaaaaa!" Takuya begitu bahagia ketika buku matematikanya yang tertinggal kini telah berada dalam pelukannya. Ia dan ketiga fans anehnya itu segera keluar dari kelas. Mission success!
"Wah. Berhasil, ya. Ini hebat!" kata si bibir tebal sembari memotret Takuya beserta buku matematika tersebut. Kontan saja Takuya pasang gaya. Kapan lagi bisa jadi cover boy?
"Hei. Misi kita belum sukses!" si jangkung mengingatkan. "Ketua belum kita temukan!"
"Oh iya. Kita masih harus mencari ketua," sahut kedua rekannya berbarengan. Takuya hanya mangut-mangut.
Keempat siswa itu lanjut berjalan mengelilingi sekolah, mencari seseorang yang disebut 'ketua' oleh ketiga kembar unik ini. Ketika mendengar suara di ruang komputer, keempatnya berinisiatif menengok. Mungkin saja 'ketua' yang mereka cari ada di sana.
"Hei... itu...?" bisik Takuya ketika ikut mengintip ke dalam ruangan. Sesorang tengah berusaha membawa bagian-bagian komputer. Mulai dari CPU, monitor dan keyboard. Takuya heran. Masih ada saja yang mau mencuri komputer milik sekolah yang hanya memiliki dua unit komputer ini. Ya. Hanya dua unit. Bayangkan saja, satu kelas minimal ada dua puluh siswa, sedangkan komputer hanya dua unit. Satu komputer sepuluh orang. Mantep...
"I-i-itu..." si gemuk menunjuk dengan jari bantetnya. "pen-pen-pencuri!"
Takuya menepuk jidat. Kenapa pula suara si gendut ini pakai dibesar-besarin mirip stereo rusak. Ketahuanlah posisi mereka oleh si pencuri itu. Takuya bersumpah, jika ketuanya ketemu nanti, ia ingin mengomeli habis-habisan atas kegagalannya mendidik anak buah.
"Ooh. Kalian melihat aksiku, ya?" ujar sang pencuri dengan begitu mengintimidasi. "Kalian tahu? Aku tersandung hutang karena judi dan harus kubayar tepat besok pagi."
Keempatnya mundur, ada bilah belati yang mengacung ke arah mereka. "Aku tidak ingin kalian menggangguku. Akan kubunuh kalian semua!" si pencuri berlari menuju Takuya dan ketiga anggota klub fotografi.
"Enak saja!" Takuya maju, menendang perut si pencuri dengan sigap. Dengan langkah cepat, gerakan yang tangkas, Takuya menghindar dari sabetan-sabetan belati yang mengarah padanya. Beberapa tinju darinya bisa ditangkis sang pencuri. Ternyata lawannya tidak kalah sigap.
"Bagus! Terus!"
"Hajar, Kanbara!"
"Jangan kalah!"
"Kurang ajar! Aku bertarung di sini, kalian malah enak-enakan nonton!" maki Takuya pada tiga kembar tadi. Mana mereka gelar tikar sambil makan gorengan pula. Nasib. Takuya hanya pasrah sambil tetap menghindar dari serangan sang pencuri.
"Ah!" salah langkah, lengah, perut Takuya berhasil ditendang oleh lawannya. Takuya jatuh tersungkur, memgangi perutnya. Selagi ia mengaduh kesakitan, bilah belati langsung saja memburunya, tanpa memberikan kesempatan.
"Mati kaliaaan!" teriak sang pencuri lantang, jarak antara belati dan kulit Takuya semakin dekat.
Syuuut! Dueng!
Keempat anak itu melongo. Sang pencuri tepar terkena lemparan kamera super dasyat yang datangnya dari arah belakang mereka. Jidat yang benjol super mantab menyerupai ikan lohan, sang pencuri langsung KO. One hit kill.
"Le-lemparan ini…," si jangkung culun berlutut, memegang kamera rongsok itu.
"Ini kerjaan ketua! Ini pasti perbuatan ketua!" si bibir tebal rebut-ribut.
"Tak salah lagi! Ini pasti ketua! Lemparan tak masuk akal ini hanya ketua yang bisa melakukannya!"
"Oi, klub fotografi! Kalian gak apa-apa?!" sebuah suara terdengar dari belakang mereka. Takuya pucat, membayangkan seaneh apalagi tampang ketua klub fotografi itu. Hm… pikir! Seluruh anggotanya saja sudah berwujud ajaib, apalagi ketuanya, pasti ajaib dari yang ajaib.
"Kami tak apa-apa Ketua!" ujar mereka bersamaan sambil bercucuran air mata. Tak tahan, Takuya membalik badan ingin melihat sosok sang ketua fotografi yang konon misterius itu, sembari bersiap melancarkan aksi untuk mengomeli sang ketua—ingat sumpahnya tadi!
"Ah… aku kenal! Kamu yang katanya cucu Toushizou Kanbara, ya?" tunjuknya.
Mata Takuya Melebar, "Ngek? Kouji? Kenapa kau ada di sini? Bukannya mengurusi kelinci tetangga?" kata Takuya, setengah kesal. Namun beberapa saat mengamati wajah di hadapannya, ia sedikit bingung. "Eh, Tapi bukan Kouji juga. Eeeh?! Kau siapa?" tunjuk Takuya lebay, "Kamu ketua klub fotografi? Dan kenapa kamu paling good looking dari anggotamu?!"
Yaph. Wujud si ketua klub fotografi itu normal. Gak berwujud seculun para anak buahnya, juga gak berwujud ikan duyung. Rambutnya pendek biru gelap dengan warna mata senada. Wajahnya? Seperti yang diteriakkan Takuya tadi, ia mirip Kouji, hanya beda potongan rambut.
