"Ayah pengen ngomong sama kamu, Ji."
"Panggil namaku yang lengkap, dong, Yah, namaku Kouji, bukan Heiji."
"... Gini, loh. Sebenernya ... Kamu itu punya saudara kembar."
"HUWAT?"
"Dia jauh lebih tua dibanding kamu. Jadi ayah yakin, dia pasti kakak kembarmu."
"Yaiyalah, kalau lebih tua masa dia adik aku, Yah?"
"Kelakuannya jauh lebih normal kebanding kamu."
" ... hah?"
"Dia 210 persen lebih ganteng dibanding kamu."
"Katanya kembar, Yah? Berarti aku juga ganteng, donk?"
"Geer, kamu. Dia juga lebih alim kalau ngomong, nggak darah tinggi kayak kamu—"
"Ayah benernya lagi ngasih aku info apa ngehina aku, sih, Yah?"
"Jadi, Ji—
"Jangan panggil aku Ji, Yah. Emangnya aku Jijique?"
"... Gusti—kenapa gue yang kebagian hak asuk adeknya, sih?" Om Kousei nangis tersedu.
.
Unscandal
(Warningnya udah ada chpater-chapter sebelumnya)
.
"Loh, Kouji masuk sini juga?"
"Yagitu, deh. Ayah pengennya aku masuk sini. Denger-denger, sih berdasarkan rekomendasi dari surat wasiatnya Kakek," Kouji angkat bahu.
Saat itu, helai-helai bunga Sakura beterbangan, mewarnai upacara penerimaan murid baru.
"Wah kita bisa sama-sama, dong," Kouichi terkekeh kecil. Akhirnya dia bisa bersama dengan Kouji setelah terpisah sejak bangku SD. "Tapi ini hari pertama masuk, kenapa malah bawa-bawa pedang bambu begitu?"
"Berhubung ini adalah rekomendasi Almarhum Kakek, jadi pasti ada apa-apanya."
Kouichi hanya memandang datar, kemudian mendeham. "Setidaknya mulai hari ini kita adalah siswa SMA. Ayolah, nikmati masa-masa ini."
"... bisa-bisanya kaungomong begitu padahal kau sendiri siang-malam kerja sambilan untuk menutupi biaya ekonomimu."
"Makanya aku masuk sekolah ini, kan?"
Kouji mendengus. "Aku tahu, kok, karena sekolah bobrok ini biayanya murah sekali. Padahal kau bisa jujur saja padaku dan akan kupinjamkan uang dari dompet Ayah. Lebih baik uangnya untuk bayar sekolahmu daripada habis untuk nge-gacha di game online."
"... ahaha, bukan, kok. Aku sekolah di sini gratis," dan sudah tentu Kouji paham maksudnya. Mana mungkin sekolah macam ini punya sistem beasiswa. Satu-satunya yang bisa membuat seorang keluarga Minamoto masuk ke dalam sekolah ini secara gratis adalah;
"Oh, begitu," Kouji mendesis. "Kau juga dapat rekomendasi dari Almarhum Kakek, ya?"
.
.
"Kouji, kau dipanggil kepala sekolah."
Waktu makan siangnya bersama Kouichi terpaksa dihabiskan dalam beberapa menit saja karena sang ketua OSIS memanggil. Kouji mengangguk. Dia menghabiskan makan siangnya cepat-cepat dan beranjak pergi bersama ketua OSIS. "Ah, Kouichi, aku masih punya roti di dalam kotak bekalku. Makan saja kalau masih lapar," ucap Kouji pada sang kakak, sebelum menghilang di balik pintu kelas.
"Ada apa?" tanya Kouji ketika berjalan di lorong.
"Entahlah, tapi Pak Kepala sekolah bilang kau diminta untuk ikut menyambut murid pindahan yang akan masuk besok."
Kouji menaikkan alisnya. "Kenapa murid pindahan harus disambut segala? Kenapa pula harus aku yang menyambutnya?"
"Karena siswa satu spesial—katanya."
"Spesial?"
