"Tatapan matamu sedih sekali."
Yuu kecil mengangkat wajahnya, menatap seorang pria tegap yang tengah mempobong kakaknya, Nene Amano. Sedetik, Yuu langsung membuang muka. Ia begitu benci perasaan saat ini. Pedih dan pahit. Tsunami yang meluluhlantakkan tempat tinggalnya dan merengut nyawa kedua orangtuanya. Semuanya menjadi hampa. Kosong. Dunia Yuu runtuh dalam sekejap. Semua keindahan yang dimiliki hidupnya lesap seketika.
"Jangan menangis," ucap pria itu. "Ikutlah denganku. Aku akan merawat kalian."
"Kenapa Anda sebaik ini?" sahut Yuu dengan nada datar. Tatapan matanya kosong, seperti ikan mati.
Toushizou Kanbara menghela napas. "Karena aku juga punya cucu yang sepantaranmu. Aku tak tega membiarkan kalian larut dalam kesedihan. Ikutlah, paling tidak sampai kalian cukup kuat untuk menghadapi dunia."
Yuu Amano tak pernah mengira bahwa kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat karenanya. Kelompok Kanbara—yang katanya kelompok paling ditakuti dahulu—benar-benar merawatnya, bahkan menjadikan Nene Amano sebagai selebriti tenar seperti sekarang.
Yuu benar-benar bersyukur bertemu dengan Kanbara. Setiap hari ia selalu dibuat penasaran oleh kakek penuh kuasa itu. Bagaimana dia menceritakan cucu-cucu yang ia sayangi. Bagaimana ulah Takuya jika dibandingkan dengan Yuu. Semua membuat tanya menggelantung di benak Yuu.
Seperti apa Takuya Kanbara itu? Seberapa hebat dia?
Inilah saatnya.
Yuu Amano merapikan senjatanya, pakaian serba hitam memudahkannya untuk bergerak. Sebentar lagi bel sekolah berbunyi, tanda pertempuran akan segera dimulai.
WARNING! AU, OOC, Abal, gaje, garing. Fanfic ini ngaco! Typo nyebar.
Digimon© Akiyoshi Hongo.
Unscandal© Ayacchiiin.
(Amano Arc-bagian Awal)
"Kalahkan semuanyaaa!"
"Nene Amano milikkuuu!"
"Minggir kalian semua!"
Lontaran peluru cat mewarnai setiap koridor sekolah. Bangku-bangku di kelas sudah dikeluarkan untuk dijadikan barikade. Ada yang berjuang perorangan, ada juga yang membentuk kelompok. Suasana survival game sudah berjalan beberapa menit dan sudah banyak mayat (bohongan) bergelimpangan.
"Uooogh! Dia cepat sekali!"
"Kurang ajar! Yuu Amano! Aku akan mengalahkanmu!"
Satu tembakan, semua tuntas. Yuu bahkan berhasil menumbangkan lima orang sekaligus.
"Uugh, Yuu Amano…," satu orang mengerang tak berdaya, "tak kusangka kau juga mengincar tiket makan malam bersama Nene. Ternyata Kau…. Sister complex…."
Ih gak sudi. Bukan itu juga yang aku incar. Batin Yuu mengeluh. Dia kembali fokus, berjalan di tengah gelapnya lorong sekolah. Suara sol sepatu mewarnai setiap langkahnya mencari sosok Takuya Kanbara.
X-x-x-X
"Sebenarnya permainan ini tujuannya apa siiiiih?" rengek Takuya ketika dirinya dikejar-kejar sekelompok orang dengan amat beringas. Takuya berlari ke sana ke mari, sibuk menghindar dari lontaran peluru.
"Karena kamu cucu Kanbara, pasti ahli yang beginian! Kami harus menumbangkanmu dulu!"
"Kata siapa aku ahli beginian!" seru Takuya seraya melompati barikade meja. "Aku nggak ahli beginian. Yang ahli itu Shinya!"
"Siapa pula itu Shinya?"
