"Haaah ulangan kimia hari ini benar-benar bikin aku mau mati rasanya."

Kouichi tersenyum simpul ketika adiknya mengomel tentang ulangan kimia yang oh-so-sok-awsum-banget itu. Bikin Kouji naik darah dan berujung menggambar adegan yuri R18 di lembar jawabannya. Alhasil, guru BP memanggilnya untuk menanyakan apakah Kouji memiliki koleksi semacam itu di rumahnya. Kalau ada, minta.

Krik.

"Tapi tumben kamu mau menjemputku kerja sambilan. Ada apa dengamu Kouji?"

Kouji langsung membuang muka, menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. Memasang gaya sok dengan berkacak pinggang dan tampang sok disebal-sebalin untuk mengalihkan tatapan mata Kouichi. "Bu-bukannya aku khawatir sama kamu atau apa. Tapi kamu kan belum bayar hutang lima puluh ribu buat perbaiki kameramu. Takutnya kamu disekap yakuza atau apalah itu sebelum utangmu lunas."

"Utang itu bukannya sudah kubayar minggu lalu, ya? Cash. Mau bohong juga ngaca dulu, deh. Mukamu itu enggak bakat bohong."

Wajah kouji kaku. Keki. Malu, deh, ketahuan bohongnya.

"Sudahlah. Terima kasih, yah, mau menemaniku. Kalau lihat auramu, kujamin yakuza mana juga pasti kabur terbirit-birit."

Kouji merona. "Kouichi!"

Kouichi tertawa ketika dirasa berhasil menjahili adiknya. Skor 1-0. Kouji yang sadar sudah terjebak kejahilan sang kakak hanya mengeluarkan dengusan kesal. Ingin rasanya ia melempar doujin yaoi R18 ke wajah kakak kembarnya itu.

"Eh... oke. Jangan ngamuk dulu," Kouichi kembali mengajak adiknya ngobrol, alih-alih meredakan emosi Kouji. "ngomong-ngomong yakuza. Cucu Kanbara itu baru tahu kalau kita kembar. Kamu enggak bicara sama dia?"

"Enggak. Aku pikir dia tahu atau setidaknya pernah melihatmu."

"Aku kan sibuk terus di ruang klub. Kemungkinan pasti enggak ketemulah sama dia. Enggak apa tuh?"

"Enggak apa maksudnya?" Kouji sedikit heran ketika membaca ada rasa khawatir yang tersirat dari raut Kouichi.

"Dia 'kan... cucu Yakuza? Kelompok jahat, bukan? Aku pernah baca di internet. Mereka melebur jasad korban mereka dalam adonan semen, lalu membuatnya sebagai bahan baku pembuatan aspal untuk menghilangkan jejak."

Kouji menepuk pundak Kouichi—yang lebih terasa oleh Kouichi sebagai gamparan. "Tenang sajalah! Aku tahu dia tak mungkin melakukan hal seburuk itu. Takuya itu memang cucu bos Yakuza, tapi Yakuza versi gaje-nya."

"Yang masa?"

Masih dengan ekspresi khawatir, Kouichi mengikuti langkah Kouji diantar pulang menuju rumahnya. Walau adiknya sudah bilang begitu... tapi rasanya Kouichi masih belum bisa yakin akan hal itu. Kouichi sedikit meringis ketika dirinya menabrak punggung Kouji. Langkah Kouji mendadak terhenti rupanya. Seketika, adiknya itu mengajaknya untuk bersembunyi, Sembari mengintip dari balik tembok rumah terdekat.

Di sana. Di pinggir jalan yang sepi itu. Sosok Takuya Kanbara bersama dua anak buahnya tengah mengaduk-aduk baskom semen berukuran sedang dengan sebuah alat. Takuya terlihat sedang memerintah kedua bawahannya untuk melakukan sesuatu. Sepertinya raut wajah Takuya berbeda dari biasanya—terlihat lebih serius.

"Apa yang dilakukan kadal bangkok itu tengah malam begini?" gumam Kouji, tanpa sadar memberi julukan cinta 'kadal bangkok' pada teman sekelasnya itu. Mereka terus saja mengintip. Kali ini, suara Takuya terdengar.

"Bagus. Jangan sampai ada orang yang tahu. Kerja bagus!"

"Apanya?" pucat Kouichi. Jemari kouichi menarik lengan baju Kouji. "apa kubilang Kouji. Dia itu kriminal."

