"Well ... selamat datang, Kanbara Takuya," Amano Yuu berdiri, mempersiapkan dirinya untuk permainan utama.

.

"Amano Yuu," gumam Takuya, seiring dengan hembusan angin malam.

"It's show time~"


Unscandal

((Amano Arc, bagian akhir. Ciyus.))


Malam seolah menjadi tiga kali lipat lebih sunyi, apalagi setelah Takuya (tentu dengan bantuan Kouji, Kouichi dan Nene) telah berhasil menumpas seluruh peserta yang ikut dalam acara survival game. Kini Takuya telah sampai pada arena babak akhir dari seluruh pertempuran itu. Bulan, awan, beberapa kru dan bungkus mi gelas seolah menjadi saksi bagaimana akhir dari seluruh permainan ini.

"Syukurlah kalian cepat datang," Kouji menujuk Amano Yuu tanpa rasa hutang budi telah ditraktir mi gelas. "Dia tadi menyiksa dan mempermalukanku!"

"Kutang anyar! Jangan fitnah! Memangnya siapa, sih, yang menghabiskan tiga bungkus mi gelas di sana? Siapaaaa?" merasa kena tuduh fitnah-akhirat, Yuu mencak-mencak sambil tunjuk bungkus mi yang telah berjejal dalam tempat sampah.

"Yuu, apa maksud semua ini?" Nene akhirnya angkat bicara, merasa adiknya telah memanfaatkan kesempatan dalam ajang pembuatan video klipnya.

Yuu memandang Takuya, dengan tatapan serius. "Aku hanya ingin menjajal kekuatan dengan si Kanbara Takuto ini, Kak."

"Namaku Takuya!"

"Aku heran mengapa Kepala Grup begitu membanggakan cucu-cucunya. Aku jadi penasaran sehebat apa cucu sulungnya," decak keluar dari mulutnya. "Apalagi, lihat sekarang. Kelompok yang seharusnya sangar dan berkuasa, kini jadi tampak konyol karena Kanbara Takuma ini."

"Namaku—sudahlah—" kayaknya dia sengaja. Batin Takuya lelah.

"Karena itu, Kanbara Takuro," Yuu melemparkan sebilah pisau tumpul yang sudah berlumur cat merah. "Pakai pisau itu untuk one on one denganku. Kalau kau menang, aku akan mengaku kalah dan menghentikan game saat itu juga."

Bukannya kalau kalah-menang sudah ditentukan game-nya memang berakhir, ya?

Amano Yuu ... tampaknya dia kuat sekali. Takuya mengambil pisaunya. Pandangannya tak lepas dari sosok Yuu yang tengah memasang kuda-kuda. Wah, serius, pertarungan jarak dekat?

"Takuya, hati-hati. Yuu itu gesit. Dia andalan tim basket di sekolahnya yang dulu," Nene memperingatkan, sebelum mengajak seluruhnya menyingkir ke tempat para kru.

"Adikmu kayaknya serius sekali," Kouichi memerhatikan layar laptop. Owalah, gambar pertarungan ini juga direkam, padahal urusan untuk video klip Nene kayaknya sudah beres.

"Entahlah, terserah Yuu," gadis itu menoleh pada salah seorang kru, "Ohiya, bagaimana pengambilan gambarnya?" Nene sudah tak lagi peduli pada adiknya di sana. Dia malah mengajak Kouichi dan lainnya untuk duduk-duduk sambil makan mi gelas.

"Seluruh gambarnya sudah oke. Mulai besok sudah bisa masuk proses editing," sahutnya. "Kalau Tuan Yuu masih mau main, sih, terserah. Mi gelasnya masih ada tujuh bungkus lagi. Silakan."

Angin malam berhembus sekali lagi. Serangan pertama dilancarkan.

.

.

"Jangan menghindar, dong, Takuyaaaah!"

