Kau NTR aku~ kau palingkan wajahmu dariku~~!

/JEDOR! JEDOR DRRRT!/

Kau sakiti aku dan hatiku. Kau berlalu bersama kenangan manisku.

/HEAAAAH! JEDOR!/


Unscandal

((Sudah bukan Amano Arc Lagi, koks.))


"Apaan, nih? Lagu tema NTR tapi video klipnya baku tembak antar anak SMA?" Takuya, Kouji dan klub fotografi hening parah ketika mendapati sepenggal editan dari proses video klip milik Amano Nene. Karena semalam Shinya merengek minta, akhirnya diberi sepenggal pendek oleh tim kreatif Nene.

"... Dia idola beneran, bukan, sih?" tanggap Kouji, yang masih gagal paham apa hubungan ditinggal selingkuh kekasih dengan ajang baku tembak di sekolah. Kakak beradik Amano itu beneran kurang beres.

"Terus kemarin, Nene bilang awalnya mau pakai zombi-zombian," Kouichi juga ikutan gagal paham.

"Nene cantik," cuma anak buah Kouichi yang sampai menangis haru ketika melihat video klip mentah itu. Padahal tak ada sosok Nene sedikit pun dalam penggalan video itu. Kouji dan Takuya geleng-geleng kepala. Kok bisa, sih, Kouichi nyasar di klub yang orang-orangnya aneh bin ajaib begini?

"Ngomong-ngomong, sejak Survival Game berakhir, tampaknya Amano Yuu jarang bikin ulah lagi, ya?" Takuya menyikut Kouji pelan. "Aku kira dia akan terus mengejar-ngejarku lalu menantang duel lagi."

"Jangan geer, deh," Kouji mengibaskan tangannya, berusaha skeptis. "Tapi belakangan dia tampak mondar-mandir nggak jelas."

"Eh, masa?" Takuya melirik penasaran, tapi sedetik kemudian sudah normal lagi. "Ya sudahlah, bukan urusan kita lagi. Mungkin."

Kouji mengendikkan bahunya kemudian mengambil napas panjang. Tapi, kok, rasanya malah aku yang sedang diawasi, ya? Masa iya adik idola itu jadi humu cuma gara-gara makan mi bareng aku?

Bahkan tanpa memberitahu siapa pun, Kouji tau kalau Yuu tengah mengintainya ketika memasuki ruang fotografi. Entah apa yang akan direncanakan Yuu selanjutnya. Apa akan ada main perang-perangan pakai bantal? Atau main tak-tik menangkap Digimon dengan ponsel, siapa yang menangkap Digimon terbanyak, dialah pemenangnya?

Yang jelas sosok Yuu di otak Kouji sudah keburu abstrak dan tidak jelas. Homo pula.

"Sebenarnya dia sadar kalau kuikuti, tapi diam saja," Yuu, di balik tembok menggumam pelan. "Putra bungsu dari keluarga Minamoto memang hebat. Benar-benar seperti serigala yang berhati-hati."

Nggak, sebenarnya bukan begitu, sih. Kouji hanya malas menambah masalah, apalagi kalau nanti disuruh main game sampai dini hari lagi. Ogah.

"Daripada itu, lihat!" Kouichi akhirnya bersuara. Dia menunjuk laptop dengan wajah senang. Ternyata layar sudah diganti ke sebuah situs fotografi freelance, di mana pengumuman pemenang sebuah kontes digelar. Semua mata memandang tak percaya, bahkan ada binar-binar haru juga. Nama Kimura Kouichi terpampang jelas sebagai penyabet juara pertama.

"Wah! Kouichi juara pertama fotografi?" Takuya memandang Kouichi dan layar laptop itu bergantian. "Di sini tertulis kalau hadiahnya adalah tur ke Korea!"

"Ah ... iya, begitulah. Hanya iseng coba-coba kirim," Kouichi mengulas senyum, sembari menggaruk pipinya, malu-malu. Sementara gestur tubuhnya dibikin sefeminin mungkin. Kouji memandang jijik, sejak kapan kakaknya jadi punya gaya begitu?