Takuya nepuk jidat.
Pemuda Kanbara itu terkepung sekarang. Merasa tak punya pilihan lain, Takuya mengangkat senjatanya, menarik pelatuknya dan melontarkan peluru ke berbagai arah dalam sekian detik. Hasilnya menakjubkan. Kelompok yang mengejarnya langsung tumbang tak tersisa. Pemuda Goggle itu melongo. Ternyata hasil mengamati anak buah kakeknya berlatih ada gunanya.
Desing peluru cat masih terdengar. Takuya melanjutkan langkahnya menyusuri koridor. Ia berlari-lari kecil, sesekali waspada pada sekeliling. Dia merasa harus segera mengakhiri game tidak jelas ini, sebelum makin bertambah korban ketidak warasan Amano.
Berarti Takuya harus menumbangkan semua lawan yang ada. Selain dirinya.
Tunggu. Semualawan katanya. Semua.
Langkah Takuya terhenti. Itu berarti, dia juga harus menumbangkan Kouji?
X-x-x-X
"Heh, Kouji Minamoto. Sepertinya kau sedang mengejek kami, ya? Mana senjatamu?"
Di sisi belakang sekolah, Kouji tengah dikepung oleh beberapa orang teman seangkatan. Kebanyakan orang-orang yang dendam dengan mulut sadis Kouji. Moncong senjata sudah diarahkan pada Kouji, namun pemuda bandana itu tampak tak takut. Ia malah berdiri dengan tenang dengan tatapan mengejek.
"Apa kau begitu takutnya sampai lupa membawa senjata?"
"Berisik, aku tidak minat dengan game ini, juga hadiahnya. Aku mau pulang dan tidur. Minggir!"
Ooh, pantas dia ada di area belakang sekolah. Mau kabur diam-diam lewat belakang, toh.
"Tidak mungkin kau tidak tertarik, bocah serigala kesepian. Hadiahnya adalah tiket makan malam bersama Nene Amano di hotel bintang lima," yang berwajah paling mesum menjelaskan.
"Ya, aku tak tertarik. Sekarang biarkan aku pulang, atau ayahku akan bertambah alay nanti."
Pegangan mereka pada gagang pistol mengerat. "Sepertinya gosip kalau kau humu itu benar, ya? Sekarang, terimalah gempuran peluru dari kami!"
Desing peluru terdengar begitu nyaring ketika mereka mengeroyok Kouji. Pemuda bandana itu tak tinggal diam. Dengan cepat, ia mengeluarkan teflon dari balik jaketnya—entah sejak kapan ia maling benda ini—dan menangkis semua peluru dengan cepat. Kakinya bergerak lincah, lalu berlari melewati lawan-lawannya. Waktu seakan berhenti beberapa detik, hingga seluruh lawannya tumbang dengan bekas merah di dahi.
"Apa kubilang, aku tidak butuh senjata seperti yang kalian miliki," ucapnya seraya menimang-nimang pedang bambu kesayangannya. Kouji si bintang kendo mau dilawan. Lewat ajalah. "Dan aku tidak humu!"
Sesaat hanya lolongan anjing tetangga yang terdengar. Bulan purnama tampak lolos dari kepungan awan, menampakkan seluruh tubuh yang terbaring tak berdaya di hadapan Kouji.
"Oke, saatnya pulang," baru selangkah, namun suara kaca pecah mengalihkan perhatiannya. Bola mata Kouji melebar ketika mendapati kaca ruangan mana yang pecah. Astaga! Itu ruangan fotografi! Ia segera berlari masuk ke dalam, memutar pedang bambunya untuk bersiap menyerang.
"Siaaal! Mana mungkin aku bisa meninggalkan dia di sini!" seru Kouji ketika memasuki kembali area gedung sekolah. Ruangan fotografi memang selalu lekat dengan seseorang dalam benaknya.
Inilah Kouji Minamoto, seseorang yang mudah terbawa suasana.