Ketua OSIS tersenyum aneh. "Beliau bilang, siswa pindahan itu bernama Kanbara."
Kouji terdiam sejenak. "Rasanya aku pernah dengar nama itu ..."
.
.
"Aku Kanbara Takuya! Ingin menjalani kehidupan biasa sajaaaa!"
Kanbara ... Orang-orang bilang Kanbara adalah keturunan Yakuza yang ditakuti di daerah ini. Kouji memandang Takuya dari kejauhan. Memerhatikan Takuya tengah mencak-mencak mengomel pada anak-anak buah kakeknya. Kini cucunya ada di sini. Tapi apa yang dia lakukan di sini? Aku bahkan sama sekali tak merasakan adanya tanda-tanda bahwa dia harus diwaspadai.
"Kouji! Ayo kita bertarung bareng! Kita bantu Katsuharu!"
"Eeeh, sungguh aku baru tau kalau kamu punya kakak kembar."
"Adikku tuh perusak asli!"
"Ngomong-ngomong soal penerus Kanbara, menurutmu aku mampu, nggak? Sampai-sampai Kakek mau melimpahkan posisi itu padaku?"
"Nama anjingmu kenapa beda-beda, sih?"
Kanbara Takuya ...
.
Bola mata biru berhadapan langsung dengan warna biru langit. Langit seluas ini hanya dihuni oleh awan-awan kecil. Kouji mengedarkan pandangannya mengikuti awan-awan itu.
"Hei Kouji," sekarang, orang yang dipikirin malah hadir beneran. Dia di sana, menutupi pemandangan langit luas itu. Kalau dipikir-pikir, posisi ini malah bikin Kouji ingin bangkit mendadak hingga jidat mereka saling beradu.
"Ah, nggak jadi, deh," ucap Kouji, batal melaksanakan rencana jahatnya. Takut kalau-kalau yang beradu bukan jidat, malah bibir. Kan sering banget adegan itu ada di komik-komik remaja cewek.
"Apaan, sih, mukamu emang ngeselin bener kalau dilihat dari dekat," decih Takuya, lalu menjauhkan wajahnya dan berdiri di sebelah Kouji.
"Ada apa, sih? Ganggu orang lagi melamun aja?"
"Hoo," Takuya menyeringai jahil. "Melamun apa, yaaa? Melamun pacarmu, yaaa? Pasti iya, ihihihihi."
Kouji nyembur.
"Hahaha, santailah. Di umur kita ini wajar kok kerjanya melamun mikirin si Doi," Takuya berkata seolah tanpa beban. Tak menyadari bahwa Kouji tengah misuh-misuh di sana, teringat satu larik kalimat dari Kouichi di Chatroom kemarin.
Kouji ... kamu beneran humu, ya?
Kouji keki. Kakak sialan.
Pemuda yang hari ini tumben tidak memakai bandananya itu akhirnya mendudukkan diri. "Jadi, Tuan Kanbara Takuya, ada perlu apa denganku sampai mengejarku ke atap sekolah begini?"
"Kok sewot, sih?" Takuya mengerut. "Aku cuma mau ajak pulang bareng, kok. Masa itu salah?"
"Kamu ngajakin aku yang rajin dan murid teladan ini bolos?"
Takuya ngurut dada. "Demi Bourbon dicampur Rye dan menghasilkan sekoteng, seorang Minamoto Kouji si murid rajin dan teladan adalah delusi terparah sepanjang abad. Mammoth pasti hidup lagi entah di mana."
"Oke, kalau aku bohong berarti Mammoth hidup lagi, puas?" sahut Kouji asal.
Dan Kouji tak pernah tahu bahwa di pedalaman Siberia, saat ini para tentaranya tengah bergulat dengan gajah berbulu tebal yang disebut Mammoth itu. Entah mantra apa yang mengiringi kebohongan Kouji hingga Mammoth benar-benar hidup kembali.
" ... plis, Kouji. Tadi ada pengumuman mendadak, kalau sekolah diliburkan mulai siang ini."
Kouji menaikkan alis. "Hah? Ada apa? Kucing kepala sekolah Kena Stroke? Pasti, deh!"
