"Tunggu—Kouji!"

Sabetan pedang bambu hampir beberapa kali mengenai Takuya. Dia mati-matian menghindar dari amukan Kouji, sampai akhirnya Kanbara Takuya tersungkur di tanah akibat tersandung.

"Harusnya kau bersyukur karena aku belum memegang pedang betulan!" Kouji menghunuskan pedang bambunya.

Di sisi lain, anggota Kanbara dan Minamoto pun sudah mulai ribut. Ada yang adu mulut. Ada yang bertarung. Shinya yang ketakutan langsung lari ke dalam rumah begitu keributan pecah beberapa detik lalu. Para tetangga menyaksikan dari dalam rumah, takut turut terkena serangan jika mereka keluar.

"Sebentar, ada kesalah pahaman!" Takuya segera berguling ketika pedang bambu tampak akan menghantamnya. Tanah di sana berbekas akibat pukulan Kouji.

"Salah paham apa sampai-sampai membunuh kakakku?" Kouji meraung dan mengayunkan pedangnya tanpa henti. Takuya segera bangun dan berlari. Dalam keadaan tanpa senjata begini—apalagi lawannya Kouji—Takuya benar-benar merasa kesulitan.

"Jangan lari Takuya!" amuk Kouji.

"Cukup! Berhentilah kalian!"

Hampir seluruhnya menoleh, mendapati suara langkah-langkah kaki perlahan-lahan mendekat. Di sana, para tetua grup Minamoto sudah datang. Para wakil-wakil tertinggi, setingkat di bawah pemimpin grup Minamoto—Kakek Kouji—sudah tiba.

"Aku kira ada apa, ternyata Kanbara membuat ulah setelah sekian lama."

Takuya dan Kouji membulatkan mata. Salah satu dari tiga tetua itu adalah—

"Pak Kepala Sekolah?" seru Takuya sembari mengacungkan telunjuknya.

"Apa-apaan, aku belum pernah dengar kalau Pak Kepala Sekolah adalah anggota grup Minamoto," Kouji hanya diam, sembari mencerna pelan-pelan apa yang baru saja terjadi.

Sang Kepala Sekolah menyeringai ketika memandang Kouji. "Harusnya kau sudah sadar, Nak, sejak hari pertama Kanbara Takuya datang ke sekolah kita."

"...Pak Kepala—

"Sudah!" dia maju dan menengahi perkelahian. "Berkelahi di sini dan di waktu ini akan mengganggu tetangga, wahai kedua grup yang seharusnya pensiun," ucapannya tanpa beban. "Aku dan dua petinggi lainnya sudah berunding ketika melihat perkelahian kalian dari jauh. Ada tempat yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini."

"Di mana itu, Tetua?"

Pandangannya pria tua itu beralih pada dua siswa didiknya. "Di lapangan sekolahku. Besok malam," dan telunjuknya mengarah hanya pada Kouji dan Takuya. "Biarkan pertarungan ini diselesaikan oleh dua orang itu! Kuizinkan mereka berduel. Siapapun yang kalah—"

Suara dari sang kepala sekolah melirih, nada bicaranya menggantung.

"—dia akan diadili oleh grup lawan."

Minamoto bersorak sepakat—tapi tidak bagi Kouji. Menurutnya ini terlalu tidak adil. Ketika seluruh kelompok Minamoto diminta mundur, hanya Kouji yang tetap tinggal. Dia memandang Takuya dengan tatapan kebencian.

"Takuya ... apapun yang terjadi, aku akan melenyapkanmu juga."


Unscandal


Semalam, paket tanpa pengirim datang ke rumah keluarga Minamoto, berisi beberapa lembar foto Kouichi yang berlumur darah, serta helai-helai biru dari rambut pemuda itu. Keluarga Minamoto dibuat terkejut ketika para anggota lama mereka juga turut hadir dan membawa paket yang sama.

"Ini tantangan dari Kanbara," ujar salah seorang anggota sembari memperlihatkan bagian belakang fotonya.

"Kanbara benar-benar melakukan perbuatan rendah! Menyerang cucu tertua keluarga ini, Kousei. Kita harus balas mereka!"

