Pagi ini kelas betul-betul hambar seperti biasa. Angin sejuk membuat para pemuda kesepian ini menghela napas semakin berat. Kerinduan mereka akan makhluk berjenis kelamin wanita membuat mereka benar-benar sengsara. Sejauh mata memandang, hanya ada kaum adam. Tak ada rok, tak ada wewangian, tak ada canda-tawa centil. Adanya hanya bau kaki, manusia tegaan tak mandi tiga hari, wajah maskulin boros umur, dan lain sebagainya. Sepi sekali hati ini, begitu kata setiap batin mereka.

"Woiii! Katsuharu jadian! Katsuharu jadiaaaan!"

Suara Teppei—anak buah kepercayaan Katsuharu—menggema, membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

"Berisik! Diam kau, Teppei!" racau Katsuharu sambil menggampari Teppei yang usil.

"Pacarnya manis banget loooh! Seragam sailor kepang duaaaaa!"

"TEPPEI!"

"Terus dia manggil 'Katsuharu~ aku cinta kamu~' gitu~"

"TEPPEI PLIS!"

"Namanya Chiak—"

Melayanglah bogem mentah Katsuharu pada anak buah paling setianya itu, dan jadilah jenazah Teppei ditendang ke sudut ruangan oleh Katsuharu.


Sebuah fanfic gaje yang tergolong abal, mengandung unsur sho-ai tersirat, dengan kedodolan yang amat tersurat, ke-lebay-an tingkat stadium. Pemakaian bahasa tidak baku. OOC dan AU parah, serta tepung garing kriuk-kriuk yang kelewat overdosis. Kesamaan nama, tokoh dan tempat memang disengaja, namanya juga fanfic.

Digimon© Akiyoshi Hongo.

WARNINGS! REPOST. AU. OOC. Abal. Gaje. Garing. Lebay. Semi-AR

Unscandal© Aya


[Amano Arc - Prologue]


"OIII! Katanya ada murid pindahan loh! Murid pindahaaaan!"

Sontak saja seisi kelas langsung ramai dan heboh. Jarang-jarang ada murid pindahan di pertengahan semester macam ini.

"Tadi aku curi-curi dengar di ruang kepsek. Namanya Amano!"

Dan seisi kelas semakin riuh layaknya monyet tawuran ketika mendengar nama itu. Amano. Nama sakral yang mendengarnya saja bakal bikin cowok-cowok kesepian seumuran mereka kejang-kejang bahagia. Amano, sama dengan nama Nene Amano. Artis idola muda belia yang baru saja mereka gosipkan tadi.

"Uwoooh! Nene Amano pindah ke sini?!"

"APAAH?! Nene Amanooo? Oh Tuhaaaan terima kasih, akhirnya Kau kirimkan jodohku!"

"NENE PUNYA GUEEE!"

"Aku terharu… Nene Amano jauh-jauh pindah ke sini untuk menemui diriku."

"RATU KITA NENE-SAMAA!" suara fans berat.

Sepertinya ekspektasi para pemuda kesepian ini langsung saja terbakar, membayangkan Nene Amano nan cantik jelita akan menyapa mereka dari dekat, menjadi teman sekelas atau bahkan pacar.

"Itu tuh! Anaknya udah jalan ke mari!"

"Siap-siap penyambutan, kawan-kawaaaan!"

Maka dalam sekejap, kelas sudah amat ramai. Lengkap dengan bunga mawar bertebaran, seluruh siswa yang mendadak parlente, terompet tahun baru, dan spanduk 'Selamat datang Nene Amano'.

Pintu terbuka. Pak guru melangkah masuk. Seluruh perhatian tertuju pada sosok yang berjalan di belakangnya. Bendera diangkat dan terompet dibunyikan serentak, konfeti ditebar semeriah mungkin. Persis penyambutan pejabat yang telah berjasa besar memajukan negeri yang semula negeri surga korupsi menjadi negeri nomor satu tanpa korupsi. Korupsi? Hukum mati, mutilasi, buang ke jurang.

Sosok pirang itu berdiri tegap dengan senyum ramah. Sedikit ia melambaikan tangan. "Hai semua. Namaku Yuu Amano. Salam kenal."

Seketika itu juga kelas mendadak hening, seluruh siswa mendadak jadi rajin baca buku matematika, padahal hari itu tak ada pelajaran matematika.

((It's Unscandal))

Seluruh kelas langsung lemas. Gimana enggak, kalau sosok cantik yang mereka idam-idamkan itu ternyata berwujud lelaki. Sama seperti mereka. Kaum adam. Kayaknya mereka lupa kalau sekolah mereka khusus putra, sudah tentu Nene Amano tidak akan pernah pindah ke tempat ini.