"Tauk," Takuya angkat bahu. "Mumpung ini jam makan siang, kita ke kota, yuk? Cari makan. Perutku sudah bunyi minta diisi, nih?"
"Kamu ngajak aku kencan?"
"CARI MAKAN, MAS!"
"Modus ada batasnya, deh," Kouji berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Modusmu pasaran banget ih. Aku ogah sebenernya, tapi karena aku dipaksa, dan tak tega melihatmu memohon-mohon untuk sekali kencan ... baiklah! Ayo jalan. Kita cari makanan enak."
"Gustiii! Kok tahan banget, sih Kouichi punya adik kayak giniiii!" walau merasa ingin mendorong Kouji dari atap sekolah, tapi Takuya akhirnya tetap menuruti langkah Kouji. Keduanya menutup rapat-rapat pintu atap sekolah dan menuruni anak tangga.
.
xxx
.
"Nona Nene, seluruh yang Anda perintahkan telah saya kerjakan."
Amano Nene tampak tersenyum lalu mengacungkan jempolnya, tanda pria yang bekerja sebagai bawahannya itu sudah bekerja dengan sangat bagus.
"Terima kasih. Sisanya biar aku yang urus," sahut Nene. Pria itu mengangguk, lalu memperbaiki duduknya, melipat kaki hingga tubuh dirasa lebih rileks. Ruangan dari apartemen sewaan Amano tampak begitu gelap, membuat matanya lelah menatap monitor terus-menerus. Rasanya, ia ingin mematikan monitor dan beristirahat saja setelah percakapan dengan Nene usai.
"Aku rasa Yuu sudah mulai melanjutkan rencananya. Tadi dia membawa setumpuk kertas dengan wajah tersenyum-senyum," sang idola belia membuang napas. "Beristirahatlah dulu. Jangan sampai ada seseorang yang melihatmu. Akan kukabari kapan kau harus bergerak lagi."
"Baik, Nona."
Layar dimatikan. Pria itu mengembuskan napas sebelum beranjak, melangkah menuju tubuh yang terkulai di sudut ruangan.
Helai biru itu tampak menutupi wajah, tubuhnya tergolek tak berdaya. Warna merah menodai perutnya.
"Sebentar lagi," ucap sang pria. Dia berjongkok dan mencengkram beberapa helai rambut Kouichi. "Sebentar lagi ... peranmu akan dimulai, Hei Kakak."
.
xxx
.
Restoran McLampir tengah promo liburan musim panas. Khususnya untuk pasangan. Beli satu hamburger berbonus kencan dengan Mbak Kunti yang lagi ngikik-ngikik di meja kasir sana. Kencannya hanya dua menit, itupun hanya berlaku pas bayar pesenan doang. Ajaib banget emang promonya.
Setelah promo banyak yang berantem, tapi.
"Hehehe, ini, Mas, air dingin mineralnya," ucap pelayan dengan kostum tuyul. Setelah mengantarkan sebuah gayung mandi berisi air dingin dan es batu, si pelayan pun cepet-cepet ngacir sebelum Takuya mencak-mencak. Khas Tuyul banget, suka jahil.
" ... dari semua tempat, kenapa kamu milihnya di sini, sih?" ujar Kouji yang punya pengalaman traumatis dengan restoran cepat saji ini. Teringat detik-detik bagaimana ayahnya hampir saja menjadi seorang kriminal dengan menipu anak SD—OHOK—Adek Takuya—OHOK via internet.
"Habisnya di sini lagi ada promo murah, sih," sahut Takuya yang lebih memilih meminum es teh milik kouji daripada air mineral gayungan pesanannya.
Kouji menghela napas, menyerah adu selera sama Takuya. Semoga Takuya dan restoran ini tak menimbulkan bencana untuknya (Seperti di chapter-chapter lalu).
Melihat Takuya sudah makan dengan lahap, Kouji angkat hanya bisa maklum dan bahu. Dia mengaduk-aduk mi rica-ricanya agar seluruh bumbu tercampur. Di luar dugaan, ternyata aroma masakannya harum dan rasanya enak. Serius, setelah suapan pertama, mungkin Kouji akan lebih sering mampir (diam-diam) untuk makan mi rica-rica di sini.