"Ichiii!" seru Kouji menggebrak pintu ruang fotografi, bahkan tanpa sadar ia memanggil sang kakak dengan panggilan rumahnya. Sedetik, Kouji mangap. Yang ada di ruangan itu hanya tiga orang anak buah Kouichi. Tiga orang berbadan gempal yang selalu bikin masalah.
"Heh, kenapa kalian malah main petasan di sini?" repet Kouji, ketiganya hanya menyegir ria lalu membereskan petasan yang ada.
"Nggak apa-apa, 'kan, nanti kacanya kami ganti, deh," si bibir tebal membalas dengan cengiran nista. Kouji nepuk jidat. "Tadi aku nggak sengaja melempar tripod ke jendela saking kagetnya dengan petasan tikus ini."
"Bukan itu yang kupermasalahkan!" Kouji memukul pintu dengan pedang bambunya. "Mana Kouichi?"
"Nggak tahu," ketiganya serempak menggeleng, membuat Kouji tambah frustasi.
"Keadaan sedang begini dan kalian tidak tahu di mana ketua kalian? Kalian ini anak buah macam apa? Sekarang duduk bersimpuh! Aku akan ajarkan kalian bagaimana cara kerja tim yang benar!"
Kouji menghentakkan pedang bambunya lagi. Menghasilkan bunyi keras yang bikin ngilu. Ketiganya hanya saling berbisik heran—sambil menuruti perintah Kouji. Kenapa pula jadi acara kultum dadakan begini?
X-x-x-X
"Sekolah di malam hari benar-benar berbeda, ya, sepeti masuk ke dalam dimensi lain."
Kouichi berjalan pelan, mewaspadai sekitarnya—kalau-kalau ada yang menyerangnya secara mendadak. Sedari tadi, tak satupun hawa-hawa kehadiran manusia. Suasana sepi membuat suara langkahnya terdengar sangat jelas.
Ini seperti suasana game survival horror, di mana hantu-hantu akan bermunculan dan pemain harus menembak mati hantu tersebut.
By the way, hantu bisa mati, ya?
"Ngomong-ngomong aku berjalan di gedung sekolah bagian mana, ya?" Kouichi kadang tak memahami dirinya sendiri. Ia seorang fotografer dan sering berada di ruangan gelap, tapi masih sering gagal paham dengan kegelapan. Di matanya, kegelapan membuat sesuatu yang tampak simpel menjadi rumit. Membuat tempat yang familiar menjadi area yang berbeda. Seolah kegelapan menciptakan satu dinding tebal di hadapannya.
Itulah mengapa Kouichi menyenangi fotografi. Bermain dengan cahaya.
"Graao."
Di sudut sana, Kouichi mendengar sebuah geraman. Entah apa yang ada di sana. Dengan berhati-hati, Kouichi mengeratkan pijakannya. Kewaspadaannya meningkat dengan sangat cepat. Ada sebuah bayangan yang berjalan mendekat, mendekat dan semakin dekat. Hanya butuh waktu sedetik bagi Kouichi untuk memandang tak percaya.
Sosok itu telah berdiri sempurna, menatap Kouichi dengan amarah.
Astaga… itu… T-rex?
"Apa-apaan? Kenapa ada T-rex di sini?" seru Koucihi semakin gagal paham. Dinosaurus itu berlari ke arahnya dan bersiap menerkam Koucihi. Dengan sigap kakak kembar Kouji ini menarik pelatuk senjatanya dan menumbangkan sang T-rex dengan tiga kali tembakan.
Dino Krisis.
X-x-x-X
Takuya berjalan perlahan, menempeli tembok lorong ruang praktek kimia. Ada beberapa orang di sana yang tengah berbisik-bisik. Takuya berhenti dan mencoba menahan napasnya, menguping sejenak kalau-kalau ada informasi rahasia yang bisa ia dapatkan.
"Hei, kamu dengar? Katanya si Nene Amano juga ikut dalam game ini."
