"Aku tak menyangka akhirnya akan jadi begini," Chiaki mendekati ambang jendela, mengamati pantulan dirinya dan Katsuharu di sana. Suara tembakan sudah berangsur surut kemudian hening. Hanya irama jangkrik yang tengah mewarnai malam musim panas temaramnya. Chiaki berbalik, menatap kekasihnya dengan pandangan sendu.
Omong-omong Katsuharu berani juga bawa pacarnya ke arena pertaruangan macam ini.
"Aku juga tak menyangka, Chiaki," Katsuharu mulai melangkah, berdiri santai di sisi Chiaki. Bola matanya menatap daun-daun pohon yang tertiup angin malam. "Aku memang mantan preman, tapi aku juga tidak suka saat-saat seperti ini. Kita seperti sedang diadu domba."
"Lalu?"
Katsuharu mengangkat bahu lalu mendesah pelan. Ditatapnya bintang-bintang musim panas yang bertengger di angkasa. Oh, apa jadinya akhir dari permainan saling adu baku tembak ini?
"Mungkin aku akan kabur saja," Katsuharu meletakkan senjatanya tepat di lantai, lalu bergegas melangkah menuju pintu kelas. "Ayo, Chiaki. Kita kabur saja. Biarkan para jomblo itu adu baku tembak demi sebuah kencan mustahil dengan seorang idola."
Ketika Katsuharu berbalik, ia hanya dapat melebarkan bola matanya. Chiaki tengah mengarahkan moncong senjata tepat ke arah dada Katsuharu. Tangan gadis itu tampak menggigil. Airmata mengalir dari kedua kelopak matanya.
"Chiaki?"
"Maafkan aku, Katsuharu," ucapnya pelan, nyaris terisak. "Aku … juga penggemar Amano Nene."
Satu sentakan dan peluru itu melesat, menodai seragam Katsuharu dengan warna merah. Tubuh itu ambruk beserta tangisan Chiaki yang pecah pilu. Gadis itu membuang senjatanya lalu merangkak mendekati tubuh kekasihnya. Dia menangis, memeluk tubuh Katsuharu yang sudah tebujur.
"Maafkan aku Katsuharu, Maafkan akuu!"
Tangisannya terdengar menyesakkan, bercampur rasa penyesalan. Perlahan, jendela di belakang gadis itu terbuka, menyisakan suara langkah pelan yang perlahan mendekat. Chiaki terhenyak ketika merasakan moncong dingin senjata menempel tepat di belakang kepalanya. Ia menoleh perlahan, mendapati seorang idola yang jadi perbincangan itu tengan berdiri tegap dengan raut datar.
"Sebenarnya aku kurang suka menembak lumpuh perempuan," suara jernihnya seolah menggema dalam telinga Chiaki. "Tapi ini harus kulakukan. Maafkan aku. Mungkin kita bisa duet karaoke lain kali, dengan banyak ketentuan pastinya."
Ketika suara tembakan terdengar, tubuh Chiaki sudah roboh, terkulai tepat di samping kekasihnya. Amano Nene menyimpan kembali senjatanya lalu menatap pasangan kekasih itu pilu. "Maafkan aku," gumamnya.
Unscandal.
[Amano Arc, bagian tengah]
Warning: fanfic ini lebay. Mungkin OOC. Penulis tidak mengambil keuntungan apapun selain fangirling dan melawan mager.
Suara rentetan peluru masih menderu di sela-sela lorong sekolah. Degup jantung seolah berseling diantara derap langkah dan suara tembakan. Kanbara Takuya melesat melewati teman-teman yang mencoba menghadangnya. Bagai menari melewati peluru yang terlontar, Takuya berhasil melumpuhkan lawan-lawannya dalam sekali sentak. Dia harus segera menemukan Kouji dan tak terpikir ruangan lainnya selain ruang fotografi.
"Kouji!" seru Takuya ketika berhasil meraih ambang pintu ruang fotografi.