Suapan kedua~! Aaa-
"Hoi, Kak Takuya!"
Plak! Ada tepukan—yang dirasa Kouji lebih mirip gamparan—di punggungnya. Alhasil lubang hidung kecolok sumpit, mi rica masuk hidung. Kouji menggeram, hampir saja menggigit Shinya yang (entah kenapa) bisa muncul tiba-tiba dan menggampar punggungnya.
"Ya, sori, Kak Kouji," ujar Shinya dengan wajah memelas. "Jangan marah dulu. Nanti kencanmu sama Kak Takuya jadi rusak, loh."
SIAPA YANG KENCAAN?
"Hooh, Shinya, kamu bolos sekolah buat makan di sini, ya?" cibir Takuya. Shinya manyun.
"Nggak, kok. Sekolah libur. Kucing kepala sekolah ternyata kena stroke. Untuk menghormatinya, kami semua meliburkan diri."
Kouji tiba-tiba merasa deja vu. Takuya pening mendadak, tapi tetap merasa deja vu juga
"Ah whateverlah. Aku ikut gabung, ya?" Izin nggak penting, pokoknya Shinya sudah duduk duluan dan memesan Milsex—Milkshake, maksudnya.
Hih, Kak Takuya kok bisa-bisanya dapet pacar gini, sih? Walaupun cowok ... ih tapi aku harus curi ilmu darinya. Lihat saja Kak Takuya, setelah ini, aku akan dua langkah lebih maju darimuu! Sungguh berbudi batin Dek Shinya. Adik lucu ini ternyata sedang kehabisan akal, kehabisan ide kreatif untuk menguber-uber cewek. Hikari? Tampaknya Shinya menyerah setelah didepak Taichi untuk ke dua kalinya. ("Dasar Mas-Mas Siscon!" begitu umpat Shinya).
Andai Takuya dan Kouji sadar bahwa orang-orang sekeliling mereka sebenarnya sudah mulai salah paham. Apalagi ketika gosip bahwa Kouji itu humu santer mengudara di sekolah.
Beberapa menit makan siang habis hanya dengan candaan dan acara saling ledek-ledekan antara kakak-adik Kanbara itu. Kouji terdiam. Ada yang memenuhi pikirannya. Semakin banyak dan banyak.
Tunggu ... kalau Kouichi juga dapat rekomendasi itu—berarti dia juga menyimpan surat wasiat Kakek? Ingatan Kouji melayang-layang. Dan atas dasar apa kami berdua direkomendasikan? Apa ada hubungannya dengan Kanbara?
Kouji memijat pelipis. Iya, ya. Selama ini aku belum sadar posisiku di sekolah itu apa. Dan kenapa harus ada rekomendasi. Lalu—perasaan familiar ketika mendengar nama Kanbara itu ... ugh, semuanya pasti berhubungan. Aku yakin.
Aku harus ke tempat Kouichi. Kalaupun Kouichi tak ada, Mama pasti ada di rumah. Aku bisa tanyakan padanya.
"Kouji, ada apa?" Takuya mendekatkan wajahnya, membuat Kouji refleks mendorongnya dengan telapak tangan.
"Auw! Kasar banget. Lembut dikit kenapa, sih?" Takuya sewot, sementara Shinya ngikik geli.
"Iya, apalagi sama pacar sendiri, Kak."
SIAPA YANG PACARAAAAN?
Akhirnya acara makan siang selesai. Kouji dan Kanbara bersaudara menyusuri jalanan kota hingga akhirnya sampai di stasiun. "Habis ini mau main ke rumaku? Kemarin aku sudah mampir ke rumahmu, jadi sekarang giliranku menawarkanmu untuk mampir."
Catat! Tawarkan gebetan buat mampir ke rumah! Shinya bergegas menulisnya dalam ponsel. Masih mengikuti kata-kata hatinya yang agak salah paham itu.