Amarah memuncak, terutama dalam diri Kouji. Malam itu Kouji (tanpa sadar) memimpin seluruh anggota Minamoto untuk pergi menuju kediaman Kanbara.

.

Takuya ... kenapa?!

.

Setelah kerusuhan itu, di sinilah Kanbara Takuya dan Minamoto Kouji berada. Lapangan dan area sekitar sekolah begitu sepi di malam hari. Entah, mungkin para tetua grup itu sudah mewanti-wanti agar penduduk sekitar tak keluar rumah—atau bukan mustahil mengusir mereka. Angin malam berembus kencang, seolah ikut menyaksikan duel antara cucu penerus Kanbara dan Minamoto.

"Aku tak menyangka kalau akhirnya akan jadi seperti ini," Kanbara Toushizou sudah hadir. Kabar yang diterimanya semalam membuatnya langsung terbang dari Amerika Serikat menuju Jepang.

Kini, seluruh anggota kelompok Minamoto dan Kanbara tengah berkumpul, duduk di masing-masing sisi pada pekarangan sekolah. Di tengah-tengahnya, Kouji dan Takuya berdiri. Diam dan saling bertatapan. Sorak-sorai agar takuya dibantai sudah mengudara sedari tadi. Amano bersaudara pun ikut menonton di pinggir lapangan. Yuu tampak tersenyum aneh.

Peraturan duelnya; satu lawan satu, menggunakan Katana berbilah tajam.

"Takuya," ucap sang kakek ketika menghampiri cucunya. "Ini, gunakanlah."

"Ka-kakek apa-apaan, sih?" seru Takuya pucat. "Mana mungkin aku pakai senjata tajam ini untuk menebas temanku sendiri, kan?"

"Oh," pria tua itu menoleh pada Kouji. "Tapi temanmu tampak santai saja menerima senjatanya."

"Ka-Kakeeek!" rengek Takuya.

Sebuah tepukan di pundak Takuya tak berarti banyak. "Tak apa-apa. Ini yang mereka mau. Lagipula Kakek percaya kalau kau tak akan mudah terbunuh."

"Kakek kok ngomongnya nyeremin gituuu?" Takuya makin pucat.

Kakek mengembuskan napasnya, lalu menepuk kepala Takuya. "Bersiaplah, sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi. Itu pertanda bahwa pertarungan kalian akan dimulai."

"Loh—Kakeeek!" kalau memungkinkan, sebenarnya Takuya ingin sekali menjatuhkan diri ke tanah dan menangis saja.

Rencanaku berjalan dengan amat sempurna. Memang benar, akupun yakin kalau Takuya tidak akan mudah terbunuh. Yuu mengangguk cermat, tak memedulikan jika bolamata kakak perempuannya sedari tadi tak lepas mengawasi. Sampai di mana keganasan kedua grup ini akan terlihat? Dan siapa akhirnya pemenang yang akan mendapatkan sekolah ini? Menarik. Menarik sekali.

Ketika bulan tertutup awan, bel sekolah pun berbunyi. Secepat angin, Kouji sudah maju dan mengayunkan senjatanya. Bilah keduanya beradu, menciptakan bunyi nyaring.

"Hoo, boleh juga, Takuya," senyum Kouji tampak seperti mengejek. Kali ini serangannya datang lebih cepat, bertubi-tubi, tapi ayunannya kurang terkontrol, karena berat Katana sungguhan sangat jauh berbeda dengan pedang bambu. Seumur hidupnya, ini pertama kali Kouji memegang senjata tajam.

"U-uwaah!" Takuya nyaris terjatuh ketika serangan Kouji hampir saja menebas habis perutnya. "Ko-Kouji! Tenangkan dirimu dulu! Ini semua salah paham!"

"Oh, ya? Sampai main-main dengan nyawa kakakku?"

"Bukan begitu!"

"Menyerahlah Takuya, karena aku juga tidak ingin buang tenaga untuk membunuhmu!" satu tebasan berhasil dihindari. "Baiklah, begini saja, kalau kau mewakili Grup Kanbara mengaku kalah dan bersujud di hadapanku, aku pasti akan mempertimbangkan permintaan maafmu!"

