Sedari dulu, keluarga Kanbara dan Minamoto sepertinya tak pernah mau kalah dalam urusan harga diri. Turun-temurun selalu begitu. Bahkan setelah perang dunia pertama berakhir.
"Lihat! Aku yang sampai ke sekolah lebih dulu!"
"Grr! Awas kau, Kanbara!"
Di mana ada Kanbara dan Minamoto, pasti akan ada aura persaingan.
"Lihat! Aku yang berhasil dapat nilai 100 dalam tes matematika. Bagaimana, Kanbara?"
"Hhh, awas, akan kukalahkan dalam tes Bahasa Jepang nanti."
Bukan pasal menang atau kalah. Kanbara dan Minamoto berkilah bahwa ini urusan harga diri.
"Cewek ini gue yang nembak duluan! Pergi, loe!"
"Loe yang pergi, Minamoto. Dia tuh sebangku sama gue, jadi gue berhak nyatain perasaan lebih dulu, dong!"
"Kalian berdua, stop, plis? Kalian sama-sama bukan tipeku, maaf."
Terus berlanjut, hingga Kanbara menjadi sebuah grup Yakuza ditakuti dan Minamoto menjadi Grup Geng motor yang sama ditakutinya. Keduanya memperluas daerah kekuasaan masing-masing, entah gunanya apa.
"Sekolah ini punyakuu!"
"Bodoooh! Sekolah ini masuk ke dalam daerah kekuasaanku!"
"Kita sudah sepakat, bukan?"
"BELUUUM!"
Dan akhirnya ketika tampuk kepemimpinan kedua grup dipegang oleh kakek Kouji dan Takuya, perseteruan kedua keluarga itu masih belum juga usai. Keduanya masih saja berseteru, sampai istri dari masing-masing mereka memohon agar mereka membuat surat perjanjian berdamai saat persaingan terakhir digelar.
"Kanbara! Aku yakin cucu pertamamu pasti laki-laki!"
"Berisik kau Minamoto! Aku yakin pasti perempuaaan! Aku sudah yakin kalau aku akan dapat anak perempuan! Kita lihat saja!"
"Ya ampuun, kenapa persaingan terakhir malah kurang penting banget gini?" nenek geleng-geleng kepala.
Ketika kepala Grup Minamoto meninggal, grup Minamoto resmi dibubarkan. Sementara Kanbara terus melebar dan meluas, hingga menjadi grup Yakuza besar seperti sekarang. Seluruhnya tampak telah usai dengan kemenangan Kanbara, tapi, sampai hari ini, SMA khusus putera yang dahulu diperebutkan itu masih belum jelas di bawah kepemilikan siapa.
"Kudengar Minamoto sainganku sudah meninggal. Sayang sekali, persaingan kami berakhir seperti ini."
"Ketua, apa yang harus kita lakukan? Terutama menyangkut sekolah itu."
"Karena sudah berakhir... mungkin lebih baik mengirim sinyal pada grup Minamoto. Lagipula sebentar lagi aku akan pensiun dan mengundurkan diri. Kudengar Cucu Minamoto ada bersekolah di sana. Kita kirim cucu tertuaku ke sekolah itu. Ini cocok sekali. Aku bisa menguji apakah Takuya—sebagai cucu tertuaku—mampu menjadi pemimpin Kanbara yang baru, sekaligus menegaskan milik siapa sekolah itu sekarang."
Unscandal.
Skandal ke dua belas.
.
.
"Ditolak!"
"Hah?! Aku belum ngomong apa-apa!"
Nene melipat kakinya, setelah menyeruput kopi hangat di atas meja, dia kembali menjawab telepon adiknya. "Dari nada suaramu, rasanya kamu akan punya suatu rencana yang nirfaedah. Jadi lebih baik kutolak saja."
"Kakak kok kejam, sih?! Ini demi grup Kanbara jugaa!"
"Yuu, kita sebenarnya hanya orang luar, loh. Sudah cukup kamu campur tangan dengan mengadakan Survival Game waktu itu. Lagipula kedua grup tak akan adu kekuatan seperti keinginanmu."
Yuu membuang napas. Yah ... yang Nene katakan memang ada benarnya. "Tapi Kakak nggak gemas? Apa nggak penasaran dengan hasilnya? Satu-satunya cara adalah bertarung berebut kekuasaan, iya, kan? Itulah yang selama ini dijalani oleh kedua grup."