"Kok ngotot siiih?" Takuya tampak kewalahan menghadapi gerakan Yuu yang memang gesit. Hampir seluruh gerakannya mirip-mirip gerakan basket, bahkan suara decit sepatu pun sama. Heran. Takuya melompat lagi. Bilah pisau sudah beberapa kali hampir mengenai bagian tubuh Takuya.

"Tolong jangan menghindar saja! Ayo menyerang!"

"Ya mana aku bisaa!" sudah tentu, karena Kanbara Takuya bukannya ahli pertarungan jarak dekat, apalagi menggunakan senjata tajam begini.

"Terus kamu kok bisa berantem tangan kosong di chapter dua?"

"KAMU NGUNTIT, YA?"

Hah, kecepelosan juga akhirnya Yuu. Merasa dirinya dipermainkan—padahal nggak ada yang mainin—akhirnya Yuu mengubah gerakan. Kini jadi lebih lambat namun dengan kekuatan penuh. Lihatlah lantai sampai bolong dibuatnya ketika Yuu gagal menusuk tubuh Takuya.

"... sebenarnya dia mau bunuh Takuya atau gimana, ya?" gumam si kembar, tiba-tiba pucat pasi begitu mendapati lantai di bawah sana sudah retak akibat tusukan pisau milik Yuu.

Cantik-cantik kok adiknya gila gitu, sih? Ungkap Shinya, masih menyedot untaian lejat mi kuah rasa ceker ayam.

"Kak Nene, memang ada apa antara Kakak berdua dengan Grup Kanbara?" suara Tomoki, di tengah-tengah kudapan mi kuah rasa miso.

Amano Nene memerhatikan bagaimana Takuya kewalahan menghadapi Yuu, apalagi ini pertarungan jarak dekat. Ditambah oleh pertanyaan Tomoki beberapa detik lalu, nyala hati Nene muncul. Gadis itu tiba-tiba berdiri dan mencondongkan sedikit badannya pada Takuya.

"Kiri, Takuya! Kiriiii!"

"Heh?" Takuya mangap.

"Kakak apa-apaan, sih?" Yuu melotot.

"Yuu memang gesit, tapi lemah di serangan sebelah kiri karena dulu kaki kirinya pernah cidera lama!" Nene datang-datang buka rahasia adiknya.

"Kak—uwah!" Yuu hampir saja terlibas cat merah dari pisau milik Takuya kalau-kalau dia tak sempat menghindar. Takuya nyengir lebar. Sudah dapat trik asik, masa praktiknya entar-entar, jadi ambil langkah selalu menyerang dari sebelah kanan.

Keadaan sepertinya—tidak berbalik, Yuu masih lebih tangguh, walau kegesitannya sudah lebih menurun. Yuu agak lambat menghindar ke sebelah kiri.

"Bagus! Setelah itu zigzag Takuya! Zigzag! Yuu nggak bisa zigzag cepat-cepat!"

Keempat penonton lain hanya bisa memandang keki. Kok kayak tips lari dari kejaran babi hutan, ya?

Ajaibnya Yuu memang kurang cekatan dalam gerakan zigzag. So Waow sekali.

Ngik! Pisau di tangan akhirnya beradu. Sekarang tinggal Takuya dan Yuu yang adu kekuatan, dorong-dorongan. Soal bunyinya kenapa ngik, entah. Yuu maunya begitu. Padahal mungkin bisa saja bunyinya disetel jadi jrengjrengjreng.

"Boleh juga, Amano Yuu."

"Lumayan, Kanbara Takuya."

Keduanya tersenyum penuh percaya diri. Yuu mengendurkan pertahanannya, seolah membiarkan Takuya mengambil kesempatan. Merasakan tenaga yang mendesaknya berkurang, Takuya mengembang senyum dan mulai menumpukan kekuatan pada kedua pergelangan tangan. Sayang, Yuu sudah duluan menyangkal kaki Takuya hingga Takuya jatuh terduduk. Entah mengapa Shinya ngikik, mungkin merasa Takuya telah mendapat karma. Kikikannya membuat Nene menjauh sekitar dua langkah.