"Kouji—plis! Gimana caranya aku bisa minta maaf atas sesuatu yang bahkan bukan kesalahanku?" satu tebasan menuju Takuya berhasil ditahan lagi. Takuya merasa lengannya hampir copot ketika mempertahankan dirinya. Tenaga Kouji tidak main-main.

"Aduh!" kaki kiri kena. Bukan sabetan yang dalam, tapi darah keluar cukup deras dari lukanya. Percuma—Kouji malah tambah marah, sepertinya.

"Akuilah Takuya, kau cuma akan tambah menderita!" bahu kiri nyaris tersayat, untungnya hanya merobek kain pakaian. "Aku lebih unggul darimu soal ilmu pedang!"

"Bunuh saja, Koujii!"

"Benar! Habisi saja dia! Sakit yang dirasakan Grup Minamoto harus dirasakan juga oleh Kanbara!"

Sorak demi sorakan, ejekan dan makian semakin kuat terlontar dari arah Minamoto, begitu pula seruan pembelaan Kanbara yang sama kuatnya. Selain adu kekuatan di tengah lapangan sana, para anggota lainnya ikut adu suara, menyalahkan dan membela diri. Sang ketua Kanbara hanya bisa diam menyaksikan pertarungan antara Takuya dan Kouji.

"Yuu, apa kau merasa ini keterlaluan?" Nene menggeser duduknya, lebih dekat dengan adiknya.

"Kurasa tidak. Bukankah ini yang kita tunggu-tunggu, Kak?" sahut Yuu bersemangat. "Kanbara versus Minamoto. Ini seperti pertarungan berabad-abad yang akhirnya bangkit kembali."

"Apa kamu belum sadar, kalau pertarungan ini sangat berat sebelah?"

"Sebenarnya iya, tapi," bahkan ketika berbicara pun Yuu masih belum melepaskan pandangannya dari Takuya. "saat bertarung denganku, aku yakin Takuya punya semangat yang luarbiasa. Dia mewarisi darah Kanbara, Kak. Darah mendidih yang menolak kalah."

"... baiklah," Nene menyisiri rambutnya dengan jari-jari. "Mau bertaruh?"

"Boleh? Kakak pegang Minamoto?"

"Aku bertaruh kalau tidak akan ada yang menang."

Yuu menoleh heran. "Apa? Mana ada taruhan macam itu?"

"Kurasa ada."

"Ooh, Kakak sudah memperhitungkan kalau keduanya akan terbunuh, ya? Baiklah."

Nene terkekeh keki. "Kayaknya sekrup otakmu ada yang copot, deh. Pokoknya, kalau aku yang menang, kau wajib menuruti semua perintahku!"

Dilihat dari manapun pertarungan memang terkesan berat sebelah. Takuya sudah terluka sana-sini, sementara Kouji hanya menderita beberapa luka ringan di lengan dan paha. Sorakan masih terdengar, seolah sudah menjadi bahan bakar Kouji untuk menghabisi Takuya.

"Kouji! Aku tak ingin bertarung lebih jauh lagi! Ayo kita sudahi saja!"

"...kau keras kepala, Takuya. Kalau kau belum mau mengaku salah, jalan satu-satunya adalah menebus kesalahan itu dengan nyawamu!"

"Kalimatmu seram, Kouji!" Takuya memekik, sebelum akhirnya kembali menyerang. Aku harus pukul perutnya sekuat mungkin, paling tidak Kouji mungkin akan terduduk dan Katana miliknya bisa kusingkirkan. Iya. Cuma ini caranya. Bilah katana sekali lagi berdenting, berulang-ulang hingga akhirnya pertahanan Kouji terbuka.

"ini dia!" Takuya maju sekuat tenaga, kepalan tangannya sudah menguat hendak menghantam perut Kouji.

"Kau meremehkanku, Takuya!"

Semua suara seolah menghilang dan hanya ada suara angin yang menyayat pendengaran. Kouji menendang luka terbuka di kaki Takuya, membuat pemuda itu menjerit kesakitan. Tubuh Takuya kehilangan keseimbangan, hingga mudah ditubruk oleh Kouji. Ketika sadar sudah ada bilah Katana yang terhunus di depan hidungnya.