Yuu tersenyum tipis. Alih-alih jadi beken karena status murid pindahan—sering ada di komik-komik Shoujo itu loh—teman-teman sekelas malah bersikap sangat biasa padanya. Malah beberapa tega memalak Yuu seperti: "Eh, kan baru pindah. Traktir kita dong?"

Rasis amat.

Ketika bel keluar untuk istirahat berbunyi. Para murid yang biasanya cool and calm langsung berubah menjadi makhluk barbar pengincar kantin. Namun sebelum pasukan barbar itu melangkah keluar kelas, pengumuman dari kepala sekolah telah berbunyi duluan, meminta kepada seluruh siswa kelas dua untuk berkumpul di aula.

"Ada apa ya? Tumben kepala sekolah meminta kita kumpul-kumpul di aula pada waktu begini?" ucap Kouichi menghampiri Takuya dan Kouji. Si bandana tiger hanya mengangkat bahu.

"Mungkin mau bagi-bagi sembako. Kita ikuti saja," ucap Kouji cuek.

Kepala sekolah melangkah lambat. Meraih mic yang ada di atas panggung sana, menatap ke semua siswanya dengan serius.

"Selamat siang. Kalian sehat? Ciyus?"

….hening.

"Baiklah, kita langsung ke inti masalah saja," ucapnya datar. Ketahuan candaanya garing. Lalu, suatu langkah menyusulnya naik ke atas panggung. Dia Yuu Amano, siswa yang baru saja pindah hari ini.

"Dia Yuu Amano, siswa yang baru saja—

"Pindah hari ini kan, Pak? Sudah tahu," jawab seluruh siswa serempak.

"Baiklah, berarti kalian pasti juga sudah tahu. Dia adik laki-laki Nene Amano, loh, bintang muda itu."

"APAAAAAA?" Seluruh siswa serempak riuh. Sosok Yuu yang berada di atas panggung sana terlihat begitu bercahaya. Adik. Kandung. Nene Amano. Oh iya, marganya kan juga sama-sama Amano.

"Wuiiih, selamat datang, adik ipar!" ucap geng yang beberapa menit lalu memalak Yuu. Sepertinya mereka sudah lupa dengan perlakuan mereka tadi. Mendadak sosok Yuu menjadi begitu terhormat di kalangan murid-murid. Kalau kesannya buruk, kan nanti gak jadi kawin sama Nene. Iya toh?

"Sudah kuduga reaksi mereka akan seperti itu," komentar Takuya—yang pada dasarnya memang tidak tertarik dengan Nene. Takuya tertariknya dengan SNSD.

Kepala sekola kembali melanjutkan. "Oke. Nah, ini menyangkut agenda wajib musim panas di sekolah kita, yaitu Uji Nyali. Untuk tahun ini ditiadakan."

Selarik kalimat tadi sudah tentu memancing sorak-sorai para siswa. Tahun ini kegiatan yang menurt mereka buang waktu itu akhirnya ditiadakan. Kini mereka bisa begadang untuk hal-hal lain yang lebih berguna, seperti menonton film porno sampai pagi. Er… entah di mana letak bergunanya.

"Tapi akan diganti dengan kegiatan lain," dan sorak-sorai langsung berhenti begitu mendengar kata 'tapi' tadi. Yuu Amano maju, mengambil alih mic dari kepala sekolah.

"Siang semuanya! Aku Yuu Amano, yang akan memprakarsai acara pengganti Uji Nyali kalian tahun ini," ucapnya. Seluruhnya penasaran, semua mata tertuju pada Yuu. Sejurus, sekelompok orang berpakaian hitam—persis anak buah Takuya—tampil dengan membawa kotak-kotak kayu seukuran koper.

"Teman-teman, tema acara tahun ini adalah Survival game!" seru Yuu, bersamaan dengan dibukanya tutup kotak-kotak kayu itu. Semua mata memandang takjub. Seluruh senjata lengkap ada di dalamnya—kecuali senjata laras panjang.

"Untuk apa senjata-senjata itu, Amano?"

"Tenang saja, itu semuanya hanya peluru cat," jawab Yuu. "kita akan bermain survival game dengan ini. Ini menyangkut penjualan lagu kakakku yang nanti akan dirilis. Kakakku, Nene membutuhkan aksi kalian dalam bentuk video untuk video klipnya nanti. Jadi, kuminta kerja samanya, ya."

"Jadi kami harus baku tembak dengan ini?" tanya Katsuharu. Yuu mengangguk pasti.

"Tidak mau!" ucap yang lain.