Kouji hanya diam tak berkomentar. Bagaimana bisa? Baginya ia mempercayai Takuya. Menurutnya, Takuya bahkan tidak memiliki tampang sebagai seorang pelaku kriminal, apalagi membunuh orang. Masih jelas di ingatan Kouji bagaimana Takuya bertarung membantu Katsuharu. Sia-siakah selama ini ia mempercayai Takuya Kanbara?

"Tidak mungkin..." bisik Kouji dengan suara sangat kecil—bahkan hampir tak terdengar. Kouji hampir saja ingin memutuskan hubungan pertemanannya dengan Takuya, ketika suara pemuda dengan goggle itu terdengar lagi. Kali ini terdengar begitu riang.

"Bagus! Dengan begini, nilai ulangan kimiaku yang dapat 0 itu tidak bisa ditemukan siapa pun! Sudah kulebur bersama semen dan kujadikan aspal. Wahahaha. kau memang jenius, Takuya Kanbara. Dengan ini, harga diriku terselamatkan!"

Cengo. Kouji dan Kouichi hanya bisa terdiam sembari mulut menganga. Awas, Titan masuk.


Digimon© Akiyoshi Hongo.

WARNING! AU, OOC, Abal, gaje, garing. (mungkin) Typo dan misstypo menyebar. ngaco.

((Saya tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari fanfiksi ini))


"Siang kawan-kawaaaaaan!"

Mata Kouji dan Kouichi langsung saja tertuju pada pemuda goggle yang sedetik tadi baru saja mendobrak pintu ruang klub fotografi dengan sungguh biadabnya. Kouichi geleng-geleng, apa yang harus ia katakan nanti pada pihak sekolah jika pintunya (lagi-lagi) rusak?

"Takuya semangat sekali. Enak ya, sudah lega karena ujian kimia sudah berlalu," tutur Kouichi, kembali pada buku catatan kimia di hadapannya, besok kelasnya akan kebagian jadwal ujian blokade untuk pelajaran kimia yang oh-so-sok-ameijing banget itu.

"Iya dong. Nilaiku bagus, sih, jadi aku sudah lega hahaha."

Dan semua yang ada di situ juga tahu kalau Takuya dusta full. Antara Takuya tengah menghibur diri, atau memang pasrah akan nasib nilainya.

"Ada yang mau menemaniku keliling sekolah tidak? Aku masih belum hapal seluk-beluk sekolah ini."

Kouichi menggeleng sambil tetap tidak melepaskan pandangan dari buku kimia yang oh-so-sok-wonderpul-banget itu. "Aku sih sudah pasti tidak bisa. Sama Kouji saja."

"Aku juga tidak bisa," jawab pemuda berbandana tiger itu ketus. Hari ini aku mau pulang cepat, soalnya ada yang harus kulakukan di rumah," Kouji bangkit dari duduknya, menenteng gitar yang ia bawa, lalu beranjak keluar dari ruangan.

"Kouji kenapa?" tunjuk Takuya heran, Kouichi hanya tersenyum geli sembari tetap menatap deret senyawa yang oh-so-sok—sudahlah jangan dibahas.

"Kami bisa mengantar Kanbara keliling sekolah kalau mau!"

"Gyaaaaa!"

Takuya terkaget sampai meloncat ke belakang membentur tembok. Tiga anak buah Kouichi yang bertampang oh-so-ajaib-sangad tiba-tiba muncul dari kolong meja. Ngapain mereka di situ?

"Kami akan mengantarmu. Ayo, jangan sungkan," si bibir tebal langsung menarik lengan Takuya.

"Ya. Gratis. Kami akan jadi guide-mu. Ayo, Kanbara," si gendut mendorong tubuh Takuya menuju keluar. Mereka bertiga langsung saja menculik cucu mafia itu untuk diantar berkeliling sekolah, meninggalkan Kouichi sendirian dengan buku kimia tersayangya.

Oh-so-sok-random-banget nggak sih?

((It's Unscandal, Right?))

Shinya-Unyu-Ngalahin-Takuya Kamu unik dan menarik. Kayaknya aku jadi suka kamu, deh. Kita ketemuan yuk?

KocumiiImutImutcentil 80L3h 4j , Qt3Mu Dm4n ?

Shinya-Unyu-Ngalahin-Takuya Jangan alay dong. Mau tak, ketemuan?