"Ha, apa?" sahut Kouji disertai hentakan pedang bambu. Ketiga anak buah kakaknya berulah lagi, main petasan lagi dan kembali memecahkan kaca jendela. Sarap. Kouji menghentakkan lagi pedang bambunya, gagal meredam emosi akibat ulah makhluk-makhluk menyebalkan di depannya.
"Eh, tidak, kupikir kau sudah mati duluan," ucap Takuya dengan wajah datar. Dia masuk ke dalam ruang fotografi, bergabung bersama empat orang lainnya. "Begini, ada beberapa hal yang harus kuceritakan padamu. Pokoknya ini gawat darurat?"
Kouji menaikkan alisnya. "Ha? Ada gawat-darurat apa sampai mukamu jadi super tegang begitu?"
"Oke, pertama, mungkin ada banyak pertanyaan yang menggantung di benak kita. Aku sendiri masih bingung apa tujuan survival game ini diselenggarakan," Takuya menatap mata biru Kouji, seolah-olah pemuda di hadapannya akan langsung mengerti maksudnya begitu kalimat pertama dimulai. "Kedua, keadaan kian kacau. Shinya ambil andil dalam game ini. Kalau Shinya saja sampai tahu, game ini pasti ada apa-apanya."
Kouji masih terdiam lalu menelengkan kepalanya. "Ya?" keningnya masih mengerut. "Lalu memang salah kalau adikmu ikut?"
"Salah!" Takuya menyilangkan tangannya. "Itu berarti ini ada hubungannya dengan kakekku—atau denganku. Di samping itu," wajah Takuya berubah horor. "Shinya ahli dalam game tembak-tembakan. Aku masih ingat saat taruhan dengannya main game tembak bebek. Aku berakhir diperbudak olehnya selama tiga hari."
Kouji mengangkat bahu lalu berdeham pelan. "Tidak ada urusannya denganku," dia menyandang lagi pedang bambunya. "Ayo selesaikan permainan ini, lalu kita pulang dan tidur pulas."
"Kalau soal pertanyaan nomor satu, sih, kunci jawabannya ada padaku."
Takuya dan Kouji menoleh cepat pada asal suara. Entah sejak kapan pemuda bernama Amano Yuu itu sudah duduk di ambang jendela. Berlatarkan cahaya bulan, sosok Amano begitu sempurna, memesona. Mungkin ia dapat memenjarakan mata setiap wanita yang melihatnya. Amano melambaikan tangan dengan begitu santai, di bawah kakinya, anak buah Kouichi sudah bersimbah warna merah, tergeletak tak berdaya. Kouji menegapkan badannya, kewaspadaannya meningkat dengan sangat cepat. Amano Yuu bahkan dapat mendekati mereka tanpa suara.
"Ayolah jangan tegang begitu," ucap Yuu seraya memainkan senjata di tangannya. "Aku hanya tergelitik datang untuk menjawab pertanyaan Kanbara Takuya tadi."
Kouji dan Takuya sama sekali tak mengeluarkan suara, membuat Yuu sedikit keki. Pemuda itu menyimpan kembali senjatanya lalu masuk sepenuhnya ke dalam ruang fotografi. Ia melompat kecil dan duduk di atas meja yang ada di tengah ruangan.
"Intinya, pengambilan gambar untuk lagu kakakku itu memang benar, namun aku mengambil kesempatan untuk meloloskan tujuanku dengan menambahkan ide survival game ini. Semua karena aku penasaran dengan Kanbara Takuya," suaranya ringan dan lebih enteng. "Kakekmu selalu membangga-banggakanmu. Bahkan dalam berbagai pertemuan, dia tak pernah absen menyebut namamu. Kanbara Takuya, Takuya dan Takuya lalu Shinya. Aku sampai bosan mendengar dua nama itu," Yuu menyamankan posisi duduknya. "Aku jadi sangat penasaran, sehebat apa Kanbara Takuya hingga selalu dibanggakan oleh kakek penuh kuasa namun baik seperti itu."
Hah, mana ada Yakuza baik?
"Jadi, apa hubungannya aku dan game ini," sahut Takuya yang kini sudah melipat tangannya. Tak sabar menunggu jawaban dari Yuu.
