"Target kita adalah Kanbara Takuya, anak kelas satu. Akan ada hadiah bagi yang berhasil menumbangkannya; yaitu botol air minum bekas Amano Nene, masih ada bekas Lipgloss-nya."

"HEAAAAH! NYAWAKU TARUHANNYAAAA!"

"Oy—" Takuya mingkem.

Derap langkah menderu dari segala penjuru. Takuya merasa dunia sudah edan tenan.

"ITU ANAK NIAT AMAT SIH MAIN GAMENYAAAAAAAAA!"


Unscandal

(Amano Arc, bagian 4/5)

Warning sudah ada di chapter-chapter sebelumnya. Silakan menekan tombol previous untuk membaca warning.


"Takuya sepertinya dalam bahaya. Aku harus cepat-cepat menyelamatkannya!" Kouichi angkat senjata, tanpa peduli lawan, ia tembak jatuh habis semuanya, diikuti Nene, serta Shinya dan Tomoki yang melepaskan peluru bersamaan—Shinya sebenarnya ogah-ogahan menembak, tapi apa mau dikata, lagi jaim, jaga image di depan Mbak Nene.

"Aku setuju kalau kita harus melindungi Takuya," ujar Nene, diantara desingan peluru. "Soalnya aku merasa kalau Yuu sudah melenceng dari rencana awal."

"Jadi bukan lagi untuk pembuatan video klip?"

"Bukan," Nene menggeleng. "Entahlah, yang jelas aku mau jambak dia nanti. Berani-beraninya dia menjual bekas bibirku!"

Keduanya berlari, menerjang siapapun yang menyerang. Tomoki juga sudah menembak jatuh banyak pesaing sedari tadi dan mendapatkan macam-macam senjata jarahan. Shinya yang hanya diam akhirnya dapat ide. Semacam lampu teplok muncul di kepalanya.

Ahem—kalau aku ikut mereka lalu menumbangkan si Takumpret itu, aku akan dapat botol bekasnya Kak Nene. Lihatlah otak dan batinnya antagonis sekali. Lalu setelah beres, akan kutumbangkan seluruhnya, termasuk Tomoki dan Kak Kouichi. Aku akan dapat voucher makan malam bersama Kak Nene. Hehehe, ini kejahatan sempurna. Ini kejahatan yang berseni.

Bocah edan.

Kayaknya dia malah lupa kalau masih ada Yuu yang menjadi bos terakhir.

"Aku ada ide, Kak!" suara Shinya membahana. "Kak Takuya pasti akan menuju ke atap sekolah. Ayo kita tunggu dia di tangga menuju atap!"

.

xxx

.

"Itu Kanbaraaaa!"

"Habisi Kanbaraa!"

"Tembak bokongnya pakai torpedo, dia pasti gak bisa jalan lagi!"

"KALIAN SEMUA EDAAAN WAHAI JOMBLO-JOMBLO AKUT!" jerit Takuya, berusaha menghindar dari berodolan peluru cat, dari yang kecil, sampai yang sebesar bola Bowling. Jumlah peserta sudah semakin berkurang. Satu perintah dari Yuu sepertinya sudah membuat seluruh peserta berkumpul di tempat Kanbara Takuya.

"Formasi angka delapan! Seraaaaang!"

"Aku cucu Kanbara dan sudah terbiasa dengan tembakan! Sini maju satu-satu!" Takuya ikut kalap, lalu menembaki satu-persatu lawannya dalam sekali lompatan. Semuanya lumpuh, mayat bergelimpangan di sepanjang koridor sekolah.

"Fuh ... apa kubilang," ungkap Takuya setelah meniup moncong pistolnya. Padahal sama sekali tak ada asap yang keluar dari sana. Kekuatan seorang tokoh utama memang hebat.

"Uugh, Kanbara—kau benar-benar tangguh," ucap lawan terakhir, sebelum dilumpuhkan dengan tembakan langsung mengenai jidat.

Sang Kanbara berkacak pinggang, lalu mendengus. "Sudah tentu, kalau aku tidak tangguh, aku nggak akan pantas jadi penyelamatnya Kouji," sedetik kemudian, dia menyadari bahwa kata-katanya barusan ada yang terasa janggal. "Ah, sudahlah! Aku mau ke atap. Akan kulumpuhkan Amano Yuu dan menyudahi permainan konyol ini!"