"Kenapa mukamu kayak lagi lihat siput pakek bikini lagi ngamen?" tanya Kouichi ketika menangkap ekspresi Kouji. "Aku kan cuma meniru adegan tokoh yang lagi malu-malu di komik yang kamu pinjemin minggu."

Demi Tuhan, Kouichi! Itu Komik Serial Cantik! Versi blink-blink dan limited edition dari Nakayoshi pula!

Dan demi Tuhan juga, Minamoto Kouji hobi baca shoujo manga, yang ada efek blink-blink pula.

"Lupakan pasal komik!" Kouji menepis seluruh tatapan yang tertuju pada dirinya. "Ngomong-ngomong kamu sudah mengambil hadiahnya? Kapan berangkat ke Koreanya?"

"Sekarang."

"HAH?" semua mata melotot pada sang ketua klub fotografi. Belum ada beberapa detik untuk menyusun kalimat dalam otak, Kouichi sudah membuka jendela dan nebeng pesawat jet yang kebetulan lewat. Pergi ke Korea, melihat Jerapah.

Tinggallah Takuya dan Kouji, serta anggota klub fotografi, plus Amano Yuu melongo gagal paham di belakang sana.

"Apa, yang barusan terjadi?" ungkap Takuya, gagal paham level menengah.

"Meneketehe," sahut Kouji, gagal paham level akut.

Ini ada apaan, sih? Amano Yuu, gagal paham level kurang logis.

Kimura Kouichi, gosipnya dia kakak kembar Kouji. Ungkap Yuu sembari menulis dalam note ponselnya. Sebenernya tak harus dengar gosip, dilihat juga tahu kalau mereka kembar. Aku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya jika ada seorang dengan karakter seperti dia. Hm ... tapi baguslah, hanya ada Minamoto dan Kanbara. Ini akan jadi seru.

.

Pertama-tama, Takuya harus tau kenyataan bahwa Kanbara dan Minamoto itu berseteru.

.

Selanjutnya, tinggal menentukan area sekolah ini milik Minamoto atau Kanbara. Aku bisa mengatur rencana untuk itu.

.

"Kruyuuuk~"

Oh, iya, aku belum makan daritadi. Ini karena keasyikan menguntit Minamoto Kouji sejak pagi.

Kriiiiiing!

Ah, sial. Sudah bel masuk.

.

xxx

.

Shinya tertawa bengis.

SD hari ini pulang lebih cepat, alasannya; merayakan 5 tahun usia wig pak kepala sekolah hingga akhirnya seluruh siswa-siswi diliburkan selama dua hari. (Satu harinya lagi untuk perayaan 5 tahun kumis palsu kepala sekolah).

Kini Shinya berdiri gagah di samping meja belajar sang kakak. Laptop merah yang masih baru dan sebelumnya terkunci, kini sudah terbuka sepenuhnya. Salah Takuya juga yang memakai password itu-itu saja. Kalau bukan 'Takuya Tampan', pasti 'Takuya Tangkas', atau 'Takuya Terbaik', atau malah 'Takuya Tunajelek'. Pokoknya seluruh kata-kata narsis yang berawalan sama antara huruf nama depan dan kata belakangnya.

Kini Shinya merajalela. Dia sudah membobol akun SOSRO milik Takuya. Password-nya? Gampang ditebaaak.

Shinya ingin balas dendam. Gagal dapat Amano Nene. Yagami Hikari pun jadi.

Legenda mengatakan, bahwa Takuya punya teman chatting berwujud cewek lucu bernama Yagami Hikari. Dilihat dari profil picture-nya, sih, kece. Selfienya Cantik banget. Asal bukan hode.

Ya, asal si cantik bernama Yagami Hikari itu bukanlah abang-abang usil yang ikut terfoto di belakang sana dengan lobang hidung besar terpampang akibat ditarik oleh ujung telunjuk. Shinya sudah tak mau lagi salah pilih. Kemarin ketemu om-om. Shinya tak mau lagi dapet abang-abang random dan punya rambut mengembang baday macam Gay Toshigay di Sinetron Pacarku Psikopat suka main Kartu itu (1).