"Ya… jadi," Yuu mengeluarkan lagi senjatanya, mengarahkan moncongnya pada Takuya. "Aku ingin tahu sehebat apa kamu. Ayo kita bertarung satu lawan satu. Akan kupastikan kalau kamu bukan cucu malu-maluin yang selalu kalah main shooting game bareng adikmu."
Dalam hati, Kouji menggerutu sebal. Ingin rasanya ia menepuk jidat kuat-kuat. Ya kali, bocah satu ini hanya mengincar Takuya, tapi sudah membuat seisi sekolah heboh kacau balau.
Lontaran peluru merah menyebar ke segala arah. Takuya dan Kouji kalang kabut, sigap menghidari peluru-prluru yang nyaris saja menodai mereka. Takuya menarik lengan Kouji, lalu berlari keluar dari ruang fotografi. "Di sini terlalu sempit! Ayo keluar!"
xxx
"Aku pening," Kouichi jatuh terduduk, bersandar pada satu sisi tembok dapur sekolah. Dia menghela napas sebelum kembali meneguk susu yang baru saja ia ambil dari lemari persediaan. "Ada apa dengan sekolah ini? Kenapa ada makhluk-makhluk aneh macam dinosaurus dan zombi?"
Kouichi ingin sekali merebahkan dirinya lalu tertidur dengan damai sampai pagi tiba, tapi ia tak mau jika ada seseorang yang menyelinap dan menyerangnya selagi tidur. Maka ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Minum susu dingin—seharusnya kopi—banyak-banyak dan tetap siap siaga kalau-kalau ada yang menyerang dadakan.
Seujurus, suara desing dan tembakan kembali mewarnai pendengarannya. Sepertinya sudah terjadi ajang baku tembak tepat di depan pintu dapur. Kouichi mendesah lega. Berarti dia sudah masuk ke alam nyata—entah, mungkin dia hanya berhalusinasi tadi. Merasa penasaran, Kouichi segera mengintip dari pintu dapur dan mendapati dua orang bocah tengah bergerak gesit, menghindari peluru dan menembak membabi-buta.
"Shinya hebat sekali! Semuanya tumbang!" seru Tomoki bersemangat. Ia menembaki semua musuhnya dengan sangat keren. Dua senjata di tangan dan gaya menembak ala penembak jitu dalam vido game. Shinya terkekeh pelan lalu kembali menembakkan senapan mesinnya dengan buncah kebanggan.
"Aku Kanbara Shinya tidak akan terkalahkan bahkan sejak Zega merilis game tembak bebek!" tawanya dengan gaya super angkuh. Dalam sepersekian detik, seluruh musuh sudah habis tumbang. Mereka berpose kemenangan dan lompat-lompat selebrasi.
"Kalian hebat sekali. Aku benar-benar tertolong," ucapan Nene berhasil membuat hidung Shinya terbang ke langit.
"Aku akan melindungi Kak Nene, apapun yang terjadi," Shinya berdiri tegap, mengeluarkan raut khas ksatria yang entah ia jiplak dari mana. Mungkin setelah patah hati dengan teman sekelas, Shinya ingin mencoba peruntungan cintanya dengan seorang idola cantik.
Ketiga orang itu kembali melangkah menyusuri koridor. Sepertinya tak menyadari Kouichi yang mengintip dari balik pintu dapur.
Kalau tidak salah, itu adiknya Takuya. Sedang apa dia di sini? Bawa temannya pula. Batin Kouichi. Ada Amano Nene juga. Apa kalau kulumpuhkan Amano Nene, game ini akan berakhir saat itu juga? Tapi ada dua pelindungnya. Aku tak bisa bertindak sembarangan.
Kouichi mempersiapkan senjatanya lagi dan keluar pelan-pelan dari dapur, sebisa mungkin menyembunyikan dirinya dari penglihatan Nene dan dua anak buahnya itu. Kouichi berjalan menempel pada tembok, lalu mencoba mengintip, memastikan tak ada siapapun, namun suara zombi menyebalkan itu hadir lagi.