KocumiiImutImutcentil Maaf, Shinya-kun. Mau dong. Gimana kalau kita ketemu di kota aja? Di restoran franchise saingan McDonald itu. Gimana?

Shinya-Unyu-ngalahin-Takuya Boleh deh. Nanti malam jam tujuh ya? Aku pakai celana tentara, T-shirt ungu.

KocumiiImutImutcentil Oke, Shinya-kun. Kosumi pakai celana cokelat kemeja kotak-kotak, yah~

"Iyeeesh!" girang Shinya, adik Takuya yang berbeda empat tahun dari Kakakknya ini. Sukses sudah bocah SD kecepetan gede ini menggaet cewek lewat media chatting, apalagi kalau bukan via ajang chatting paling beken di kalangan pelajar sampai mahasiswa; SOSRO— Shibuya-Odaiba-Shinjuku Related-chatt sOciality.

Shinya jingkrak-jingkrak, lompat-lompat tak tentu di kasur Takuya. Ya. Di kasur milik kakaknya sembari mengajak Takuma menari. Takuma? Ya. Laptop merah-hitam milik Takuya; Takuma. Singkatan dari Takuya Manis. Najes.

"Siplah! Tinggal cari dandanan yang pas, lalu aku akan mengalahkan kejombloan Kakakku. Lihat saja nanti, Kak Takuya, kamu akan menari perut di pernikahanku nanti, ahahahaha."

Tawa antagonis dari seorang siswa SD tidak biasa, Shinya Kanbara. Selalu bertengkar dengan Takuya. Entah tontonan macam apa yang sudah merasuki sehingga otaknya rada-rada hardcore. Bukan salah bunda mengandung.

Shinya segera meletakkan laptop merah-hitam itu dengan cepat, keluar dari kamar Takuya, lalu berlari menuju pintu depan, membuat salah seorang penjaga di depan pintu terheran-heran, ada apa dengan Shinya sampai langkah kakinya jingkrak-jingkrak kayak Marsupilami sakau begitu?

"Tuan Shinya mau ke mana?"

"Ke mini market sebentar! Mau beli gel rambut, parfum dan celana dalam baru!"

Facepalm. Oh Tuhan...

((It's Unscandal, Right?))

"Wah... jadi sekolah ini punya kolam renang juga? Aku tak sangka," gumam Takuya ketika tiga anak buah Kouichi membawanya ke pinggir kolam renang, tepat di belakang sekolah.

"Iya, tentu saja punya," kata si bibir tebal berkacak pinggang.

"Tapi sekolah ini tidak punya klub renang, bukannya?" tanya Takuya lagi, alisnya terangkat naik.

"Memang..." ketiganya menjawab serempak. "Cuma berfungsi saat pelajaran olahraga, itu juga biasanya main bebas, bukan belajar gaya renang."

"Ooh."

"Kamu mau berenang?" si jangkung mendorong tubuh Takuya ke pinggir kolam.

"Sudahlah, tak usah malu-malu. Gratis, kok," uajr si gendut-pendek. Satu, dua, tiga, Byurr! Takuya didorong jatuh ke dalam kolam. Ketiga anak buah Kouichi yang maha sesat itu pun mengambil langkah seribu ketika Takuya menyembul dari dalam air seraya merepet tanpa henti.

"Hei jangan lari kalian, Kurang ajar! Aku basah kuyup, nih!" maki Takuya, namun ketiganya sudah jauh meninggalkannya. Kalau dilihat-lihat gaya larinya aneh bener. Persis penguin kebelet kawin dengan kupu-kupu—er.. nggak ada maksud tertentu kok, di kalimat ini, kok.

Belum lagi naik ke atas kolam, Takuya mendengar ponselnya berbunyi. Kaget. Cepat-cepat dirogoh tasnya yang nyaris saja jatuh ke kolam. Di layar ponsel tertulis Kouji-bukan-Wonderwoman. Entah kesambet apa Takuya menamai kontak Kouji dengan nama itu, namun sebagai seorang yang hobi memberi nama kontak yang unik-unik ke pada setiap temannya, Takuya cukup puas dengan hasil pemikirannya yang satu ini.

/"Hei, Takuya. Masih lama?"/ suara Kouji di ujung sana.

"Sepertinya masih. Memang kenapa?" jawab Takuya, sepertinya suara Kouji seakan membuatnya lupa dengan keadaannya yang basah kuyup dan air kolam sepinggang ini. Takuya bahkan menyandar ke dinding kolam dengan amat santai.