Nene terdiam. Sebenarnya dia juga penasaran dengan hasil akhir Kanbara VS Minamoto itu. Tapi kalau dilanjutkan, bukannya akan sama saja membawa anak-anak itu ke dalam masalah kakek-kakek mereka? Sementara mereka tidak ada hubungannya.
Lagipula Takuya tampak tidak mau jadi penerus utama grup Kanbara.
"Jadi menurutmu bagaimana?" Nene sendiri tak menyangka bahwa kalimat itu yang pertama kali keluar dari bibirnya. Oh, apa dia sudah tertular sifat hobi drama dari adiknya?
"Aku ingin kakak mengumpulkan lagi anggota grup Minamoto yang lama. Mohon dicari. Aku punya ide untuk membuat keduanya mengikuti rencanaku. Ah, satu lagi. Ada satu orang yang akan aku korbankan, biar aku saja yang urus itu."
Korban apapula? Nene memijat keningnya. "Baiklah ... tapi kirim dulu apa yang sudah kamu dapat dan detil rencanamu lewat e-mail. Akan kuinterupsi kalau ada yang aneh. Kali ini oke, aku mau bekerja sama denganmu."
Bola mata Yuu berbinar senang. "Benar, Kak?"
"Iya," nada suara sang idola terdengar manis sekali. Supaya ini semua cepat berakhir. "Kutunggu e-mail-nya. Beberapa menit lagi aku harus masuk studio. Mungkin baru selesai malam nanti. Maaf tidak bisa menemanimu ngobrol lama-lama, Yuu."
"Baiklah. Tenang saja, Kak. Mohon kerjasamanya."
Yuu menutup saluran teleponnya. Senyum puas mengembang di wajahnya. Dengan begini, babak utama yang diincar-incar datang juga. Kanbara Takuya dan Minamoto Kouji. Grup yang telah kehilangan aura menyeramkannya serta grup yang sudah bubar. Sepertinya akan asyik jika keduanya bangkit dan brutal kembali.
xxx
"Gila, itu orang apa Digimon?" ujar Shinya ngos-ngosan. Akhirnya berhasil kabur dari kejaran Taichi.
"Tapi—aku tidak akan menyerah!" bola mata Shinya tampak masih berapi-api. Ya, ambisinya untuk membuat Takuya menari telanjang di acara penikahannya masih belum pupus juga.
"Aku akan memikirkan strategi berikutnya, lalu aku akan maju. Baiklah, Shinya ... jangan patah arang dulu. Kamu bisa punya cewek. Kamu bisa punya cewek~" gumam Shinya, sembari menenangkan dirinya di atas bangku taman. Oranye semakin pekat di langit sana. Semakin banyak pasangan muda-mudi yang lewat tempat itu sekadar untuk refreshing sepulang sekolah.
Shinya rada bete. Pasalnya hanya dirinya yang menggandeng status jomblo di taman itu—kayaknya wajar, karena hanya dia yang siswa SD di sana. Lainnya kebanyakan siswa SMA. Ditambah lagi, pasangan di dekat pancuran airminum sana tampak lagi mesra-mesraan. Ih sial.
"Ryo… ayo buka mulutmu," seorang gadis berkuncir satu, berwarna oranye-kemerahan sedang menyuapi pasangannya dengan bakso. Mata ungunya terlihat tajam. Wajah tegasnya tampak malu-malu. Sikapnya gengsian, panas-panas gini makan bakso kuah pedes, seporsinya murah, tapi belinya patungan. Duduk lesehan di taman dekat pancuran air minum. Pacaran gak milih tempat. Udah pelit, ngirit lagi!
"Ru-Ruki… kamu kesambet apa? Haloo? Siapa kamu dan apa yang telah kaulakukan pada Ruki?" sang cowok melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sang cewek. Ia berulit agak gelap, dengan rambut cokelat. Tubuhnya berbalut sweater merah, dengan syal hijau melingkar. Panas-panas gini apa dia nggak salah pakai baju, tuh? Tapi yang cewek juga sama aja. Pakainya jaket sama syal oranye, plus celana jins dan sepatu boot. Tambah ear-muffler pula. Mereka ini nggak lihat cuaca apa gimana, ya?