"Aaagh! Bukan halusinasi rupanyaaa!" Kouichi ingin menjerit frustasi. Dia mengarahkan senjata dan siap menembak, namun sebelum pelatuk ditekan, zombi tersebut sudah roboh dengan tinta merah yang mengotori kepalanya.
"Astaga! Ternyata ide lamaku dicampur dengan ide Yuu?" gerutu Nene seraya menurunkan senjatanya.
xxx
"Yuu, adikku yang mengusulkan permainan ini."
Sesaat, Kouichi mengira akan terjadi baku tembak antara dirinya dengan Amano Nene, namun dugaannya meleset. Gadis cantik itu malah menyimpan senjatanya, menyumpal mulut Shinya dan mengajak Kouichi berjalan pelan menyusuri lorong sekolah. Sepertinya musuh-musuh sudah mereka bereskan hingga tak ada satupun yang datang menyerang.
"Awalnya, aku mengusulkan untuk memakai konsep zombi dalam video klipku, tapi Yuu membantah. Dia mengusulkan hal lain dan aku setuju, karena sepertinya asyik."
"Begitukah?" Kouichi mengangguk paham, berusaha tak memedulikan tampang bete Shinya yang sedari tadi mengganggu pandangan. Kouichi masih bertanya-tanya, mengapa gadis itu sama sekali tak menyerangnya dan malah mengajak ngobrol santai seperti sekarang.
Nene mengangguk kecil seraya memerhatikan keadaan di luar sana. "Yuu yang paling bersemangat dengan ide ini. Aku tak tahu apa yang dia inginkan kali ini, tapi kalau dia sudah punya rencana seribet ini, kurasa memang ada apa-apanya."
"Kau tidak keberatan ide video klip itu diganggu?"
Nene menggelen santai. "Tidak. Aku cukup menikmati permainan ini."
"Ooh?"
Apapun itu, yang pasti Kouichi dapat bernapas lega. Ternyata zombi-zombi itu hanya mainan Nene, bukan zombi yang sebetulnya. Nene bilang zombie tadi hanyalah para kru yang berdandan semirip mungkin. Ada hadiah bagi yang dapat berperan menjadi seperti Zombi sesungguhnya. "Syukurlah, kupikir aku sudah berpindah dimensi entah ke mana. Ada zombi dan dinosaurus. Astaga."
Nene menelengkan kepalanya. "Ha? Apa maksudmu dengan dinosaurus?"
Kouichi terdiam. Masa iya makhluk menyerupai T-Rex itu adalah dinosaurus yang dulu mati penasaran lalu gentayangan?
xxx
"Dia gesit sekali! Aku tak bisa meenyerangnya!" Kouji masih berusaha menghindari hujan peluru dari Yuu. Sesekali pemuda bandana itu hampir jatuh tersungkur akibat tersandung kaki sendiri.
"Ditambah lagi, dari mana amunisi sebanyak itu? Pelurunya seperti tak habis-habis!" Jerit Takuya yang juga sibuk mengelakkan dirinya. Yuu Amano terus bergerak, menembak membabi buta, berusaha menghentikan langkah kedua lawannya.
"Jangan kabur, takuya Kanbara! Majulah, lawan aku!" tantang Yuu semakin keras dan bergerak semakin cepat. Membuat Takuya dan Kouji semakin lelah. Kouji sudah berusaha mencari celah agar dapat menyerang Yuu dengan pedang bambunya, namun Yuu sangat gesit, bahkan seolah dapat membaca gerakan Kouji.
"Ah, gerakan kalian melambat, sepertinya kalian tidak akan cocok untuk masuk klub basket."
Bodo amat. Batin Kouji. Ketika serangan terhenti, Kouji dan Takuya maju bersamaan untuk menyerang. Yuu melangkah mundur dan melempar sebuah bom gas. Asap merah darah mengepul dan mengaburkan penglihatan. Kouji terbatuk beberapa kali sebelum merasakan pukulan keras pada perut. Ia tak dapat bersuara lagi saat tangan membekap pernafasannya.
