Musim panas berhasil dilewati dengan berpanas-panas ria, cepat-cepatan kipas-kipas, masukin kepala ke freezer, nyebur ke kolam ikan (hiu) dan masih banyak perjuangan melawan panas lainnya, dan seharusnya semua itu patut diapresiasi. Finnaly, perjuangan penuh dengan keringat darah—kuda nil? Tersebut telah berakhir ketika musim gugur yang membawa segala keberkahan akhirnya datang juga, menyapa ceria bersama udara sejuknya dan peningkatan hasrat mau makan apa aja.

"Kak…" panggil Shinya malam itu.

"Apa?" jawab Takuya yang sedang asyik melototi tak tentu arah ke luar jendela sana, mungkin sedang melakukan pengintaian deduktif pada para pasangan alay yang lalu lalang. Bikin iri. Dongkol. Dengki. Ciyus. Enelan.

"Nih!" Shinya memberikan suatu selebaran pada Takuya. Sang kakak mengangkat alis, melakukan penyelidikan deduktif kalau-kalau kertas yang disodorkan adiknya adalah kertas tagihan utang.

"Apa, nih?" lanjut Takuya.

"Kertas."

"…."

"Adikku sayang yang kadang-kadang sama sekali gak ada karakteristik manusiawinya, nenek-nenek di Zimbabwe juga tahu kalau itu kertas. Maksudku, itu kertas selebaran apaan?"

"Ini selebaran promosi acara flea market sekolahku. Aku bermaksud ngundang kakak dan teman-teman. Kalau mau, sih…."

Takuya mikir sebentar. Oke buat refreshing kayaknya. "Oke, deh! Besok ya, acaranya? Aku ajak Kouji, deh!"

"Kakak ngajak Kak Kouji terus. Emang pacaran, yah? Berarti Kak Kouichi itu kakak iparnya kakak?"

Dan omongan Shinya berhasil membuat Takuya mengartikannya sebagai, 'ajakan ajang jitak-jitakan'.


WARNING! AU, OOC, Abal, gaje, garing. (mungkin) Typo dan misstypo menyebar. ngaco.

((Saya tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari fanfiksi ini))

Digimon© Akiyoshi Hongo.

Unscandal© Ai Ryudou.


"Ngeeek?" mata Takuya melotot memandang gerbang sekolah Shinya. Gerbangnya besar dan megah, dengan bangunan sekolah yang gak kalah mewah nan besar. Pagar tinggi dengan seragam para siswa yang cling-cling abis. Super elit, mulut Takuya nganga gede.

"Kakek gak adiiil!" jerit Takuya, "Aku dimasukkan ke sekolah bobrok gak jelas, lah, Shinya? Sekolahnya super elit gini! Mana sekolahnya umum, ada ceweknya!" ucap Takuya mendramatisir suasana, ia bertekuk lutut, bersujud menangis layaknya seorang ibu –ibu setengah baya yang anaknya divonis telah menghamili anak orang.

"Saba raja, Kak. Emang udah nasib Kakak…," Shinya nepuk-nepuk pundak Takuya. Sok simpati.

"Duluan, ya, Kak! Kak Kouji! Kalau Kakak gak sadar-sadar juga dari kehampaannya, gampar aja pakai gitar kakak!" Shinya pamit dan lari ke dalam. Membiarkan sang kakak protes dalam hati pada sang kakek.

"Nah… terus…?" membuang sosok Takuya jauh-jauh dari pandangannya seakan Takuya hanyalah seonggok kue sus yang berakhir terinjak di jalanan, Kouji menatap dua orang tuanya. Ayahnya dan ibu kandungnya yang sedari tadi diam saja. Saling bertatapan pun tidak.

"Kouji. Ayah gak mau datang ke sini! Lagian, kenapa kamu ajak Ayah, hah?" marah Kousei, sang ayah, membuang wajahnya jauh-jauh. Jelas kelihatan kalau dirinya enggan bertemu mantan istri.

"Mending, daripada Ayah chatting di rumah? Atau mengembangkan bakat alay Ayah? Mending kuajak ke sini."

"Pokoknya enggak! Ayo pulang!" sang ayah menarik Kouji, balik kanan.

"Tunggu dulu, Oom!" teman-teman band Kouji langsung menghalangi jalan dengan pasang tampang seram—bahkan Bassist niat banget pake topeng genderuwo.

"Oom Kousei, plis, Kouji itu satu-satunya makhluk hidup di sekolah kami yang bisa pegang gitar!"

"Iya, Oom! Kalau ada yang bisa gantiin dia, Oom silahkan bawa pulang Kouji, deh!"

"Oom, kami mau manggung di sini, dan kalau anak Oom gak ada, yang pegang gitar siapa? Masa suara gitar mau diganti karet gelang dan kotak sepatu? 'Kan nggak elit, Oom."