"Lain kali, deh," Kouji menggeleng. "Tadi pas makan-makan, aku teringat sesuatu. Aku mau mampir ke tempat lain dulu."
"Ke rumah cewek, yaaa?" Takuya menyeringai usil.
Catat! Godain gebetanmu kalau dia sudah punya pac—Eeeh?! Shinya melotot.
"Sudah, ya. Sampai ketemu besok di sekolah. Kerjakan peer yang benar, soalnya besok aku mau nyontek," Kouji melambai, seraya mengubah langkahnya menuju arah berlawanan.
"Idiiih, pemales! Hahaha okee! Tapi jangan protes kalau PR-mu salah semua yaa?" sahut Takuya, dibalas oleh acungan jempol dari Kouji. Pemuda berkuncir itu mempercepat langkahnya menuju rumah kediaman Kimura.
.
xxx
.
Ibunda Kouji (dan Kouichi) tampak pasrah, tapi senyum simpul mengembang di wajahnya. "Aku kira Kouichi yang akan menanyakan hal ini, ternyata malah Kouji," dia terkikik. "Apa ayahmu tidak memberitahu apapun soal ini?"
"Aku pernah tanya Ayah, tapi Ayah ogah menjawab. Aku malah dikasih password Twitter dia," Kouji mendengus sebal.
"Ahahaha, ciri khas Kousei banget," ujar sang ibunda. "Baiklah, kamu tunggu di sini. Mama mau ambil surat-suratnya dulu. Ada di lacinya Koucihi, tapi malah tak pernah disentuh sama dia."
Kouji mengangguk. Dia membetulkan duduknya dan menunggu di ruang tengah rumah keluarga Kimura. Kouichi dan mamanya sudah pindah ke rumah yang lebih besar ketika Kouichi masuk SMA. Kini Kouichi punya kamar sendiri, walau sempit.
Ruang tengah rumah ini juga cukup nyaman, dilengkapi meja kecil dan bantal alas duduk. Sirkulasi udaranya pun cukup bagus.
Kouichi dan Mama benar-benar sudah bekerja keras. Tidak seharusnya mereka berpisah dari kami. Tapi—Ayah keras kepala sekali. Ya sudahlah. Kouichi mengembuskan napas, pasrah. Lagipula dalam keadaan seperti ini pun, aku masih tetap leluasa membantu Kouichi, walaupun hanya menanggung bekal makanannya.
Ngomong-ngomong belum ada kabar lagi dari Kouichi. Apa dia keasyikan banget liburan di sana, ya?
"Kouji," Ibunda tercinta sudah kembali, membawa dua lembar amplop yang sudah mulai menguning. "Ini adalah surat wasiat Kakek. Bacalah terlebih dahulu, setelah itu, Mama akan bercerita tentang keluarga kita—keluarga Minamoto dan perseteruannya dengan Kanbara."
"Ehh—berseteru? Dengan Kanbara?"
Jawaban yang didapat adalah sebuah anggukan.
Hening beberapa saat ketika Kouji membaca baik-baik surat wasiat itu. Kouji tidak begitu mengerti, tapi intinya, Kakek meminta agar cucunya dikirim ke sekolah itu sebagai isyarat perdamaian bagi Kanbara. Dari bibir sang ibunda pun meluncur bagaimana perseteruan Kanbara dan Minamoto berlangsung selama turun-temurun. Bagaimana keduanya bersaing tanpa kenal tempat, tapi sebetulnya sangat akrab lebih dari siapapun.
Kouji pening.
"Jadi, intinya, aku dan Kouichi ini semacam pembawa pesan perdamaian, begitu, kan?"
"Hahaha, bisa dibilang begitu," kenangan wanita itu seolah berputar, lalu kembali ke hari saat dirinya menjadi seorang ibu. "Ketika Kakek tahu bahwa dia punya cucu kembar, dia senang sekali," tuturnya. "Dia mengirimkan kalian berdua, agar perbincangan semakin minim dari kekerasan—apalagi persaingan. Karena Kakek percaya, jika salah satu dari kalian terlibat pertengkaran, yang lainnya pasti akan melerai."