Shinya menyipitkan mata. Kalau ditilik-tilik, kayaknya Shinya kenal cowok ini. Um… kalau gak salah, dia Ryo Akiyama, model gelap-manis yang akhir-akhir ini muncul di majalah Trubus Jepang. Sebagai model pendatang baru, karirnya tidaklah mulus.
"Gak mau? Ya udah, esnya buat aku!" Shinya gagal paham. Itu bukannya bakso kuah, yaaaa? Asapnya aja masih ngepul-ngepul gitu.
Si cewek langsung beringasan memakan habis bakso murah itu. langsung lep, bakso pun raib. Susah-susah berubah sikap biar kencan kali ini romantis, eh, malah dikomentari begitu. Ih, bikin bete!
"Susah-susah aku mengajakmu kencan, dan buang malu nyuapin kamu. Terus malah dikasih komentar begitu? Ya udah, good bye, kita sudahi saja kencan ini!" si cewek bernama Ruki bangkit dan langsung meninggalkan si cowok.
"Ruki! Tunggu!"
Ruki berbalik, "Kita putus!"
"Gyaa! Ditalak pula!"
"…Kok masih ada aja, ya, pasangan gak jelas kayak begitu?" Shinya hanya bisa meratapi nasib model malang di hadapannya. "Kalau punya pacar nanti, aku gak mau kayak mereka, ah ..."
xxx
Takuya dan Yuu sudah pulang dari dua jam lalu. Kini tinggal Kouji yang tengah beberes kamarnya—diberantakin oleh Takuya dan Yuu. Mulai hari ini Minamoto Kouji bersumpah, bahwa dia tak akan pernah mau lagi mengundang Takuya dan Yuu untuk main ke kamarnya.
"Mereka itu apa-apaan, sih? Apa nggak pernah niat mau mengasihaniku sebagai tuan rumah?" dumel Kouji ketika akhirnya vacum cleaner sudah dimatikan. Kini kamarnya sudah kembali bersih, bahkan sidik jari di kamar pun tidak ada yang tersisa.
"Sekarang tinggal berguling lalu baca majalah. Menunggu waktu makan malam," Kouji memijat seputaran bahunya, lalu langsung merebahkan diri di atas kasur. Dia ingin berguling-guling sebentar, untung-untung ketiduran sampai akhirnya nanti dipanggil untuk makan malam.
Ting!
Notifikasi akun SOSRO-nya bunyi. Oh iya, laptop belum dimatikan. Tadi Takuya maksa minta nonton bokep di sana. Kouji berjalan malas-malasan hendak mematikan laptop, tapi diliriknya juga layar laptopnya. Ada pesan dari Takuya.
Taku-Bieber Kayaknya ada makhluk jelek gak tau diri yang membajak akunku!
Kouji tersenyum penuh ejek. Dia berubah niat dan duduk di meja belajarnya.
Satriani-Kou Paling adikmu. Siapa lagi kalau bukan dia?
Taku-Bieber Kok kamu tahu adikku pelakunya? Hayoo… jangan asal tuduh.
Satriani-Kou Kata siapa asal tuduh? Nggaklah.
Taku-Bieber Nah, terus?
Satriani-Kou Simpel, sih, pengalaman pribadi. Aku juga ngebajak ID SOSRO Kouichi soalnya.
Tanpa diketahuinya, Takuya bergubrak ria di ujung sana. Sabar banget Kouichi punya adik—kembar pula—model begitu. Mirip-mirip Shinya pula tingkahnya. Bedanya, yang satu perusak, yang satu lagi belum ketahuan bakat merusaknya.
Twing!
Di tab yang lain, Kouji melihat sebuah ID masuk ke chatroom-nya. Ini website chatting gratisan lainnya. NARUTO; News And Reply Undomestically chaTt Organisation adalah ajang chatting internasional, yang sedang digandrungi remaja dari SMP sampai mahasiswa di seluruh dunia.
DigiKame-Ichii haloo! Online nih, ye?
Dari ID tersebut, jelaslah siapa pemiliknya. Kimura Kouichi, yang sedang santainya online di seberang lautan sana, Korea.
KoujiBukanJones enak, nih, Oom, online di luar negeri? Gimana Korea?
DigiKame-Ichii Biasa aja, sih. Tumben di NARUTO? Gak buka SOSRO lagi pakai ID-ku?