"Oh, dia memang begitu, Kak," ucap Tomoki memaklumi. "Tapi dia nggak gila, kok. Serius."

"Hm ... begitukah?" Nene menaikkan alisnya, takut-talut Shinya mengidap penyakit aneh.

Noda merah cat akhirnya mewanai bagian dada Takuya. Ketika sadar, Amano Yuu sudah duduk di atas perut Takuya. Kalau saja ada mbak-mbak fujoshi, mungkin mereka sudah teriak sampai oktaf delapan. Sayang, di atas atap ini hanya ada makhluk berkelamin pria dan Amano Nene bukanlah sebangsa Fujoshi.

—tapi enggan nolak kalau kalau dikasih asupan para pekerja keluarga Kanbara x Amano Yuu.

"Wah ..."

Hening sejenak. Seluruhnya terdiam sembari memerhatikan kedua pemain di sana yang tengah lempar pandangan. Angin kembali berhembus, seakan menyadarkan bahwa malam akan terus berlanjut.

"Pe-Pemenangnya ... Amano Yuu!"

Dan entah sejak kapan salah seorang kru sudah merangkap jadi wasit.

Bel sekolah berbunyi nyaring, tanda permainan sudah berakhir. Terdengar sorak-sorai dari beberapa sudut, dan sisanya desah kecewa. Gagal dapet tiket makan malam bersama dengan sang bintang idola.

Hampir seluruh siswa SMA di sana merasa asin.

"Sudah berakhir, ya?" Shinya meletakkan wadah mi gelas yang sudah tandas isinya. Yang lain pun cuma angkat bahu. Sudah masuk dini hari, untung sekolah besok diliburkan—tentu ini juga permintaan dari pihak Amano. Supaya semua tumpahan cat dan properti yang berantakan bisa dibereskan lagi.

Pihak Amano juga meminta pada Takuya dan teman-teman untuk menginap bersama di sebuah apartemen. Soal ruangan, pihak dari Nene Amano yang akan mengatur semuanya. Nene bilang ada yang ingin ia bicarakan pada Takuya pagi hari nanti. Semuanya sepakat. Siapa, sih, yang mau nolak ditawari menginap semalam di apartemen mewah tempat seorang selebritis tinggal? Shinya bahkan langsung angguk-angguk dengan kecepatan tinggi begitu Yuu menunjukkan foto apartemennya.

[ "Apaaaaah? Koujiiii! Koujiiii! Kau mau menginap di hotel dengan Amano Nene? Ayahmu bangga sekali, Nak! Astagaaa menantuku nanti selebritiiiis!" ]

"Pah, hush! Bukan hotel! Ini Apartemen, dan nginapnya rame-rameee! Ada Kouichi juga, kok!" Kouji hampir teriak-teriak begitu mendengar kalimat sang ayah di ujung sana. Niat mau izin menginap malah kena goda.

["APAH TRISAM? PUTRA-PUTRAKU MEMANG HEBAT!" ]

"Gue tobat ... gue tobat. Tolong tenangkan kokoro gueee," Minamoto Kouji, hampir nangis di pelukan Kouichi. Bukan salahnya dapet babeh begitu. Kouichi hanya mampu memberi puk-puk gratis, sembari membatin; Ayah inget umur, dong!

xxx

Seluruh permainan semalam terasa bagai mimpi. Malam-malam melelahkan (dan hampir tiada guna bagi sebagian besar peserta) itu sudah berakhir. Ketika bangun pukul sembilan pagi, Takuya merasa tubuhnya sudah lebih segar. Dia menyibak tirai apartemen. Kota di pagi hari tampak menakjubkan dengan siraman mentari pagi yang merambat sedikit demi sedikit.