Melihat tampang sangar teman-teman anaknya, akhirnya si Oom Kousei menyerah juga, mengingat mereka mengancam si Oom dengan mengacungkan alat music masing-masing demi menahan Kouji.

Beda ayah, beda langi sang ibu.

"I-Ichi, kenapa kamu ke sini? Bukannya lebih baik kita di rumah saja? Kamu manggung juga?" Tomoko, si mama menatap anaknya. Kelihatan jelas kalau dirinya enggan bertemu mantan suami.

"Ma, aku petugas dokumentasi," Kouichi mengangkat tinggi kameranya, "lagian aku bisa dikebiri kepala sekolah kalau gak menjalankan tugasku."

"Huuh," si mama tertunduk lesu, begitu pula si Oom Kousei.

"Nah, kalian senang-senang saja, yah! Ingatlah masa muda! Kami permisi!" dan segerombolan anak SMA itu mesuk ke area sekolah sembari membopong Takuya yang masih pundung akan nasibnya.

((It's Unscandal, Right?))

"Elit banget, sumpah!" Takuya berlinang air mata melihat banyaknya stand di festival itu, belum lagi stand makanan yang menunya 'wah'. "Kakek gak adil… Kakek pilih kasih… Kakek…. Hu.. . hu… .hu..."

"Takuya… jelek, loh. Jangan manyun, ah!" Kouichi mengarahkan kameranya pada Takuya, bermaksud memotret ekspresi eksotis cowok itu.

"Hiks… abis… hiks…," Takuya makin berlinang air mata, makin lama makin parah, dan kalau dibiarkan lima detik lebih lama lagi, bakal ada adegan solo protagonist sinet-sinet Indonesia yang akan muncul.

"Takuya… jadi objek foto jangan kayak gitu, ah. Nanti Kouji kabur, loh!"

"Kenapa tau-tau nyinggung Kouji?!" beringas Takuya.

"Nggak sih… tapi kalian cocok, kok. Aku merestui."

"Merestui apaan, nih?"

Sesekali, ternyata gen jahil Kouichi aktif juga. Cowok berambut biru itu menepuk pundak Takuya, "I Know. Love is Blind…."

"Ngek?"

((It's Unscandal, Right?))

Oom Kousei yang bosan, akhirnya memilih untuk duduk di warung kecil-kecilan. Matanya memandang malas ajang suasana flea market ini. Dirinya lebih memilih pulang saja untuk chatting daripada menemani anaknya—dan ketemu mantan istri pula!

Oom Kousei akhirnya bengong sambil meminum teh hangat yang ia pesan. Tak lama, ia bertopang dagu.

"Ng?" matanya seketika menangkap sosok cantik yang sedang berdiri di depannya. Sesosok wanita cantik berambut panjang ikal oranye, dengan mata oranye yang memukau pula. Wanita muda itu tampak sendirian berjalan melihat-lihat stand.

Alamak, amboi nian…. Batin Kousei.

Wanita itu tersenyum. Senyum hangat yang melelehkan hati. Kulitnya yang putih tampak halus dan lembut, menambah nilai plus untuk penampilannya.

Ah… anda jadi istriku. Rejeki bangeeeet! Kouji mah, pasti sujud syukur kalau dapet mama secantik itu! Batin Oom Kousei kembali menyuarakan niat nista. Tak perlu menunggu setan nyasar mana yang mengendalikan hati Oom Kousei, bahkan sebelum setan beneran beraksi, Oom Kousei sudah lebih dulu berdiri, berjalan menghampiri wanita itu.

"Ah, Masaru!" seru wanita itu. Membuat Oom Kousei makin terpana akan suara lembutnya. Niat nista buat kawin tiga semakin berkobar. Sepertinya Setan tengah menari dangdut di hati Oom Kousei.

Ah… suaranya, menggetarkan hati. Lembut banget! Suara Kouichi, mah, kalah. Mungkin habis ini akan ku sapa dia, bisa jadi istri ke tiga! Sip!

Seorang remaja berambut merah-kecokelatan menghampiri wanita itu. Wajahnya sangar. Mata Oom Kousei makin waspada, jangan-jangan wanita muda itu sudah punya pacar?

"Ma, Papa sama Chika udah nungguin tuh! Ke sana yuk!" pemuda itu menarik tangan wanita itu sembari mengajaknya pergi.

Alamak! Ternyata istri orang!

((It's Unscandal, Right?))

"Aduduh! Gila! Sakit perut!" vokalis band Kouji mendadak jejingkrakan di tempat.

Kenapa? " Si drummer menghampirinya, "mendadak pengen stiptis?"

"Bukan! Aw!" jawab si vokalis sambil tetap lompat-lompat, persis iguana kebelet beser.