"Benar! Benar! Hanya karena akan tampil di televisi untuk video klip Nene Amano, kamu menyuruh kamu untuk saling menjatuhkan? Aku tidak mau!"

"Aku juga tidak! Aku tidak mau menjatuhkan teman-temanku. Mereka semua berarti bagiku."

"benar! Sakit satu, sakit semua!"

"Lalu kaya satu, kaya semua!"

Takuya, Kouji, dan Kouichi terkesima. Sebagian besar dari para siswa menolak untuk menyetujui acara baku tembak ini. Sesaat, Takuya merasa sekolah ini tidaklah buruk. Persahabatan dan kebersamaan amat dijunjung tinggi. Walaupun berandal, anak aneh, anak rajin, semuanya satu. Saling menyayangi dan melindungi. Inilah persahabatan yang sesungguhnya. Selintas, terucap syukur di hatinya. Syukur pada sang kakek yang telah memindahkannya ke sekolah ini.

"Begitu, ya?" Yuu menghela napas berat. "Aku salut. Kalian benar-benar setia kawan," ucap Yuu juga ikut terharu. Ia mengusap sudut matanya. "baiklah, mungkin aku dan kakakku harus introspeksi diri. Manajemen kakakku benar-benar sembrono, menjanjikan hadiah makan malam di hotel bintang lima bersama kakakku bagi pemenang survival game ini."

"OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

Seketika suasana mulai riuh. Seluruh murid berlari dengan beringas menuju kotak kayu tadi, berebut mengambil satu-persatu senjata. Mata mereka semua bersinar, semangat membara menguar, yell-yell diteriakkan selantang-lantangnya.

"KAMI SIAP BERPERANG, YUU AMANO!"

Takuya, Kouji dan Kouji menepuk jidat. Serempak.

((It's unscandal))

Shinya berjalan lunglai sore itu. Sekolah baru saja usai, namun seluruh energinya seperti sudah terkuras habis. Bagaimana tidak, sepanjang tadi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Chika Daimon. Iya, Chika, anak perempuan sekelas dengannya. Sudah lama Shinya naksir padanya, namun apa mau dikata, Shinya yang masih polos-unyu-unyu-malu-malu(in) itu masih belum siap menembaknya.

"Haaaah, Chika-chan. Bagaimanakah engkau akan tahu perasaanku," gumam Shinya.

Inilah Shinya kanbara, bungsu dari keluarga Kanbara yang entah memang kelewat dewasa, atau otaknya sudah teracuni sinetron impor, hingga kerjanya hanya mencari pacar. Tujuan hidupnya adalah membuat Kakak tunggalnya, Takuya Kanbara menari telanjang di pesta pernikahannya.

"Ada gosip juga kalau dia suka sama Ikuto," Shinya menghela napas lagi. Membayangkan wajah Chika saja rasanya sudah sesak dada ini. Apalagi ketika menembaknya nanti. Ooh, akankah terjadi keajaiban?

"Shinya-kun."

Shinya melongo. Gadis dengan suara manis itu tampak mengejarnya di belakang. Berlari-lari kecil. Dengan gestur sederhana saja, mampu membuat Shinya jatuh cinta.

"A-ada apa Chika?"

Senyum Chika langsung saja membuat Shinya gugup. Chika mengeluarkan semangkuk kecil es krim dari tangannya, lalu menyodorkannya pada Shinya sembari tersenyum malu-malu.

"Ini untuk Shinya-kun," ujarnya. Tak tertahankan lagi, Shinya mendadak jadi begitu bahagia. Oh ini memang keajaiban, aku kejatuhan durian emas. Apakah ini tanda jika Chika juga suka padaku? Oh Chika, jangan takut, tentu aku akan menerima perasaanmu.

"Terima kasih Chika, aku suka sekali es krim rasa ini," diterimanya es krim itu dengan gembira. Chika pun juga terlihat ikut gembira. Mereka berdua saling melempar pandangan, lalu tersenyum bersama-sama.

"Syukurlah kalau Shinya-kun suka. Seharusnya sekelas kebagian, tapi Shinya-kun pulang duluan. Itu es krim selametan aku jadian dengan Ikuto."

Prek.

Kokoro Shinya pecah di tempat.

((It's Unscandal, Right?))

Malam sudah semakin larut. Sinar bulan menelusup dari celah-celah awan, menerangi kota yang ada di bawahnya dengan temaram. Angin malam berhembus perlahan, lolongan anjing tentangga sesekali terdengar. Houken Gakuen terlihat amat sepi... oh, tunggu. Apa itu?

"Terjang! Serbuuuu!"