Takuya berlari secepatnya menuju tangga atap sekolah, sembari melayangkan tembakan tanpa putus dan menjarah senjata ketika pelurunya habis. Dia tak bisa membiarkan Kouji diculik begitu saja. Entah apa yang akan Amano itu lakukan pada Kouji. Bisa saja Kouji disiksa atau dibuat melakukan hal-hal memalukan.

—padahal ini cuma game.

Tunggulah, Kouji! Kanbara Takuya berjanji akan melakukan aksi penyelamatan yang gagah. Tak akan kubiarkan mereka melakukan hal yang tidak-tidak padamu!

.

xxx

.

Sinar rembulan pelan-pelan melepaskan diri dari kepulan awan. Angin malam yang begitu pelan menyapu area atap sekolah SMA khusus putra itu. Minamoto Kouji di sini, sedang duduk bersila—

"Wah, ini enak juga. Aku belum coba merk yang ini."

—sedang makan mi gelas.

"Iya, kan? Aku dan kakakku juga suka mi yang ini. Varian lainnya ada rasa cabe ijo dan dendeng terasi," Amano Yuu juga ada, sedang duduk di sebelah Kouji sembari menyantap mi gelas favoritnya.

Di atas atap yang sepi, hanya ada Yuu, Kouji, beberapa kru, juga peralatan seperti monitor, selimut dan air hangat. Ternyata seluruh gambar yang direkam dari berbagai sudut sekolah dikirim ke mari. Kouji tadi sempat duduk di samping para kru dan berhasil geleng-geleng kepala melihat kelakukan Takuya maupun kakak kembarnya.

"Ngomong-ngomong kenapa aku kauculik?" bukan telmi, tapi Kouji sengaja menunda pertanyaan itu sebelum mi gelas yang ini habis. "Kamu bisa culik yang lain, kan?"

"Soalnya," tunggu tenggak kuahnya dulu. "Kau dan Kanbara akrab, jadi Kanbara pasti akan kemari walaupun harus mati-matian demi menyelamatkanmu."

"... aku nggak humu, ya," pungkas Kouji cepat. Yuu memandang dengan tatapan mencurigakan. Siapa juga yang nuduh dia humu? "Sebenarnya ada apa di antara kau dan Takuya?" Kouji mengerutkan kening, merasa ada yang masih mengganjal.

"Namaku Amano Yuu."

"Iya, udah tau."

"Kamu nyolot amat, sih?" Yuu, dengan urat sudah mengencang langsung tancap mencubit pipi Kouji. "Jadi," dia mendeham singkat. "Aku dan kakakku ini bisa disebut cucu angkat dari pemimpin Grup Kanbara. Kalau saja tak ada Tuan Kanbara, mungkin kami berdua masih luntang-lantung dan tidak akan meraih kehidupan seperti ini."

Yuu berdiri dilatari terang rembulan, tampak bagai sosok misterius dan memikat. "Kakakku bisa jadi Idola sampai sejauh ini pun berkat Grup Kanbara. Aku terkesima pada kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan untuk kami. Aku ingin mengabdi, lalu membuat grup kanbara kembali bersinar seperti dulu."

Oh iya, kalau tak salah, Takuya dan para anak buah kakeknya itu gaje semua. Nggak ada tanda-tanda kalau mereka Yakuza sangar dan ditakuti. Aku cukup mengerti juga perasaan Yuu. Kouji angguk-angguk pelan.

"Aku memasukkan unsur survival game ini agar bisa bertarung melawan Kanbara Takuya," Yuu menjentikkan jarinya, seraya tersenyum penuh percaya diri. "Akan kulihat dengan mata-kepala sendiri, sehebat apa Kanbara Takuya itu hingga dia mengemban penting di sekolah ini."

Tugas penting apa?

"Hm ... singkirkan sifat kurang warasnya, kukira Takuya cukup hebat," Kouji mengangkat bahu, berusaha netral dalam hal ini—walaupun jauh di dalam hati, Kouji ingin Takuya menang dan mengakhiri game tiada faedah ini.