Kouji Keki, ternyata aksi pembajakannya sudah lama ketahuan.
KoujiBukanJones Aku bosen ngebajak akun SOSRO-mu. Jadinya aku mau bajak akun NARUTO-mu. Ih, Kapan pulang?
DigiKame-Ichii Besok lusa udah pulang, sih, pake pesawat KAL 333 pagi.
KoujiBukanJones KAL? KALau dapet pesawat, gituh?
DigiKame-Ichii Korean Air Lines nomer 333.
KoujiBukanJones Penerbangan mana, tuh?
DigiKame-Ichii Yagitulah :( Adanya yang itu pesawatnya. Yowis, mau dibawain apa oleh-olehnya?
Kouji tersenyum simpul. Emang top kakaknya, walau ia sendiri sering durhaka pada sang kakak, tapi di sisi lain, si kakak masih mikirin nasibnya. Malah baik banget mau nanyani oleh-oleh.
KoujiBukanJones Gak muluk-muluk kayak Takuya yang mungkin bakalan minta seluruh anggota SNSD buat dinikahi, apalagi dijadiin harem. Ogah. Aku minta bawain satu personil SHINee paling ganteng aja.
Dan tanpa Kouji ketahui, Kimura Kouichi tengah membulatkan matanya. Syok.
DigiKame-Ichii Kouji ... kamu beneran humu, ya?
KoujiBukanJones ...
xxx
"Ooh anggota lama Minamoto hanya jadi penonton, toh. Aku kira Yuu mau bikin tawuran ramai-ramai di lapangan sekolah."
Nene menghela napas. Akhirnya jam istirahat tiba lagi. Email dari Yuu cukup panjang, tapi Nene mengerti intinya. "Yuu sepertinya terkesan ingin Kanbara bangkit kembali. Kalau begini, mungkin harus ada yang kurevisi sedikit...," Nene menulisi kertas memo yang ada di sudut meja riasnya.
"Ah—tunggu, mungkin lebih baik aku bekerja sama dengan Yuu. Anak itu memang nekat, tapi soal strategi, dia masih jauh di bawahku."
Nene menyelesaikan tulisannya, memandanginya sekali lagi, lalu memindahkan isinya dalam bentuk barisan kalimat runtut ke dalam ponselnya. Tombol kirim telah ditekan. Sebuah email tentang rencana besar dua kakak-beradik Amano itu telah rampung.
Nene menghempaskan lagi tubuhnya di atas sofa. Masih ada satu pekerjaan lagi, lalu ia sudah bisa pulang dan menghabiskan malam di rumah.
"Tapi Yuu kali ini betul-betul nekat," Nene memerhatikan sekali lagi layar ponselnya. "Berani sekali dia berencana untuk melenyapkan pemuda bernama Kimura itu."
xxx
Seoul malam itu begitu bederang. Gemerlap lampu-lampu kota seolah menyinari kesibukan yang tak habis walau malam semakin larut. Kimura Kouichi berjalan pelan seraya menenteng bungkusan berisi foto dan jajanan. Ia ingin segera pulang ke hotel dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Rasanya capek sekali, sedari sore aku putar-putar tanpa henti, lihat sana, lihat sini," dia menorehkan senyum. "Tapi aku puas~!"
Di depan sana hotel bintang empat tempatnya menginap telah tampak. Kouichi bermaksud mempercepat langkahnya, tapi ia dihentikan oleh seorang pria berpakaian serba hitam. Kouichi memiringkan kepalanya. Rasanya pria ini tidak asing ...
"Kouichi Kimura, benar?" suara beratnya seolah menebar teror.
"... Ada perlu apa?" sahut Kouichi.
Bilah pisau diambil dari balik jaket hitam, dihunuskan pada pemuda penggemar fotografi di depannya. "Kami butuh bantuanmu," lelaki itu mendekat. Sedetik kemudian, Kouichi merasa perutnya ditusuk sesuatu.
To be kontinyuuu
Makasih banyak bagi yang sudah membaca sampai di sini.
Unscandal akan masuk ke paruh akhirnya. Di sinilah persahabatan Takuya-Kouji diuji. Bagaimana nasib Shinya yang mencari cintaaa? Entah, mungkin dia akan jomblo saja selamanya #krik