"Ah, masa? Serius? Berarti dia juga akan muncul dan menembaki lawan-lawannya?"
"Kurasa. Sepertinya dia akan berduet dengan Yuu ketika menyerang. Kita harus hati-hati."
"Sebenernya dia bikin lagu apa, sih, setting-nya macam ini?"
Takuya menimang-nimang. Nene Amano juga ikut. Yuu Amano juga. Itu berarti kakak-adik itu sedang asyik berjalan di dalam sekolah ini, membantai satu-persatu teman-temannya. Takuya melihat sekelilingnya. Sepi. Ia harus mewaspadai kalau-kalau sang ratu dari survival game ini muncul—Nene Amano.
"Hee, coba pikir. Nene Amano pasti memakai kostum yang seksi dan ketat untuk memudahkan pergerakannya," lagi-lagi ada saja orang mesum macam ini di tiap kelompok.
"Aku setuju. Coba bayangkan tank top biru muda atau hotpants hitam. Nene Pasti cantik sekali," sambung lainnya. Seketika itu terbayang sosok Nene Amano bagai menyerupai Lara Croft, wanita menawan yang berperan dalam Tomb Rider itu. Takuya hanya bisa nepuk jidat melihat teman-temannya malah tampak salah fokus dari ajang survival game ini.
"Berarti kita tangkap saja dia. Tidak perlu menunggu game ini selesai. Nene Amano akan menjadi milik kita!"
"Setuju!"
Sedetik setelah mereka berteriak lantang, sebuah bayangan tampak bergerak dengan sangat cepat, kaki-kaki mungilnya lincah berlari. Di sinari cahaya rembulan, siluet seorang gadis dengan kuncir tingginya tampak amat memesona. Berkilau bagai seorang dewi bulan yang turun dari langit. Semua mata memandangnya takjub. Para laki-laki kesepian ini menganga dibuatnya.
"Itu Nene Amanooo! Neneee!" seru mereka bahagia ketika gadis itu meloncat dengan indah ke hadapan mereka. Sudah tentu hasrat bergejolak jika membayangkan akan bagaimana cantiknya sosok itu dalam balutan kostum minimnya.
"Aku sudah menemukan kalian, menyerahlah," todong Nene dengan senjata pistol berbentuk gurita, serta kostum rumbai-rumbai berenda dengan warna putih dan pink, rok yang mengembang serta stoking pita-pita berwarna putih-merah.
"Kostum macam apa ituuuuuu!" seru para lelaki kecewa ketika mendapati ada Mahou Shoujo nyasar di hadapan mereka. Takuya? Hanya menghela napas heran. Sinting juga ternyata si Nene Amano itu.
"Ohok, baiklah, Nene Amano," sekelompok anak laki-laki itu mengepung Nene, bersiap melontarkan peluru untuk menjatuhkan gadis itu, "kami harus menangkapmu, atas alasan apapun juga."
"Ooh?" sahut Nene tenang. Moncong pistol sudah terarah padanya. Mereka semua siap menembak, namun di saat yang sama, kaca jendela tepat di samping mereka pecah. Dua orang anak masuk dengan membawa senjata berupa senapan mesin berisi peluru cat.
Shinya mendarat tepat di depan Nene dan menembakkan senapan mesin itu secara membabi buta.
"JANGAN SENTUH KAK NENEEE!"
Seketika tembok menjadi merah. Kumpulan anak-anak semi-mesum tadi sudah tumbang seketika.
"Shinya hebat!" Tomoki melompat masuk dan mengambil posisi di samping Shinya. "Semua tumbang, loh!"
"Hehe," Shinya berpose heroik, lalu menunduk, mencium tangan Nene. "Kak Nene, tenang saja. Selama survival game berjalan, kami berdua akan menjadi pelindungmu."
Takuya serasa ingin membenturkan kepalanya ke dinding. Ngapain pula adiknya ikut-ikutan ke mari?
Nene mengulas senyum simpul, lalu menepuk kepala Shinya pelan. "Terima kasih, ya."