"Salah makan apa, sih?" timpal Kouji, "makanya, jangan hobi makan ayam hidup-hidup."

"Jangan samain aku sama kamu, Kouji!" sebenarnya ingin sekali ia mencolok mata Kouji dengan jarinya, tapi, behubung keadaan tak memungkinkan, batal sudah niat tersebut. "Kemarin pamanku baru pulang dari Indonesia!"

"Apa hubungannya beru pulang dari Indonesia dengan kamu sakit perut? Udah cepetan! Kita stand by!" teman lain mendorongnya.

"Tu-tunggu…! Pamanku bawain durian dari sana… nah, semua keluargaku langsung beringas makan buah yang jarang-jarang ditemui itu!"

"Terus? Kamu overdosis makan durian sampai sakit perut?" tebak bassist.

"Gak… justru aku gak kebagian!"

"Lah, jadi, gimana bisa sakit perut kalau gak makan durian?" keyboardist ikut-ikutan.

"Ka-karena aku gak kebagian… ja-jadi…. Aku telan saja kulitnya... bu-bulat-bulat."

Gubrak!

"Lu bombastis banget, emang!" Kouji facepalm. Ternyata ada juga teman band-nya yang begonya nyaingin Takuya. "Kalau bego ada batasnya, dong! Jadi gimana, nih?!"

"Ko-Kouji…," panggilnya sok dramatis, persis prajurit yang lagi meregang nyawa di film-film perang klasik itu, loh. "Kau… it-itu…,"

"Apa?" delik Kouji horor, "Kalau gantiin nyanyi, aku gak mau. Aku gitar!"

"Siapa yang mau nunjuk kamu buat nyanyi? Kalau kamu yang nyanyi, nanti band kita bisa kena tilang badan sensor gara-gara kamu mendadak nari bugil di atas panggung!" bentak vokalis balik.

"Jangan samakan aku sama Kouichi!" bantah Kouji memfitnah Kouichi. Ah, tapi memang benar sih, Kouichi pernah bugil… di kamar mandi.

"It-itu…," si vokalis berusaha menyampaikan maksudnya, masih dengan gaya prajurit perang yang akan mati dengan terhormat, "Kamu…,"

"Apaan? Anjingku, si Udin gak bisa nyanyi, loh," ucap Kouji ngasal.

"Bukan anjing!" si vokalis makin kesal. "Lagian kalau gak salah, nama anjingmu bukan Udin!"

"Ikan arwanaku, si Sarimin juga gak bisa nyanyi."

Gr… Kalau sembuh, kusembelih nanti, kau, Kouji… batin sang vokalis dongkol setengah idup. Rusak sudah mood akting yang sedari tadi dia bangun dengan begitu menjiwai.

"Be-begini, guys. Aku ada ide. Ayo semua, kita ngumpul dulu!"

Semua anggota band yang terhitung gaje itupun saling merangkul, mendengarkan ide sang vokalis band yang banyak maunya itu.

"Gini, nih. Gimana kalau kita undang penyanyi dadakan aja. Comot dimana gitu?" tanyanya. Anggota lain mengangguk mengerti.

"Kalau gitu, tolong, yah!" dan iapun langsung melesat mencari tempat ternikmat berasa surga di dunia saat itu—toilet.

Para anggota band saling pandang, "Penyanyi dadakan? Kita cari di mana, nih?"

Salah satu mereka akhirnya mengacungkan telunjuk, menandakan ia sudah mendapat ide. Ia mengeluarkan hape dari saku celananya, dan menelepon ke suatu tempat.

"Halo, konsulat Korea? Saya minta personil SNSD ke sini, ya? Ke Jepang. Gak pake lama ya?"

"SNSD bukan mi rebus instan," komentar Kouji pasrah. Yang lain mendadak lemas.

((It's Unscandal, Right?))

Satu jam acara berlangsung, Takuya dan Kouichi masih sibuk putar-putar lokasi. Takuya menemani Kouichi mendokumentasikan jalannya acara flea market. Gaya Kouichi saat memotret bener-bener mirip gaya fotografer beneran. Ketua fotografi emang jauh beda dibanding anak buahnya. Sangat jauh! Dan memang jauh!

"Udah lumayan, nih. Istirahat, yuk?" ajak Kouichi pada Takuya yang sedang sudah habis menikmati ubi bakarnya bulat-bulat dengan sekali lahap.

"Ke mana? Cari minum, ya? Haus, nih."

"Oke!" kedua siswa itu segera membalik badan mereka.

"Itu dia!" Kouji dan teman-temannya seketika menyerbu Takuya dan Kouichi. Mereka tanpa ampun mengepung Kouichi, bahkan mengikatnya dengan tali rafia.

"Hei, apa-apaan, nih?!" kaget Kouichi, "Aku gak berbuat apa-apa! Sumpah! Aku tak bersalaaah!" ia memberontak sekuat tenaga, bak maling jemuran ketangkep hansip kampung.