Nene sudah mengimbau agar pagi ini semuanya berkumpul di ruangan apartemen miliknya. Takuya melangkah bersama teman-teman menuju tempat Nene, mendapati Amano Yuu itu sedang—

"Berdiri di situ."

"Ap—kenapa model hukuman begini masih jalan, Kak?"

"Bodo. Berdiri dengan satu kaki di situ dan pegang telingamu dengan tangan menyilang. Baru boleh istirahat kalau aku sudah selesai bicara."

"Salahku apa—

Sedang dihukum karena dituduh merusak rencana awal dan pemanfaatan kesempatan dalam sesi pengambilan gambar video klip.

Itu kayak anak SD dihukum karena nggak buat PR, ya? Yang lain hanya memerhatikan sambil mematung sesaat.

"Nah, selamat datang. Ayo silakan duduk. Sudah ada susu hangat di atas meja."

Senyum cling-cling dari si bintang idola berhasil membuat Shinya tepar di tempat. Yang lain langsung bersikap waspada. Walah, Amano Nene ini menakutkan juga ...

"Jadi apa yang mau dibicarakan?" Takuya mengambil tempat tepat di samping kiri Kouji dan Kouichi, sementara Tomoki tengah mengurus Shinya yang masih mimisan dengan tidak gantengnya.

"Baiklah, akan kumulai. Apa kalian ingat musibah Tsunami di daerah Sendai?"

Keempatnya mengangguk. Dulu liputan peristiwa menyedihkan itu benar-benar mewarnai beberapa stasiun televisi dalam hitungan minggu.

"Aku dan Yuu menjadi korban dari musibah itu," Nene kembali mengulangnya, kenangan saat mereka bertemu dengan Kanbara untuk pertama kalinya. "Kami masih kecil waktu itu. Usia SD. Sedari SD aku sudah punya impian untuk jadi idola, hingga rajin mengikuti audisi-audisi yang digelar. Walau gagal berkali-kali, aku tidak mau menyerah. Aku terus mencoba jika ada kesempatan audisi.

"Hari terjadinya bencana, Yuu—seperti biasanya—menemaniku ke Tokyo untuk mengikuti audisi. Saat mendengar kabar tsunami itu, aku mendadak histeris. Sampai ingin pingsan rasanya. Keluarga kami tak ada yang selamat. Hanya aku dan Yuu.

"Tak lama setelahnya, kami menerobos masuk ke dalam area bencana. Yuu menangis saat mendapati rumah kami bahkan sudah tak berbentuk lagi. Hanya tinggal puing. Dunia seolah runtuh, harapan seolah hilang."

Rasa simpati sontak memenuhi dada Takuya.

"Saat itulah kami bertemu dengan Kakekmu."

Nene menoleh dan memandang Takuya.

"Beliau bilang, dia juga punya cucu seumuran Yuu, lalu kami berdua diangkat dan hidup di bawah Grup Kanbara. Aku berhasil menjadi idola juga berkat bekingan kuat dari Kanbara. Hasilnya, kehidupan kami benar-benar sudah membaik, hampir seratus persen."

"Lalu alasan Yuu mengadakan survival game itu?"

"Itu karena dia penasaran padamu, kok," Nene melirik Yuu yang masih berdiri dengan satu kaki di sudut ruangan sana. Wajah anak itu jadi rada manyun-manyun, bikin Nene gemes pingin nambahin topi ulangtahun.

"Penasaran denganku?"

"Kakekmu selalu membanggakan Shinya dan dirimu. Beliau sering cerita macam-macam tentang kalian. Kalau Kakekmu pensiun, kemungkinan besar grup akan jatuh ke tanganmu. Kanbara Takuyalah pemimpin selanjutnya."

"Hah!" bola mata Takuya membulat. "Aku belum dengar yang itu!"