"Asiiiik dapat alamat rumah Kak Hikariii!" seru Shinya ketika sesi chatting akhirnya berhasil. Bermodal buku gombal 1001 macam yang dibeli di tukang ramal abal-abal, dengan sihir kata-kata mejik dan bisik-bisik setan, akhirnya Hikari terjerat untuk memberikan alamat rumahnya.

Kanbara Shinya, baru kelas enam SD tapi sudah berbibit menjadi serigala pemburu cinta kelas menengah.

Mata bulatnya berbinar senang ketika memandang barisan kalimat dalam ponselnya. "Aku akan ke rumah Kak Hikari di Odaiba, dan akan kubuktikan pada Kak Takuya kalau aku bisa duluan punya cewek, cantik pula!"

Dia ketawa setan.

"Akan kubuktikan kalau aku tidak humu seperti dia dan akan kubuat Kak Takuya menari telanjang di pernikahanku! Hahahahaha!"

Kanbara Shinya, dengan cita-cita hidupnya yang sungguh mulia, kini tengah tertawa (lebih) bengis dan tampak puas. Dia menaiki ranjang Takuya dan lompat-lompatan di sana, tanpa tahu bahwa gelagatnya berhasil membuat salah seorang pekerja di rumahnya ngibrit menelepon Rumah Sakit Jiwa.

.

xxx

.

"Ngomong-ngomong soal penerus Kanbara, menurutmu aku mampu, nggak? Sampai-sampai Kakek mau melimpahkan posisi itu padaku?" Jam pelajaran akhir kosong akibat rapat dadakan para guru. Kabar-kabar layangan mengatakan, bahwa ada seorang siswa yang menghilang mendadak saat jam istirahat tadi, tanpa jejak, tanpa kabar. Para guru panik, takut terjadi penculikan misterius di sekolah mereka. Penculikan oleh Alien, misalnya.

Ya salah Kouichi sendiri, kenapa pergi begitu tiba-tiba, pakek nebeng pesawat jet pula.

"Apa bukannya karena kamu cucu kesayangan, ya?" sahut Kouji tampak tak tertarik. Dia lebih kepikiran tentang Yuu yang masing menguntit di tiang listrik sana. Maunya apa, sih?

"Masa? Shinya bukannya lebih di sayang? Kenapa bukan dia aja yang ditunjuk jadi pemimpin?"

"Ambil positifnya ajalah. Kamu bisa membubarkan geng kakekmu itu kalau kamu mau. Kehidupan normal bisa kamu dapatkan."

Takuya menepuk tangan. "Benar juga, ya!" matanya berbinar-binar. "Kalau nggak ada Yakuza-yakuzaan lagi, aku pasti bisa hidup normal. Nongkrong bareng teman, main di game center, ikut rebutan roti di kantin, atau—apalah. Aku kenapa baru kepikiran, ya?"

"Ya ... syukurlah kalau kesempatan itu akhirnya datang. Ah, kita sudah sampai. Di sini rumahku."

"Wah, rumahmu besar juga, ya?" Takuya cengir-cengir mencurigakan. Syukurlah, kukira muka jutek Kouji disebabkan karena rumahnya macam rumah hantu, tak terurus atau malah cuma terbuat dari kulit nanas dan ijuk. Ternyata Kouji punya rumah yang biasa-biasa saja untuk ukuran manusia. Puji Tuhan. Takuya Elus dada.

"Kamu mau mampir, kan? Yuk. Anjingku si Doggi pengen banget ketemu kamu," ajak Kouji.

"Perasaan nama anjingmu di chapter-chapter lalu bukan si Doggi, deh," sahut Takuya. "Tapi, ya sudahlah, ayo masuk."

Kouji mengangguk, berbalik menghadap tiang listrik tepat di ujung belokan rumahnya. "Kamu yang di balik tiang listrik juga. Mau sekalian mampir?"

Sudah kuduga, dia nyadar tapi sok sebodo. Yuu akhirnya menampakkan diri dengan raut malas. "Boleh, nih?"

"Siapa tahu anjingku si Ngeeeng juga mau ketemu sama kamu."