/"Nggak... aku nunggu kamu di gerbang. Kupikir kamu mau pulang sama-sama."/

Takuya nyengir. Ketus-ketus, ternyata Kouji menunggunya juga. Ah, dasar si Kouji. "Kacau anak buah kakakmu, Kouji. Masa aku didorong ke kolam. Aku jadi basah kuyup, nih," adunya.

/"Ap-ke kolam? Kamu didorong ke kolam?"/ suara di seberang sana terdengar kaget.

"Iya. Memang kenapa?"

/"Ta-Takuya, cepat keluar dari sana!"/

"Kenapa Kouji?"

/"Pokoknya cepat! Di kolam itu ada Mako-chan, biasanya kalau musim panas begini dia dilepas supaya tak ada siswa yang berenang tanpa izin!"/

"Hah? Mako-chan?"

Takuya masih memasang tampang bloon ketika seekor ikan hiu Maco betina menerjangnya bak seme mesum menerjang uke.

((It's Unscandal, right?))

Malam itu, Shinya dengan riang gembira, tetap dengan langkah jingkrak-jingkraknya menyusuri sudut jalan, hendak menuju ke kota. Sekuntum mawar merah segar yang dibeli dari hasil mencongkel celengan badak milik Takuya digenggamnya. Lurus saja langkah Shinya menuju kota, namun ketika melewati gerbang sekolah sang kakak, langkahnya terhenti. Samar-sama terdengar suara ribut-ribut dari dalam.

"Ada apa, ya?" tanya Shinya heran. Merasa penasaran, bocah kecepetan gede itu pun berinisiatif mengintip, menyusup ke dalam sekolah—tak usah khawatir tertangkap penjaga, karena sekolah bobrok ini bahkan tidak punya penjaga untuk mengawasi keamanan sekolah. Paling hanya makhluk astral sekitar yang menjaga tanpa di bayar.

"Apa Kakak mabok-mabokan di sini, atau semacamnya? Kenapa hawa kehadiran Kakak sangat kental kurasakan, ya?" gumam Shinya memperlakukan Takuya layaknya salah satu makhluk astral paling ditakuti. Ketika langkah demi langkahnya mulai mendekat ke arah kolam, suara ribut itu semakin jelas terdengar.

"Dan ini suara cempreng Kakak. Apa yang dia lakukan malam-malam begini di kolam? Dansa sama Kappa?" racau Shinya lagi. Begitu sampai di depan kolam, didapatinya pemandangan bak sebuah film laga, bedanya ini life-action-pake-banget. Nyata. No stuntman. Takuya Kanbara, Kakak kandungnya tengah bergulat dengan seekor ikan hiu. Adegan pertarungannya nyata sekali.

"Hiat! Jurus pitingan Ular Melingkar di atas Pagar!"

"Jurus tendangan Naga Terbang Stasiun Televisi Swasta!"

"Jurus bantingan Jagoan Jumpalitan Palang Besi Terbalik Menghantam Bumi!"

Shinya nganga.

Tak lama, ikan hiu betina yang kerap dipanggil Mako-chan itu melompat tinggi sekali ke udara, disusul Takuya dengan gaya pendekar khas sinema-sinema mandarin. Sempat terjadi adegan slow motion di mana Takuya memiting ikan itu. Kraak! Leher(?) Mako-chan langsung patah akibat pitingan maut Takuya Kanbara di udara sedetik tadi. Ikan malang itu jatuh tenggelam, sedangkan Takuya mendarat dengan amat cantik di pinggir kolam, lengkap dengan efek blink-blink entah darimana.

Shinya nganga episode ke dua.

"Oh, Shinya. Are you okay?"

Bukan apa-apa, bukannya Takuya sedang mengkhawatirkan keadaan adiknya, dia hanya mencoba niru-niru film Hollywood. Shinya masih nganga, namun cepat-cepat mengembalikan kesadarannya sebelum dirinya kerasukan roh halus iseng.

"Kakak ngapain?" tanyanya. Takuya hanya menghela napas sambil garuk-garuk kepala.

"Sialan banget anak buah Kouichi," makinya lagi. Shinya hanya menggeleng, tidak mengerti apa yang telah terjadi. "Kouji pasti sudah pulang. Huh. Ya sudah, aku pulang denganmu saja, Shinya."