"Bos! Tersangka berontak bos!" bassist angkat bicara. Kouichi tetap memberontak heboh.

"Gorok aja! Gorok-eh, salah!" Kouji nepuk jidat "Borgol!"

"Ini kenapa, sih? Kenapa tahu-tahu aku diperlakukan kayak maling jemuran?!" teriak Kouichi bingung.

"Tersangka-eh, salah, Kouichi! Kami mohon, vokalis kami yang terkenal bejat dan suka nonton bokep itu lagi gak bisa manggung," Kouji seenak udang membuka aib sahabatnya sendiri. Bodo amat. "Kamu gantiin dia, ya?"

"Ogaaah!" sentak Kouichi, masih dengan gaya maling jemuran diciduk petugas satpol, sudah letangkap basah, mengelak pula. "Aku perugas dokumentasi, loh. Kenapa tahu-tahu diseret ke panggung?"

"Pliiis?" Kouji memohon, " Suaramu, 'kan mirip-mirip penyanyi yang namanya Suzumura Kenichi itu. Mau, yah? Gak ada rotan, tali kolor juga jadi. Gak ada SuzuKen beneran, SuzuKen jadi-jadian juga boleh, deh!"

"Eeh, tu-tunggu!" di bekuk oleh empat orang, jelas Kouichi yang kalah. Kameranya ia lepas dan dipercayakan pada Takuya.

"Takuya, gantikan aku dokumentasi. Foto yang penting-penting aja," ucapnya memberikan kamera tersayang pada Takuya.

"E-eh? Aku gak tau tentang potret-memotret, loh?" Takuya menerimanya ragu.

"Gak apa. Gampang, kok!" Kouichi mengeluarkan sebuah buku saku ungu, buku kecil yang selalu menjadi wadah bagi catatan kecilnya tentang ilmu fotografi, "Ini. Di dalam sini ada tipsnya. Pegang, yah!"

Tanpa ampun, Kouichi segera diboyong ke ruang rias tak lama setelah ia memberikan wangsitnya pada Takuya, gak tanggung-tanggung, grup band gila itu melakban mulut Kouichi, memborgol tangannya, mengencangkan ikatan tali raffia pada tubuhnya, serta membungkus seluruh Kouichi dengan kain kafan.

Takuya melogo. Ternyata Kouji bisa kejam juga.

"Sudahlah. Semoga Kouichi bisa pulang hidup-hidup, Aamiiin!" Takuya segera saja membuka buku notes yang tadi diberikan Kouichi, "Ayo kita mulai baca!"

Tentukan angle yang pas.

Itulah tips yang pertama dilihat Takuya pada notes.

"A-angle?" Takuya garuk-garuk kepala.

((It's Unscandal, Right?))

Oom Kousei masih sibuk membuntuti wanita oranye yang tadi telah tak sengaja menarik perhatiannya itu. Sekian lama, akhirnya iapun melihat wanita itu sedang berduaan dengan seorang pria. Oom Kousei pun akhrinya gigit jari.

"Sayuri… lihat. Chika rajin sekali, ya?" pria di sampingnya tampak menunjuk seorang anak kecil kuncir dua yang sedang sibuk membantu petugas dapur membawa bahan-bahan makanan untuk diolah dan dijual.

"Iya, Suguru. Lihat… Chika manis sekali," Sayuri mengiyakan. Duo suami-istri it uterus saja mengagumi anak perempuan mereka sampai waktu puasa tiba.

"I-itu suaminya?!" Oom Kousei geram, secepat kilat, lantas ia mengeluarkan cermin dari saku celananya. Ia pun bercermin, merapikan wajah dan rambut sedemikian rupa sembari tersenyum najong.

"Hm… wanita itu cantik-cantik kok katarak? Masih gantengan aku, kok, kebanding suaminya."

Nah, ketahuan gen usil bin ajaib nya Kouichi dapet darimana, 'kan?

((It's Unscandal, Right?))

"Siap-siap, ya. Sebentar lagi kita tampil," di ruang tunggu, Kouji dengan sigap mengomandoi anak-anaknya yang sedang sibuk mendadani Kouichi dengan kecepatan kilat. Mereka akhirnya memutuskan untuk segera tampil sebelum para penonton mengumpat mereka dan penyelenggara acara mendiskualifikasi mereka akibat Kouji dengan nekatnya memutar siaran ulang Ceramah Pengajian Ustad Rifa'I di Masjid Raya sana guna menyelingi acara.

"Bos, pakai pita Mini Moss gak?" tanya salah seorang anak buah Kouji hendak memasangkan pita besar berwarna pink polkadot putih pada rambut Kouichi. Yang lain ikut-ikutan nekat menggenggam lip gloss dan pemerah pipi. Entah ini mau ngeband apa ngelenong?