Seluruhnya hening, hanya ada erang kesakitan Takuya karena luka di bagian kaki diinjak sekuat tenaga oleh Kouji.

"Kak Kouji mengerikan," gumam Shinya dengan bulu kuduk berdiri.

Sorak-sorai kembali terdengar dari Grup Minamoto. Semuanya seperti satu suara yang menghasut Kouji untuk membunuh Takuya saat itu juga.

Kouji menggigit bibir bawahnya. Jika Katana itu ia hujamkan tepat di area jantung, maka Takuya akan mati saat itu juga. Seluruh dendam terbalaskan, masing-masing pihak akan impas. Kanbara dan Minamoto akan sama-sama kehilangan satu nyawa dari cucu tertua.

"Kouji ...," lirih Takuya, masih berusaha menahan nyeri yang menjalari tubuh. "Kalau memang itu bisa menghentikan pertarungan ini, maka bunuh saja aku."

"Ck, tanpa disuruh pun pasti kulakukan," decih Kouji, rautnya seolah-olah sudah siap menghujam pedang dan menghabisi lawannya, tapi gerakannya ragu-ragu. Tangannya bergetar.

Memori saat Takuya bersama dengan dirinya kembali berputar. Mulai dari saat Takuya datang ke sekolah ini. Saat mereka bertarung bersama ketika menolong Katsuharu. Saat dirinya memperkenalkan Kouichi pada Takuya. Saat ia menghapus keraguan Kouichi pada Takuya. Saat—aah, Kouji tak ingin mengingat itu semua sekarang, tapi otaknya tampak enggan diajak bekerja sama.

"Sudah, ya. Sampai ketemu besok di sekolah. Kerjakan peer yang benar, soalnya besok aku mau nyontek."

"Idiiih, pemales! Hahaha okee! Tapi jangan protes kalau PR-mu salah semua yaa?"

Itu janji mereka kemarin sore. Kemarin sore. Dan Kouji tak pernah bisa paham bagaimana cepatnya keadaan mereka berdua bisa berbalik menjadi seperti ini.

"Kouji," Takuya memanggil sahabatnya sekali lagi. Ketika mata bertemu mata, Takuya memejamkan matanya. Pasrah. "Lakukanlah."

Kouji tak bersuara, tapi tangannya yang bergetar dan berat akhirnya bergerak lagi. Kali ini dia menggenggam Katana dengan kedua tangan. Ujung tajam Katana mengarah pada Takuya. Desiran angin seperti membisiki Kouji untuk segera mengangkat tangannya. "Takuya ..."

Tak ada perlawanan dan tanda-tanda bahwa Takuya akan menghindar. Kouji mendecih, antara sebal, marah, kecewa dan takut. Katana milik Kouji sudah lurus sempurna, siap menghujam jantung di bawah sana.

"Sayonara."

Kedua tangan itu mengayun kuat, menuju dada kiri Takuya.

.


TO BE CONTINUED


.

Jadi Haiiii xD Maaf lama tydac cuap-cuap. Tapi aku puas banget bisa nyelesein fanfiksi MC ini #BELOOOM Unscandal sudah mengalami banyak perombakan dan endingnya beda-beda. Tapi menurutku inilah ending yang paling pas. Thank you sudah mengikuti Unscandal sampai sejauh ini. Rasanya perjuangan nulis berulang-ulang terbayar banget karena ada pembaca setia spesial yang rajin nagihin dan aku seneng sekali begitu tau kalau dia baca terus #OHOK terima kasih banyak pokoknyaaa QvQ You're precious, Dear, tanpamu semangat nulisku untuk Unscandal mungkin sudah anjlok QuQ #BagiHugs

Kalian semua yang baca pun juga precious. Terima kasih sudah mengikuti Unscandal hingga akhir. Chapter depan adalah chapter akhir. Semoga endingnya menghibur dan membuat lega semuanya #Hooh

.

Salaam~

Ratu Galau.