"Ya sudahlah. Sekarang, aku tak mau peduli Kakak ngapain tadi. Yang jelas sekarang aku mau pergi ke restoran franchise buat ketemu cewek, nih, kak."

Gantian Takuya yang nganga. "Apa? Cewek?"

"Iya..." Shinya tersenyum penuh kemenangan, lalu berjalan meninggalkan Kakaknya. "mau ikut? Gak boleh."

"Sok kamu!" decak Takuya, mengikuti langkah adiknya. "Tentu aku ikut. Aku mau lihat tampang cewek malang yang kedapetan ketemuan sama kamu itu."

Dua kakak-adik itu akhirnya memutuskan untuk ke kota. Dan cukup kaget ketika mendapati Kouji tengah melintas di hadapan mereka. Sedetik Takuya sempat tak mengenali Kouji karena pemuda itu melepas bandana tiger-nya dan memakai pakaian santai, lalu menyandang pedang bambu di bahu kirinya.

"Sedang apa kalian malam-malam di sekolah? Incest?"

"Enak saja kaungomong, Kouji. Aku baru saja bertarung antara hidup dan mati, tahu?" balas Takuya menggertakkan giginya.

"Kak, dia siapa? Pasangan homo kakak?"

"Dia Kouji Minamoto, teman sekelasku, wahai Shinya Adikku sayang." Takuya menepuk-nepuk kepala Shinya, makin lama makin keras. Lama-lama gue gampar juga ini anak satu.

"Aku mau ke kota. Kalian mau ikut?"

"Kami juga mau ke kota. Kita bertiga saja, Kak!"

"Kenapa omonganmu jadi tiba-tiba sopan begitu?"

((It's Unscandal, Right?))

McLampir.

Restoran franchise asal Indonesia saingan berat McDonald yang berdiri baru-baru ini. Restoran dengan jumlah cabang fantastis di seluruh penjuru dunia. Menawarkan gagasan dan tema yang sungguh eksotis nan bombastis. Restoran dengan icon nenek-nenek sedang senyum dan warna biru-ungu ini menjadi ramai diperbincangkan oleh berbagai media Jepang. Lihatlah dekorasi yang amat langka dengan tatakan meja berbentuk persegi panjang bertaplak kain kafan, serta papan menu-menu unik menyerupai batu nisan. Para pelayan yang berdandan khas pocong, sundel bolong, kuntilanak dan lainnya juga siap melayani dengan amat ramah, bahkan kuntilanak akan selau tertawa-tawa ketika melayani. Aneh memang restoran ini, tapi lebih aneh lagi banyak yang doyan.

"Mana Kosumi, yah?" Shinya celingukan mencari-cari sosok cewek yang (konon katanya) imut itu. "Katanya janjian di sini."

"Mana? Mana?" ujar Takuya ikut-ikutan mencari, sejauh mata memandang hanya ada makhluk horor saja. Kouji hanya diam dengan ekspresi datar. Kenapa dia ikut-ikutan terseret ke sini?

"Kosumi... Kosumi... ini aku, Shinya..." gumam Shinya khawatiran, di belakangnya, Takuya sudah siap menertawai sang adik. Ternyata cewek itu ogah datang ketemu adiknya.

"Anu... kamu Shinya-Unyu-Ngalahin-Takuya yang di SOSRO itu bukan? Ini aku, KocumiiImutImutcentil..."

Sebuah suara refleks membuat ketiganya berbalik. Mendapati sesosok lelaki paruh baya dengan celana cokelat dan kemeja kotak-kotak. Itu dress-code yang tadi dikatakan Kosumi pada Shinya. Ketiganya sontak terkaget dan berteriak. Sedetik setelahnya, Takuya langsung tertawa terbahak-bahak.

"Ya ampun! Kamu KocumiiImutImutcentil?!" Shinya shock.

"Huahahaha makan tuh, Shinya, ternyata wujud asli cewek itu bapak-bapak!"

Namun yang lebih kaget, amat kaget adalah Kouji. Matanya melotot seakan hendak keluar dari tempatnya, segera saja telunjuknya mengarah pada pria itu.

"Ya ampun, Ayah?"

"Lah, Kouji? Kenapa ada di sini?"

Hening mendadak. Suasana langsung hening. Banget.

((It's Unscandal, Right?))