Cepatlah datang, Kadal Bangkok, atau ayahku akan semakin alay dengan ID baru-nya di Twitter.

"Yah—sepertinya ... sebelum melawanku, dia harus menumbangkan beberapa lawan kuat dulu," Kouji ikut mengedarkan pandangan menuju layar laptop di atas meja sana. Penasaran karena Yuu tampak antusias sekali, akhirnya pemuda bandana itu berdiri dan meninggalkan mi gelasnya dalam keadaan kosong.

Oh, betul sekali. Pertarungan seru akan dimulai sebentar lagi.

.

xxx

.

Takuya ngos-ngosan. Sepertinya seluruh musuh sudah berhasil dia tumpas. Musuh terakhir tadi dari trio kelas sebelah yang menyerang pakai gaya patung Totempol. Tapi karena susunannya kurang pas, (yang paling bongsor di atas) formasi Totempol-nya ambruk. Takuya tinggal tembak di tempat. Beres.

Kini tinggal Takuya sendirian, tinggal sedikit lagi menuju atap sekolah. Area tangga menuju atap ternyata gelap gulita. Setelah melewati ruang fotografi, Takuya tinggal belok kiri dan menaiki anak tangga. Oh, tunggu, sudah ada yang berada di sana lebih dulu.

"Aku sudah menunggumu, Takuya."

Kamera mendadak menyorot dari bagian bawah, mirip film-film action-suspense gitu, ceritanya. Tampak kedua kaki Takuya menapak lambat, tegap, memandang musuh nomor dua terkuat sebelum bos terakhir. Huh, Takuya menarik napas, tak menyangka akan bertemu lawan diluar perkiraan begini.

"Huh—Shinya, ya—" gumam Takuya, tapi sedetik kemudian, suasana berubah total. "HEH! Ngapain kamu ikut-ikutan main di sini?"

"Jangan remehkan Tuan Kanbara Shinya dengan IQ 200 yang bisa membobol keamanan laptop lusuhmu dengan gampang," Shinya putar-putar telunjuk di pelipis, merasa sudah lebih pintar dari Einstein. Padahal dia cuma kebetulan beruntung ketika kebagian jebolan informasi dari salah satu pekerja yang ada di rumah.

"Aku akan mengalahkanmu Takuya," decak Shinya, sembari memutar dua pistol kecil hasil rampasan tadi.

"Begitu, ya, caramu ngomong sama kakakmu?" Takuya pun siap siaga, memasang kuda-kuda untuk bertempur melawan Shinya.

"Bersiaplah! Akan kuperbudak lagi dirimu!"

Desing peluru cat kembali terdengar.

"Ngomong-ngomong perilisan lagu barumu nanti tanggal berapa?"

"Eh, akhir, September, kok."

"Wah, Kak Nene semangat, ya. Aku pasti belii!"

Di antara peluru yang melontar sana-sini, ada tiga orang (mungkin paling waras) yang tengah piknik sambil gelar taplak meja, minum-minum teh (Diambil dari dapur sekolah) dan makan camilan ringan (Shinya dan Tomoki yang bawa). Sambil menunggu pertarungan kakak adik ini selesai, mungkin ada baiknya istirahat dulu.

Kakak gue ... sungut Kouji, geleng-geleng kepala lagi.

.

xxx

.

"Lompatan halilintar!"

"Tembakan Serigala emas!"

"Putaran topan bergulung!"

"Jurus tembakan peremuk kokoro!"

"Hiaaat!" Takuya melakukan manuver ala film matrix, setengah badan kayang ke belakang. Krek! Tulang pun bunyi dan serasa patah. Takuya jatuh terduduk, membuka celah bagi Shinya untuk menyerang.

"Kena kau, Takuyaa!" Shinya melompat, hendak melakukan tembakan di udara persis Oozorah Tisubasah dari film Kaptenku Bukan Atlet Basket itu. Padahal ini lagi main tembak-tembakan, bukan main bola.

"HEAAAAH!" pelatuk ditarik, seiring teriakan membahana macam di film-film silat. (Sekali lagi, ini permainan tembak-menembak, bukan gebuk-gebukan)

"Ha?" Shinya kicep. Pelurunya habis. Pelatuk pistol sudah berkali-kali ditekan, tapi peluru tak kunjung terisi secara ajaib. Walah, padahal udah gaya keren.