"Kouji?" Takuya mencoba memanggil nama rekannya di tengah kepulan asap. Tak ada jawaban sampai Takuya memanggil beberapa kali. Kepulan merah itu semakin memudar hingga menyisakan Takuya seorang diri di lorong panjang itu.
"Kanbara Takuya," Takuya menoleh ke jendela ujung dan takjub ketika mendapati Yuu sudah berada di sana, menyandera Kouji yang sudah tak sadarkan diri. Dilatari bulan yang entah mengapa terlihat sangat besar dan pendar cahayanya yang menyilaukan, Amano Yuu berdiri gagah di ambang jendela, menguarkan aura misterius namun memesona—sekali lagi.
"Aku memiliki satu sandera kalau kau memilih untuk terus lari," ucap Yuu dengan suara amat pelan. Takuya mencoba mendekat, namun Yuu semakin gencar menempelkan moncong senjatanya pada leher Kouji.
"Bagaimana kalau kita ganti permainan?" Yuu mengeratkan pegangannya pada Kouji. "Petak umpet saja. Aku akan bersembunyi bersama dengan Minamoto Kouji di suatu tempat. Kau harus mencari kami sebelum waktu permainan habis."
Takuya tadinya hanya mengerutkan kening, namun melihat senyum pasti Yuu yang entah mengapa begitu percaya diri, Takuya akhirnya menyanggupi. "Boleh."
"Baiklah. Kalau kamu gugur lebih dulu, kamu akan kalah," Yuu tersenyum simpul lalu mengarahkan satu pelontar ke atas dan menembakkan pengaitnya. "aku pergi dulu. Nikmati pencaraianmu, Kanbara Takuya!" Amano Yuu melompat ringan, mebiarkan tali pengait itu memendek dan membawa dirinya melesat ke atas sana. Persis seperti para agen rahasia dalam film-film.
Takuya hanya bediri dengan tampang melongo.
Itu orang main game-nya niat banget, ya?
"Haah, dia pergi ke atas, ya? Kalau begitu aku harus bergegas ke atas dan membebaskan Kouji."
Kanbara Takuya, sedang terbawa suasana bermain survival game.
Sebelum melanjutkan langkahnya, suara dari pengumuman ruang siaran sudah terdengar. Suara Amano Yuu langsung saja mengudara di seluruh penjuru sekolah.
"Kepada para peserta game. Target kita adalah Kanbara Takuya, anak kelas satu. Akan ada hadiah khusus bagi yang dapat menumbangkannya, yaitu botol air mineral bekas minum Amano Nene, masih ada bekas lipgloss-nya.
"Anak itu mikir apa?" geram Nene, begitu pula Takuya dan Kouichi yang menepuk jidat bersamaan.
"Baiklah, stage two, Start! Temukan Takuya Kanbara!"
"Oooh!"
Takuya menghela napas berat. Rasanya seluruh gedung bergetar hebat karena teriakan para peserta yang dibakar semangatnya oleh satu hadiah tidak penting. Derap langkah terdengar menghentak di semua sisi sekolah.
Takuya merasa dunia sudah edan.
To Be continued.
Halo, lama tidak jumpa XD Apa kabar? Terima kasih bagi yang masih setia membaca fanfiksi yang updatenya lama sekali ini otl. Saya memang author yang nggak ada tanggung jawabnya astagay, biarkan saya memperbaiki diri huhuhu :" dan jujur nih, saya juga lagi galau *teruuus, terus aja galauuu* soal gaya penulisan saya. Gaya penulisan saya berubah ya? :"I Jadi lebih kaku atau gimana? Atau bagusan yang lama? Minta pendapat, ya? CoretGak direview aku gak mau update lohCoret.
Belakangan saya juga punya keadaan yang anu banget. Jam tidur kacau. Saya ngantuk tapi gak pingin tidur. Sekalinya tidur bisa bablas. Kalau nggak tidur, kepala saya sakit luar biasa. Ah pening :"
Sampai jumpa di chapter depan. Saya akan berusaha konsisten untuk update. xD