"Dasar sialan! Berani-beraninya dia begitu. Bikin malu!" geram Kouji, mempercepat langkahnya meninggalkan Restoran McLampir menuju pusat kota. Di belakang, Takuya dan Shinya berlari kecil mengejarnya. Om Kousei? Habis dibabat pedang bambu milik Kouji dan sekarang sedang pingsan dengan sukses di pangkuan pelayan berdandan sundel bolong.

"Sudahlah Kouji... nanti ajak ayahmu bicara baik-baik saja, ya?" Takuya mencoba menenangkan Kouji. Shinya? Mencoba menghibur diri atas apa yang telah terjadi.

"Huh... awas nanti sudah sampai rumah. Aku laporkan ke Mama!" ujar Kouji lagi, masih kesal.

"Sudahlah," Takuya menepuk pelan pundak Kouji. Berharap remaja berwatak singa lapar itu tidak mengamuk. "ngomong-ngomong kita mau ke mana sekarang?"

Kouji beralih melirik Takuya. "Ah... iya. Aku mau ke tempat kerja Kouichi."

"Eh? Kouichi? Dia kerja?"

Angguk. "Iya. Sejak kecil, kami terpisah akibat orangtua kami bercerai. Aku baru tahu belakangan ini. Ternyata, sejak orangtua kami bercerai, keadaan ekonomi Mama dan Kouichi tidak begitu baik. Mama kandungku bekerja, namun tidak begitu mampu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, untuk itulah Kouichi juga ikut bekerja sambilan."

"Ooh... jadi Kouichi berat juga, ya?" Takuya mengangguk-angguk, membayangkan bagaimana seandainya jika dirinyalah yang bernasib seperti Kouichi. Sepertinya ia tak akan mampu.

"Tadi pagi, aku janji dengan Kouichi akan membawakan dia bekal untuk makan malam. Dia bilang malam ini dia akan sibuk karena banyak pesananan, sudah pasti tidak sempat makan malam," Kouji memperlihatkan sebungkus kotak bekal.

"Wah... wah, Kouji..." seketika ekspresi Takuya berubah konyol, layaknya ibu-ibu iseng tukang jodohin orang. "kamu masak sendiri bekalnya? Wah, wah... Kouji sayang kakak, ya? Tak kusangka Kouji yang begitu bisa masak bekal sendiri~"

Sebuah tonjokan pelan mendarat di pipi Takuya. "Sotoy! Ini Mama yang buat, aku cuma bantu ambilin garam sama kecap!"

"Iya, deh, iya..."

Semakin malam, ketiganya semakin lama berjalan dan masuk ke daerah perhotelan. Takuya semakin bergidik ketika mereka memasuki sebuah gang sempit, di mana kiri dan kanan hanya ada hotel dan love hotel, juga bar. Belum lagi beberapa pasangan dewasa yang tidak tanggung mesra lalu-lalang. Takuya dan Shinya jadi semakin ngeri.

"Ko-kouji... memangnya Kouichi kerja di mana?" Takuya merinding ketika melihat pemilik bar di seberang sana melambai girang padanya. Pikiran Takuya jadi melayang ke arah yang menakutkan.

"Ah, Kouji. Sudah kutunggu-tunggu. Akhirnya datang!"

Tiba-tiba saja Takuya sudah mendapati Kouichi menghampiri mereka di dalam gang itu. Mereka disapa dengan penuh senyum oleh Kouichi. Pemuda yang memiliki wajah amat mirip dengan Kouji itu memakai kaos biru gelap dengan lengan panjang yang digulung mencapai siku, serta celana jins. Takuya memperhatikan Kouichi dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Perlahan tubuh Takuya bergetar, matanya mulai berlinang airmata. Seketika, Takuya langsung saja menerjang Kouichi dengan tangan kanan bersiap menampar.

"Tak kusangka... Kouichi! Kau itu kerja sambilan seperti ini di sini? Jadi siswa panggilan? Sadarlah Kouichi! Sadarlah! Tangan kanan ini adalah tangan kanan ibumu! Dengan tamparanku, sadarlah!"

"BUEGOOOO!" tamparan papan reklame dari Kouji langsung saja mengenai Takuya, membuat cucu yakuza itu terpental beberapa meter dari permukaan tanah. "Kouichi itu kerja di studio foto tahu! Studio fotoooo!"