Shinya pun melayang ke langit ke tujuh.
"Baiklah, masih ada musuh di depan sana! Ayo kita maju!" seru Tomoki yang sudah selesai merampas senjata musuh-musuhnya. Ketiganya siap maju, menumbangkan segala yang menghadang. Di sisi lain, Takuya merinding disko. Adiknya ada di sini. Pasti ada apa-apanya. Maunya apa sih, si Shinya?
"Yang penting, sekarang jangan sampai aku bertemu dengan Shinya dulu. Walaupun adik kandung, tapi bocah kurang ajar itu pasti akan melumpuhkanku dahulu tanpa ampun," Takuya pun meninggalkan tempat itu dengan sangat hati-hati. Pergi entah ke mana, yang jelas, ia ingin menemukan Kouji terlebih dahulu.
Ceritanya cari aliansi, biar Kouji yang melawan Shinya nantinya.
X-x-x-X
Kouichi merasa lelah batin dengan segala keanehan yang ia alami. Kini, ia tengah terduduk di ruangan kelas tiga. Sialnya tak ada air untuk membasahi tenggorokannya. Entah apa yang baru saja ia alami. Mengapa ada dinosaurus pula di abad 21 ini?
Ngomong-ngomong Kouichi berasa sedang main game horor tadi. Bedanya ini lebih nyata.
Kouichi tersentak, ada suara berderit di ujung sana, dekat meja guru. Ia menggenggam senjatanya erat, kalau-kalau ada musuh yang mengangetkannya. Satu, dua…
"Graaaa!"
"Apa lagi ini?" Kouichi segera berlari keluar. Ada mayat hidup berdarah-darah sedang berjalan di sana. Ketika sampai ke ambang pintu, sudah ada puluhan zombie yang datang menerjangnya. Kouichi semakin gagal paham. Ia menarik pelatuk pistolnya dan menembaki semua dengan cepat. Ajaib, seluruh zombie itu tumbang seketika.
"APA LAGI INIIIII!"
Dia stress.
President Epil.
X-x-x-X
"Uoogh!"
"Aaagh!"
"Tangkap dia!"
"Lumpuhkan Kanbara!"
Rasanya hampir satu angkatan sudah menerjang Takuya, namun semua berhasil ia lumpuhkan. Tayuta jatuh terduduk dengan napas tak teratur. Rasanya lelah sekali. Berlari dan berlari, lalu menghindar.
Pesona Nene Amano memang luar biasa.
"Kouji… di mana dia," gumamnya. Takuya berjalan pelan, mencari-cari sosok pemuda berbandana itu. Takuya terlonjak kaget ketika mendengar suara tembakan yang begitu keras. Berentetan. Dari mana suara tembakan itu?
Ia celigukan, sampai akhirnya mendapati kaca ruang fotografi pecah (lagi), diikuti oleh desing peluru yang sambung-menyambung.
"Astaga! Ada apa di sana?" serunya. Takuya melompat dan segera berlari menuju ruang fotografi. Tanpa mengetahui, Yuu Amano tengah mengintai gerak-gerik Takuya Kanbara melalui teropong canggih dari kejauhan. Senyumnya mengembang.
"Ternyata Kouji Minamoto memang sangat ampuh jika dijadikan umpan," seringainya. "Kutemukan kau, Takuya Kanbara."
To be continued.
Hai haiii apa kabaaaar xD Lama tak jumpa. Apa kabar? semoga suka sama update-an Unscandal yang ini ya. Maaf lama gak muncul, soalnya internet positif jadi benar-benar bikin aku frustasi buat nulis fanfic ;;;;;;
Ngomong-ngomong bagi yang gamer pasti menemukan banyak parodi game dari chapter ini xD Nantikan Amano Arc bagian akhir :D/ Semoga chapter ini memuaskan semuanya yaa. Selamat tahun baru 2015. Semoga tahun ini akan menjadi tahun yang baik dan berkah.
Salam,
Januari 2015. Aya.