"Ogah!" jerit Kouichi, Kouji menggeleng pasrah, kenapa anggota band-nya pada punya otak error semua gini.

"Kayak gini, aja, deh! Yang simpel-simpel aja cukup," Kouichi kabur ke sudut ruangan, enggan didandani lebih jauh lagi. Ia lebih memilih dandanan simpel seperti jaket dipadu T-Shirt dan celana jins.

Yang nelepon tolol. Yang nelepon tolol~

Ringtone hape Kouichi berbunyi nyaring. Kouji dan teman-temannya langsung saja sweatdropp mendengar nada dering yang sama sekali tidak mengandung nilai estetika itu. Download darimana, ya?

Kakak-adik sama aja ternyata. Batin salah seorang teman Kouji yang selama ini mengira bahwa Kouichi masih lebih berkelas ketimbang Kouji.

"Halo, Takuya?" Kouichi menjawab telepon tersebut. Ternyata dari Takuya.

"Halo? Kouichi? Maaf, aku mau Tanya soal fotografi, nih. Dimana aku harus mencari malaikat?" suara Takuya dari seberang sana.

"Loh? Malaikat apaan?" Kouichi bingung.

"Aku baca petunjukmu. Katanya 'cari angle yang pas'. Nah, angle itu malaikat, 'kan? Sudah kucari ke seluruh penjuru sekolah dan tidak menemukannya."

"…" Kouichi nepuk jidat frustasi.

((It's Unscandal, Right?))

"Tomoki! Maaf, bisa tolong kerjakan yang ini?!"

"Tomoki! Formulir, dong!"

"Tomoki! Bereskan stand yang ini, ya!"

"Tomoki, cium gue, dong!"

Ya. Di sebelah sana, tampak seorang anak tengah diperbudak oleh teman-temannya. Bocah yang sebaya dengan Shinya, berkulit putih serta berambut cokelat-kehitaman. Sedari tadi, ia mengerjakan seluruh pekerjaan yang diberi secara diikhlas-ikhlasin.

"Kasihan banget anak itu," komentar Takuya yang secara tak sengaja menangkap pemandangan tersebut. Perdebatan tentang 'malaikat' akhirnya selesai. Kouichi dengan sabar menjelaskan tentang angle, yaitu sudut. Bukan malaikat. Jelas, penjelasan Kouichi itu membuat Takuya merasa menjadi orang bodoh.

Semula, Takuya berniat memotret proses persiapan stand dan kegiatan para siswa, namun melihat seorang anak yang diperbudaki di depan mata, ia tak rela rasanya. Ia kasihan. Tak ayal, Takuya mengejar anak itu masuk ke dapur sekolah..

"Sini, Kakak bantu!" seru Takuya ceria mengambil alih pekerjaan sang anak yaitu mengangkat daging beku. Sejenak sepertinya pesan Kouichi sudah terlupakan dan menghilang bagai angin lalu.

"…." Ia menatap Takuya. Bengong. Suatu sikap yang bikin Takuya salah tingkah.

"Ng… hello? Ada apa ,ya?" tanya Takuya, "Kamu gak pernah lihat orang seganteng ini?"

Tomoki menggeleng. Tatapannya yang sedari tadi bengong, berubah menjadi tatapan kagum. "Wah… Kakak ini… kakaknya Shinya, 'kan?!"

Takuya memandang heran. "Kok kamu tahu?"

"Ehehe, salam kenal, Kak. Namaku Tomoki Himi, teman sekelas Shinya," anak itu tersenyum lebar pada Takuya.

"Oh, teman Shinya, ya. Salam kenal. Aku Takuya Kanbara."

Wah, ternyata Shinya pernah cerita tentang aku juga sama teman-temannya. Dasar si Shinya, dia cerita apa ya kira-kira? Di rumah, kakakku ganteng sekali… ah masa begitu? Batin Takuya membayangkan bagaimana polosnya sang adik ketika membanggakannya di sekolah. Bukankah setiap adik begitu?

"Shinya sering cerita. Katanya Kakak doyan chatting dan koleksi video bokep, ya? Seleranya sama ikan hiu dan bukan cewek?" tanya Tomoki polos. Serius, gak ada maksud apa-apa.

"Hah?!" Takuya melotot, "Jangan samakan aku sama Kouji yang brother complex itu!" bantah Takuya spontan memfitnah Kouji.

"Ooh, jadi itu semua bohong?" Tomoki pasang tampang berpikir. "Ya sudahlah. Anggap saja benar."

Grr… awas kau Shinya. Nanti kuompoli kasurmu! Batin Takuya bersumpah, dendam kesumat pada adik semata wayangnya itu.