"... nama anjingmu kok berubah terus, sih?" Takuya mengerutkan alisnya. "Kamu beneran majikannya apa bukan?"

"Bukan, aku cuma petugas sewaan untuk kasih makan dan bawa dia jalan-jalan. Majikannya, sih, Om Kousei."

" ... Ya Gusti, Kouji—" Takuya urut jidat. Sabar banget Kouichi punya adik macam ini.

Ketiganya melangkah memasuki pekarangan rumah Kouji. Sebelum melewati pagar rumah, Yuu sempat melirik sesaat papan nama keluarga yang terpampang tepat di sampingnya. Minamoto. Dengan huruf kanji yang familiar di benaknya.

Ternyata benar. Minamoto yang itu. Bola matanya kembali memandang Takuya. Kanbara Takuya, kau sedang bertandang ke rumah musuhmu. Musuh Grup Kanbara!

Aku yakin setelah kau memasuki rumah ini, akan terjadi perang besar. Minamoto pasti akan mengusirmu.

.

xxx

.

"Aku baru tau kalau perjuangan ke Odaiba itu begitu berat."

Kanbara Shinya, kini tengah terseok-seok, melangkah dengan berpegang pada sebuah dahan pohon. Rupanya niat tidak baik memang tidak akan direstui Tuhan. Setelah dandan ganteng dan pakai kolor baru, Shinya tancap menuju Odaiba. Naik kereta, eh kelewatan stasiun. Jalan kaki, eh, kecopetan. Kejar-kejaran sama copetnya sampai nyasar entah di mana. Naik bus, bannya kempes. Naik sepeda, jatoh nyebur selokan. Mau nyegat angkot pun nggak ada angkot yang lewat. Bis TransShibuya-pun tak ada yang beroperasi. Nasib.

Degan kaki serasa copot, keringat darah dan napas ngos-ngosan, akhirnya Shinya dapat mencapai rumah sang pujaan hati. Apartemen tempat Yagami Hikari tinggal sudah di depan mata. "Akhirnyaaaa. Tunggu aku, kak Hikariiii!"

Bel pintu ditekan. Shinya bergegas merapikan penampilannya yang tampak compang-camping. Periksa napas, oke, tidak bau. Periksa rambut, sudah rapi kan barusan diusap pakai minyak jelantah. Periksa jerawat, tidak ada. Periksa pakaian, oh kotor dikit, tapi nggak apa, ketutupan sama muka ganteng, kok ini. Aroma selokan? Bisa diuruuuus. Semprot parfum dari ujung rambut samapai ujung kaki. Rebes!

Suara langkah dari dalam terdengar. Pintu akhirnya dibuka juga. Shinya cengar-cengir, membayangkan seperti apa reaksi Hikari ketika melihat penampilan necisnya(?).

"Ya?" ternyata yang membuka pintu malah abang-abang bertampang berantakan. Rambut buyar ke mana-mana, berkulit agak sawo matang. Kalau dilihat-lihat, sepertinya dia seorang mahasiswa jurusan arsitektur, mengingat dia menggenggam jangka khusus seorang arsitek dan kertas gambar khusus pula. Di bawah matanya ada kantung hitam, persis panda jadi-jadian. Aroma khas ala mahasiswa penganut asas 'mandi itu mitos' menguar sungguh menusuk hidung. Shinya bergidik ngeri. Makhluk apa gerangan yang ada di hadapannya.

"Ada keperluan apa, ya, Dek?" ucap pemuda itu. Shinya meneguk ludah, kemudian mengulas senyum. Positif thinking aja, mungkin ini pembantunya Hikari.

"Kak, Hikarinya ada?" tanya Shinya, dengan nada suara dikiyut-kiyutin.

" ... kamu siapa?" tanya sang pemuda lagi, kali ini lebih garang. "Oooh," suara si pemuda berubah mendesis. "Jangan bilang adikku sudah beralih menjadi shotacon, ya. Jadi kau si ID Taku-Bieber itu? Si kunyuk yang sudah curi-curi chatting dengan Hikari?!"