"Begitukah ...," kouji melirih. "Lalu ... isi dari amplop satunya?"
"Isinya adalah surat pertaruhan antara Kanbara dan Minamoto. Lihat, ada tanda tangan mereka berdua di bawahnya. Dulu mereka pernah bertaruh apakah cucu pertama Kanbara itu laki-laki atau perempuan."
... Kek, maafkan aku, tapi kok taruhannya terkesan kurang penting, ya?
"Lalu ternyata cucu pertamanya laki-laki dan yang menang adalah kakekmu. Sebenarnya Kakek berniat menyerahkan sekolah itu pada Kanbara jika dia menang taruhan, tapi ternyata surat ini hilang saat itu dan Kakek pun tak pernah menemukannya lagi sampai akhir hayatnya."
Kouji mengangguk. Ternyata begitu. "Maka itu dia menulis surat wasiat ini dan mengirim kami berdua?"
"Benar. Karena Minamoto sudah bubar, Kakek juga bermaksud untuk mengakhiri perseteruan mereka."
"Baiklah, semuanya sudah jelas sekarang. Ma, boleh kubawa surat-surat ini?"
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja boleh. Tolong, ya, Kouji."
Hari sudah beranjak sore ketika Kouji keluar dari rumah Kimura. Surat-surat itu dia bawa baik-baik. Jangan sampai rusak atau hilang.
"Oh iya, Kouji, kamu tahu kabar Kouichi? Sejak semalam Kouichi belum memberi kabar."
Kouji mengibaskan tangannya seraya memberi senyum lumrah. "Kemarin dia chat aku, sepertinya dia baik-baik saja. Paling-paling dia terlalu menikmati liburannya di Korea sana."
"Baiklah kalau kamu bilang begitu," dia menepuk pundak Kouji. "Hati-hati di jalan, ya? Jangan sampai surat-suratnya rusak."
"Tenang saja, Ma."
Kini kabut dalam pikiran Kouji sudah menghilang sedikit demi sedikit. Tinggal memperlihatkan surat-surat ini pada Takuya, maka semuanya pasti akan selesai.
.
xxx
.
Seharusnya semua berjalan dengan lancar.
"Kanbara Takuya! Keluar kau!"
Pedang bambu dihentak kasar. Suara yang amat Takuya kenal terdengar nyaring dan murka. Takuya dan Shinya—serta bebeapa anggota grup Kanbara tercengang. Rumah kediaman Kanbara dikepung oleh beberapa anggota dari grup Minamoto.
"Takuya!"
"Kouji? Ada apa?" nada bicara Takuya menggambarkan bahwa dirinya masih belum tahu apa-apa.
Di sana, didapatinya Minamoto Kouji bersimbah airmata, diiringi amarah meluap-luap. Pedang bambu sekali lagi dihentak pada tanah.
"Kouji...?"
"Berani-beraninya ...," suara itu melirih, sekaligus juga menyayat. "Berani-beraninya kau melenyapkan Kouichi!"
"Maksudmu?"
Kouji melemparkan beberapa lembar foto yang seluruhnya serupa; foto Kouichi yang terbaring dengan bagian perut sudah berlumur darah. Ada pisau—yang juga berlumur darah—tergeletak di samping tubuhnya.
Bola mata Takuya semakin melebar ketika membaca tulisan bertinta merah di belakang foto itu.
.
[Putra pertama Minamoto sudah kami lenyapkan. Ini adalah tantangan dari kami. Tertanda—Kanbara]
.
"A-apa-apaan ini?" seru Shinya panik setelah melihat foto-foto itu.
Takuya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa bisa begini?
Dari kegelapan malam, terpoles sebuah senyum puas. Pemuda Amano itu menarik dirinya, menyembunyikan diri semakin rapat pada atap rumah tak jauh dari sana.
"Let's begin."
Bersambung
Haiiii kali ini Unscandal akan update kilat :D Makasih sudah membaca sampai sini. Kalian semua sabar banget aku salut :'( #kecup sampai jumpa di chapter depan~