Mereka berdua telah sampai tepat di depan pintu dapur sekolah, hendak menaruh daging-daging beku. Sedikit mereka bingung karena semua petugas dapur berlari panik keluar dari ruangan.

"Ada apa, ya?" Tomoki memandang mereka heran.

"Ada yang buang angin, ya?" tebak Takuya ngasal.

"Kalian juga cepat lari!" imbau salah seorang petugas dapur.

Praaang! Dbuar!

Takuya dan Tomoki kaget. Mereka berusaha mencari sumber suara tersebut. Suara ledakan kecil dan kaca pecah. Biasanya, kalau di film-film barat, bunyi seperti ini menandakan….

"Kebakaran!" teriak mereka bersamaan. Api dengan cepat menjalar ke seluruh bagian ruangan. Memang ledakan tidak begitu besar karena yang meledak adalah gas botolan yang biasa dipakai kompor-kompor kecil. Namun tetap saja, menimbulkan kebakaran.

"Panggil tukang es-eh, bukan, pemadam kebakaran! Pemadam kebakaran!" suara teriakan di antara kegaduhan terdengar.

"Ada apa, sih?" si kembar dan teman-teman band keluar dari gedung karena mendengar kegaduhan tersebut. Asap tebal mengepul dari jendela dapur.

"Kebakaran," gumam Kouichi ketika melihat asap hitam pekat menyembul dari jendela dapur.

"Di dapur gak ada orang, 'kan?" Kouji santai. Namun Shinya yang panik di sampingnya membuyarkan tingkah santainya.

"Kakakku yang paling jelek ada di dalam! Kakakku yang paling gaje ada di dalam!" panik Shinya tak karuan.

"Takuya di dalam?!" si kembar kaget bersamaan, menatap Shinya dengan panik.

"Iya. Kakak di dalam! Bareng temanku, Tomoki! Tadi kulihat mereka masuk ke dalam. Sampai sekarang mereka belum kelihatan juga. Pasti mereka masih di dalam!" Jantung Kouji dan Kouichi langsung berdebar gak terartur mendengarnya. Gak karuan.

"Biar aku ke dalam. Akan kubawa keluar kadal Bangkok itu!" Kouji maju dengan heroiknya, namun ditahan oleh Kouichi.

"Jangan! Nanti kau bisa mati kehabisan napas!" larang Kouichi.

"Kalau kubiarkan, nanti si kadal Bangkok itu bisa jadi kadal bakar! Gak elit matinya!" Kouji masih ngotot maju. Kouichi pun makin jadi menahan adiknya.

"Chika!" seorang pria berambut cokelat-kemerahan berteriak di samping mereka. Ditilik dari penampilannya, sepertinya ia seorang mahasiswa. Dia kakak laki-laki Chika, berarti adiknya masih ada di dalam jika ia sepanik ini.

"Mama! Chika di dalam, Ma!" tunjuknya panik. "Aku akan ke dalam!"

"Jangan ceroboh, Masaru!"

Kegaduhan pun segera saja makin menjadi.

"Aku mau ke dalam! Lepasin!" berontak Kouji. Sang kakak tak mau kalah. Ia memborgol Kouji dan mengikatnya dengan tali raffia—antara memang khawatir atau pengen balas dendam.

"Apaan, sih?!" bentak Kouji, "Sebegitu khawatirnya kamu sama adikmu ini, Kak?!"

"Bukan begitu," Kouichi menggeleng, "Bukan begitu… tapi… kalau kamu mati… aku gak punya saudara lagi…"

Kouji melunak. Ternyata kakaknya begitu menkhawatirkan dirinya. Seketika ada perasaan hangat nan lembut menelusup sanubarinya. Mungkin ini yang orang bilang kehangatan tali persaudaraan.

"Kouji… kalau kau mati…," pandangan Kouichi berubah sedih dan suaranya mulai perlahan meninggi, "nanti impianku punya keponakan cewek bisa pupus!"

Dan Kouji jadinya Gubrak!

((It's Unscandal, Right?))

"Kita juga harus lari, Tomoki!" Takuya menarik Tomoki, namun Tomoki enggan mengikuti Takuya. Seakan ia tak mau pergi dari tempat itu dan mematung.

"Tomoki? Ada apa?" dilihatnya telunjuk tomoki mengarah pada meja dapur. Mata Takuya membulat. Dilihatnya seorang anak perempuan tengah pingsan di bawah meja dapur yang terbuat dari besi. Anak perempuan berambut oranye yang dikuncir dua. Ya, dialah Chika.

"Itu Chika Daimon dari kelas B! Kak Takuya! Ayo kita selamatkan dia!" Tomoki berlari masuk ke dalam dapur, tak peduli api semakin membesar.

"Tomoki!" Takuya mau tak mau harus ikut masuk. Ia mengikuti Tomoki menghampiri Chika.