"Hahaha, sudahlah, ayo masuk ke studio. Bosku ingin ketemu Kouji setelah kuceritakan tentangmu," tawa Kouichi membimbing adiknya serta Shinya masuk, namun belum selangkah mereka beranjak, sosok seorang wanita dengan raambut gelap membuat mata Kouichi melebar sesaat.

"I-ichi...," gumam wanita itu lemah. Terdengar nada sedih yang bercampur "Ka-kamu bilang... kamu kerja sambilan di studio foto? Tapi kenapa... malah... siswa panggilan? Apa itu? Kam... bohongi ibu, ya?" airmata mulai turun.

"I-Ibu!" kaget Kouichi. Kouji langsung saja geleng-geleng kepala sambil menepuk dahinya. Itu Ibu kandung mereka dan sepertinya ada sedikit kekorsletan keadaan di sini.

"Maaf Ichi! Maafkan ibu! Ibu sudah salah mendidikmu sampai-sampai kamu jadi siswa panggilan begini!" wanita itu sontak membalikkan badannya, berlari pergi menjauh dengan penuh linangan airmata sedih. "Maafkan Ibu, Ichi!"

"Ibu tunggu! Ibu salah paham!"

Shinya dan Kouji hanya memandang bengong. Takuya merayap ke samping mereka, kepayahan karena tamparan papan reklame dari Kouji tadi masih berasa sakitnya. "A-ada apa, ya?"

"Gara-gara Kakak, tuh!" jawab Shinya sembari menendang tubuh Takuya ke pinggir emperan toko.

((It's Unscandal, Right?))

"Iiih! Ternyata Ichi punya temen dan adik yang unyu-unyu begini, yaaaa. Ih kamu unyuuuuu!" bos Kouichi, pemilik studio foto tempat Ichi bekerja langsung saja memeluk Takuya erat, sampai pemuda goggle itu bengek mendadak dan nyaris saja meregang nyawa.

"Ekeh buatin teh mawar dulu yeiy, tunggu di sini," katanya sembari mencubit keras pipi Kouji. Pria berotot dengan setelan tanktop dan rok mini serta wig pirang mengembang itu segera melenggang menuju dapur. Terdengar langkah high heels miliknya amat berirama. Takuya menghela napas, bersyukur ia masih hidup. Aroma parfum menusuk dari pria ajaib bos Kouichi tadi masih tersisa.

"Tuh, Kan, Bu... lihat. Cuma studio foto biasa. Tak ada yang aneh..."

Kouichi dan Ibunya telah kembali, sang ibu masih terisak, takut masa depan anaknya melenceng.

"Ibu tenang saja. Aku percaya Kouichi tidak akan segampang itu terpengaruh," ujar Kouji, ikut menenangkan ibunya. Beberapa saat mereka duduk sambil bercerita dan bercengkrama. Aroma teh yang dibuat di dapur seketika menghangatkan suasana. Ya amat hangat dan akrab.

"Aaah, Kouji. Ternyata kamu di sini. Tega sekali kamu ninggalin Ayah di restoran aneh tadi," ternyata Oom Kousei menyusul Kouji. Lurus saja dia masuk ke dalam studio, membuat pandangan Kouji, Kouichi serta sang ibu terpaku padanya. Pria itu balas memandang, lurus, juga terpaku hanya pada wanita di hadapannya. Lama keduanya memandang, sampai akhirnya salah satu dari mereka menemukan kembali suaranya.

"Kousei..."

"Tomoko..."

Aroma teh mawar masih mewarnai udara.


Tu Be Kontinyu~


Podjok balesan review bagi yang enggak log-in:

near: Aaaaaaaaaaaah terima kasih sudah membaca XDD Iya. Ini sudah diupdate :3 Maaf lama, ya XDD Saya harap kamu ngakak lagi baca ini XDD

.

.

Hai, apa kabar semua~ :3

Ah... sudah lama sekali aku tak menulis. Jadi keki sendiri waktu menulis lagi :3c Masih ingatkah dengan fanfiksi satu ini? Ah... semoga masih ingat yah XDD karena ada banyak masalah, sepertinya aku tak bisa banyak komentar, soalnya lupa mau ngomong apa XDD Semoga kalian semua terhibur dengan Unscandal chapter ini :DD tetap semangat, tetap tertawa. Ketawa itu obat awet muda, loh X)

Salam Ryudou Ai, Ratu Galau yang sering menggalaukan orang sambil ketawa /plak