"Iya, memang baru wacana dari dalam, kok," Nene mengibaskan tangannya. "Tapi Yuu gemas mendengarnya. Apalagi melihat Grup Kanbara sudah tak semenakutkan dulu. Mungkin rasanya seperti—lebih baik grupnya aku yang pimpin kebanding Takuya, gitu. Makanya dia menciptakan survival game ini untuk menilai seberapa kuat seorang Kanbara Takuya."

Kalau dipikir, benar juga. Takuya merasa Yuu lebih pantas memimpin grup yakuza macam ini. Yuu lebih serius. Dan soal pertarungan pun dia sangat unggul. Takuya angguk-angguk, lalu memandang Yuu.

"Aku tahu, kau jatuh cinta pada kakek, ya? Sampai-sampai ingin jadi cucu harapan masa depan?"

"Ya nggak gitu juga, kali. Jangan asal tuduhlah," sahut Yuu dengan muka ditekuk.

"Baiklah, dengan begini, mohon bantuan ke depannya, ya, Kanbara Takuya," senyum cling-cling sekali lagi, membuat Shinya yang baru saja sadar langsung kejang-kejang kemudian pingsan lagi. "Mohon kerja samanya. Mulai besok Yuu sudah resmi belajar bersama di kelasmu. Tolong jaga dia juga. Kalau nakal, laporkan padaku."

"Um ... baiklah?" Takuya mengangguk pelan, lalu meminum habis susu cokelatnya.

Hari ini terasa begitu ... aneh? Takuya merasa tiba-tiba tidak mengenal grup keluarganya sendiri. Setelah semua urusan sarapan selesai, Takuya hanya bisa memandang sekali lagi apartemen tempat Amano bersaudara tinggal. Seluruhnya terlalu tiba-tiba. Soal grup Kanbara yang ternyata memiliki relasi angkat seorang idola dan rencana pemindahan kekuasaan pada diri seorang Takuya.

Kenapa tiba-tiba jadi berat begini?

"Aaah, aku pusing! Sudahlah, jangan dipikirkan dulu!" racau Takuya, membuat Shinya dan Tomoki menoleh heran. (Si kembar Kouichi dan Kouji pergi ke tempat lain. Dilihat dari arahnya, mungkin studio foto tempat Kouichi bekerja).

"Sampai di rumah, aku mau chatting! Sudah lama aku tidak chatting dengan Hikari!"

xxx

"Kakak tidak menceritakan soal tugas penting yang dilimpahkan pada Kanbara Takuya itu?" Yuu menghempaskan bokongnya di atas sofa. Capek. Akhirnya sesi hukuman berakhir juga. Mungkin selain jadi idola, kakaknya juga berbakat jadi guru killer. Menghukum siswa-siswinya dengan senyum mengembang. Psikopat.

"Tidak, buat apa? Lagipula dilihat dari wajahnya juga pasti tahu kalau dia menikmati masa-masa sekolahnya di sana."

"Benar, sih. Tapi ... aku sudah menyelidiki setiap sudut dalam sekolah itu," Yuu memainkan ponselnya. "Sepertinya memang masih area abu-abu. Belum resmi menjadi milik grup Kanbara ataupun lawannya."

"Kurasa Kakek malah ingin ada perdamaian di sana, makanya mengirim Takuya ke sekolah itu untuk memperjelas seluruhnya," Nene mengangkat bahu. "Ah, tapi memang seharusnya kubilang saja, ya, kalau sekolah itu masih dalam status perebutan antara grup Kanbara dan Minamoto? Walau Minamoto sudah bubar, kudengar putra mereka juga sekolah di sana."

"Eh?" Yuu tercenung. Tunggu, Minamoto? Pikirannya melayang-layang pada lelaki berbandana yang sudah menghabiskan tiga bungkus Mi Gelas bersama di atas atap. Namanya dia kalau nggak salah ... Minamoto Kouji, kan?


To Be continued.


Jadi ... silakan lanjut ke chapter depan, yah xDD