"Selamat tinggal, adikku," peluru merah menodai bagian perut. Kanbara Shinya jatuh tersungkur sembari terbatuk-batuk, tanda akan pindah dunia. Aktingnya boleh juga, padahal hanya peluru cat. Ketiga penonton tepuk tangan setelah melihat aksi Takuya—lebih-lebih Kouichi yang masih kunyah keripik bandeng.

"Shinyaaa!" dan beri applause juga untuk Tomoki yang menghampiri mayat Shinya, kemudian bertingkah layaknya gadis desa ditinggal mati pahlawan masa kecilnya. So Sweet.

"Sini aku kasih napas buatan,"—plak! Dan Shinya berhasil menampar bibir Tomoki sebelum lima detik mendarat pada bibirnya. Ih, ogah. Shinya belum mau jadi humu macam kakaknya. Sudah ia putuskan sejak usia dua tahun, bahwa ciuman pertamanya hanyalah untuk cewek cantik dan cerdas. Halah, eling, Dek.

Jedor! Belum sempat sadar dari tamparan, bahu Tomoki tiba-tiba dilumuri oleh cat merah. Takuya putar-putar senjata di tangannya. "Maafkan aku. Habis kamu sekutunya Shinya. Mau nggak mau dihitung sepaket. Maaf, ya, aku tembak," ujar Takuya pura-pura mengusap airmata. Tomoki roboh, menimpa tubuh Shinya.

"Idih, awas!" seru Shinya. Tomoki mendengus, menjulurkan lidah pada Shinya.

"Sudahlah, yang penting pertarungan kurang penting ini berakhir," Nene menghela napas, lalu memijat keningnya. "Sekarang, ayo bergegas ke atap. Aku harus menghentikan Yuu."

Takuya memiringkan kepalanya, padahal baru saja mau menodongkan pistol pada Nene.

"Takuya, Nene ini rekan kita. Dia juga menentang adiknya," Kouichi maju menjelaskan, setelah menelan patahan keripik terakhir. "Jadi dia bukan musuh."

"Hoo, ternyata ada kisah pengkhianatannya juga, toh," Kanbara Takuya, sebenernya belum mengerti inti permasalahannya. "Baiklah! Makin banyak orang makin bagus. Ayo ikut!"

Ketiganya berpandangan sejenak, lalu mengangguk bersamaan.

"Sekarang ... tinggal bos terakhir yang harus kuhadapi," Takuya berdiri tegap, menatap barisan anak tangga menuju atap gedung sekolah. Mirip film penyihir-penyihiran, di mana tokoh utama sedang berpose sebelum menginjakkan kaki ke sarang bos terakhirnya.

"Ayo."

Ketiganya—bonus Shinya-Tomoki di belakang—menaiki anak tangga pelan-pelan. Ketika pintu di buka, tampak Langit malam membentang dengan latar bulan yang bersinar penuh. Takuya mengedarkan pandangan, mendapati Amano Yuu dan Minamoto Kouji tengah duduk menunggu.

"Well ... selamat datang, Kanbara Takuya," Amano Yuu berdiri, mempersiapkan dirinya untuk permainan utama.

Bulan semakin terang, seolah memberikan lampu sorot pada para pemain utama.

.


To be kontinyuh


.

Jadi haloooh. Sudah berapa lama fanfiksi ini tidak apdet? Setahun? Lebiiiiih #ditempeleng.

Jadi biarkanlah aku curhat sedikit. Jadi benernya, chapter unscandal ini udah kutulis sampek tamat, cuma entah mengapa tau-tau chapter tengahnya ilang #cry ga ketemu. Awalnya aku mau sekali apdet langsung tamat, tapi ini yang ilang chapter di tengah, aku kudu piye #nanges jadi kuputuskan untuk apdet satu-satu biar kelihatan aktif #dukk dan pelan-pelan sembari ngumpulin kekuatan supaya tidak mager untuk menulis ulang 8"D maafkan aku atas apdetan yang tersendat-sendat iniii ;;;;;

Sampai jumpa di chapter selanjutnya 8"(