Seluruh siswa kelas dua tampak berbaris semangat. Dengan berlari ala tentara negara siap mati, mereka menyerbu masuk ke gedung aula. Di sana hanya ada murid-murid kelas dua, juga sebuah speaker di atas panggung sana. Suasana hening, para murid berbaris rapi, menggengam senjatanya masing-masing.

Setelah dirasa semuanya berkumpul, speaker tiba-tiba menyala, "Selamat malam, kawan-kawan," terdengar suara Yuu dari seberang sana. Entah ia sedang berada di mana sekarang.

"Aku sudah menyuruh beberapa anak buah untuk mengatur bel pulang sekolah berdentang sebentar lagi. Sekarang, akan kujelaskan peraturannya," ucap Yuu tenang. Seluruhnya terlihat serius mendengarkan, kecuali Kouji, Kouichi dan Takuya—plus Kouichi yang kelihatannya sudah mengantuk, namun ia masih mengalungkan kamera di lehernya. Mungkin ia langsung kemari begitu kerja paruh waktunya di studio foto selesai.

"Peraturannya sangat mudah. Semua senjata sudah diisi dengan peluru cat berwarna merah. Kalian hanya perlu saling menembak. Orang yang terkena peluru dinyatakan gugur. Tidak boleh curang, karena beberapa staff akan berjaga di tempat-tempat yang tidak terlihat. Orang yang bertahan sampai akhir, ialah pemenangnya, paham?"

"Kami paham, Komandan!" ucap Teppei lantang, entah apa yang menyebabkannya begitu bersemangat sampai-sampai memberi gelar komandan pada Yuu.

"Baik. Sekarang, pergilah. Berpencarlah ke tempat-tempat terpisah. Begitu bel dibunyikan, kalian semua adalah musuh satu sama lain. Ingat, pemenangnya berhak makan malam bersama kakakku. Sekian."

Speaker mendadak mati. Suasana kembali hening. Memang terdengar bisik-bisik di beberapa tempat. Namun semua kembali terdiam pada akhirnya. Perlahan, semua melangkah keluar, lalu berpencar.

"Jangan sampai mati duluan, yah, Kouji," cengir Takuya. Kouji mendengus sebal.

"Sudahlah, jangan macam-macam. Sana jalan ke tempatmu. Aku bisa jaga diriku sendiri!" ungkap Kouji sembari membuang muka. Terlihat Kouji tidak membawa satupun senjata yang diberikan. Ia hanya membawa sebilah pedang kayu untuk latihan kendo. Sepertinya Kouji tidak berniat ikut serta.

Maka berpencarlah mereka ke berbagai tempat. Untuk beberapa menit, suasana sekolah menjadi sangat hening. Tak ada suara satu pun.

Tepat jam dua belas malam, bel telah berdentang.

"OOOOOH!"
"Ayo berburuuuu! Minggir kau!"

"Nene Amano milikku!"

Suasana bak film-film suspens segera saja menguar. Lingkungan sekolah khusus putra itu segera saja menjadi arena ajang baku tembak.

"Sepertinya semua berjalan lancar," ucap Yuu seraya membetulkan seluruh pakaiannya yang serba hitam. Ia juga mempersiapkan senjatanya—jelas, ia ikut serta. "Baiklah, Kakak. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya?"

Dengan cepat, pemuda itu keluar dari sebuah mobil wagon, berlari secepatnya masuk ke dalam area sekolah. Di dalam wagon, tampak gadis cantik dengan kuncir uniknya tengah duduk, menatap punggung sang adik yang kian menjauh.

"Aku juga harus siap-siap," ucap Nene menimang senjata miliknya, kemudian mengganti pakaiannya.

Game Start


((To be continued))


Cuap-cuap author:

Hai semuaaa~ lama kita tidak berjumpa di chapter ini ya? :D/ dan.. iya.. Amano bersaudara sudah muncul, siap menembak hati para jomblo yang galau /eaaa *Padahal sendirinya juga galau* betewe semoga kalian masih pada mengikuti atau gak bosan sama fanfic satu ini yaaa soalnya.. ya… apdetnya lemoooot sekali 8"D Masih ada yang ingat Chika dan Ikuto, kan? Dari Savers :D

Ngomong-ngomong saya lagi sensi nih sama Sinetron. Kok protagonisnya terlalu gimana gitu ya? Menurutku gak realistis #ditendang

Terus, semoga juga masih pada berkenan menunggu lanjutannya 8D bagaimana jadinya ajang baku tembak di sekolah? Siapakah pemenangnya? Apa yang akan menghadang Takuya, Kouji dan Kouichi di depan nanti? Benarkan Yuu suka sama Takuya? /eh Benarkah Kouji itu sebenarnya cewek? /digebuk

Mari kita lihat chapter depan :D

Salam, Aya