"Dia pingsan, Kak," ujar Tomoki memangku Chika.

"Gendong. Kita bawa dia keluar!"

Buuugh!

Pintu dapur terhalang oleh potongan rak kayu yang rubuh akibat terbakar. Semua bahan-bahan yang ditaruh di rak itu berserakan dan tak lama, ikut terbakar.

"Alamak," wajah Takuya pucat. Pintu keluar sudah terhalang, yang tersisa hanya jendela yang ada di dekat mereka.

Situasi ini persis banget dengan film-film Bollywood antara Rhaj dan Puja yang tak bias mempersatukan cinta mereka dan akhirnya membakar diri bersama di dalam sebuah gedung opera tentu saja tak lupa sambil beradegan menari dan menyanyi. Oke tadi itu entah cuplikan film mana author juga gak tau.

"Apa boleh buat, deh," Takuya memantapkan letak goggle-nya, mengambil periuk dan mengisinya dengan air dari wastafel.

"Untuk apa, Kak?" Tomoki bingung ketika Takuya menyiramkan air ke tubuh mereka dan Chika.

"Adegan klise. Kayak di film-film itu… kita terobos kacanya!" tegas Takuya, ia mengguyur tubuhnya dengan air.

"K-Kak?"

Takuya memeluk pinggang Tomoki dan Chika dengan kedua lengannya. Kiri dan kanan. "Siap, ya? Pegangan! Tutup mata kali-eh, tutup matamu, Tomoki!"

Pemuda itu memecahkan kaca jendela dengan kamera hingga kaca tersebut retak, agar mudah diterobos dengan tubuhnya. Takuya mengambil posisi siap, berlari kencang dan melompat agar kaca jendela di depannya pecah.

"Kita berangkaaat!"

Praaang!

Aksi heroik Takuya berhasil. Ketiganya jatuh tersungkur ke tanah. Aksinya membuat semua penonton kagum sekaligus berdebar. Sebagian penonton menghembuskan napas lega. Sebagiannya lagi dengan tidak tahu diri menggelar tikar dan memakan popcorn dan gorengan kecil.

"Chika!" mahasiswa tadi menghampiri mereka. Menggendong tubuh anak perempuan yang bernama Chika. Sementara Takuya dan Tomoki yang menderita lecet hanya bisa tersenyum sumringah.

"Syukurlah kalian selamat!" ibu Kouichi, Tomoko menawarkan handuk pada Takuya dan Tomoki. Keduanya dengan sigap dibawa ke ruangan kesehatan untuk diobati.

Tepat waktu, mobil pemadam kebakaran pun telah datang, sehingga api dapat dikuasai dan kebakaran tidak kian merebak. Kini, Kouji, Kouichi, Shinya dan lainnya tengah menengok Takuya dan Tomoki. Tak ada luka parah.

"Takuya, adikmu nangis, nih! Katanya dia gak mau kamu sampai mati. Katanya dia sayang kamu-aaw!" kaki Kouji diinjak sejadi-jadinya oleh Shinya. Kouichi mati-matian pula menahan tawa.

"Fitnah itu dosa!" seru Shinya seperti tak pernah menyadari perbuatannya sendiri.

"Syukurlah, aku masih punya harapan dapet keponakan perempuan," Kouichi mengusap dada, dan langsung ditatap horror oleh Kouji.

"Maksudmu apaan, sih? Kenapa punya obsesi aneh gitu?" Kouji pun balas menginjak kaki Kouichi sekuat-kuatnya. Dan keceriaan kembali menyala dalam ruangan kecil itu.

((It's Unscandal, Right?))

Kebakaran berhasil ditaklukkan. Api padam dan suasana dinyatakan aman. Tak perlu waktu lama untuk memadam totalkan api. Acara Flea Market di tutup dengan aksi panggung dari band Kouji—yang vokalis aslinya datang tepat setelah acara panggung selesai. Membuatnya langsung dinganyang oleh anak-anak band-nya. Namun semua benar-benar terpukau dengan aksi Kouichi. Beberapa orang bahkan benar-benar mengira Suzumura Kenichi benar-benar tampil di atas panggung.

"Kouichi bisa nyanyi, tapi kenapa gak masuk klub musik?" tanya Takuya. Mereka berdelapan—Takuya, Kouji, Kouichi, empat anggota band Kouji ditambah Shinya—pulang dengan berjalan kaki—tentu saja Oom Kousei dan Tante Tomoko sudah pulang duluan. Mereka baru akan berpisah setelah tiba di daerah yang dekat dengan rumah mereka.

"Aku gak tertarik musik. Aku lebih tertarik dengan fotografi. Main sama cahaya," balas Kouichi datar.

"Ooh? Tapi memang bener, loh. Suaramu mirip penyanyi Suzumura Kenichi," goda Takuya, membuat Kouichi makin malas.