Shinya bergidik takut ketika melihat cowok itu mengacung-acungkan jangkanya. "Ooh, tak ada seorang pun yang boleh mencolek-colek adikku! Wahaha! Aku, Yagami Taichi tak akan membiarkan adikku dibawa cowok kecil-dekil-tengil kayak gini!"

Waduh? Kakaknya? Batin Shinya ampun-ampunan.

"Wahaha! Ayo, siapapun yang mendekati Hikari, Over My Dead Body first! Pacar? Oh, ya, Pacar Hikari itu… siapa namanya? Li Jianliang? Yeah! Tunggu aku, Li Jianliang! Aku akan terbang ke Hongkong mengejarmu! Jangan kira hubunganmu dan Hikari berjalan lancar selama aku masih bernapas dan menguasai sambungan internet di rumah iniii!" Taichi makin gila. Bukan apa-apa, tenang saja. Dia bukan orang gila, dia juga bukan penderita epilepsi, dia cuma stress karena tugas kuliah bertumpuk dan ujian semester di kampusnya.

"Nah, ayo, Adek Manis, ada urusan apa denganku?" tantang Taichi makin garang.

"O-ooh … gak ada apa-apa, Kak, aku pergi! Dadah!" Shinya langsung ambil langkah seribu dari tempat berbahaya itu. Kak Hikari cantik-cantik kok punya kakak gila begitu? Batinnya menyesal.

.

xxx

.

Amano Yuu merasa gagal paham.

Sudah dua puluh menit dia duduk dan makan-makan camilan di kediaman Minamoto. Tapi tak ada yang aneh di keluarga ini. Om Kousei, selaku kepala keluarga malah asik kena pukul oleh putranya, pasalnya si Om ketahuan lagi chatting sama istri orang, Sayuri apagitu. Setelah khotbah sepuluh menitan, Kouji marah-marah dan akhirnya gejreng gitar sembarangan, sampai bikin Takuya pening dan jatuh meringkuk di lantai.

Ibu Kouji datang dengan senyum memikat, membawakan ayam goreng kriuk masakan andalannya. Kini mereka bertiga sedang makan-makan sambil gosipin anak buahnya Kouichi—Ya Kouichinya juga sekalian.

Apa-apaan ini? Bukannya Kanbara dan Minamoto seharusnya bermusuhan? Kenapa seolah tanpa ada masalah begini? Yuu mencomot ayam gorengnya. Luarbiasa enak, rasanya. Masakan Nene saja kalah.

"Kamu ngapain bengong, Yuu?" tanya Takuya, yang tengah menyumpalkan ayam beserta tulang-tulangnya ke dalam mulut.

"Tidak ada apa-apa."

Mungkin memang benar, Kanbara dan Minamoto memang menginginkan perdamaian. Masalahnya, sekolah itu masih area abu-abu, belum ketahuan jatuh ke tangan Kanbara atau Minamoto.

"Yuu?"

Kalau begini, aku tidak bersalah, kan, kalau ikut turun tangan? Amano Yuu, merasa harus ikut campur. "Aah, Kouji, toiletnya di mana, ya? Aku mau buang air kecil dulu."

"Di sudut kamar aja, tuh, angkat satu kaki," tukas Kouji kejam.

"Kurang ajar."

"Turun tangga aja, belok kiri. Nemu pintu, itu toilet, kok."

"Oke~" Yuu mengacungkan jempolnya, lalu melangkah dan menghilang dari pintu dapur. Otaknya sudah merangkai beberapa poin-poin dan rencana. Ditutupnya pintu toilet rapat-rapat, sebelum menekan tombol ponselnya.

"Halo, Kakak? Bisa bantu aku?"


To Be continued.


Sinetron Pacarku Psikopat suka main Kartu: Harusnya, sih, parodi Cardfight! Vanguard. Kenapa psikopat? Ini innerjoke doang, kok.

Apakah rencana Yuu selanjutnya? Apakah Kouji dan Takuya akan menjalani hubungan bak Nisekoi season 3? Apakah benar bahwa Shinya Kanbara akan menikah dengan Hikari? Ikuti kisahnya terus, karena author tengah berjuang update kilat. Semoga menghibur, yah~

Selamat Natal bagi yang merayakan~ :DD