"Ketuaaaa!" dan para makhluk fotografi itu masih menangisi kehadiran ketua mereka.
((It's Unscandal, Right?))
"Aku Kouichi Kimura, Adik kembarku teman sekelasmu, kan?" ketua fotografi itu memperkenalkan diri pada Takuya. Saat ini mereka sedang duduk di atas pagar pembatas jalan, tepat di depan pos polisi. The Culun? Mereka sibuk menjelaskan perkara pada sang polisi sembari menyeret si pencuri masuk ke pos polisi.
"Ngeek? Jadi… kamu kakak Kouji? Eh, kalian kembar?" Takuya menunjuk pemuda itu. Kouichi mengangguk.
"Kami cuma beda beberapa menit. Eh, memang Kouji belum cerita?" Kouichi mengangkat alis. Takuya menggeleng mantap.
"Jadi, kamu yang mengetuai klub fotografi yang… em… eksotis itu?" tanya Takuya. Mencoba meyakinkan dirinya. Kouichi hanya mengulas senyum sambil mengangguk (lagi).
"Penghuni pintu Resident Evil itu?"
"Benar."
"Yang melempar kamera sewaktu Kouji bertarung dengan geng motor?"
"Pinter," Kouichi tersenyum, "Kalau tidak kulakukan, hari itu juga aku bisa jadi anak tunggal."
"Yang maniak kamera?"
"Em... sedikit. Belum sampai tahap maniak, kok."
"Yang… hobi nonton video Maria Ozawa?"
"Fitnah dari mana itu?"
Kouichi melongo sesaat. Apa jangan-jangan Kouji sudah cerita yang tidak-tidak?
"Ketua! Kami sudah menyerahkan si pencuri itu pada yang berwajib!" si tiga culun berlari ke hadapan Kouichi. Persis anak buah minta dimanja majikan.
"Kami juga sudah mendapatkan fotonya! Bisa kita jual ke klub surat kabar!"
"Oh, pinter. Oke, kita bubar. Yang penting malam ini kita sudah dapat berita. Kita rapat besok di ruangan. Jangan lupa bawa cemilan buat menuh-menuhin lemari," titah Kouichi pada tiga anak buahnya.
"Yah… kan lemari ruangan udah penuh sama keripik bandeng punya ketua," salah satunya protes.
Takuya tersenyum melihat keakraban anatara ketua-anggota ini. Ia mulai berpikir, apa banting setir aja, ya, dari atlet sepak bola jadi fotografer? Begitu pikirnya.
Kebersamaan mereka dipecah oleh sirine motor yang biasa dimodifikasi oleh geng motor.
"Suara sirine geng motor? Aduh, kita harus cepat menyingkir," Kouichi turun dari pembatas jalan, mulai mencari-cari sumber suara itu. Begitu pula Takuya. Mereka bersiap untuk masuk ke pos polisi, kalau-kalau ada geng metor yang membuat ulah di sekitar daerah itu.
"Mending kita cepet pulang, deh. Aku ogah urusan sama geng motor!" Takuya ikut turun dari pagar pembatas jalan. Menarik lengan Kouichi.
Seketika, lewatlah sebuah motor besar yang khas. Dengan knalpotnya yang besar, bendera-bendera menghiasi joknya, serta sirine modifikasi yang minta ampun ributnya. Si pengendara mengenakan jas panjang khas ketua geng motor. Motor itu melaju kencang di hadapan mereka.
"!" Mata mereka semua membelalak. Salah lihat? Sayangnya tidak. Sang pengendara motor tidak memiliki kepala.
"Gyaaa! Setaaaan!" jerit Takuya pucat pasi.
"Ke-ketua! Ini objek yang bagus!" ketiga The Culun berbinar-binar. Sontak semuanya mengeluarkan kamera dengan merek masing-masing.
"Ayo kita kejaaaaar!" dan mereka bertiga pun pacuan mengejar hantu motor itu. Menenteng kamera untuk mengabadikan sosok langka yang jarang-jarang bisa diminta foto bersama. Kaki mereka dipacu secepat kilat, ngalahin cepatnya pemain American Football.
Prit! Prit! Priiit!
"Oiii! Balik! Kalian gak tahu bahaya, ya?!" Kouichi pun repot dibuat ketiga anak didiknya ini. Ia berlari mengejar anak buahnya sambil meniup peluit yang memang biasa ia bawa untuk menenangkan anggota klubnya.
"…." Takuya gelang-gelang kepala. "Klub fotografi memang isinya aneh-aneh semua."
-Tu bi Kontinyuh~-
(1) Gitar elektrik biru: Kouji memang punya gitar elektrik warna biru di kamarnya. Bagi yang gak tahu, hayooo, coba buka lagi episode Digimon Frontier
(2) Fotografi: Entah kenapa Daku membuat Kouichi jadi anggota—bahkan ketua klub fotografi. Entahlah, saiia merasa, Kouichi cocok aja megang kamera sambil pasang tampang 'bidik-bidik-target'~XD
Betewe, karena ini reposting, jadi aku nggak mau banyak bacot. Dan semoga terhibur dengan adanya chapter ini ) Ohiya, chapter depan walaupun ada yang sama adegannya dengan Unscandal lama, tapi sebagian besar beda, loh 8D Cuma beberapa ada yang sama~
Okeeey. Stay tuned tungguin kisah alur kehidupan Takuya yah XDD betewe kalo banyak typo maaf yah ;A; ngeditnya ngebut~ :"""
Review? :3