"Terserah, deh, pokoknya aku gak mau diminta nyanyi lagi. Lain kali minta aku potret kalian saja ya," Kouichi tiba-tiba ingat sesuatu, "ah, iya! Takuya, kamu berhasil dapat foto-fotonya, kan?"

Ditanyai begitu, Takuya sempat pucat pasi, lalu nyengir kuda lumping. "Dapat sedikit, sih… tapi… maaf, ya?" ia menunjukkan kamera milik Kouichi yang lecet. Gentian sekarang Kouichi yang pucat pasi. Alamat pinjam uang lagi dengan Kouji.

"Ya udah, deh, gak apa. Itu nyawaku. Sini," Kouichi menyambar kamera tersebut dengan lemas.

((It's Unscandal, Right?))

"Apa?! Cucuku Takuya terkena musibah kebakaran?!" seorang kakek berjenggot putih terhenyak dari singasananya di suatu gedung mewah di Amerika Serikat.

"Benar, Tuan Toushizou!" bawahannya membenarkan.

Kakek berkimono serba hitam itu berdiri dari kursi malasnya yang mewah. Ia putus sambungan telepon dari anak buahnya. Ia berdiri dan berjalan di antara para anak buahnya yang berlutut member hormat padanya.

"Kenapa bisa begini? Cucuku terkena musibah…" gumamnya sembari meniup rokoknya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, pemuda tampan dengan rambut pirangnya berdiri tegap.

"Bagaimana, Tuan Toushizou? Apa aku boleh menggunakannya?" tanyanya, sedikit ia melirik ke sebelah kirinya, di mana duduk seorang wanita cantik dengan rambut cokelat dan manik sewarna lavender pekat.

"Saya janji tidak akan membahayakannya," sambung si pemuda. "lagipula ini bisa jadi latihan buat cucu Tuan, sekaligus memperlancar peluncuran lagu Kakakku."

Toushizou menimang-nimang sesaat, lalu mengangguk. "Baiklah, Amano. Kuizinkan. Cucuku yang bodoh itu memang kurang waspada. Kupercayakan dia padamu."

"Beres."

Maka kedua kakak-adik Amano melangkah masuk ke dalam limosin mewah yang sudah anteng di depan gedung nan megah itu. Malam yang gemerlap di New York semakin larut, Limosin itu terus melaju, membawa keduanya pulang untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Jepang besok lusa.


Tu Bi Kontinyu, Qaqaaaa :v


Note iseng:

Suzumura Kenichi: Seiyuu-nya Kouichi, Suzumura Kenichi, biasa disingkat SuzuKen (MuraKen kalau Hoshi Souichiro yang memanggilnya) adalah seorang Seiyuu multitalenta. Selain bekerja sebagai Seiyuu, SuzuKen juga bekerja sebagai penyanyi. Tokoh-tokoh yang dibawakan SuzuKen selain Kouichi adalah Ryuutaros (Kamen Rider Den-o), Lavi (DGray-Man), Reo (Alice Academy).

.

.

Dan here it is, Unscandal chapter 5 :D gimana? Update-nya cepet kan? Nah… betewe saya lagi galau. Lagi sedih. Ihiks.. saya mau curhat #ditendang

Jadi gini, sebelum posting chapter ini, bahkan sebelum chapter 4 saya posting, laptop saya kan di install ulang tuh karena kena virus. Dan otomatis data-data harus di-back-up dong? Nah, saya menyesal kenapa waktu itu saya tidak mengecek folder fanfiksi dengan benar D"X tahukah kalian, Chapter 6-seterusnya-sampe-tamat Unscandal, yang sudah saya tulis capek-capek, rampung dan hanya tinggal edit itu hilaaaaaaang huhuhuhu…. *ceritanya nangis* jadi mungkin untuk chapter selanjutnya bakalan lama. Amaaaaaaat lama karena saya harus menulis ulang lagi ;A; ihiks… bentar saya mau nyosot ingus dulu ihiks. Dan terpaksa kuharus membelokkan plot Unscandal sedikit demi kenyamanan mengetik lagi 8'D Ah, belum lagi masalah lain-lain yang datang menghampiri. Ih ini kenapa pas saya mau apdet Unscandal selalu ada aja masalahnya sdfghjlk hueeeeeeeeeeee #desh

Aaah itu berapa chapter yang ilang banyak, huhuhuhuhu saya pengen nangis saya pundung sekaliiiiii #udahAya #Lebay

Kuharap kalian masih setia menunggu Unscandal dan tidak bosan yaaaah QAQ dan apakah yang akan terjadi di chapter depan? Sudah tentu semakin ramai 8D

Semoga kalian semua terhibur dengan chapter ini dan tidak galau :D

Salam, Aya keceh #dibuang.